Rabu, 30 Agustus 2017

Ketua PWNU Jabar Jawab Kritik Islam Nusantara

Bandung, Attauhidiyyah Giren. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, Dr.H Eman Suryaman berpadangan bahwa Islam Nusantara yang diusung oleh NU tersebut merupakan ijtihad sosial-politik. Ia merupakan model, dan bukan ajaran atau paham.

"Betul bahwa Islam sebagai ajaran itu tunggal, tapi sebagai model beragam. Sunnatullah sosiologis-demografi itulah yang beragam. Jadi Islam-Nusantara adalah model dari sekian banyak model ke-Islaman di berbagai suku-bangsa dunia. Jadi jangan seperti yang diisukan oleh orang-orang yang mengatakan Nahdlatul Ulama menusantarakan Islam. Ini tidak tepat keliru memahami. Sekali lagi, harus dibedakan antara Islam sebagai ajaran dengan nusantara sebagai demografi," jelasnya kepada Attauhidiyyah Giren di Bandung, Selasa (9/6).

Ketua PWNU Jabar Jawab Kritik Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU Jabar Jawab Kritik Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU Jabar Jawab Kritik Islam Nusantara

Eman perlu mengklarifikasi banyaknya berita yang muncul tentang Islam Nusantara yang dianggap "menusantarakan Islam" sehingga seakan-akan mempermainkan Islam. Hal tersebut oleh Eman dianggap salah memahami maksud karena melihat dua hubungan yang berbeda antara Islam sebagai ajaran atau paham dengan Islam (realitas muslim) dalam ruang sosiologis atau ruang demografis.

Attauhidiyyah Giren

"Islam Nusantara itu pertama ini menunjukkan bahwa Islam Indonesia berbeda dengan Islam di Timur Tengah. Jadi perbedaannya ya pada realitasnya, bukan pada ajarannya. Ajaran Islam tetap sama, tapi di luar ibadah itu wilayah ijtihadiah, jadi bisa berbeda. Sesuai sunnatullah," terangnya.

Dengan kata lain, Nahdlatul Ulama ingin menunjukkan bahwa Islam itu tidak harus keras sebagaimana Islam di Timur Tengah yang banyak melakukan peperangan, apalagi atas nama agama, dan musuhnya pun sesama orang Islam. Di Indonesia, menurut Eman punya problem yang berbeda. Karena itu pendekatannya pun mesti melihat realitas, melihat sunnatullahnya.

Attauhidiyyah Giren

"Kita semua orang Islam berusaha taat pada Allah dan Rasullullah, tapi juga harus melihat sunnatullahnya supaya ketaatan kita pada Allah dan Rasullulullah itu bisa diimplementasikan secara tepat, tidak memaksakan ajaran dengan keadaan, dan bisa berhasil seperti para Walisongo yang dulu punya prestasi membawa model gerakan ke-Islaman di Nusantara tanpa kekerasan," terangnya. (Ferli Husain/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Tokoh Attauhidiyyah Giren

Minggu, 27 Agustus 2017

Perangi Narkoba dan Gerakan Radikal, Kemenag Jember Sebar 248 Penyuluh

Jember,Attauhidiyyah Giren

Peredaran narkoba yang semakin massif dan gerakan radikalisme yang kian mengkhawatirkan, menjadi perhatian tersendiri bagi jajaran pimpinan Kemenag Kabupaten Jember. Sebab, dua hal tersebut sama-sama berbahaya bagi masa depan Indonesia.

Kemenag Kabupaten Jember menerjunkan 248 penyuluh agama honorer guna memerangi peredaran narkoba dan mempersempit ruang gerak kelompok radikal. Mereka akan menyebar di setiap desa dan keluraha di seluruh wilayah Jember.

"Sejak hari Senin kemarin lusa, seluruh penyuluh agama Islam yang PNS telah turun ke kecamatan-kecamatan untuk memberikan pembinaan dan berkoordinasi dengan penyuluh honorer yang kita tempatkan di desa-desa se-Kabupaten Jember,” ungkap Ketua Kelompok Kerja Penyuluh Kabupaten Jember,? Muhammad Muslim di sela-sela pembinaAn dan sosialisasi penyuluh honorer di Kaliwates, Kamis (26/1).

Perangi Narkoba dan Gerakan Radikal, Kemenag Jember Sebar 248 Penyuluh (Sumber Gambar : Nu Online)
Perangi Narkoba dan Gerakan Radikal, Kemenag Jember Sebar 248 Penyuluh (Sumber Gambar : Nu Online)

Perangi Narkoba dan Gerakan Radikal, Kemenag Jember Sebar 248 Penyuluh

Menurut Muslim, penyalahgunaan narkoba dan gerakan radikalisme adalah dua hal yang sangat berbahaya dan wajib diperangi? bersama oleh segenap rakyat Indonesia.

Penyalahgunaan narkoba, katanya, selain sudah banyak merenggut? korban jiwa dan berdampak dahsyat bagi degradasi moral generasi muda. Sementara gerakan radikalisme adalah momok yang terus menghantui ketenangan dan kedamaian serta kerukunan bangsa Indonesia.

“Kita tidak ingin negeri? ini hancur gara-gara narkoba, dan kita juga tak ingin Indonesia berkeping-keping akibat propaganda gerakan radikal,” jelasnya.

Attauhidiyyah Giren

Ketua Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Cabang Jember itu menambahkan, akhir tahun 2016, Kantor Kemenag Jember telah melakukan rekruitmen penyuluh agama honorer. Sebelum diterjunkan ke masyarakat, mereka lebih dahulu dibekali dengan sejumlah ilmu dan “keterampilan” terkait dengan tugas pokok dan fungsinya.?

“Ada delapan tugas bagi mereka, di antaranya adalah menekan gerakan radikalisme dan penyalahgunaan narkoba serta penanggulangan HIV/AIDS, serta beberapa tupoksi lainnya, ”jelas Muslim (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)



Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ulama, Olahraga Attauhidiyyah Giren

PBNU Doakan Prabowo Dapatkan Kekuatan

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mendoakan capres no 1 Prabowo Subianto untuk mendapatkan kekuatan dan taufik, apapun keputusan KPU pada 22 Juli mendatang.

Hal ini disampaikan ketika menerima kunjungan Prabowo di gedung PBNU, Selasa (15/7).

PBNU Doakan Prabowo Dapatkan Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Doakan Prabowo Dapatkan Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Doakan Prabowo Dapatkan Kekuatan

“Tidak perlu pesta pora dari masing-masing pendukung, mari kita hadapi semuanya dengan tenang,” kata Kiai Said.

Sebelumnya Kiai Said telah menyampaikan pesan agar kedua kubu capres untuk sabar menunggu hasil pengumuman KPU dan setelah ditetapkan presiden terpilih, diharapkan pihak lainnya menerima dengan besar hati keputusan tersebut.

Attauhidiyyah Giren

Dalam pertemuan yang berlangsung tertutup ini, hadir 12 ormas Islam yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI). Sementara itu Prabowo yang datang sekitar pukul 14.30 didampingi oleh ketua umum Golkar Aburizal Bakrie dan Ali Mochtar Ngabalin.

Attauhidiyyah Giren

Kepada media, Prabowo mengungkapkan adanya indikasi keterlibatan pihak asing dalam penentuan nasib bangsa Indonesia ke depan.

“Biarkan bangsa Indonesia menentukan nasibnya sendiri,” katanya di lt3 gedung PBNU tempat Kiai Said berkantor.

Tetapi ketika ditanya, siapa orangnya, ia hanya berujar, "Wartawan lebih tahulah" yang kemudian diiringi dengan derai tawa para wartawan.

Meskipun sedang menunggu hari yang sangat menegangkan terkait dengan keputusan KPU, mantan menantu Soeharto kali ini terlihat santai. Mengenakan kemeja batik lengan pendek warna coklat dengan motif bunga disertai kopiah diatas kepala, ia menjawab pertanyaan para wartawan dengan santai sambil sesekali menebar senyum.

Tentang rencana pertemuan dengan Jokowi yang diusulkan sejumlah pihak, Prabowo menegaskan, ia siap bertemu dengan siapa saja karena pada dasarnya silaturrahmi itu baik. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nasional, Pondok Pesantren Attauhidiyyah Giren

Jumat, 25 Agustus 2017

HIPSI Adakan Workshop Usaha Bagi Warga NU DIY

Bantul, Attauhidiyyah Giren. Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) mengadakan workshop pengembangan jiwa kewirausahaan bagi warga NU DIY, Sabtu siang (18/5), di STIQ An-Nur Ngrukem, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pengusaha NU, seperti Gus Ghozali (Ketua HIPSI), Bukhari AZ (Ketua HIPSI Jogja), Prof. Maksum (PBNU), dan Tanto (Penasehat HIPSI).

HIPSI Adakan Workshop Usaha Bagi Warga NU DIY (Sumber Gambar : Nu Online)
HIPSI Adakan Workshop Usaha Bagi Warga NU DIY (Sumber Gambar : Nu Online)

HIPSI Adakan Workshop Usaha Bagi Warga NU DIY

Pertemuan singkat siang itu lebih banyak diisi dengan sosialisasi akan keberadaan HIPSI itu sendiri, mulai dari sejarah berdirinya, visi misinya, dan gerakan-gerakan yang telah dilakukan.

Attauhidiyyah Giren

Sebagai landasan gerakannya, HIPSI berpegang teguh pada kata-kata KH Hasyim Asy’ari dalam deklarasi Nahdlatut Tujjar ‘Kebangkitan Saudagar’ tahun 1918, yang berbunyi “Wahai pemuda putra bangsa yang cerdik, pandai dan para ustadz yang mulia, mengapa kalian tidak mendirikan saja satu badan usaha ekonomi yang beroperasi, di mana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom”.

Attauhidiyyah Giren

Dengan visi mencetak sejuta santri pengusaha, dan melahirkan pengusaha nasional dari pesantren, HIPSI telah banyak melakukan pengembangan bidang wirausaha bagi kalangan pesantren di  berbagai daerah seperti di Pasuruan, Jember, Situbondo, Jombang, Tasikmalaya, dan sebagainya.

Ketua HIPSI, Gus Ghozali menceritakan, bidang pengembangan HIPSI pun beragam, mulai dari pertanian, peternakan, juga perdagangan. Salah satu contoh hasil pengembangannya adalah telah dibudidayakannya 500.000 ekor ayam di Jember, dan pertanian jagung, tembakau dan edamame di Bondowoso.

“Sebagai bentuk pengembangan, akan mulai dirintis juga dunia usaha via internet,” tandasnya.

Dalam pertemuan singkat siang itu, dihasilkan beberapa hal terkait pengembangan dunia wirausaha yang ada di Yogyakarta, yang merupakan salah satu lahan baru bagi HIPSI. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’      

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Daerah Attauhidiyyah Giren

GP Ansor Gencar Upayakan Kemandirian Ekonomi Anggota

Jakarta, Attauhidiyyah Giren - Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Coumas menjelaskan, salah satu usaha yang dikembangkan dalam upaya kemandirian anggota dan organisasi adalah gencar melakukan penguatan di bidang ekonomi.

“Kita ingin menumbuhkan jiwa enterpreneursip untuk kader-kader kita, supaya tidak ada lagi yang namanya kader Ansor itu nganggur,” papar (Gus Tutut), saat perbincangan dengan Attauhidiyyah Giren (19/4).

GP Ansor Gencar Upayakan Kemandirian Ekonomi Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Gencar Upayakan Kemandirian Ekonomi Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Gencar Upayakan Kemandirian Ekonomi Anggota

Pria yang akrab disapa Gus Tutut memaparkan saat ini GP ansor sudah mencoba melakukan beberapa terobosan. Antara lain pendirian salon mobil online di beberapa tempat di Jabodetabek.

