Rabu, 28 Juni 2017

Liga Santri Nusantara Zona NTB Resmi Dimulai

Lombok Barat, Attauhidiyyah Giren? . Babak penyisihan Liga Santri Nusantara Zona Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi dimulai. Peresmian ditandai dengan kick off yang dilakukan oleh Sekjen PBNU, A Helmy Faishal Zaini di Lapangan Kediri Kabupaten Lombok Barat, Ahad (20/9) sore.

Sebelum ? kick off, Helmy Faishal menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga yang telah peduli terhadap dunia olahraga santri di pesantren. ?

Liga Santri Nusantara Zona NTB Resmi Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri Nusantara Zona NTB Resmi Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri Nusantara Zona NTB Resmi Dimulai

"Selamat bertanding, junjung tinggi nilai sportivitas," pintanya.?

Attauhidiyyah Giren

Sebelumnya, Koodinator wilayah LSN NTB, Yek Agif Al-Qadri menyampaikan, bahwa Liga Santri baru kali ini diselenggarakan oleh kementerian. Hampir 15 tahun Indonesia tidak memiliki perestasi di bidang olah raga khususnya sepak bola.?

Attauhidiyyah Giren

"Karena itu, LSN Zona NTB diadakan di Kediri, Lombok Barat yang menjadi wilayah kota santri untuk memulai turnamen dengan kejujuran yang menjadi spirit pesantren," kata mantan pengurus PB PMII ini.

Lebih lanjut, ia menegaskan Liga Santri ini tidak ada intervensi dari manapun termasuk pengaturan skor bagi yang bertanding.

Jalannya pertandingan

Pertandingan perdana langsung dimulai antara Pesantren Al-Manshuriyah Talimushbiyan Bonder VS Pesantren Abhariyah NU Jerneng.

Dari awal babak pertama Abharyiah mulai tampil dengan menguasai bola dilapangan. Namun tidak lama waktu berjalan pemain Al-Manshuriyah Talimushibyain lebih dulu membobol gawang lawan, skor 1-0 bertahan hingga babak pertama berakhir.

Di babak kedua, Abharyiah lebih menguasai bola dengan umpan-umpan pendek yang cukup merepotkan barisan pertahanan Al-Manshuriyah.?

Strateginya pun cukup ampuh, Abhariyah mampu mengejar ketertinggalan di babak pertama. Tak tanggung-tanggung, pada babak kedua, Abharyiah mampu mencetak 3 goal sehingga kedudukan menjadi 3-1 hingga pluit akhir babak kedua. Kedudukan tak berubah dengan skor 3-1 untuk kemenangan Abharyiah. (Hadi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Anti Hoax Attauhidiyyah Giren

Sekelumit Penanggalan Komariah dan Gerhana Bulan

Dr. Djamhur Effendi, DEA

Staf Litbang Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Pusat

Bulan, adalah tetangga terdekat Bumi di ruang angkasa sekaligus merupakan satu-satunya satelit Bumi. Dia berputar mengelilingi Bumi sekali dalam sebulan, yang sering disebut dengan berbagai ungkapan seperti:

Sekelumit Penanggalan Komariah dan Gerhana Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekelumit Penanggalan Komariah dan Gerhana Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekelumit Penanggalan Komariah dan Gerhana Bulan

• satu lunasi

• satu siklus fasa Bulan

• satu perioda revolusi sinodik

Attauhidiyyah Giren

• satu perioda ru’ju bulan baru ke bulan baru berikutnya

yaitu 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik atau 29.530588 hari. Namun, lamanya satu bulan (sinodik) sebenarnya bervariasi, dari 29.26 hari sampai 29.80 hari. Hal itu disebabkan sebagai akibat dari gangguan (perturbasi) Matahari terhadap orbit Bulan.

Matahari mempunyai diameter sekitar 400 kali lebih besar daripada diameter Bulan, sedangkan jarak Bumi-Matahari 400 kali lebih jauh daripada jarak Bumi-Bulan. Sehingga penampakan Bulan dan Matahari dari Bumi hampir sama besar, yaitu sekitar setengah derajat.

Attauhidiyyah Giren

Kondisi itu juga menyebabkan gerhana Bulan Total – yaitu ketika Bulan seluruhnya berada di dalam daerah umbra Bumi – bisa berlangsung selama 1 jam 47 menit, sedangkan gerhana Matahari Total – yaitu ketika bundaran Matahari di langit terhalang oleh Bulan, dilihat oleh pengamat dari Bumi yang berada di jalur yang tersapu umbra Bulan – paling lama hanya berlangsung sekitar 7 menit.

Kedudukan bidang orbit Bulan mengelilingi Bumi membentuk sudut 5 derajat terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari (bidang ekliptika). Atau sering dikatakan pula bidang orbit Bulan mempunyai inklinasi 5 derajat dari bidang ekliptika. Hal inilah yang menyebabkan tidak terjadinya gerhana Bulan maupun gerhana Matahari setiap bulan.

Saat konjungsi/ijtima adalah saat Bulan berada diantara Matahari-Bumi, dimana wajah Bulan menjadi tidak nampak dari Bumi. Para astronom menyebut ijtima atau konjungsi itu sebagai ’New Moon’ (Bulan baru) atau disebut juga ’Bulan mati’ karena wajahnya tidak tampak. Dengan kata lain, konjungsi Bulan terjadi saat bulan baru.

Konjungsi suatu objek benda langit – dalam hal ini adalah Bulan dengan Matahari - , seperti yang terlihat dari Bumi, terjadi jika perbedaan lintang (elongasi) dengan Matahari berharga nol. Konjungsi Bulan ini menjadi acuan untuk menentukan awal bulan dalam sistem penanggalan Komariah/Hijriah.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa kriteria astronomi yang dipakai untuk menentukan awal bulan (’New Month’) bukan hanya fenomena Bulan muda (’New Moon’), namun – seperti halnya sejak zaman kuno Babilonia, juga zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, bahkan hingga saat ini – kriteria yang digunakan lebih berdasarkan pada keterlihatan (’visibility’) Bulan-sabit baru atau anak Bulan (hilal) daripada berdasarkan konjungsi itu sendiri.

*) Istilah-istilah musytarok / sinonim:

Konjungsi = ijtima

New Moon = Bulan baru = Bulan mati

Fasa-Fasa Bulan

Perubahan penampakan wajah Bulan, seperti yang terlihat dari Bumi, adalah sebagai akibat posisi relatif Bulan terhadap Bumi dan Matahari.

Wajah Bulan nampak berbeda dari waktu ke waktu yang masing-masing disebut fasa. Fasa-fasa tersebut mengikuti pola bentuk yang sama setiap empat minggu. Perlahan bergeser, fenomena keteraturan penampakan fasa Bulan berputar dari:

• Bulan mati (’New Moon’) saat ijtima

• Sabit muda (minggu pertama)

• Setengah lingkaran (’first quarter’, sudah melalui ¼ perjalanan Bulan)

• Gibbous (minggu ke-dua)

• Purnama (’Full Moon’)

• Gibbous (minggu ke-tiga)

• Setengah lingkaran (’Last Quarter’, tinggal ¼ perjalanan Bulan yang harus ditempuh)

• Sabit tua

• Bulan mati (’New Moon’) ijtima kembali.

Wajah Bulan terlihat senantiasa menampilkan wajah muka yang sama – seakan permukaan yang sama – terkunci menghadap Bumi. Hal ini akibat perioda rotasi Bulan sama dengan perioda revolusi sideris-nya.

Catatan:

- perioda sideris adalah kala waktu revolusi benda langit dengan menggunakan bintang sebagai titik acuan.

- perioda sinodis adalah kala waktu revolusi benda langit dengan menggunakan Matahari sebagai titik acuan.

Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Shaumlah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah kalian karena melihatnya pula. Jika hilal tertutup awan, maka sempurnakanlah 30 hari.” (HR. Bukhari: Shahih)

Gerhana Bulan 2007

Setiap tahun terjadi gerhana Bulan maupun gerhana Matahari, di mana jumlah dan jenis fenomena gerhananya bervariasi. Jumlah maksimum gerhana Bulan plus gerhana Matahari dalam setahun adalah 7 kali gerhana, yang terdiri dari 3 kali gerhana Bulan dan 4 kali gerhana Matahari, atau 2 kali gerhana Bulan dan 5 kali gerhana Matahari.

Tidak semua fenomena gerhana dalam setahun bisa diamati dari salah satu titik atau tempat di permukaan bumi. Pada tahun 2007 ini, terjadi 4 kali gerhana, yang terdiri dari 2 kali gerhana Bulan total dan dua kali gerhana Matahari sebagian (parsial).

Dua gerhana Bulan total dapat disaksikan dari wilayah Indonesia, dan dua gerhana Matahari sebagian tidak dapat disaksikan dari wilayah Indonesia. Jadi, kita yang berdomisili di Indonesia, mendapatkan kesempatan istimewa untuk mengamati dua kali gerhana Bulan total pada tahun 2007 ini.

1. Gerhana Bulan total pada tanggal 4 Maret 2007 (pertengahan bulan Safar 1428 H) yang kesempatannya telah terlewat.

2. Gerhana Bulan total yang akan terjadi pada hari Selasa, minggu depan, tanggal 28 Agustus 2007 yang bertepatan dengan tanggal 15 Sya’ban 1428 H.

Pada musim gerhana kedua ini, kedudukan Bulan berada di arah rasi Aquarius dan Matahari di arah rasi Leo. Gerhana Bulan ini bisa disaksikan oleh pengamat yang berada di wilayah Indonesia. Pada sore hari, Bulan akan terbit dalam keadaan gerhana.

