Rabu, 09 November 2011

Nusron Wahid Terpilih Ketua Umum Ansor

Surabaya, Attauhidiyyah Giren

Sidang pleno pemilihan ketua umum GP Ansor putaran kedua menetapkan Nusron Wahid sebagai ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor menggantikan Saifullah Yusuf yang telah menjabat selama dua periode.

Nusron memeroleh 345 suara, unggul atas Warwan Ja’far yang hanya memeroleh 161 suara dari total 512 suara. Sementara 6 suara lainnya dinyatakan blangko.

Nusron Wahid Terpilih Ketua Umum Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusron Wahid Terpilih Ketua Umum Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusron Wahid Terpilih Ketua Umum Ansor

Nusron yang juga mantan ketua umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) akan memimpin Ansor selama lima tahun mendatang, periode 2011-2016.

Attauhidiyyah Giren

Usai terpilih, Nusron menyatakan akan membawa Ansor tidak hanya berkutat pada persoalan nasional, tetapi juga internasional,“Ke depan, Ansor tidak hanya akan ikut memberikan kontribusi bagi bangsa Indonesia, melainkan juga bangsa dunia,” katanya bersemangat.

Attauhidiyyah Giren

Dikatakannya, Islam Indonesia adalah potret Islam dunia yang direpresentasikan oleh NU. Maka Ansor harus siap mengawal ajaran-ajaran Islam yang telah dikembangkan oleh NU.

Kepada para peserta kongres ia berharap dapat terus mengawal hasil-hasil kongres agar bisa direalisasikan dalam kepengurusan Ansor yang ia pimpin. “Ke depan saya tidak perlu dipuji tapi kritik saya, tagih janji-janji saya,” katanya.

Sebelumnya pada pemilihan putaran pertama memunculkan lima nama Yakni Nusron Wahud, Marwan Ja’far, Khotibul Umam Wiranu, Syaifullah Tamliha, Munawar Fuad Noeh, Malik Haramain dan Chairul Shaleh Rasyid.

Sesuai ketentuan bahwa calon yang bisa maju putaran kedua adalah memeroleh minimal 99 suara maka dipastikan calon ketua umum mengkrucut pada nama Nusron dan Marwan. Pada putaran kedua Nusron yang juga anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar ini menang atas Marwan yang juga anggota DPR dari Fraksi PKB. (hdy/nam/was/arm/ful)Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Meme Islam, Humor Islam, Doa Attauhidiyyah Giren

GP Ansor Boyolali Songsong Tahun Baru dengan Kaderisasi

Boyolali,? Attauhidiyyah Giren

Malam Tahun Baru identik dengan perayaan, mulai dari tiup terompet, menyalakan kembang api hingga turun ke jalan untuk merayakannya dengan penuh euforia. Namun, tidak yang dilakukan para kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Solo dan Boyolali.? Mereka lebih memilih momentum malam pergantian tahun, dengan menyelenggarakan kegiatan organisasi. Di Boyolali misalnya, ratusan pemuda mengikuti kegiatan Pendidikan Kader Dasar (PKD) dan Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar).?

Kegiatan ini, bahkan dihelat selama 3 hari, Jumat-Ahad (30/12-1/1), bertempat di Andong Boyolali. Ketua PC GP Ansor Boyolali, Choiruddin Ahmad, menerangkan momentum tahun baru sengaja dimanfaatkan untuk memperkuat kaderisasi. "Kita songsong Tahun Baru dengan semangat memperkuat kaderisasi yang punya militansi, demi keutuhan NKRI," tukas Gus Din.

GP Ansor Boyolali Songsong Tahun Baru dengan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Boyolali Songsong Tahun Baru dengan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Boyolali Songsong Tahun Baru dengan Kaderisasi

Sementara itu, tak jauh dari Boyolali, tepatnya di Kota Solo, diselenggarakan acara serah terima amanah kepengurusan PC GP Ansor Kota Surakarta, dari pengurus lama ke yang baru. Acara tersebut diselenggarakan di Kantor PCNU Surakarta, Sabtu (31/1) malam.

Sebelumnya, mereka telah mengadakan acara Konfercab, yang kemudian memberikan mandat kepada Arif sebagai Ketua (Plt) PC GP Ansor Surakarta dan Abdu sebagai Kasatkorcab Banser Surakarta.

“Mohon doa restu dan dukungan dari semua. Semoga ke depan Ansor Surakarta menjadi lebih berjaya,” kata Arif.? (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren Sejarah, Pesantren, Bahtsul Masail Attauhidiyyah Giren

Senin, 07 November 2011

LD PBNU Dukung Sikap Menristekdikti Terkait LGBT di Kampus

Jakarta, Attauhidiyyah Giren

Polemik terkait Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) masuk kampus terus bergulir. Hal ini berawal dari larangan Menristekdikti, M Nasir ketika menanggapi perihal gerakan Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) di kampus Universitas Indonesia (UI) yang menawarkan konseling bagi kelompok LGBT.

Mengenai polemik tersebut, Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) mendukung sikap M Nasir yang menolak keberadaan dan aktivitas LGBT di kampus. 

LD PBNU Dukung Sikap Menristekdikti Terkait LGBT di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
LD PBNU Dukung Sikap Menristekdikti Terkait LGBT di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

LD PBNU Dukung Sikap Menristekdikti Terkait LGBT di Kampus

“Hal ini dikarenakan Indonesia bukan negara liberal. Indonesia memang menjunjung tinggi kemerdekaan individu, tetapi jika kebebasan tersebut tidak sesuai moralitas bangsa, kita harus menolak,” tegas Sekretaris LD PBNU, H Nurul Yakin Ishaq, Selasa (26/1/2016) di Jakarta.

Yakin kembali menegaskan, Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi moralitas. Sebab itu, jika ada budaya yang dapat merusak moral generasi bangsa, harus disterilisasi. 

“LGBT tidak sesuai dengan budaya bangsa kita. Ini juga bisa menjadi ancaman bagi generasi muda, tidak hanya persoalan radikalisme dan terorisme saja. Kalau dibiarkan, negara ini mau jadi apa,” jelas Yakin.

Attauhidiyyah Giren

Sebelumnya, Nasir menegaskan bahwa kampus merupakan salah satu pilar penjaga moral generasi bangsa. Ada standar nilai dan susila yang dijaga. Dia tidak menolak kebebasan individu apabila tidak menggangu kondisivitas akademik. Tetapi jika budaya LGBT dilakukan di kampus, maka layak dilarang. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren Habib, Santri, Lomba Attauhidiyyah Giren

Selasa, 04 Oktober 2011

Hipsi Lampung Pamerkan Kain Tapis di Aljazair

Algeria, Attauhidiyyah Giren

Expo Terpadu di Safex Alger, Aljazair ramai dikunjungi. Pameran yang diprakarsai KBRI di Aljazair ini menampilkan produk-produk Indonesia baik dari UKM maupun Perusahaan besar di Indonesia.

