Jumat, 29 Mei 2015

Lesbumi DIY adakan Bedah “In God We Trust”

Yogyakarta, Attauhidiyyah Giren. Pengurus Wilayah Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) DI Yogyakarta menggelar acara bedah buku “In God We Trust, Merentang Hijab dari Indonesia-AS” di lantai 1 Gedung PWNU DIY, Ahad (27/1) malam.

Lesbumi DIY adakan Bedah “In God We Trust” (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi DIY adakan Bedah “In God We Trust” (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi DIY adakan Bedah “In God We Trust”

Buku tersebut merupakan karya dari Rani Ariyani, muslimah Indonesia yang menjadi warga negara AS mengikuti jejak suaminya asal negeri Paman Sam tersebut.

“Salah satu tujuan diadakannya acara bedah buku “In God We Trust” untuk meneguhkan dan mengenalkan kembali model Islam Nusantara yang sangat kental dengan tarekat. Seperti kisah hidup penulis yang memang penganut tarekat dalam buku ini,” Ujar Ketua PW Lesbumi DIY Hasan Basri Marwah.

Attauhidiyyah Giren

Dr. Katrin Bandel, mualaf asal Jerman dan kritikus sastra profetik, yang menjadi salah satu pembedah buku tersebut mengungkapkan bahwa “In God We Trust” merupakan kisah autobiografi yang fokus pada sisi spiritual.

Attauhidiyyah Giren

Selain itu, Katrin juga menceritakan sedikit isi buku tersebut. Salah satu di antaranya adalah kisah bagaimana penulis mengalami diskriminasi ketika bergabung menjadi perwira Angkatan Udara Amerika Serikat karena memakai jilbab.

“Pada mulanya, sebelum bergabung dengan angkatan udara, Ranti menerima info bahwa jilbabnya tidak dipermasalahkan tapi ketika diterima sebagai perwira, jilbabnya terus menerus dipermasalahkan. Ia diasingkan dan didiskriminasi,” cerita Katrin

Sementara itu, Ranti yang hadir dalam acara tersebut ditemani sang suami, Rich, mengatakan bahwa Allah itu Maha Penolong dan Maha Penyabar.

“Allah itu Maha Penolong dan Maha Penyabar. Ketika saya selalu disudutkan gara-gara memakai jilbab, Allah selalu memberikan jalan untuk saya keluar dari masalah tersebut,” Ujar Ranti yang akhirnya memilih mengundurkan diri dari Angkatan Udara karena statusnya yang tidak jelas.

Acara yang dimulai jam 20.00 WIB tersebut dihadiri sekitar tiga puluhan peserta yang berasal dari berbagi kalangan. Selain Katrin, hadir sebagai pembedah yakni Choirotun Chissan, penulis buku Lesbumi: Strategi Politik Kebudayaan. (Rokhim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ulama, Tegal Attauhidiyyah Giren

Kamis, 28 Mei 2015

Ketua UKP PPI: Pangkal dari Intoleransi adalah Kemiskinan

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Ketua Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) menegaskan, sumber dari sikap tidak toleran adalah kemiskinan. Baginya, bukan hanya kemiskinan dalam hal materi, tetapi juga miskin dalam segala hal seperti miskin pemahaman agama, pengetahuan, dan miskin mental.

“Pangkal dari intoleransi adalah poverty (kemiskinan). Bukan hanya poverty material, tetapi semua aspek seperti pemahaman agama, pengetahuan, dan lainnya,” kata Yudi Latif saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional dengan tema Challenges to Religious Pluralism and Tolerance di Ruang Teater Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Jakarta, Rabu (14/6).

Lebih lanjut, penulis buku Negara Paripurna itu menyebutkan Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan tingkat keberagaman yang tinggi. Mulai dari ras, etnik, budaya, dan hirarki sosial.?

Ketua UKP PPI: Pangkal dari Intoleransi adalah Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua UKP PPI: Pangkal dari Intoleransi adalah Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua UKP PPI: Pangkal dari Intoleransi adalah Kemiskinan

“Lalu bagaimana kita me-manage ini?,” tanya Yudi untuk merangsang peserta.

Ia menjelaskan, harus ada kesepakatan bersama untuk mengelola keberagaman yang ada. Dalam hal ini, Indonesia memiliki Pancasila sebagai pemersatu.

Lebih jauh, Yudi menerangkan, ketuhanan dalam sila pertama dalam Pancasila bukan lah berbentuk kata benda, melainkan kata sifat. Bung Karno menekankan, sila pertama ini sebagai ketuhanan yang beradab.?

