Minggu, 18 Desember 2016

Rais Thariqah Syadziliyah UEA Beri Kuliah di STAINU Jakarta

Jakarta, Attauhidiyyah Giren

Dalam rangka kunjungannya ke Indonesia , tepatnya di kampus STAINU/UNU Jakarta. Syekh Muhammad An-Nadzoriyah Al- Hasany, Rais Thariqah Syadziliyah di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) memberikan taushiyah singkatnya, Selasa (15/3) kepada para mahasiswa tentang hakikat kedekatan Allah SWT dengan makhluknya.

Syekh Muhammad mengatakan, Allah SWT ibarat kekasih jika berkaitan dengan kedekatan hubungan. Maka Ahlul Ma’rifat membagi waliyyun (kekasih) menjadi tiga. Dua halnya terlarang yaitu waliyyun ghoirullah maka disebut kafir dan waliyyun ma’allah maka disebut musyrik.?

Rais Thariqah Syadziliyah UEA Beri Kuliah di STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Thariqah Syadziliyah UEA Beri Kuliah di STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Thariqah Syadziliyah UEA Beri Kuliah di STAINU Jakarta

“Maka Allah SWT tidak menerima kekasih selainnya (waliyyun ghoirollah) atau pun pihak ketiga yang menjadi kekasih selainnya (waliyyun ma’allah). Dia hanya ridho jika diriNya-lah satu-satunya yang dijadikan kekasih oleh kita yaitu hambanya,” jelasnya.

Dia juga menuturkan bahwa orang sekarang lebih menilai rezeki dari segi material (keliahatan) dan kuantitasnya ketimbang rohaniyah dan kualitas rezeki tersebut.?

Dia menuturkan, banyak faktor yang mendorong rezeki itu datang, diantaranya ada 6 faktor seperti: istighfar, attuqoh (ketaqwaan), thoqoh (kekuatan), assholah, assodaqoh, wal harokah.?

Attauhidiyyah Giren

“Dan dari faktor-faktor tersebut yang sangat berperan dari kita manusia adalah panca indera, akal, dan mata hati. Kita harus berusaha keras bagaimana mengaplikasikan 3 hal yang kita punya dengan 6 faktor yang ada,” terangnya.

Dalam kunjungannya ini, Syekh Muhammad juga memberikan ijazah ‘Aam kepada semua mahasiswa STAINU Jakarta dan UNU Indonesia yang hadir di sana.?

Syekh Muhammad diterima langsung oleh pimpinan STAINU Jakarta dan UNU Indonesia diantaranya KH Mujib Qulyubi, Imam Bukhori, Amsar Dulmanan, Arif Rahman, Dede Setiawan, Aris Adi Leksono, Fatkhu Yasik, Siti Rozinah, dan Khairunnisa. (M Aqil/Fathoni)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren AlaNu, Bahtsul Masail, Pendidikan Attauhidiyyah Giren

Jumat, 16 Desember 2016

Biografi KH Ahmad Basyir Segera Terbit

Kudus, Attauhidiyyah Giren. Buku Biografi ulama kharismatik dan guru mujiz Dalailul Khairat KH Ahmad Basyir akan segera terbit. Rencananya, karya santri senior Pesantren Darul Falah Widi Muryono setebal 248 halaman ini  mulai beredar pada peringatan 40 hari wafatnya almarhum (26/4).

Widi Muryono mengatakan buku berjudul Syaikhina Ahmad Basyir; Syaikh Mujiz Dalailul Khairot ini diterbitkan Lembaga Pers Santri (LPS) Al-Fiqro Pesantren Darul Falah Dusun Bareng Jekulo Kudus. Tujuannya, untuk menghadirkan terus menerus sosok dan ruh KH Ahmad Basyir alam dinamika spiritual santri dan masyarakat.

Biografi KH Ahmad Basyir Segera Terbit (Sumber Gambar : Nu Online)
Biografi KH Ahmad Basyir Segera Terbit (Sumber Gambar : Nu Online)

Biografi KH Ahmad Basyir Segera Terbit

 

“Disamping itu, untuk mengenang dan menggali keteladanana dari sosok Mbah Basyir,” katanya kepada Attauhidiyyah Giren, Selasa (22/4).

Attauhidiyyah Giren

Widi menjelaskan, buku ini mengisahkan sejarah singkat perjalanan pengasuh pesantren Darul Falah yang dikenal sebagai mujiz Dalailul Khairat. Riwayat Mbah Basyir mulai proses belajar di sekolah dasar hingga mengabdi dan menjadi badal gurunya KH Ahmad Yasin di pesantren.