Di antara yang dipamerkan adalah PT.Wika, PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Pertamina dan lainya yang umumnya bergerak dalam bidang manufaktur dan kontruksi. Sementara Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (Hipsi) Lampung menampilkan produk unggulanya yakni kain tapis.

Hipsi Lampung Pamerkan Kain Tapis di Aljazair (Sumber Gambar : Nu Online)
Hipsi Lampung Pamerkan Kain Tapis di Aljazair (Sumber Gambar : Nu Online)

Hipsi Lampung Pamerkan Kain Tapis di Aljazair

Saat meninjau stand Hipsi Lampung (24/11) Dubes RI untuk Aljazair Safira Machrusah menyatakan kegembiraanya atas antusiasme pengunjung pada produk kain tapis Lampung.

Attauhidiyyah Giren

"Semoga tapis Lampung makin dikenal dunia, syukur-syukur habis expo ini tapis bisa di export ke Aljazair," katanya pada Expo yang berlangsung yang berlangsung dari tanggal 23 sampai dengan 27 November ini.

Terkait respon positif tersebut Direktur Marketing Kain Tapis Syafiah Musyafaah menambahkan untuk expo ini pihaknya sudah menjalin komunikasi bisnis saat pameran berlangsung.

Attauhidiyyah Giren

"Sudah ada dua korporet lokal dan beberapa buyer dari Prancis dan Maroko yang menghubungi untuk kerjasama bisnis lebih lanjut," ungkapnya. (Fachurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sholawat, Ubudiyah Attauhidiyyah Giren

Kamis, 16 Juni 2011

Jika Didiamkan, Radikalisme Kikis Islam sebagai Agama Rahmat

Pringsewu, Attauhidiyyah Giren. Radikalisme adalah pemikiran dan tindakan untuk sebuah perubahan sosial atau politik dengan cara cepat memalui tindak kekerasan. Ketika seseorang sudah memiliki pemikiran radikal atau ekstrem maka diperlukan strategi dan proses yang lama untuk memulihkannya.

Jika Didiamkan, Radikalisme Kikis Islam sebagai Agama Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Didiamkan, Radikalisme Kikis Islam sebagai Agama Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika Didiamkan, Radikalisme Kikis Islam sebagai Agama Rahmat

Wakil Ketua Tanfidziyyah PWNU Provinsi Lampung H. Heri Iswahyudi menyampaikan hal itu ketika menjadi pemateri pada Seminar Pendidikan yang diselenggarakan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Pringsewu, Lampung, Sabtu (10/10).

Menurutnya, salah satu penyebab munculnya dan merebaknya paham-paham radikal adalah kegagalan pendidikan nasional. Oleh karena itu, Heri yang juga menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pringsewu ini memiliki langkah dalam memberantas paham ini agar tidak masuk dalam dunia pendidikan.

Attauhidiyyah Giren

"Peningkatan potensi dan kualitas kepala sekolah dalam bidang sosial, peningkatan disiplin sekolah, peningkatan kepedulian sekolah terhadap lingkungan, monitoring serta wawasan kebangsaan, itulah langkah yang harus ditempuh," tegasnya.

Kegiatan yang mengangkat tema "Pendidikan Keagamaan Sebagai Benteng terhadap Paham Radikalisme" ini diikuti oleh lebih kurang 250 tenaga pendidik yang merupakan utusan sekolah tingkat SD, SLTP dan SLTA di Kabupaten Pringsewu.

Attauhidiyyah Giren

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Geding NU Pringsewu tersebut juga menghadirkan Wakil Rektor III IAIN Raden Intan Bandarlampung Prof. DR. Syaiful Anwar, M.Pd. Menurut Syaiful, salah satu akar masalah munculnya radikalisme adalah dikarenakan kurangnya pemahaman dalam memaknai agama.

Oleh karenanya perlu tindakan pencerahan bagi seluruh umat untuk terus belajar dan mendalami agama secara sempurna dan menyeluruh. "Radikalisme jika didiamkan saja akan mengikis (citra) ajaran agama Islam sebagai rahmat seluruh alam," tegasnya.

Dan menurutnya, perlu sekali dilakukan kegiatan-kegiatan seperti penyuluhan, diskusi dan seminar dalam rangka membentengi umat khususnya generasi muda dari paham-paham radikalisme. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kajian Islam, Ubudiyah, Doa Attauhidiyyah Giren

Selasa, 24 Mei 2011

Merayakan Maulid dengan Pekan Cinta Rasul

Tulungagung, Attauhidiyyah Giren. Seolah tak mau ketinggalan dari kemeriahan maulid Nabi di berbagai daerah, Pengurus Ranting Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Pinggirsari, Ngantru, Tulungagung, Jawa Timur menggelar kegiatan serupa.

IPNU-IPPNU Pinggirsari bekerja sama dengan Gerakan Muda bintang Pinggirsari (GMbP) Tulungagung mempersembahkan Pekan Cinta Rasul 2014. Acara dikemas dalam berbagai jenis kegiatan, antara lain, lomba mubaligh muda, bazaar, dan penyediaan taman arena bermain bagi anak-anak.

Merayakan Maulid dengan Pekan Cinta Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)
Merayakan Maulid dengan Pekan Cinta Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)

Merayakan Maulid dengan Pekan Cinta Rasul

“Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghidupkan kembali rasa cinta generasi muda? kepada Idola sebenarnya idola, yaitu Nabi Muhammad SAW,” tutur Aya Nawafi’ Maksum, ketua GMbP Tulungagung.

Attauhidiyyah Giren

Tahap seleksi peserta lomba mubaligh muda dengan tema ‘Aku Cinta Muhammadku’ dilaksanakan Ahad pagi (9/2) dan diikuti 42 peserta dengan batas maksimal usia peserta 17 tahun. Setelah diseleksi, lima finalis terpilih akan berlomba lagi merebutkan juara 1 dan piala bergilir Miftahurrohmah Maksum (Ketua PC Muslimat Tulungagung) pada malam pengajian umum.

Attauhidiyyah Giren

“Kelima finalis ini dilatih menjadi mubaligh yang akan berdakwah dengan hikmah kepada masyarakat umum,” kata Ketua IPNU Pinggirsari Ahmad Zakariya.

IPNU-IPPNU Pinggirsari berencana menjadikan agenda ini sebagai perayaan tahunan mengingat kemanfaatan acara ini. “Dengan kesuksesan ini kita optimis Pekan Cinta Rasul tahun 2015 akan berlangsung lebih semarak sebagai ungkapan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW,” kata Naning selaku ketua Panitia. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren IMNU Attauhidiyyah Giren

Senin, 16 Mei 2011

PW Fatayat NU DKI Jakarta dan Seluruh Cabang Dilantik

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Sekretaris Umum PP Fatayat NU Hj Margaret Aliyatul Maimunah membaca surat keputusan pada pelantikan pengurus baru Fatayat NU DKI Jakarta dan pengurus baru enam cabang Fatayat NU se-Jakarta di Balai Agung Gedung Balaikota jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (23/11) sore. Kepada mereka, Margaret berpesan agar mereka menjalankan tugas dengan penuh amanah.