Attauhidiyyah Giren

“Kedua, Bung Karno mengatakan bahwa nasionality kita adalah humanity, bukan nasionality yang tertutup,” ungkapnya.

Adapun sila ketiga, ungkap Yudi, warga Negara Indonesia sadar bahwa mereka berbeda, tetapi mereka mencari persamaan yang ada. “Katau sodara berasal dari satu udara. Selama kita menghirup udara yang sama, maka kita saudara,” tuturnya.

Sila keempat, imbuh Yudi, bermakna bahwa setiap warga Negara Indonesia memiliki hak yang sama dalam bermusyawarah. Mereka tidak dipertanyakan siapa, dari mana, apa agama mereka. Tetapi dalam bermusyawarah perwakilan yang dilihat adalah apa arugumen mereka.

Attauhidiyyah Giren

“Dan terakhir adalah keadilan sosial,” lanjutnya.

Yudi mengatakan, inti dari dari kelima sila tersebut adalah semangat gotong royong sebagaimana yang dituturkan Bung Karno.?

“Gotong royong ini kalau dalam masyarakat Sunda silih asih (saling mengasihi), silih asuh (saling membimbing), dan silih asah (saling mengingatkan). Kalau Jawa ada istilah wewayu hayuning bawana (memperindah keindahan dunia). Kalau di Islam, rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Kalau di Kristen ada ajaran kasih dan lainnya,” pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Hadits, Tokoh, Humor Islam Attauhidiyyah Giren

Jawa Barat Dipimpin Gubernur Aher “Absen” di Hari Santri

Bandung, Attauhidiyyah Giren?



Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2016 disambut gegap-gempita masyarakat di berbagai daerah Jawa Barat. Beberapa kepala daerah Kota dan kabupaten juga menyambutnya dengan menghadiri puncak peringatan pada Sabtu (22/10). Namun, justru Pemerintahan Provinsi Jawa Barat tidak.?

Jawa Barat Dipimpin Gubernur Aher “Absen” di Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jawa Barat Dipimpin Gubernur Aher “Absen” di Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jawa Barat Dipimpin Gubernur Aher “Absen” di Hari Santri

Sepertinya Jabar tidak atau belum menunjukan respon yang cukup berarti. Tidak ada kegiatan yang digelar pemerintah provinsi, ataupun sekadar hadir ditengah-tengah acara peringatan. Gubernur Ahmad Heryawan hanya mengucapkannya melalui media sosial, di akun halaman facebook dan instagram per tanggal 22 Oktober 2016.

“Selamat Hari Santri Nasional. Semangat Santri: "Semangat kebangsaan, cinta Tanah Air, rela berkorban untuk bangsa dan negara," tulis gubernur yang disapa Aher tersebut, mengutip pernyataan Presiden Jokowi dalam Deklarasi Hari Santri Nasional Tahun 2015.

Menurut dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung Dudang Ghazali berpendapat, seharusnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak seperti seperti itu. Sebagai provinsi yang dipimpin gubernur berlatar belakang santri dan juga representasi parpol Islam, menurut Dosen Fakultas Syariah ini, dukungan pemerintah Jabar seharusnya berada di depan.

Attauhidiyyah Giren

“Beliau kan berasal dari parpol Islam. Juga sepengetahuan kita, beliau juga latar belakangnya santri. Wajar jika masyarakat punya harapan lebih. Bahkan Presiden Jokowi juga menaruh perhatian yang cukup besar dengan hadir dalam deklarasi di Jakarta tahun 2015 dan peringatan tahun ini di Banten,” kata Dudang.

Menurutnya, dukungan pemerintah itu penting untuk lebih mengaktualkan makna Resolusi Jihad NU Tahun 1945 yang dikumandangkan Hadlratusyekh KH Hasyim Asy’ari dalam konteks kekinian, termasuk dalam tata kelola pemerintahan. “Masyarakat kita membutuhkan spirit resolusi jihad termasuk dalam pengelolaan pemerintahan saat ini,” tandasnya.

Attauhidiyyah Giren

Dudang pun membandingkan dengan dukungan pemerintah daerah lain yang sejak tahun 2015 sudah mengalokasikan anggaran untuk peringatan hari santri.

“Kemarin, waktu pelepasan rombongan Kirab Resolusi Jihad NU di kantor PWNU Jawa Barat menginformasikan beberapa daerah, seperta Jatim dan Banten itu sudah alokasikan. Bahkan di Jatim, seluruh Kota dan Kabupaten diintruksikan oleh pemerintah provinsi. Karena memang legitimasinya jelas sudah ditetapkan sebagai nomeklatur negara melalui Kepres no 22 Tahun 2015,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Jawa Barat Ineu Purwadewi Sundari ketika diminta tanggapan terkait kemungkinan adanya alokasi anggaran ? khusus untuk peringatan Hari Santri, akan menerimanya sebagai bentuk aspirasi masyarakat sepanjang sesuai dengan peraturan yang ada.

