Kamis, 29 Oktober 2009

Peringati Haflah Akbar, Pesantren Tambakberas Dukung PBNU

Jombang, Attauhidiyyah Giren



Lapangan Untung Suropati Tambakrejo yang berada di utara Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang Jawa Timur penuh sesak oleh puluhan ribu santri. Mereka khidmat mengikuti upacara pembukaan al-haflatul kubro pesantren setempat, Rabu (8/2) pagi.

Peringati Haflah Akbar, Pesantren Tambakberas Dukung PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Haflah Akbar, Pesantren Tambakberas Dukung PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Haflah Akbar, Pesantren Tambakberas Dukung PBNU

KH Abdul Choliq Mustaqim dalam amanatnya mengemukakan bahwa peringatan haflah kali membawa pesan bahwa Pesantren Tambakberas, sebutan kepada PPBU memiliki komitmen kuat terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. "Karenanya kita akan pelihara dan jaga NKRI sebagai harga mati," kata Sekretaris Umum Yayasan PPBU tersebut.

"Demikian pula kita akan pelihara dan jaga PBNU yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI serta UUD 1945," katanya disambut tepuk tangan hadirin.

Gus Kholiq, sapaan akrabnya juga menandaskan kepada para kiai, ustadz dan santri yang hadir di lapangan tersebut bahwa haflah kali ini juga terbilang istimewa. "Karena usia madrasah di lingkungan Pesantren Tambakberas telah memasuki 102 tahun," ungkapnya. Sedangkan untuk pesantren sendiri adalah berusia 192 tahun, lanjutnya.

Attauhidiyyah Giren

Hadir pada kesempatan tersebut Ketua Majlis Pengasuh yakni KH Hasib Abdul Wahab, serta Ketua Umum Yayasan PPBU yakni KH Irfan Sholeh.

Sebelum upacara pembukaan, kegiatan diawali dengan penampilan kreasi para santri dari berbagai ribath atau asrama yang ada di pesanren setempat. Tidak ketinggalan, sejumlah kontingen dari madrasah dan sekolah juga turut unjuk kebolehan.

Attauhidiyyah Giren

Pantauan Attauhidiyyah Giren di lokasi, sejumlah santri dan siswa menampilkan kebudayaan dari berbagai suku dan daerah di Indonesia. Dari mulai budaya dan pakaian masyarakat Madura, Nusa Tenggara Timur, Bengkulu, dan beberapa kawasan lain di tanah air.

Kegiatan dipungkasi dengan sambutan dari yayasan serta amanah oleh ketua majlis pengasuh. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Khutbah, Ahlussunnah Attauhidiyyah Giren

Selasa, 27 Oktober 2009

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi mendesak pemerintah mencabut Peraturan Presiden (Perpres) 105/2013 dan 106/2013 yang mengatur memberikan fasilitas berobat gratis kepada pejabat negara hingga ke luar negeri.

“Memberikan fasilitas keuangan negara kepada pejabat negara secara berlebihan di tengah kemiskinan ekonomi rakyat serta derita karena bencana alam, adalah sebuah kezaliman,” kata Hasyim Muzadi di Jakarta, Ahad (29/12).

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini mengatakan, Perpres tersebut menyakiti nurani rakyat yang pada umumnya masih miskin dan dikhawatirkan menjadi pemicu perlawanan rakyat.

Attauhidiyyah Giren

“Oleh karenanya, Perpres 105 dan 106 tahun 2013 tertanggal 13 Desember 2013 yang memberikan fasilitas berobat gratis sampai ke luar negeri segera dicabut,” terang Kiai Hasyim.

Attauhidiyyah Giren

Pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini juga menyarankan para penyelenggara negara dan pejabat publik yang masih punya rasa tanggungjawab kepada rakyat, hendaknya menolak fasilitas berlebihan tersebut.

“Sekalipun yang mau menolak pasti jumlahnya sangat minoritas. Seandanya pejabat negara meninggal karena sakit, biarlah meninggal di tanah air bersama rakyat yang mengantarkan mereka menjadi pejabat,” katanya.

Keluarnya Perpres menjalang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden akan semakin menambah kebencian masyarakat kepada pejabat Negara.

“Hendaknya diingat saat ini menjelang pileg dan pilpres, maka perpres 105/106 akan menambah rasa kejengkelan kepada mereka yang akan menjadi penyelenggara Negara,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menandatangani Peraturan Presiden 105/2013 tentang Pelayanan Kesehatan Paripurna kepada Menteri dan Pejabat Tertentu. Juga, Perpres 106/2013 tentang Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Pimpinan Lembaga Negara.

Dalam laman Sekretaris Kabinet, kedua produk aturan itu dikeluarkan Presiden terkait mulai dilaksanakannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mulai 1 Januari 2014.

Dengan Perpres itu, para menteri, pejabat eselon I, dan pimpinan lembaga negara dimudahkan untuk berobat ke luar negeri. Seluruh biaya itu nantinya akan ditanggung oleh negara, baik APBN maupun APBD.

Presiden mempertimbangkan risiko dan beban tugas menteri dan pejabat tertentu, serta ketua, wakil ketua dan anggota lembaga negara sehingga pemerintah memutuskan membuat perlindungan kesehatan khusus bagi pejabat negara. (Ahmad Millah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren AlaSantri, Pesantren, AlaNu Attauhidiyyah Giren

Jumat, 23 Oktober 2009

Pesantren Tebuireng Latih Guru TPQ dengan Metode Ajar Kreatif

Jombang, Attauhidiyyah Giren. Pesantren Tebuireng Jombang mengadakan pendidikan dan pelatihan (diklat) untuk guru Taman Pendidikan Qur’an (TPQ). Diklat melalui Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) berlangsung di gedung KH Yusuf Hasyim lt 2, pesantren tersebut.