Jadwal gerhana Bulan total adalah sebagai berikut:

Bulan memasuki Penumbra atau momen gerhana Penumbra dimulai pada hari selasa, tanggal 28 Agustus 2007 pukul 14:52 WIB. Sekitar 59 menit kemudian, Bulan memasuki Umbra, atau momen gerhana Bulan-sebagian, dimulai pada tanggal 28 Agustus 2007 pukul 15:51 WIB. Sekitar 61 menit kemudian, gerhana Bulan total (GBT) dimulai, di mana seluruh Bulan memasuki Umbra Bumi pada tanggal 28 Agustus 2007 pukul 16:52 WIB. Setelah sekitar 1 jam 31 menit berada pada momen gerhana Bulan total, sebagian Bulan memasuki Penumbra Bumi pada tanggal 28 Agustus 2007 pukul 18:23 WIB. Dan seluruh Bulan akan meninggalkan Umbra Bumi, atau gerhana Umbra Bulan berakhir, pada tanggal 28 Agustus 2007 pukul 19:24 WIB. Gerhana Bulan sebagian (GBP) akan berakhir saat seluruh Bulan meninggalkan Penumbra pada tanggal 28 Agustus 2007 pukul 20:22 WIB.

Bagi kita, yang tinggal di Indonesia, untuk dapat mengamati gerhana Bulan 28 Agustus 2007 ini, carilah lokasi yang cukup lapang kira-kira dua puluh derajat di selatan titik lokasi Matahari terbit (kalau kita menghadap ke arah matahari terbit (timur) maka arah tangan kanan kita adalah arah selatan), di daerah yang cukup lapang yang tidak terhalang bangunan atau pepohonan agar dapat menyaksikan gerhana Bulan sejak dari Bulan terbit.

Secara umum, kita di Indonesia tidak bisa menyaksikan keseluruhan momen rangkaian gerhana Bulan total 28 Agustus 2007 ini. Momen gerhana tersebut dapat disaksikan di Indonesia, di mana Bulan terbit dalam keadaan gerhana.

Di Mataram, Bulan terbit sekitar 26 menit sebelum pertengahan gerhana Bulan total yang dimulai pada pukul 17:37 WIB.

Di Surabaya, Bulan terbit sekitar 11 menit sebelum pertengahan gerhana Bulan total yang dimulai pada pukul 17:37 WIB.

Di Yogyakarta, Bulan terbit sekitar 11 menit sebelum pertengahan gerhana Bulan total yang dimulai pada pukul 17:37 WIB. Momen-momen akhir gerhana 28 Agustus 2007 ini, bisa disaksikan dari Yogyakarta.

Di Bandung, Bulan terbit sekitar 10 menit setelah pertengahan gerhana Bulan total dimulai pada pukul 17:37 WIB.

Di Jakarta, Bulan terbit sekitar nol menit sebelum pertengahan gerhana Bulan total yang dimulai pada pukul 17:37 WIB.

Di Medan, Bulan terbit sekitar pukul 18:32 WIB. Sedangkan, momen gerhana Bulan total berakhir pukul 18:23 WIB. Dan gerhana Bulan parsial akan berakhir pada pukul 19:24 WIB. Jadi, kesempatannya kurang menguntungkan, dibandingkan kota yang lebih timur, seperti Yogyakarta dan Mataram.

Di Banda Aceh, Bulan terbit sekitar pukul 18:46 WIB. Sedangkan, momen gerhana Bulan total berakhir pukul 18:23 WIB. Dan gerhana Bulan parsial akan berakhir pada pukul 19:24 WIB. Jadi, kesempatannya juga kurang menguntungkan, dibandingkan kota yang lebih timur.

Manfaatkan kesempatan momen gerhana Bulan total 28 Agustus 2007 ini, untuk pendidikan anak mempelajari sains tentang gerhana, fenomena alam menakjubkan yang memuat tantangan intelektualitas manusia yang memikirkannya.

Allah ’azza wa jalla berfirman dalam surat Al-Furqon (Surat 25) ayat 45 dan 46:

Apakah kamu tidak memperhatikan (ciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang, dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikannya tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan Matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu. Kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada kami dengan tarikan yang pelan-pelan.”

Wallahu ’alamu bimurodihi...



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Khutbah, Aswaja, Kajian Attauhidiyyah Giren

Sakralisasi Khutbah Jumat

Oleh Suwendi

Belakangan, muncul polemik terkait khutbah jumat. Isu yang dimunculkan oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, merupakan salah satu ikhtiar pemerintah untuk merespon kegelisahan dan pengaduan kalangan masyarakat, terutama apa yang terjadi di mimbar khutbah jumat.

Sakralisasi Khutbah Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sakralisasi Khutbah Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sakralisasi Khutbah Jumat

Tiga hingga lima tahun belakangan, telah terjadi fenomena pergeseran mimbar khutbah jumat dari yang semestinya menjadi ruang ibadah yang sakral kemudian bergeser menjadi ruang profan yang dipenuhi dengan ujaran kebencian, politisisasi atas nama agama, mengoyak-oyak ideologi negara, bahkan dimanfaatkan untuk isu “mendirikan negara di dalam negara”.

Dalam forum yang relatif tidak ada “interupsi” itu, sang khatib jumat dengan garangnya secara leluasa menyampaikan orasi-orasi untuk mensosialisasikan pemahaman keagamaannya yang seringkali dibubuhi dengan menjelek-jelekkan seseorang—yang seringkali menyebut nama orang—bahkan meruntuhkan persaudaraan dan kebangsaan, bahkan anehnya itu juga terjadi di masjid-masjid yang berada di Kementerian/Lembaga serta UKM-UKM milik pemerintah.

Penulis sendiri pernah melihat langsung secara nyata akan fenomena ini. Tentu fenomena ini harus disudahi dan tidak boleh dilanjutkan. Mengapa? Karena mimbar khutbah jumat sejatinya adalah bagian dari ibadah shalat jumat itu sendiri yang bernilai sakral dan seharusnya mampu menjadi perekat umat, merajut kedamaian, pemersatu bangsa, serta menambah keimanan dan ketaawaan kepada Allah SWT.

Attauhidiyyah Giren

Jika merunut pada pernyataan Umar bin Al-Khathab RA, maka khutbah jumat itu adalah forum ibadah yang kedudukannya sama dengan shalat 2 (dua) rakaat. Jika kita tidak menemui khutbah jumat, maka hendaknya menggantinya dengan shalat zhuhur 4 rakaat. “al-khutbatu maudhi’u al-rak’atayni. Man faatathu al-khutbat shalla arba’an” (Artinya: Khutbah itu kedudukannya sama dengan shalat dua rakaat. Siapa saja yang terlewat dari khutbah maka hendaklah dia shalat empat rakaat).”

Bahkan, sebelum khatib naik mimbar, sang pemandu shalat seringkali mengutip hadits nabi yang meminta para audien untuk diam dan harus mendengarkan serta menta’ati apa yang disampaikan sang khatib. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa khutbah jumat itu adalah ibadah yang sangat sakral, yang tidak boleh dinodai dengan ujaran kebencian atau kepentingan politik tertentu.

Dalam konteks ini, ide Menteri Agama agar khutbah jumat itu disterilkan dari ujaran kebencian dan kepentingan politik-praktis, menurut hemat penulis, sangat tepat untuk dilakukan dan didukung penuh. Sudah saatnya kita harus berani untuk mengembalikan forum khutbah jumat itu pada tempat yang semestinya. Khutbah jumat harus disterilkan dari ujaran kebencian, caci maki, dan hal-hal yang merusak persaudaraan.

Demikian juga, khutbah jumat harus dijauhkan dari maksud dan kepentingan politik-praktis, apalagi propaganda untuk menggulingkan atau mengganti ideologi negara. Tentu, khutbah jumat semacam ini bukanlah khutbah jumat yang sewajarnya dan tentu jauh dari nilai-nilai ibadah.?

Sungguhpun demikian, polemik yang berkembang di masyarakat terkait gagasan Menteri Agama itu cenderung disalahfahami bahkan bisa jadi ditanggapi oleh masyarakat dalam perspektif yang “gagal-faham”. Bagi kalangan yang berkepentingan untuk memanfaatkan forum khutbah jumat sebagai instrumen politik atau mewacanakan gagasan penggantian ideologi negara, tentu gagasan sang Menteri itu akan ditolak habis-habisan, bahkan tidak sedikit yang menjadikannya sebagai isu-viral yang terus “digoreng”.

Attauhidiyyah Giren

Akan tetapi, bagi kalangan yang kritis atas fenomena khutbah jumat belakangan, gagasan yang dilontarkan oleh Menteri Agama itu perlu diapresiasi. Demikian juga, bagi kalangan yang arif dan dewasa dalam menyikapi persoalan, tentu ide itu perlu untuk difahami secara mendalam dalam konteks yang lebih konstruktif.?

Standarisasi atau Sertifikasi?

Ada 2 (dua) terminologi yang seringkali mencuat di publik terkait isu khutbah jumat, yakni standarisasai dan sertifikasi khatib jumat. Kedua term ini meski pada sisi tertentu memiliki kesamaan, tetapi jika melihat lebih jauh cenderung terdapat deferensiasi yang jelas. Term standarisasi khatib merupakan upaya untuk mendorong masyarakat agar khatib jumat itu memiliki kompetensi secara minimal harus dipenuhi. Terminologi standarisasi ini lebih diorientasikan pada kompetensi keilmuan dan kualitas kepribadian sang khatib jumat yang setidaknya harus terpenuhi.

Dengan keilmuan dan kepribadian yang matang dan baik, dipastikan materi-materi khutbah jumat itu juga berkualitas, yang tentu saja tidak diisi dengan sesumbar caci maki, ujaran kebencian, apalagi merongrong ideologi negara. Dengan demikian, masyarakat atau pengurus masjid hendaknya selektif betul terhadap memilah dan memilih sang khatib jumat. Aspek kompetensi inilah yang perlu dirumuskan lebih lanjut dan dijadikan sebagai indikator akan kelayakan sang khatib.

