Senin, 31 Juli 2017

Upaya Bangsa dalam Memperkuat Negara

Oleh Fathoni Ahmad

Keselarasan atau harmoni Negara Republik Indonesia yang telah tercipta selama beberapa dasawarsa oleh instrumen bernama Pancasila tetap saja mendapat rongrongan dari beberapa kelompok. Untuk melegitimasi gerakannya, mereka bahkan menenteng panji agama Islam sehingga seolah mampu mengobarkan militansi semua dari diri seseorang.

Upaya Bangsa dalam Memperkuat Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Upaya Bangsa dalam Memperkuat Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Upaya Bangsa dalam Memperkuat Negara

Terkait hal ini, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sering menekankan, pada hakikatnya mental intoleran ada pada setiap manusia. Sikap ini akan meledak-ledak ketika mendapat sedikit percikan api untuk melakukan rongrongan terhadap dasar negara sehingga pemahaman anti-Pancasila menyeruak. Mereka menilai bahwa sudah semestinya sebagai negara mayoritas muslim, dasar negara yang harus diterapkan juga harus berdasarkan syariat Islam.

Di titik inilah mereka memahami Islam secara simbolik yang harus bertengger menjadi formalisasi agama dalam sistem negara. Padahal Gus Dur sendiri menyampaikan bahwa Islam tak perlu dikerek menjadi bendera. Dalam konteks bangsa Indonesia yang plural, tentu arogansi sebagian kelompok Islam yang ngotot dengan khilafah akan membuat bangsa Indonesia tercerai berai. Apalagi kelompok tersebut tak segan-segan menghabisi nyawa manusia jika tak sepaham dengannya. Inilah yang disebut radikalisme berbaju agama sehingga muncul tindakan terorisme. Padahal terorisme sendiri tidak mempunyai agama. Artinya, agama dan keyakainan mana pun tidak mengajarkan kekerasan, apalagi membunuh sesama manusia.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa konsep negara di kalangan kaum muslimin masih belum mendapat kesepakatan. Setidaknya kaum muslim harus menyadari dan meletakkan agama Islam sebagai ruh kehidupan bangsa dan negara. Bukan sebaliknya, agama berusaha diformalisasikan ke dalam sistem negara. Apalagi di negara yang majemuk seperti bangsa Indonesia. Belajar dari Gus Dur, seluruh bangsa hanya perlu berempati dan mempunyai rasa toleransi tinggi untuk mewujudkan persatuan sehingga dapat memperkuat negara.

Menurut Gus Dur, hal ini berimplikasi pada kesadaran bela negara yang muncul dari sebagian elemen bangsa, seperti Gerakan Santri Bela Negara dan gerakan serupa yang akan digelar di Pekalongan, Jawa Tengah pada 27-29 Juli 2016 mendatang. Namun Gus Dur (1991) menekankan bahwa konsep bela negara jangan serta merta dipahami sebagai perjuangan fisik karena selama ini kewajiban bela negara selalu ditekankan sebagai kewajiban kemiliteran sehingga warga negara harus mengikuti wajib militer.?

Attauhidiyyah Giren

Terminologi bela negara di beberapa negara juga diartikan sebagai bela diri. Namun demikian, seperti yang dijelaskan Gus Dur di atas, kewajiban bela negara sebagaimana tentara Jepang dikatakan sebagai self defend force (kekuatan bela diri Jepang). Jadi jangan dikira memakai pedang, toya, main karate, dan sebagainya. Tetapi bela diri modern menggunakan kapal laut, kapal terbang yang mutakhir, dan senjata berteknologi modern.

Begitu juga dengan bela diri di Israel for self defend forces, kekuatan bela diri Israel. Konsep ini di tempat-tempat lain masih berarti yang sangat sempit, yaitu menyatakan kesanggupan untuk membela secara fisik dan militer tiap ancaman, serangan dari luar, atau bahkan ketika menyerang keluar (Gus Dur, 1991).

Paradigma ini agaknya tertanam pada diri sebuah kelompok yang kini mengangkat senjata, menginvasi, hingga membunuh orang lain untuk sebuah jargon negara Islam, contoh ISIS (Islamic State in Iraq and Sham). Dengan alasan rindu kejayaan kekhalifahan Islam masa lalu, mereka merasa perlu bahkan harus mendirikan negara khilafah Islam agar agama mayoritas penduduk dunia ini kembali menemukan kejayaannya. Padahal junjungan umat muslim, Muhammad SAW tidak pernah secarik kalimat pun mendeklarasikan negara Islam. Bahkan yang Ia dirikan adalah negara Madinah dengan dasar Piagam Madinah. Undang-undang negara ini poin pentingnya adalah setiap bangsa, kelompok agama, suku, dan lain-lain harus mengedapankan toleransi satu sama lain demi memperkuat negara dan mewujudkan harmonisasi antarbangsa.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) beberapa langkah lebih maju karena memahami bela negara maupun bela diri secara luas, tidak sempit. Artinya, kewajiban membela negara diekspresikan dan diartikulasikan dengan saling berempati, memperkuat wawasan kebangsaan, menjaga dan melestarikan tradisi, adat maupun budaya lokal sebagai modal identitas bangsa, serta meneguhkan Pancasila sebagai dasar negara yang sama sekali tidak bertentangan dengan Islam, bahkan ia mampu memperkuat nilai-nilai keislaman sehingga para ulama Indonesia, khususnya pesantren menilai bahwa mengamalkan Pancasila senilai dengan menjalankan syariat Islam. Inilah yang disebut pemahaman Islam substantif, bukan paham Islam simbolik yang ingin memformalisasikan agama ke dalam sistem negara.

Attauhidiyyah Giren

Meskipun mampu mengejawantahkan konsep bela negara secara luas, tetapi bangsa Indonesia tak segan-segan mengangkat senjata demi kewajiban membela negara dari rongrongan penjajah seperti yang dilakukan para kiai dan santri dalam pertempuran di Surabaya tahun 1947 untuk mengusir kolonialisme. Oleh sebab itu, tantangan bangsa Indonesia untuk memperkuat negara menjadi krusial ketika rongrongan terhadap negara telah dibungkus dalam baju agama sebagai bentuk kolonialisme modern.Dalam hal ini, Gus Dur (1991) memberikan penjelasan substantif apa yang telah dilakukan oleh Nahdlatul Ulama (NU), organisasi yang didirikan para kiai pesantren dengan konsistensinya dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara. Pertama, menurut Gus Dur, NU mampu menjaga agar tetap lurus dalam memandang kenegaraan sebagai sebuah bangsa. Terminologi bangsa dalam hal ini adalah kemajemukan, keberagaman, dan perbedaan yang harus terus dirawat. Karena menurut Gus Dur, semakin berbeda kita, semakin kita mengetahui titik-titik persatuan kita sebagai bangsa.?

Pandangan negara bangsa (nation state) yang terus dirawat oleh NU karena ada kecenderungan manusia ketika menjadi modern menghendaki negara ini salah satu di antara dua: lepas dari agama sama sekali (menjadi negara sekuler) atau negara dimotivasi oleh agama seperti gairah mendirikan negara Islam. Tentu paradigma ini tidak terlepas dari kehidupan bangsa Indonesia yang semakin modern. Dalam konteks ini, menjadi bangsa Indonesia yang mampu memodernisasi tradisionalitas dan mentradisionalisasi modernitas menjadi penting seperti prinsip NU dalam menyikapi perubahan global dengan tetap berpegang teguh pada: al-muhafadzah alal qadimis sholih, wal akhdzu bil jadidil ashlah (menjaga tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).?

Kedua, NU mampu menjaga agama untuk tetap mewarnai kehidupan bangsa dan negara. Artinya, kehidupan beragama tetap menjadi penopang keharmonisan bangsa karena agama pada intinya mengajarkan kebaikan. Di titik inilah masyarakat muslim penting menempatkan Islam sebagai agama publik, yakni agama yang mampu menjaga harmonisasi interaksi sosial sesama anak bangsa. Bukan sebaliknya, menempatkan agama di menara gading sehingga buta akan kebersamaan yang justru bisa diwujudkan oleh sesama penganut agama dengan dasar muwafaqah atau kesamaan sebagai anak bangsa dari sebuah negara bangsa.***

Penulis adalah Dosen STAINU Jakarta, Anggota Kaukus Penulis Aliansi Kebangsaan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kiai, Santri Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 29 Juli 2017

Dasar Semua Pemikiran Gus Dur adalah Islam sebagai Rahmat

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Semua dasar pemikiran Gus Dur berpijak pada ajaran agama Islam yang diyakininya yakni rahmatan lil alamin. Hal tersebut disampaikan istri mendiang KH Abdurrahman Wahid, Hj Shinta Nuriyah, saat membuka Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) yang diselenggarakan Komunitas Gusdurian Jakarta pada Sabtu (1/4) pagi di Yayasan Puan Amal Hayati, Ciganjur, Jakarta Selatan.

Dasar Semua Pemikiran Gus Dur adalah Islam sebagai Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)
Dasar Semua Pemikiran Gus Dur adalah Islam sebagai Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)

Dasar Semua Pemikiran Gus Dur adalah Islam sebagai Rahmat

“Semua ilmu yang didapatkan Gus Dur adalah untuk rahmatan lil alamin. Itu sebabnya Gus Dur menjunjung tinggi kemanusiaan. Kemanusiaan tersebut ketika dicocokkan dengan kondisi masyarakat yang pluralis, maka Gus Dur pun menerapkan pluralisme,” urai Bu Sinta, sapaan akrabnya.

Menurut Shinta, sosok Gus Dur dikenalnya ketika Gus Dur telah memasuki usia dewasa, di mana Gus Dur telah menjajagi kehidupan yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Pemikiran dan gagasan yang ditinggalkan Gus Dur selama hidupnya sangat cemerlang. Dan yang terpenting Gus Dur juga mengamalkan pemikiran tersebut. 

“Banyak orang yang punya ilmu yang baik sekali tapi apa yang dilakukan berbeda (dengan ilmu yang dikuasainya). Kepintaran dipakai untuk ujaran kebencian, mencaci maki orang lain, mengkafirkan orang lain dan perilaku-perilaku tidak pada tempatnya,” katanya di hadapan peserta yang berasal dari sejumlah kampus di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi.

Attauhidiyyah Giren

Kebudayaan di Indonesia kebanyakan diwarnai sikap atau landasan bahwa perempuan hanyalah konco wingking. Tetapi Gus Dur mendobrak hal itu, dan justru menjunjung kesetaraan perempuan.