 

“Termasuk pula saat menikah, mendirikan pondok, menjadi mujiz dan akhlak beliau serta kehidupan bermasyarakat, semua tertulis dalam buku dengan bentuk kisah murni,” paparnya.

Attauhidiyyah Giren

Widi menambahkan buku ini juga mengisahkan kebersamaan Mbah Basyir bersama ulama ahli Al-Quran KH Arwani dan ulama lainnya. Terdapat juga, tulisan yang membahas persinggungan pondok pesantren dengan orde baru.

Pada cetakan pertama ini, kata dia, merupakan buku edisi jilid satu dengan mencetak 1000 eksemplar yang akan diedarkan secara gratis kepada santri atau masyarakat luas. “Saya berharap akan ada buku edisi bertahap ke jilid 2 dan 3 dilanjutkan pada peringatan 100 dan 1000 hari wafatnya beliau,” terang Widi yang juga alumnus STAIN Kudus.

Putra bungsu Mbah Basyir KH Muhammad Alamul Yaqin mengatakan, buku biografi diterbitkan untuk berbagi kisah tentang sosok orang tua, kiai, guru, dan sahabat. Harapannya bisa menjadi inspirasi dan penyemangat bagi generasi penerusnya.

 

“Untuk para santri, bisa sebagai motivasi supaya lebih giat mencari ilmu dan berkhidmah ke masyarakat,” ujar Gus Alamul yang juga selaku editor buku biografi ini seraya minta maaf atas kekurangan dalam tulisan di dalamnya.

 

Sebagaiamana diketahui, ulama kharismatik yang juga Guru Mujiz Dalailul Khairat KH Ahmad Basyir wafat pada selasa (18/4) pukul 01.00 dan dimakamkan di komplek makam dusun Mbareng Jekulo Kauman Kudus. Keluarga dan santri akan memperingati 40 hari wafatnya pada Sabtu malam (26/4). (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nahdlatul, Meme Islam Attauhidiyyah Giren

Kamis, 15 Desember 2016

Hari Toleransi, Jagongan Ramik Ragom Way Kanan Diskusikan Kekacauan Medsos

Way Kanan, Attauhidiyyah Giren - Sejumlah aktivis pemuda lintas iman di Kabupaten Way Kanan akan meramaikan Jagongan Ramik Ragom (beragam) peringatan Hari Toleransi dengan diskusi bertema Media Sosial Media Perdamaian guna mencari solusi maraknya informasi sampah di media sosial (medsos).

"Krisis berpikir jernih mengakibatkan bangsa Indonesia sulit melakukan revolusi mental. Fakta tersebut merujuk publik yang tak lepas dari media sosial yang gagal menjadi masyarakat atau generasi pembaharu. Masyarakat media sosial kita lebih memilih mengonsumsi informasi sampah daripada informasi inspiratif," ujar penggiat Gusdurian Lampung, Gatot Arifanto, di Blambangan Umpu, Sabtu (12/11).

Hari Toleransi, Jagongan Ramik Ragom Way Kanan Diskusikan Kekacauan Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Toleransi, Jagongan Ramik Ragom Way Kanan Diskusikan Kekacauan Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Toleransi, Jagongan Ramik Ragom Way Kanan Diskusikan Kekacauan Medsos

Presiden Southeast Asian Press Alliance (SEAPA) Eko Maryadi dalam sejumlah kesempatan menyatakan konten media sosial adalah sampah. Menurut mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia itu,? kebiasaan masyarakat Indonesia begitu menerima broadcast di Whatsapp menganggapnya menarik dan menyebarluaskan kendati informasi yang mentah yang tersebut belum terverifikasi kebenarannya.

Attauhidiyyah Giren

"Di facebook dan media sosial lainnya juga demikian, share sesuatu yang tidak mencerahkan seperti berita ngawur seakan menjadi prioritas daripada membagikan informasi yang bernas. Jika paradigma semacam itu subur, Indonesia tak akan pernah menjadi bangsa unggul, tapi bangsa yang terampil menebar disinformasi, kebencian dan intoleransi. Diperlukan solusi atas persoalan tersebut," ujar anggota AJI Bandar Lampung itu lagi.

Attauhidiyyah Giren

Sejumlah pemantik diskusi dalam kegiatan tersebut ialah anggota Dewan Pembina Gerakan Pemuda Ansor Iskardo P Panggar, Ketua KNPI Andi Oktoviandi, Ketua Karang Taruna Sairul Sidik, Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Kahmi) Indra Z Rayusman.