Adapun terminologi sertifikasi khatib, dalam amatan penulis, lebih cenderung difahami oleh khalayak didekat-dekatkan pemahamnnya sebagaimana layaknya guru dan dosen. Sebagaimana dimaklumi, pasca terbitnya Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, guru dan dosen diposisikan sebagai sebuah profesi atau pekerjaan yang dituntut untuk dilakukan secara profesional. Profesionalitas dipentingkan sehingga harus dilakukan proses PLPG (pendidikan dan latihan profesi guru) dan yang lulus diberikan sertifikat guru/dosen yang profesional.

Bagi yang mendapatkan sertifikat ini maka guru atau dosen yang bersangkutan mendapatkan tunjangan profesi. Terlepas dari bagaimana proses dan mekanisme sertifikasi guru dan dosen itu, secara substantif sertifikasi itu diarahkan pada terpenuhinya 2 (dua) hal, yakni kualifikasi dan kompetensi. Kualifikasi dimaksud adalah lulusan seseorang pada jenjang pendidikan formal tertentu, seperti jenjang S1, S2, atau S3. Sedangkan kompetensi adalah penguasaan keilmuan tertentu yang harus dipenuhi oleh seseorang. Dengan merujuk pada sertifikasi guru atau dosen ini, masyarakat cenderung lebih memahami sertifikasi khatib ini dengan sertifikasi guru dan dosen sebagaimana yang telah dijelaskan.?

Merujuk pada terminologi sertifikasi di atas, penggunaan term sertifikasi khatib ini lebih cenderung direspon secara resistensial. Setidaknya terdapat beberapa alasan. Pertama, lagi-lagi dengan pengalaman sertifikasi guru dan dosen, khutbah lebih difahami sebagai sebuah profesi, sebuah pekerjaan yang harus profesional. Sementara khutbah tidak selamanya difahami sebagai sebuah pekerjaan (ma’isyah), tetapi juga mengandung unsur dakwah, sebuah kewajiban agama untuk menyebarkan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu keagamaan.

Kedua, sebagai implikasi dari sebuah pekerjaan yang profesional, persoalan sertifikasi sebuah profesi itu akan tunduk pada pada Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2004 tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi sebagai turunan dari Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Ini kemudian menjadi lebih rumit lagi. Ketiga, persoalan kualifikasi yang difahami sebagai jenjang tamatan pada lembaga pendidikan formal tentu ini juga berhadapan dengan para pemuka-pemuka agama, termasuk para ulama, yang tidak sedikit belum mengenyam pada lembaga pendidikan formal.

Meski berkompeten, tetapi karena belum memenuhi kualifikasi jenjang pendidikan formal, pemuka agama atau ulama itu difahami tidak memenuhi syarat. Jika hal ini terjadi tentu terjadi penolakan. Keempat, jika sertfikasi ini kemudian berujung pada tunjangan profesi maka perlu adanya dukungan dan tersedianya anggaran yang tidak sedikit dari pemerintah.

Atas dasar problem terminologi di atas, penulis secara pribadi cenderung tidak menggunakan istilah sertifikasi khtaib, dengan alasan-alasan sebagaimana yang telah diungkapkan di atas. Sebab, faktanya memang, secara sosial, masyarakat lebih dekat memahami istilah sertifikasi ini kepada pengalaman-pengalaman yang pernah dan hingga kini dialami oleh mereka terutama dengan sertifikasi guru dan dosen. Dalam konteks itu, kita perlu memikirkan secara matang arah dan terminologi yang pas untuk maksud yang dikehendaki dari persoalan khutbah jumat ini.

Solusi

Sebagaimana yang diungkap di awal tulisan ini, persoalan khutbah jumat ini di antaranya sebagai respon atas pergeseran fenomena khutbah jumat dari yang semestinya sebagai ruang ibadah yang sakral kemudian berubah menjadi ruang yang profan penuh dengan caci-maki, ujaran kebencian, dan melunturkan militansi kebangsaan, maka sudah saatnya gagasan Menteri Agama ini untuk diamini bersama. Jangan sampai, karena persoalan terminologis yang debatable, lalu gagasan dasar atas persoalan ini dinegasikan sama sekali. Jika ini yang terjadi maka fenomena khutbah jumat yang menyimpang dari ruh aslinya ini akan terus liar dan semakin masif sehingga pada titik tertentu kita sudah tidak lagi beribadah dalam shalat jumat dan nilai-nilai kebangsaan akan hilang, yang ujung-ujungnya negeri inipun akan semakin carut marut.?

Setidaknya perlu dilakukan beberapa strategi yang harus kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadarkan seluruh stakeholders dalam kaitan khutbah jumat ini bahwa memang telah terjadi pergeseran atas fenomena khutbah jumat dan itu menjadi tantangan kita bersama. Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan ormas-ormas yang berideologi toleran ini, termasuk Dewan Masjid Indonesia dan perguruan tinggi keagamaan, diajak untuk duduk bersama secara intensif. Landasan penelitian dan bisa jadi base-practises yang pernah terjadi di provinsi atau daerah tertentu, jika ada, perlu diungkap.

Kita perlu menegaskan bahwa khutbah jumat harus didudukan sebagai rangkaian dari ibadah dan disterilkan dari hinaan dan kepentingan politik-praksis. Kedua, perlu mendorong terbitnya aturan legal-formal yang menata dan membimbing para pengurus masjid (takmir al-masjid) agar selektif dalam ? memilah dan memilih khatib jumat. Norma-norma dalam khutbah jumat termasuk kriteria dan syarat rukun khutbah jumat perlu difasilitasi oleh pemerintah sehingga para pengurus masjid mendapatkan referensi dan justifikasi pembenaran atas sikapnya, jika ternyata didapati ada khatib jumat yang melenceng dari sakralitas khutbah jumat.

Ketiga, lembaga-lembaga fatwa, seperti MUI, PBNU, PP Muhammadiyah, dan lain-lain perlu melakukan kajian secara kritis dan mengeluarkan fatwa tentang boleh tidaknya “interupsi” ketika khutbah jumat berlangsung. Jika dibenarkan ada intertupsi maka perlu dijelaskan bagaimana mekanisme dan proseduralnya serta apa konsekuensi-konsekuensi ibadah yang harus dilakukan oleh jamaah. Meski ini juga penuh pro-kontra, fatwa “interupsi” ini bisa jadi sebagai salah satu pilihan bagi jamaah jika memang di dalam pelaksanaan khutbah jumat didapati sang khatib yang sudah tidak mengindahkan norma dan ketentuan syari tentang khutbah jumat itu.?



Isu khutbah jumat hendaknya menjadi perhatian serius oleh kita semua. Persoalan radikalisasi agama yang kini telah menyentuh pada sendi-sendi kebangsaan dan keumatan semakin nyata, tak terkecuali menggunakan forum khutbah jumat. Di lapangan, tidak sedikit para khatib jumat yang radikal menggunakan arena khutbah jumat itu untuk mengkampanyekan faham-faham keagamaan-radikal-nya sehingga caci-maki, hinaan, hujatan, dan bahkan rongrongan terhadap ideologi negara terus dilakukan. Fenomena ini jamak kita temui, tidak hanya di masjid-masjid yang dibangun masyarakat, tetapi juga masjid-masjid yang berada di lingkungan kementerian/lembaga dan BUMN/BUMD yang dimiliki negara juga telah banyak diisi dengan para khatib model itu.

Untuk itu, gagasan sang Menteri Agama patut untuk kita dukung dan amini sepenuh hati. Dengan terminologi yang pas dan strategi yang melibatkan semua stakeholders melalui organisasi yang berideologi toleran, perlu untuk dirumuskan bersama terkait isu khutbah jumat ini, bukan malah menolaknya sama sekali. Dengan menolaknya, maka kita dengan sendirinya membiarkan khutbah jumat itu semakin masif untuk digunakan sebagai wahana radikalisasi agama dan bahkan politisasi atas nama agama.?

Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon dan Pendiri Pondok Pesantren Nahdlah Bahriyah Cantigi Indramayu.

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren AlaSantri Attauhidiyyah Giren

Selasa, 20 Juni 2017

Kang Said: Bela Ulama dan Tanah Air = Bela Agama

Jakarta Attauhidiyyah Giren. Tujuan didirikan Ikatan Pencak Selat Nahdlatul Ulama atau Pagar Nusa adalah mengawal dan memagari NU dan bangsa Indonesia.

?

Kang Said: Bela Ulama dan Tanah Air = Bela Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Bela Ulama dan Tanah Air = Bela Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Bela Ulama dan Tanah Air = Bela Agama

Menurut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, tujuan organisasi yang didirikan 3 Januari 1986 tersebut, sudah benar, karena mengawal ulama dan membela tanah air sama dengan membela agama.

?

“Mengawal NU sebagai semangat agama, sebagai semangat keberagamaan kita, dan mengawal NKRI sebagai semangat keragaman kita. Itulah Pagar Nusa,” terangnya pada pidato pelantikan dan pengukuhan Pimpinan Pusat Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa masa khidmah 2012-2017 di pondok pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Ahad (21/10).

Attauhidiyyah Giren

?

Kemudian kiai kelahiran 1953 ini, menukil sebuah hadis yang artinya, Barangsiapa tidak punya tanah, tidak punya tanah air, tidak akan punya sejarah. Dan jika tak punya sejarah, maka tak punya karakter.

?

“Sejarah itu dibangun di atas tanah. Kalau kita ingin mengukir sejarah Islam, maka kita harus mencintai tanah air Indonesia terlebih dahulu.”

Attauhidiyyah Giren

?

Oleh karena itu, sambung doktor Umul Qurro Madinah ini, membela tanah air berarti membela agama.

?

