Minggu, 18 Maret 2018

Kiai se-Jatim akan Ikuti Konferensi Internasional di Pesantren Sukorejo Situbondo

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Jelang pemilu, Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi mengumpulkan ratusan kiai pengasuh pesantren se-Jawa Timur, di pesantren Sukorejo, Sukorejo, Probolinggo, 29-30 Maret 2014.

Sekretaris Jenderal Internasional Conference of Islamic Scholars (ICIS) itu mengemas pertemuan itu dalam bentuk konferensi internasional yang menghadirkan sejumlah narasumber dari dalam dan luar negeri. Rencananya, acara tersebut bakal dibuka oleh Menteri Agama Suryadharma Ali dan Wakil Menteri Luar Negeri Wardhana.

Kiai se-Jatim akan Ikuti Konferensi Internasional di Pesantren Sukorejo Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai se-Jatim akan Ikuti Konferensi Internasional di Pesantren Sukorejo Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai se-Jatim akan Ikuti Konferensi Internasional di Pesantren Sukorejo Situbondo

Hasyim Muzadi mengatakan, acara tersebut punya beberapa tujuan. Yaitu untuk dalam negeri, pihaknya akan memberikan pemahaman kepada kalangan pimpinan pesantren tentang demokrasi yang kini berkembang di Indonesia.

Attauhidiyyah Giren

"Nilai Pancasila kini ditinggalkan orang karena budaya politik dan hukum. Demokrasi politik sekarang tak seimbang dengan perkembangan demokrasi ekonomi," katanya kepada wartawan di kantor ICIS, Jakarta, Kamis (27/3/2014).

Menurutnya, demokrasi sekarang sedang dikuasai oleh pemilik modal. Akibatnya yang berkembang di Indonesia saat ini adalah demokrasi transaksional. "Maka tanggung jawab dari orang yang terpilih hasil pemilu legislatif dan pemilu presiden adalah mengembalikan Indonesia ke nilai-nilai Pancasila," terang kiai asal Bangilan Tuban ini.

Attauhidiyyah Giren

Acara tersebut, katanya, sengaja digelar di pesantren Sukorejo yang terbesar untuk wilayah timur Jawa Timur. Pesantren itu pulalah yang menjadi saksi sejarah lahirnya khittah NU saat Muktamar NU pada 1984.?

"Di pesantren ini pula NU memutuskan hubungan antara agama dan negara serta agama dan Pancasila. Saat itu, NU yang dipimpin Kiai Ahmad Shiddiq menjadi satu-satunya ormas Islam ? yang mengakui Pancasila sebagai bentuk negara," katanya.

Selain itu, katanya, kegiatan tersebut juga punya tujuan untuk level internasional. Yaitu soal perdamaian di kawasan Timur Tengah. Karena itulah, acara ini juga mengundang sejumlah pembicara dari Timur Tengah. Yaitu Syiria, Qatar, Maroko, Aljazair, dan Irak. "Kami ingin melihat perkembangan Timur Tengah setelah Arab Spring yang masih ditandai dengan pergolakan di Mesir dan Syiria," terangnya.

Terkait itu, Hasyim mengatakan, melalui acara itu, pihaknya ingin mengingatkan kepada umat Islam di seluruh dunia bahwa moderasi adalah jalan yang terbaik untuk menciptakan perdamaian di dunia. "Untuk umat Islam di Indonesia, kita ajak kembali ke Islam moderat yang rahmatan lil alamin," jelasnya.

Selama ini, katanya, ICIS yang dipimpinnya telah mengembangkan pengertian dan implementasi Islam yang rahmatan lil alamiin, promosi Pancasila di luar negeri sebagai alternatif ideologi negara pluralis ? tanpa terikat dengan sekularisme atau fundamentalisme.?

"Di dalam negeri ICIS menangkal terorisme global yang masuk ke Indonesia dengan pencerahan ahlussunnah dan faham moderat. Semua langkah ini menuju terjadinya moderasi nasional dan internasional.?

Lebih dari itu, Hasyim ingin mengangkat kembali marwah NU, kiai dan ulama Indonesia yang belakangan dinilai oleh pihak luar negeri mengalami penurunan. "Perlu kita angkat kembali marwah NU dan pesantren di mata dunia internasional," katanya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Makam, Kajian Sunnah, Humor Islam Attauhidiyyah Giren

Minggu, 04 Maret 2018

Resolusi Jihad NU Masih Berlaku Hingga Saat Ini

Surabaya, Attauhidiyyah Giren

Tanggal 22 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional sejak setahun yang lalu oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo. Hal ini berdasarkan pada Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 yang diresmikan pada saat Deklarasi Hari Santri Nasional di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (22/10/2015).

Resolusi Jihad NU Masih Berlaku Hingga Saat Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Resolusi Jihad NU Masih Berlaku Hingga Saat Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Resolusi Jihad NU Masih Berlaku Hingga Saat Ini

Alasan penetapan Hari Santri Nasional sendiri menurut Presiden yang kerap disapa dengan sapaan Jokowi ini salah satunya adalah untuk meneladani sikap rela berkorban untuk bangsa dari santri. "Semangat kebangsaan, cinta Tanah Air, rela berkorban untuk bangsa dan negara," ujar Presiden yang akrab disapa dengan sebutan Jokowi tersebut saat Deklarasi Hari Santri Nasional.

Sabtu, (22/10) setahun setelah Deklarasi Hari Santri Nasional, di berbagai belahan Indonesia mengadakan peringatan Hari Santri Nasional. Salah satunya di Surabaya yang dilaksanakan di Tugu Pahlawan. Dalam memperingati Hari Santri Nasional, 4444 santri Surabaya mengadakan upacara Hari Santri yang dipimpin langsung Ketua PWNU Jawa Timur KH Mutawakkil Alallah.

Attauhidiyyah Giren

Upacara Hari Santri Nasional ini diikuti badan-badan yang ada di bawah NU Surabaya ataupun yang memiliki keterkaitan dengan NU Surabaya, seperti Pagar Nusa, GP Ansor, Banser, PMII, IPNU, IPPNU, sekolah yang berada di bawah LP Ma’arif Surabaya, Muslimat NU, Fatayat NU, UNUSA dan masih banyak lagi lainnya.

Upacara ini sendiri berlangsung sebagaimana seperti upacara pada umumnya. Bedanya adalah dalam pelaksanaannya terdapat beberapa hal yang memang berhubungan dengan santri. Salah satunya tersebut adalah mengenai amanat yang disampaikan Kiai Mutawakkil yang berisi kisah bagaimana Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari yang menjadi latar belakang adanya Hari Santri.

Attauhidiyyah Giren

Menurutnya, sosok dari KH Hasyim Asy’ari wajib ditiru oleh santri saat ini. Hal itu dikarenakan kepribadian dari KH Hasyim Asy’ari yang menjadi santri selama hidupnya. “Tirulah Mbah Hasyim yang selalu menjadi santri,” tutur kiai yang menjadi pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo ini.

Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa Resolusi Jihad masih berlaku hingga saat ini karena tidak pernah ada pihak yang mencabutnya. Namun saat ini dalam pengertian yang berbeda. “Jihad saat ini berupa melawan anarkisme dan radikalisme. Jihad melawan narkoba,” jelas beliau.

Upacara ini juga dihadiri oleh ketua PCNU Surabaya, KH Achmad Muhibbin Zuhri. Saat ditanya mengenai pandangannya mengenai adanya Hari Santri Nasional ini, ia menjawab bahwa Hari Santri tidak hanya sebagi pengakuan negara terhadap perjuangan santri menghadapi penjajah, tapi juga untuk mengukuhkan etos santri supaya berperan lebih aktif dalam masyarakat. “Selain itu dengan adanya Hari Santri ini diharapkan mampu untuk meningkatkan kompetensi santri,” jelasnya.

Selain itu, ia juga berpesan kepada seluruh santri, khususnya yang berada di Surabaya agar meningkatkan kemampuannya. “Selain religius, santri harus meningkatkan kemampuan baik hard skill maupun soft skill. Supaya dapat memadukan antara keduanya,” pesannya saat ditanya mengenai pesan beliau kepada santri, terlebih yang berada di Surabaya.

Di akhir upacara ini, peserta upacara juga disuguhi dengan kesenian silat yang dibawakan oleh Pagar Nusa Surabaya, penampilan ini ternyata mampu memukau para hadirin yang ada di Tugu Pahlawan ini. (Ahmad Hanan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Halaqoh, Tokoh Attauhidiyyah Giren

Ini Cara IPNU-IPPNU Jombang Perkenalkan Organisasi dan Kegiatannya

Jombang, Attauhidiyyah Giren

Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur telah menetapkan jadwal dan sejumlah lokasi untuk program “Jumat Bahagia”.

Program tersebut untuk mengenalkan tentang IPNU-IPPNU dan kegiatan-kegiatannya kepada pelajar di Jombang setiap pekan (Jumat) disesuaikan dengan jadwal tersebut. Dalam perkembangannya, para pelajar diharapkan dapat mendirikan komisariat-komisariat di sekolahnya masing-masing. Di samping sosialisasi, PC IPNU-IPPNU setempat juga mengajak pelajar untuk bershalawat bersama.

Ini Cara IPNU-IPPNU Jombang Perkenalkan Organisasi dan Kegiatannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara IPNU-IPPNU Jombang Perkenalkan Organisasi dan Kegiatannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara IPNU-IPPNU Jombang Perkenalkan Organisasi dan Kegiatannya

Ketua PC IPNU Jombang, Abdul Haris mengatakan, pihaknya telah menetapkan beberapa sekolahan sebagai objek dilangsungkannya program tersebut. Ia juga sudah mengkoordinasikan kepada pihak sekolahan, termasuk setiap kepala sekolah dan kesiswaan.

“Untuk bulan Maret ini pada tanggal 4 di Balai Desa Watugaluh, tanggal 11 di SMP NU Banjarayar Peterongan, tanggal 18 ? di SMK NU Mojoagung dan tanggal 25 di MI Kebo Kicak, Dapur Kejambon, Jombang,” katanya kepada Attauhidiyyah Giren, Kamis (24/3).

Attauhidiyyah Giren

Sedangkan bulan April, lanjut dia, akan cukup beragam, dimulai dari tingkat sekolah dasar (SD) baik suwasta ataupun negeri. “Tanggal 1 di MI Mojongapit, Jombang, tanggal 8 MA Balongrejo Sumobito, tanggal 15, SDI Trunojoyo Rejoagung ngoro, tanggal 22 SDN Rejoagung Ngoro dan tanggal 29 april ? di MI banjarpoh pulorejo ngoro,” ujarnya.

“Kemudian di bulan Mei mendatang tanggal 6 di MTs Bandung Diwek, tanggal 13 MI Miftahul maarif sumberjo-pagak, tanggal 20 di Bareng, tanggal 27 Mei SMK Muallimat Cukir,” lanjutnya.

Adapun pada bulan Juni hingga Juli, program tersebut libur total, pasalnya bertepatan pada momen bulan Ramadlan dan hari raya dan sejumlah aktivitas sekolahan akan diliburkan. “Juni, bulan Ramadlan libur total, juga pada bulan Juli,” ungkapnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kajian Islam, Pondok Pesantren Attauhidiyyah Giren

Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri

Oleh Candra Malik

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illalaahu, Allahu Akbar. Allahu Akbar, wa lillaahil hamdu.

Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri

Gelombang ribuan malaikat selalu bertawaf dan shalat di Baitul Makmur di langit ketujuh. Ketika diperjalankan Allah dalam Isra Mikraj, Muhammad SAW berjumpa dengan Ibrahim AS di Rumah Allah yang diyakini segaris lurus dengan Kabah di Makkah itu. Sementara, lautan manusia bertawaf di Baitullaah di Tanah Haram.