“Tahap pertama kita memasukkan 200 kader Banser di bisnis tadi, meskipun baru sebatas tenaga kerja. Tapi menurut kami itu jauh lebih daripada tidak kerja sama sekali,” kata Gus Tutut.

Attauhidiyyah Giren

Selain itu, usaha perekonomian juga dilakukan dengan pendirian industri komunitas. Di Jawa Tengah? pilot projek pendirian industri komunitas dilakukan di Batang dan Rembang, yang pada waktu mendatang sangat mungkin untuk dikembangkan ke daerah lain.

Lebih lanjut, Gus Tutut mengatakan masih ada banyak usaha perekonomian yang dilakukan Pimpinan Pusat GP Ansor. Dapat dikatakan, saat ini yang paling sibuk di GP Ansor adalah di bidang ekonomi karena banyak terobosan yang sedang dirancang. Ditargetkan dalam 2-3 tahun ke depan sudah mulai kelihatan.

Attauhidiyyah Giren

Anggota GP Ansor, kata dia, berada pada usia yang produktif. Salah satu tanggung jawab yang perlu dilakukan pada usia tersebut? adalah tanggung jawab ekonomi baik kepada diri dan keluarga.

“Ini yang kita coba tekankan ke sahabat-sahabat kita (anggota GP Ansor), meskipun kita tidak bisa meninggalkan tanggung jawab ideologis. Kita tentu tetap akan menjadi benteng pertahanan pertama bagi berdirinya NKRI, dan kejayaan Pancasila, dan tentu bagi marwah jamiyah NU,” kata Gus Tutut yakin.

Dengan upaya ekonomi, diharapkan jika GP Ansor akan mengadakan kegiatan sudah bisa membiayai sendiri, dan inilah yang disebut kemandirian organisasi. Gus Tutut menilai kemandirian ekonomi tersebut, sebenarnya bukan hal yang tidak mungkin, mengingat jumlah anggota yang sangat besar yakni sebanyak 1,7 juta kader. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Hadits, Tegal, Quote Attauhidiyyah Giren

Kamis, 24 Agustus 2017

Keberhasilan Pembelajaran, Guru Berkualitas Jadi Syarat Mutlak

Jakarta, Attauhidiyyah Giren?

Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kemenag menemukan dalam risetnya, untuk mencapai keberhasilan pembelajaran di kelas unggulan, dibutuhkan guru-guru berkualitas. Kualitas guru dilihat tidak hanya dari aspek gelar akademik yang dimiliki maupun sebagai transformer pembelajaran.

Keberhasilan Pembelajaran, Guru Berkualitas Jadi Syarat Mutlak (Sumber Gambar : Nu Online)
Keberhasilan Pembelajaran, Guru Berkualitas Jadi Syarat Mutlak (Sumber Gambar : Nu Online)

Keberhasilan Pembelajaran, Guru Berkualitas Jadi Syarat Mutlak

Selain kedua syarat di atas, standarisasi persyaratan lain juga harus dimiliki, yaitu guru di sekolah unggul mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikannya, memiliki pengalaman mengajar di kelas reguler dengan prestasi yang baik, memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang karakteristik peserta didik yang memilki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Berikutnya guru memiliki karakteristik adil, demokratis, fleksibel, humoris, menghargai, memiliki minat yang luas, perhatian pada masalah yang dihadapi anak, memiliki penampilan dan sikap yang menarik. Guru memiliki pengetahuan tentang sifat dan kebutuhan anak, memiliki keterampilan dan kemampuan berfikir tingkat tinggi.

Selanjutnya guru memiliki pengetahuan tentang kebutuhan kogintif, afektif, dan psikomotorik anak cerdas dan berbakat, ? memilikikemampuan untuk memecahkan masalah secara kreatif, memiliki kemampuan dalam menggunakan strategi mengajar, memiliki kemampuan untuk menggunakan teknik mengajar yang sesuai, dan memiliki kemampuan utnuk melakukan penelitian.

Attauhidiyyah Giren

Untuk ? menjamin ? kualitas ? dan ? ketersediaan guru ? dengan ? standarisasi di ? atas, lembaga secara institusional memberlakuan sistem penilaian pada proses perekrutan guru pada kelas unggul.?

Proses perekrutan dilakukan baik secara tertulis (test) dan lisan (wawancara). Perekrutan juga dilakukan secara simultan, terprogram, dan terencana sehingga diperoleh hasil maksimal. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren AlaNu, RMI NU Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren

Senin, 21 Agustus 2017

Masjid Raudlatul Jannah Besuk Jawara Lomba Masjid NU

Probolinggo, Attauhidiyyah Giren

Masjid Raudlatul Jannah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Besuk Kabupaten Probolinggo terpilih sebagai juara umum dalam lomba masjid NU implementasi bidang idarah (administrasi), imarah (kemakmuran) dan ri’ayah (perawatan).

Lomba masjid NU yang digagas oleh Pengurus Cabang (PC) Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kota Kraksaan ini digelar dalam rangka untuk memperingati hari lahir (harlah) ke-93 NU di 14 masjid besar MWCNU se-PCNU Kota Kraksaan.

Masjid Raudlatul Jannah Besuk Jawara Lomba Masjid NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Raudlatul Jannah Besuk Jawara Lomba Masjid NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Raudlatul Jannah Besuk Jawara Lomba Masjid NU

Hadiah untuk para juara lomba masjid NU ini diserahkan oleh Mustasyar PCNU Kota Kraksaan H Hasan Aminuddin didampingi Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah A Suja’i beserta jajaran pejabat Pemkab Probolinggo dalam kegiatan Harlah ke-93 NU yang digelar, Senin (9/5) malam.

Attauhidiyyah Giren

Ketua PC LTMNU Kraksaan H. Didik Abdul Rohim mengungkapkan lomba masjid NU ini bertujuan untuk memotivasi tentang keberadaan masjid dan takmirnya. “Disamping sebagai tempat ibadah, masjid juga merupakan sarana interaksi sosial yang signifikan dengan era perkembangan zaman saat ini,” katanya, Selasa (10/5).

Melalui lomba ini Didik berharap supaya keberadaan masjid itu ada mulai dari kegiatan, manajemen dan mengoptimalkan kegiatan takmir secara profesional dan porposional. “Selain itu bisa mempertahankan akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Sebab NU bukan sekedar harapan, tetapi sebuah kenyataan,” tegasnya.

Attauhidiyyah Giren

Selain Masjid Raudlatul Jannah yang sukses menjadi juara umum untuk semua bidang, masih ada beberapa masjid NU lain yang menjadi juara untuk masing-masing bidang.

Untuk bidang idarah, juara pertama diraih Masjid Al-Hidayah MWCNU Kraksaan, juara kedua diraih Masjid Ar-Rahmat MWCNU Krucil dan juara ketiga diraih Masjid Raudhatul Hasaniyah MWCNU Tiris Timur.

Sementara untuk bidang imarah, juara pertama diraih oleh Masjid Raudhatul Jannah MWCNU Banyuanyar, juara kedua diraih Masjid Baitur Rahman MWCNU Maron dan juara ketiga diraih Masjid Raudhatut Thohirin MWCNU Paiton.

Sedangkan untuk bidang ri’ayah, juara pertama diraih Masjid Al-Hikmah MWCNU Gending, juara kedua diraih Masjid Baitur Rahman MWCNU Gading dan juara ketiga diraih Masjid Mambaul Khoirot MWCNU Krejengan. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nahdlatul Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 19 Agustus 2017

Ida Fauziah: IPPNU Mesti Fokus pada Pelajar

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Ketua Umum PP Fatayat NU Hj Ida Fauziah mengharapkan IPPNU benar-benar menjadi organ pelajar. Artinya, IPPNU harus fokus dan istiqomah menggarap para pelajar. Dengan demikian, IPPNU menjadi bagian integral dari para pelajar Indonesia.

Fokus garapan pada pelajar ini, menurut mantan Ketua PW IPPNU Jatim Ida Fauziah, merupakan cara efektif untuk mengawal pelajar Indonesia dari paham radikal yang merebak di kalangan pelajar antara lain melalui rohis.

Ida Fauziah: IPPNU Mesti Fokus pada Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ida Fauziah: IPPNU Mesti Fokus pada Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ida Fauziah: IPPNU Mesti Fokus pada Pelajar

Di hadapan peserta Konbes IPPNU 2014 saat seminar bertema “Pembentukan Karakter Dasar dan Antiradikalisme Pelajar” di Gedung PP PON Kemenpora Cibubur, Jakarta Timur, Ida mengatakan, komisariat harus ada di setiap minimal sekolah Ma’arif NU dan sekolah-sekolah milik orang NU.

Attauhidiyyah Giren

“Komisariat IPPNU di perguruan tinggi, abaikan untuk sementara,” tegas Ida Fauziah, Sabtu (1/3) malam.

Attauhidiyyah Giren

Dengan menjadi orang dalam di kalangan pelajar, dialog dan interaksi IPPNU dan pelajar akan terbangun dengan baik. Sedangkan berdiri di luar, posisi IPPNU menjadi cenderung sulit, bahkan melahirkan sikap resisten para pelajar dan juga sekolah.

Diakuinya, gerakan ini memang tidak mudah. Tetapi alumni IPPNU atau orang NU yang berada di dalam lembaga sekolah itu mesti terlibat aktif untuk agenda ini. Sekurangnya mereka bisa terjun langsung membimbing rohis di sekolah setempat.

“Cara ini terbilang efektif. Dan IPPNU perlu berbagi tugas juga dengan Ma’arif NU dan RMI,” tandas Ida. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren IMNU Attauhidiyyah Giren

Ikuti Walisongo, Muslim Banten Kuat Lurus dan Toleran

Serang, Attauhidiyyah Giren. Sebagai salah satu basis Islam yang memiliki sejarah panjang masa kejayaan Islam di Nusantara, Propinsi Banten dihuni oleh masyarakat muslim yang agamis. Masyarakat Banten juga terkenal memiliki budaya keislaman yang kuat.

Ikuti Walisongo, Muslim Banten Kuat Lurus dan Toleran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikuti Walisongo, Muslim Banten Kuat Lurus dan Toleran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikuti Walisongo, Muslim Banten Kuat Lurus dan Toleran

Demikian dinyatakan tokoh adat banten H Embay Mulya Syarief dalam acara Dialog Pengembangan Wawasan Multikultural antara Pemuka Agama Pusat dan Daerah di Serang, Rabu (11/9). Menurut Embay, selain kuat, masyarakat Muslim Banten juga dikenal sebagai masyarakat yang berbudaya Islam lurus dan toleran.

"Budaya Muslim banten lurus dan toleran karena mewarisi ciri dakwah Walisongo yang sangat toleran dengan budaya dan adat istiadat masyarakat setempat. Masyarakat Muslim Banten juga sangat kuat beragama karena mewarisi tradisi Kesultanan Islam Banten," tutur Embay.

Attauhidiyyah Giren

Lebih lanjut Embay menjelaskan, di Banten misalnya, masyarakat sejak dulu tidak suka menyembelih hewan sapi. Untuk perayaan Idul Adha, Muslim Banten lebih suka menyembelih kerbau daripada sapi.

Attauhidiyyah Giren

Hal ini adalah sebentuk toleransi masyarakat Muslim Banten kepada umat Hindu zaman dahulu yang menganggap sapi sebagai dewa. Jadi Muslim Banten tetap menghormati kepercayaan Hindu meskipun sudah berkuasa dan memiliki kerajaan yang kuat, terang Embay.