“Makanya tidak heran jika KH Hasyim Asy’ari tanggal 22 Oktober di Tebuireng, mengeluarkan Resolusi Jihad untuk melawan Sekutu yang masuk Surabaya. Membela tanah air hukumnya sama dengan fardhu ‘ain. Sama dengan shalat, zakat, puasa dan haji,” tambahnya. ? ?

?

Kang Said juga mengucapkan selamat kepada Aizzudddin Abdurrahman, Ketua Pagar Nusa 2012-2017. “Semoga Pagar Nusa semakin maju. Kekurangan-kekurangan di masa lalu bisa menjadi pelajaran untuk kepengurusan sekarana.”

?

Selain itu, kiai kelahiran Cirebon ini menyatakan, selama kepengurusan akan menargetkan berdirinya 10 perguruan tinggi NU. “Baru berdiri tiga, Universitas Nahdlatul Ulama di Cirebon, Jawa Barat, di Lampung, dan Halmahera, Maluku,” pungkasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ahlussunnah, Daerah Attauhidiyyah Giren

Jumat, 16 Juni 2017

Mahasantri STKQ Dilatih Keaswajaan

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Bermitra dengan puslitbang Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran (STKQ) Al-Hikam, Pesantren Mahasiswa (Pesma) Al-Hikam menggelar pelatihan keaswajaan bagi kalangan mahasantri di Auditorium STKQ Al-Hikam lantai tiga, Depok, Jumat (15/3).

Demikian dikatakan oleh seorang mahasantri STKQ Al-Hikam Zaki Muttaqin kepada Attauhidiyyah Giren, Kamis (21/3) sore.

Mahasantri STKQ Dilatih Keaswajaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasantri STKQ Dilatih Keaswajaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasantri STKQ Dilatih Keaswajaan

“Para pemateri keaswajaan antara lain Pengurus LBM NU KH Kholil Nafis, KH Djohan Abdi Kurnia, pakar tasawuf KH Hilmi Ash-Shiddiqi Al-Aroqi, dan Rektor STKQ Al-Hikam KH Arif Zamhari,” kata Zaki Muttaqin.

Sementara peserta pelatihan terdiri dari para mahasantri STKQ Al-Hikam. Pelatihan dilangsungkan selama tiga hari berturut-turut.

Menurut Zaki Muttaqin, Rektor STKQ Al-Hikam dari pelatihan keaswajaan mengharapkan mahasantri STKQ ke depannya menjadi muslim yang rahmatan lil ‘alamin. Mahasantri nantinya mengambil sikap moderat dan tidak menghadapi suatu konflik dengan kekerasan.

Attauhidiyyah Giren

Rumusan pelatihan keaswajaan diformat agar mahasantri sanggup mencari solusi damai atas pelbagai persoalan. Materi pelatihan keaswajaan diambil dari konsep-konsep NU seperti mabadi khoiro ummah dan fikroh nahdliyah lainnya, tambah Zaki.

Pelatihan keaswajaan disudahi dengan penganugerahan doorprize bagi pemenang games dan perangkum materi terbaik.

Attauhidiyyah Giren

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Bahtsul Masail, Pendidikan Attauhidiyyah Giren

PBB Akan Segera Kibarkan Bendera Palestina

New York, Attauhidiyyah Giren. Sebuah rancangan resolusi mengenai pengibaran bendera Palestina di Perserikatan Bangsa-Bangsa akan disahkan pekan depan bersamaan dengan kunjungan presiden Mahmud Abbas ke New York, kata utusan Palestina, Kamis. 

PBB Akan Segera Kibarkan Bendera Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
PBB Akan Segera Kibarkan Bendera Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

PBB Akan Segera Kibarkan Bendera Palestina

Majelis Umum PBB akan melakukan pemungutan suara pada 10 September soal pengibaran, yang hampir pasti akan mendapatkan dukungan dari mayoritas forum beranggotakan 193 negara itu, lapor AFP. 

"Kami sudah mendapatkan suara (dukungan) dan kami sedang berupaya untuk mendapat sebanyak mungkin suara," kata Riyad Mansour, wakil Palestina untuk PBB. 

Attauhidiyyah Giren

Jika disahkan, PBB akan mempunyai waktu 20 hari untuk melaksanakan keputusan itu, yang akan bersamaan dengan kunjungan Abbas pada 30 September. 

Attauhidiyyah Giren

Mansour menolak untuk mengatakan apakah upacara pengibaran bendera secara resmi akan diadakan saat Abbas berkunjung. Kunjungan tersebut akan menonjolkan aspirasi Palestina bagi didirikannya sebuah negara Palestina. 

"Ini sebuah hal yang simbolis namun merupakan langkah lainnya untuk memperkuat pilar-pilar pembentukan negara Palestina di arena internasional dan untuk memberi sedikit harapan bagi rakyat kami bahwa masyarakat internasional masih mendukung kemerdekaan negara Palestina," kata Mansour kepada para wartawan. 

Rancangan resolusi, yang disampaikan pekan lalu kepada Majelis Umum PBB, itu akan memungkinan bendera Palestina dan Tahta Suci (Vatikan) dikibarkan bersama-sama dengan bendera ke-193 negara anggota PBB. 

Baik Vatikan maupun Palestina memiliki status pengamat nonanggota di PBB. 

Utusan Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa pekan ini menyatakan menentang keras inisiatif itu, menuding Palestina berupaya "mendapatkan poin dengan cara gampang dan tidak berarti di PBB."

Duta Besar Ron Prosor telah meminta Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dan presiden Majelis Umum, Ron Kutesa, untuk menghadang langkah itu --yang akan berarti PBB melanggar kebiasaan untuk hanya mengibarkan bendera negara-negara yang sudah menjadi anggota. 

Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan Ban akan mematuhi keputusan Majelis Umum. 

Majelis Umum telah meningkatkan status Palestina menjadi negara pengamat nonanggota pada 2012. 

Abbas dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berada di antara para pemimpin dunia yang akan berkumpul di markas besar PBB pada 25 September. Mereka datang untuk menghadiri pertemuan puncak yang membahas upaya membasmi kemiskinan serta untuk mengikuti sidang tahunan Majelis Umum. 

Paus Fransiskus akan menyampaikan pidato --yang ditunggu-tunggu banyak pihak-- pada 25 September. 

Vatikan secara resmi juga telah mengakui Palestina sebagai sebuah negara. 

Takhta Suci mengatakan pihaknya akan mematuhi keputusan Majelis Umum namun juga mencatat bahwa tradisi selama ini yang dijalankan PBB adalah mengibarkan bendera-bendera negara-negara yang sudah menjadi anggota penuh. (Antara/Mukafi Niam) Foto: nypost

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Aswaja Attauhidiyyah Giren

Banser dan NU Care Bantu Korban Kebakaran Kebon Pala

Jakarta, Attauhidiyyah Giren



Tak disangka oleh Novrijal dan keluarganya, malam peringatan HUT RI ke-72 yang lalu menyisakan duka yang mendalam baginya. Bagaimana tidak, sejak malam tersebut rumahnya tinggal abu dan tumpukan arang karena keganasan si jago merah. Tidak ada satu pun barang-barang yang terselamatkan akibat peristiwa yang terjadi di RT 01/07 Jalan Tanah Rendah, Kebon Pala, Jakarta Timur, Ahad (20/08) sore.

Banser dan NU Care Bantu Korban Kebakaran Kebon Pala (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser dan NU Care Bantu Korban Kebakaran Kebon Pala (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser dan NU Care Bantu Korban Kebakaran Kebon Pala

“Sekarang untuk kebutuhan sehari-hari kami sangat butuh. Di rumah sudah tidak ada benda apa pun yang tersisa. 10 anggota keluarga saya sekarang tinggal di posko,” kata Novrijal kepada Attauhidiyyah Giren, Selasa (22/8).

Novrijal dan keluarganya bukan satu-satunya warga yang menerima dampak kejadian tersebut. Ada sedikitnya 279 kepala keluarga lainnya yang mengalami nasib serupa.?

Untuk meringankan beban mereka, NU Care LAZISNU menyalurkan ? bantuan ke lokasi musibah. Bantuan berupa 500 kg beras, air mineral, mie instan beserta kebutuhan pokok lainnya diserahkan pada Selasa kemarin.

Attauhidiyyah Giren

“Kami berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan beban para korban. Semoga para keluarga yang terkena musibah selalu diberikan ketabahan,” ujar Direktur Penyaluran NU Care LAZSINU, Slamet Tuhari.

Pengamatan Attauhidiyyah Giren, di lokasi telah berdiri posko Banser Jakarta Timur. Sejak kejadian, anggota Banser melakukan aksi membantu para korban termasuk membersihkan puing-puing rumah yang hangus.

Attauhidiyyah Giren

“Setelah mendengar kabar terjadi kebakaran, kami langsung kerahkan tim untuk segera membantu korban dan mendirikan posko bantuan,” tutur Ibon, Satkorcab Banser Jaktim.

NU Care dan Banser akan terus berupaya meringankan beban para korban musibah kebakaran di Kebon Pala, dan mengajak masyarakat yang ingin turut serta meringankan bebasn tersebut. Bantuan berupa dana dapat disalurkan melalui rekening BCA 0680 1926 77, Mandiri 123 000 438 8977 atau BRI 0335 01 000 735 303.?

Setelah melakukan pentransefran atau untuk mendapatkan informasi tambahan, masyarakat dapat menghubungi NU Care LAZISNU di nomor 021-310 2931 atau 0813-9800-9800. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Tokoh, Aswaja Attauhidiyyah Giren

Rabu, 14 Juni 2017

Pameran Media NU di Arena Munas

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Para peserta Munas-Konbes di Kempek-Cirebon pertengahan September mendatang akan disuguhi karya-karya para penulis NU berupa media-media yang pernah terbit dan masih diterbit. Dari mulai Soeloeh Nadlatoel Oelama, Berita Nahdlatoel Oelama, Duta Masyarakat, hingga Attauhidiyyah Giren.