PW Fatayat NU DKI Jakarta dan Seluruh Cabang Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
PW Fatayat NU DKI Jakarta dan Seluruh Cabang Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

PW Fatayat NU DKI Jakarta dan Seluruh Cabang Dilantik

“Selamat bertugas dan selamat mengabdi untuk Nahdlatul Ulama,” kata Margaret di hadapan sedikitnya 100 pengurus baru Fatayat NU Jakarta.

Sementara Ketua Fatayat NU DKI Jakarta Hj Rahayu Sri Rahmawati dalam sambutan pelantikannya mengajak para pengurus baru untuk berdoa untuk suami dan orang tua mereka. Menurut Rahayu, suami dan orang tua para aktivis Fatayat NU telah berjasa dalam mendukung mereka aktiv di ruang publik.

Attauhidiyyah Giren

“Pelantikan ini awal dari perjuangan dan tantangan kita dalam mewujudkan masyarakat sesuai Aswaja Nahdlatul Ulama,” kata Rahayu.

Tampak hadir Ketua PBNU H Marsudi Syuhud dan Kepala Dikmental dan Spiritual Pemrov DKI Jakarta H Ahmad Ghozali.

Attauhidiyyah Giren

Menurut Ghozali, pihak Pemrov DKI Jakarta mendukung gerakan Fatayat NU DKI Jakarta dan enam cabangnya. “Kita harap pengurus baru susun program realistis dan sesuai dengan pengembangan potensi kepemudaan di DKI Jakarta. Sekurangnya Fatayat NU DKI Jakarta menjadi duta tertib lalu lintas, tertib hunian, tertib demonstrasi, tertib PKL, dan tertib kebersihan,” kata Ghozali.

Enam pengurus cabang di Jakarta meliputi Fatayat NU Jakarta Pusat, Fatayat NU Jakarta Barat, Fatayat NU Jakarta Utara, Fatayat NU Jakarta Timur, Fatayat NU Jakarta Selatan, Fatayat NU Kepulauan Seribu. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Aswaja, Pendidikan, Pesantren Attauhidiyyah Giren

Kamis, 12 Mei 2011

Menag Berharap Revisi Terjemah Qur’an Segera Kelar

Jakarta, Attauhidiyyah Giren

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mendorong agar diakhir tahun 2018 atau awal tahun 2019, revisi terjemah Al-Qur’an sudah kelar, hingga Al-Qur’an bisa dicetak dan dipakai masyarakat. 

Menag Berharap Revisi Terjemah Qur’an Segera Kelar (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Berharap Revisi Terjemah Qur’an Segera Kelar (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Berharap Revisi Terjemah Qur’an Segera Kelar

“Harapan saya, pada akhir 2018 atau awal 2019, revisi terjemah Al-Qur’an sudah selesai, hingga Al-Qur’an bisa dicetak dan dipakai masyarakat,” harap Menag kepada Tim Revisi Terjemah al-Qur’an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an) Badan Litbang Kemenag yang menemuinya di Kantor Kemenag Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4, Jakarta, Rabu (11/05) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Hadir dalam audiensi tersebut, Kabalitbang dan Diklat, Abdurrahman Mas’ud, Anggota Tim Revisi antara lain KH A Malik Madany, Rosihan Anwar, Ahsin S, Muchlis Hanafi, Avdul Ghofur Maimun, Umi Husnul Khotimah, Zarkasi, Deny Hudaeny, Abdul Aziz Sidqi, Arum Ridiningsih, Imam Arif, Joni Syatri, Musaddad dan lain sebagainya. 

Dikatakan Menag, menterjemahkan Al-Qur’an agar sesuai dengan bahasa dan situasi terkini, bukan pekerjaan mudah, butuh ketekunan dalam melihat dan mencermati kata per kata, ayat per ayat bahkan hubungan antara satu ayat dengan ayat lain, baik dalam satu surat maupun dengan surat lainnya. 

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyatakan, banyak ayat dalam Al-Qur’an yang mempunyai makna dinamis dan mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi.

Attauhidiyyah Giren

Saat ini, setiap tahunnya, rata-rata, Al-Qur’an terjemahan dari Kemenag dicetak sekitar 4,5 juta eksemplar. Al-Qur’an mulai diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, sejak KH Saifuddin Zuhri menjadi Menteri Agama, tepatnya pada tahun 1965. dan hingga kini, terus mengalami revisi untuk menyesuaikan dengan perkembangan bahasa, materi dan lain sebagainya.

Attauhidiyyah Giren

Mewakili Tim Revisi, KH Malik Madany akan berupaya menghadirkan terjemahan Al-Qur’an yang efektif dan efisien. Al-Qur’an terjemahan dari Indonesia dipergunakan pula di beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei dan lain sebagainya.

“Dari Juz 1 hingga 2, ada 27 kata/arti yang hendak dibakukan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia” kata KH Malik. Red: Mukafi Niam  

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Syariah, Pemurnian Aqidah Attauhidiyyah Giren

Selasa, 10 Mei 2011

Soal Pembubaran HTI, Ini Penjelasan Mahfud MD

Awal Mei 2017 lalu, Pemerintah RI membubarkan organisasi anti-Pancasila Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Terkait dengan pembubaran ini, masyarakat Indonesia menilai langkah pemerintah sudah tepat karena langsung membubarkan organisasi yang mengancam keutuhan NKRI. Namun menurut sejumlah pihak, pembubaran tersebut tetap harus konstitusional.

Selain itu, kejadian bom bunuh diri di Terminal Bis Trans Jakarta di Kampung Melayu yang terjadi di Bulan Mei juga cukup menguras perhatian Indonesia, terutama masyarakat Jakarta. Masyarakat juga terbelah menyikapi hal ini; ada yang menganggap kejadian itu hanya pengalian isu dan buatan atau setingan saja dan ada yang beranggapan bahwa itu memang benar-benar kelakuan teroris.

Soal Pembubaran HTI, Ini Penjelasan Mahfud MD (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Pembubaran HTI, Ini Penjelasan Mahfud MD (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Pembubaran HTI, Ini Penjelasan Mahfud MD

Agar masyarakat memiliki pandangan yang lebih jernih terkait dengan HTI dan tindakan kriminal terorisme, Jurnalis Attauhidiyyah Giren A. Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Guru Besar Hukum Tata Negara yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Moh. Mahfud MD yang baru-baru ini juga dilantik menjadi salah seorang Pengarah di Unit Kerja Presiden-Penanaman Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana Prof Mahfud melihat fenomena HTI? Kenapa baru sekarang HTI “digebuk” ramai-ramai?

