"Keinginan orang tua saya adalah untuk menunaikan ibadah haji. Kalau masih bisa berangkat haji ya diberangkatkan saja. Tapi kalau tidak bisa, yang pulang saja," kata Risky saat ditemui Attauhidiyyah Giren di kediamannya di Desa Magersari Sidoarjo, Jumat (26/8).
| Kemenag Sidoarjo Kunjungi Keluarga Korban Calhaj Paspor Filipina (Sumber Gambar : Nu Online) |
Kemenag Sidoarjo Kunjungi Keluarga Korban Calhaj Paspor Filipina
Risky menjelaskan, kedua orang tuanya yang bernama Atmadji bin Sulaiman dan Sukamti binti Supardi awal mulanya mendapatkan tawaran dari KBIH Arofah yang berada di Pandaan Kabupaten Pasuruan untuk berangkat haji plus melalui Filipina dengan biaya 11 ribu dolar per orang.Attauhidiyyah Giren
Setelah mendapatkan tawaran itu, kedua orang tuanya tertarik untuk berangkat haji melalui Filipina. Selanjutnya, kedua orang tuanya menyetorkan uang senilai 4 juta untuk dam. Sebelum berangkat ke Filipina, sekitar 4-5 hari Atmadji dan Sukamti serta sejumlah rombongan KBIH Arofah ke Filipina untuk mengurus paspor Filipina."Rabu kemarin pemilik KBIH Arofah ke rumah bertemu dengan saya. Kami menanyakan tindak lanjutnya bagaimana. Pemilik KBIH juga melakukan hitam di atas putih bahwa pihaknya akan bertanggung jawab dan akan mengembalikan sejumlah uang tersebut," tambah Risky.
Attauhidiyyah Giren
Di tempat yang sama H Rofii mengemukakan, berasal dari keinginan kuat kedua calon jamaah haji asal Sidoarjo ini keduanya mendapatkan tawaran dari guru majelisnya yang juga sebagai pemilik KBIH Arofah. Sementara kapasitas haji plus, KBIH Arofah tidak memilikinya, tetapi hanya memiliki haji reguler.Rofii menambahkan, pemilik KBIH Arofah mendapatkan tawaran dari salah satu orang yang mengaku syekh asal Filipina dan mengaku bisa memberangkatkan haji. Sehingga sejumlah calon jamaah haji asal Sidoarjo dan Pasuruan itu ditawari dengan biaya 11 ribu dolar per orang.
"Pemilik KBIH ini masih ragu dengan salah satu syekh yang pernah ketemu dengannya di Jakarta sehingga pemilik KBIH ini ke Filipina untuk melihat di mana rumah syekh itu di Filipina. Setelah bertemu di Filipina, pemilik KBIH ini percaya dengan syekh tersebut," jelasnya.
Lebih lanjut Rofii mengatakan, ketika sampai di Filipina sejumlah calon jamaah haji asal Indonesia ini ditanya oleh petugas dengan memakai Bahasa Tagalog. "Karena yang ditanya ini orang Sidoarjo dan Pasuruan sehingga tidak mengerti bahasa tersebut akhirnya dicurigai dan ditangkap," ujarnya. (Moh Kholidun/Alhafiz K)
Dari Nu Online: nu.or.id
Attauhidiyyah Giren IMNU, PonPes, Daerah Attauhidiyyah Giren
Tidak ada komentar:
Posting Komentar