“Gus Dur menegaskan jangan meremehkan perempuan. Peran perempuan sangat vital, sebagai tokoh sentral dalam kehidupan manusia, dan madrasah pertama bagi manusia,” tutur Shinta.

Dalam hal berdemokrasi, menurut Bu Sinta, Indonesia masih belajar. “Negara kita masih muda, masih mencoba melalui suatu gagasan demokrasi. Jadi sedang belajar demokrasi. Wajar saja kalau kadang-kadang kebablasan, kadang-kadang ketinggalan,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan para peserta agar menerapkan demokrasi berdasarkan pemikiran yang digali dari gagasan Gus Dur. Menurutnya penyelenggaraan Kelas Pemikiran Gus Dur sangat tepat karena Indonesia tengah berada dalam keadaan tidak kondusif. 

“Keadaan saat ini banyak ujaran kebencian, upaya pecah belah, dan penistaan. Kelas atau pelatihan ini sangat tepat dilakukan,” katanya.

Attauhidiyyah Giren

Kelas Pemikiran Gus Dur Jaringan Gusdurian Jakarta, berlangsung Sabtu-Ahad, 1-2 April 2017. Kelas diisi sejumlah pembicara yakni Priyo Sambadha Wirowijoyo, Abdul Moqsith Gozali, Ahmad Maftuchan, Zastrow Al-Ngatawi, Savic Ali, Jay Ahmad.

Ketua Panitia KPG 2, Agustina Iskandar menuturkan kelas tersebut merupakan upaya memperkenalkan sosok, gagasan, dan perjuangan Gus Dur di bidang agama, politik, sosial, seni dan budaya secara lebih sistematis dan mudah dipahami. Forum juga dimaksudkan untuk meningkatkan wawasan tentang nilai-nilai yang diperjuangkan Gus Dur sekaligus menghubungkan dengan berbagai isu dan bidang tersebut.

Dalam KPG, para peserta mendapatkan materi pemikiran Gus Dur dan mendiskusinya pada sesi dialog interaktif dengan para pemateri; peserta dibagi ke dalam kelompok dan mendapatkan tugas-tugas yang dapat memperkuat tim dan membangun kerja sama tim yang baik. 

Peserta juga menampilkan pertunjukan seni. Kegiatan ini melatih mereka untuk belajar secara tim dan juga belajar kebudayaan. Di akhir sesi peserta diberi kesempatan untuk menyusun rencana tindak lanjut yang dapat dilakukan secara berkelanjutan. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pahlawan, Kajian Islam, Kajian Attauhidiyyah Giren

Jumat, 28 Juli 2017

Khofifah: Perppu Kebiri Segera Disahkan Menjadi Undang-Undang

Sawahlunto, Attauhidiyyah Giren. Menteri Sosial Republik Indonesia, Khofifah Indar Parawansa mengatakan Peraturan Pemerintah Penggnti Undang-undang (Perppu) tentang hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual segera disahkan menjadi Undang-Undang (UU).

Khofifah: Perppu Kebiri Segera Disahkan Menjadi Undang-Undang (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Perppu Kebiri Segera Disahkan Menjadi Undang-Undang (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Perppu Kebiri Segera Disahkan Menjadi Undang-Undang

"Proses pembahasan di tingkat fraksi sudah selesai dilaksanakan, tinggal menunggu pengesahan yang diperkirakan selesai pada Agustus 2016," kata dia di Sawahlunto, usai melantik Laskar Anti Narkoba Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Sumatera Barat (Sumbar) di Sawahlunto, Kamis (4/8).

Setelah disahkan, jelasnya, maka pelaku kejahatan seksual yang korbannya mengalami trauma sangat dalam atau mengalami infeksi saluran hingga menyebabkan hilangnya nyawa korban akan diberikan hukuman tambahan berupa penghilangan fungsi ereksi organ vital atau biasa disebut dengan kebiri.

Hukuman tersebut juga akan diberlakukan jika pelaku kejahatan tersebut merupakan orang-orang terdekat korban atau orang yang memiliki profesi terhormat seperti pendidik atau oknum pejabat publik.

Attauhidiyyah Giren

"Selain hukuman tambahan, pelaku kekerasan seksual juga dapat diberikan hukuman pemberatan seperti hukuman mati dan kurungan seumur hidup yang seluruhnya akan ditentukan oleh putusan majelis hakim sesuai tingkat kejahatan yang dilakukannya," tambah dia.

Menurutnya, proses pemberian hukuman pemberatan dan hukuman tambahan tersebut sangat tergantung pada proses pembuktian oleh penyidik, antara lain kondisi korban serta latar belakang pelakunya.

Attauhidiyyah Giren

Selain hukuman kebiri, lanjutnya jenis hukuman tambahan yang bisa dijatuhkan dapat berupa pengumuman identitas pelaku kekerasan seksual kepada khalayak ramai serta pemasangan alat deteksi keberadaan pelaku dimana saja berada.

"Sehingga masyarakat dapat mewaspadai kehadirannya dan bisa melapor jika tindakan pelaku sudah mengarah pada perbuatan kekerasan seksual, disamping menimbulkan efek jera bagi pelaku-pelakunya," ujar dia.

Disinggung mengenai kegiatan Laskar Anti Narkoba yang ia lantik tersebut, dia mengatakan hal itu merupakan bentuk kepedulian organisasi Muslimat NU dalam menyikapi status darurat narkoba di negara ini.

"Laskar tersebut akan bekerja secara aktif dalam membantu tugas-tugas lembaga pemerintah yang mengurusi penyalahgunaan narkoba, salah satunya dengan memberikan penyuluhan serta deteksi dini indikasi penyalahgunaannya mulai dari lingkungan keluarga masing-masing," jelasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit pada kesempatan itu mengemukakan pihaknya mencatat sebanyak 30 persen korban penyalahgunaan narkoba di provinsi itu, berasal dari kalangan anak-anak usia sekolah.?

Disamping itu, jelasnya, fakta lain yang tidak kalah mengejutkan adalah terjadinya peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS akibat berkembangnya prilaku lesbian gay biseksual dan trangender (LGBT) di Sumatera Barat.

Berdasarkan penelitian ahli, lanjutnya, prilaku tersebut mampu menularkan virus mematikan itu lebih cepat dari penggunaan narkoba memakai jarum suntik.

"Jika menggunakan narkoba menggunakan jarum suntik membutuhkan waktu lima tahun menularkan virus kepada pengguna, maka prilaku LGBT bisa menularkan dalam waktu lebih singkat," kata dia. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Budaya, Santri Attauhidiyyah Giren

Gaya KH Anwar Zahid Kocok Perut Jamaah Pengajian

Kudus, Attauhidiyyah Giren. Mendengar nama KH Anwar Zahid, masyarakat tentu  tidak asing lagi. Dari rekaman ceramahnya yang beredar, kiai asal Bojonegoro Jawa Timur ini sudah dikenal dengan gaya kocaknya saat menyampaikan taushiyah.

Gaya KH Anwar Zahid Kocok Perut Jamaah Pengajian (Sumber Gambar : Nu Online)
Gaya KH Anwar Zahid Kocok Perut Jamaah Pengajian (Sumber Gambar : Nu Online)

Gaya KH Anwar Zahid Kocok Perut Jamaah Pengajian

Tidak mengherankan, setiap pengajian yang menghadirkan kiai ini selalu dipenuhi para jamaah. Seperti halnya dalam acara pengajian halal bi halal dan HUT kemerdekaan ke 69 RI di halaman Masjid Al Muttaqin dukuh Lahar desa Puyoh Dawe Kudus Jawa Tengah, Sabtu siang (16/8) lalu.

Di depan ratusan warga puyoh dan sekitarnya itu, pengasuh pesantren Attarbiyah Islamiyyah Asysyafi”iyah Jawa Timur ini mampu menyedot perhatian jamaah yang hadir. Dari penampilannya di atas panggung sangat kalem, komunikatif dan bahasanya sangat lugas nan kocak namun mampu memberikan pemahaman atas intisari yang disampaikan.

Attauhidiyyah Giren

 

KH Anwar tidak banyakmenggunakan dalil-dalil Al-Qur’an atau Hadits. Ia hanya mengutarakan makna dari dalil yang dijadikan dasar tema pengajian. Kiai yang terkenal dengan tagline Qulhu ae lek ini mengakui jarang mengutip dalil berbahasa Arab di setiap ceramahnya.

 

“Alasannya, kalau saya banyak dalil nanti malah kamu-kamu ndak paham. Mending bahasa Jawa toh yang saya sampaikan juga arti dari dalil tersebut. Selain itu,  aku juga gak begitu hafal dalil,”ucapnya penuh canda yang disambut tawa jamaah.

Attauhidiyyah Giren

Pada kesempatan itu, KH Anwar banyak mengutarakan beberapa tema ceramah dari makna halal bi halal hingga HUT kemerdekaan. Ia mengajak warga untuk meningkatkan amal kebajikan usai melaksanakan puasa ramadhan.

“Karena bulan syawal adalah bulan peningkatan. Bila kita meningkat ibadah kita, berarti puasa ramadlan lulus ataupun berhasil. Begitu pula sebaliknya,” terangnya.

KH Anwar memang telah menjadi kerinduan warga untuk melihat secara langsung sosok kiai gaul ini. Saking kocaknya, ceramah satu setengah jam seakan masih kurang sehingga banyak jamaah yang ingin kiai Anwar tidak buru-buru mengakhiri ceramah.

Tetapi karena waktu tidak memungkinkan, Kiai Anwar menutup dengan doa bersama. Usai acara, warga pun berebut naik ke atas panggung untuk bersalaman.

“Betul betul kiai gaul mas, ceramahnya berisi juga membuat saya tertawa lepas. Tadi sempat terpingkal saya mendengar gaya bahasa kiai Anwar,” tutur Irfan salah seorang warga memberi kesan kepada Attauhidiyyah Giren.

Di Kudus, Kamis malam (21/8) ini KH Anwar Zahid kembali dijadwalkan hadir pada pengajian dalam rangka HUT Perusahaan rokok Sukun di Desa Gondosari Gebog Kudus. (Qomarul Adib/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sholawat Attauhidiyyah Giren

Kamis, 27 Juli 2017

NU Minta Wilayah dan Cabang Shalat Ghoib dan Tahlil untuk KH Ali Mustafa

Jakarta, Attauhidiyyah Giren - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) turut berduka cita yang sangat mendalam atas wafatnya Rais Syuriyah NU periode 2010-2015 KH Ali Mustafa Yakub, Kamis (28/4) pagi. Untuk itu pihak PBNU menginstruksikan pengurus seluruh wilayah dan cabangnya untuk melaksanakan shalat ghaib dan menggelar tahlilan untuk almarhum Kiai Ali Mustafa.

