Senin, 20 Oktober 2014

Wagub Sumbar: Ansor Jadi Pelopor Restorasi Surau-Nagari

Padang, Attauhidiyyah Giren. Wakil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim minta kader Gerakan Pemuda Ansor bisa menjadi pelopor dalam restorasi kembali ke surau dan nagari. Hal ini sesuai dengan prinsip Gerakan Pemuda Ansor dalam perjuangan kemasyarakatan yang selalu mempertahankan nilai-nilai budaya lokal.

?

Wagub Sumbar: Ansor Jadi Pelopor Restorasi Surau-Nagari (Sumber Gambar : Nu Online)
Wagub Sumbar: Ansor Jadi Pelopor Restorasi Surau-Nagari (Sumber Gambar : Nu Online)

Wagub Sumbar: Ansor Jadi Pelopor Restorasi Surau-Nagari

Wakil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim menyatakan hal itu dihadapan 80 peserta? Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) Ansor, Minggu (3/5/2015) dinihari di BLTP Padang. Muslim Kasim menyampaikan menjelang pembaitan peserta PKD yang berlangsung sejak Jumat? (1/5).

?

Menurut Muslim Kasim, dari berbagai kondisi yang tengah terjadi di masyarakat saat ini, memang diperlukan restorasi surau. Melalui restorasi surau tersebut, sehingga dapat ditingkatkan fungsi surau sebagai tempat pembinaan umat Islam. Yang penting dilakukan adalah memberikan pemahaman agama Islam sejak dini kepada generasi muda.

?

Attauhidiyyah Giren

"Kondisi masyarakat kini seperti adanya 33 orang setiap hari mati karena narkoba, terjadi anak tawuran antar sekolah, antar nagari, antar kampung, pergaulan bebas dikalangan remaja, banyaknya remaja putri yang tidak lagi perawan. Semuanya amat menyedihkan dan tidak sesuai dengna nilai-nilai agama," kata Muslim Kasim.

?

Attauhidiyyah Giren

Untuk itu, kata Muslim Kasim, kita harus melahirkan generasi yang kuat agamanya, tahan terhadap godaan. Generasi yang tidak dibentengi dengan nilai-nilai agama, akan membawa kehancuran.

?

Menurut Muslim Kasim, PKD Ansor ini dapat melahirkan kader pemimpin yang militan.? Ada tiga kriteria pemimpin, yakni memiliki intelektual, artinya pemimpin harus berpendidikan. Sehat, berarti sehat pikiran, sehat jasmani. Kader yang tidak sehat, mana mungkin bisa jadi pemimpin. Yang lebih penting pula, pemimpin yang memiliki cita-cita, ideologi yang akan diperjuangkannya.

?

"Kader Ansor sudah berada di jalur yang benar dalam prinsip-prinsip pemimpin.? Derasnya serangan dari gerakan radikal melalui situs-situs yang banyak maupun langsung di tengah masyarakat, harus menjadi perhatian serius Ansor sebagai pelindung masyarakat yang ramah. Mereka menyebarkan Islam dengan kekerasan. Padahal Islam itu tidak pernah mengajarkan untuk membunuh orang lain," kata Muslim Kasim.

?

Acara yang dipandu Wakil Ketua PW GP Ansor Sumatera Barat Rahmat Tuanku Sulaiman, kehadiran Muslim Kasim selain sebagai Wakil Gubernur Sumbar, juga sebagai Ketua LKAAM Kabupaten Padangpariaman. "Kader Ansor Sumatera Barat ingin mendapatkan gambaran bagaimana adat Minangkabau yang dapat menerima tradisi-tradisi bernuansa Islam. Ansor sebagai organisasi yang menghargai dan mengawal tetap hidupnya tradisi lokal tersebut,? perlu mendapat pemahaman dengan adat dan agama Islam, " kata Rahmat mantan anggota KPU Padangpariaman. (armaidi tanjung/abdullah alawi)

Keterangan Foto:

Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim foto bersama dengan peserta PKD Ansor Sumbar, Minggu (3/5/2015) dinihari menjelang pembaitan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Cerita, Habib Attauhidiyyah Giren

Senin, 13 Oktober 2014

Hormat kepada Kiai Lewat Wasilah Ayam

Pada suatu malam, Rahmat, si santri yang rajin dan patuh sedang membaca kitab Ta’lim Mutaallim. Ia mendapati penjelasan bahwa seorang murid harus menghormati dan ta’dzim pada kiai, keluarga bahkan binatang dan properti kiainya.