Namun, Hamzah Fansuri, penyair Sufi dari Barus yang berada di bawah pendudukan Kasultanan Aceh pada kurun 1524-1668, memiliki sentuhan keindahan tersendiri mengabadikan kerinduannya pada Allah. Ia meyakini “kediaman” Allah tak jauh, yakni dalam hati manusia. Sebab, Tanah Haram bersemayam di hati insan beriman.

Attauhidiyyah Giren

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah

Mencari Tuhan di Bait al-Kabah

Dari Barus ke Qudus terlalu payah

Attauhidiyyah Giren

Akhirnya dapat di dalam rumah

Pengarang kitab Syarab al-Asyiqin (Minuman Pecinta yang Birahi) ini memberi pengaruh besar tidak hanya di semesta kesufian di tanah air. Ia juga menjadi rujukan penting di dunia kesusastraan hingga sekarang. Jika berbicara tentang Sastra Indonesia, niscaya kita tak bisa lepas dari Sastra Nusantara, termasuk Sastra Melayu.

Ketika percakapan sampai pada Sastra Indonesia, A. Teeuw mencatat Muhammad Yamin, yang kemudian dikenal sebagai salah seorang tokoh penting Sumpah Pemuda 1928 dan pendiri bangsa Indonesia, sebagai peletak tonggak. Sajaknya berjudul Bahasa, Bangsa pada 1921 dianggap membuka sastra Indonesia modern.

Selagi kecil berusia muda,

Tidur di anak di pangkuan bunda,

Ibu bernyanyi, lagu dan dendang

Memuji si anak banyaknya sedang;

Berbuai sayang malam dan siang

Buaian tergantung di tanah moyang.

Terlahir di bangsa, berbahasa sendiri

Diapit keluarga kanan dan kiri

Besar budiman di tanah Melayu

Berduka suka, sertakan rayu;

Perasaan serikat menjadi padu

Dalam bahasanya, permai merdu.

Meratap menangis bersuka raya

Dalam bahagia bala dan baya;

Bernafas kita pemanjangkan nyawa

Dalam bahasa sambungan jiwa

Di mana Sumatra, di situ bangsa,

Di mana Perca, di sana bahasa.

Andalasku sayang, jana bejana

Sejakkan kecil muda teruna

Sampai mati berkalang tanah

Lupa ke bahasa, tiadakan pernah

Ingat pemuda, Sumatra malang

Tiada bahasa, bangsa pun hilang.

Sungguh benar perkataan M. Yamin dalam puisi itu bahwa tiada bahasa, bangsa pun hilang. Oleh karena itu, saya bahagia menyambut gagasan para santri Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur ini. Gerakan Menulis Serentak 1.111 Sajak adalah gerakan kesadaran yang selayaknya diapresiasi dan didukung.

Gerakan dari dalam pesantren ini dapat membawa efek puncak gunung es jika digelindingkan. Apalagi, tak dapat dipungkiri, sastrawan Muslim dicatat sejarah mengoreskan pena kepenyairan. Dari Hamzah Fansuri hingga Nuruddin al-Raniri, dari Raja Ali Haji sampai Hamka. Dari Chairil Anwar hingga Acep Zamzam Noor. Dari Sunan Bonang sampai Raden Ronggowarsito. Dari Sutan Takdir Alisyahbana sampai Ahmad Mustofa Bisri. Dari H.B. Jassin hingga Emha Ainun Nadjib. Dari Asrul Sani sampai Mahbub Djunaidi. Dan, masih banyak lagi nama besar penyair Muslim, atau yang lebih khusus lagi dapat disebut sebagai penyair santri.

Nama Ronggowarsito yang abadi sebagai pujangga besar pun ternyata adalah santri Pesantren Tegalsari di Ponorogo, Jawa Timur, yang didirikan oleh Kiai Besar Hasan Besari pada awal abad 18. Salah satu dari sekian banyak syair yang ditulis Raden Mas Burham, nama kecil Ronggowarsito, adalah Serat Kalatidha.

?

Petikan:

Amenangi jaman edan

Ewuhaya ing pambudi

Melu ngedan ora tahan

Yen tan milu anglakoni

Boya keduman melik

Kaliren wekasanipun

Ndilalah kersa Allah

Begja-begjane kang lali

Luwih bedja kang eling klawan waspada

Terjemah Bebas:

Menyaksikan zaman gila

Serba susah dalam bertindak

Ikut gila tidak akan tahan

Tapi kalau tidak mengikuti (gila)

Tidak akan mendapat bagian

Kelaparan pada akhirnya

Namun telah menjadi kehendak Allah

Seberuntung-beruntungnya orang yang lalai

Lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada.

Sastrawan Ahmad Tohari dalam sejumlah kesempatan mendorong kalangan pesantren untuk melahirkan kembali penyair-penyair unggulan. Penulis trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, yang mengasuh Pesantren Al Falah di Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah ini terus mendorong tumbuh dan berkembangnya sastra Islam.

Tema tasawuf yang disarikan dari kandungan Al-Quran memang tidak pernah kering menginspirasi. Kitab Jatiswara yang berangka tahun Jawa 1711 hingga gubahannya, yaitu Suluk Tambangraras atau populer disebut Serat Centhini, yang berangka tahun 1742 (sekira 1814 Masehi), pun meneguhkan khazanah tasawuf itu.

Bagi masyarakat pesantren, yang sehari-hari bergaul dengan ilmu alat, yang salah satunya adalah balaghah, selayaknya sastra diyakini sebagai pena bertinta emas yang dengannya kalam-kalam indah dan berderajat adiluhung dapat diciptakan. Sastra santri patut ditumbuhkembangkan.

Terlebih, sejak 22 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional, kita perlu mendorong sastra santri sebagai perwujudan dari Resolusi Jihad. Penjajahan sesungguhnya adalah penjajahan terhadap bangsa. Dan, seperti yang disajakkan oleh Muhammad Yamin: tiada bahasa, bangsa pun hilang.

Kami lahir di Indonesia

minum airnya menjadi darah kami

Kami makan beras dan buah-buahan Indonesia menjadi daging kami

Kami menghirup udara Indonesia menjadi nafas kami

Kami bersujud di atas bumi Indonesia

Berarti bumi Indonesia adalah Sajadah kami

Bila tiba saatnya kami mati

Kami akan tidur dalam pelukan bumi Indonesia

Syair karya KH Zawawi Imron, Penyair "Celurit Emas" dari Madura ini adalah konfirmasi betapa wajib kita sendiri yang menyelamatkan bangsa dan bahasa Indonesia. Dan dengan puisi, kata Kiai Zawawi, kita dapat kembali menjadi putra ibu dan sekaligus putra bangsa dan tanah air dengan kesadaran penuh.

Selamat bertumbuh, sastra santri.

Jakarta, 10 Dzulhijjah 1437 H, 12 September 2016

Candra Malik, sastrawan sufi, Wakil Ketua Lesbumi PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kiai, Daerah, Hadits Attauhidiyyah Giren

Ambarawa Raih Juara Umum Kelima Kalinya pada MTQ Ke-6 Pringsewu

Pringsewu, Attauhidiyyah Giren - Pada gelaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) keenam tingkat Kabupaten Pringsewu yang digelar di Kecamatan Sukoharjo selama 3 hari mulai 22 sampai 24 Oktober 2017, Kecamatan Ambarawa berhasil menjadi juara umum. Raihan prestasi ini merupakan kelima kalinya bagi Kecamatan Ambarawa.

Trofi juara umum ini diserahkan oleh Ketua LPTQ Kabupaten Pringsewu Budiman kepada Camat Ambarawa Ani Sundari pada acara penutupan MTQ keenam yang dilaksanakan di Lapangan Pekon Siliwangi, Selasa (24/10) malam.

Ambarawa Raih Juara Umum Kelima Kalinya pada MTQ Ke-6 Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ambarawa Raih Juara Umum Kelima Kalinya pada MTQ Ke-6 Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ambarawa Raih Juara Umum Kelima Kalinya pada MTQ Ke-6 Pringsewu

Kecamatan Ambarawa sebelumnya telah meraih juara umum MTQ tingkat Kabupaten Pringsewu pada 2012, 2013, 2014 dan 2016. Dengan membawa 42 peserta dan 10 official pada 2017 ini kembali Kecamatan yang terkenal dengan sumber air Kerawang ini mampu menunjukkan dominasinya.

Pada kesempatan tersebut Ketua LPTQ yang juga Sekda Kabupaten Pringsewu mengingatkan bahwa tujuan utama dilaksanakannya MTQ bukanlah untuk sebuah kemenangan. Namun menurutnya pelaksanaan nilai-nilai dalam Al Quranlah yang penting untuk ditekankan.

Attauhidiyyah Giren

"Selamat kepada yang sudah berprestasi. Dan bagi yang belum, ini akan menjadi motivasi tersendiri untuk lebih baik kedepan," ingat Budiman.

Attauhidiyyah Giren

Berbagai Cabang MTQ dilaksanakan pada MTQ kali ini diantaranya Tilawatil Quran, Hifdzil Quran, Tafsir Quran, Fahmil Quran, Syarhil Quran dan Khattil Quran.

Berikut Urutan Pemenang MTQ Keenam tingkat Kabupaten Pringsewu tahun 2017 :

1. Kecamatan Ambarawa

2. Kecamatan Pringsewu

3. Kecamatan Sukoharjo

4. Kecamatan Gadingrejo

4. Kecamatan Banyumas

5. Kecamatan Pagelaran

6. Kecamatan Pagelaran Utara

7. Kecamatan Pardasuka

8. Kecamatan Adiluwih. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Bahtsul Masail Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 03 Maret 2018

Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari

Surabaya, Attauhidiyyah Giren. Mencari ilmu wajib bagi setiap muslim dan muslimat sejak lahir hingga keliang lahat. Ilmu yang wajib diketahui pertama adalah tentang ilmu Keesaan Allah yaitu tauhid. 

Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari

Seorang yang mencari ilmu tentu ada etika yang harus dilakukan agar mendapatkan ilmu yang manfaat. Kiai Fahrurozi, Wakil Sekretaris PWNU Jatim, menguraikan tentang adab mencari ilmu menurut Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asyari, pendiri NU.

Pertama, bagi para santri atau pelajar hendaknya kalian menyucikan hati dari dengki, sombong dan bohong, sebelum memulai belajar. Karena hati tempat cahaya yang diberikan oleh Allah.

Imam Syafii mengatakan kepada gurunya Imam Malik. Aku mengadu kepada guruku Imam Baqi. Bahwa aku sulit menghafalkan. Lalu gurunya memberi petunjukan agar aku meninggalkan maksiat.

"Ilmu itu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yg hati kotor," kata Kiai Fahrurrozi di mimbar Jumat Masjid Al-Akbar Surbaya, pekan lalu.

Attauhidiyyah Giren

Kedua, memperbaiki niat. Mencari ilmu hendaknya semata-mata ingin Ridho Allah dan ingin mengamalkan ilmu. Hadis Ibnu Majah mengatakan barang siapa mencari ilmu dengan tujuan dia menyombongkan diri, agar dia bisa dikenal. Kata Rasulullah orang seperti ini akan masuk neraka.

Ketiga, Mencarilah ilmu di waktu muda, karena waktu muda adalah waktu yang istimewa. seorang anak adam nanti akan ditanya umurmu dihabiskan di mana dan masa muda mu dihabiskan di mana. Tapi mencari ilmu tidak ada batasan, tidak ada kata terlambat. Banyak ulama yang belajar di masa tua.

Keempat, Bersikap hidup sederhana, tidak ada kata berfoya-foya. Imam Syafii mengatakan tidak akan sukse orang yang mencari ilmu dengan gaya hidup glamor. Contohnya Imam Syafii saat mencari ilmu hidup sederhana, sering kali menahan lapar. Maka darinya ekonomi bukan menjadi alasan untuk tidak menuntut ilmu.