“Kami juga mengharapkan pengurus wilayah dan cabang untuk meneruskan instruksi ini kepada pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) di mana pun berada,” kata Rais Aam NU KH Maruf Amin di Jakarta, Kamis (28/4) siang.

NU Minta Wilayah dan Cabang Shalat Ghoib dan Tahlil untuk KH Ali Mustafa (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Minta Wilayah dan Cabang Shalat Ghoib dan Tahlil untuk KH Ali Mustafa (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Minta Wilayah dan Cabang Shalat Ghoib dan Tahlil untuk KH Ali Mustafa

Ucapan belasungkawa berdatangan dari pelbagai pengurus wilayah dan cabang NU di Indonesia. Salah satunya pengurus NU Serang. Mereka berdoa semoga Allah menerima amal baik almarhum KH Ali Mustafa Yakub dan mengampuni segala dosa serta kesalahannya.

Attauhidiyyah Giren

Almarhum Kiai Ali Mustafa dikenal sebagai kiai yang gigih melanjutkan pendidikan hadits yang menjadi fokus gurunya Hadlratus Syekh KHM Hasyim Asyari di tengah masyarakat. Kiai Ali Mustafa mengabdikan dirinya untuk pengembangan agama Islam takhassus hadits, salah satu kajian langka di Indonesia.

Almarhum yang juga alumnus Pesantren Tebuireng Jombang ini kemudian mendirikan Pesantren Luhur Ilmu Hadits Darussunnah di Pisangan Barat, Ciputat, Tangerang Selatan yang menjadi pusat kajian hadits di Indonesia. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren Pesantren Attauhidiyyah Giren

Senin, 24 Juli 2017

Bila Ada Rakyatnya Tak Makan, Muka Rasulullah Pucat

Rembang, Attauhidiyyah Giren. Pejabat Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri mengatakan, Rasulullah memimpin umat dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Apabila mengetahui rakyatnya ada yang tidak makan, Rasulullah langsung pucat an segera memberikan bantuan.

Bila Ada Rakyatnya Tak Makan, Muka Rasulullah Pucat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bila Ada Rakyatnya Tak Makan, Muka Rasulullah Pucat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bila Ada Rakyatnya Tak Makan, Muka Rasulullah Pucat

“Saya lebih berhak atas orang mukmin daripada diri sendiri. Seadainya ada orang mati meninggalkan harta, maka itu milik keluarganya. Seandainya ada orang mati meninggalkan hutang dan anak-anak asuhan, maka datanglah kepadaku, itu tanggung jawabku,” kata kiai yang akrab disapa Gus Mus itu menirukan pidato Rasulullah yang diriwayatkan Imam Muslim.

Gus Mus pada pengajian kitab Riyadhus Shalihin di Pondok Pesantren  Roudlatut Thalibin, Sabtu malam (12/07) itu kemudian mempertanyakan apa ada pemimpin model itu sekarangini. “Sekarang kamu mencari pemimpin seperti itu, dimana kamu mencarinya?” tutur Gus Mus.

Attauhidiyyah Giren

Gus Mus menjelaskan, ketika Rasululullah memimpin itu mengetahui keadaan rakyat jelatanya, tidak hanya tahu kondisi para pejabat elitnya saja. Hal ini karena pemimpin seperti Rasulullah itu pemimpin yang mencintai, bukan ditakuti oleh umatnya. “Sudahlah, pemimpin harus meniru Rasulullah. Rasulullah itu lengkap, tidak perlu mengidolakan siapa-siapa,” seru Gus Mus kepada para pemimpin sekarang.

Gus Mun menyerukan terutama kepada pemimpin untuk meladani akhlak Rasulullah dalam kepemimpinan. Demikian ini karena Allah telah mengatur sedemikian rupa untuk menjadikan Rasulullah sebagai teladan yang baik. “Percaya Allah dan Hari Akhir, tapi tidak meniru Rasulullah, patut dipertanyakan,” tegasnya.

Attauhidiyyah Giren

Soal pencalonan pemimpin supaya tidak terjadi perpecahan, Gus Mus mengajak umat untuk kembali pada ajaran Qur’an dan Sunnah Nabi. “Ngaku orang Islam, tapi tidak percaya Qur’an malah percaya koran,” tambah pengasuh Pesantren Roudlatut Thalibin, Leteh, Rembang.

Lebih lanjut Gus Mus menegaskan, Rasulullah hanya menyampaikan apa-apa hanya dari Allah saja. Jadi apabila mengikuti Rasulullah, sudah jaminan mengikuti Allah. “Makanya kalau mau kenal, baca biografinya, kalau pengen lengkap di Al-Qur’an banyak keterangan,” tandas Gus Mus dalam pengajian kitab yang dihadiri santri-santri dan masyarakat umum. (Muhammad Zidni Nafi’/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Cerita, Lomba Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 22 Juli 2017

Ini Cara Mudah Dapatkan Lailatul Qadar

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pengasuh Bahtsul Masail Attauhidiyyah Giren yang terhormat. Di sepuluh akhir bulan Ramadhan ini banyak orang mengharapkan mendapatkan Lailatul Qadar. Biasanya mereka meningkatkan intensitas ibadah di sepuluh terakhir bulan Ramadhan dengan harapan mendapatkan Lailatul Qadar.

Ini Cara Mudah Dapatkan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Mudah Dapatkan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Mudah Dapatkan Lailatul Qadar

Namun yang ingin kami tanyakan adalah amalan apa yang sekiranya dapat mempermudah atau mempercepat kita mendapatkan Lailatul Qadar. Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Wahyu/Bandung).

Jawaban

Attauhidiyyah Giren

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Dalam kesempatan ini kami akan menjawab pertanyaan kedua saudara Wahyu dari Bandung mengenai kiat-kiat atau cara bagaimana bisa mendapatkan Lailatul Qadar.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dikatakan bahwa kita dianjurkan untuk mencari Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

Attauhidiyyah Giren

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir di bulan Ramadhan,” (HR Bukhari).

Untuk mendapatkan Lailatul Qadar memang tidak mudah. Karenanya tidak semua orang bisa mendapatkannya. Dibutuhkan usaha keras dan tidak kenal lelah untuk selalu meningkatkan intensitas ibadah terutama pada sepuluh akhir di bulan Ramadhan sebagaimana yang dipraktikan Rasulullah SAW. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan hadits riwayat Muslim.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Aswad dari Aisyah ra ia berkata bahwa Nabi saw meningkat amal-ibadah pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan melebihi di waktu yang lain,” (HR Muslim).

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah SAW mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya dan membangungnkan keluarganya.

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?-?: ? ? ? ?- ? ? ? ? ? ? - ? ?

Artinya, “Dari Aisyah RA, ia berkata, bahwa Rasulullah SAW ketika masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan, mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya,” (Muttafaq ‘alaih).

Lantas apa yang dimaksud dengan mengencangkan kain bawahnya dalam hadits di atas? Menurut Ibnu Baththal, maksudnya ialah Rasulullah SAW tidak menggauli istrinya. Sedangkan yang dimaksud dengan membangunkan keluarganya adalah beliau menganjurkan dan mendorong keluarganya untuk melakukan? mengingatkan keluarganya untuk melakukan amaliah sunah dan kebajikan lainya yang bukan fardhu.

? ? ? : ? : ( ? ? ) ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? : ( ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .

Artinya, “Sufyan Ats-Tsauri berkata maksud ‘mengencangkan kain atasnya’ dalam hadits di atas adalah Rasulullah SAW tidak melakukan hubungan badan dengan istrinya. Sedangkan pernyataan ‘Beliau (Nabi saw) membangunkan keluarganya’ dapat dipahami bahwa suami dianjurkan mendorong keluarganya untuk mengerjakan amalan sunah dan amal kebajikan lainya selain yang wajib serta menekankan kepada mereka untuk melakukan hal tersebut,” (Lihat Ibnu Baththal, Syarhu Shahihil Bukhari, Riyadl-Maktabah Ar-Rusyd, cet ke-2, 1423 H/2003 M, juz IV, halaman 159).

Lantas bagaimana yang dimaksud dengan Rasulullah SAW menghidupkan malamnya? Apakah beribadah semalam suntuk sampai pagi? Jawaban yang tersedia adalah Rasulullah SAW tidak tidur tetapi disibukkan dengan ibadah pada sebagian besar malam, bukan semalam suntuk sampai pagi. Sebab, ada riwayat dari Aisyah RA yang menyatakan bahwa ia tidak pernah mengetahui Rasulullah SAW beribadah semalam penuh sampai pagi.

(? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(dan menghidupkan malamnya) maksudnya adalah Rasulullah SAW tidak tidur di mana tidur adalah saudara kematian, dan beribadah pada sebagian besar malam bukan seluruhnya sebab ada riwayat dari Aisyah ra yang menyatakan: ‘Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah SAW melakukan ibadah satu malam penuh sampai pagi hari,’” (Lihat, Abdurrauf al-Munawi, Faidlul Qadir, Bairut-Darul Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1415 H/1994 M, juz V, halaman 168).

Dengan mengacu kepada penjelasan di atas maka setidaknya ada tiga amaliah yang bisa dilakukan. Amaliah itu diharapkan dapat mempermudah kita untuk mendapatkan Lailatul Qadar, yaitu pada sepuluh akhir Ramadhan pertama, untuk sementara tidak melakukan hubungan suami-istri. Kedua, meningkatkan intensitas beribadah terutama pada malam hari. Ketiga, mendorong atau meminta keluarga untuk melakukan amaliah sunah dan amal kebajikan selain yang fardhu.

Bagi para pembaca, tingkatkan ibadah serta kebajikan, lebih-lebih pada sepuluh akhir pada bulan Ramadhan.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pahlawan, Khutbah, Cerita Attauhidiyyah Giren

Jumat, 21 Juli 2017

Pemerintah Perkuat Mutu Pelatihan Kerja dan Pemagangan

Jakarta, Attauhidiyyah Giren

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Ketenagakerjaan RI (Kemnaker) terus memperkuat mutu dan akses pelatihan kerja untuk meningkatkan kompetensi SDM Indonesia. Selain itu, Kemnaker juga terus menggalakkan Program Pemagangan untuk mendukung ? percepatan peningkatan kompetensi tersebut.

“Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Ketenagakerjaan terus melakukan upaya untuk memberi akses angkatan kerja masuk ke dunia kerja yang dilakukan melalui pelatihan kerja dan program pemagangan yang sesuai dengan kebutuhan industri,” kata Sekjen Kemnaker, Hery Sudarmanto pada Diskusi Ketenagakerjaan di Jakarta,Rabu (22/11).

Pemerintah Perkuat Mutu Pelatihan Kerja dan Pemagangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Perkuat Mutu Pelatihan Kerja dan Pemagangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Perkuat Mutu Pelatihan Kerja dan Pemagangan

Dalam diskusi bertemakan Kerja sama Pemerintah dan Dunia Industri untuk Meningkatkan Kompetensi Tenaga Kerja Melalui Pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) dan Program Pemagangan? tersebut, ia memaparkan bahwa saat ini angkatan kerja Indonesia berjumlah 128,06 juta (BPS, Agustus 2017). Jumlah tersebut naik 2,62 juta orang dibandingkan dengan Agustus 2016 sebesar 125,44 juta orang.

Sedangkan Tingkat Penganggura Terbuka (TPT) tahun 2017 mengalami penurunan sebesar 0,11 persen. Pada Agustus 2016, TPT Indonesia sebesar 5,61 persen. Pada Agustus 2017, TPT Indonesia sebesar 5,50 persen.

“Hanya saja, jumlah angkatan kerja Indonesia masih didominasi oleh lulusan SD-SMP yang mencapai 60 persen,” kata Sekjen Kemnaker.

Attauhidiyyah Giren

Untuk itu, pemerintah terus memperkuat mutu dan akses Balai Latihan Kerja (BLK) untuk kompetensi angkatan kerja Indonesia. Saat ini, masyarakat Indonesia dapat mengikuti pelatihan di BLK tanpa dipungut biaya serta tanpa pembatasan maksimal usia dan minimal jenjang pendidikan.

Selain itu, upaya ini didukung dengan program pemagangan. Sampai saat ini, Kemnaker telah bekerjasama dengan 107 Lembaga Pengirim Pemagangan Luar Negeri. Sedangkan pemagangan dalam negeri, pelaksanaanya tersebar di 32 provinsi dengan melibatkan sedikitnya 7 kawasan industri.

“Pada tahun 2016, pemagangan dalam negeri diikuti 25.847 orang peserta. Sementara itu, pemagangan luar negeri diikuti oleh 6.620 orang peserta,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Binalattas Kemnaker, Bambang Satrio Lelono menjelaskan bahwa sistem pendidikan di Indonesia juga dihadapkan persoalan miss match. Yakni ketidak sesuaian antara orientasi pendidikan dengan pekerjaan setelah lulus. Oleh karenanya, pelatihan di BLK ini juga bisa memperkuat kompetensi mereka.

Attauhidiyyah Giren

“Kami juga mendorong pelatihan kerja di BLK dengan program 3R BLK. Program ini dimaksudkan agar pelatihan kerja di BLK fokus dengan potensi daerah setempat atau kebutuhan pasar kerja. Artinya, pelatihan berbasis demand driven,” Bambang Satrio menjelaskan.

Saat ini ada 301 BLK di seluruh Indonesia, 17 diantaranya adalah UPTP Kemnaker dan sisanya milik pemda. Adapun, kapasita latih BLK mencapai 276 ribu orang per tahun. Untuk dapat memenuhi kebutuhan Indonesia akan tenaga kerja terampil, kapasitas BLK ini akan terus ditingkatkan.

“Pelatihan di BLK juga diharapkan menjadi sarana peningkatan kompetensi bagi masyarakat yang habis putus PHK,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Kompartemen Kadin Indonesia, Bob Azam saat ini Indonesia tidak hanya bisa mengandalkan Sumber Daya Alam (SDA) sebagai penggerak utama ekonomi. Hal ini disebabkan salah satunya oleh perkembangan teknologi dan informasi (TI) pada hampir semua aspek.

Menurutnya, saat ini faktor utama penggerak ekonomi adalah penguasaaan teknologi dan SDM kompeten.

“Selain diimbangi dengan inovasi dan perbaikan iklim bisnis, faktor kunci lain untuk menyambut perubahan ini adalah penyiapan SDM kompeten,” terangnya.

Ia menambahkan, 56 persen pasar kerja Indonesia rentan akan perubahan yang disebabkan oleh technology disruption. Oleh karenanya, program percepatan kompetensi haruslah mendapat dukungan dari semua pihak. Baik pelaku industri maupun masyarakat secara umum.

“Sebagai konsep untuk pengembangan manajemen SDM ke depan, pemagangan yang digagas oleh pemerintah dapat menjadi konsep percepatan pengembangan SDM,” terangnya lagi. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nusantara, AlaSantri, Budaya Attauhidiyyah Giren

Hanya PBNU yang Berhak Keluarkan Ikhbar Hasil Rukyat

Brebes, Attauhidiyyah Giren. Sebagai puncak dari struktur organisasi, hanya Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang nantinya berhak memutuskan kapan awal bulan Ramadhan atau Syawal, sedangkan pengurus wilayah, pengurus cabang dan di bawahnya harus mengikuti.



Hanya PBNU yang Berhak Keluarkan Ikhbar Hasil Rukyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hanya PBNU yang Berhak Keluarkan Ikhbar Hasil Rukyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hanya PBNU yang Berhak Keluarkan Ikhbar Hasil Rukyat

Pernyataan ini diungkapkan oleh Wakil Khatib Syuriyah PBNU KH Malik Madany dalam acara Silaturrahmi Nasional Ahli Hisab dan Ahli Rukyat yang diselenggarakan di Ponpes Al Hikmah Bumiayu Brebes 6-8 September.

Dikatakan oleh Malik bahwa NU menggunakan metode rukyat dan istikmal atau penyempurnaan ketika hilal tidak terlihat. NU juga mengambil pendapat yang memberi peluang ditolaknya hasil rukyat seperti dalam kitab Tuhfatul Muhtaj dengan syarat semua ahli hisab dengan dasar-dasar yang qothi sepekat tentang tidak adanya imkanurrukyat dan jika jumlah ahli hisab mencapai jumlah yang mutawattir.

Attauhidiyyah Giren

“Penolakan terhadap kesaksian rukyat dalam kasus itu tidak harus diartikan sebagai penolakan terhadap eksistensi rukyat sebagai pedoman pokok, melainkan dapat dibaca sebagai penolakan terhadap laporan orang yang mengaku berhasil merukyat,” katanya.

Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) KH Ghozalie Masroeri juga menegaskan tentang  pentingnya tertib organisasi dalam melakukan pelaporan hasil rukyat kepada masyarakat. Ia meminta agar jajaran pengurus NU di daerah tidak sembarangan mengumumkan hasil rukyat karena ini akan mempersulit posisi PBNU.

Attauhidiyyah Giren

“PBNU sekarang sudah go internasional, kasihan Kiai Hasyim Muzadi harus menjelaskan kepada para ulama-ulama di seluruh dunia, kenapa diantara NU sendiri, hari rayanya berbeda,” katanya.

Kiai Ghozalie menyatakan bahwa LFNU hanya menggunakan metode hisab tahqiqi dengan tingkat akurasi yang tinggi sebagai pedoman perhitungan yang menjadi acuan dalam melaksanakan rukyat. Sebagai informasi, terdapat banyak sekali metode hisab yang berkembang dalam masyarakat. Namun secara umum dibagi dalam tiga kategori.

Kategori pertama adalah hisab tagribi yang dalam prosesnya menggunakan data tabel sederhana dan tanpa ilmu ukur bola seperti yang terdapat dalam kitab Sullamun Nayyirain, Fathurrufil Manan dan Qowaidul Falaqiyah. Metode kedua adalah hisab haqiqi tahqiqi yang menggunakan tabel, prosesnya lebih panjang dan menggunakan ilmu ukur bola seperti dalam kitab Khulashul Wafiyah, Hisab Haqiqi dan Nurul Anwar.

Metode ketiga adalah hisab kontemporer yang sudah menggunakan rumus-rumus yang panjang dan rumit sehingga prosesnya menggunakan komputer dengan hasil yang lebih akurat seperti Almanak Nautica, Jean Meeus dan New Comb. Saat ini juga sudah beredar sejumlah perangkat lunak komputer yang sudah tersedia di pasaran seperti Mawaqit hasil karya Dr. Hafid, Astroinfo dari Tumasoftware, USA, MoonCale karya Dr. Manzur Ahmad dari Universitas Birmingham Inggris.

Sementara itu Staf Litbang LFNU Dr. Jamhur Effendy DEA menjelaskan terdapat tiga faktor yang mempengaruhi hasil rukyat yang berkualitas yaitu metode hisab yang digunakan, kondisi langit saat  dirukyat dan kualitas perukyat itu sendiri.(mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Habib, IMNU Attauhidiyyah Giren

Kamis, 20 Juli 2017

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin?

Saya sedang belajar Iqro’ melalui guru privat namun masih dalam proses, sambil mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Sementara ini saya membaca Al-Qur’an sehari-hari untuk shalat, atau surat-surat pendek dari huruf latin. Yang ingin saya tanyakan, apakah sah saya membaca atau menghafal Al-Qur’an untuk shalat dari tulisan bahasa latin?

Apakah kalau saya membaca surat-surat pendek atau potongan ayat hikmah dalam bahasa latin saya tetap mendapatkan pahala? Mohon maaf sebelumnya, karena saya sedang dalam proses belajar. Tapi karena sudah mulai tua dan sibuk, saya tidak secepat anak saya yang sama-sama belajar membaca Al-Qur’an.

Anggie, tinggal di Tangerang

?

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin? (Sumber Gambar : Nu Online)
Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin? (Sumber Gambar : Nu Online)

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin?