Hal lain yang menjadi bukti toleransi dan akulturasi budaya di Banten adalah gapura-gapura pintu masuk milik warga dan pemerintah Banten yang bentuknya sangat mirip dengan candi Bentar. Bentuk gapura model Banten menunjukkan bahwa akulturasi budaya dari zaman sebelumnya menuju zaman Islam berlangsung dengan damai dan tanpa kekerasan.

"Contoh lain adalah adanya toleransi yang sangat indah di masyarakat Baduy di Banten Selatan yang hingga kini terus lestari dan dilindungi keberadaan dan eksistensinya hingga sekarang. Ini adalah bentuk dakwah Islam di Banten yang sangat toleran menghargai budaya dan keyakinan masyarakat beragama lain," tandas Embay. 

(Syaifullah Amin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pesantren, Warta, Kyai Attauhidiyyah Giren

Usai Bom di Samarinda, Para Ulama Sulbar Diminta Tingkatkan Kepedulian

Mamuju, Attauhidiyyah Giren - Setelah kasus bom gereja di Samarinda, Badan Nasional Penanggulangan Teroris langsung melakukan langkah dalam menghambat ajaran radikalisme dan terorisme di Indonesia. Kali ini BNPT melibatkan ulama dan dai se-Sulawesi Barat untuk ikut serta dalam melakukan proses pencegahan paham kekerasan dalam masyarakat.

Kegitan ini menghadirkan Direktur Deradikalisasi BNPT Irfan Idris sebagai pembicara nasional. Dalam paparnya ia menyampaikan bahwa, "Kita dikuasai kelompok radikalisme, untuk itu kita harus sharing informasi dalam menghambat paham kekerasan ini," ujarnya, Kamis (17/11) itu di hadapan 150 peserta dialog pelibatan dai FKPT Sulbar di Hotel DMaleo.

Usai Bom di Samarinda, Para Ulama Sulbar Diminta Tingkatkan Kepedulian (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Bom di Samarinda, Para Ulama Sulbar Diminta Tingkatkan Kepedulian (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Bom di Samarinda, Para Ulama Sulbar Diminta Tingkatkan Kepedulian

Irfan mengatakan, kelompok teroris adalah kelompok kecil tapi memiliki rencana yang besar, dan masyarakat adalah kelompok besar tapi tidak memiliki rencana yang besar. "Untuk itu saya mengajak kepada seluruh Indonesia khususnya masyarakat Sulawesi Barat dalam meningkatkan kepeduliannya dalam menghadapi tejangan kelompok kekerasan ini" pintanya.

Attauhidiyyah Giren

Menurutnya, dunia pendidikan dan tokoh pendidikan juga menjadi ujung tombak dalam melakukan tindakan pencegahan terhadap paham anti toleransi, khususnya bagi generasi muda negeri ini.

Attauhidiyyah Giren

"Kehadiran BNPT dalam melakukan pencegahan dengan menggunakan pendekatan lunak perlu kita apresiasi dengan ikut terlibat dalam menghalau paham radikalisme dan terorisme dengan mengedepankan prinsip-prinsip moderat dan toleransi," tutupnya. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sunnah Attauhidiyyah Giren

Dampak Kehidupan Generasi Milenial

Oleh Ali Makhrus

Kata sahabat Mahbub dalam Politik Tinggkat Tinggi Kampus (2017), “Sekarang yang tadinya baru itu sudah dianggap tidak baru lagi. Perlu yang lebih baru. Segala berkembang secara dialektik”. Runtutan kata tersebut patut jadi renungan sebagai kaidah “ushul pikir” era milenal sekarang ini. Sebab, tuntutan zaman pasca rasionalitas atau positivistik ala August Comte (1798-1857), keberadaan sosial bisa diuraikan dengan mengguakan kerangka dan seperangkat ilmu alam.

Dua abad berikutnya, positivisme Si Mbah Kakung Comte telah mendapat kritik tajam akibat ‘pengangkaan” atas realitas sosial. Kritik tersebut kemudian dikenal dalam jagad filsafat dengan pos positifistik. Para pendekar sosiologi beberapa tokohnya ialah Karl Propper (1902-1994), Thomas Kuns (1922-1996)  dan para filsuf madzhab frankfurt (1923-hingga sekarang).

Dampak Kehidupan Generasi Milenial (Sumber Gambar : Nu Online)
Dampak Kehidupan Generasi Milenial (Sumber Gambar : Nu Online)

Dampak Kehidupan Generasi Milenial

Dengan kata lain, manusia tidak cukup digambarkan dengan narasi dan angka-angka dan akan terus bergerak dan berubah baik cara maupun perangkat untuk mengenalinya. Dan akan selalu ada misteri, seperti kata, “Proses perkembangan manusia yang terus melaju sudah barang tentu ikut merubah cara pandang kita terhadap ciptaan Tuhan yang paling baik ini" (Surat at-Thin Ayat 4). Dalam hal ini, bisa kita belajar konsep kekinian mengenai manusia abad internet. Sudah bukan barang baru lagi, bahwa pada tahun 2017 kita semakin populer dengan masyarakat millenial.

Potret tersebut bisa kita rujuk berdasar hasil penelitian Boston Consulting Consulting Group (BCG) kerja sama Unversity Of Berkeley 2011 dengan tema “American Millenial: Deciphering the Enigma Generation” serta penelitian pada tahun 2010 Pew Research Center dengan judul “Millenials : A Potrait Of Generation Net”.

Attauhidiyyah Giren

Dalam paper tersebut dikatakan generasi milenial memiliki karakter kunci, yakni: technology reliant (percaya teknologi), image driven (jaga image), multitasking (serba bisa), open to change (terbuka pada perubahan), confident (percaya diri), team-oriented (tujuan tim), information rich (kaya informasi), impatient (tidak sabaran), dan adaptable (mudah beradaptasi).

Lebih jelas lagi, seperti keterangan student.cnnindonesia.com, merinci: pertama millenial lebih percaya user generated content/konten dan informasi yang dibuat oleh perseorangan, kedua lebih memilih ponsel atau gadget dari pada televisi, ketiga wajib memiliki media sosial, keempat kurang suka membaca secara konvensional, kelima lebih tahu teknologi daripada generasi orang tua mereka, keenam cenderung tidak loyal namun efektif, ketujuh lebih suka transaksi dengan cashless.

Attauhidiyyah Giren

Dalam hemat penulis, beberapa karakter tersebut di atas mempertegas akan betapa internet telah menjadi satu media terpercaya dan bisa diandalkan dalam memenuhi kebutuhan manusia: ekonomi, politik, agama dan sebagainya. Dan dari sini, perlu mendapatkan legitimasi moral agama dalam rangka membimbing manusia menuju tujuan sebenarnya dalam menjalani kehidupan.

Dengan ringkas ingin penulis sampaikan, bahwa generasi millenial atau generasi Y inilah terbaru dan paling mutakhir tentang teori manusia di millenium kali ini. Dasar ini dilatarbelakangi oleh faktor bonus kelahiran atau demografis yang ditandai sejak tahun 1977 sampai 2000. Diperkirakan sekarang, manusia ini rata-rata telah berusia 20 sampai 40 tahun. Konsep manusia ini menjadi penting karena berdampak luas dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk politik kepemimpinan dan ideologisasi. Apakah Indonesa juga memiliki kecenderungan yang sama sebagaimana Amerika?

Menurut riset yang dikeluarkan oleh Alvara Research Center dengan judul “The Urban Middle-Class Millenials Indonesia: Financial and Online Behavior” Feburari 2017, apa yang menggejala di Indonesia tidak jauh beda dengan apa yang menggejala di Amerika. Bahkan, Alvara memprediksi pada tahun 2020 jumlah populasinya mencapai angka 35 juta jiwa atau 13 persen dari jumlah total penduduk. Bahkan angka tersebut terus merangkak naik hingga 70 persen pada tahun 2030 atau kira-kira setara 175-180 Juta.

Sebagai publik figur, Jokowi, hemat penulis, ialah sosok pemimpin representatif mewakili kesesuaian dengan zaman lari cepat ini. Kejelian beliau dengan latar belakang sebagai tukang, tak membuatnya gagap dengan gaya hidup masyarakat internet. Perkembangan berbagai aplikasi modern tak luput dari lirikan beliau sebagai panutan dan figur publik.

Pesan-pesan beliau menjangkau kalangan muda millenial, yang menurut BPS, 50 persen generasi penduduk produktif berasal dari millenial. Di saat yang bersamaan, tantangan berbagai seliweran hoaks bukanlah perkara sederhana. Untung saja, Jokowi terbiasa bergaul dan bercengkrama dengan anak-anaknya.

Usaha Jokowi menyelami massa millenial patut kita hargai sebagai bentuk pendekatan diri yang adaptable kepada generasi penerus ini. Apa dilakukan Jokowi kita harapkan terus terjadi peningkatan dari orang-orang berpengaruh agar terjadi kesesimbangan informasi di tengah peperangan cyber atau proxy war dalam dunia milter. Berdasar hasil penelitian di atas, karakter ketokohan jadi faktor yang memiliki tingkat pengaruh yang lebih tinggi.

Kita juga tidak boleh lupa, para ideologi kaum ekstrimis dan kontra Pancasila dan NKRI pun juga tak kalah piawai dalam memainkan jejaring media sosial. Hal tentu saja mempengaruhi pranata dan media ideologisasi yang berkembang akhir-akhir ini. Mereka sudah lebih terbuka dengan perangkat-perangkat millenial sebagai nuklir menghancurkan yang tidak sepaham dengan mereka.

Menurut Tim Cyber LTN PBNU dalam rilis tahun 2016 menjelaskan, ada sekitar 208 situs yang mengatasnamakan Islam dengan memanfaatkan dunia siber. Propaganda terus mereka perkuat dan perlebar hingga menjangkau kalangan-kalangan milenial. Dan kirannya, angka ini juga akan terus bertambah seiring waktu. Sementara, perkembangan-perkembangan konsumsi masyarakat kepada internet sudah seperti kebutuhan makan.

Penulis teringat, akan kaidah fikih ? ? ? ? yang artinya “perantara atau media baginya berlaku pula hukum sebagaimana tujuanya”. Keutuhan dan kerukunan merupakan bingkai yang hendak dibentuk demi menggapai kerahmatan dan keadilan bagi semesta alam.

Ideologi dan kepemimpinan merupakan wasilah lain dalam menghantarkan pesan-pesan bagi kebaikan bagi warga masyarakat. Jangan persepsi dasar tentang ‘wasilah’ berubah menjadi tujuan (ghoyah). Dan pada akhirnya, menutup kesempatan dalam memperoleh pencerahan menuju kebenaran. Kaidah beragama menuntun, ? ? ? ? ? ? ?: “menjaga lama yang baik, mengambil terbaru yang lebih baik”. Wallahu a’lam bis showab.

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren News, Kiai Attauhidiyyah Giren

Jumat, 18 Agustus 2017

Berdayakan Zakat Produktif, LAZISNU Pringsewu Salurkan Kambing Ternak

Pringsewu, Attauhidiyyah Giren. Di sela-sela pendistribusian zakat produktif berupa ternak kambing, Ketua Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah NU (LAZISNU) Kabupaten Pringsewu Khairuddin mengatakan bahwa saat ini Lembaga yang dikelolanya terus berusaha memaksimalkan peran zakat bagi kemakmuran umat.

Berdayakan Zakat Produktif, LAZISNU Pringsewu Salurkan Kambing Ternak (Sumber Gambar : Nu Online)
Berdayakan Zakat Produktif, LAZISNU Pringsewu Salurkan Kambing Ternak (Sumber Gambar : Nu Online)

Berdayakan Zakat Produktif, LAZISNU Pringsewu Salurkan Kambing Ternak

Salah satu yang menjadi terobosan LAZISNU Kabupaten Pringsewu adalah dengan mengoptimalkan zakat produktif bagi warga ekonomi menengah kebawah.