Attauhidiyyah Giren

Kelima, membagi waktunya. Keenam bagi para pencari ilmu kurangi makan dan minum. Kalau terlalu banyak makan akan sulit konsentrasi. Ketujuh, Melatih diri dengan menjauhi barang yang subhat. 

Itulah sikap wirai. Agar tidak jatuh. Pastikan makanan yang halal. Makanan itu akan menjadi darah dan menjadi daging. Kedelapan, jangan banyak tidur. "Kalau usia  kita 63 tahun dan tidur 8 jam maka usia kita 20 tahun untuk tidur," pungkasnya. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Warta Attauhidiyyah Giren

Jumat, 02 Maret 2018

PKB Kumpulkan Kiai Kampung di Semarang

Semarang, Attauhidiyyah Giren. Sukses mengumpulkan para ‘kiai kampung’ di Jakarta beberapa waktu lalu, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) akan menggelar kegiatan serupa. Kali ini Kota Semarang, Jawa Tengah, yang bakal jadi tempat dihelatnya kegiatan merangkul kiai-kiai masjid dan langgar di desa-desa yang dinilai lebih dekat dengan masyarakat itu.

Seperti kegiatan sebelumnya, pertemuan ribuan kiai kampung tersebut akan diselenggarakan dengan format acara Ngaji Bareng Gus Dur (Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB KH Abdurrahman Wahid). Pelaksananya adalah Dewan Pimpinan Wilayah PKB Jawa Tengah.

PKB Kumpulkan Kiai Kampung di Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)
PKB Kumpulkan Kiai Kampung di Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)

PKB Kumpulkan Kiai Kampung di Semarang

<font face="Verdana">Kegiatan mengumpulkan kiai kampung itu memang telah menjadi salah satu agenda konsolidasi PKB setelah lepas dari konflik intern. Dan untuk wilayah Jateng, kegiatan Ngaji Bareng Gus Dur ini akan digelar di 8 kota mulai 14 April hingga 15 Mei mendatang.

“Forum ini untuk mengelola kiai kampung dalam kerangka perspektif pembangunan dan kemaslahatan umat,” tutur Sekretaris Umum Dewan Syura DPP PKB H Muhyidin Arubusman dalam acara Workshop Manajemen Kiai Kampung di Hotel Metro Semarang, Selasa (10/4) kemarin.

Menurutnya, selama ini kiai-kiai kampung yang mengelola masjid atau langgar merupakan sosok yang mempunyai peran penting dalam masyarakat. Tak jarang para kiai kampung tersebut menjadi tempat bertanya berbagai masalah mulai dari sosial kemasyarakatan hingga kebijakan publik.

Attauhidiyyah Giren

“Pertemuan ini dilakukan untuk mengkomunikasikan banyak hal dengan para kiai kampung,” tambah Sekretaris DPW PKB Jateng, Fuad Hidayat.

Fuad mengungkapkan, dalam setiap kegiatan rencananya akan dihadiri oleh sekitar 3000 kyai kampung yang terdiri dari pemimpin pesantren kecil, mushola, dan masjid. Sebab mereka merupakan penyambung aspirasi masyarakat dan penerus ajaran-ajaran mulia dari para ulama yang lebih luas. “Mereka merupakan akses tercepat masyarakat untuk mendapatkan informasi,” tegasnya.

Attauhidiyyah Giren

Saat disinggung apakah kegiatan tersebut sebagai bentuk kekhawatiran karena para kiai sepuh sudah pada pindah ke Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), Fuad membantah. Menurutnya, kyai yang pindah ke PKNU jumlahnya relatif kecil. Sebab sebagian kiai sepuh sampai saat ini masih berada di PKB.

“Tidak benar itu. Kiai sepuh masih berada di PKB. Di sini masih ada Mbah Munif (KH. Munif Zuhri, Mranggen), KH Mahfudz Ridwan, Habib Ali al Habsyi, KH. Tamam Soimuri dan masih banyak kyai sepuh lainnya. Jadi tidak benar kalau PKB ditinggalkan kiai sepuh,” tegasnya.

Pertemuan kiai kampung rencananya akan digelar di delapan kota, masing-masing Demak (14 April), Pemalang , Pekalongan (17 April), Kabupaten Semarang (22 April), Blora (1 Mei), Purworejo (10 Mei), Cilacap dan Banyumas (15 Mei). Selain menghadirkan Gus Dur, kegiatan juga akan diisi dengan orasi politik Ketua DPP PKB Muhaimin Iskandar. (gpa/man)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Quote Attauhidiyyah Giren

Sejarah Ahlul Halli wal Aqdi (1)

Oleh Choirul Anam

--Diskusi mendalam di pondok pesantren Al-Mansyuriyah, Lombok Tengah, NTB telah berlangsung beberapa waktu lalu guna menerima dan mencari masukan untuk melengkapi rumusan PBNU mengenai sistim baru pemilihan Rais Aam (Syuriyah) PBNU yang dikenal dengan Ahlul Halli Wal Aqdi (sering disingkat Ahwa). Sistim pemilihan zaman Nabi dan sahabat ini mulai akan diuji-coba di Muktamar Jombang.

Dalam kata sambutan pembukaan diskusi, ketua umum PBNU KH Prof Dr Said Aqil Siroj mendukung penuh sistim pemilihan rais aam dengan model Ahlul Halli Wal Aqdi.? Sebab kalau pilihan langsung, dikesankan mengadu kekuatan antar kiai, dan karena itu dicarikan jalan musyawarah yang lebih tepat seperti Ahlul Halli Wal Aqdi. Lagi pula kalau sistim pemilihan langsung, masih kata Kang Said, akan lahir kubu-kubuan, lalu kampanye hitam (black campaign) antarpendukung, saling menjelekkan dan menjatuhkan. Terus lagi, ditakutkan muncul politik uang yang merusak moral.

Sejarah Ahlul Halli wal Aqdi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Ahlul Halli wal Aqdi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Ahlul Halli wal Aqdi (1)

Ada juga pandangan lain dari peserta diskusi bahwa kalau NU tetap mempertahankan sistim pemilihan langsung, maka kesan NU sama saja dengan partai politik akan terus terbangun selamanya. Bahwa orang akan terus menganggap suksesi di lingkungan NU sama saja dengan di parpol, tergantung mana yang kuat uangnya. Maka dari itu beberapa pengurus PCNU maupun PWNU yang masih mau berpikir, mengharuskan ada perubahan, dan untuk sementara ini yang dipandang cocok adalah model Ahlul Halli Wal Aqdi.

Saya ingin memberi masukan dari perspektif historis NU mengenai Ahwa ini. Bahwa yang perlu dipahami, Ahwa tidak ada sangkut pautnya dengan politik uang (money politics), dengan kubu-kubuan, kampanye hitam (black campaign), saling jatuh menjatuhkan antar kelompok pendukung kiai atau ulama yang dijagokan, dan seterusnya. Ahwa adalah sebuah sistim pemilihan pemimpin yang diajarkan atau dicontohkan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW yang bergelar "al-Khulafa ar- Rasyidun", yang tak lain adalah Abu Bakar as- Shiddiq, Umar Ibnu Khottab, Usman bin Affan, dan Aly bin Abi Thalib. Sedang NU sebagai salah satu pewaris Ahwa ini hanya ingin mencoba menerapkannya di Muktamar Jombang nanti.

Jadi, jangan mengait-kaitkan Ahwa dengan politik uang, kampanye hitam, kubu-kubuan dst. Apakah dengan Ahwa dijamin tidak akan terjadi politik uang? Tidak akan terjadi konflik dan kubu-kubuan? Belum tentu! Buktinya NU sejak berdiri hingga saat ini menggunakan sistem pemilihan langsung tidak ada masalah, baik-baik saja! Hanya saja belakangan ini (di era reformasi) NU tergerus oleh dampak negatif sistem politik makro yang dibangun pemerintah, yakni pilihan langsung anggota DPR, DPD dan Presiden/Wakil sampai Bupati dan Wakil. Warga NU yang hidup di zaman sebelum reformasi tidak pernah tahu dan merasakan politik uang.

Pertanyaan besarnya adalah buat apa sistem Ahwa ini diterapkan? Untuk apa Ahwa disodor-sodorkan agar dipraktikkan di muktamar ke 33? Kenapa tidak pada zaman Mbah Hasyim Asyari dan Mbah Abdul Wahab Hasbullah tempo dulu diberlakukan? Apa beliau-beliau kurang Ahwa? Dalam perjalanan sejarah NU belum pernah menggunakan model Ahwa dalam pemilihan Rais Aam Syuriyah PBNU, kecuali pada muktamar ke 27 di Situbondo (3-12 Desember 1984). Penggunaan sistim Ahwa ini pun didasarkan beberapa pertimbangan, antara lain, karena kondisi NU sebagai Jamiyyah Diniyah Islamiyah (Organsasi Keagamaan Islam) waktu itu, memang sudah rapuh sehingga memerlukan pemikiran dan upaya baru untuk menyelamatkannya.

Attauhidiyyah Giren

Terutama sepeninggal Rais Aam PBNU KH. Bisri Syansuri (wafat Jumat 25 April 1980). Tubuh NU terbelah menjadi dua kubu: kubu politik yang bermuara kepada Ketua Umum PBNU KH. DR. Idham Cholid (Cipete) dan kubu khitthah yang dijaga ketat KH.R. Asad Syamsul Arifin Situbondo yang didukung kelompok muda pembaharu di NU seperti Gus Dur. Bisa dipahami, karena KH. Idham Cholid kala itu benar-benar sebagai figur sentral, yaitu selain menjabat Ketua Umum PBNU, juga Presiden Partai (PPP). Hampir setiap hari kubu politik berteriak-teriak agar jabatan Rais Aam dibiarkan kosong, sehingga mereka bisa leluasa memainkan jurus-jurus politiknya guna memperoleh kekuasaan politik di parlemen atau eksekutif di pemerintahan. Sementara kubu khitthah terus berupaya agar segera diisi. Kalau tidak, maka nasib NU ke depan semakin sulit untuk ditolong.

Pertengkaran dua kubu tersebut, jika digambarkan, memang hampir mirip seperti cicak dan buaya. Masing-masing kubu beradu argumentasi di media massa. Kelompok Cipete ngotot meminta jabatan Rais Aam dibiarkan lowong, dan kalau toh mau diisi mesti diambil dari salah satu wakil untuk naik menjadi Rais Aam. Pendapat itu ditolak mentah oleh kubu khitthah atau kelompok Situbondo karena tidak sesuai dengan konstitusi NU. Menurut AD/ART NU, jabatan Rais Aam dipilih langsung oleh ulama NU seluruh Indonesia melalui muktamar (atau forum ulama yang setingkat dengan itu), yaitu Munas atau Konbes.

Kubu Situbondo yang secara diam-diam berupaya keras mengembalikan NU ke khittah aslinya, akhirnya berhasil mengonsolidasikan pikiran-pikirannya ke hampir seluruh ulama senior di Indonesia. Puncaknya kelompok ini sukses menggelar munas alim ulama NU di Kaliurang, Yogyakarta (September 1981). Dan berhasil memilih KH. Ali Mashum sebagai Rais Aam PBNU menggantikan KH. Bisri Syansuri.

Mestinya persoalan sudah selesai, ternyata belum juga. Hasil Munas yang menggemparkan jagat politik nasional dan? mendapat banyak pujian serta sanjungan dari berbagai kelompok tersebut, terutama menyangkut soal isu politik dukung-mendukung pemberian gelar Bapak Pembangunan dan pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden RI pada Sidang Umum MPR hasil Pemilu 1982, justru dimentahkan oleh kubu Cipete dengan menggunakan sayap Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) unttuk menandinginya.