Jawaban:

Ibu Anggie yang saya hormati, belajar adalah kewajiban bagi setiap orang Islam. Kita patut bersyukur karena masih diberi kemauan, kemampuan dan kesempatan untuk belajar, apalagi belajar membaca Al-Qur’an. Belajar Al-Qur’an terkait dengan ibadah sholat. Bacaan dalam sholat berisi ayat-ayat AlQur’an dan beberapa bacaan do’a dalam sholat harus disesuaikan dengan cara baca yang benar dalam aturan membaca Al-Qur’an seperti memperjelas Tasydid/Syiddah dalam bacaan Tasyahhud Akhir. Al-Qur’an ditulis dengan bahasa arab dan tidak ada transliterasi yang tepat dalam bahasa lain. Pemindahan tulisan dari bahasa Arab ke bahasa lain bisa menghilangkan kekhasan Al-Qur’an dan berpengaruh pada cara baca dan arti yang dikandung dalam tiap kata. Ini pada gilirannya akan merubah makna dan perubahan makna bisa berakibat fatal.

Attauhidiyyah Giren

Ibu Anggie yang baik, ulama’ mengharamkan membaca al-Qur’an dengan tulisan latin karena dapat merubah cara baca dan arti dari Al-Qur’an. Imam Qulyubi memperbolehkan menulis Al-Qur’an dengan bahasa selain bahasa Arab tapi melarang membacanya. Penjelasan tentang hal ini disebutkan dalam kitab Hasyiyah Al-Jamal ’Ala Syarhil Minhaj juz I hal. 76 sebagai berikut :

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya : Imam Qulyubi berpendapat boleh menulis Al-Qur’an dengan selain bahasa arab namun tidak boleh membacanya, dan Al-Qur’an yang ditulis dengan selain bahasa arab tersebut dihukumi seperti mushaf(Al-Qur’an dalam bahasa Arab) dalam hal membawanya dan menyentuhnya.

?

Attauhidiyyah Giren

Namun demikian, ibu Anggie harus terus belajar hingga bisa membaca Al-Qur’an dengan tulisan Arab lengkap dengan tajwid-nya. Sholat ibu tetap sah karena masih dalam tahap belajar membaca Al-Qur’an. Bacaan Al-Qur’an ibu dengan tulisan latin tetap berpahala asal dengan niat yang baik. Semoga Ibu Anggie selalu diberi kemudahan dalam belajar, khususnya belajar membaca Al-Qur’an dan semoga amal Ibu Anggie dan kita semua diterima oleh Allah SWT. Aaamiin…

? Wallaahu Alamu bishshawab

?

Maftuhan

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Habib Attauhidiyyah Giren

Selasa, 18 Juli 2017

12 Fasilitator Baru Siap Kembangkan IPNU di Priangan Timur

Tasikmalaya, Attauhidiyyah Giren

Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Tasikmalaya menggelar latihan fasilitator (Latfas) 1 se-Priangan Timur (Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Garut, Kota Banjar, dan Kabupaten Pangandaran). Kegiatan dilaksanakan di Pesantren Nurul Ihsan, Nyemplong Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya 5-7 Mei 2016.

12 Fasilitator Baru Siap Kembangkan IPNU di Priangan Timur (Sumber Gambar : Nu Online)
12 Fasilitator Baru Siap Kembangkan IPNU di Priangan Timur (Sumber Gambar : Nu Online)

12 Fasilitator Baru Siap Kembangkan IPNU di Priangan Timur

Latfas 1 ini diikuti oleh 12 utusan dari PAC IPNU Kota Tasikmalaya dan PC IPNU se-Priangan Timur, yang merupakan hasil dari seleksi berkas dan seleksi tulisan. Untuk seleksi tulisan, para peserta diminta mengirim makalah dengan memilih salah satu dari tiga tema yaitu Sistem Kaderisasi, Rekrutmen Anggota, dan Pengembangan Kader. Ke-12 calon Fasilitator IPNU ini lansung dilatih oleh Pimpinan Pusat (PP) , Pimpinan Wilayah (PW), dan Majelis Alumni IPNU Kota Tasikmalaya.

Ketua IPNU Kota Tasikmalaya, Saeful Malik yang akrab dipanggil Apung dalam sambutannya menyatakan, tujuan diselenggarakannya Latfas ini adalah karena kebutuhan organisasi IPNU untuk merekrut para pelajar dan santri.

Attauhidiyyah Giren

Sehingga, setelah ini kader-kader terbaik Priangan Timur yang mengikuti Latfas ini dapat merekrut para pelajar yang ada di daerah atau pimpinannya masing masing. “Oleh karena itu kami selaku panitia tak sembarangan untuk menjadikan peserta pelatihan ini, dan 12 kader terbaik inilah yang memenuhi syarat dan melewati seleksi yang sanagat ketat, dan saatnya IPNU harus utamakan kualitas bukan hanya kuantitas,” ujarnya.

Latfas adalah mandat organisasi karena merupakan salah satu jenjang kaderisasi formal di IPNU, juga amanat dari NU yang diberikan kepada IPNU untuk melakukan kaderisasi dan advokasi di tingkat pelajar. (Husni Mubarok/Mahbib)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pondok Pesantren, Nahdlatul Attauhidiyyah Giren

Senin, 17 Juli 2017

PBNU Bekukan PWNU Kalsel

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), berdasarkan Surat Keputusan (SK) PBNU Nomer: 195/A.II.03/3/2007 membekukan kepengurusan Pengurus Wilayah NU Kalimantan Selatan (Kalsel). Untuk melanjutkan roda organisasi, PBNU membentuk caretaker untuk mempersiapkan penyelenggaraan konferensi wilayah (konferwil) selambat-lambatnya 1 bulan setelah terbitnya SK PBNU dan menjalankan fungsi administrasi keorganisasian.

Ketua PBNU H Ahmad Bagdja yang juga Ketua Caretaker menjelaskan, pembekuan itu dikarenakan adanya rangkap jabatan politik. Selain itu dikarenakan sebagian pengurus wafat atau tidak aktif karena berbagai alasan sehingga percepatan konferwil menjadi pilihan daripada perombakan (reshuffle) kepengurusan.

PBNU Bekukan PWNU Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Bekukan PWNU Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Bekukan PWNU Kalsel

Ketua PWNU Kalsel H. Rusdiasyah sekarang merangkap jabatan menjadi salah satu pengurus Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Beberapa pengurus juga ada yang rangkap jabatan menjadi pengurus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) atau Partai Golongan Karya (Partai Golkar).

Sebenarnya, PWNU setempat telah mengagendakan pelaksanaan konferwil yang dipercepat pada 14-15 Maret lalu. Namun kegiatan tersebut tidak terlaksana. “Ini menjadi alasan bagi PBNU untuk membentuk caretaker,” tandas Bagdja kepada Attauhidiyyah Giren, di Banjarmasin, Selasa (24/4).

Selanjutnya, PBNU juga meminta agar PWNU Kalsel masa jabatan 2003-2008 memberikan pertanggungjawaban tertulis sejak Juni 2003 sampai akhir Maret 2007.

Attauhidiyyah Giren

Susunan caretaker yang terbentuk dipimpin oleh H Ahmad Bagdja dengan Wakil Ketua merangkap anggota Dr H Artani Hasbi, Drs H Taufiq R Abdullah sebagai Sekretaris merangkap anggota, Drs H Masrur Ainun Najih sebagai anggota dan H Asmui Suhaimi, SE, MBA sebagai anggota.

Bagdja bersama timnya saat ini tengah berada di Banjarmasin Kalsel sedang melakukan koordinasi dalam upaya penyelenggaraan percepatan Konferwil. Ia berharap minggu kedua atau ketiga Mei mendatang, Konferwil sudah terselenggara. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Budaya Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren

Spiritualitas-Humanistik Kiai

Oleh Muhammad Afiq Zahara

Sudahkah kita meluangkan sejenak waktu untuk mengingat kiai-kiai kita? Merenungkan keteladanannya? Mengulang kembali wejangan-wejangannya di kehidupan kita? Dan mengirimkan doa kepadanya? Jika belum, saya sarankan untuk memulainya dari sekarang, paling tidak satu kali setiap harinya.

Spiritualitas-Humanistik Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Spiritualitas-Humanistik Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Spiritualitas-Humanistik Kiai

Islam masuk ke Indonesia melalui para sufi. Walisanga adalah ulama-sufi yang menyebarkan Islam menggunakan pendekatan budaya. Islam dikolaborasikan dengan budaya lokal untuk mempermudah orang-orang pribumi memahami ajarannya. Tidak ada penaklukan dan kampanye militer besar-besaran dalam proses islamisasi Nusantara.

Saya menganggap para kiai sebagai pewaris dakwah walisanga.Pendekatan yang mereka gunakan sama, mengawinkan budaya dengan agama, dan mempertahankan nilai-nilai luhurnya. Hal ini menjadi mungkin karena tasawuf sangat mengakar dalam tradisi intelektual mereka.

Tasawuf itulah yang kemudian menguatkan spiritualitas-humanistik sang kiai. Memandang dunia tidak lagi hitam-putih; menilai manusia tidak lagi dari dosa-pahala. Selama nafas masih dikandung badan, kemungkinan menjadi baik selalu terbuka. Pintu taubat selalu terbuka.

Hal itu dicontohkan oleh gaya mendidik para kiai di pesantren atau kampungnya masing-masing. Al-Magfûrlah Kiai Imam Muzani Bunyamin dari Bulus, Kebumen melarang santri-santrinya menyebut seorang santri yang ketahuan mencuri sebagai pencuri. Katanya: “Tidak ada santri mencuri, mereka hanya nyelang ora taren—meminjam tanpa izin.” 

Attauhidiyyah Giren

Meski terlihat sepele, dalam konteks pendidikan, kata-kata itu memberikan sentuhan magis tersendiri bagi para santri, khususnya bagi santri yang mencuri. Ia merasa dimanusiakan, sehingga menimbulkan hasrat berubah yang tinggi. Dawuh kiyainya tersebut tidak lain adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Tidak dikeluarkan dari pesantren dan terus menjadi santri.

Sedangkan untuk santri lainnya, dawuh Kiai Muzani tersebut mengajarkan bahwa manusia harus dipahami dengan kasih sayang. Siapapun orangnya berhak mendapatkan pengampunan dan kesempatan selama hidupnya. Jangan mudah memberi label salah, sesat, dan jahat kepada seseorang. Bisa jadi beberapa tahun kemudian, mereka menjadi orang yang baik.