"Insyaallah dengan langkah ini ekonomi mereka akan terbantu. Kalau dikasih uang cash bisa saja langsung habis. Namun jika diwujudkan dalam bentuk ternak akan dapat berproduksi dan awet," kata Pria yang akrab dipanggil Heru ini, Sabtu (26/8).

Heru menambahkan bahwa setelah tahapan penyaluran zakat produktif ini selesai, maka langkah yang tidak kalah penting adalah pengawasan terhadap mustahiq yang mendapatkan zakat produktif tersebut.

"Jangan sampai ternak tersebut disalah gunakan dengan cara semisal dijual atau tidak dijadikan sebagai modal usaha," terangnya.

Attauhidiyyah Giren

Fungsi kontrol ini sangat penting dikarenakan program ini bisa berjalan sukses ketika usaha mustahiq tersebut berkembang, maju dan dapat menjadi sumber penghasilan ekonomi keluarga.

Attauhidiyyah Giren

Pihaknya lanjut Heru, akan melakukan pendampingan dan tetap memberikan arahan kepada para mustahiq yang telah mendapatkan hewan ternak berupa kambing tersebut.

"Kita kedepan juga berusaha memberikan pendampingan spiritual dengan membuat forum khusus mustahiq ini untuk diberikan bimbingan keagamaan. Selain untuk mengentaskan kemiskinan keduniaan sekaligus mengentaskan mereka dari kemiskinan spiritual," jelasnya.

Pada kesempatan tersebut Heru menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah menyalurkan bantuan berupa zakat, shadaqah dan infaq melalui LAZISNU Kabupaten Pringsewu.

"Semoga bantuan ini dapat membawa keberkahan bagi semua. Mudah-mudahan LAZISNU Pringsewu tetap eksis dan memberikan kemanfaatan bagi kaum dhuafa. Amin dan terima kasih," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nasional, Humor Islam Attauhidiyyah Giren

Selasa, 15 Agustus 2017

Menikmati Irama Dzikir Peziarah

Setiap hari Jum’at-Ahad atau hari libur tanggal merah, suasana makam wali selalu dipenuhi oleh para peziarah dari penjuru kota di Indonesia. Bahkan bila datang bersamaan, tempat makam wali-wali itu hampir tidak muat menampung peziarah yang berombongan. 

Begitu pula halnya makam Syech Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) dan Raden Umar Said (Sunan Muria) selalu penuh sesak hingga harus ada yang menunggu di luar area makam. Suasana demikian tampak saat Attauhidiyyah Giren berziarah ke makam Sunaan Kudus, Jum’at malam (24/5).

Ketika Attauhidiyyah Giren baru masuk, ruangan makam sudah dipenuhi para peziarah. Dilihat dari logat bahasanya , mereka berasal dari beberapa daerah diantaranya Tasik, Pekalongan dan daerah Jawa timuran.

Menikmati Irama Dzikir Peziarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menikmati Irama Dzikir Peziarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menikmati Irama Dzikir Peziarah

Tanpa menggunakan pengeras suara, mereka (peziarah) membaca  tahlilan, ada yang membaca Yasin dan berdo’a bersama dengan nada suara keras. Bagi yang rombongan, tahlilan dilakukan berjamaah dengan dipimpin seorang imam /kyai.

Saat Tahlilan sudah mulai berdzikir, terasa keindahan irama masing-masing rombongan yang  duduknya bersebelahan di ruangan makam Sunan Kudus.  Dzikir yang dilafadzkan intonasi iramanya berbeda-beda yang dibarengi kekhusukan geleng kepala kekanan dan kekiri.

Disatu  rombongan melafadzkan dengan intonasi ditekan dan putus putus seperti "Laa..ilaaha illallah", begitu pula rombongan lainnya bernada datar menggunakan irama seperti nyanyian. Yang jelas, dari beberapa rombongan yang dalam satu ruangan makam itu sangat berbeda-beda.

Mendengar irama dzikir demikian, Attauhidiyyah Giren jadi teringat mauidhah hasanah Rois Am jamiyah Thariqoh al Mu’tabarah An nahdliyyah (Jatman) Habib Lutfiy bin Yahya. Dalam berbagai pengajian, Habib asal pekalongan ini selalu menegaskan suasana makam walisongo merupakan cermin keindahan dari keberagamaan dan perbedaan ummat.

Attauhidiyyah Giren

“Meski satu duduk bersebelahan dalam satu ruangangan  dengan  melafadzkan kalimat yang sama (dzikir) namun  iramanya berbeda,  tidak terjadi gesekan dan pergunjingan padahal mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda pula. Inilah pelajaran yang berharga  dari indahnya kehidupan berbangsa dan beragama,”kata Habib Lutfiy suatu ketika dalam acara pengajain umum di Kudus.

Attauhidiyyah Giren

Disamping itu, Walisongo ini memang mampu membawa keberkahan  segala aspek kehidupan mulai ekonomi, persaudaran dan kebersamaan. “Walisongo atau ulama yang sudah wafat memberkahi yang orang yang hidup,” tambah Habib singkat.

Dari apa yang disampaikan Habib ini memang benar. Bukan saja keberkahannya dalam berziarah tetapi dari irama dzikir para peziarah di makam sudah terasa keindahannya. Ketika kita di ruangan makam, terasa ada ketenangan dan keindahan meski penuh kebisingan irama dzikir para peziarah. (Qomarul Adib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Humor Islam, Sejarah Attauhidiyyah Giren

Senin, 14 Agustus 2017

Ketum GP Ansor: Yang Waras Jangan Ngalah

Rembang, Attauhidiyyah Giren

Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas menegaskan, Ansor tidak akan pernah berhenti melawan pihak-pihak yang mengganggu NKRI, memecahbelah persatuan dan keberagaman bangsa Indonesia.

Hal itu ditegaskannya saat membuka Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) GP Ansor Angkatan VI, di Pondok Pesantren Roudlatut Tholibien, Leteh, Kabupaten Rembang, Rabu (6/12).

Ketum GP Ansor: Yang Waras Jangan Ngalah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum GP Ansor: Yang Waras Jangan Ngalah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum GP Ansor: Yang Waras Jangan Ngalah

"Ansor tidak akan pernah berhenti untuk menjaga Indonesia dari semua gerakan yang mengancam persatuan dan keberagaman Indonesia. Memecahbelah umat beragama, merongrong NKRI, dan gerakan yang ingin menegakkan khilafah," tegasnya.



Attauhidiyyah Giren



Gus Yaqut, sapaan pria asli Rembang ini, mengatakan sikap GP Ansor tersebut sejalan dengan tema kegiatan Yang Waras Jangan Mengalah. 

"Tema itu sebagai bentuk penegasan sikap Ansor yang tidak diam ketika paham kebangsaan Indonesia diganggu. Makanya, yang waras (sehat/normal) jangan ngalah (mengalah)," tandas Gus Yaqut.

Attauhidiyyah Giren

Ia memisalkan ketika Ansor dihujat saat menjaga gereja. Menurutnya, yang dijaga Ansor pada hakikatnya bukan gereja, melainkan menjaga komponen bangsa yang pernah bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Gus Yaqut mengatakan Ansor tidak hanya menjaga gereja. Jika diminta untuk membantu menjaga keamanan ibadah umat beragama lain pun, Ansor siap turun bersama.

Namun ia menekankan, apa yang dilakukan oleh Ansor itu, tidak berlaku selamanya. 

"Ansor akan berhenti melakukan hal yang demikian, apabila para penebar teror yang mengancam keutuhan NKRI binasa dari negeri ini," kata Gus Yaqut.

Gus Yaqut berpesan kepada seluruh kader Ansor, termasuk di dalamnya Banser, untuk tidak berkecil hati ketika dihujat hanya karena ingin menjaga Indonesia.

Menurutnya, para kiai yang sudah jelas mutu keilmuan dan kerendahhatiannya juga dihujat ketika bersama-sama mempertahankan keutuhan NKRI dan ideologi Pancasila.

PKN yang akan diadakan Rabu-Ahad, 6-10 Desember 2017, digelar bersamaan dengan Latihan Instruktur (LI) 2 yang dilaksanakan di Pesantren Al-Hamidiyah, Ngemplak, Lasem. Ratusan peserta mengikuti kegiatan ini.

Turut hadir pada pembukaan PKN VI dan LI-2, para pemuka agama Islam, Nasrani dan Buddha; Bupati Rembang Abdul Hafidz; serta Kapolres Rembang AKBP Pungki Bhuana Santoso. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Syariah, Tegal, Sholawat Attauhidiyyah Giren

Gus Muaffiq: Islam Besar Karena Percaya Diri

Salatiga, Attauhidiyyah Giren. Dalam suasana bulan suci Ramadhan. Fakultas Syariah IAIN Salatiga menggelar kegiatan dengan tema Merajut Tradisi Membangun NKRI. Dalam kegiatan suci ini KH Ahmad Muaffiq (Gus Muaffiq) dari Yogyakarta memberikan pemahaman-pemahaman kebangsaan pada segenap mahasiswa IAIN Salatiga dan masyarakat umum.

“Saya itu dulu juga mahasiswa, bahkan saya pernah menjadi ketua senat. Tapi saya tidak mengadakan kegiatan semacam ini.mengapa? karena dulu itu tidak ada polemik seperti sekarang ini. Kalau sekarang banyak sekali yang mencoba untuk menghapuskan Pancasila semua itu karena rasa kurang percaya diri masyarakat Indonesia,” terang Gus Muaffiq diawal mau’idhoh-nya.

Gus Muaffiq: Islam Besar Karena Percaya Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Muaffiq: Islam Besar Karena Percaya Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Muaffiq: Islam Besar Karena Percaya Diri

“Dulu itu, Walisongo menyebarkan agama Islam dengan rasa percaya diri. Contohnya nama Allah itu kan pertama dari Arab, kemudian dibawa ke Indonesia dan diganti nama Alloh. Contoh kedua nama syaikhona itu juga dari Arab kemudian di bawa ke Indonesia dengan sebutan kiai. Semua itu tidak dipermasalahkan bahkan sekarang terbukti ketika menyebut nama pangeran pasti tertuju kepada Allah,ketika menyebut nama kiai pasti tertuju pada seseorang yang alim agamanya. Jadi tidak perlu anta, antum, akhi dsb.kita gunakan saja apa yang ada di Indonesia dengan percaya diri.”

KH Ahmad Muaffiq juga menambahkan penjelasan tentang Rasul ulul azmi yang diibaratkan dalam Al-Qur’an. Dalam surat At-tiin ayat pertama, wattiini merupakan lambang dari Nabi Ibrahim, kemudian wazzaitun merupakan lambang dari Nabi Isya, kemudian wathurisinin merupakan lambang dari Nabi Musa. Rasul-rasul ulul azmi dilambangkan dengan nama-nama buah. tapi ayat selanjutnya wa hadzal baladil amiin melambangkan Nabi Muhammad.?

“Maka orang yang mengikuti Nabi Muhammad haruslah senantiasa mencintai negerinya, jangan sampai kehilangan rasa percaya diri terhadap negerinya”. Red: Mukafi Niam

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sejarah, Aswaja Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren

Minggu, 13 Agustus 2017

Fatayat NU Gandeng Pemerintah Gelar Diseminasi Gelatik

Jakarta, Attauhidiyyah Giren 

Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (Kemen-PPPA) menggelar kegiatan Gerakan Perlindungan Anak dari Tindak Kekerasan (Gelatik) dengan tajuk "Penanganan Eksploitasi Anak di Kabupaten Lampung Timur, Brebes, dan Simalungan" di Hotel Sofyan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (15/12).