Attauhidiyyah Giren

Sehari setelah Munas Alim Ulama NU ditutup, kubu Cipete menggelar Konferensi Besar (Konbes) GP Ansor (3-6 September 1981) di Semarang. Drs. HA. Cholid Mawardi selaku Ketua Umum PP GP Ansor sekaligus mereprentasikan diri sebagai pimpinan kelompok Cipete menyatakan: "Pemberian gelar Bapak Pembangunan kepada Presiden Soeharto adalah gagasan wajar dan penting bagi integrasi bangsa. Dan Konbes menyarankan kepada DPR RI membuat memorandum kepada MPR untuk mempercayakan kepemimpinan nasional kepada Jenderal Soeharto."

Dari sini pertentangan semakin tajam. Lalu bagaimana upaya para kiai sepuh NU menyelamatkan organisasi? Inilah episode sejarah yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan. (--bersambung)

?

Choirul Anam, Dewan Korator Museum NU

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Hadits Attauhidiyyah Giren

Dilantik, Pengurus GP Ansor Cipondoh Kompak Kenakan Sarung

Tangerang, Attauhidiyyah Giren. Pengurus Anak Cabang (PAC) Ansor Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang, Banten masa khidmah 2016-2018 di bawah pimpinan Nur Asyik resmi dilantik, Sabtu (29/10) lalu di Ballroom Hotel Narita Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang. SK Resmi pelantikan ini dibacakan oleh H. Syahroni Pengurus Wilayah GP Ansor Banten.

Dilantik, Pengurus GP Ansor Cipondoh Kompak Kenakan Sarung (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Pengurus GP Ansor Cipondoh Kompak Kenakan Sarung (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Pengurus GP Ansor Cipondoh Kompak Kenakan Sarung

Dalam pelantikan tersebut, para pengurus baru kompak memakai sarung, seragam GP Ansor serta peci. Khusus soal sarung, tidak banyak yang melakukan pelantikan dengan memakainya. Sehingga inisiatif Ansor Cipondoh ini dapat menjadi teladan budaya.

Tampak hadir Ketua PC GP Ansor Kota Tangerang H. Mustaya Hasyim, Ketua PW GP Ansor Banten H Ahmad Imron, Wakil Ketua PP GP Ansor H Lukmanul Hakim. Hadir juga Sekretaris PCNU Kota Tangerang, Camat Cipondoh Demi Koswara, Kapolsek Cipondoh dan juga unsur tokoh masyarakat dan organisasi kepemudaan.?

Ketua PC GP Ansor Kota Tangerang H. Mustaya Hasyim menyatakan, Ansor bukanlah organisasi politik. "Ansor berdiri di atas semua kaki. Karena itulah, cara pandang politik Ansor adalah politik kebangsaan bukan partisan. Itulah politik amar makruf nahi munkar yang menjadi haluan Nahdlatul Ulama," ujarnya.

Attauhidiyyah Giren

Sedangkan Ketua PW GP Ansor Banten H. Ahmad Imron menyatakan, Ansor adalah organisasi yang merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah, maka jangan tanyakan apa yang telah diperbuat Ansor untuk Bangsa ini. “Sehingga sudah semestinya kita sebagai kader-kader penerus melanjutkan dan mempertahankan kedaulatan, Kesatuan dan Persatuan NKRI,” ujarnya.?

Dalam sambutan selanjutnya mewakili PP GP Ansor H. Lukmanul Hakim menyampaikan terkait isu gerakan yang akan terjadi pada tanggal 4 November 2016, agar kader-kader Ansor, Banser, NU manut arahan PBNU.?

Attauhidiyyah Giren

Karena apa yang disampaikan PBNU berdasarkan hasil kajian-kajian yang sumbernya dapat dipercaya. Kita dorong melalui jalur hukum agar pihak terkait menegakkan hukum dengan seadil-adilnya. “Kita percayakan kepada Kiai-kiai kita di PBNU untuk menghadapi masalah ini secara elegan,” ujarnya.?

Ketua terpilih, Nur Asyik berjanji untuk memberikan yang terbaik pada Ansor. "Insya Allah apa-apa yang diamanahkan oleh Pimpinan Cabang akan kami laksanakan dengan sebaik-baiknya," terangnya. Nur Asyik berharap, kepengurusan baru ini terdiri dari personil-personil yang amanah dan profesional.?

"Tanpa hal ini, kerusakan yang akan terjadi. Semoga juga, pengurus memiliki karakter yang aktif, kreatif, inovatif dan komunikatif," jelasnya.?

Tak lupa, Nur Asyik juga berharap semoga Ansor yang bermakna penolong itu bergerak untuk turut membantuk semua pihak dalam mewujudkan kebaikan bagi masyarakat. "Kita membantu di bidang keagamaan dan kemasyarakatan. Inilah gerakan Ansor sebagai penolong," tandasnya. (Atho/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Daerah, Kajian Islam Attauhidiyyah Giren

Kamis, 01 Maret 2018

Nasihat Imam Al-Bukhari bagi Pencari Ilmu

Menuntut ilmu bukanlah perkara mudah dan sederhana. Butuh pengorbanan dan kesabaran tingkat tinggi untuk menguasainya. Selain itu, godaan dalam proses mencari ilmu juga cukup banyak, beraneka ragam, dan datang silih berganti; baik godaan dari luar maupun dalam diri sendiri. Kesuksesan seorang pelajar sangat ditentukan oleh sejauh mana dia mampu mengusir setiap godaan ini.

Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Tadribur Rawi mengutip sebuah kisah tentang nasihat Imam Al-Bukhari kepada seorang murid yang ingin belajar hadits kepadanya. Singkat kata, imam hadits ini mengatakan, jika kamu ingin menjadi ahli hadits yang sempurna, kamu mesti menulis empat hal. Empat hal ini tidak sempurna kecuali dengan empat perkara. Apabila telah menyempurnakan empat perkara ini, kamu akan diberikan empat keuntungan sekaligus diuji dengan empat cobaan. Bila kamu lulus dari empat ujian tersebut, Allah SWT akan memberimu empat ganjaran di dunia dan di akhirat. Jabaran dari empat hal yang saling berkaitan itu adalah sebagai berikut:

Nasihat Imam Al-Bukhari bagi Pencari Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasihat Imam Al-Bukhari bagi Pencari Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasihat Imam Al-Bukhari bagi Pencari Ilmu

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Attauhidiyyah Giren

Artinya, “Hal ini (menuntut ilmu) tidak sempurna kecuali seseorang menguasai empat bidang: mahir baca-tulis, mengerti bahasa, menguasai ilmu sharaf, dan ilmu nahwu (gramtikal). Kemampuan ini harus dibarengi dengan karunia Allah: kesehatan, kemampuan, keuletan, dan hafalan. Apabila empat hal ini berjalan dengan baik, dia akan diberikan empat keuntungan: keluarga, anak, harta, dan domisili. Tapi seketika itu pula dia akan diuji dengan empat ujian: musuhnya dengki, celaaan sahabatnya, makian dari orang bodoh, dan keirian ulama. Jika seseorang berhasil melewati ujian ini, di dunia dia akan memperoleh empat kebaikan: semakin qana’ah, keyakinanya meningkat, merasakan nikmatnya ilmu, dan kenikmatan hidup. Kelak di akhirat, Allah SWT akan memuliakannya dengan empat kesempatan: dapat memberikan syafaat kepada siapa yang dia inginkan, berhak memberi minum kepada siapa pun dari telaga Nabi Muhammad SAW,  dinaungi bayangan Arasy, dan diposisikan di surga paling tinggi, di samping surga para Nabi.”

Maksud dari pernyataan ini ialah bahwa keharusan bagi penuntut ilmu menguasai empat bidang sebagai dasar mencari ilmu, yaitu: pandai baca, pandai tulis, menguasai bahasa, dan gramatikalnya. Keempat potensi ini tidak akan berkembang kecuali atas karunia Tuhan. Dalam konteks ini, anugerah Tuhan itu berupa empat hal: kesehatan, kemampuan, semangat, dan kekuatan hafalan.

Attauhidiyyah Giren

Sepintar apapun seorang anak, bila Allah SWT tidak memberikan kesehatan dan kesempatan belajar kepadanya, tentu proses belajarnya akan menjadi tidak efektif dan sempurna. Setelah berhasil menguasai empat bidang ini, dia diberikan empat karunia Tuhan, maka dia akan mendapatkan empat keuntungan: keluarga, anak, harta, dan domisili. Di samping beruntung, dia juga diuji dengan empat ujian: ada musuhnya yang dengki, sahabatnya juga ikut-ikutan mencaci-maki, umpatan dan hinaan dari orang-orang bodoh, dan ada juga ulama yang iri terhadap kepintarannya.

Jika dia mampu bertahan dan bersabar, Allah SWT akan memberikannya empat kebaikan: semakin qana’ah, keyakinanya bertambah kuat, dia merasakan nikmatnya ilmu, dan diberikan kebahagiaan hidup. Di akhirat kelak, kebahagiannya disempurnakan dengan empat kesempatan: mereka diberi kesempatan untuk memberi syafaat kepada orang yang diingininya, dilindungi oleh Arasy, berhak memberi minum kepada siapa saja dari telaga Nabi Muhammad SAW, dan dia diletakkan di surga kelas tinggi, yang berada di samping surga para Nabi.

Begitulah sulitnya menuntut ilmu. Ada banyak rintangan dan godaan yang mesti disingkirkan. Sangat beruntung orang yang mampu bersabar dalam melewati segala bentuk ujian ini. Di antara deretan cobaan di atas, umpatan dan cacian teman sejawat mungkin adalah ujian paling berat dibanding lainnya.

Barangkali sudah nasib orang berilmu seperti itu. Terkadang teman pun bisa jadi lawan, bahkan tak jarang nyawa pun dikorbankan demi sebuah kebenaran. Namun ketika datang masanya, mereka akan tersenyum bahagia di depan Yang Maha Kuasa ketika mampu melewati tahapan di atas. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pendidikan Attauhidiyyah Giren

Hasyim-Kalla Saling Lempar Joke

Jakarta, Attauhidiyyah Giren

Salah satu ciri pertemuan yang diselenggarakan oleh orang NU adalah guyonan atau joke untuk menghangatkan suasana. Hal ini juga terjadi dalam acara peluncuran buku buku ”Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid: Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah” di Jakarta, Kamis (6/3) malam.

KH Hasyim Muzadi yang memberi sambutan buku biografi KH Idham Chalid tersebut menceritakan masa-masa awal Orba yang menekan kepada NU yang waktu itu masih merupakan partai politik.

Hasyim-Kalla Saling Lempar Joke (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim-Kalla Saling Lempar Joke (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim-Kalla Saling Lempar Joke

“Golkar pada waktu itu selalu menang karena didukung ABRI, birokrasi dan menghitung sendiri. Belum ada pemilu tapi catatannya sudah diumumkan,” katanya yang disambut ketawa hadirin dihadapan wapres Jusuf Kalla yang juga ketua umum Golkar.

Namun buru-buru ia menambahkan. “Itu dulu, sekarang orang NU sudah memimpin Golkar, kalau tidak sama bukan politik namanya.”

Ssaat mendapatkan kesempatan memberikan sambutan, Jusuf Kalla yang mantan Mustasyar NU Sulsel ini membalas dengan menceritakan joke tentang pemilu antara orang Amerika, Meksiko dan Indonesia.

Attauhidiyyah Giren

Orang Amerika mengatakan, “Di Amerika pemilu pagi, sore baru ketahuan hasilnya, anda orang Meksiko satu bulan baru tahu” Dikatakan demikian, orang Mesiko tak terima “O dhak, satu tahun sebelumnya kita sudah tahu,” Namun orang Indonesia nyelutuk, “di Indonesia lima tahun sebelum pemilu, kita sudah tahu siapa yang menang” yang kemudian disambut dengan ketawa dan tepuk tangan oleh hadirin.

