Rabu, 25 Maret 2015

Hari Kemanusiaan Sedunia, LPBINU Jelaskan Kompleksitas Tantangan Kemanusiaan

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Problem kemanusiaan semakin kompleks. Hal ini dipengaruhi tidak hanya oleh sebuah bencana, tetapi juga problem pelik seperti pemanasan global dan perubahan iklim. Untuk mengatasi hal ini, hendaknya individu atau lembaga yang bergerak di bidang kemanusiaan untuk saling sinergi dan bekerja sama agar bisa diatasi dengan baik.

Hari Kemanusiaan Sedunia, LPBINU Jelaskan Kompleksitas Tantangan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Kemanusiaan Sedunia, LPBINU Jelaskan Kompleksitas Tantangan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Kemanusiaan Sedunia, LPBINU Jelaskan Kompleksitas Tantangan Kemanusiaan

Demikian pesan Hari Kemanusiaan Sedunia (World humanitarian Day) 19 Agustus yang disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (PP LPBINU) M. Ali Yusuf, Kamis (18/8) di Jakarta. Dia mengungkapkan, saat ini LPBINU telah menggandeng berbagai lembaga bencana dan kemanusiaan agar problem sosial bisa diatasi secara maksimal.

“Urusan kemanusiaan merupakan urusan bersama. Membantu sesama dengan tidak memandang identitas dan status sangatlah penting untuk diperhatikan dengan tidak mengedepankan ego sektoral,” ujar Ali Yusuf.

Hal ini dia katakan terkait individu atau kelompok yang selama ini masih mengedapankan ego kelompok dalam mobilitas membantu korban bencana. Padahal menurutnya, sinergi sangatlah penting sehingga distribusi bantuan berjalan dengan maksimal untuk kepentingan kemanusiaan.?

Menurutnya, kerja sama ini sangat krusial sebab antara tantangan dengan cara yang digunakan dalam menanggulangi bencana lebih besar tantangannya. Karena penyebab bencana saat ini begitu kompleks sehingga harus mendukung satu sama lain. Pihaknya juga telah berupaya mengoptimalkan joint protocol dengan membentuk Forum Kemanusiaan (Humanitarian Forum) yang terdiri dari berbagai lembaga kemanusiaan dari lintas agama.

Attauhidiyyah Giren

“Saling share informasi kepada lembaga mitra. Hal ini juga dilakukan agar bantuan tidak menumpuk di satu tempat. Terkadang daerah satu penuh dengan bantuan, tetapi daerah lain kurang mendapat perhatian,” jelas Ali Yusuf.

Dia juga menegaskan, problem krusial lain dari sebuah bencana adalah ekonomi. Hal ini perlu diperhatikan betul karena sangat banyak penopang-penopang ekonomi ikut mengalami kerusakan, seperti lahan pertanian, usaha dagang, dan lain-lain.?

“Jika tidak dilayani, tentu hal ini akan menimbulkan bencana kemanusiaan lanjutan. Sebab itulah, lembaga pertanian dan perekonomian harus turut berperan,” tandasnya. (Fathoni)?

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Internasional Attauhidiyyah Giren

Rabu, 18 Maret 2015

Pendidikan Maju, Sayangnya Hanya Andalkan Aspek Jasadiyah dan Aqliyah

Sumedang, Attauhidiyyah Giren



Ketua PP Maarif NU H Arifin Junaedi menyatakan, lembaga pendidikan di Indonesia dari segi kuantitas sudah maju, tetapi sayangnya, hanya menitikberatkan aspek badaniyah dan aqliyah, sedangkan pendidikan ruhaniyah (moral) dan pendidikan amaliyah dari hasil kegiatan pembelajaran sudah mulai ditinggalkan.?

Hal ini dikatakan ketika memberi sambutan dalam acara rapat kerja Pengurus Cabang LP Maarif NU Kab. Sumedang yang silaksanakan pada Sabtu-Ahad (28-29/5) di Kuningan.

Pendidikan Maju, Sayangnya Hanya Andalkan Aspek Jasadiyah dan Aqliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Maju, Sayangnya Hanya Andalkan Aspek Jasadiyah dan Aqliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Maju, Sayangnya Hanya Andalkan Aspek Jasadiyah dan Aqliyah

Untuk itu ia menekankan pentingnya mendidikan dan menciptakan kecerdasan moral bagi anak didik. Dalam hal ini, pelatihan-pelatihan guru harus dilaksanakan dan didesain untuk mengembangkan kecerdasan tersebut.?

"Kami memberi apresiasi sebesar-besarnya kepada LP Maarif Cabang Sumedang yang telah rutin melaksanakan pelatihan guru. Kami insyaallah akan selalu siap membantu bilamana LP Maarif Sumedang memerlukan pemateri dari Pengurus LP Maarif pusat," kata Arifin Junaedi.