Fatayat NU Gandeng Pemerintah Gelar Diseminasi Gelatik (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Gandeng Pemerintah Gelar Diseminasi Gelatik (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Gandeng Pemerintah Gelar Diseminasi Gelatik

Hadir pada kegiatan ini, Ketua Umum PP Fatayat NU Anggia Ermarini, Sekretaris Umum PP Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah, Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim, Plt Deputi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Rosmayanti, Dosen Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta Alai Najib, dan lain-lain. 

Anggi mengatakan bahwa Gelatik merupakan salah satu skema yang dipromosikan Fatayat NU. Sampai hari ini, Fatayat NU baru mempunyai tiga kabupaten yang menjadi pilot project, yaitu Brebes, Lampung Timur, dan Simalungan. 

Menurutnya, keberadaan Gelatik sangat penting tidak hanya bagi Fatayat NU, namun bagi masyarakat luas untuk bisa meniru, beradaptasi, melakukan pendekatan-pendekatan yang sudah dilakukan di lapangan, terutama perlindungan terhadap anak yang berbasis komunitas dan masyarakat. 

Kader Fatayat NU sendiri, kata Anggia selalu bersama masyarakat, bahkan menjadi tempat bertanya dalam banyak hal, khususnya dalam gerakan perlindungan perempuan dan anak. 

Attauhidiyyah Giren

Perempuan kelahiran Sragen, Jawa Tengah ini pun sempat mengungkapkan bahwa lahirnya Fatayat NU tidak bisa dilepaskan dari semangat untuk kepentingan dan keberpihakan terhadap perempuan dan anak. 

"Keberpihakan kita kepada anak dan perempuan sudah lama. Bahkan semenjak lahirnya Fatayat NU," katanya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren Internasional Attauhidiyyah Giren

Hidayah Allah itu Istiqamah Shalat Jamaah di Masjid

Pringsewu, Attauhidiyyah Giren - Shalat berjamaah merupakan ibadah sunah muakkad yang pahalanya 27 derajat lebih baik daripada shalat sendiri. Tetapi lebih utama lagi jika shalat berjamaah itu dilakukan di masjid yang merupakan tempat suci dan juga rumah Allah SWT.

"Mampu shalat berjamaah dengan istiqamah adalah hidayah. apalagi di masjid," kata Ustadz Fadlun saat menyampaikan taushiyah pada Halal Bihalal bersama beberapa Kelompok Jamaah Yasin di lingkungan Masjid Al-Hikmah Kuncup, Pringsewu, Kamis (13/7).

Hidayah Allah itu Istiqamah Shalat Jamaah di Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidayah Allah itu Istiqamah Shalat Jamaah di Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Hidayah Allah itu Istiqamah Shalat Jamaah di Masjid

Lebih lanjut ia mencontohkan, orang yang mendapatkan hidayah walaupun rumahnya jauh dari masjid, tetapi saat mendengar adzan dikumandangkan akan terpanggil melangkah menuju masjid untuk berjamaah. "Tapi walaupun rumahnya dekat sampai nempel masjid kalau belum ada hidayah, tidak akan ke masjid," katanya.

Attauhidiyyah Giren

Terlebih usai Ramadhan. Di berbagai tempat terjadi penurunan drastis jamaah shalat di banyak masjid. "Tidak di sana-tidak di sini. Kalau Ramadhan, jamaah membludak sampai halaman tetapi setelah Ramadhan jamaah bisa dihitung dengan jari," katanya.

Ia juga mengingatkan apalah gunanya masjid dibangun dengan bagus dan megah apabila fungsi utamanya untuk ibadah shalat tidak diistiqamahkan. "Masjid dibangun megah dengan fasilitas mewah tapi sedikit yang mau shalat berjamaah. Untuk apa?" tanyanya.

Attauhidiyyah Giren

Oleh karenanya Ia mengingatkan kepada umat Islam untuk kembali memakmurkan masjid baik itu saat Ramadhan maupun di luar Ramadhan. "Shalat berjamaah adalah rahmat. Di situ semua orang dapat kumpul ada kebersamaan dan kekompakan," katanya menjelaskan sebagian hikmah dari shalat berjamaah.

Pada kegiatan yang dilaksanakan pada Malam Jumat Kliwon di Serambi Masjid Al-Hikmah itu ia juga berpesan kepada seluruh anggota kelompok jamaah Yasin untuk bersama-sama ketakmiran masjid memakmurkan dan mengisi masjid dengan berbagai kegiatan ibadah.

"Sudah dicontohkan juga dalam shalat bagaimana kekompakan imam dan makmum. Semua bergerak bersama dan apabila terjadi imam lupa maka jamaah mengingatkannya," ujarnya pada pengajian yang untuk pembukaan dimulainya kembali kegiatan jamaah Yasin setelah libur Ramadhan dan lebaran.

Kegiatan ini ditutup dengan saling berjabat tangan antarjamaah dalam rangka memanfaatkan momentum Syawwal untuk berhalal bihalal. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Olahraga, Aswaja, Ahlussunnah Attauhidiyyah Giren

GP Ansor Pringsewu Minta PAC Lengkapi Struktur Ranting

Pringsewu, Attauhidiyyah Giren?



Berdasarkan amanat yang tertuang dalam Peraturan Organisasi (PO) Gerakan Pemuda Ansor, Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Pringsewu Muhammad Sofyan mengingatkan dan menginstruksikan kembali kepada seluruh pengurus di tingkat Anak Cabang untuk segera bergerak melengkapi struktur organisasi di tingkatan Ranting di masing-masing wilayahnya.?

Hal tersebut disampaikannya sesaat setelah menghadiri peringatan Harlah NU ke-91 dan pengumuman pemenang lomba MWCNU dan Ranting NU sehat yang diselenggarakan oleh PCNU Kabupaten Pringsewu, Kamis sore (19/01). Acara yang dipusatkan di Gedung NU setempat juga menghadirkan KH Marzuki Mustamar dari Malang, Jawa Timur sebagai pengisi taushiyah.

GP Ansor Pringsewu Minta PAC Lengkapi Struktur Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pringsewu Minta PAC Lengkapi Struktur Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pringsewu Minta PAC Lengkapi Struktur Ranting

Sofyan menjelaskan bahwa Ansor adalah organisasi kepemudaan terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Oleh karena itu, sebagai sebuah organisasi yang besar maka harus didukung pula dengan struktur yang baik dan tersusun rapi dari tingkat Pimpinan Pusat sampai ke tingkat Pimpinan Ranting.?

"Pada kesempatan yang istimewa ini, saya mengajak dan menginstruksikan kembali kepada seluruh Pimpinan Anak Cabang melalui Sahabat Dariyanto (Sekretaris) dan Sahabat Henudin (Wakil Sekretaris) untuk mulai menilik kembali struktur organisasi di tingkat PAC dan Ranting. Yang belum lengkap segera untuk melengkapinya, yang belum terbentuk segera dibentuk kepengurusannya dan yang sudah lengkap teruskan syiar kegiatannya dalam rangka melestarikan, mengamalkan dan menjaga akidah Ahlussunah wal Jamaah an-Nahdliyah".

Lebih lanjut ia menambahkan, lomba tersebut ? untuk mengetahui manakah MWC dan Ranting NU yang terbaik dan tersehat di Kabupaten Pringsewu.

Attauhidiyyah Giren

"Hal itu tentunya bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi kita selaku anak-anaknya untuk dapat mentauladani secara struktural dan juga bersifat menyeluruh. Bahkan saya berencana untuk bisa mengadakan lomba PAC dan Ranting Ansor sehat seperti yang telah dilakukan oleh PCNU Kabupaten Pringsewu," tegasnya.

Ia juga meminta agar seluruh jajaran pengurus di tingkat Pimpinan Cabang dan Satkorcab Banser agar tidak bosan memberikan arahan dan bimbingan kepada pengurus Anak Cabang agar sesegera mungkin melaksankan tugas tersebut. Juga tidak hanya mengarahkan saja, tetapi harus ikut langsung turun ke lapangan dalam proses pembentukan Ranting - Ranting dan Satkoryon Banser dimasing-masing wilayahnya. (Henudin/Abdullah Alawi)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kiai Attauhidiyyah Giren

Jumat, 11 Agustus 2017

PBNU Mantapkan Persiapan Munas-Konbes 2012

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah memantapkan persiapan pelaksanaan Muasyarawah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Cirebon, Jawa Barat, 14-17 Septermber 2012 mendatang. Kamis (9/8) tadi malam, usai shalat tarawih, Ketua Umum PBNU mengadakan rapat khusus bersama pengurus harian tanfidziyah dan panitia nasional Munas-Konbes.

Kegiatan yang diselenggarakan di ruang rapat lantai 5 kantor PBNU, Jakarta, antara lain menyepakati distribusi peran untuk wakil-wakil ketua panitia, dan beberapa sekretaris panitia. Masing-masing wakil ketua dan sekretaris akan memantau perkembangan persiapan yang dilakukan oleh tim materi-dan seksi-seksi khusus, sementara secara umum kesiapan dipantau oleh Ketua Panitia H Dedi Wahidi dan Sekretaris Umum Dr H Syahrizal Syarif.

PBNU Mantapkan Persiapan Munas-Konbes 2012 (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Mantapkan Persiapan Munas-Konbes 2012 (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Mantapkan Persiapan Munas-Konbes 2012

Dilaporkan bahwa dari enam tim materi yang ada yang terdiri dari 3 tim materi Munas yakni bahtsul masail diniyyah waqi’iyyah, bahtsul masail diniyyah maudluiyyah, bahtsul masail diniyyah qonuniyyah, dan tim materi Konbes yakni komisi program, komisi rekomendasi dan komisi rekomendasi, sudah hampir menyelesaikan draf materi yang akan dibahas dalam Munas dan Konbes.

Attauhidiyyah Giren

Sekretaris Panitia Dr H Syahrizal Syarif dalam kesempatan itu melaporkan, semua seksi dalam kepanitiaan juga telah melaporkan berbagai agenda pra dan saat pelaksanaan Munas dan Konbes, dan sebagian telah dikerjakan.

Attauhidiyyah Giren

Ditambahkan, panitia nasional telah dua kali mengadakan survei ke lokasi Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, serta mengadakan rapat gabungan dengan panitia daerah dan persiapan sudah cukup matang.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang memimpin rapat persiapan itu menyampaikan, beberapa agenda pra Munas dan Konbes antara lain, peletakan batu pertama pembangunan Masjid di lantai dasar kantor PBNU, Pelantikan Pengurus Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz, serta acara buka bersama yang dihadiri delegasi manca negara.

Pada Jum’at siang ini, seperti dilaporkan Ketua Lembaga Bantuan Hukum PBNU Andi Najmi, juga akan dilakukan peluncuran Klinik Hukum di halaman kantor PBNU. Peluncuran klinik ini juga merupakan rangkaian dari kegiatan Pra Munas dan Konbes NU.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ubudiyah Attauhidiyyah Giren

Kamis, 10 Agustus 2017

Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara

Oleh Inggar Saputra

Islam adalah agama yang sempurna, diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Meski Islam hadir pertama kali di Arab Saudi, tapi berkat perjuangan para pedagang dan ulama, agama ini mampu menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Islam di Indonesia mampu menciptakan akulturasi dengan menyerap spirit perjuangan masyarakat lokal. Penyatuan Islam dan kearifan lokal ini yang sering disebut Islam Nusantara.