Menurutnya, saat ini Golkar dan NU dalam suasana yang sangat akrab di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang saat ini sedang dalam proses Pilkada, calon dari Golkar memiliki wakil orang NU. Demikian pula di Jawa Barat.

“Ini orang NU yang digolkarkan atau orang Golkar yang di NU kan, dua-duanyalah. Mas Muhaimin (Ketua Umum PKB) minta maaf yaa, mana yang lebih NU Golkar atau PKB,” katanya yang sekali lagi disambut ketawa meriah oleh hadirin. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren RMI NU, Amalan Attauhidiyyah Giren

Imsak, Benarkah Waktu Dimulainya Berpuasa?

“Imsaak...! Imsaak...!”

Di beberapa daerah di Indonesia suara keras kata-kata tersebut hingga kini masih terdengar beberapa saat sebelum azan subuh dari masjid-masjid dan mushala-mushala sebagai pengingat telah datang waktunya imsak, waktu menahan diri dari berbagai hal yang bisa membatalkan puasa, khususnya makan dan minum. Dan masyarakat maklum, bila telah terdengar kata “imsak” dikumandangkan mereka serta merta menghentikan aktivitas makan dan minum yang terangkai dalam kegiatan sahur.

Imsak, Benarkah Waktu Dimulainya Berpuasa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Imsak, Benarkah Waktu Dimulainya Berpuasa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Imsak, Benarkah Waktu Dimulainya Berpuasa?

Memang demikian adanya. Sebagian masyarakat Muslim memahami bahwa datangnya waktu imsak adalah awal dimulainya ibadah puasa. Pada saat itu segala kegiatan makan minum dan lainnya yang membatalkan puasa harus disudahi hingga datangnya waktu maghrib di sore hari. Namun demikian sebagian masyarakat Muslim juga bertanya-tanya, benarkah waktu imsak sebagai tanda dimulainya puasa?

Attauhidiyyah Giren

Lalu bagaimana sesungguhnya fiqih mengatur awal dimulainya ibadah yang termasuk salah satu rukun Islam ini? Benarkah imsak menjadi waktu awal dimulainya seseorang menahan lapar dan dahaga?

Bila mencermati beberapa penjelasan para ulama dalam berbagai kitabnya akan bisa dengan mudah diambil satu kesimpulan kapan sesungguhnya ibadah puasa itu dimulai dan apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan waktu imsak.

Imam Al-Mawardi di dalam kitab Iqna’-nya menuturkan:

Attauhidiyyah Giren

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (?) ? ? ? ? ? ? ? ?

“Waktu berpuasa adalah dari terbitnya fajar kedua sampai tenggelamnya matahari. Akan tetapi (akan lebih baik bila) orang yang berpuasa melakukan imsak (menghentikan makan dan minum) sedikit lebih awal sebelum terbitnya fajar dan menunda berbuka sejenak setelah tenggelamnya matahari agar ia menyempurnakan imsak (menahan diri dari yang membatalkan puasa) di antara keduanya.” (lihat Ali bin Muhammad Al-Mawardi, Al-Iqnaa’ [Teheran: Dar Ihsan, 1420 H] hal. 74)

Dr. Musthafa al-Khin dalam kitab Al-Fiqh Al-Manhaji menyebutkan:

? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Puasa menurut syara’ adalah menahan diri dari apa-apa yang membatalkan dari terbitnya fajar sampai dengan tenggelamnya matahari disertai dengan niat.” Musthafa al-Khin dkk, Al-Fiqh Al-Manhaji fil Fiqh As-Syafi’i [Damaskus: Darul Qalam, 1992], juz 2, hal. 73)

Sedangkan Sirojudin Al-Bulqini menyampaikan:

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Yang ketujuh (dari hal-hal yang perlu diperhatikan) adalah menahan diri secara menyeluruh dari apa-apa (yang membatalkan puasa) yang telah disebut sepanjang hari dari tebitnya fajar sampai tenggelamnya matahari..” (Sirojudin al-Bulqini, Al-Tadrib [Riyad: Darul Qiblatain, 2012], juz 1, hal. 343)

Dari keterangan-keterangan di atas secara jelas dapat diambil kesimpulan bahwa awal dimulainya puasa adalah ketika terbit fajar yang merupakan tanda masuknya waktu shalat subuh, bukan pada waktu imsak. Adapun berimsak (mulai menahan diri) lebih awal sebelum terbitnya fajar sebagaimana disebutkan oleh Imam Mawardi hanyalah sebagai anjuran agar lebih sempurna masa puasanya.

Lalu bagaimana dengan waktu imsak yang ada?

Waktu imsak yang sering kita lihat di jadwal-jadwal imsakiyah adalah waktu yang dibuat oleh para ulama untuk kehatian-hatian. Dengan adanya waktu imsak yang biasanya ditetapkan sepuluh menit sebelum subuh maka orang yang akan berpuasa akan lebih berhati-hati ketika mendekati waktu subuh. Di waktu sepuluh menit itu ia akan segera menghentikan aktivitas sahurnya, menggosok gigi untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang bisa jadi membatalkan puasa, dan juga mandi serta persiapan lainnya untuk melaksanakan shalat subuh.

Dapat dibayangkan bila para ulama kita tidak menetapkan waktu imsak. Seorang yang sedang menikmati makan sahurnya, karena tidak tahu jam berapa waktu subuh tiba, dia akan kebingungan saat tiba-tiba terdengar kumandng azan subuh sementara di mulutnya masih ada makanan yang siap ditelan.

Satu hal yang perlu diketahui bahwa waktu imsak hanya ada di Indonesia. Fenomena masjid-masjid dan musholla-musholla menyuarakan waktu imsak tak ditemui di negara manapun sebagaimana bisa ditemui di beberapa daerah di Indonesia.

Inilah kreatifitas ulama kita, ulama Nusantara. Adanya waktu imsak adalah bagian dari sikap khas para ulama yang “memperhatikan umat dengan perhatian kasih sayang” atau dalam bahasa Arab sering disebut yandhuruunal ummah bi ‘ainir rahmah. Karena sayangnya ulama negeri ini kepada umat mereka menetapkan waktu imsak demi lebih sempurnanya puasa Ramadhan yang dilakukan umat Islam bangsa ini. Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pemurnian Aqidah Attauhidiyyah Giren

Selasa, 27 Februari 2018

Rektor UIM Harapkan Pegawai dan Dosen Lebih Istiqomah

Makassar, Attauhidiyyah Giren?

Universitas Islam Makassar salah satu perguruan ? tinggi milik Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatanmengadakan Halal bi Halal bersama civitas akademika UIM, Rabu (22/7) pagi yang bertempat di Auditorium Muhyiddin Zain UIM.

Rektor UIM Harapkan Pegawai dan Dosen Lebih Istiqomah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rektor UIM Harapkan Pegawai dan Dosen Lebih Istiqomah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rektor UIM Harapkan Pegawai dan Dosen Lebih Istiqomah

Rektor UIM Dr Majdah M Zain menuturkan dalam sambutannya berharap kepada seluruh civitas akademika UIM untuk mempertahankan amalan-amalan Ramadhan, karena sesungguhnya Ramadhan adalah bulan latihan yang kemudian membuat kita semua tetap istiqomah mempertahankan ibadah, baik yang sifat ibadah mahdah dan ibadah sosial.

Kemudian dalam sambutan Ketua Umum Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar yang diwakili oleh Wakil Ketua Yayasan Prof A Rahman Idrus mengungkapkan dihadapan civitas akademika UIM "Apa yang kita sudah lakukan pada bulan suci Ramadhan kemarin, semoga kita mampu pertahankan di hari-hari yang akan datang, baik dari aspek ibadah dan peningkatan etos kerja.

Attauhidiyyah Giren

Disisi lain kami selaku Yayasan sangat mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan oleh Ibu Rektor dalam mengembangkan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama ini, semoga ke depan UIM bisa lebih baik dan menjadi perguruan tinggi Islam yang mampu menyebarkan nilai-nilai Islam berhaluan Ahlusunnah wal Jamaah.

Rais Syuriyah NU Sulsel Anregurutta Dr KH Muh Sanusi Baco membawakan tausiah Halal bi Halal dihadapan Civitas Akademika Universitas Islam Makassar, dalam tausiahnya Gurutta banyak menjelaskan tentang bagaimana hidup sederhana dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Attauhidiyyah Giren

Dalam tradisi Indonesia kita mengenal perayaan Halal bi Halal sebagai rasa syukur dan saling menghalalkan kesalahan satu sama lain, Halal bi halal mengandung makna keseimbangan artinya dengan Halal bi Halal ini, berarti UIM memberi maaf dan mau menerima maaf atas apa yang telah terjadi, kemudian secara luas makna Halal bi Halal ini berarti adanya keseimbangan antara kewajiban dan hak, saling menghargai satu sama lain, murid menghormati gurunya, dan guru menyayangi muridnya, begitulah seterusnya.

"Harapannya setelah menghadapi ibadah puasa sebulan penuh, perilaku kita mampu tercermin dan menghasilkan manusia yang memiliki akhlakul karimah," tambahnya.

Di sisi lain dalam perayaan Idul Fitri, selalu diucapkan kalimat Minal Aidin wal Faidzin, kalimat ini merupakan doa yang artinya mudah-mudahan semua akan kembali dan mendapatkan kemenangan, namun kalimat Minal Aidin Wal Faidzin ini secara luas bermakna perjuangan manusia menahan hawa nafsu melalui ibadah puasa selama sebulan penuh.

“Dan kemudian di hari yang Fitri ini, kita mendapatkan kemenangan yang berati kembali seperti bayi yang suci dari dosa dan meraih kemenangan yakni Surga, ketika semua masyarakat bangsa Indonesia mampu menahan hawa nafsunya, Indonesia akan meraih kemenangan, namun ketika Bangsa Indonesia tidak mampu menahan hawa nafsunya, maka mengkhawatirkan Indonesia akan meraih kehancuran,” kata Kiai Sanusi Baco.

Tampak hadir Wakil Rektor I Dr Musdalifah Mahmud, Wakil Rektor II Saripuddin Muddin, MT, Wakil Rektor III Dr Abd Rahim Mas P Sanjata, Wakil Ketua PWNU Sulsel Dr Arfah Shiddiq yang juga Dekan FKIP UIM, Ketua Muslimat NU Sulsel Dr Nurul Fuadi yang juga Direktur Pascasarjana UIM, para Dekan se Universitas Islam Makassar, dan seluruh civitas akademika UIM. (Andy Muhammad Idris/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pemurnian Aqidah, Nusantara, RMI NU Attauhidiyyah Giren

PMII Sumenep Galang Dana untuk Korban Gempa Aceh

Sumenep, Attauhidiyyah Giren. Puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Wiraraja Kabupaten Sumenep menggalang dana untuk korban gempah aceh. Penggalangan dana dilakukan untuk membantu korban bencana gempa aceh yang terjadi beberapa waktu lalu.

Penggalangan dana oleh puluhan mahasiswa tersebut dilakukan selama 7 hari berturut-turut. Sedangkan Ahad (7/7) kemarin, merupakan hari pertama dalam pengumpulan koin untuk korban gempa tersebut.

PMII Sumenep Galang Dana untuk Korban Gempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sumenep Galang Dana untuk Korban Gempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sumenep Galang Dana untuk Korban Gempa Aceh

Koodinator lapangan (Korlap) penggalangan dana untuk Aceh, Zainal Arief mengatakan, penggalangan dana gempa Aceh selain untuk membantu meringankan beban mereka, penggalangan dana juga sebagai bentuk solidaritas terhadap saudara-saudara di Aceh yang beberapa waktu lalu diguncang bencana gempa bumi.

Attauhidiyyah Giren

“Iya, penggalanangan dana yang kami lakukan dikhususkan untuk membantu saudara-saudara kita yang lagi tertimpa musibah bencana di Acek,” katanya, Ahad (7/7) kepada wartawan.