"Sekarang kami masih koordinasi dengan para pengelola media dan para pemegang dokumen media yang ada," kata inisiator pameran media NU, Hakim Jayli yang dihubungi Attauhidiyyah Giren melalui telepon, tadi malam, Rabu (5/9).

Pameran Media NU di Arena Munas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pameran Media NU di Arena Munas (Sumber Gambar : Nu Online)

Pameran Media NU di Arena Munas

Dia mengatakan, saat ini sekurang-kurangnya ada enam media cetak yang terbit di lingkungan NU dan dikelola oleh organanisasi di lingkungan NU.

Attauhidiyyah Giren

"Tashwirul Afkar diterbitkan PP Lakpesdam NU, majalah Aula yang diterbitkan PWNU Jawa Timur, Risalah NU yang diterbitan PBNU, Duta Masyarakat, tabloid Suara NU oleh PWNU Jawa Tengah, buletin Jumat oleh LDNU," jelasnya.

"Untuk media elektronik ada TV9 di Surabaya dan Attauhidiyyah Giren di Jakarta. Sebetulnya ada banyak radio dan website, tapi kalau dikumpulin semua tidak muat tempatnya," tambah Hakim yang juga direktur TV9.

Attauhidiyyah Giren

Hakim berharap, dengan dipamerkannya media-media itu, warga NU bisa terlibat aktif untuk menghidupkan media di lingkungannya. 

"NU ini punya kekuatan yang dahsyat di dunia kepenulisan, sejarahnya juga panjang. Jurnal Afkar itu jurnal langka di negeri ini. Hayo mana ada jurnal keislaman yang terbit nasional. Afkar itu sudah lebih dari 12 tahun eksis. Majalah Aula itu sudah terbit sejak tahun 86, sekarang masih terbit. Apa tidak hebat?" ungkap Hakim.

Hanya saja Hakim mengingatkan, dunia penerbitan ini cenderung menurun, NU harus mengantisipasi. "Tapi jangan semua terjun ke online. Kasihan yang tidak bisa akses internet, karena jumlahnya lebih banyak, apalagi warga NU, kebanyakan di desa. Untuk itu kami akan membicarakannya di arena Munas nanti. Media harus menjadi perhatian bersama. Kita mesti berjamaah agar terus terbit," jelasnya.

Selain memamerkan media-media yang masih terbit, pameran juga akan menyuguhkan media-media lama, seperti Soeloeh NO, Chazanah, Berita NO, Warta NO, LINO, Risalah Islamiyah, Oetoesan NO, Berkala Sarbumusi, dan sebagainya.

Penulis: Hamzah Sahal

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren RMI NU Attauhidiyyah Giren

Alissa Wahid Ingatkan Pesan Gus Dur untuk Jaga Perdamaian

Jakarta, Attauhidiyyah Giren



Alissa Wahid, putri pertama Gus Dur menyampaikan sambutan atas nama keluarga dalam acara haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke-7 di komplek Al-Munawwaroh Jalan Warung Silah 10 Ciganjur, Jakarta Selatan. Jumat (23/12).

Alissa Wahid Ingatkan Pesan Gus Dur untuk Jaga Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa Wahid Ingatkan Pesan Gus Dur untuk Jaga Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa Wahid Ingatkan Pesan Gus Dur untuk Jaga Perdamaian

Pada kesempatan tersebut, Alissa mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada para hadirin, khususnya kepada presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Menurutnya, haul adalah tradisi Nahdlatul Ulama, yakni bagaimana mengambil pelajaran dari para pendahulu kita. Lebih lanjut, untuk haul kali ini sangat bermakna karena bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Sesuai dengan tema yang diangkat haul pada kali ini, Ngaji Gus Dur: Menebar Damai Menuai Rahmat. Kata Alissa, Perdamaian bagi Gus Dur itu bukan statis, melainkan dinamis dan harus terus dipelihara. Perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi.

“Yang sama jangan dibeda-bedakan, yang beda jangan disama-sama-kan!” tegasnya menirukan Gus Dur.

Attauhidiyyah Giren

Hadir pula pada haul ini, mantan Wapres Budiono, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, KH ? Said Aqil Siroj, Kapolri Jendral Tito Karnavian, Panglima TNI Gatot Nurmantio, Habib Umar Muthohar, Acep Zam Zam Noor, Frans Magnis Suseno, Sabam Sirait dll.(Husni Sahal/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren Pahlawan Attauhidiyyah Giren

Minggu, 11 Juni 2017

Kang Said: Kurban Simbol Potong Nafsu

Jakarta,Attauhidiyyah Giren. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, bahwa kurban adalah simbol umat beragama, khususnya umat Islam, dalam memotong ego atau hawa nafsunya. Memotong nafsu dari cinta dunia, harta, kedudukan, anak, istri, organisasi, partai, dan lainnya.

Kang Said: Kurban Simbol Potong Nafsu (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Kurban Simbol Potong Nafsu (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Kurban Simbol Potong Nafsu

“Semua cinta harus di bawah cinta Allah. Yang paling utama harus cinta Allah. Setelah itu boleh mencintai lainnya,” katanya pada sambutan menerima kurban dari Extra Joss PT Bintang Todjoe di halaman gedung PBNU, Jakarta, Senin (21/9).

Selain kurban, tambah kiai yang akrab disapa Kang Said, itu simbol memotong hawa nafsu dengan zakat. “Ekstra Joss memotong kecintaanya kepada harta dengan memotong sapi,” lanjutnya.

Attauhidiyyah Giren

Ia menerangkan, pemotongan hewan kurban, adalah tanda peduli sesama di hari Lebaran Idul Adha dengan masyarakat tidak mampu. Sehari dalam setahun, orang yang mampu berbagi dengan kalangan yang tidak mampu. “Apalagi di pasar harga daging sapi 125.000,” katanya.

Attauhidiyyah Giren

Waktu memotongnya, sambung dia, pada hari Lebaran atau tanggal 10 Dzulhijjah dan 3 hari sesudahnya. Tiga hari setelah 10 Djulhijjah tersebut untuk memberi kesempatan bagi yang belum sempat dan memberi peluang bagi yang ingin menambah.

Di ujung sambutan, ia mengucapkan terima kasih atas kepedulian Bintang Toedjoh Extra Joss yang telah menyerahkan kurban sapi seberat 1 ton. Jika ingin peduli umat Islam dan masyarakat kurang mampu, harus peduli NU karena mayoritas masyarkat nahdliyin masih miskin.

Hadir pada kesempatan itu, Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, Ketua PBNU KH A Manan A Ghani, Ketua Lazisnu Syamsul Huda, Bendahara PBNU H Bina Suhendra, Direktur PT Bintang Todjoe Simon Jonatan, dan artis Rio Dewanto. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Hikmah, PonPes Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 10 Juni 2017

Kopri PB PMII Paparkan Cara Memperkuat Bangunan Keindonesiaan

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Fakta bahwa Indonesia kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang beragam perlu dipahami secara luas oleh masyarakat sebagai kekuatan sebuah bangsa. Bangunan kekayaan tersebut harus dirawat oleh penghuninya agar Indonesia semakin kuat.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum Kopri Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), Septi Rahmawati saat menjadi narasumber pada acara Harlah ke-5 Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) dan peluncuran buku Indonesia Rumah Kita sekaligus Refleksi Sumpah Pemuda ke-89, Selasa (31/10) di Gedung PBNU Jakarta.

Kopri PB PMII Paparkan Cara Memperkuat Bangunan Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kopri PB PMII Paparkan Cara Memperkuat Bangunan Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kopri PB PMII Paparkan Cara Memperkuat Bangunan Keindonesiaan

Septi mengungkap kekayaan Indonesia tersebut termaktub jelas dalam penjelasan sembilan utama buku Indonesia Rumah Kita yang ditulis Direktur Eksekutif LKSB Abdul Ghopur dan Rizky Afriono.

“Sekilas saya membaca buku tersebut, kita dipahamkan bahwa Indonesia diberikan kekayaan melimpah. Jadi ibarat rumah, ornamen sudah ada, tiang dan atap sudah ada, perabotan-perabotan yang ada di dalamnya juga sudah lengkap. Tugas penghuninya untuk merawat agar bersih dan kuat,” papar perempuan kelahiran Lampung Tengah ini.

Attauhidiyyah Giren

Ia mendorong kepada seluruh pemuda sebagai calon penerus masa depan bangsa untuk terus berkarya sekaligus berinovasi agar persatuan dan kemajuan bangsa bisa terwujud.

Sementara itu, Abdul Ghopur yang juga intelektual muda NU itu mendorong para pemuda agar tidak berhenti menjaga dan merawat Indonesia. Hal ia sampaikan mengingat kondisi bangsa akhir-akhir tak lepas dari konflik yang tak jarang berpotensi memecah bela bangsa.

Attauhidiyyah Giren

“Para pendiri bangsa termasuk para ulama sudah bekerja keras membangun negara ini sehingga tugas kita para pemuda untuk meneruskan,” ujar Ghopur.

Dia tidak menampik hingga sekarang masih ada sekelompok orang yang tidak setuju dengan bangunan Pancasila. Padahal dasar negara ini telah terbukti menguatkan menyatukan Indonesia yang beragam. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Lomba, Pertandingan Attauhidiyyah Giren

Membangun Kembali Indonesia

Dalam upaya bangkit dari krisis nasional yang berkepanjangan, diperlukan langkah untuk membangun kembali Indonesia dengan berpegang teguh kepada prinsip persatuan, kemanusiaan dan keadilan yang dilandasi oleh nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa.