Saya kira pemerintah tidak terlambat. Tetapi kalau orang gebuki HTI kan sudah lama. Mempersoalkan HTI itu sudah lama. Tanggal 12, 13, 14 Agustus Tahun 2007, Hasyim Muzadi itu sudah teriak-teriak bahwa HTI itu berbahaya karena tanggal 12-nya itu ada acara Konferensi Hizbut Tahrir Internasional. Ada beberapa kesimpulan dari konferensi tersebut.

Pertama ingin membentuk negara transnasional mulai dari Thailand, seluruh Asia Tenggara sampai ke Australi. Kedua, demokrasi itu haram. Itu kan bertentangan dengan negara kita. Kita menganut negara nasional, bukan transnasional dan kita menghalalkan demokrasi. Sehingga waktu itu Hasyim Muzadi teriak, orang-orang juga sudah memperingatkan. Itu tahun 2007, artinya sepuluh tahun yang lalu.

Attauhidiyyah Giren

Tetapi waktu itu kan pemerintah belum bertindak Prof?

Waktu pemerintah tidak mengambil sikap sampai-sampai beberapa tahun setelah itu karena dibiarin, HTI mengadakan pengajian akbar di GBK Senayan. Saya kira lebih dari seratus ribu orang yang hadir. Dan pidato-pidatonya masih ada di youtube, yakni ingin mengganti Negara Indonesia yang berdasar Pancasila. Tidak boleh misalnya pemimpin itu harus dipilih secara demokrasi, harus diserahkan kepada ulama.

Waktu itu saya protes, masa polisi membiarkan itu dan itu disiarkan langsung oleh TVRI lagi, TV pemerintah kan. Saya protes apakah stasiun TV itu mau cari uang iklan dengan mengorbankan prinsip bernegara yang begitu penting.

Attauhidiyyah Giren

?

Terkait pembubaran HTI, Bagaimana pandangan Prof?

Memang agak problematik secara yuridis karena pembubaran HTI atau ormas itu kan melalui peringatan terlebih dahulu. Peringatan satu, dua, tiga. Sampai enam kali peringatan. Baru dihentikan bantuannya, kalau tidak ada bantuannya dihentikan kegiatannya. Terus diminta putusan pengadilan agar dicabut badan hukumnya. Itu yuridisnya.

Itu memang sekarang menjadi problem karena instrumen hukum yang ada tidak bisa langsung membubarkan HTI seperti sekarang. Tetapi kalau kembali ke filosofinya, kenapa dulu menggunakan peringatan-peringatan itu kan sebenarnya kegiatan tindakan fisik, bukan tindakan filosofis. Kalau aturan fisik dibuat karena dahulu orang suka melakukan sweeping. Kalau besok sweeping lagi, besok kamu diperingatkan. Melanggar lagi diperingatkan. Itu yang tindakan fisik.

Ternyata HTI langsung masuk ke filosofinya. Tidak melakukan tindakan yang bisa diperingatkan. Itu sudah pernyataan jati diri bahwa dia berjuang untuk mendirikan khilafah. Itu pernyataan yang sangat nyata dan itu disampaikan kemana-mana secara terbuka.?

Apakah pembubaran HTI bertolak dengan demokrasi yang menjamin kebebasan?

Menurut saya, demokrasi itu meniscayakan adanya kebebasan untuk berpendapat. Tetapi ada dua hal yang tidak boleh dilanggar; pertama jangan merusak ideologi NKRI dan yang kedua jangan menyebabkan pemerintahan lumpuh. Kalau pemerintah lumpuh, gerakan apapun akan sangat membahayakan rakyat.

Bolehlah berdemokrasi dan berbicara memperjuangkan keadilan, tetapi kalau memperjuangkan keadilan dengan mengganti dasar negara itu hukum administrasinya bisa dibubarkan. Sementara hukum pidananya bisa saja itu menjadi makar. Tergantung pada sampai sejauh apa langkah-langkah yang dilakukan.

Tetapi mereka menyatakan bahwa HTI tidak anti Pancasila?

Kalau saya, mereka mengucapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. Hizbut Tahrir dan pahamnya secara terbuka di pidato yang didengar jutaan orang itu tidak setuju demokrasi.

Berarti begini, kalau Ismail Yusanto mengatakan HTI itu tidak anti Pancasila berarti HTI sudah bubar sendiri karena dia semula anti Pancasila. Kalau tidak anti Pancasila, bukan HTI lagi. Di samping pernyataan-pernyataan terbuka itu, mereka bergerak kemana-mana dan gerakannya itu nyata. Gerakannya itu menyatakan Indonesia berdasarkan Pancasila itu sudah gagal, oleh karena itu harus diberi alternatif baru, yaitu khilafah.

Lalu saya tanya, khilafah itu dimana ajarannya? Mereka tidak tahu. Khilafah itu kan tidak ada di Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka menyebut khilafah-khilafah. Itu kan cipataan manusia. Ciptaan Bani Umayyah, ciptaan Bani Abbasiyah yang semuanya merupakan hasil istinbath terhadap apa yang mereka anggap benar.

?

Pembela HTI mengataka HTI itu ada. Justru dengan mengatakn ada itu menandakan dan menjadi bukti bahwa khilafah itu tidak ada. Sekarang ada Uni Emirat Arab, ada Kesultanan Brunei, ada Republik Libya, Tunisia, Iran, Pakistan. Semua ngaku Islam kok beda-beda, kalau di Al-Qur’an dan As-Sunnah ada pasti tidak beda-beda. Karena Al-Qur’an dan Sunnah tidak mengajarkan, maka bisa ditafsirkan bahwa sistem pemerintahan itu diserahkan kepada masing-masing bangsa. Dan bangsa Indonesia sudah membuat sistem pemerintahannya sendiri. Sistem pemerintahan kalau dibahasa Arabkan kan khilafah. Di Indonesia, khilafah Indonesia namanya.

Kalau ada pejabat negara yang gabung dan mendukung HTI?

Seharusnya tidak boleh kecuali ikut pengajian-pengajiannya. Tetapi kalau ideologinya tidak boleh. Seharusnya mereka dicopot karena sudah tidak sesuai lagi dengan syarat menjadi pejabat, yaitu setia kepada Pancasila dan UUD. Kalau dengan sadar dia mendukung khilafah yang diperjuangakn HTI, berarti dia tidak setia pada Pancasila dan UUD. Kalau ada pejabat kayak gitu, mundur saja.

Kita boleh beda pilihan politik dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kalau ada yang merongrong negara dan ingin mengganti Pancasila pemerintah harus tegas dan rakyat harus mendukung pemerintah untuk menindak karena itu berbahaya.