Mereka hanyalah orang yang sedang berproses menjadi manusia. Dari yang jahat menjadi sedikit jahat; dari yang baik menjadi lebih baik, dan seterusnya. Jika para santritergesa-gesa melabeli mereka sebagai penjahat atau ahli maksiat, mereka akan semakin menjauh, karena santri-santri itu telah menutup pintu bagi mereka. Dakwah adalah pintu yang terbuka. Bisa dimasuki siapa saja, tanpa pilah dan pilih, seperti ucapan Maulana Rumi: 

Attauhidiyyah Giren

“Come, come, whoever you are,wanderer, idolater, worshiper of fire,come even though you have broken your vows a thousand times,come, and come yet again. Ours is not a caravan of despair—kemari, datanglah, siapapun kau, petualang, penyembah berhala, pemuja api, kemari mendekatlah meskipun kau telah mengingkari sumpah seribu kali, kemari mendekatlah. Kami bukanlah karavan keputus-asaan.”

Di tempat lain, di daerah Susukan, Cirebon, al-Maghfûrlah Kiai Jahari mengajarkan santrinya makna terdalam dari ketakziman dan praktik langsungnya. Setiap kali beliau menyapu, para santri berebut menggantikannya. Beliau selalu menolak dengan lembut, sembari berkata: “Jika kalian ingin benar-benar membantu, di sudut mushalla masih banyak sapu lainnya. Kenapa kalian memperebutkan sapuku ini, tapi tidak mengambil sapu-sapu itu. Toh, tujuannya sama, membersihkan mushalla.”

Dengan perkataan dan sikapnya, Kiai Jahari memberikan pelajaran berharga. Takzim tidak sesempit itu, tapi lebih pada apa tujuan dari perilakunya. Tujuan dari menyapu adalah kebersihan, bukan sekedar perasaan tidak enak hingga meminta sapu dari tangannya dan menggantikannya.Padahal di dalam mushalla itu masih banyak sapu lainnya. Disampingajaran keteladanannya tentang kemandirian dan tidak suka dilayani.

Ketajaman spiritualitas itulah yang membuat para kiyai sering menampakkan keteladan yang tidak terpikir oleh sembarang orang. Laku dakwahnya pun menarik, sangat inklusif dan tidak alienatif. Mereka tidak mengumbar dalil dalam berdakwah, tapi tindakan mereka yang kemudian dimaknai menjadi dalil.Karena memang, segala laku dakwah mereka berasal dari al-Qur’ân dan al-Hadîts.

Seperti Kiai Jahari yang setiap kali pulang hajatan (kondangan, dan lain-lain) selalu menghampiri penduduk yang kurang mampu dan masih jauh dari agama. Mengajak mereka berbincang tentang berbagai hal. Kemudian memakan berkatnya bersama-sama tanpa sekat. Maklum, berkat kiyai lebih banyak dari berkat pada umumnya. Sehingga dapat disantap oleh orang serumah. Perlahan-lahan anak-anak dari keluarga tersebut dihantarkan orangtuanya untuk mengaji di tempat Kiai Jahari.

Pendekatan pesuasif semacam inilah yang dikembangkan para kiai sedari dulu. Tanpa menghakimi dan menghardik. Keburukan diarahkan sedemikian rupa hingga menuju kebaikan. Mereka menyentuh hati masyarakat dan santri dengan keteladanan dan kelembutan. Membiarkan orang-orang tersebut mengenal kebaikan dengan sendirinya, tanpa paksaan dan kepura-puraan.

Di era yang serba maju ini, saya berharap fungsi sosial kiai dan sentuhan spiritualitas-humanistiknya tidak mengalami degradasi serius. Memang, tidak sedikit orang yang mulai menganggap sebagian kiyai telah kehilangan fungsi sosialnya.Akan tetapi, saya masih menemukan banyak kiai yang memiliki sentuhan itu, terutama di kampung-kampung. 

Jikapun degradasi itu terjadi, saya yakin bahwa para kiai akan menemukan jalannya sendiri atau membangun jembatan untuk melintasinya. Selama mereka dalam proses pendidikannya mengalami persinggungan secara langsung dengan para kiai yang tulus dan rendah hati.

Semoga guru-guru dan kiai-kiai kita selalu dalam lindungan dan rahmat Allah, baik kiai yang pernah mengajar kita secara langsung ataupun kiai yang mengajarkan keteladanan kepada kita dari kisah-kisahnya; baik kiai yang tidak pernah kita cium tangannya ataupun kiai yang tangannyapernah kita cium dengan takzim. Amin Ya Rabb al-‘âlamîn.

Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Bahtsul Masail, Kiai, Nahdlatul Attauhidiyyah Giren

Minggu, 16 Juli 2017

Tingkatkan Layanan dan Mutu, STISNU Tangerang Gerak Menuju Institut

Jakarta, Attauhidiyyah Giren - Pengelola Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang mengadakan rapat kerja civitas akademika di Cisarua Kabupaten Bogor, Rabu-Kamis (24-25/2). Mereka mencoba mencari pola kerja dalam rangka meningkatkan layanan dan mutu sekolah tinggi yang tengah dikelola.

KH A Baijuri Khotib dalam pengarahannya  meminta  civitas akademika untuk meningkatkan mutu dan layanan. Target tahun ini yang harus harus dicapai adalah kuantitas mahasiswa, sembari memperbaiki kualitas kampus NU Tangerang.

Tingkatkan Layanan dan Mutu, STISNU Tangerang Gerak Menuju Institut (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Layanan dan Mutu, STISNU Tangerang Gerak Menuju Institut (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Layanan dan Mutu, STISNU Tangerang Gerak Menuju Institut

"Tahun ini, kita agendakan membuka program studi baru sehingga kampus ini bisa segera alih status menjadi institut," kata Kiai Baijuri.

Wakil Ketua Bidang Kemasiswaan Nurulloh memaparkan bahwa dalam dua tahun ini kita menargetkan 15 doktor pengajar. STISNU akan merekomendasikan dan mengkuliahkan para dosen dengan catatan  wajib berikrar setia membesarkan kampus NU.

Attauhidiyyah Giren

"Kita harus siapkan SDM. Ketika alih status menjadi institut kita sudah siapkan tenaga yang berijazah doktor".

Attauhidiyyah Giren

Pada kegiatan ini dibahas pula konsep KKN yang akan diterapkan oleh STISNU Nusantara dengan mengedepankan penelitian, pengabdian, dan pemberdayaan.

Wakil Ketua Bidang Akademik STISNU Tangerang H M Qustulani menjelaskan, konsep KKN di STISNU akan diarahkan pada pengabdian ke-NU-an, yaitu menjaga tradisi dan budaya lokal keislaman masyarakat.

Penelitian akan diarahkan pada deteksi bahaya radikalisme di sekolah-sekolah se-Tangerang Raya sekaligus memberikan penyuluhan dan membuka wawasan generasi muda perihal pentingnya menerapkan ajaran Pancasila dan UUD 1945 yang sejatinya sesuai dengan ajaran Islam.

Sebab itu, kita akan menggandeng stakeholder NU untuk menjadikan mahasiswa sebagai laboratorium terdepan di bawah sebagai pioner yang bertanggung jawab atas ajaran Ahlussunnah wal Jamaah Nahdlatul Ulama di masa depan.

Tampak hadir pada rapat ini Waka STISNU Kemahasiswaan DR Bahruddin, ulama sesepuh Tangerang Abah Kiai Aliyuddin Zein, dan dosen-dosen di lingkungan STISNU Nusantara. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Tegal, Jadwal Kajian Attauhidiyyah Giren

JQH NU Kirim Peserta MTQ Internasional Moskow

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Jam’iyyatul Qurra wal-Huffazh (JQH) Nahdlatul Ulama akan mengirimkan peserta pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Internasional XIII yang akan berlangsung di Moskow, Rusia, (13-14/9) mendatang.

JQH NU Kirim Peserta MTQ Internasional Moskow (Sumber Gambar : Nu Online)
JQH NU Kirim Peserta MTQ Internasional Moskow (Sumber Gambar : Nu Online)

JQH NU Kirim Peserta MTQ Internasional Moskow

Menurut Ketua JQHNU KH Muhaimin Zein, peserta yang akan dikirim bernama Jajang Hasanuddin. Ia adalah Hafizh terbaik pada MTQ Internasional I yang digelar JQH NU, di Pontianak, Kalimantan Barat, pada Juli lalu.

“Ia merupakan hafizh Jam’iyyatul Qurra Wal-Huffazh NU dari DKI Jakarta,” ungkap Muhaimin di kediamannya, di bilangan Lebak Bulus, Jakarta, kemarin.

Attauhidiyyah Giren

Muhaimin menambahkan, akan diadakan doa bersama dan pelepasan Jajang di sekretariat JQHNU, gedung PBNU, Jakarta, Rabu malam (10/9).

Attauhidiyyah Giren

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ahlussunnah, News, Fragmen Attauhidiyyah Giren

Kamis, 13 Juli 2017

LPBINU Bojonegoro Bantu Korban Banjir di 9 Kecamatan

Bojonegoro, Attauhidiyyah Giren. LPBINU Bojonegoro melakukan distribusi bantuan kepada warga terdampak banjir. Distribusi dilakukan pada 4-5 Desember 2016 dibeberapa wilayah terdampak banjir. Dari 9 kecamatan yang terdampak, ada 2 kecamatan yang paling parah yaitu kecamatan Kanor dan Baureno.

Berdasarkan assessment di lapangan, LPBI NU melakukan distribusi di kedua kecamatan tersebut, bantuan yang diberikan kepada masyarakat berupa paket sembako, total ada 750 paket sembako yang diberikan kepada 4 desa terdampak, dua desa di Kecamatan Kanor (Desa Cangaan dan Kabalan)dan2 desa di kecamatan Baureno (Desa Tanggungan dan Desa Kalisari), juga satu desa yang ada di Kecamatan Balen (Desa Pilanggede).

LPBINU Bojonegoro Bantu Korban Banjir di 9 Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Bojonegoro Bantu Korban Banjir di 9 Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Bojonegoro Bantu Korban Banjir di 9 Kecamatan

Rahmat Maulana, Ketua LPBINU Bojonegoro berharap bantuan yang diberikan bisa meringankan beban masyarakat yang terdampak serta sebagai bentuk kepedulian terhadap nasib saudara–saudara yang terkena musibah.

Masyarakat mengaku sangat senang atas bantuan yang diberikan oleh LPBINU, serta berterima kasih kepada seluruh elemen yang telah memberikan dukungan yaitu PCNU, Banom NU, BMT NU Ngasem, ? Biro Umroh PCNU Bojonegoro. Juga dari PP LPBINU yang telah memberikan suport penuh terhadap kegiatan ini.?