Konteks Indonesia, salah satu penyebar Islam yang penting adalah ulama khususnya Wali Sanga di Tanah Jawa. Mereka (Wali Sanga) merupakan sembilan ulama yang menyebarkan Islam dengan penuh kearifan, moderatisme, penuh nilai toleransi dan kedamaian. Wali Sanga adalah pejuang Islam, pendidik dan ulama yang membawa nilai Islam yang mampu beradaptasi dengan kebudayaan lokal yang masih dipengaruhi kebudayaan Hindu-Buddha. Dengan prinsip mempertahankan budaya atau tradisi yang lama dan baik, serta memasukkan nilai Islam yang awalnya dianggap asing, masyarakat membuka tangannya sehingga dakwah Wali Sanga berjalan sukses dan masyarakat ramai-ramai memeluk Islam.

Salah satu Wali Sanga yang cukup dikenal masyarakat Indonesia adalah Sunan Kalijaga, seorang anak pejabat yang menyebarkan Islam dengan model kebudayaan yang mampu beradaptasi dengan nilai lokal. Melalui kearifan lokal berbentuk pembangunan masjid Agung Demak, kesenian wayang bernuansa Islami dan tembang/lagu Ilir-ilir, dakwah Sunan Kalijaga mampu mendapatkan hati dan tempat terbaik di kalangan pengikutnya. Ini membuktikan bahwa proses Islam Nusantara yang menggabungkan kebudayaan lokal dan Islam sudah berlangsung sejak dulu sebagaimana sukses dipraktekan Sunan Kalijaga.

Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara





Attauhidiyyah Giren

Memahami Islam Nusantara

Islam sebagai sebuah agama mengatur kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Untuk mencapai kesejahteraan itu, manusia diberikan akal pikiran dan wahyu yang berfungsi membimbing manusia dalam perjalanan hidupnya (Azyumardi Azra: 1998) Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada manusia melalui perantara Nabi Muhammad Saw. Tujuan dakwah Islam bersifat universal, bukan monopoli suku, daerah atau bangsa tertentu sehingga kehadiran Islam menembus sekat geografis antar negara.?

Meski begitu Islam tidak lahir dari ruang kosong, melainkan selalu mampu berdialog dengan kearifan lokal termasuk budaya dan peradaban manusia Indonesia. Perpaduan budaya ini berjalan saling menegasikan, mempengaruhi dan menyempurnakan sehingga terbentuk pemahaman Islam Nusantara. Hasil interaksi Islam dan budaya lokal pada akhirnya akan menghasilkan dua kemungkinan yaitu Islam mewarnai mengubah, mengolah dan memperbaharui budaya lokal, kemungkinan kedua adalah Islam yang justru diwarnai budaya lokal (Simuh: 2003)

Dalam perjalanannya di Indonesia, ajaran Islam sudah terbukti mampu mewarnai, mempengaruhi dan mengubah budaya lokal dengan penuh kedamaian dan toleransi. Para ulama sejak dulu mengajarkan Islam sebagai agama yang anti kekerasan. Penyebaran Islam ditempuh dengan dialog penuh kebaikan, dakwah penuh keberkahan, pernikahan ulama atau pedagang dengan penduduk setempat dan akulturasi kebudayaan lokal dengan ajaran Islam. Secara perlahan Islam mengikis kepercayaan yang bersifat mistis dan tahayul digantikan gagasan rasional dan penuh kesucian. Dengan berbagai kelebihan itu, Islam di Nusantara dapat berkembang pesat dan diterima masyarakat secara luas.

Islam di Nusantara jelas bukan sebuah agama yang baru, sebab perkembangan Islam sudah dibawa pedagang dan ulama sejak masa kerajaan Hindu-Buddha masih dominan mempengaruhi pemikiran masyarakat di Indonesia. Islam Nusantara bersifat akomodatif dan inklusif dalam mengintegrasikan nilai universal Islam dan peradaban lokal Indonesia yang hidup dan tidak bertentangan dengan Islam. Ini penting ? dalam melahirkan kembali karakter positif manusia Indonesia seperti toleran, moderat, damai, ramah tamah, gotong royong dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Islam menyerap spirit kearifan lokal yang baik dan meminggirkan secara halus kepercayaan atau keyakinan yang bertentangan dengan syariat Islam.

Attauhidiyyah Giren

Sejatinya setiap muslim yang secara sadar mendeklarasikan syahadat akan terhindar dari sifat adigang adigung adiguna. SIfat negative harus dihilangkan dan digantikan semangat menghargai perbedaan keyakinan, tidak diskriminatif, berprinsip Bhinneka Tunggal Ika serta menjauhikan sifat ekslusif dan superior di antara manusia lainnya ? (Ishom Yusqi, 2015). Islam Nusantara adalah paham dan praktik keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realita dan budaya setempat. Spirit Islam Nusantara adalah praktik berislam yang didahului dialektika antara nash syariah dengan realitas dan budaya tempat umat Islam tinggal (Afifuddin Muhajir, 2015).

Untuk lebih memperjelas makna Islam Nusantara maka dapat digambarkan dalam dua kata, Islam dan Nusantara. Islam adalah ajaran samawi (langit). Nusantara adalah tradisi ardhi (bumi). Maka secara sederhana Islam Nusantara dapat diartikan sebagai ajaran langit yang membumi. Islam Nusantara bukan soal menilai buruk dan salah pada yang lain. Tapi lebih tentang di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. ? Menjadi Nusantara adalah hal yang paling manusiawi bagi manusia Nusantara. Dilahirkan sebagai anak Nusantara, berakar kebudayaan negeri sendiri, berkebangsaan bangsa sendiri, dan menjadi diri sendiri. Bukan menjadi orang lain dengan justru kehilangan jati diri. Sebab, kehilangan terbesar adalah kehilangan diri sendiri (Candra Malik: 2015).

Dalam kacamata yang bersifat akademis Islam Nusantara mengacu kepada Islam di gugusan kepulauan atau benua maritim (Nusantara) yang mencakup Muslim Malaysia, Thailand Selatan (Patani), Singapura, Filipina Selatan (Moro), dan juga Champa (Kampuchea). Dengan cakupan seperti itu, Islam Nusantara sama sebangun dengan Islam Asia Tenggara (Southeast Asian Islam). Secara akademik, istilah terakhir ini sering digunakan secara bergantian dengan Islam Melayu-Indonesia (Malay-Indonesian Islam). Islam Nusantara bersifat inklusif, akomodatif, toleran dan dapat hidup berdampingan secara damai baik secara internal sesama kaum Muslimin maupun dengan umat-umat lain. (Azra: 2015)

Gagasan Islam Nusantara memang muncul selama dua tahun terakhir dan mulai populer di kalangan masyarakat setelah menjadi tema Muktamar Nadhlatul Ulama ke-33 di Makassar. Ketika pertama kali didengungkan sebagai pemikiran progresif dan berjiwa ke-Indonesiaan pro kontra langsung berdatangangan sehingga memunculkan polemik panas dan berkepanjangan sesama umat Islam. Tidak sedikit kalangan memberikan label negatif kepada ide Islam Nusantara tanpa mau mendialogkan secara terbuka dan kritis-konstruktif dengan komunitas yang memunculkan gagasan tersebut. Padahal Islam Nusantara sebagai inspirasi peradaban duniaberangkat dari empat pilar agung khas nahdiyin yaitu moderat, seimbang, toleran dan selalu berpihak kepada kebenaran. Gagasan Islam Nusantara juga terhitung progresif dan ilmiah sehingga harus terus disebarkan dan diupayakan dialog secara mendalam sehingga terwujud dalam kehidupan nyata.

Penulis berpandangan gagasan ini berangkat dari dua aspek keilmuan yang cukup penting yaitu aspek sejarah dan aspek kebudayaan. Sejarah panjang Islam di Indonesia menempatkan ulama sebagai titik sentral dalam teladan membagikan pengetahuan Islam kepada masyarakat. Konteks ini, ulama dianggap sebagai tempat bertanya dan referensi utama masyarakat dalam persoalan kehidupan sehari-hari dan spritualitas-keagamaan. Dengan kedudukan strategis itu, peran ulama dinanti dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Ulama adalah tokoh penting dalam menanamkan aqidah, tempat bertanya masalah dunia dan akhirat serta rujukan dalam berbagai persoalan kehidupan sehari-hari.

Mengingat pentingnya peran itu, para ulama adalah pelaku sejarah dalam usaha menyebarkan Islam di Indonesia. Ulama adalah manusia yang dimuliakan masyarakat karena pengetahuan beragama yang kuat dan mendalam sehingga seringkali kekuasaan ulama sangat besar meliputi kehidupan politik, sosial dan ekonomi masyarakat. Konteks ini, ulama dalam artian kiai dan wali khususnya Wali Sanga di Jawa memiliki kemampuan untuk menstruktur tindakan orang lain dalam bidang ke-Islaman sesuai dengan keyakinan agamanya. Kemampuan itu meliputi pengetahuan ke-islaman, mengamalkan ajaran Islam dengan tertib dan konsisten menjalankan ajaran Islam sehingga merasakan dekat dengan Allah (Busthami: 2007)

Aspek budaya, sulit sekali melupakan bagaimana ulama berusaha menempatkan dakwah Islam dalam konteks kearifan lokal sehingga penerimaan masyarakat dapat berjalan baik. Para ulama memahami dan mengakui Islam berasal dari Arab sehingga banyak dipengaruhi kebudayaan Arab. Tetapi untuk dapat diterima masyarakat Indonesia, Islam harus mampu menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan kebudayaan setempat (budaya suku atau kelompok masyarakat di Indonesia). Apalagi diketahui pengaruh animisme dan penyebaran agama Hindu dan Buddha masih kental mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia. Sehingga kreatifitas dalam berdakwah diperlukan agar tidak tercipta pergolakan dan penolakan keras masyarakat setempat terhadap keagungan ajaran Islam.

Sejarah mempertontonkan bagaimana kreatifitas ulama berkembang dalam hal kebudayaan melalui sarana lokal seperti lagu, budayam wayang dan lainnya. Para ulama menganut prinsip mempertahankan tradisi atau kebudayaan yang lama dan baik, dan secara perlahan mengenalkan budaya baru yang lebih baik dan sesuai syariat Islam. Dalam hal ini, kita melihat bagaimana Islam dikenalkan dengan tanpa adanya paksaan. Kebudayaan dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat tetap kedudukan yang tepat bersanding dengan ajaran Islam yang agung dan inspiratif.?

Wali Sanga dan Islamisasi Jawa

Proses Islamisasi di tanah Jawa tidak terlepas dari jasa para ulama yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Munculnya Wali Sanga mengakhiri dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka (Wali Sanga) adalah simbol penyebaran Islam di tanah Jawa dan berperan penting dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa (Solikin, Syaiful dan Wakidi: 2013) Wali Sanga berjumlah sembilan yaitu Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Para ulama ini memiliki hubungan dekat baik hubungan darah maupun hubungan guru dengan muridnya. Maulana Malik Ibrahim merupakan wali sanga tertua, memiliki anak Sunan Ampel dan keponakan Sunan Giri. Sunan Ampel dan istrinya melahirkan Sunan Drajad dan Sunan Bonang. ? Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga (murid dari Sunan Bonang). Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Sunan Kudus menjadi murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.?

Para ulama hebat ini tidak hidup pada waktu yang bersamaan dan umumnya tinggal di pantai utara Jawa sejak awal abad 15 hingga pertengahan abad 16,. Mereka bermukim di tiga wilayah penting yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah simbol intelektual agamis yang berperan strategis dalam membentuk peradaban Islam di tanah Jawa. Melalui pendekatan yang menyatukan Islam dan kearifan lokal, dakwah Wali Sanga mampu memikat hati masyarakat sehingga banyak kalangan baik raja dan rakyat jelata masuk Islam dengan kesadaran sepenuh hati dan tidak dipengaruhi paksaan pihak manapun.?