“Sebagai lembaga perwakilan rakyat semua masukan, saran dan aspirasi tentunya menjadi bagian yang akan kami perjuangkan sesuai dengan peraturan, perundang-undangan yang berlaku. Saya akan lihat regulasi dan aturan serta perencanaan terkait hal tersebut,” ucapnya.

Secara pribadi dan kelembagaan, politisi dari Fraksi PDIP ini, mengucapkan selamat Hari Santri Nasional tahun 2016. “Semoga semangat perjuangan, pengabdian, kebersamaan, kerendahanhati, ketekunan dan ukhuwah senantiasa mengawal kita semua dalam membangun karakter kehidupan bangsa”, pungkasnya. (edi rusyandi/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Anti Hoax, Hadits, Kyai Attauhidiyyah Giren

Rabu, 06 Mei 2015

Aksi Teror Hancurkan Reputasi Umat Beragama

Sumenep, Attauhidiyyah Giren - Di sela kesibukan melayani wali santri yang sowan dalam rangka Harlah Ke-75 Pondok Pesantren At-Taufiqiyah Aengbajaraja Bluto Sumenep, KH Imam Hasyim menyempatkan waktunya untuk memberikan pesan penting kepada umat Islam saat ini, khususnya warga NU agar tidak terpengaruh dengan perkembangan pemikiran yang tidak moderat yang kini semakin pesat.

"Kita sebagai umat Islam jangan sampai terkooptasi oleh pemikiran yang liberal. Karena, satu-satunya pemikiran yang moderat itu adalah Nahdlatul Ulama. Karena, NU selalu berpegang teguh pada Surat Ali Imran ayat 159 yang artinya, ‘Dengan sebab rahmat dari Allah, engkau (Muhammad SAW) menjadi lembut terhadap mereka. kalau engkau bengis dan keras hati, niscaya mereka lari dari sekitarmu.’”

Aksi Teror Hancurkan Reputasi Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Aksi Teror Hancurkan Reputasi Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Aksi Teror Hancurkan Reputasi Umat Beragama

Menurutnya, NU itu sejuk, tidak menampakkan kekerasan. Sebagaimana yang menjadi pegangan warga Nahdliyyin Tawasut, Tatsamuh. Itu semua semata-mata yang menjadi pegangan NU ala thariqati Ahlussunnah wal Jamaah.

Ia menolak keras aliran-aliran yang selalu menonjolkan kekerasan yang saat ini marak terjadi, bahkan sangat merugikan keberagaman Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Attauhidiyyah Giren

"Saya sangat tidak setuju dengan adanya kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini. Kita justru harus keras melawan mereka yang saat ini gencar menyusup kepada generasi-generasi bangsa ini. Mereka bahkan tidak pernah menggunakan cara yang halus, dan target mereka adalah menghancurkan reputasi umat Islam," jelasnya. (Fauzi E/Alhafiz K)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nahdlatul Attauhidiyyah Giren

Senin, 04 Mei 2015

Petani Dominasi Calhaj Brebes

Brebes, Attauhidiyyah Giren 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, semangat kalangan petani untuk melaksanakan rukun Islam kelima paling tinggi di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tercatat yang bekerja sebagai petani ada 190 orang (22,11%).

Hal itu diterangkan Sekretaris Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Tahun 1434 H/2013 M H Moh Aqso, usai pemberangkatan kloter 14 Calhaj Brebes di halaman Islamic Center, Jalan Yos Sudarso Brebes Jumat (13/9).

Petani Dominasi Calhaj Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Petani Dominasi Calhaj Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

Petani Dominasi Calhaj Brebes

Kalangan pegawai negeri menempati urutan kedua yaitu 188 orang (21,88%) dan pegawai swasta 172 orang (20,02%). “Pegawai Negeri mulai ada peningkatan yang mayoritas dari kalangan PNS guru, barangkali ini dari meningkatnya tunjangan sertifikasi guru,” terang Aqso. 

Attauhidiyyah Giren

Pada tahun ini, sekitar 859 jamaah calon haji (Calhaj) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah berangkat ke Saudi Arabia dari halaman Islamic Center Brebes. Mereka dibagi dalam tiga tahap, yakni kelompok terbang (kloter) 12,13, dan 14 menuju embarkasi Adi Soemarmo Solo. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren Tokoh Attauhidiyyah Giren