Oleh karena itu, lanjut dia kita mempunyai inisiatif untuk mengurangi beban hidup yang saat ini sedang dihadapi oleh para korban dengan cara menggalang dana dari satu tempat ke tempat yang lain.

Attauhidiyyah Giren

"Inisiatif ini kami lakukan untuk membantu beban saudara kami yang ada di sana, karena bagaimana pun juga mereka pasti membutuhkan uluran tangan saudara-saudara mereka. Maka dari itu, kami merasa punya tanggung jawab untuk membantu meskipun tidak seberapa, yang penting usaha ini sudah kami lakukan," tambahnya.

Penggalangan dana sendiri dilakukan diberbagai titik, diantaranya dibeberapa perempatan lingkungan kota Sumenep, yaitu dibeberapa lampu merah dan disejumlah pasar, baik pasar tradisional atau pun pasar modern yang ada sekitar kota Sumenep dan sekitarnya.

"Sedangkan dari hasil penggalangan dana yang berhasil kami kumpulkan, akan kami salurkan melalui penyaluran nomor rekening yang memang dikhususkan untuk bantuan korban bencana gempa Banda Aceh,” jelasnya.

Dengan penggalangan koin yang dilakukan itu, lanjut Zainal Arief, pihaknya tetap membutuhkan partisipasi masyarakat agar mengulurkan tangannya demi saudara-saudara yang menjadi korban gempa tersebut. Selain itu, dalam partisipasi tersebut, pihaknya akan merasa terbantu karena usaha mereka tidak akan sia-sia.

"Kami juga melakukan orasi, agar masyarakat mengetahui bahwa bantuan tersebut akan kami salurkan kepada para korban gempa yang ada di Serambi Mekah,” lanjutnya. 

Setelah dana terkumpul, maka dana tersebut akan dikirim melalui rekening TV Nasional yang disediakan untuk korban gempa.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: M. Kamil Akhyari

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Berita, Lomba, Fragmen Attauhidiyyah Giren

Dua Kenikmatan Paling Agung bagi Tiap Muslim

Kudus, Attauhidiyyah Giren. Kiai muda Sih Karyadi memaparkan dua kenikmatan paling utama pada setiap muslim. Menurut dia, nikmat yang pertama pertama adalah keberadaan manusia yang tanpa meminta kemudian diwujudkan Allah di dunia. Kenikmatan pertama ini tiada lain karena nur Muhammad SAW.

“Melalui Hadits Qudsi, Allah berfirman bahwa kalau bukan karena Kanjeng nabi, maka cakrawala semesta tidak akan pernah diciptakan, termasuk kita manusia,” terangnya pada peringatan Maulid Nabi yang diadakan di kediaman Ketua Cabang Ikatan Pelajar Putri NU Kabupaten Kudus di Desa Jurang Kecamatan Gebog, Kudus, pada Jum’at (16/01) bersama Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Desa Jurang.

Dua Kenikmatan Paling Agung bagi Tiap Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Kenikmatan Paling Agung bagi Tiap Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Kenikmatan Paling Agung bagi Tiap Muslim

Menurut dia, itu rahmatan lil ‘alamin. Kanjeng Nabi menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tidak peduli muslim maupun kafir, semua mendapat percikan rahmatnya. Allah menciptakan dunia bukan sebatas untuk orang muslim saja, melainkan orang kafir. Muslim dan kafir sama-sama diciptakan, sama-sama mendapatkan tempat.

Attauhidiyyah Giren

Nikmat kedua, kata alumni Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (PAC IPNU) Kecamatan Gebog, Kudus dia, yakni nikmatul iman wal islam. Nikmat ini tak kalah agung dari nikmat yang pertama. Allah menjadikan hati kita memperoleh hidayah bahkan sejak kita terlahir ke dunia. Memiliki keluarga yang muslim adalah anugerah, sehingga mendapatkan pendidikan keimanan dan keislaman.

Rasulullah datang membawa rahmat, dan kedua nikmat di atas adalah nikmat yang paling agung yang harus disyukuri. Tentu dengan menjalani hidup yang penuh ketakwaan dan kebahagiaan.

Attauhidiyyah Giren

“Kita harus berbahagia, karena nikmat tersebut. Menjalani hidup dengan penuh rasa syukur, di antaranya adalah dengan cara ikut serta merayakan peringatan Maulid Nabi seperti sekarang ini,” terangnya.

Hadir juga peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Diponegoro. Salah satu peserta KKN, Irwan yang berasal dari Banjarmasin, memperkenalkan maulid Habsyi yang di daerah Jawa biasa disebut maulid Al Banjari. “Maulid Habsyi sering juga dinamai dengan maulid Al Banjari di daerah Jawa,” kata Irwan.

Berbicara mengenai selawat maulid, di Kudus sendiri terdapat bermacam jenisnya yang sering dilantunkan. Di antaranya, selawat Muludan Jawan Mbah Syarif Padurenan, Muludan Jawan Mbah Ma’ruf Irsyad, Maulid Dziba’, Barzanji, Maulid Simtud Durar, dan Dalail Khairat. Jika Dalail Khairat di Kudus disebarluaskan oleh KH. Ahmad Basyir, maka Maulid Habsyi disebarluaskan oleh KH. Abdul Ghani.

“Maulid Habsyi disebarluaskan oleh KH. Abdul Ghoni atau Guru Sekumpul. Beliau berguru kepada KH. Syarwani Abdan Bangil,” lanjut Irwan.

Acara yang diiringi dengan tabuhan rebana itu ditutup dengan pelantunan selawat khas Kudus, yakni selawat Asnawiyyah, karangan KH. Raden Asnawi. (Istahiyyah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Habib, Hikmah Attauhidiyyah Giren

Minggu, 25 Februari 2018

Habis Dirikan Madrasah, NU Doplang Bangun Kantor 350 juta

Blora, Attauhidiyyah Giren - Pelan, tapi pasti. Itulah gambaran pergerakan warga NU dan pengurus MWCNU Doplang, Blora, Jawa Tengah. Setelah mendirikan Madrasah Aliyah (MA) Ma’arif, kini mereka tengah membangun kantor yang direncanakan berdiri tiga lantai. Nantinya, bangunan tersebut akan digunakan untuk kegiatan organisasi MWCNU beserta banom-banomnya.

Ketua panitia pembangunan kantor MWCNU? Doplang Karjo Thoyib mengatakan, saat ini pembangunan kantor tengah dalam pengerjaan pondasi. Jika dipprosentase pengerjaan baru tahap sekitar 10 persen. Bangunan tersebut memliki luas 119 meter pesergi, dengan lebar tujuh meterdan panjang 17 meter.

Habis Dirikan Madrasah, NU Doplang Bangun Kantor 350 juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Habis Dirikan Madrasah, NU Doplang Bangun Kantor 350 juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Habis Dirikan Madrasah, NU Doplang Bangun Kantor 350 juta

”Bangunan tersebut ditaksir akan menelan anggaran Rp 350 juta,” ungkapnya Sabtu (28/1).

Karjo mengatakan, lokasi bangunan sangat strategis. Karena terletak di pusat kota Doplang. Yakni, sekitar 500 meter arah selatan pasar umum Doplang. Lokasi ini berdekatan dengan MA Ma’arif Doplang.

Attauhidiyyah Giren

Pihaknya berharap, pembangunan kantor tersebut dapat segera terealisasi. Karena itu, partisipasi dari semua pihak amat sangat diperlukan. Bagi yang ingin berinfaq bisa dikirimkan ke nomor rekerning 10.12.01618 (10.1.10269) BKK Doplang atas nama MWC NU Doplang. Atau kalau bantuan dalam bentuk barang bisa menghubungi panitia atau diantar langsung ke lokasi.

Karjo menambahkan, dibanding 16 MWCNU di Kabupaten Blora, MWCNU Doplang kondisinya bisa dikatakan paling memprihatinkan. Sebab, di MWC yang lain, rata-rata sudah punya banyak sekolah atau madsarah dan kantor. Seperti MWCNU Menden yang memiliki SMANU, SMKNU, MI NU, MTs Hasyim Asy’ari dan puluhan Madin dan TPQ. Demikian juga MWCNU Randublatung juga sudah punya MA Ma’arif terlebih dahulu. Bahkan MWCNU Kunduran yang lokasinya di sebelah utara Doplang, punya SMKNU yang siswanya sudah mencapai 800 lebih.

Attauhidiyyah Giren

“Untuk MWCNU Doplang, saat ini baru dalam tahap berkembang. Karena itu, suport dari semua pihak sangat kami harapkan,” ujar Karjo, yang juga dosen STAI Almuhammad Cepu.

Secara geografis, MWC NU Doplang lokasinya berbatasan dengan Kabupaten Ngawi Jawa Timur dan Kabupaten Grobogan Jawa Tengah. Banyak ranting NU yang ada di MWC NU Doplang lakasinya berada di tengah hutan jati. Jalan yang naik turun dan belum beraspal menjadi kendala tersendiri bagi pengurus dalam menggerakkan roda organisasi hingga ke tingkat bawah. (Sholihin Hasan/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pertandingan, Hikmah, Makam Attauhidiyyah Giren

Jumat, 23 Februari 2018

Pergunu Jombang Buka Lomba Menulis untuk Semua Guru

Jombang, Attauhidiyyah Giren. Memperingati hari guru tahun 2014, Pengurus Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kabupaten Jombang mengadakan lomba menulis untuk guru. Dalam kegiatan ini Pergunu bekerja sama dengan media, Jawa Pos Radar Mojokerto.

Menurut sekretaris Pergunu, Yusuf Suharto, kegiatan ini? sengaja dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan pedagogik dan skill menulis para guru. “Selain itu, berusaha meningkatkan kompetensi pedagogik? para guru tentang kurikulum 2013, serta berharap terjalinnya kerja sama konstruktif di antara para guru, khususnya Pergunu di Kabupaten Jombang dan dunia usaha,” jelas Yusuf dalam rilisnya kepada Attauhidiyyah Giren, Jumat (28/11).

Pergunu Jombang Buka Lomba Menulis untuk Semua Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jombang Buka Lomba Menulis untuk Semua Guru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jombang Buka Lomba Menulis untuk Semua Guru

Lomba menulis ini dibagi menjadi dua kategori, pertama lomba menulis artikel dengan tema “Menjadi Guru yang Kreatif, Inovatif dan Professional”. Sedangkan kategori kedua adalah lomba menulis desain Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kurikulum 2013 dengan tema “Mewujudkan Kegiatan Belajar Mengajar Yang Kreatif, Efektif dan Menyenangkan”.

Attauhidiyyah Giren

Adapun peserta lomba ini dibuka untuk guru di seluruh Indonesia. Dengan ketentuan batas pengiriman naskah dan kelengkapan persyaratannya dalam bentuk softcopy ke email panitia (pergunujombang1@gmail.com atau yusufpergunu2@gmail.com) selambatnya tanggal 24 Desember 2014.

Attauhidiyyah Giren

Setelah semua naskah dari peserta terkumpul, akan dilakukan penilaian oleh dewan juri yang ditunjuk panitia hingga ditetapkan pemenang lomba. “Untuk para pemenang akan diumumkan pada tanggal 10 Januari 2015, sekaligus pemberian hadiah atau penghargaannya,” tambah Yusuf yang juga seorang pengajar di salah satu instansi pendidikan di Jombang ini.

Informasi lebih lanjut calon peserta dapat dapat menghubungi Panitia Peringatan Hari Guru 2015 Pergunu Jombang via telepon atau SMS di nomor 085230563577 (Faqih) atau 08151583899 (Yusuf). (Romza/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren RMI NU, Sejarah Attauhidiyyah Giren

Ribuan Jamaah Shalat Idul Adha di Pendopo Pringsewu

Pringsewu, Attauhidiyyah Giren. Mengambil tempat di halaman Pendopo Kabupaten Pringsewu, Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kecamatan Pringsewu melaksanakan shalat Idul Adha 1436 H, Kamis (24/09/15). 