Langkah ini memerlukan adanya konsensus baru yang melibatkan seluruh elemen bangsa tanpa kecuali, agar tercipta Indonesia yang benar-benar mengejawantahkan semangat Bhineka Tunggal Ika yang menjadi watak dasar bangsa ini. 

Dalam kenyataannya, bangsa ini belum bisa sepenuhnya melakukan dialog yang melibatkan semua pihak secara menyeluruh akibat adanya warisan sejarah masa lalu yang pahit, yaitu terjadinya ketegangan, bahkan konflik antara kelompok komunis dengan segenap pendukungnya dengan kelompok non komunis, yang terjadi sejak tahun 1948 hingga tahun 1965.

Membangun Kembali Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Membangun Kembali Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Membangun Kembali Indonesia

Konflik tersebut menelan banyak korban nyawa dan harta dari kedua belah pihak. Hingg saat ini ketegangan tersebut masih belum terselesaikan dengan baik, sehingga mengakibatkan terjadi friksi bahkan masih memunculkan kecurigaan yang berkepanjangan. 

Untuk mengatasi ketegangan dan warisan konflik masa lalu itu, maka sekarang ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan silaturahmi antara semua pihak untuk melakukan dialog terbuka, untuk membangun kembali fase baru kehidupan berbangsa.

Attauhidiyyah Giren

Dengan adanya dialog terbuka ini, diharapkan kedua pihak saling memahami posisi masing-masing, sehingga bisa saling memaafkan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan sebagai langkah penting untuk melakukan rekonsiliasi.

Attauhidiyyah Giren

Dengan adanya rekonsiliasi ini, diharapkan bisa diciptakan konsensus nasional baru guna membangun kembali Indonesia yang bersatu, utuh, dan berkeadilan berlandaskan semangat Proklamasi, Pancasila, dan UUD1945.

Hanya dengan adanya kerjasama semua pihak itulah, martabat dan kedaulatan Indonesia bisa ditegakkan kembali. Keadilan dan kemakmuran bisa diwujudkan, sehingga bangsa Indonesia bisa sejajar dengan bangsa lain, bahkan bisa menjadi pelopor dan motivator bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia.

 

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Jakarta, 14 Agustus 2012

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sejarah Attauhidiyyah Giren

LKNU Kota Surabaya Gelar ”Khitanan Sehat dan Ceria”

Surabaya, Attauhidiyyah Giren

Bertujuan melaksanakan salah satu syariat Islam dan membantu masyarakat sekitar yang kurang mampu, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kota Surabaya menggelar khitanan masal gratis. Kegiatan yang digelar bersamaan dengan Peringatan Hari Pahlawan, diberi nama ”Khitanan Sehat dan Ceria”.

Bertempat di Gedung FISIP Universitas Pembangunan Veteran Surabaya, acara berlangsung Kamis (24/11) kemarin. Sedikitnya 32 anak terlibat dalam kegiatan ini.

LKNU Kota Surabaya Gelar ”Khitanan Sehat dan Ceria” (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Kota Surabaya Gelar ”Khitanan Sehat dan Ceria” (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Kota Surabaya Gelar ”Khitanan Sehat dan Ceria”

Ketua LKNU Kota Surabaya Sukma Sahadewa menjelaskan peserta berasal Sekolah Dasar dan panti asuhan di sekitar Kota Surabaya dan Sidoarjo.

Attauhidiyyah Giren

”Kegiatan ini merupakan kegiatan yang bagus dan kita dukung terus untuk membantu dan melayani masyarakat khususnya peserta khitanan,” kata Sukma saat dihubungi Attauhidiyyah Giren Jumat (25/11).

Sukma menambahkan LKNU Kota Surabaya siap bekerjasama dengan melakukan kegiatan sosial untuk meringankan beban masyarakat.

Attauhidiyyah Giren

Ketua FISIP Universitas Pembangunan Veteran Surabaya yang juga penggerak IPNU Kota Surabaya M Azmi menyampaikan, kegiatan ini akan dilakukan setiap tahun. Tujuannya untuk membantu sesama melalui bakti sosial kesehatan khitanan.

Salah satu peserta Deko menyampaikan kesannya. Saat dikhitan ia sangat takut. Namun, setelah selesai ternyata ketakutan itu hanya perasaan saja.

”Ternyata khitan tidak sakit dan bisa langsung aktivitas,” kata siswa kelas empat SD tersebut.

Kegiatan tersebut turut didukung sejumlah pihak, diantaranya Komunitas Motor CB Indonesia (KCBI) Kota Surabaya dan Sidoarjo, dan Komunitas Kesehatan Sahabat Dokter Sukma.

Khitan sendiri diwajibkan bagi pria yang beragama Islam. Selain membersihkan sisa air kencing yang masih membekas pada kantung kemih, khitan juga dapat mengurangi risiko tertularnya penyakit seksual, mencegah penyakit pada penis, mengurangi risiko inveksi saluran kemih, mengurangi risiko kanker penis, menghindari risiko kanker serviks pada pasangan, dan menjaga kebersihan penis. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pendidikan, Nasional Attauhidiyyah Giren

Mencicipi Berkat Maulid Nabi

Tanpa harus menunggu instruksi RW atau RT, warga NU sudah mengerti dari sononya untuk menyediakan aneka penganan dan makanan untuk dihidangkan dalam perayaan maulid Nabi Muhamad SAW.

Penganan maupun makanan yang tidak setiap hari tergeletak di meja sarapan pagi, bisa keluar begitu saja di perayaan maulid sebagai berkat. Penganan basah maupun kering khas di lingkungan masing-masing, mengobati kerinduan mereka pada makanan-makanan langka tersebut.

Mencicipi Berkat Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencicipi Berkat Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencicipi Berkat Maulid Nabi

Penganan siap lahap antara lain adalah kue pisang, ketimus, gemblong, dodol, uli, ketan, lemper, dan lainnya. Kecuali itu, perayaan maulid juga dihadiri aneka buah-buahan baik yang panen musim setahun sekali atau lebih.

Dalam menyajikan hidangan maulid, warga NU sekenanya saja mengemas berkat. Kemasan yang dipakai berupa daun pisang, plastik, kertas nasi, hingga daun jati. Ada juga yang menggabungkan antara plastik dan daun pisang. Bahkan, ada pula yang membungkus makanan dalam keranjang dari anyaman bambu. Itu sah saja ditinjau dari hukum agama maupun hukum positif.

Isi berkat tentu saja bukan urusan kiai apalagi jajaran perangkat desa. Isi berkat ditentukan oleh individu masyarakat sendiri. Nasi boleh sama. Perkara lauknya, itu putusan yang tidak akan pernah bulat hingga hari Kiamat. Lauk berkat boleh daging kerbau, sapi, ikan bandeng, ikan emas, ikan mujahir, ayam atau telurnya.

Boleh jadi daging itu dimasak model goreng, semur, rendang, atau dendeng. Untuk ayam, ada kekhususan sedikit selain aneka model di atas. Warga NU juga kerap menyajikannya dalam bentuk opor atau dimasak banjir kecap. Yang pasti, nasi itu tidak dibiarkan sendirian. Akan terlihat janggal kalau nasi putih sendirian mendekam di dalam berkat.

Attauhidiyyah Giren

Ini pelajaran awal yang baik buat para remaja perihal hak yang nilainya melebihi harga sepuluh kilo daging. Aneka warna penganan dan lauk meramaikan perayaan maulid tanpa ada pembatasan atau pengawasan dari institusi apapun. Penganan yang terlalu manis atau asin juga tidak membuat mereka cerewet seperti pengunjung restoran.

Attauhidiyyah Giren

Berkat maulid berupa penganan masuk tidak hanya ke dalam rongga tubuh mereka. Berkat juga bisa masuk ke alam pikiran mereka. Bayangkan, kehadiran beragam makanan membuat kanak-kanak yang belum mengerti dunia kegirangan. Meskipun pasti kebagian, kanak-kanak berebutan menjambret makanan dari tangan panitia.

Kanak-kanak seperti kesetanan. Kalau keadaan sudah demikian, imbauan tertib panitia takkan diindahkan. Mereka hanya mengerti berebut. Titik. Tetapi, melihat kekisruhan kecil itu, orang dewasa hanya tertawa.

Berkat Gaya Muslimat NU Depok

Dalam rangka peringatan maulid Nabi Muhamad SAW. pada 1434 H yang bertepatan pada tahun 2013, pengurus Muslimat NU Depok tidak mau tertinggal kaum Nahdliyin. Mereka mengumpulkan paling sedikit dua ribu kadernya di Masjid Dian Al-Mahri yang masyhur dikenal ‘Masjid Kubah Emas’, jalan Meruyung, Kecamatan Limo Depok, Senin (28/1) pagi.

Hanya saja perayaan maulid tahun ini meleset jauh makanan dan penganan di atas. Mereka terima undangan dari majelis taklim, lalu datang hanya membawa diri tanpa makanan apapun. Karena, berkat sudah disediakan panitia maulid. Hal ini dipandang ringan saja oleh para hadirin.

Pulang mendengarkan sifat luhur Nabi Muhamad SAW, kaum ibu Muslimat NU Depok hanya menenteng kepalan-kepalan garam mentah. Tak ada semur kerbau, opor ayam, pecak bandeng, atau keributan kanak-kanak berebut berkat.

Bagi umat Islam pengamal setia maulid atau penentangnya, berkat berupa garam mentah tidak lazim sama sekali. Sesuatu di luar kelaziman akan mendatangkan guncangan di tengah masyarakat. Setuju dengan model berkat demikian? Silakan. Tidak setuju? Anggap saja angin lalu.

Yang masih menggantung, apa maksudnya pengurus Muslimat NU Depok membekali garam mentah sebagai berkat? Apa karena kaum ibu dinilai lebih akrab dengan cobek? Mungkin boleh jadi kaum ibu dinilai lebih mandiri dalam mengolah makanan yang senantiasa bercengkerama dengan garam?