Tapi, banyak adavokat yang siap pasang badang terkait pembubaran HTI?

Ya silahkan saja. Itu kan hak juga. Pasti dia tidak membela ideologinya. Paling dia akan mengatakan HTI itu tidak ingin mengganti Pancasila. Nah, tinggal buktikan. Tetapi kalau tidak ingin mengubah Pancasila, berarti sudah tidak ada HTI nya. Advokat tidak akan berani mengatakan bahwa HTI memang ingin mengganti Pancasila. Advokat itu menyamarkan hal yang sudah jelas. Ditafsir-tafsirkan bahwa HTI tidak anti Pancasila.?

Kalau terorisme, bagaimana Prof menilai?

Semua ulama mengatakan teroris itu sesat dan yang tidak mengatakan sesat kan terorisnya sendiri. Terorisme itu membuat kerusuhan dan membunuh orang secara masal di tempat-tempat umum. Itu dilarang oleh agama apapun.?

Teroris itu apa sih alasannya. Kalau orang mengatasnamakan agama Islam menteror karena merasa tidak mendapatkan keadilan di negeri ini, bukan hanya orang Islam. Semua, masa mau jadi teroris semua.?

Anggapan bahwa teroris itu pejuang Islam karena sudah mati demi memperjuangkan tegaknya Islam?

Itu harus diperangi oleh negara. Teman-temannya sendiri memang menaggap mereka itu pejuang. Kalau seperti itu, ya harus diperangi.

Kalau pelaku bom bunuh diri Prof?

Menurut saya, orang yang sok menteror atas nama agama lalu bunuh diri agar masuk surga itu adalah mereka yang tidak mengerti agama. Dan sama dengan mereka yang genti ingin mengganti Pancasila dengan khilafah. Biasanya mereka baru belajar agama. Kalau diajak berdebat mereka tidak akan pernah menang.?

Beberapa kali kejadian bom bunuh diri dianggap sebagai pengalihan isu atau setting-an. Bagaimana menurut Prof?

Saya ndak tahu kalau itu. Saya ndak akan masuk ke wilayah yang seperti itu karena motif dari sebuah teror itu bisa karena orang yang ingin masuk surga, tetapi ada yang setting-an juga. Itu makanya di dalam ilmu teror ada namanya state terorism. State terorism itu adalah teror yang diciptakan oleh aparat.

Misalnya kamu dipancing untuk melakukan perlawanan. Kamu anak Islam jangan diam saja diperlakukan tidak adil, lawan dong. Sesudah melawan kamu ditangkap yang memancing tadi. Itu bisa untuk membuat orang takut agar tidak melakukan tindakan yang sesungguhnya.

Dulu, komando jihad itu hasil penelitiannya adalah ada orang disuruh memancing orang di Jawa Barat agar melawan kepada pemerintah. Di sana menggumpal, mereka mau berjuang betul. Mereka merasa ini memang benar-benar jihad. Lawan pemerintah itu. Sesudah mereka matanga untuk melawan, yang mancing itu balik ke Jakarta dan menagkapi orang-orang itu. Orang yang tidak tahu menganggap bahwa itu benar-benar jihad demi Islam bukan pancingan.

Lalu bagaimana dengan anggapan yang berbeda terkait bom bunuh diri?

Itu tidak bisa dihindari. Pasti ada yang mendukung apa yang dilakukan oleh polisi dan menganggapnya hebat karena mampu membekuk teroris. Dan yang satunya bilang ini setting-an. Tetapi polisi tidak boleh ragu tekait hal itu. kalau teror ya teror. Mana ada sebuah tindakan polisi yang dianggap benar, selalu disalahkan. Tetapi kalau tidak bertindak, mereka dianggap kecolongan.

Oleh sebab itu, silahkan polisi mengatur sendiri. Kita tidak bisa mengatakan jangan dong itu setting-an. Kita kan tidak tahu juga, tetapi polisi harus tegas. jangan takut dibilang men-setting karena pasti ada yang bilang setting. Tetapi kalau polisi diam, dia disalahkan oleh seluruh negeri kalau ada gejala teror.

Itu aturan-aturan politiknya dan penegakan hukumnya. Moralnya, supaya jangan men-setting. Bahwa dituduh men-setting itu biasa, tetapi melakukan setting.***

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren News Attauhidiyyah Giren

Selasa, 26 April 2011

Mustasyar PCNU Jepara Wafat

Jepara, Attauhidiyyah Giren. Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jepara Jawa Tegah KH Chumaidurrohman (70) menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Islam Sultan Hadlirin Jepara, pukul 15.30 WIB, Ahad (20/4).

Kiai Chumaid meninggalkan istri Hj Faizah (58) dan lima anak: H Bin Himma M Burhan, Hj Yunio Milkiyu Husnayanti, Zirrofa Asma Z.A, Luluk Hijriyyah Annabila dan Ahmad Fauzan Mubarok.

Mustasyar PCNU Jepara Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PCNU Jepara Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PCNU Jepara Wafat

Jenazah dishalatkan di masjid Darus Salam Kelurahan Saripan kecamatan Jepara dan dikebumikan di makam Gandrung kelurahan Potroyudan kecamatan Jepara, Senin (21/4) pagi.

Attauhidiyyah Giren

Hadir dalam prosesi takziyah diantaranya KH Sya’roni Ahmadi (Mustasyar PBNU), H Ahmad Daroji (Ketua MUI Jawa Tengah), H Ahmad Rofiq (Sekretaris MUI Jawa Tengah), H Ali Mufiz (Mantan Gubernur Jawa Tengah), H Muhtarom (Rektor Unisnu), H Ahmad Marzuqi (Bupati Jepara), H Hendro Martojo (Mantan Bupati Jepara), KH Asyhari Syamsuri (Ketua PCNU Jepara) dan ribuan pentakziyah.

Attauhidiyyah Giren

Semasa hidup 1943-2014, separuh usianya digunakan untuk mengabdi di organisasi agama dan sosial kemasyarakatan, yakni Ketua MUI Jepara, Wakil Rais Syuriah PCNU, Mustasyar PCNU, FKUB dan BAZ.

Menurut adik kandung almarhum, KH Nur Rohman Fauzan, ia tidak punya ijazah formal hingga SMA. Namun berkah kegigihan almarhum belajar di sejumlah pesantren dan intensitas menyimak tayangan BBC London dan Al-Jaziraa meski waktu itu ia masih muda namun  fasih dalam berbahasa Arab dan Inggris.

Dengan modal itu, lanjut Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Unisnu Jepara kakaknya berkesempatan belajar di Akademi Dakwah binaan PBNU. Hingga lelaki putra kedua pasangan KH Ahmad Fauzan dan Hj Mukarromah bisa menempuh studi di Fakultas Usuluddin IAIN Jakarta (kini UIN). Alhasil ia pernah menjadi Dosen IAIN Walisongo Semarang, Dosen Undaris dan Dekan Fakultas Syariah Inisnu Jepara (kini Unisnu).