Attauhidiyyah Giren

M. Ali Yusuf, Ketua PP LPBI NU, memberikan apresiasi atas kepedulian kinerja LPBI NU Bojonegoro yang tanggap dalam membantu meringankan beban warga terdampak banjir di wilayah Bojonegoro. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Khutbah, Tokoh Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren

Minggu, 09 Juli 2017

Sejarah Nusantara, Ulama-Umara Sinergis Jaga Stabilitas Tanah Air

Demak, Attauhidiyyah Giren

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menghadiri Haul Agung Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo ke-514, di Masjid Demak, Sabtu (11/03) malam. Para kiai dan habaib juga hadir di antaranya Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan.

Sejarah Nusantara, Ulama-Umara Sinergis Jaga Stabilitas Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Nusantara, Ulama-Umara Sinergis Jaga Stabilitas Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Nusantara, Ulama-Umara Sinergis Jaga Stabilitas Tanah Air

Menurut Kiai Said, kekuasaan Raden Fattah (Demak) adalah bukti sejarah bagaimana harmonisnya ulama dan umara dalam menguatkan tradisi budaya, menjaga stabilitas tanah air, sehingga Islam bisa disebarkan dengan baik.

"Tidak mungkin menyebarkan Islam di tengah konflik dan gejolak, karena itu sinergi ulama dan umara sangat penting bagi perkembangan Islam," kata kiai pengasuh Pondok Pesantren al-Tsaqafah, Ciganjur itu.

Attauhidiyyah Giren

Tidak hanya di Demak dan sekitarnya, di daerah-daerah lain pun para pendakwah Islam berbaur dengan tradisi budaya masyarakat dan menjaga harmoni dengan umara demi stabilitas tanah air.

"Syarief Hidayatullah dan Kesultanan Cirebon juga sinergi dengan baik, Kesultanan Lumajang, Kesultanan Perlak, Kesultanan Samudera Pasai juga bersinergi dengan para pendakwah Islam," kata Kiai Said.

Attauhidiyyah Giren

Kiai Said Aqil pun menegaskan bahwa masa depan Islam Nusantara semakin kuat dan jaya. Masyarakat Muslim tidak pernah berhenti tahlil, ziarah, haul, menyambungkan batin spiritualitasnya dengan para wali, ulama, dan orang-orang saleh.

"Orang-orang NU tetap haul dan tahlil karena sudah merasakan begitu nikmatnya dekat dengan ulama dan orang-orang saleh," ujar Kiai Said. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pesantren, Quote, Santri Attauhidiyyah Giren

Ki Jaka, Sumber Air Yang Disyukuri Setiap Muharram

Cirebon, Attauhidiyyah Giren. Ratusan warga berjajar di sepanjang jalan menuju sebuah sumber air  yang mereka namai “Kiai Jaka atau Ki Jaka”. Masyarakat Blok Kamplongan Desa Tuk Karangsuwung Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon mengisi kegiatan di sana dengan pembacaan tahlil dan selametan secara rutin, Kamis (7/11).

Ki Jaka, Sumber Air Yang Disyukuri Setiap Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)
Ki Jaka, Sumber Air Yang Disyukuri Setiap Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)

Ki Jaka, Sumber Air Yang Disyukuri Setiap Muharram

Saefur, salah satu tokoh pemuda setempat mengisahkan, sumber air yang berbentuk pancuran itu telah ada semenjak puluhan tahun yang lalu. Konon, nama Ki Jaka diambil dari seorang wali yang datang pertama kali untuk membabat desa yang sebelumnya berupa hutan dan melengkapinya dengan sebuah sumber air.

“Orang tua dulu bilang, bahwa Ki Jaka itu sezaman dengan Mbah Muqayyim, pendiri Buntet Pesantren, Cirebon,” kata Saefur.

Attauhidiyyah Giren

Masyarakat setempat mengakui, sumber air itu tidak pernah mengalami kekeringan, meskipun sedang dilanda musim kemarau yang berkepanjangan. Hal inilah yang mendasari masyarakat setempat untuk tetap melestarikan tradisi Bebarik yang dilaksanakan setiap sore Jum’at pertama di bulan Muharram.

Keberadaan sumber air ini menjadi tumpuan hidup masyarakat di sini, terutama saat musim kekeringan, tandas Saefur.

Attauhidiyyah Giren

Sumber air Ki Jaka bukanlah satu-satunya situs yang menjadi kebanggaan warga setempat. Sekitar dua kilometer sebelah selatan pancuran air Ki Jaka terdapat makam dua orang wali yakni Mbah Muqayyim dan Mbah Ardi Sela yang kerap diziarahi santri dan kiai pesantren-pesantren di Cirebon. (Sobih Adnan/Alhafiz K)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kiai Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 08 Juli 2017

Anti-Radikalisme, IPNU-IPPNU Surabaya Gelar Ramadhan Student Camp

Surabaya, Attauhidiyyah Giren - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Surabaya mengadakan Ramadhan Student Camp di Aula Masjid Roudlotul Musyawaroh Kemayoran Surabaya. Pada kegiatan yang dimulai 23-26 Juni 2016 ini, sebanyak 57 peserta yang terdiri dari delegasi pelajar SMU setempat mengaji kitab Ta‘lim Muta’allim, pengenalan IPNU-IPPNU, Islam Nusantara dan wawasan kebangsaan.

Mereka juga diajak memperbincangkan masalah social media di kalangan pelajar.

Anti-Radikalisme, IPNU-IPPNU Surabaya Gelar Ramadhan Student Camp (Sumber Gambar : Nu Online)
Anti-Radikalisme, IPNU-IPPNU Surabaya Gelar Ramadhan Student Camp (Sumber Gambar : Nu Online)

Anti-Radikalisme, IPNU-IPPNU Surabaya Gelar Ramadhan Student Camp

Ketua PCNU Surabaya Dr H Achmad Muhibbin Zuhri mengatakan bahwa pelajar adalah calon pemimpin masa depan. Karenanya acara semacam ini bisa menjadi media untuk mengasah kadar intelektualitas dan melatih soft skill.

“Utamanya keterampilan penunjang baik dalam bersosialisasi melalui media maupun melakukan sebuah gerakan, Kalau zaman dahulu untuk menjadi pemenang hanya diperlukan kekuatan atau kecepatan, pada masa saat ini untuk menjadi pemenang harus menguasai media,” tegasnya.

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren

Sementara Ketua IPNU Surabaya Agus Setiawan menuturkan bahwa acara ini bertujuan untuk membekali pelajar SMA yang ada di Surabaya utamanya para pengurus OSIS dan SKI agar tidak mudah terpengaruh oleh paham-paham Islam radikal yang sudah masuk ke sekolah-sekolah melalui rohis/SKI.

“Tujuan kegiatan ini selain untuk merekatkan ukhuwah antarpelajar dan juga berupaya mengkader siswa-siswi SMA/sederajat dengan memperkenalkan Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah yang moderat,” jelasnya.

Para alumni diharapkan nantinya dapat menjadi pioner ataupun pemimpin di sekolah masing-masing untuk dapat menularkan dan menyampaikan materi yang sudah didapatkannya kepada teman-temannya agar tidak mudah terpengaruh oleh Islam radikal yang intoleran serta mampu mempelopori suatu gerakan pelajar utamanya di lingkungan sekolah masing-masing,” tegasnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Tokoh, Hadits Attauhidiyyah Giren

Rabu, 05 Juli 2017

Kader IPNU Jember Ini Raih Juara Pertama Cipta Roket

Jember, Attauhidiyyah Giren - Warga NU Jember layak berbangga terhadap sosok pemuda yang satu ini. Pasalnya, Koordinator Jaringan Komunikasi Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU Politeknik Negeri Jember Andi Kurniawan menyabet juara pertama dalam lomba Roket Muatan dan Roket Indonesia, Komurindo-Kombat 2016 yang berakhir Sabtu (27/8).

Andi bersama dua rekannya merupakan tim yang mewakili Politeknik Negeri Jember untuk ajang yang digelar di Lembaga Penerbangan Antariksa, Pameung Peuk, Garut. Sebelum mengikuti ajang itu, tim harus berjuang menjuarai lomba di tingkat provinsi hingga akhirnya lolos ke putaran final bersama 36 tim lainya dari perguruan tinggi negeri se-Indonesia.

Kader IPNU Jember Ini Raih Juara Pertama Cipta Roket (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader IPNU Jember Ini Raih Juara Pertama Cipta Roket (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader IPNU Jember Ini Raih Juara Pertama Cipta Roket

"Alhamdulillah, berkat doa teman-teman kami bisa juara," ucap Andi kepada Attauhidiyyah Giren via saluran telepon seluler.

Mahasiswa semester 3 Program Studi Manajemen Informatika Politeknik Negeri Jember itu mengaku senang bisa merengkuh gelar juara dalam ajang bergengsi tersebut. Roket buatan timnya yang dinamai IR SKY 64 itu mampu memikat perhatian juru dan penonton.

Attauhidiyyah Giren

Menurutnya, semangat yang diberikan rekan-rekannya di IPNU cukup membuatnya yakin untuk melakukan yang terbaik demi almamaternya. Andi juga mengimbau agar siapapun tak perlu berkecil hati untuk mengikui ajang nasional meski yang terlibat adalah perguruan tinggi ternama di Indonesia.

Attauhidiyyah Giren

"Jangan pernah berkecil hati, misalnya karena kita berasal dari Poltek. Kita minder. Jangan. Semua manusia punya kemampuan, tinggal dikembangkan saja," urainya.

Sementara itu, Pengurus IPNU Jember Muhammad Ardi Wiranata menyatakan bangga atas pretasi yang diraih rekannya itu. Menurutnya, Andi adalah sosok yang sangat disiplin dalam belajar dan berorganisasi di IPNU.

Sejak awal, kata Ardi, pemuda asal Kabupaten Kediri itu cukup aktif dalam organisasi. "Saya ucapakan selamat atas Ardi dan tim Politeknik Negeri Jember yang telah berhasil menjadi juara," ucapnya kepada Attauhidiyyah Giren. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nusantara, Tokoh Attauhidiyyah Giren

Ansor Jabar Ajak Kadernya Doakan Muslim Rohingya

Bandung, Attauhidiyyah Giren - Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haidar mengajak kader-kadernya di Jawa Barat agar mendoakan Muslim Rohingya, Myanmar yang menjadi korban pembantaian.