Rahmat berpikir, mungkin sikap hormat ini juga akan mendatangkan apa yang disebut berkah. Dia juga teringat beberapa cerita seorang santri yang mempunyai ilmu laduni karena saking hormat kepada kiainya termasuk binatang miliknya.

Hormat kepada Kiai Lewat Wasilah Ayam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hormat kepada Kiai Lewat Wasilah Ayam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hormat kepada Kiai Lewat Wasilah Ayam

Pada pagi harinya, saat menyapu halaman masjid, tiba-tiba Rahmat melihat seekor ayam jantan milik kiainya lewat di hadapannya.

Karena ingat penjelasan kitab yang semalam ia baca, Rahmat pun minggir teratur, menunduk serta memberi hormat pada binatang itu.

Beberapa teman santri hanya mlongo saja melihat kelakukan Rahmat yang begitu ta’dzim kepada ayam lewat, persis seperti ketika sang kiai melintas di hadapan para santri.

Attauhidiyyah Giren

“Mat, ente sedang ngapain,” tanya salah satu santri bernama Ucup.?

“Ini ayam milik kiai,” jawab Rahmat.

Seketika itu juga mereka serentak mengikuti gaya si Rahmat dengan hormat pada ayam kesayangan kiainya itu. (Fathoni)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nusantara, Tegal Attauhidiyyah Giren

Rabu, 01 Oktober 2014

Sarung Miliki Potensi dalam Pemberdayaan Ekonomi Pesantren

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Direktur Jenderal Industri Tekstil, Kulit, dan Aneka, Kementerian Perindustrian RI Muhdori mengungkapkan tradisi bersarung yang dilakukan warga NU dan pondok pesantren, memiliki potensi dan peluang positif dilihat dari pemberdayaan ekonomi pesantren. ?

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara pada Seminar Nasional “Sarung Nusantara” yang digelar Lembaga Takmir Masjid Nahdltaul Ulama (LTMNU) di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Kamis (6/4).

Sarung Miliki Potensi dalam Pemberdayaan Ekonomi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarung Miliki Potensi dalam Pemberdayaan Ekonomi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarung Miliki Potensi dalam Pemberdayaan Ekonomi Pesantren

“Industri tekstil, di dalamnya termasuk industri sarung, menempati urutan ketiga penghasil devisa negara. Nilai ekspor tahun 2016 sebesar US$ 11,78 miliar (8,22 persen ekspor nasional), dengan surplus USD 4,73 miliar; berkontribusi 1,18 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada tahun 2016. Industri tekstil juga merupakan satu dari sepuluh industri prioritas dan industri andalan Indonesia 2015-2035,” urai Muhdori.

Muhdori menyebut, pada tahun 2015, dari sisi penyerapan tenaga kerja, industri tersebut menyerap tenaga kerja langsung sejumlah 2,69 juta orang. Angka ini setara dengan 17,03 persen dari total tenaga kerja industri manufaktur yang bersifat padat karya.

Oleh karena itu ia mendorong pesantren memanfaatkan peluang tersebut. “Contohnya bila di Cirebon saja ada 27 pesantren dengan rata-rata 200 santri per pesantren. Lalu koperasi pesantren membeli sarung dengan harga dasar 45 ribu dijual 50 ribu, itu akan ada keuntungan untuk pesantren. Jelas ini upaya pemberdayaan umat lewat sarung,” terangnya.

Attauhidiyyah Giren

Belum lagi, kata Mudhori bila pesantren bisa memproduksi sarung sendiri, tentu optimalisasi pemberdayaan ekonomi dapat dilakukan.

Attauhidiyyah Giren

Ia juga mengatakan pengembangan tekstil tidak terbatas hanya sarung. “Ketika musim haji, kiai dan satri pondok pesantren minimal kalau tidak berangkat haji bisa bertindak sebagai pemandu manasik. Sekaligus ini bisa dipersiapkan dengan mengenalkan produk pendukung ibadah haji dan umrah,” lanjut Muhdori.

Bicara tentang bisnis, kata Muhdori, tidak akan ada habisnya ketika dikaitkan dengan pondok pesantren. “Karena itu pondok pesantren dan NU harus memanfaatkan betul peluang ini, selagi masih terbuka,” tandasnya. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Daerah Attauhidiyyah Giren