H Mashudi, Sekretaris MUI dan FKUB Jepara menyatakan, almarhum merupakan sosok yang toleran dengan pemeluk agama lain dan umat yang berbeda paham. Sehingga di prosesi takziyah sejumlah tokoh lintas agama turut hadir.

“Diantaranya David Sriyanto (Protestan), Yulia (Katolik), Nardi (Hindu) dan Raspito (Budha). Ini menunjukkan bahwa kyai Chumaid adalah tokoh yang toleran,” katanya saat ditemui di rumah duka Jl.KH Ahmad Yasin kelurahan Saripan kecamatan Jepara.

Kepada keluarga yang ditinggalkan maupun warga Jepara Mashudi berpesan agar jejak-jejak perjuangannya dilanjutkan. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Tokoh, Ulama, Makam Attauhidiyyah Giren

Jumat, 25 Februari 2011

Generasi Muda NU Harus Manfaatkan Bonus Demografi

Bogor, Attauhidiyyah Giren. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Profesor Yonny Koesmaryono berharap agar generasi muda NU mampu terlibat dalam sejumlah isu penting di Indonesia seperti masalah pangan, demografi dan lingkungan.?

Generasi Muda NU Harus Manfaatkan Bonus Demografi (Sumber Gambar : Nu Online)
Generasi Muda NU Harus Manfaatkan Bonus Demografi (Sumber Gambar : Nu Online)

Generasi Muda NU Harus Manfaatkan Bonus Demografi

“Kaum muda NU harus bisa memanfaatkan bonus demografi Indonesia sebagaimana yang dilakukan Jepang dan Korea. Sehingga bangsa kita bisa berkembang. Selain itu, NU harus bisa menggerakkan perekonomian sehingga masyarakat menjadi lebih sejahtera,”?

Hal ini disampaikan dalam perhelatan Nahdlatul Ulama Science and Cultural Art Olympiad di Auditorium Toyib Hadiwijaya Faperta IPB, Ahad (18/10).

Attauhidiyyah Giren

Seminar Kebangsaan dan Kontempelasi Budaya ini dibuka secara simbolis oleh Profesor Yonny Koesmaryono dan KH Abdul Manan Gani selaku perwakilan PBNU dengan menabuh rebana.?

Seminar nasional ini diikuti oleh 250 delegasi KMNU Perguruan Tinggi. Sebelumnya, para delegasi KMNU PT mengikuti perlombaan hadrah dan pembacaan kitab kuning, pelatihan-pelatihan, dan kegiatan keakraban sesame Keluarga Mahasiswa NU. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren Nahdlatul, AlaSantri, Pondok Pesantren Attauhidiyyah Giren

Minggu, 20 Februari 2011

PMII Sepuluh November Lahirkan Kader Pejuang Aswaja di ITS

Surabaya, Attauhidiyyah Giren. PMII Sepuluh Nopember ITS Surabaya kembali mengadakan kaderisasi awal MAPABA. Sedikitnya 40 peserta siap menjadi kader Aswaja di kampus ITS Surabaya, Sabtu (7/3).

Menurut panitia pelaksana Imam Syafiie Musthofa, Mapaba ini sengaja ditempatkan di pesantren dengan tujuan tabarruk. "Alhamdulillah kegiatan ini berjalan lancar, dan kami mendapat dukungan pengasuh pondok untuk berjuang mengaswajakan kampus ITS," ujar kader PMII ITS ini, Ahad (8/3).

PMII Sepuluh November Lahirkan Kader Pejuang Aswaja di ITS (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sepuluh November Lahirkan Kader Pejuang Aswaja di ITS (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sepuluh November Lahirkan Kader Pejuang Aswaja di ITS

Kegitan yang berlangsung pada 6-8 Maret 2015 ini dibuka oleh Ketua PMII Surabaya Ahmad Zairuddin. "Kalian harus bangga bisa masuk di ITS. Kalian harus bangga bisa menjadi anggota PMII, organisasi terbesar di Nusantara," ujar Zairuddin.

Attauhidiyyah Giren

Pengurus PMII berharap anggota baru terlibat aktif dalam kegiatan PMII yang dilaksanakan Komisariat Sepuluh Nopember maupun Cabang Surabaya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Berita Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren

Minggu, 13 Februari 2011

Ada Berkah dalam Tujuh Qiraat

Judul: Mamba’ul Barakat fi Sab’il Qira’at 

Penulis: KH. Ahsin Sakho Muhammad

Penerbit: IIQ Jakarta

Cetakan: I, September 2012

Ada Berkah dalam Tujuh Qiraat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Berkah dalam Tujuh Qiraat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Berkah dalam Tujuh Qiraat

Jilid: I

Tebal: 182 halaman

Peresensi: A. Khoirul Anam*

Attauhidiyyah Giren

Masyarakat umum mungkin mengenal adanya perbedaan bacaan Al-Qur’an dari para qori’. H. Mu’ammar ZA misalnya sering memperdengarkan ayat-ayat dalam surat-surat pendek yang dihafal masyarakat dengan logat yang berbeda.

Misalnya, kata “maliki” dalam surat al-Fatihah, “ma” yang biasa dibaca panjang, oleh para qari’ dibaca pendek. “Kufuwan” dalam surat al-Ihlas, dibaca “kufa” atau “kufwa”. “Waddluha” dalam surat adl-Dluha dibaca “wadluhe”, dan masih banyak lagi yang sering diperdengarkan.

Attauhidiyyah Giren

Adanya ragam bacaan al-Qur’an yang dikenal dengan istilah qira’at sab’ah itu menunjukkan betapa Nabi Muhammad SAW bisa menerima perbedaan. Al-Qur’an memang diturunkan dalam bahasa Arab. Namun seperti suku-suku besar lain di dunia, di kalangan masyarakat Arab terdapat banyak sekali logat yang berbeda. Dan perbedaan itu diakomodir semua.

Jika boleh berandai-andai; Andaikan Nabi Muhammad mendengarkan orang Indonesia yang terdiri dari banyak suku ini melafadzkan Al-Qur’an dengan logat yang sedikit berbeda dengan orang Arab, mungkin belia pun maklum. Sungguhpun demikian, membaca al-Qur’an dengan logat yang paling dekat dengan orang Arab, atau tepatnya melalui riwayat yang paling sahih tetaplah yang paling utama. 