Selanjutnya Ketua Pemuda Muhammadiyah Munawar, Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) I Gede Klipz Darmaja, Ketua Kelompok Kerja Wartawan (Pokjawan) Dedi Tornando dan aktivis Pemuda Katholik Andreas Natalis Sapta Aji.

"Kami mengundang sejumlah kepala sekolah dan pelajar untuk ikut urun rembug terkait persoalan intoleransi di media sosial," ujar Ketua GP Ansor Way Kanan itu pula.

Jagongan Ramik Ragom akan digelar Rabu, 16 November 2016, pukul 13.00 WIB hingga selesai di aula SMK Kesehatan Cahaya Darma, Baradatu. Kegiatan ini akan diramaikan oleh acapela SMAN 1 Baradatu, musik perdamaian oleh SMK Kesehatan Cahaya Darma, dan pembacaan puisi Gus Mus oleh santri Assidiqqiyah 11, serta foto selfie? #DamaiRamaiRamai #RamaiRamaiDamai. (Disisi Saidi Fatah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Meme Islam Attauhidiyyah Giren

Rabu, 14 Desember 2016

PMII Pacitan Adakan Mapaba

Pacitan, Attauhidiyyah Giren. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Kanjeng Jimat Pacitan melaksanakan kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba). Kegiatan ini sebagai bentuk pengenalan terhadap PMII sekaligus perekrutan anggota baru. Bagi mahasiswa yang ikut Mapaba telah dinyatakan sebagai anggota PMII akan dikader ke jenjang berikutnya.

Ketua Panitia Mapaba, Amrudin, Ahad (2/12/12) mengatakan, acara tersebut dipusatkan di Balai Desa Purworejo Pacitan. Kegiatan dilaksanakan dari tanggal 30 November  hingga 2 Desember 2012.

PMII Pacitan Adakan Mapaba (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pacitan Adakan Mapaba (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pacitan Adakan Mapaba

Dikatakannya, Mapaba bertujuan membentuk kader militan yang Kritis Transformatif serta memiliki akhlakul karimah yang bernafaskan Islam sesuai dengan ajaran Ahlusunah wal Jamaa’ah.

Attauhidiyyah Giren

Diharapkan kegiatan ini dapat memberi motivasi karena merupakan awal pengenalan terhadap PMII sehingga organisasi berbasis mahasiswa melahirkan keintelektualan, berwawasan luas dan berperan sebagai sosial kontrol bagi pemerintahan kabupaten Pacitan khususnya dan umumnya pada bangsa Indonesia ini.

“Semoga kegiatan ini menjadikan kader yang terbentuknya pribadi muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab mengamalkan ilmunya,” katanya.

Attauhidiyyah Giren

Dalam Pembukaan Mapaba yang  bertemakan “Implementasi Potensi Intelektual Kader Dalam Mencetak Generasi Yang Kritis Transformatif” itu di buka oleh Wakhuri, salah satu Majelis Pembina Cabang PMII Pacitan. 

Dalam sambutanya ia menekankan kepada peserta Mapaba pada nantinya benar-benar menjadi keder militan yang multi talenta serta mau dan mampu memperjangkan nilai-nilai Ahlusunah Wal Jamaa’ah sebagai Manhaj (landasan) untuk berdzikir, berfikir dan beramal sholeh.

Mantan Aktifis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sekarang juga menjadi Kepala Seksi Pekapontren di Kementrian Agama Kabupaten Pacitan itu juga menegaskan bahwa PMII adalah organisasi yang berbasis kaderisasi yang mampu melahirkan Tokoh-tokoh yang besar. Setiap kader yang sudah siap secara Intelektual, Emosional, dan Spiritual harus kembali kepada masyarakatnya dan mengimplementasikan apa yang sudah dimiliki, karena hal itu adalah bentuk dari aktualisasi Nilai Dasar Pergerakan (NDP).

Acara pembukaan Mapaba ini juga dihadiri Ketua Lembaga Kajian Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Cabang Pacitan, Muhammad Munaji, Direktur Komunitas Insan Peduli Anak Sekolah (Kipas) Muhammad Zafri Wicaksana, dan sejumlah Majelis Pembina Cabang PMII Pacitan diantaranya Dodik Prasetyo, yang juga Direktur Prasetya Institute.