Wali Sanga merupakan satu kesatuan organisasi yang mirip panitia ad hoc (kabinet) dalam urusan mengislamkan masyarakat Jawa. Setiap wali bertanggungjawab sebagai ketua bagian, seksi atau Nayaka (menteri) yang sering berkumpul bersama dalam sebuah rapat dalam membahas tugas dakwah Islam yang sedang diperjuangkannya. Wali Sanga sebagai kesatuan organisasi berperan penting dalam pembangunan Masjid Demak yang dilaksanakan secara gotong royong (Widji Saksono: 1996)

Dalam kegiatan dakwahnya Wali Sanga menggunakan pendekatan bijaksana dan disesuaikan dengan pemahaman (pengetahuan masyarakat setempat terhadap Islam itu sendiri. Sunan Kalijaga misalnya membuat gamelan Sekaten yang kemudian dilanjutkan acara Sekaten (Syahadatain) di Masjid Agung. Dalam kesempatan lain, Sunan Kudus membuat lembu dengan hiasan unik dan menarik sehingga mengundang minat masyarakat luas untuk lebih mengenal Islam secara mendalam. Para Wali Sanga juga menggunakan kreasi lain seperti beduk atau kentongan sebagai tanda dimulainya waktu sholat lima waktu. Mengingat adzan yang diteriakkan melalui menara masjid terkadang kurang efektif dan komunikatif (Mastuki: 2014)

Model Dakwah Sunan Kalijaga?

Sunan Kalijaga (nama kecil, Raden Said) merupakan salah satu Wali Sanga yang terkenal dan dilahirkan tahun 1455 Masehi. Sunan Kalijaga memiliki darah keturunan ningrat mengingat ayahnya Arya Wilatika adalah Adipati Tuban keturunan dari Ranggalawe. Ada beragam versi mengenai nama Sunan Kalijaga, dimana masyarakat Cirebon berpendapat nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon mengingat dirinya pernah bertempat tinggal di Cirebon. Sebagian kalangan mengaitkan dengan tugas menjaga Kali yang diberikan gurunya (Sunan Bonang) sebagai ujian kesetiaan dan keseriusannya dalam belajar agama Islam. Tapi ada pula yang menilai nama itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan (Darmawan: 2011)

Dalam menjalankan dakwahnya, Sunan Kalijaga menyerap semangat kultural masyarakat Jawa yang masih dipengaruhi kebudayaan Hindu-Buddha. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Untuk mengajak masyarakat masuk Islam, Sunan Kalijaga memilih jalur kebudayaan dan kesenian sebagai media dan sarana dakwah sehingga cepat menyerap dan diterima secara hangat oleh masyarakat pada zamannya. Sunan Kalijaga menjadi teladan terbaik dalam penyesuaian Islam dengan budaya lokal, berdasarkan prinsip mempertahankan yang lama dan baik, serta mengambil yang baru dengan lebih baik (Anif Arifani: 2010) sehingga ajaran Islam masuk ke dalam struktur berpikir masyarakat secara halus dan secara perlahan menghilangkan tradisi masyarakat yang bertentangan dengan syariat Islam. Dakwah Sunan Kalijaga banyak sekali mendapatkan pengikut dari kalangan masyarakat menengah ke bawah (rakyat jelata).?

Sunan Kalijaga berpendapat jika diserang prinsip yang selama ini dipegang secara teguh (keyakinan Hindu-Buddha) masyarakat akan menjauh. Sehingga diperlukan dakwah secara bertahap sebab jika Islam sudah berhasil dipahami masyarakat, maka kebiasaan lama yang bertentangan dengan syariat akan hilang. Maka dapat disebut ajaran Sunan Kalijaga cenderung sinkretis dalam mengajak orang lain mengenal Islam. Beliau menciptakan berbagai media dakwah yang kreatif dan efektif. Ini menyebabkan dakwah di kalangan rakyat semakin meluas dan tak sedikit pula para petinggi kerajaan yang tertarik dengan dakwahnya. Beberapa diantaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede, Yogyakarta). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu, selatan Demak (Afifudin Muhajir: 2015). Secara umum banyak sekali sarana dakwah kreatif dari Sunan Kalijaga, tapi beberapa diantaranya yang fenomenal ada tiga yaitu masjid Demak, wayang dan lagu.

Pecahan Kayu Masjid Agung Demak

Diceritakan bagaimana para wali bergotong royong dalam membangun Masjid Agung Demak. Sunan Kalijaga mendapatkan tugas membuat satu dari empat tiang masjid. Dalam menjalankan tugas itu, beliau menggantikan balok kayu besar dengan pecahan kayu yang biasa disebut tatal. ? Sunan Kalijaga menyusun dan melekatkan bagian potongan kayu dengan lem dammar, kemenyan dan blendok. Tidak disangka sampai sekarang, tiang darurat itu masih bertahan kokoh (Sudarsono: 2010)?

Adanya soko tatal diartikan sebagai lambang spritualitas, persatuan dan kerukunan mengingat dalam membangun Masjid Agung Demak sempat terjadi perpecahan dalam masyarakat Islam. Dalam kondisi itu, Sunan Kalijaga mendapatkan petunjuk untuk menyusun tatal yang ada menjadi tiang yang kuat dan kokoh. ? Pemahaman filosofis tatal adalah jika umat Islam bersatu maka akan menjadi kuat dan jangan pernah sekalipun sesuatu yang sifatnya sisa seperti tatal. Dalam pengertian ini, Sunan Kalijaga mengajarkan makna Islam Nusantara dalam aspek bergotong royong, persatuan dan saling tolong menolong sebagai kunci sukses dunia dan akhirat. Aspek ini sesuai dengan jiwa kebangsaan yang menjadi variabel turunan dalam memaknai konsep Islam Nusantara.

Sampai sekarang Masjid Agung Demak banyak dikunjungi muslim seluruh Indoensia dan menjadi pusat agama terpenting di tanah Jawa. Islamisasi di Jawa termasuk daerah pedalaman banyak berawal dari syiar masjid bersejarah ini. Masjid Agung Demak bukan saja berkembang sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai ajang pendidikan mengingat lembaga pendidikan pesantren pada masa awal ini belum menemukan bentuknya yang final. Masjid dan pesantren sesungguhnya merupakan center of excellence yang saling mendukung dan melengkapi dalam membentuk kepribadian muslim. Sesungguhnya pula dakwah dan pendidikan tidak dapat dipisahkan dalam sejarah dan ajaran besar Islam. (Siami Fitri: 2007)

Wayang dan Azimat Kalimasada

Wayang adalah sebuah kosakata asli bahasa Jawa yang berarti “bayang” atau “bayang-bayang” berasal dari akar kata ‘yang’ dan mendapat awalan ‘wa’ menjadi kata wayang (Darori Amin: 2000). Masyarakat Jawa sebelum kedatangan agama Hindu-Buddha sudah terbiasa melakukan pertunjukkan wayang untuk memanggil roh nenek moyang. Pada masa Hindu-Buddha, wayang semakin berkembang dengan munculnya wayang kulit dan cerita dewa-dewa dalam mitologi kedua agama tersebut. Ketika Islam masuk ke Indonesia, wayang mulai mendapatkan sentuhan nilai-nilai Islami.

Sunan Kalijaga menyaksikan bagaimana masyarakat sangat menyukai wayang sehingga melihat ada peluang berdakwah dengan kesenian wayang. Pemikiran itu mendorongnya untuk mempopulerkan wayang yang sesuai syariat Islam. Beliau menciptakan cerita pewayangan versi Islam seperti Jimat Kalimasada dan Dewa Ruci, yang ceritanya hampir sama dengan kisah Nabi Khidir. Cerita itu masih berbentuk cerita menurut kepercayaan Jawa yang bernuansakan Islami dan dengan corak kehidupannya yang ada (Imron Amar: 1992)?

Ada dua alasan mendasar mengapa Sunan Kalijaga menggunakan wayang untuk menyebarkan agama Islam. Pertama, wayang adalah ciri khas seni yang halus dan mudah diterima masyarakat secara luas. Secara normatif, Sunan Kalijaga sudah menjalankan Islam Nusantara dengan konsep moderatisme dengan mengajak seseorang masuk Islam tanpa kekerasan dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyatakat sekitarnya. Kedua, pemakaian seni wayang menunjukkan kehebatan Sunan Kalijaga dalam menghidupkan tradisi atau budaya setempat yang berkorelasi dengan nilai Islam. Tercipta usaha mendialogkan dan mengkompromikan ajaran Islam dengan kebiasaan yang berkembang dan disenangi masyarakat setempat.

Dalam mengajak penonton wayang, Sunan Kalijaga mengganti biaya masuk yang umumnya membayar uang dengan membaca kalimat syahadat. Secara kreatif para tokoh wayang yang identik dengan kepahlawanan Hindu diganti nama rukun Islam yang lima. Yudhistira digambarkan sebagai dua kalimat syahadat sebab tokoh ini diberikan pusaka (azimat) Kalimasada yang mampu melindungi dirinya dalam menghadapi serangan lawannya. (Purwadi: 2003). Bima yang kekar, tegak dan kokoh digambarkan sebagai shalat. Shalat adalah tiang agama, maka seorang muslim yang tidak menjalankan shalat akan meruntuhkan tiang agama. Arjuna yang senang bertapa digambarkan sebagai puasa sebagai proses menahan lapar, haus dan nafsu syahwat duniawi lainnya. Nakula dan Sadewa dipandang sebagai symbol zakat dan haji (Ahmad Chadjim: 2003)?

Lagu Ilir-Ilir

Lagu Ilir-Ilir merupakan salah satu tembang yang diciptakan SUnan Kalijaga dan cukup populer hingga sekarang. Pada masa dahulu, lagu ini sering dinyanyikan anak desa terutama pada malam purnama. Tanpa disadari, terdapat makna filosofis mendekat kepada Allah sebagai Tuhan yang menciptakan manusia dalam tembang ini. Muncul sikap optimistik agar seorang muslim memperbanyak amal kebaikan sebagai bekal hari kiamat nanti. Para ahli tafsir menilainya sebagai sarana penyiaran agama Islam secara damai, tanpa paksaan dan kekerasan. Toleransi di dalam menyiarkan agama Islam sangat jelas sehingga terjadi asimilasi dan adaptasi antara ajaran Islam dengan kearifan lokal setempat. (Hariwijaya: 2006).?

Lir-ilir, lir-ilir tandure wis sumilir

Tak ijo royo-royo, tak sengguh kemanten anyar

Cah angon –cah angon, penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno, kanggo masuh dodot iro

Dodotiro-dodotira, kumitir bedah ing pinggir

Dondomano jrumantana, kango sebo mengko sore

Mumpung jembar kalangane , mumpung padhang

rembulane

Suraka surak horeeeee.