Attauhidiyyah Giren

Ilih, selaku Ketua PW Maarif NU Jawa Barat juga memberikan motivasi supaya LP Maarif Sumedang bisa terus bermujahadah dalam menggerakan LP Maarif agar terus maju.

"Kita terus tingkatkan budaya ikhlas beramal di lingkungan pengurus LP Maarif serta para pendidik di bawah LP Maarif NU," kata Ilih.

Cucu Suhayat selaku Ketua LP Maarif Cabang Sumedang berharap agar madrasah-madrasah di bawah LP Maarif NU terus berkembang dan tambah sejahtera.?

Sebelum kegiatan rakercab dimulai, dilaksanakan pula diskusi panel berkenaan penumbuhan perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.?

Attauhidiyyah Giren

"Alhamdulillah kegiatan rakercab ini berjalan sesuai yang kita harapkan. Semoga dengan terlaksananya kegiatan rakercab ini bisa menjadikan LP Maarif selalu komitmen, semakin solid dan juga senantiasa istiqomah dalam melaksanakan segala program kerja hasil dari kesepakatan bersama," kata Cucu.?

Sebelum kegiatan rakercab, para peserta melaksanakan ziarah ke makam Sunan Gunungjati Cirebon yang dipimpin langsung oleh Wakil PWNU Jabar KH Muhammad Aliyyuddin. Setelah itu dilanjutkan studi banding ke Pesantren Buntet Cirebon, yang dalam kesempatan itu juga berziarah ke makam pendiri Pesantren Buntet yang dipimpin langsung oleh Ketua Jatman Kab. Sumedang Kiai Ade Djunaedi.

Kegiatan rakercab ini dihadiri oleh 60 orang peserta yang terdiri dari kepala dan bendahara madrasah/sekolah di bawah LP Maarif NU Sumedang. (Dede Rohmat Apandi/Ayi Abdul Kohar/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kajian Islam, Kiai, Sejarah Attauhidiyyah Giren

Senin, 02 Maret 2015

Shalat Menggunakan Pakaian Tembus Pandang atau Ketat, Sahkah?

Pembaca yang budiman, sebagaimana kita ketahui, menutup aurat merupakan syarat wajib shalat yang harus kita penuhi. Persoalan terkadang muncul ketika sebagian saudara kita, baik lelaki maupun perempuan yang menggunakan pakaian tembus pandang atau ketat ketika shalat. Apakah sah menggunakan pakaian semacam itu ketika shalat?

Untuk menjawab persoalan tersebut, kita bisa menyimak penjelasan Syekh Abu Bakar Syatha al-Dimyathi dalam kitab I’anah al-Thalibin (Beirut: Dar al-Fikr, 1997), juz I, hal. 134:

Shalat Menggunakan Pakaian Tembus Pandang atau Ketat, Sahkah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat Menggunakan Pakaian Tembus Pandang atau Ketat, Sahkah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat Menggunakan Pakaian Tembus Pandang atau Ketat, Sahkah?

? ? ? ? - ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?… (?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Attauhidiyyah Giren

“Wajib menutup aurat dengan sesuatu yang mencegah mata melihat warna kulit, maka tidak cukup menggunakan bahan yang tidak mencegahnya…(Pernyataan: Dan cukup menggunakan sesuatu yang memperlihatkan lekuk tubuh… namun hal semacam ini dihukumi khilaful aula bagi lelaki dan makruh bagi wanita dan khuntsa.”

Dari penjelasan di atas bisa kita pahami bahwa hukum shalat dengan pakaian yang tembus pandang, yang membuat orang lain masih bisa melihat warna kulit kita, adalah tidak sah, baik bagi lelaki maupun perempuan.

Sedangkan menggunakan pakaian ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh, hukumnya tetap sah, namun khilaful aula (dianjurkan meninggalkannya) bagi lelaki dan makruh bagi perempuan dan khuntsa (berkelamin ganda/tidak berkelamin). Karena itu, sebaiknya tetap dihindari.

Attauhidiyyah Giren

Jika kita berbicara soal keutamaan, maka beberapa pertimbangan yang bisa kita jadikan panduan dalam memilih pakaian ketika akan shalat ialah pakaian yang polos tanpa banyak motif dan garis-garis, tidak tembus pandang, dan tidak ketat. Pertimbangan yang lain juga ialah menggunakan pakaian yang sopan secara syariat maupun secara adat.

(Baca: Batasan dan Ketentuan Aurat dalam Shalat) 

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

(Muhammad Ibnu Sahroji)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kajian, Nahdlatul Attauhidiyyah Giren