Materi yang disampaikan dalam Mapaba sesuai dengan  kurikulum kaderisasi yang dirumuskan PB PMII yang garis besarnya tentang Mahasiswa, Islam Indonesia (Aswaja), dan Ke Indonesiaan. Sedangkan pemateri dari Pengurus Komisariat Kanjeng Jimat Pacitan, Pengurus Cabang PMII Pacitan, dan Alumni PMII dari berbagai kota yang berdomisili di Pacitan.

Kegiatan diikuti oleh puluhan peserta itu berasal dari beberapa perguruan tinggi yang ada di Pacitan, diantaranya STAI NU Pacitan, STKIP PGRI Pacitan, dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Pacitan berakhir dengan pembacaan Sumpah Mahasiswa Indonesia yang dipimpin oleh Ketua Umum PMII Komisariat Kanjeng Jimat Pacitan Sapto Pitoyo dan dilanjutkan pengukuhan (pembaiatan) yang dipimpin oleh Ketua Umum PMII Cabang Pacitan Agus Salim. Acara pembaiatan berjalan dengan lancar dan penuh khidmat.

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Zaenal Faizin

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Fragmen, Kajian Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 10 Desember 2016

PBNU Minta Pemerintah Wujudkan Kesejahteraan Petani

Mataram, Attauhidiyyah Giren. Indonesia yang dikenal sebagai negara agraria mempunyai problem setumpuk terkait kesejahteraan petani. Petani di Indonesia yang meyoritas hidup di pedesaan membutuhkan perhatian dari pemerintah untuk menyediakan berbagai fasilitas pendukung pertanian.

Untuk mewujudkan kesejhateraan petani ini, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas mendorong pemerintah untuk melakukan penguatan infrastruktur pertanian.

PBNU Minta Pemerintah Wujudkan Kesejahteraan Petani (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Pemerintah Wujudkan Kesejahteraan Petani (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Pemerintah Wujudkan Kesejahteraan Petani

Robikin menyampaikan hal itu pada konferensi pers di perhelatan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU, Kamis (23/11) di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Dalam kegiatan yang berlangsung 23-25 November 2017 ini, Robikin menjelaskan terkait pembangunan infrastruktur pertanian. Langkah tersebut bisa dilakukan dengan memperbanyak membangun saluran air di berbagai daerah di Indonesia.

Attauhidiyyah Giren

“Pemerintah harus hadir dan memberikan afirmasi di bidang pertanian, redistribusi lahan, dan membangun infrastruktur pertanian,” ujar Robikin di hadapan sejumlah awak media.

Menurut pria yang juga Ketua Panitia Munas dan Konbes NU ini, kalau pemerintah serius ingin melakukan reformas agraria, mereka juga harus membangun fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan para petani secara merata.

“Selain infrastruktur, juga harus mengusahakan adanya pupuk yang murah dan terjangkau oleh masyarakat petani,” kata Robikin didampingi Sekretaris Panitia Munas dan Konbes H Ulil Hadrawi dan Koordinator Media Savic Ali. 

Reforma agraria menjadi salah satu materi penting dalam Munas dan Konbes NU di Lombok, khususnya terkait redistribusi lahan. Penguatan kesejataraan petani menurut Robikin merupakan langkah strategis NU dalam mewujudkan penguatan ekonomi warga.

Attauhidiyyah Giren

Karena menurutnya, penguatan ekonomi dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat sebab kemiskinan menjadi salah satu faktor rentan seseorang terpapar ideologi radikal.

“Jadi perhatian NU tidak hanya menguatkan perekonomian, tetapi juga meneguhkan ideologi yang ramah bagi setiap perbedaan,” ucap Robikin. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Humor Islam Attauhidiyyah Giren

Senin, 05 Desember 2016

Nusron: Indonesia Jangan Ditarik-tarik ke Konflik Saudi-Yaman

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid menilai ada pihak yang sengaja mengembuskan ketengangan konflik antara Saudi dan Yaman ke Indonesia dengan mengobarkan sentimen Sunni-Syiah.

“Konflik itu bukan konflik Sunni-Syiah, itu adalah murni konflik kekuasaan,” katanya pada peringatan hari lahir (Harlah) ke-81 GP Ansor, Jumat (24/4) malam, di halaman Graha Ansor, Jakarta.

Nusron: Indonesia Jangan Ditarik-tarik ke Konflik Saudi-Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusron: Indonesia Jangan Ditarik-tarik ke Konflik Saudi-Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusron: Indonesia Jangan Ditarik-tarik ke Konflik Saudi-Yaman

Nusron mengingatkan, situasi dunia Islam, khususnya di Timur Tengah, yang porak poranda bisa saja kelak terjadi juga di Tanah Air ketika Pancasila lemah. Karena itu ia mengimbau kepada para kader GP Ansor untuk terus-menerus meneguhkan ideologi negara dan menjaga kerukunan di Indonesia.