Ihwal qira’at sab’ah ini, menurut pakar ilmu al-Qur’an yang juga Rektor Institut Ilmu al-Qur’an Jakarta (IIQ) Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA dalam satu wawancara, masyarakat Arab pada saat turunnya Al-Qur’an terbagi ke dalam kabilah-kabilah. Masyarakat Arab yang nomaden tersebut menyebar ke berbagai tempat dan mempunyai cara bertutur kata atau dialek masing-masing. Maka kemudian dikenal ada qira’at tujuh itu.

Adalah Abu Bakar Ibnu Mujahid Ahmad bin Musa (w.324 H) yang berinisiatif untuk menetapkan bacaan tujuh itu karena bacaan yang beredar di masyarakat terlalu banyak dan membingungkan. Banyak imam atau guru besar al-Qur’an dengan yang dengan bacaan yang berbeda. Maka ia mengambil tujuh imam yang representatif. Dari negeri Syam diambil satu dari ulama yang paling sahih riwayat qiraatnya, yaitu Abdullah Ibnu Amr Asy’ari. Dari negeri Makkah, diambil dari Abdullah Ibnu Katsir Almakki. Dari Madinah, Nafi’ Ibnu Abi Nu’aim Al-Asfahani. Dari Basra, Muammar Al-Basri. Dari Kuffah, diambil tiga orang, yaitu Asyim, Hamzah, dan Qisai. Menjadilah qira’at sab’ah.

Untuk memasyarakatkan qira’at sab’ah, KH Ahsin Sakho, menawarkan metode praktis pengajaran qira’at sab’ah dengan satu buku panduan bertajuk “Mamba’ul Barakat fi Sab’il Qira’at” (Sumber berkah dalam tujuh bacaan Al-Qur’an). Buku panduan yang ditulis dalam bahasa Arab ini lebih terlihat seperti kitab kuning.

Penulisnya mengatakan, buku ini sebenarnya dipersiapkan untuk mahasiswi IIQ Jakarta, khusus untuk mengajarkan seputar qira’at sab’ah. Namun karena sifat dari ilmu-ilmu al-Qur’an adalah terbuka untuk semua yang ingin belajar, maka tentunya buku ini tidak hanya khusus untuk kalangan tertentu. 

Mamba’ul Barakat fi Sab’il Qira’at disusun seperti karya tafsir tahlili, yang diulas dari ayat perayat, berurutan dari juz ke-1hingga 30. Pertama-tama, satu ayat dituliskan lengkap. Kemudian beberapa lafadz atau kata yang mempunyai banyak versi bacaan dicetak dengan tinta merah, lalu dalam pembahasan berikutnya, lafadz-lafadz yang tercetak dengan tinta merah dijelaskan dalam beberapa versi bacaan dan menurut banyak imam. Kadang-kadang perbedaan bacaan menyebabkan perbedaan pemaknaan dan ini diulas juga.

Saat ini Mamba’ul Barakat fi Sab’il Qira’at baru terbit satu juz, atau juz pertama Al-Quran yang dimulai dari surat al-Fatihah sampai ayat 141 surat al-Baqarah, dan rencananya akan diterbitkan dalam 30 juz lengkap. Paling tidak, buku ini ingin menunjukkan bahwa ihwal qira’ah sab’ah itu bukan pengetahuan yang sulit untuk dipelajari oleh para pecinta al-Qur’an. Semoga benar-benar berkah!

* Peresensi adalah redaktur Attauhidiyyah Giren, alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kajian Islam, Khutbah, Pertandingan Attauhidiyyah Giren

Rabu, 09 Februari 2011

Mendedah Hasil Evaluasi Buku Ajar PAI di Sekolah dan Universitas (Bagian II)

Rekomendasi

Berdasarkan analisis hasil tadqiq maupun evaluasi terhadap 160 buku tersebut, beberapa rekomendasi dalam rangka tindak lanjut atas hasil tadqiq dan evaluasi diantaranya adalah:

Pertama, mengusulkan kepada para penerbit untuk tidak mencetak ulang buku pendidikan agama dan keagamaan, yang berdasarkan temuan dan rekomendasi hasil tadqiq ini dinyatakan kurang layak terbit, baik yang harus diperbaiki terlebih dahulu, hingga buku yang dinyatakan harus ditarik dari peredaran atau yang telah terlanjur beredar di pasaran maupun masyarakat pengguna. 

Kedua, mengimbau seluruh lembaga atau instansi terutama di lingkungan Kemenag dan Kemendikbud, termasuk lembaga penerbitan buku pendidikan agama dan keagamaan untuk mematuhi berbagai peraturan, sekaligus secara intensif melakukan sosialisasi terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI); Kamus Istilah Keagmaan (KIK); Ejaan Bahasa Indonesia (EBI); Surat Keputusan Bersama Menteri Agama RI No. 158 Tahun 1987 dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0543/b/1987 tentang Pembakuan Pedoman Transliterasi Arab-Latin; KMA No. 437 Tahun 2001 tentang Pentashihan Buku-Buku yang Memuat Tulisan Ayat Al-Quran yang Diterbitkan dan Diadakan di Lingkungan Depag.

Mendedah Hasil Evaluasi Buku Ajar PAI di Sekolah dan Universitas (Bagian II) (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendedah Hasil Evaluasi Buku Ajar PAI di Sekolah dan Universitas (Bagian II) (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendedah Hasil Evaluasi Buku Ajar PAI di Sekolah dan Universitas (Bagian II)

Sosialisasi juga dilakukan terhadap KMA No. 25 Tahun 1984 tentang Penetapan Mushaf Standar, Surat Keputusan Kepala Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan No. BD/01/2004 Tahun 2004 tentang Pedoman Penulisan, Penerbitan, dan Pentashihan Buku-Buku Keagamaan; termasuk penggunaan hadist yang terdapat dalam Kutubussittah ataupun Kutubutis’ah.

Ketiga, Direktorat Jenderal Pendidikan di lingkungan Kemenag diimbau agar melakukan evaluasi dan revisi terhadap buku tersebut, misalnya dengan melibatkan berbagai pihak atau lembaga terkait untuk mencermati kembali buku-buku keagamaan kurikulum 2013, baik yang sudah selesai maupun dalam proses penyusunan agar terhindar dari kesalahan-kesalahan serupa, terutama terkait konsistensi penerapan peraturan perundang-undangan tentang pengadaan dan penerbitan buku keagamaan. 

Keempat, perlu kerja sama yang intensif dan berkesinambungan dalam melakukan tadqiq dan penilaian buku, terutama antara Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama dengan Direktorat Madrasah atau Pendis Kemenag, Puskurbuk Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, para penerbit buku, serta para pengguna utama sekolah atau madrasah maupun perguruan tinggi. 

Attauhidiyyah Giren

Untuk itu, perlu dirumuskan mekanisme dan langkah-langkah teknis tentang kerjasama yang intensif antara Puslitbang Lektur dan Khazanah dengan Ditjen Pendis Kemenag, juga kementerian terkait dalam proses penyusunan, penilaian, serta pengadaan buku bahan ajar maupun buku pengayaan (bahan pustaka) bidang keagamaan.