Ribuan Jamaah Shalat Idul Adha di Pendopo Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Shalat Idul Adha di Pendopo Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Shalat Idul Adha di Pendopo Pringsewu

Kegiatan ini dihadiri oleh ribuan jamaah yang ada di Kabupaten Pringsewu. Nampak hadir pula pada kegiatan tersebut Camat Pringsewu Nang Abidin yang dalam kesempatan tersebut membacakan sambutan tertulis Bupati.

Dalam sambutannya Bupati menyatakan pentingnya berkurban sebagai wujud untuk mendekatkan diri kepada Allah. 

Attauhidiyyah Giren

"Kurban juga adalah manifestasi cinta kepada sang pencipta," jelasnya. "Jadikan kurban juga sebagai momentum kepedulian sosial, rela berkorban untuk membangun pringsewu bersenyum manis," tambah Bupati.

Sementara itu dalam khutbah Idul Adha 1436 H nya, KH Mahfudz Ali mengajak kepada para jamaah untuk sejenak menghentikan ingatan kepada hal hal yang serba materi. Ia mengajak kepada jamaah untuk merenungi diri untuk memperoleh pengalaman ruhaniyah.

Attauhidiyyah Giren

"Marilah kita renungkan demonstrasi ketulusan berkorban Nabi Ibrahim sebagai suri tauladan yang berharga. Ibrahim mengekspresikan kebijakan kembali ketaatannya Kepada Allah dengan mengorbankan putra kesayangannya Nabi Ismail," terangnya.

Menurut KH Mahfud Ali yang merupakan Ketua PCNU periode 2009-2014, kesadaran, keikhlasan yang lahir dari keimanan yang mendalam adalah merupakan dasar dari kesediaan untuk berkurban yang dituntut dari diri sendiri.

Kiai Mahfudz menambahkan seringan apapun perintah agama jika kadar iman dan taqwa telah memudar dalam diri maka yang ringan akan berat. 

"Justru terasa ringan mengeluarkan uang ratusan juta rupiah, demi Alat alat hiburan dan kendaraan," katanya. (M Faizin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kajian Islam, Lomba Attauhidiyyah Giren

Kamis, 22 Februari 2018

KH Hasyim Muzadi: Perlu Bangun Kembali Mental NU

Bangkalan, Attauhidiyyah Giren. Munculnya berbagai aliran keagamaan yang dinilai sesat tampaknya memperoleh perhatian serius dari kalangan Nahdlatul Ulama.

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi pada acara Halal bihalal yang digelar oleh PCNU Bangkalan, Kamis (1/10) lalu di Pondok pesantren Syaikhona Cholil Bangkalan, mengajak agar semua kader NU terus waspada terhadap kehadiran-aliran-aliran baru tersebut.

KH Hasyim Muzadi: Perlu Bangun Kembali Mental NU (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Muzadi: Perlu Bangun Kembali Mental NU (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Muzadi: Perlu Bangun Kembali Mental NU

Aliran itu disinyalir sebagai salah satu ekses keterbukaan informasi di tengah ketidaksiapan ummat Islam pada umumnya. Pengasuh Pondok Peasntren Al Hikam itu menyatakan, aliran itu bisa berkembang dan hidup karena dua hal. Ia terjadi melalui aliran dan gerakan politik.

“Dalam perspektif aliran mereka telah menerjamahkan Al-Qur’an dan hadist dari sudut pandang mereka tanpa memandang pendapat pihak lain,” kata Kiai Hasyim seperti dikutip kontributor Attauhidiyyah Giren Phandy Azzaury.

“Dari segi politik kita dapat melihat model-model kegiatan yang dilakukan oleh beberapa ormas dengan lebel agama yang banyak dikenal warga NU dan masyarakat umum lainnya,” tambahnya.

Selain penataan kembali keimanan umat, Ketua Umum PBNU juga mengajak agar jama’ah dan Jam’ iyah NU mampu membangun dan menanamkan kembali prilaku dan budaya NU di lingkungan NU sendiri. “Selama ini kita telah melihat dengan jelas tentang menurunnya kualitas ke-NU-an kita,” katanya.

Attauhidiyyah Giren

Ditambahkan, pembangunan kembali mental NU ini perlu dilakukan pada usia NU yang telah tua, yakni 83 tahun. “Kita juga telah mengalami pergantian generasi dengan tingkat pengetahuan yang kurang memadai. Kalau pada zamannya Pak Idham dan Buya Hamka elite NU dan Muhammadiyah bersatu itu karena sama-sama ngerti, kalau sekarang faktornya adalah karena mereka sama-sama tidak mengerti,” kata Kiai Hasyim bergurau.

Kedua, Kyai Hasyim juga melihat dalam usia 83 tahun ini NU hanya maju secara fisik, namun tidak demikian dengan mental.

Attauhidiyyah Giren

“Betapa kita melihat kemunduran kita dalam keikhlasan, ukhuwah serta toleransi, maka tidaklah mengherankan jika sampai saat ini NU masih bernasab baik, akan tetapi tidak bernasib baik. Kalau kita bersatu satu hari saja mungkin NU ini akan menguasai republik ini," katanya.

Dalam acara yang bertemakan “Aktualisasi Peran dan Fungsi Nahdlatul Ulama dalam Mewujudkan Persatuan dan Kesatuan Demi Kemaslahan Umat" Ketua Umum PBNU menekankan pentingnya pembenahan aqidah dan syari’ah sebagai jawaban strategis dari serangan ajaran sesat dimaksud.

Sementara itu ketua PCNU Bangkalan KH R Fachrillah Aschall (Ra Fachri) menyatakan, dirinya merasa tertantang untuk mengembalikan ruh NU ke Bangkalan. Dikatakan, secara hakekat NU lahir dari Bangkalan. Namun kenyataannya justru NU di wilayah Bangkalan tertinggal dari cabang lain seperti Sidoarjo, Malang, Mojokerto, maupun Pasuruan.

Hadir dalam kesempatan itu Bupati Bangkalan KH Fuad Amin, Ketua ISNU Bangkalan Dr Hamed Nawawi, dan Wakil Ketua PWNU Jatim yang juga anggota DPD KH Nuruddin A Rachman. (pan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Daerah, Ubudiyah, Hikmah Attauhidiyyah Giren

Koornas Ayo Mondok: Jangan Asal-asalan Memondokkan Anak

Lampung Tengah, Attauhidiyyah Giren. Bagi orang tua yang ingin memasukkan anaknya ke pesantren diminta lebih selektif dalam memilih tempat pendidikan untuk masa depan anak-anaknya, lebih-lebih menuju pondok pesantren. 

“Orang tua harus tahu terlebih dahulu latar belakang pondok yang akan dituju, jangan asal-asalan memondokkan anak,” kata KH Lukman Harits Dimyati selaku Koordinator Nasional (Koornas) Gerakan Ayo Mondok dalam rangka Haflah Akhirussanah Pesantren Baitul Mustaqim Sidomulyo, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah, Ahad (14/5). 

“Jika akan memondokkan anak panjenengan pilihlah pondok pesantren yang tidak melawan negara, dan senantiasa setia dengan Pancasila, jangan memilihkan pesantren yang mengajarkan makar, radikal, dan merakit bom,” ujarnya. 

Koornas Ayo Mondok: Jangan Asal-asalan Memondokkan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Koornas Ayo Mondok: Jangan Asal-asalan Memondokkan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Koornas Ayo Mondok: Jangan Asal-asalan Memondokkan Anak

Menurut pimpinan Ma’had Aly Pesantren Tremas Kabupaten Pacitan Jawa Timur ini,  di Indonesia pesantren-pesantren yang senantiasa menjunjung nilai-nilai Pancasila adalah pesantren milik Nahdlatul Ulama Ahlussunnah wal Jamaah an Nahdliyyah. 

“Lahirnya Gerakan Nasional Ayo Mondok  Pesantrenku Keren ini beberapa tahun lalu adalah untuk menciptakan suasana Indonesia sebagai negeri Santri. Bukan hanya santri bermakna harfiah yang mukim/menetap di pondok pesantren saja. Tetapi santri adalah orang-orang yang mempunyai akhlaq baik, menjaga kerukunan, kedamaian, mengamalkan ajaran-ajaran NU, yang menciptakan tatanan masyarakat yang sejuk baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur”, tandas Katib Suriyah PBNU ini. 

Hadir dalam agenda tersebut KH Nur Daim (Rois Suriyah PCNU Lampung Tengah), KH Nur Salim (Sekretaris Idaroh Syu’biyyah Jatman), KH Slamet Anwar (Wakil Ketua PCNU Kabupaten Lampung Tengah), Lukman Djoyosumarto (Wakil Bupati Lampung Tengah), Midi Iswanto (Anggota DPRD Propinsi Lampung), Camat Punggur, para Kepala Kampung, TNI dan POLRI serta ratusan santri. (A Syarief Kurniawan/Zunus) 

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren Ulama Attauhidiyyah Giren

Rabu, 21 Februari 2018

Memasuki Ujung Ramadhan Harusnya Ingat Diri

Surabaya, Attauhidiyyah Giren

Sebelum memulai kajian rutin yang dilangsungkan di Mushala PWNU Jatim, Ustadz Maruf Khozin mengingatkan bahwa kini umat Islam tengah berada di penghujung Ramadhan. Ada banyak hal yang harus dilakukan agar kaum Muslimin tidak merugi karena akan berpisah dari bulan penuh kebajikan tersebut.

"Di penghujung Ramadhan kita harusnya mengingat diri," katanya, Kamis (15/6). Termasuk dalam hal ini adalah bagaimana kemampuan untuk menahan nafsu. Menurut anggota dewan pakar PW Aswaja NU Center Jatim tersebut, justru di akhir Ramadhan kemampuan melawan hawa nafsu ini dipertaruhkan, lanjutnya.

Memasuki Ujung Ramadhan Harusnya Ingat Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Memasuki Ujung Ramadhan Harusnya Ingat Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Memasuki Ujung Ramadhan Harusnya Ingat Diri

Sebagai perumpamaan yang terus berulang, pada setiap akhir Ramadhan ada kecenderungan dalam berbelanja dan godaan jelang hari raya malah kian tinggi. "Kita hanya memindah nafsu ke malam hari," kata alumnus Pesantren Ploso Kediri tersebut. Menurutnya, saat siang memang tidak banyak yang dilakukan kaum Muslimin. Akan tetapi kala memasuki malam, justru diperbudak dengan nafsu. "Dari mulai nafsu makan hingga berbelanja," sergahnya.

Attauhidiyyah Giren

Ustadz Maruf kemudian membeberkan kegemaran makan dengan porsi yang lebih kala berbuka. "Karena alasan puasa, kala berbuka kita justru makan dan minum yang lebih enak," ungkapnya. Hal tersebut tentu akan berpengaruh kepada kegemaran berbelanja yang justru berlebihan.

"Demikian kala persiapan menuju hari raya," katanya. Yang ramai justru mall dan tempat belanja. Kalau pada sepuluh awal Ramadhan jamaah masjid dan mushala demikian semarak hingga menutup jalan dan gang, tidak saat ini, lanjutnya.

Attauhidiyyah Giren

Dalam pandangan Ustadz Maruf, sapaan akrabnya, ini menjadi bukti bahwa kaum Muslimin masih belum mampu menghayati esensi puasa. "Berbeda dengan para ulama dan kiai yang menjalankan puasa tidak hanya saat Ramadhan, juga di bulan yang lain," tandasnya.