Attauhidiyyah Giren

Ketua BNP2TKI ini juga menyatakan, tidak seperti di Yaman, warga Indonesia harus menghormati pemerintah yang sah dan telah melalui jalur pemilihan yang demokratis. “Jadi Islam Indonesia tidak usah ditarik-tarik ke konflik Saudi yang menyerang Yaman,” ujarnya.

Attauhidiyyah Giren

Perayaan harlah yang diiringi peresmian Masjid KH Abdurrahman Wahid ini mengambil tema “Transformasi Jamaah Menuju Jam’iyah Nahdliyah”. Nusron berharap jamaah NU yang sangat besar dapat menyatu dalam ikatan organisasi modern tanpa meninggalkan karakter tradisionalnya untuk menghadapi tantangan ke depan, begitu pula organisasi NU harus terikat dengan jamaahnya di bawah.

“Selama ini banyak jamaah hanya memiliki ikatan ideologis dan ritual ibadah saja ke NU, bukan ikatan kohesi sosial dan jam’iyah,” ujarnya.

Hadir dalam kesempatan ini mantan ibu negara Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Rais Syuriah PBNU KH Saifuddin Amsir dan KH Masdar Farid Mas’udi, Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud, Ketua Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) KH Abdul Manan A Ghani, dan sejumlah pejabat pemerintah. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Humor Islam, Cerita Attauhidiyyah Giren

Jumat, 02 Desember 2016

Enam Orang Ini Dibolehkan Islam Tidak Berpuasa Ramadhan

Kewajiban puasa berlaku sejak kita melihat bulan. Rasulullah SAW bersabda, “Sûmû liru’yatihi wa afthirû li ru’yatihi.” Artinya, “Berpuasalah kamu karena melihat bulan. Dan berhari raya kamu semua karena melihat bulan.” Sejak bulan terlihat, sejak itu pula kita berwajiban menjalankan ibadah puasa.

Semua aktivitas yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan hubungan suami istri mesti diatur jadwalnya. Pengaturan ini berlaku untuk mereka yang wajib secara syara’ (agama) menjalankan puasa. Mereka yang wajib adalah orang yang baligh, berakal, sehat, muda, dan mampu menjalankan puasa. Singkatnya mereka yang mampu menjalani ketentuan puasa.

Enam Orang Ini Dibolehkan Islam Tidak Berpuasa Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Enam Orang Ini Dibolehkan Islam Tidak Berpuasa Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Enam Orang Ini Dibolehkan Islam Tidak Berpuasa Ramadhan

Sedangkan orang di luar itu tidak berkewajiban menjalankan puasa. Mereka ini yang dikecualikan. Orang-orang ini disebutkan secara rinci oleh Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam Kasyifatu Saja. Mereka ini diizinkan secara syara’ untuk membatalkan puasanya.

Attauhidiyyah Giren

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Attauhidiyyah Giren

Artinya, “Enam orang berikut ini diperbolehkan berbuka puasa di siang hari bulan Ramadhan. Mereka adalah pertama musafir, kedua orang sakit, ketiga orang jompo (tua yang tak berdaya), keempat wanita hamil (sekalipun hamil karena zina atau jimak syubhat [kendati wanita ini berjimak dengan selain manusia tetapi ma’shum]).

Kelima orang yang tercekik haus (sekira kesulitan besar menimpanya dengan catatan yang tak tertanggungkan pada lazimnya menurut Az-Zayadi, sebuah kesulitan yang membolehkan orang bertayamum menurut Ar-Romli)-serupa dengan orang yang tercekik haus ialah orang yang tingkat laparnya tidak terperikan-, dan keenam wanita menyusui baik diberikan upah atau suka rela (kendati menyusui bukan anak Adam, hewan peliharaan misalnya).”

Islam memungkinan orang-orang ini terbebas dari kewajiban puasa di bulan Ramadhan meskipun sebagian dari enam orang ini harus menggantinya di luar Ramadhan. Karena, kondisi yang dialami enam orang ini, dalam pandangan ulama, memungkinkan hilangnya kemampuan puasa dari yang bersangkutan saat Ramadhan. Artinya, Islam tidak memaksakan mereka yang tidak mampu berpuasa. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Aswaja, Daerah, Cerita Attauhidiyyah Giren