"Terutama, kami minta kepada Majelis Dzikir Rijalul Ansor (Badan Otonom GP Ansor, red) untuk secara serentak berdoa memohon pertolongan dan lindungan Allah SWT untuk keselamatan, khususnya kaum Muslim di Rohingya, umumnya kepada setiap manusia yang ditindas," ujar Deni saat dihubungi, Selasa (22/11/2016).

Ansor Jabar Ajak Kadernya Doakan Muslim Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Jabar Ajak Kadernya Doakan Muslim Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Jabar Ajak Kadernya Doakan Muslim Rohingya

Sebagai sesama Muslim, lanjut Deni, sudah menjadi keharusan untuk mendoakan saudara-saudara sesama Muslim yang saat ini sedang dilanda musibah kemanusiaan agar tercipta kedamaian di sana.

"Untuk itu, kami meminta kepada pemerintah melakukan langkah-langkah konkret untuk terlibat menciptakan kedamaian di Rohingya," ujarnya.

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren

Selain itu, Deni juga mengajak seluruh kader Ansor di Jawa Barat untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta kecakapan supaya hidup bisa lebih berguna.

"Kita senantiasa bisa mencerahkan dan menggerakkan masyarakat dengan kaidah dan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah bahwa Islam itu agama yang penuh dengan kedamaian," tuturnya.

Dengan pemahaman keagamaan tersebut, mantan Ketua GP Ansor Kabupaten Purwakarta ini mengajak kepada seluruh kader Ansor untuk senantiasa merujuk kepada para kiai untuk meningkatkan pemahaman keilmuan dan ketakwaan.

"Apa pun untuk meningkatkan kecakapan, maka harus ‘ngaji’ kepada para ilmuwan dan praktisi supaya hidup bisa lebih berguna dengan senantiasa berdoa meminta pertolongan dan petunjuk Allah SWT," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Quote, Nasional, Aswaja Attauhidiyyah Giren

Selasa, 04 Juli 2017

NU, Muhammadiyah dan TNI Kumpul Bahas ISIS

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko bertemu dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) serta ormas Islam lain untuk membahas perkembangan kelompok radikal dan Negara Islam Irak dan Suriah (Islamic State of Iraq and Syria/ISIS) di Indonesia.

Pada pertemuan yang berlangsung di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu pagi, Jenderal Moeldoko mengatakan baru-baru ini bendera ISIS sudah berkibar di sejumlah tempat di Indonesia seperti di Solo, Jambi, Pekanbaru dan Aceh Timur.

NU, Muhammadiyah dan TNI Kumpul Bahas ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Muhammadiyah dan TNI Kumpul Bahas ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, Muhammadiyah dan TNI Kumpul Bahas ISIS

"Secara organisasi, ISIS memang belum hadir di Indonesia. Namun, semangat ISIS sudah bisa dirasakan di Indonesia," katanya.

Attauhidiyyah Giren

TNI, menurut dia, ingin mendengar masukan dari organisasi masaa Islam seperti Muhammadiyah dan NU untuk mengantisipasi penyebaran pengaruh ISIS di dalam negeri. 

Attauhidiyyah Giren

"Semangat NU dan Muhammadiyah yang memiliki cita rasa toleransi diharapkan dapat menghentikan paham seperti itu yang dapat mengancam persatuan Indonesia. Kita ingin kelahiran semangat ISIS bisa diantisipasi dan dapat memakamkan pemahaman tersebut agar tak berkembang di Indonesia," ujarnya.

Asisten Teritorial Panglima TNI Mayjen TNI Ngakan Gede Sughiarta mengatakan silaturahim antara Panglima TNI dengan ormas Islam itu untuk membahas perkembangan kelompok-kelompok radikal yang ada di Indonesia.

"Silaturahmi ini untuk mengambil langkah penyelesaian agar kelompok radikal, termasuk ISIS tak berkembang lebih jauh," katanya.

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj menuturkan masyarakat harus menyuburkan rasa nasionalisme dahulu, baru memperkuat pemahaman agama.

Dia mencontohkan, negara Islam yang hampir 100 persen penduduknya muslim seperti Somalia dan Afganistan bisa berantakan karena tidak ada rasa nasionalisme.

"Negara Islam yang memiliki penduduk muslim 100 persen pun akan berantakan jika tidak ada rasa nasionalisme," ucap Said.

Sementara itu Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin mengatakan ISIS adalah produk lama, tetapi menggunakan merek baru, dan jika pemahamannya diterapkan maka dapat menimbulkan malapetaka di Indonesia.

"Ada kontinuitas perubahan yang terjadi. Ditarik ke radikalisme Islam," kata Din.

Ia menegaskan, ISIS merupakan embrio fundamentalis Islam yang dapat menimbulkan malapetaka, pertentangan hingga pembunuhan. Semua akan dilakukan untuk mencapai tujuannya.

"Maka bagi kita, kalau tidak mampu dikelola dengan baik, akan terjadi pula pertumpahan darah. Termasuk juga bagi yang suka mengafirkan," ucapnya. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Berita Attauhidiyyah Giren

Senin, 03 Juli 2017

Ansor Subang Sosialisasi Pilkada untuk Pemilih Pemula

Subang, Attauhidiyyah Giren. Gerakan Pemuda Ansor Cabang Kabupaten Subang bekerjasama dengan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Subang menggelar sosialisasi Pemilihan Kepala Daerah di Auditorium Pamanukan, Subang. (19/12/2012).

Ansor Subang Sosialisasi Pilkada untuk Pemilih Pemula (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Subang Sosialisasi Pilkada untuk Pemilih Pemula (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Subang Sosialisasi Pilkada untuk Pemilih Pemula

Acara tersebut dihadiri oleh ratusan pemuda dan pelajar dari berbagai sekolah tingkat SLTA di Kabupaten Subang. Tampil sebagai narasumber Ketua KPUD Kabupaten Subang, Kaka Suminta. Menurut Ketua GP Ansor Kabupaten Subang, Asep Alamsyah Heridinata, target dari sosialisasi Pilkada ini ditujukan kepada pemilih pemula.

“Sengaja kami undang dari kalangan pelajar dan pemuda karena, mereka mayoritas sebagai pemilih pemula. Dengan sosialisasi ini, diharapkan mereka mampu menjalankan amanah undang-undang dalam menentukan hak pilihnya sebagai warga negara,” papar Asep.

Attauhidiyyah Giren

Masih menurut Asep, sebagai pelajaran yang sangat berharga adalah dengan banyaknya surat suara yang tidak sah pada pemilu maupun pilkada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini diindikasikan tingkat pemahaman masyarakat terutama pemilih pemula terhadap tata cara pemilihan masih belum maksimal.

Attauhidiyyah Giren

“Kita belajar dari pengalaman, dari yang sudah-sudah berapa banyak surat suara yang tidak sah. Itu diakibatkan dari tingkat pemahaman dalam menentukan hak pilihnya masih jauh dari harapan. Untuk itu, kami mencoba meminimalisir hal-hal tersebut agar dalam pilkada Jabar yang akan digelar tahun 2013 mendatang bisa dilaksanakan dengan baik,” lanjutnya.

Senada dengan Asep, Ketua KPUD Kabupaten Subang, Kaka Suminta mengatakan sosialisasi kepada kalangan pelajar itu ditekankan pada pentingnya menggunakan hak pilih guna menentukan masa depan pemimpin di Jawa Barat untuk jangka waktu lima tahun ke depan.

“Masa depan Jawa Barat ada di tangan mereka dalam jangka lima tahun ke depan. tentunya, dengan menggunakan hak pilihnya secara baik dan benar, hal tersebut bisa memberikan kontribusi yang positif untuk masa depan Jawa Barat nanti,” pungkas Kaka.

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Ade Mahmudien

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nusantara Attauhidiyyah Giren

Minggu, 02 Juli 2017

Penguatan NU Indonesia Timur Sangat Dibutuhkan

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Dakwah NU di wilayah Indonesia bagian timur amat diperlukan. Hal ini dikarenakan kondisi sosio-kultural masyarakatnya yang agak berbeda dari daerah-daerah lain, khususnya Pulau Jawa. Selain agamanya plural, sejumlah daerah merupakan lokasi rawan konflik.

Penguatan NU Indonesia Timur Sangat Dibutuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Penguatan NU Indonesia Timur Sangat Dibutuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Penguatan NU Indonesia Timur Sangat Dibutuhkan

Pendapat ini disampaikan Sekretaris Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) H Nurul Yakin Ishaq di Jakarta, Jumat (22/3).

Yakin menyatakan, berdasarkan pengalaman LDNU berkunjung ke beberapa daerah seperti Maluku, Papua Barat, dan Gorontalo, kebutuhan tersebut nyata dan NU penting hadir untuk menyebarluaskan karakter Islam yang damai.

Attauhidiyyah Giren

”Sebab ahlussunnah wal jamaah yang dikembangkan NU ini berpijak pada prinsip tasammuh (toleransi), tawassuth (moderasi), dan tawazun (kesemimbangan),” tegasnya.

Attauhidiyyah Giren

Seperti di Ambon, sambung Yakin, beberapa masjid terbengkalai dan kecenderungan untuk membuat kampung eksklusif berdasarkan agama tertentu cukup kuat. ”Mungkin ini sisa-sisa ekses dari kerusuhan yang pernah memanas di daerah ini,” imbuhnya.

Menurut Yakin, gerakan Islam garis keras yang dulu turut serta dalam konflik di sana hingga kini masih aktif menyebarluaskan paham mereka yang rentan akan merusak kerukunan masyarakat. ”Padahal perbedaan adalah suatu keniscayaan. Dan itu dilindungi oleh konstitusi."

LDNU baru-baru ini menghadiri istighatsah kubra dan peletakan batu pertama Pesantren Nurul Huda Kobisanto, Seram Utara, Maluku Tengah, Maluku. Acara dengan ribuan peserta ini dihadiri pula Menteri PDT dan para pejabat daerah setempat.

”Timbul kebanggaan di hati saya. Ternyata setelah melintasi perbukitan, sungai, dan hutan belantara,  ada NU di sana,” ujar Yakin.

LDNU berharap, Pengurus Wilayah NU (PWNU) Maluku yang baru terpilih dua minggu lalu dapat bekerja maksimal dan mewarnai proses keberagamaan dan kerukunan di bekas wilayah yang terkenal kental dengan konflik bernuansa SARA ini.

Penulis: Mahbib Khoiron

 

Foto: Kunjung LDNU ke acara Istighatsah Kubra di Seram Utara, Maluku Tengah, Maluku

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Cerita, Tegal Attauhidiyyah Giren