Di ujung penjelasannya, Ustadz Maruf mengajak kaum Muslimin untuk benar-benar menghayati hakikat puasa. "Apalagi kini telah memasuki 10 hari terakhir dari Ramadhan, mari tingkatkan ibadah, kendalikan nafsu kita," pungkasnya. (Ibnu Nawawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Bahtsul Masail Attauhidiyyah Giren

Pemkab Minta GP Ansor Bantu Pembangunan di Bojonegoro

Bojonegoro, Attauhidiyyah Giren - Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik Dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbangpol dan Linmas) Kusbianto mengatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro menyambut gembira dengan adanya Gerakan Pemuda Ansor dan berharap dapat membantu program pembangunan di Bojonegoro, Jawa Timur.

"Berharap dapat berkontribusi dan berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan di Bojonegoro," katanya mewakili Bupati Bojonegoro saat menghadiri pelantikan Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kota Bojonegoro di halaman stadion Letjen H Soedirman Bojonegoro, Ahad (14/8) malam.

Pemkab Minta GP Ansor Bantu Pembangunan di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Minta GP Ansor Bantu Pembangunan di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Minta GP Ansor Bantu Pembangunan di Bojonegoro

Mantan Kepala Satpol PP itu juga menambahkan, dengan adanya era Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) saat ini, persaingan dalam dunia kerja sangat ketat. "Untuk itu pemuda Ansor harus meningkatkan kemampuannya agar dapat bersaing dengan negara Asia yang lain," pesan Kusbianto.

Attauhidiyyah Giren

Sementara itu, ketua PAC GP Ansor Kota Bojonegoro yang baru dilantik, Ashari berkomitmen akan memperkuat soliditas kepengurusan agar dapat melaksanakan program yang telah disusun.

Attauhidiyyah Giren

"Ansor akan semaksimal mungkin untuk berkontribusi dalam menjaga keutuhan NKRI," terang Ashari.

Ditambahkan, GP Ansor akan ada pada garda terdepan jika ada kelompok-kelompok yang akan merongrong keutuhan Republik Indonesia dengan radikalisme ataupun komunisme yang akhir-akhir ini mulai terjadi di berbagai daerah.

Turut hadir daam pelantikan badan otonom (banom) NU ini pengurus dari banom lain di Majelis Wakil Cabang NU Kota Bojonegoro, Ketua PCNU Bojonegoro dr. Cholid Ubed, Ketua KNPI Bojonegoro Anam Warsito, Ketua PC PMII Ahmad Syahid, dan Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Bojonegoro Abdullah Faizin. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pahlawan, Halaqoh, Doa Attauhidiyyah Giren

Selasa, 20 Februari 2018

Santri dan Alumni Diimbau Tak Terbujuk Gerakan Teroris

Tasikmalaya, Attauhidiyyah Giren

Pimpinan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Awipari Kota Tasikmalaya KH Cecep Ridwan Bustomi berpesan kepada para alumni dan santri untuk tidak terbujuk atas maraknya terorisme yang mengatasnamakan Islam. Pasalnya, sudah jelas segala bentuk perusakan di bumi ini tidak disukai Allah SWT.

KH Cecep Bustomi menyampaikan hal itu dalam peringatan haul ke-48 pendiri NU di Tasikmalaya, Almarhum KH Bustomi, sekaligus peringatan hari lahir ke-96 Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Kamis (14/7) malam.

Santri dan Alumni Diimbau Tak Terbujuk Gerakan Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri dan Alumni Diimbau Tak Terbujuk Gerakan Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri dan Alumni Diimbau Tak Terbujuk Gerakan Teroris

Cecep berharap tidak ada alumni dan santri yang bertentangan dengan haluan Negara. Bagi pesantren, ujarnya, yang terpenting damai dan seandainya ada yang mengajak masuk organisasi yang sudah jelas menjurus hal di luar ketentuan Negara, maka segera lapor ke pesantren atau kepolisian. "Terpenting mengamalkan ilmu. Meski sedikit tapi bermanfaat," ucapnya.

Attauhidiyyah Giren

Haul dan Milad dihadiri ribuan santri dan alumni dari berbagai kota di Jawa Barat dan luar Jawa. Termasuk para pejabat setempat seperti Bupati Ciamis Iing Syam Arifin, Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman, Ketua PCNU Kota Tasikmalaya KH Didi Hudaya, ketua alumni Pesantren Bahrul Ulum yang juga Ketua Forum Sikaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Kota Tasikmalaya KH Nono Nurul Hidayat, mantan Kepala Kemenag Kabupaten Tasikmalaya H Adang Ismail, Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Arief Fajarudin beserta Wakapolres, serta Wakil Ketua DPRD Tasikmalaya Haris Sanjaya.

Cecep juga menyinggung soal kasus penghinaan melalui media sosial Facebook kepada Pesantren Bahrul Ulum oleh oknum ormas Islam radikal yang menyatakan bahwa pesantren yang berdiri tahun 1920 itu membiarkan peredaran miras di Tasikmalaya. Hal ini, kata Cecep, pihaknya maklumi dan maafkan. Namun proses hukum harus terus berlanjut.

Attauhidiyyah Giren

"Maka mumpung ada Kapolres di sini, jangan sampai santri dan alumni yang bergerak menangkap oknum ormas itu. Silakan tegakkan hukum karena menghina apalagi fitnah meski di media sosial ada undang-undangnya," tutur Cecep.

Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Arief Faharudin yang saat itu hadir menjamin proses hukum terus berlanjut dan saat ini sedang menunggu keterangan ahli dari ahli bahasa terkait pendiskreditan oknum ormas yang suka melakukan swiping diberbagai kota. (Nurjani/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Berita Attauhidiyyah Giren

IPNU-IPPNU Gelar Makesta Demi Kebangkitan NU Bambanglipuro

Bantul, Attauhidiyyah Giren

Bambanglipuro merupakan salah satu kecamatan yang terletak di sebelah selatan ibu kota Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Kecamatan itu terdiri dari tiga desa yakni Sumbermulyo, Sidodadi dan Mulyodadi. Di daerah tersebut, bisa dibilang, warga Nahdliyin minoritas.

Keadaan itu membuat para sesepuh NU gelisah karena anak-anak mereka kurang intens terhadap kajian-kajian keagamaan, utamanya keaswajaan. Karena itulah para sesepuh NU memiliki ide mengadakan Masa Kesetiaan Aggota (Makesta) untuk generasi muda Bambanglipuro. Tujuannya, setelah diadakan Makesta diharapkan akan segera terbentuk PAC IPNU-IPPNU Bambanglipuro.

IPNU-IPPNU Gelar Makesta Demi Kebangkitan NU Bambanglipuro (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Gelar Makesta Demi Kebangkitan NU Bambanglipuro (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Gelar Makesta Demi Kebangkitan NU Bambanglipuro

Demi terlaksananya ide tersebut, para sesepuh NU membentuk Tim Pembentukan PAC IPNU-IPPNU. Setelah terbentuk, tim ini bekerja sama dengan PC IPNU-IPPNU Bantul untuk mengadakan Makesta.

Attauhidiyyah Giren

Berkat bantuan dari Muslimat Ranting Mulyodadi, Takmir Masjid Miftahussalam, Remaja Masjid MMS, dan KAPPSA, akhirnya Makesta pertama untuk pelajar NU di Bambanglipuro dapat dilaksanakan di Masjid Miftahussalam, pada Ahad (20/02). Acara Makesta ini diikuti oleh 64 peserta yang terdiri atas 26 putra dan 38 putri

Attauhidiyyah Giren

Ketua LWP (Lembaga Wakaf dan Pertanahan) NU Bantul Asrori dalam acara tersebut mengungkapkan, dengan diadakannya Makesta ini akan membuat NU di Bambanglipuro bangkit. “Dua puluh tahun ke depan, NU akan kembali jaya di sini,” tegas Asrori yang juga menjabat sebagai Kepala KUA .

Sementara itu, Ketua IPNU Bantul, Ahmad Sidik menegaskan bahwa acara makesta tersebut merupakan cara untuk Upgrading kader NU di Bambanglipuro. “Harapan saya dengan acara Makesta ini, bisa membangkitkan kembali kader NU di Bambanglipuro semakin luar biasa dan semangat bersama,” tegas Ahmad Sidik.

Ahmad Sidik juga menegaskan bahwa bulan Maret akan segera dibentuk PAC IPNU-IPPNU Bambanglipuro dan Kasihan. Menurut penuturannya, saat ini, di Bantul baru terbentuk PAC IPNU-IPPNU sebanyak sembilan. Masih banyak yang harus dikerjakan untuk meluaskan dakwah NU kepada para pelajar. (Nur Rokhim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sejarah, Internasional, Aswaja Attauhidiyyah Giren

Senin, 19 Februari 2018

IPNU-IPPNU Buka Puasa dan Tarawih bersama Jamaah Ahmadiyah

Wonosobo, Attauhidiyyah Giren

Sejumlah pemuda yang tergabung dalam organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Watumalang, Wonosobo, Jawa Tengah, Ahad (19/6), menggelar acara buka puasa dan tarawih bersama jamaah Ahmadiyah di Masjid Al-Mubarok Dusun Sumber, Desa Lumajang, Kecamatan Watumalang yang merupakan basis terbesar jamaah Ahmadiyah di Kabupaten Wonosobo.

Ketua Pengurus Takmir Masjid Al-Mubarok Satoto, yang mewakili jamaah Ahmadiyah memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kegiatan yang dilakukan oleh kader IPNU-IPPNU Watumalang tersebut. Ia mengaku bangga bahwa kader IPNU-IPPNU mau menjaga silaturahim dengan umat Islam lain meskipun mempunyai perbedaan secara ideologis. Selain itu, ia juga memuji Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam yang memegang erat nilai-nilai toleransi.

IPNU-IPPNU Buka Puasa dan Tarawih bersama Jamaah Ahmadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Buka Puasa dan Tarawih bersama Jamaah Ahmadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Buka Puasa dan Tarawih bersama Jamaah Ahmadiyah

"Dalam keadaan bangsa Indonesia yang sedang dilanda krisis moral ini, kami merasa bangga memiliki Nahdlatul Ulama yang merupakan ormas Islam yang sangat toleran terhadap kelompok lain, bukan hanya dalam internal Islam saja. Akan tetapi kepada umat agama lain," tambahnya.

Attauhidiyyah Giren

Sementara itu, M. Sairin, senior IPNU Watumalang, mengungkapkan bahwa acara tersebut merupakan upaya untuk menjaga tali silaturahim dan kesatuan serta persatuan umat Islam yang akhir-akhir ini banyak diwarnai dengan perpecahan.

"Dengan acara ini kami berharap kerukunan antarumat Islam selalu terjaga, perbedaan bukanlah alasan untuk saling berpecah-belah. Saling menghargai perbedaan adalah hal yang sangat penting untuk selalu dilakukan," tuturnya.

Attauhidiyyah Giren

Bukan hanya itu, dalam acara tersebut IPNU-IPPNU Kecamatan Watumalang memberikan sejumlah Al-Quran kepada Masjid Al-Mubarok sebagai kenang-kenangan yang diharapkan dapat dipergunakan untuk kemanfaatan jamaah Ahmadiyah di sana. Acara tersebut ditutup dengan taushiyah yang disampaikan Ketua Tanfidziyah MWCNU Watumalang Kiai Mansyur. Ia menekankan pentingnya bersyukur kepada Allah dan hikmah di balik bulan Ramadhan.

Acara buka dan tarawih bersama tersebut merupakan rangkaian kegiatan Ramadhan yang secara rutin dilakukan oleh IPNU-IPPNU Kecamatan Watumalamg yang selanjutnya akan disusul dengan kegiatan serupa serta santunan anak yatim di daerah Watumalang pada Sabtu (25/6), sebagai acara puncak dari rangkaian kegiatan tersebut. (Bujang Fajar Al-fatih/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Jadwal Kajian, Syariah, Berita Attauhidiyyah Giren