Pengurus Muslimat NU Depok mungkin hanya ingin mengingatkan bahwa garam merupakan satu kebutuhan dasar bagi manusia. Tanpa garam, orang bisa diserbu penyakit gondok. Tak ada garam, kelezatan masakan pun berkurang drastis seperti benda jatuh dari lantai lima langsung menuju lubang sumur.

Boleh jadi berkat berisi garam mentah merupakan cara kaum ibu NU membela nasib petani garam Indonesia yang terhuyung-huyung akibat kebijakan impor garam oleh pemerintah setahun terakhir.

Berkat garam Muslimat NU Depok boleh jadi merupakan kelanjutan dari kongres Asosiasi Petani Garam Nusantara, Aspegnu 11-12 Juli 2012 di Madura atas pelbagai soal terkait garam nasional. Bagi-bagi garam merupakan partisipasi Muslimat NU agar petani garam dalam negeri tidak menjadi “Anak itik mati di lumbung padi” atau alih profesi menjadi importir garam.

Sadar akan kepentingan umum, Muslimat NU Depok sanggup mengurungkan niat untuk berdemonstrasi yang akan menimbulkan kebisingan selain kemacetan. Dalam hal ini, kaum ibu Muslimat NU tidak mau gegabah menyikapi masalah garam nasional. Karena, salah-salah ambil sikap dapat merumitkan persoalan yang sebenarnya mudah.

Karena itu, mereka berinisiatif untuk memilih bentuk berkat maulid tahun ini dengan garam mentah dalam arti harfiah. Artinya, berkat itu benar-benar garam mentah yang dibawa pulang oleh 2000 kader Muslimat NU Depok. Mereka akan bercerita berkat pada suami, anak, dan anak menantu mereka. (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Syariah, Halaqoh, Pesantren Attauhidiyyah Giren

Gus Rozin: Moralitas Awal Kemajuan Olahraga di Indonesia

Trenggalek, Attauhidiyyah Giren



Direktur Liga Santri Nusantara KH Abdul Ghaffar Rozin menilai, penyelenggaran Liga Santri Nusantara (LSN) tahun ketiga ini berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan semakin profesionalnya panitia nasional dan regional dalam menggawangi pelaksanaan kompetisi melalui berbagai perbaikan peraturan.

Ketua PP RMI-NU itu menyatakan bila prinsip profesional dan fair play benar-benar diterapkan, maka bukan tidak mungkin Liga Santri dapat lebih banyak menelurkan bibit-bibit pesepakbola yang handal yang bisa mengharumkan nama indonesia dalam kancah persepakbolaan Nasional dan Internasional.?

Gus Rozin: Moralitas Awal Kemajuan Olahraga di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Rozin: Moralitas Awal Kemajuan Olahraga di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Rozin: Moralitas Awal Kemajuan Olahraga di Indonesia

"Persepakbolaan nasional benar-benar menunggu hasil dari Liga Santri Nusantara ini," ucap kiai akrab disapa Gus Rozin itu saat memberikan sambutan pada pembukaan LSN Jawa Timur 1 di stadion Menak Sopal, Trenggalek, Ahad sore (17/9).

Gus Rozin mengatakan, kompetisi tahun ini berbeda dengan kompetisi tahun sebelumnya. Liga Santri Nusantara tahun ini diikuti 34 Region se-Indonesia dengan jumlah 1.024 pondok pesantren dari seluruh Nusantara. LSN membatasi usia peserta maksimal 17 tahun.?

Attauhidiyyah Giren

"Satu hal yang ingin kami sampaikan adalah Liga Santri tahun 2017 ini para pesertanya harus murni dari santri. Tidak boleh ada pemain bon-bonan. Tidak boleh ada pencurian umur dan tidak boleh ada kecurangan-kecurangan yang menodai ahlakul karimah dan menodai sportivitas yang kita junjung bersama," tegasnya.

Gus Rozin pun berharap, panitia Liga Santri ? bisa bertindak tegas kepada club-club pesantren yang terindikasi berlaku tidak jujur dengan memasukkan pemain dari luar pesantren.?

"Karena tujuan Liga Santri ini adalah untuk mencari kader terbaik dari sisi moralitas, dari sisi spiritual. Skille bisa dibangun, tapi moralitas itu harus dimulai sejak dari awal. Moralitas adalah dasar dari kemajuan olahraga di republik ini, termasuk juga sepakbola," tandasnya.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) H Imam Nahrowi membuka Kick Off Liga Santri Nusantara (LSN) region Jawa Timur 1 dan Piala Bupati Trenggalek di Stadion Menak Sopal, Trenggalek, Ahad (17/9) sore.

Attauhidiyyah Giren

Didampingi Ketua PP RMI KH Abdul Ghaffar Rozin, Koordinator Nasional Gerakan Ayo Mondok KH Luqman Harits, Ketua PCNU KH Fatchullah, dan Bupati Trenggalek Emil Elistianto Dardak, Menpora melakukan tendangan pertama dari tengah lapangan.

Liga Santri Nusantara region Jawa Timur 1 dilaksanakan di Trenggalek dari tanggal 17-22 September 2017 diikuti 32 klub pesantren dari dua Karesidenan, Kediri dan Madiun. Kompetisi ini menggunakan sistem pertandingan setengah kompetisi. Dimana 32 tim dibagi ke dalam delapan grup. Satu grup berisi empat tim, dan tiap tim akan bertanding tiga kali. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pondok Pesantren, Nusantara Attauhidiyyah Giren

Rabu, 07 Juni 2017

Alissa Wahid: Gagasan Gus Dur Bersumber dari Ajaran Aswaja

Cirebon, Attauhidiyyah Giren. Para pecinta Alm. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menamakan diri Gusdurian di wilayah Cirebon, Jawa Barat, menggelar acara pertemuan di Pesantren Majelis Tarbiyah Hidayatul Mubtadiin (MTHM) Ketitang, Cirebon Kamis (7/7) kemarin. ? Pertemuan mengangkat tema “Implementasi Pemikiran Gus Dur dalam Mengawal moral Remaja Indonesia”.

Di hadapan para Gusdurian yang terdiri dari aktifis muda NU dan pesantren, mahasiswa, dan masyarakat Cirebon dan sekitarnya, Koordinator Gusdurian Alissa Qotrunnada Wahid yang hadir dalam acara ini mengatakan, semua gagasan Gus Dur, bersumber dari ajaran Aswaja atau Ahlussunnah wal jama’ah.

Alissa Wahid: Gagasan Gus Dur Bersumber dari Ajaran Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa Wahid: Gagasan Gus Dur Bersumber dari Ajaran Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa Wahid: Gagasan Gus Dur Bersumber dari Ajaran Aswaja

“Segala apa yang telah digagas oleh seorang Gus Dur semenjak awalnya, baik tentang keIslaman ala pesantren, kemanusiaan, kesetaraan, pembebasan, keadilan, dan lain-lain sebenarnya hanya mengembangkan dari ? apa yang telah menjadi prinsip pokok dari ajaran Ahlus-sunnah wal Jamaah dan NU,” papar Alissa Qotrunnada Wahid dalam acara temu Gusdurian Cirebon di Pesantren Majelis Tarbiyah Hidayatul Mubtadiin (MTHM) Ketitang, Cirebon, Kamis (7/7).

Attauhidiyyah Giren

Remaja dipilih sebagai topik khusus pada diskusi kali ini karena dipandang perlu untuk mengawal ke-Aswaja-an sebagai prinsip kebangsaan ? sejak dini, yakni semenjak ? masa remaja.?

“Seorang remaja harus disiapkan dengan prinsip-prinsip Aswaja yang kuat sebelum mereka memasuki tataran luar yang lebih beragam, karena setelah ini mereka akan menemui beberapa pilihan corak keagamaan Islam yang sesuai dengan konteks keIndonesiaan, adapula yang sebenarnya kurang pas untuk diterapkan di negeri seberagam Indonesia ini,” tambah puteri sulung Gus Dur ini yang berkesempatan menjadi pembicara pertama.

Attauhidiyyah Giren

Hal senada disampaikan Marzuki Wahid dari Fahmina Institute. Menurutnya, penting sekali untuk mengawal para generasi remaja dengan prinsip-prinsip keIndonesiaan yang telah digariskan NU dan Gus Dur.?

“Para remaja harus ditanamkan dengan kuat prinsip-prinsip luhur yang diamanatkan oleh NU, Pesantren, dan Gus Dur sendiri. Sehingga dalam satu sisi mereka akan siap untuk membaca berbagai corak yang terdapat di dunia luar, akan tetapi mereka akan tetap berbangga dan kuat memegang teguh tradisi dan prinsip kepesantrenan," kata Marzuki yang juga pengurus pusat Lakpesdam NU.

Diskusi kebangsaan yang dimoderatori oleh Sobih Adnan (ISIF Cirebon) ini termasuk dalam rangkaian peringatan haul al-marhumin KH Salwa Yasin, KH Asror Hasan, dan KM Adnan Asror serta Imtihan ke-34 Pesantren MTHM Ketitang, Japurabakti, Cirebon.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Sobih Adnan?

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Halaqoh, Sunnah, Budaya Attauhidiyyah Giren

Guru Besar UMM: Pesantren NU Berjasa Ciptakan Harmoni dalam Keberagaman

Jombang, Attauhidiyyah Giren - Banyaknya pondok pesantren besar berbasis Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang memberikan kontribusi yang besar terhadap terciptanya toleransi dan kebebasan beragama di wilayah tersebut. Jamiyah NU yang berkarakter moderat mampu merangkul dan mengakui adanya keberagamaan di Jombang.