Seperti yang dilansir Tebuireng Online, acara yang diikuti oleh sekitar 30 guru TPQ tersebut diadakan selama tiga hari mulai dari hari ini(20/09) sampai dengan Senin(22/09). Ke-30 peserta tersebut adalah para guru TPQ yang berada dalam naungan LSPT.

Pesantren Tebuireng Latih Guru TPQ dengan Metode Ajar Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tebuireng Latih Guru TPQ dengan Metode Ajar Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tebuireng Latih Guru TPQ dengan Metode Ajar Kreatif

Dalam diklat tesebut diberikan metode dan cara-cara mengajar yang kreatif dan efektif, agar para murid tertarik dan semakin senang belajar al-Qur’an.

Attauhidiyyah Giren

“Acara ini adalah tahap awal untuk meningkatkan kualitas tenaga pengajar di lembaga-lembaga  TPQ sehingga para pengajar khususnya yang berada di bawah naungan LSPT mempunyai standar bagus dalam mendidik para murid”, ungkap ketua panitia diklat guru TPQ ini, M. Nizar dalam kesempatan wawancara.

Attauhidiyyah Giren

“Mungkin selanjutnya kami akan mengembangkan pelatihan semacam ini di tingkat yang lebih luas, bisa jadi se kabupaten Jombang,” tambah mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Hasyim Asy’ari Tebuireng ini.

Acara yang dibuka oleh ketua LSPT, Muhammad As’ad dan melibatkan sejumlah tutor handal ini, diharapkan  bisa memberikan bekal yang cukup untuk para guru TPQ agar sukses dalam mendidik para murid dan menjadikan TPQ menjadi lembaga pendidikan yang bermutu dan berkualitas untuk generasi islam yang qur’ani. (Abror/Abdullah Alawi)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Humor Islam, Daerah, Pondok Pesantren Attauhidiyyah Giren

Rabu, 14 Oktober 2009

Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Pak ustadz, saya ingin menanyakan seputar shalat dua rakaat ketika masuk masjid atau yang dikenal dengan sebutan shalat tahiyyatul masjid. Pertama, apa makna shalat tahiyyatul masjid? Yang kedua, apabila kita masuk masjid kemudian duduk, apakah anjuran melakukan shalat tahiyyatul masjid gugur?

Ketiga, ketika kita masuk masjid mengingat waktunya begitu sempit kemudian kita langsung melakukan shalat qabliyyah, bolehkah kami menggabungkan niat shalat sunah qabliyyah dengan shalat tahiyyatul masjid. Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Ahmad Majid/Pekalongan)

Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1)

Jawaban

Attauhidiyyah Giren

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Setidaknya ada tiga pertanyaan yang diajukan kepada kami. Karena keterbatasan ruang dan waktu, kami akan menjawab satu demi. Dalam kesempatan ini terlebih dahulu kami menjawab pertanyaan pertama. Sedang untuk yang kedua dan ketiga akan kami jawab pada kesempatan berikutnya.

Menurut para ulama, hukum shalat tahiyatul masjid adalah sunah mu`akkad. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Atsram dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat, ‘Berikanlah hak masjid. Lantas mereka bertanya, ‘apa yang menjadi hak masjid?’ Jawab beliau, ‘Shalatlah dua rakaat sebelum kalian duduk.’”

Attauhidiyyah Giren

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Shalat tahiyyatul masjid termasuk shalat yang sangat dianjurkan karena berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-Atsaram yang bersambung sanadnya sampai Rasulullah SAW (marfu`): ‘Berikanlah hak masjid. lantas mereka pun bertanya, apa yang menjadi hak masjid. Jawab beliau, ‘Shalatlah dua rakaat sebelum kalian duduk,’” (lihat Muhammad ‘Arafah Ad-Dasuqi, Hasyiyatud Dasuqi, Beirut, Darul Fikr, juz I, halaman 313).

Seseorang yang menjalankan shalat tahiyyatul masjid sudah semestinya berniat mendekatkan diri kapada Allah (taqarrub). Sebab, apa yang dimaksud dengan tahiyyatul masjid pada dasarnya adalah memberikan salam penghormatan kepada Pemilik Masjid (tahiyyatu rabbil masjid) yaitu Allah SWT.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sudah semestinya ketika menjalankan shalat tersebut niat bertaqarrub kepada Allah swt bukan kepada masjid. Sebab, pengertian dari pernyataan; ‘tahiyyatul masjid’ adalah tahiyyatul rabbil masjid (salam kepada Pemilik masjid),” (Lihat Muhammad ‘Arafah Ad-Dasuqi, Hasyiyatud Dasuqi, juz I, halaman 313).

Berpijak dari sini dapat dipahami bahwa shalat tahiyyatul masjid adalah shalat dua rakaat yang dilakukan seorang Muslim ketika masuk masjid sebelum duduk. Sebagai bentuk salam penghormatan kepada masjid, di mana salam penghormatan kepada masjid pada hakikatnya adalah salam penghormatan kepada Pemilik masjid, yaitu Allah swt.

Logika sederhana yang digunakan untuk menjelaskan hal ini adalah sebagaimana orang yang masuk ke dalam istana raja. Maka yang dilakukan adalah memberikan salam atau penghormatan bukan kepada istananya tetapi kepada pemiliknya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Karena ketika orang masuk istana raja, maka ia memberikan salam (penghormatan) kepada raja bukan kepada istananya,” (Lihat Muhammad ‘Arafah Ad-Dasuqi, juz I, halaman 313).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ulama, RMI NU Attauhidiyyah Giren