Hasil penelitian atau tadqiq buku keagamaan yang sudah dilakukan semenjak 2006, 2008, 2012, 2013, 2015, dan terakhir 2016 ini perlu ditindaklanjuti, antara lain sebagai bahan naskah akademik dalam rangka penyempurnaan draf KMA tentang Penilaian Buku Teks dan Pustaka untuk Pendidikan Agama dan Keagamaan Pada Pendidikan Dasar, Menengah, dan Tinggi (Tahun 2016), baik untuk tujuan melengkapi KMA No. 437 Tahun 2001 yang masih tetap berlaku, maupun perumusan kebijakan yang lebih luas dalam bentuk SKB menteri baru yang diperlukan.  

Kelima, Kementerian Agama perlu menyediakan mushaf Al-Qurán standar atau kompilasi hadist yang bisa di-download  via website sehingga mudah diakses, sosialisasi lebih intensif tentang mushaf standar dan terjemahnya, sistem transliterasi yang berlaku, dan kebijakan terbaru tentang petunjuk penyusunan, penilaian, dan penerbitan buku teks ajar agama dan keagamaan untuk sekolah, madrasah maupun perguruan tinggi. 

Terakhir, Kementerian Agama juga perlu menyelenggarakan workshop penulisan, penilaian, dan penerbitan buku agama dan keagamaan, sekaligus merumuskan mekanisme terkait kewenangan dalam mengeluarkan tanda tadqiq/tashih buku, mengeluarkan sertifikat bagi para pentadqiq melalui diklat, dan menyempurnakan serta menetapkan pedoman atau acuan penyusunan, penilaian, dan penerbitan buku teks ajar agama dan keagamaan untuk sekolah, madrasah maupun perguruan tinggi, baik yang dirumuskan dalam bentuk buku pedoman, PMA, maupun SKB menteri. (Kendi Setiawan/Muchlishon)

Attauhidiyyah Giren





Baca Kajian Keagamaan lainnya DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sholawat Attauhidiyyah Giren

Selasa, 25 Januari 2011

Pasca Banjir, PCNU Kudus Gelar Pengobatan Gratis

Kudus, Attauhidiyyah Giren. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kudus  melalui tim Posko NU Peduli Bencana mengadakan bakti sosial (baksos) di beberapa titik desa terkena banjir. Pada hari pertama Rabu (5 /2), baksos diawali dengan pengobatan gratis bagi korban banjir di desa Larikrejo kecamatan Undaan Kudus.

Pasca Banjir, PCNU Kudus Gelar Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasca Banjir, PCNU Kudus Gelar Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasca Banjir, PCNU Kudus Gelar Pengobatan Gratis

Ketua PCNU Kudus H Abdul Hadi mengatakan, baksos dalam bentuk pengobatan gratis merupakan upaya kepedulian memulihkan kondisi  warga yang sudah kembali dari tempat pengungsian.

Selain pengobatan gratis, kata dia, PCNU juga membagikan nasi bungkus dan sembako, pembagian air bersih, pengerukan jalan rusak serta pendampingan pendidikan kepada anak- anak korban banjir.

Attauhidiyyah Giren

“Kami juga membantu meringankan beban korban banjir dan longsor yang mengalami kerugian akibat  musibah  banjir maupun longsor,”ujarnya kepada Attauhidiyyah Giren, Rabu (5/2).

Attauhidiyyah Giren

Dijelaskan, baksos pasca banjir ini memprioritaskan prioritaskan pada empat titik lokasi yang mengalami kerusakan paling parah yakni dukuh Ngeseng dan Ngelo desa Karawang dan desa Larikrejo (undaan) serta desa Payaman Mejobo.

“Saat banjir masing-masing MWCNU se Kudus membuka posko peduli bencana menggalang bantuan untuk disalurkan bersama-sama kepada mereka,” kata H Abdul Hadi.

Untuk kepentingan baksos, PCNU menerjunkan ratusan relawan yang terdiri dari Korp Peduli Bencana NU (KPBANU), CBP IPNU-KPP IPPNU, Banser, Fatayat NU, Mahasiwa Akbid Muslimat NU, Tenaga Medis RS Masyithoh Kudus dan Muslimat NU Kudus.

“Sebetulnya, para relawan NU sudah bergerak turun sejak bencana datang pertengahan januari lalu. Kali ini kita melakukan baksos sebagai pemulihan kondisi korban,” terangnya.

Sementara saat pengobatan gratis di desa Larikrejo kemarin, masyarakat menyambut antusias. Sedikitnya 200 warga mengantri berobat atas penyakit yang dideritanya. “Rata-rata masyarakat mengalami gangguan gatal kulit dan flu pusing kepala,” tutur Koordinator pengobatan H Sarmanto.

Untuk hari Kamis, pengobatan dialihkan ke desa Karangrowo. Beberapa tenaga medis dari RS Masyitoh dibantu beberepa mahasiswa Akbid Muslimat NU dan relawan lainnya melayani warga setempat (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nahdlatul Ulama, News, Doa Attauhidiyyah Giren

Kamis, 20 Januari 2011

Muslimat NU Jember Santuni Ratusan Yatim

Jember, Attauhidiyyah Giren. Pimpinan Cabang Muslimat NU Jember menyantuni 120 anak yatim di tengah-tengah perayaan tahun baru 1439 Hijriyah di masjid Raudhotul Muchlisin, Kaliwates, Jember, Jawa Timur, Ahad (8/9). Total santunan itu mencapai Rp 35 juta.

Muslimat NU Jember Santuni Ratusan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Jember Santuni Ratusan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Jember Santuni Ratusan Yatim

Ketua PC Muslimat NU Jember, Hj. Emi Kusminarni mengajak banom NU yang lain semisal Fatayat, IPNU, IPPNU dan sebagainya untuk bergandengan tangan dalam menggarap program-program kemanusiaan. 

Sebab, dengan sinergi tersebut, kerja-kerja kemausiaan semakin ringan terasa dan jangkauannya pun tambah luas. 

"Mari kita bergandengan tangan untuk memerangi kemiskinan, ketidakberdayaan dan sebagainya, termasuk dalam menyantuni anak yatim," tukasnya.

Attauhidiyyah Giren

Sementara itu, dalam sambutannya, Wakil Bupati Jember, KH. Abdul Muqid Arif menyatakan bangga dengan kiprah Muslimat NU Jember selama ini. 

Attauhidiyyah Giren

Menurutnya, kerja-kerja sosial Muslimat NU Jember telah banyak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. 

"Terus terang, saya bangga pada Muslimat yang kegiatannya banyak membantu pemerintah," pungkasnya di hadapan 2000-an hadirin. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pesantren Attauhidiyyah Giren