Hal ini disampaikan Syamsul Arifin, guru besar sosiologi agama Universitas Muhammadiyah Malang kepada wartawan, Kamis siang (06/04), usai menjadi salah satu narasumber acara Diskusi Panel Nasional bertajuk “Toleransi dan Kebebasan Beragama di Indonesia” yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Darul Ulum Jombang bekerja sama dengan Asia Foundation serta Universitas Muhammadiyah Malang.

Guru Besar UMM: Pesantren NU Berjasa Ciptakan Harmoni dalam Keberagaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Besar UMM: Pesantren NU Berjasa Ciptakan Harmoni dalam Keberagaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Besar UMM: Pesantren NU Berjasa Ciptakan Harmoni dalam Keberagaman

“Harmonisnya kehidupan beragama di Jombang banyak dipengaruhi karakter pesantren yang menjadi karakter masyarakat di sini," ujar direktur Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (Pusam) Program Pascasarjana UMM ini.

Attauhidiyyah Giren

Di samping? berkultur Aswaja, karakter masyarakat Jombang yang lebih dominan bercorak mataraman menjadikan kehidupan yang harmonis. “Karakteristik masyarakat Jombang yang lebih dominan bercorak mataraman lebih memudahkan pekerjaan kami (pengendalian Kamtibmas)," papar Waka Polres Jombang, Kompol Hendriyana.

Syamsul juga tidak setuju terkait wacana pemisahan antara agama dan politik. Karena menurutnya, hal itu sulit dilakukan. Ia memberikan sebuah contoh, adanya Kementerian Agama di Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia bukan negara sekuler, tapi juga bukan negara teokratif. "Terpenting sekarang adalah bagaimana membangun agama sebagai etika publik," tambahnya.

Attauhidiyyah Giren

Namun demikian, Syamsul mengakui bahwa isu agama sangat mudah di eksploitasi untuk kepentingan elite politik tertentu, sehingga akhir-akhir ini muncul isu primordialisme agama. Agak berbeda dengan Syamsul, salah satu narasumber lainnya yakni Budhy Munawar Rachman dari Asia Foundation lebih sepakat jika politik dipisahkan dari agama. "Itu bukan berarti agama disingkirkan, ini yang orang sering salah paham. Artinya, semua urusan politik bernegara harus di dasarkan pada konstitusi, itu entry pointnya," papar Budhy.

Masih menurut Budhy, Indonesia sebenarnya mempunyai paham yang telah disepakati bersama, namun belum terlihat pada praktiknya. "Realitasnya, agama masih bisa mempengaruhi politik hari ini. Jadi sebenarnya, jangan sampai ada pertentangan antara substansi agama dengan substansi konstitusi," pungkas Budhi.

Tentang pelaksanaan kebebasan beragama di Indonesia, Budhy menilai pada masa reformasi indeksnya masih bagus. Dengan indikator rangking indeks internasional (freedom index) di angka enam hingga tujuh. Indeks ini adalah meliputi indeks kebebasan berekspresi, berserikat, beragama dan lain-lain. "Namun pada akhir periode pemerintahan SBY, indeks ini turun hingga pada angka lima," pungkasnya.? (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pahlawan, Quote, Lomba Attauhidiyyah Giren

Selasa, 06 Juni 2017

NU Minta BNN Tes Urine Anggota Dewan Pesawaran

Pesawaran, Attauhidiyyah Giren

Ketua PCNU Pesawaran, Lampung KH Salamus Solihin meminta Badan Narkotika Nasional (BNP) melalui instutusi di daerahnya melakukan tes urine kepada seluruh anggota dewan setempat menyusul tertangkapnya dua wakil rakyatnya menggunakan narkoba.

NU Minta BNN Tes Urine Anggota Dewan Pesawaran (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Minta BNN Tes Urine Anggota Dewan Pesawaran (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Minta BNN Tes Urine Anggota Dewan Pesawaran

"Kami menyayangkan kejadian tersebut. Mereka yang seyogianya menjadi panutan masyarakat, justru berbuat sebaliknya, tidak patut dicontoh," ujar Kiai Solihin, di Pesawaran, Kamis (5/1).?

Selasa (3/1), Tim Subdit I Direktorat Reserse Narkoba Polda Lampung menggerebek rumah di Dusun Penengahan, Desa Gedong Tataan, Kecamatan Gedong Tataan, Pesawaran. Dari penggerebekan itu, polisi menangkap delapan orang. Mereka ialah Hendra Irawan, Harpandi, Hamdani, Darma Setiawan, Hayyun dan Alwi.

Lalu Rama Diansyah, Wakil Ketua DPRD Pesawaran dari Partai Gerindra dan Yudianto dari Partai Amanat Nasional (PAN). Hasil penggerebekan, polisi menyita barang bukti berupa satu plastik klip berisi sisa sabu, alat hisap.?

Attauhidiyyah Giren

"PCNU Pesawaran meminta aparat kontinu melakukan operasi penyalahgunaan narkoba. Adapun BNN untuk bisa melakukan tes urine kepada semua anggota dewan Pesawaran," papar Kiai Solihin lagi.

Tertangkapnya dua wakil rakyat itu menurut dia menjadi bahan evaluasi bersama, supaya kedepan rakyat bisa menjadikan hal tersebut sebagai pelajaran berharga. "Jangan sampai memilih calon pemimpin asal asalan, sebaiknya ikuti petunjuk para ulama," demikian KH Salamus Solihin. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren Khutbah Attauhidiyyah Giren

IPNU-IPPNU Rembang Kenalkan MEA

Rembang, Attauhidiyyah Giren. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) merupakan bentuk hubungan kerjasama antarnegara anggota yang tergabung di ASEAN dalam berbagai bidang, seperti perdagangan, pendidikan, ekonomi dan lainya. Lantaran sangat penting diketahui, Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU) Rembang memperkenalkan MEA kepada masyarakat, khususnya warga Desa Purworejo Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang di halaman masjid setempat, Rabu (6/01/2015) minggu lalu.

IPNU-IPPNU Rembang Kenalkan MEA (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Rembang Kenalkan MEA (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Rembang Kenalkan MEA

Pengenalan MEA dilakukan oleh Ketua PC IPNU Rembang, Ahmad Humam ketika memberi pengarahan pasca acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Purworejo Masa Khidmat 2015/2017.

Humam mengatakan, dengan adanya MEA, negara anggota memliki kelonggaran dalam melakukan hubungan kerja sama luar negeri. Sehingga sangat dimungkinkan banyak warga asing yang akan masuk di Indonesia dan membuat persaingan sumber daya manusia (SDM) yang cukup ketat.

Attauhidiyyah Giren

"Oleh sebab itu, kita perlu mempersiapkan SDM yang terampil, kreatif dan pastinya siap menghadapi MEA. Perlu diketahui, IPNU-IPPNU menjadi organisasi pelajar Banom NU yang dipersiapkan untuk itu mempertahankan kearifan lokal serta bentuk amalan ibadah ala Ahlusunnah wal Jamaah," jelasnya.

Attauhidiyyah Giren

Kepala Desa Purworejo Ibu Hj Kasmiyati dalam sambutannya mengapresiasi pelantikan Pengurus IPNU-IPPNU Ranting Purworejo, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang. Pihaknya mendukung penuh kegiatan yang positif bagi masyarakat, khususnya pelajar. Dia berharap, kedepan akan lahir pemuda-pemuda yang mampu mengendalikan diri dari kenakalan remaja.

"Kegiatan ini sangat bagus. Dengan aktif di IPNU-IPPNU, para pelajar khususnya yang ada di Desa Purworejo tidak terjerumus tindakan yang negatif," tuturnya ketika sambutan.

Sementara itu, kegiatan Pelantikan yang dirangkum dalam agenda Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Desa Purworejo berjalan lancar. Tampak hadir Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) IPNU Kaliori, Moh Lilik Wijanarko dan Ketua PAC IPPNU Kaliori, Siti Mutmainah dan jajaran pengurus banom lainya. (Wawan Kurniawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kajian Islam, AlaSantri Attauhidiyyah Giren

Jumat, 02 Juni 2017

Indonesia Mestinya Berdaulat di Bidang Budidaya Laut

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia Rokhmin Dahuri didaulat sebagai pembicara kunci dalam Konferensi Akuakultur Dunia yang dihelat di Ho Chi Minh City, Vietnam, Jumat (10/10). Ia menyampaikan potensi besar kekayaan kandungan laut Indonesia pada pertemuan dunia ini.

Kepada Attauhidiyyah Giren, Menteri Kelautan dan Perikanan di masa Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati itu mengatakan, Indonesia harus banyak berbenah. Segala bentuk program pemerintahan mestia diarahkan pada kedaulatan di bidang akuakultur. Sebab di negeri maritim terbesar di dunia ini menyimpan potensi luar biasa.

Indonesia Mestinya Berdaulat di Bidang Budidaya Laut (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Mestinya Berdaulat di Bidang Budidaya Laut (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Mestinya Berdaulat di Bidang Budidaya Laut

“Ide besar saya, mengingat permintaan dunia terhadap berbagai produk akuakultur seperti ikan, udang, kekerangan, kepiting, bahan farmasi, kosmetik, biofuel, dan perhiasan/mutiara sangat tinggi. Sementara Indonesia punya potensi produksi akuakultur terbesar di dunia sekira 60 juta ton per tahun,” kata Rokhmin.

Attauhidiyyah Giren

Saya ingin Indonesia mampu menjadi negara besar yang maju, sejahtera, dan berdaulat berbasis pada sektor akuakultur, Rokhmin berharap.

Attauhidiyyah Giren

Dalam konferensi itu Rokhmin mengusung tema “Indonesias Aquaculture Landscape.” Konferensi ini dihadiri 500 peserta terdiri dari pengusaha, peneliti, dosen, dan perwakilan pemerintah dari seluruh dunia. (Musthofa Asrori/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Olahraga, Ahlussunnah Attauhidiyyah Giren