Adapun makna yang terkandung dalam lagu lir-ilir tersebut, dalam catatan Hasyim Umar, adalah sebagai berikut:

Lir-ilir, lir ilir tandure wisa sumilir (Makin subur dan tersiramlah agama Islam yang disiarkan wali dan muballigh). Tak ijo royo-royo, tak sengguh kemanten Anyar (Hijau adalah warna lambang dari agama Islam yang dikira pengantin baru sehingga menarik perhatian masyarakat). Cah angon-cah angon, penekno blimbing kuwi (Cah angon/penggembala adalah penguasa yang diharapkan mampu menggembalakan rakyat agar masuk Islam, sementara buah belimbing mempunyai segi atau kulit yang mencuat berjumlah lima yaitu lambang rukun Islam) Lunyu-lunyu penekno, kanggo masuh dodotiro (Walaupun licin, sukar, tetapi usahakanlah agar dapat (agama Islam) agar mampu mensucikan dodot. Dodot adalah sejenis pakaian yang dipakai orang-orang atasan (trahing ngaluhur/? jaman dulu) Dodotiro-dodotiro, kumitir bedah ing pinggir (Pakaian dan agamamu sudah robek karena dicampuri kepercayaan animisme dan upacara suci yang bertentangan dengan ajaran Islam) Dandomono jrumantana, kanggo sebo mengko sore (Agama yang rusak itu harus diperbaiki dengan agama Islam untuk menghadap Tuhan nanti sore) Mumpung jembar kalangane, mumung padhang rembulane (Mumpung masih hidup, masih ada kesempatan bertobat kepada Tuhan) Suraka surak horeeee (Bergembiralah kalian moga-moga mendapat anugerah dari Tuhan).?

Melalui lagu ini, Sunan Kalijaga mengakak setiap muslim termasuk pemimpin kerajaan saat itu untuk memeluk Islam meskipun dalam menumbuhkan dan menyuburkannya terdapat banyak sekali kesulitan dan tantangan. Tapi jika tidak putus asa, maka Allah akan memberikan kebahagiaan. Mengapa Sunan kalijaga memberikan dakwah kepada pemimpin atau raja? Sebab mereka adalah teladan yang ditiru dan dicontoh masyarakat. Perkataan dan tindakan pemimpin akan menjaci acuan bagi rakyatnya sehingga jika pemimpinnya masuk Islam, maka rakyat akan mudah mengikutinya.?

Penulis adalah Finalis Kompetisi Penulisan Esai,? International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) PBNU?

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Humor Islam, Ahlussunnah Attauhidiyyah Giren

Sarana Saling Menghidupi Jamaah dan Jamiyyah

Oleh: Nine Adien Maulana



Salah satu potensi ekonomis umat Islam yang bisa dimanfaatkan untuk mengurangi kesenjangan antara kaum kuat dan lemah adalah pengelolaan zakat, infak dan sedekah secara profesional dan amanah. Zakat adalah kewajiban umat Islam yang telah mencapai syarat ketentuan tertentu. Ia adalah bagian dari syariat Islam. Infak dan sedekah adalah perbuatan mulia yang sangat dianjurkan; hukumnya adalah sunnah. Ini adalah bagian dari ibadah, sehingga setiap umat Islam pada waktunya pasti akan tergerak untuk menunaikannya. ?

Sarana Saling Menghidupi Jamaah dan Jamiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarana Saling Menghidupi Jamaah dan Jamiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarana Saling Menghidupi Jamaah dan Jamiyyah

Karena zakat terikat syarat dan ketentuan khusus, maka diperlukan waktu untuk melakukan dakwah oleh lembaga amil agar para wajib zakat tahu kewajibannya dan mau mengeluarkan zakatnya itu. Meskipun secara tekstual, kita mengetahui bahwa kita diperintahkan untuk memungut zakat dari harta-harta mereka, namun dalam praktiknya hal itu tidak bisa dilakukan secara lugas oleh lembaga amil. Lembaga amil tidak bisa secara langsung menyasar kepada para pihak wajib zakat (muzakki) untuk memungut zakat darinya. Proses sosialisasi, persuasi dan edukasi kepada para calon muzakki perlu dilakukan, sehingga akhirnya mereka mau mengalkulasi wartanya dan mengeluarkan zakatnya baik disalurkan secara mandiri maupun melaui lembaga amil. ?

Infak dan sedekah tidak terikat syarat dan ketentuan khusus sebagaimana zakat. Hal ini menjadi peluang kreativitas lembaga amil bisa langsung menyasar kepada seluruh lapisan umat Islam. Di ranah inilah berbagai lembaga amil berlomba-lomba dalamnya kreativitas (fastabiqul khairaat) menarik simpati calon donaturnya.

Ada banyak kreativitas yang bisa ditawarkan kepada mereka untuk menunaikan infaq dan sedekah. Misal, ada lembaga amil zakat yang langsung menawarkan penyaluran infak sedakah uang tanpa jumlah minimal atau maksimal yang akan disalurkan untuk beasiswa pendidikan kaum lemah, santunan langsung anak-anak yatim yang lemah, bantuan kesehatan bagi dhuafa dan lain-lain. Ada juga yang menawarkan penyaluran sedekah nasi bungkus harian bagi siapa saja yang bersedia. Lembaga amil akan mendatangi rumahnya untuk mengambil nasi bungkus itu, kemudian menyalurkannya kepada kaum lemah di daerah-daerah pinggiran yang tertinggal. Ada juga yang menawarkan donasi dengan cara potong pulsa. Ada juga yang bekerja sama dengan toko-toko modern untuk menerima donasi dari uang kembali belanja, biasanya dalam bentuk pecahan kecil. Masih ada banyak lagi kreativitas penjaringan dana ummat dalam bentuk infak dan sedekah ini. ? ?

UPZISNU-LAZISNU Jombang telah mendeklarasikan gerakan Jombang Bersedekah. Salah satu tawaran programnya adalah membagikan kaleng-kaleng sedekah kepada semua warga, khususnya kaum Nahdliyin Jombang untuk menjadi donatur dan menyisihkan koin Rp500,00 tiap hari ke dalam kaleng tersebut. Dalam kurun waktu tertentu petugas akan mengambilnya dan mengelolanya secara kreatif, profesional dan amanah.

Attauhidiyyah Giren

Setelah berhasil membuat jaringan dan branding yang positif di tingkat kabupaten, kini Lembaga Amil ini menyasar langsung ke tingkat kecamatan dan desa. Salah satunya adalah membuat proyek percontohan UPZISNU berbasis desa. Desa Pacarpeluk Kecamatan Megaluh menjadi desa pertama yang menyambut dengan antusias program ini. Bekerja sama dengan Pemerintah Desa Pacarpeluk Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Pacarpeluk mendeklarasikan Gerakan Pacarpeluk Bersedekah.

Gerakan ini menjadi energi penggerak jam’iyyah Nahdlatul Ulama di Pacarpeluk.Warga desa dari beragam organisasi, menyambut positif gerakan ini. Dalam waktu tidak sampai dua minggu, telah ada hampir 400 warga yang bersedia menjadi donatur. Masyarakat sadar bahwa ini adalah gerakan positif yang bisa langsung dirasakan oleh warga untuk meningkatkan kesejahteraan dan ibadah kepada Allah SWT.

Jika semua Ranting Nahdlatul Ulama se-Kabupaten Jombang bisa digerakkan mengikuti jejak Pacarpeluk, maka gerakan Jombang Bersedekah benar-benar akan terasa gaung dan manfaatnya. Kemandirian dan aksi nyata Nahdlatul Ulama kepada warganya benar-benar bisa diwujudkan. Nahdlatul Ulama tidak akan mudah terkooptasi oleh penguasa atau berbagai kekuatan politik atau pemodal besar dalam menjalankan program-program khidmat kemaslahatan kepada umat.

Attauhidiyyah Giren

Kemandirian ini bukanlah hal yang mustahil, karena Nahdlatul Ulama telah memiliki aset dan potensi yang besar. Semuanya harus disinergikan dalam suatu tata kelola yang kreatif, profesional dan amanah, sehingga jamaah memiliki kepercayaan (trust) kepada jamiyyah dan sebaliknya jamiyyah bisa memberikan khidmat nyata kepada jamaah. Sudah waktunya jamiyyah sekarang menghidupi jamaah dengan khidmat nyata, sehingga jamaah dengan rela hati, suka cita dan penuh kebanggaan menghidupi jamaah.?

Janji-janji normatif surgawi tidaklah cukup untuk menggerakkan jamaah untuk menghidupi jamiyyah, jika jamaah tidak pernah merasakan kemanfaatan dan khidmat jamiyyah secara langsung dan praktis. Atas dasar itulah pengelolaan zakat, infak dan sedekah menjadi peluang dan sarana nyata jamiyyah menghadirkan kemanfaatan dan khidmat, apalagi jamiyyah telah memiliki banyak aset dan lembaga atau infrastruktur yang bisa disinergiskan. ?

Lembaga pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lain-lain yang dimiliki oleh Nahdlatul Ulama bisa disinergikan dengan pengurus ranting yang telah mengelola zakat, infak dan sedekah di desa. Lembaga-lembaga itu akhirnya bisa hidup dan menghidupi warga Nahdliyin. Inilah hubungan timbal balik saling memberi dan menerima kemaslahatan. Memang sudah waktunya kemandirian jamaah dan jam’iyyah Nahdlatul Ulama tidak lagi disampaikan sekadar retorika normatif semata, tapi benar-benar nyata bisa diwujudkan. Salah sata caranya adalah menggerakkan jamaah dan jam’iyyah ini melalui pengelolaan dan pemberdayaan zakat, infaq dan shadaqah secara kreatif, profesional dan amanah.?

Penulis adalah ketua tanfidziyah Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Pacarpeluk

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kyai Attauhidiyyah Giren

Hasyim Muzadi: Paus Bisa Salah

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Kardinal Julius Darmaatmadja, menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf karena ucapan Paus Benediktus XIV di Universitas Regensburg, Jerman pada Selasa (12/9) lalu ternyata telah melecehkan dan melukai umat Islam seluruh dunia.

"KWI ikut prihatin bersama umat Islam bilamana merasa Nabi-nya (Muhammad SAW, red) dihina dan Allah dilecehkan," katanya saat menghadiri acara temu pemuka agama yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bekerja sama dengan Indonesian Conference on Religion And Peace di Jakarta, Senin (18/9).

Paus dalam kuliah umum di Aula Magna, Universitas Regensburg, Jerman, Selasa (12/9) lalu, mengutip naskah zaman pertengahan yakni pernyataan Kaisar Bizantium (kini Turki) Manuel II Paleologus soal makna jihad dalam Islam dan penyebaran Islam dengan pedang alias kekerasan.

Hasyim Muzadi: Paus Bisa Salah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Muzadi: Paus Bisa Salah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Muzadi: Paus Bisa Salah

Paus dengan setulusnya telah menyesali bahwa beberapa paragraf dalam pernyataannya telah melukai kaum Muslim. Menurut Kardinal, KWI mendukung penyesalan dan permintaan maaf Paus seperti yang telah diberitakan media massa di Indonesia. “Itu sama sekali tidak berhubungan dengan maksud Paus," katanya

Selain itu, KWI juga berterima kasih kepada pemimpin Indonesia, baik dari kalangan pemerintah maupun kaum agama, yang dengan berbagai cara telah menjaga bangsa Indonesia tetap tenang serta kepada pemimpin negara-negara Islam yang telah menerima permintaan maaf Paus.

Attauhidiyyah Giren

"Semoga peristiwa di Regensburg ini tidak merusak kerukunan antarumat beragama yang selama ini kita usahakan. Sebaliknya ampun mengampuni itu dapat menjadi landasan untuk berkomunikasi secara lebih baik dalam membina hidup bersama," katanya.

Bisa salah

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi mengatakan, Paus adalah juga manusia biasa yang perlu juga dikoreksi ucapan-ucapannya. "Namanya juga manusia, kan bisa salah" kata Hasyim di Jakarta, Senin (18/9).

Dirinya mengakui pihak Paus telah melakukan upaya-upaya untuk meluruskan kata-kata Paus dan dengan demikian pidato Paus di Universitas Regensburg itu tidak akan menimbulkan reaksi lanjutan dari kalangan umat Islam. Kerukunan antar umat beragama akan tetap terjaga. (nam)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sholawat Attauhidiyyah Giren