Rabu, 28 November 2007

“Mizanul Kubro” dalam Sepakbola: Metafora Falsafah Politik ala Gus Dur

Oleh MH Nurul Huda

Esai ini adalah tinjauan atas buku Kiai Abdurrahman Wahid (Allahu yarham) berjudul "Gus Dur dan Sepak Bola" (GDS) yang diterbitkan Imtiyaz, September 2014 lalu. Lebih dari sekadar kumpulan kolom ulasan pertandingan oleh seorang pengamat sekaligus penggila olah raga sepak bola, esai ini akan memperlakukan kolom-kolom tersebut sebagai teks-teks falsafah mengenai kehidupan politik (philosophy of political life). Seperti kata penulisnya sendiri: “Sepakbola merupakan bagian kehidupan atau sebaliknya, kehidupan manusia merupakan sebuah unsur penunjang sepakbola” (GDS, 104).

Dengan kata lain, Gus Dur mengakui kolom-kolom sepak bolanya adalah aspek kehidupan nyata yang dinarasikan dalam bahasa metafora (kiasan). Metafora seperti kita ketahui bersama, adalah ekspresi bahasa puitis, roman atau bahasa sehari-hari yang disusun sedemikiran rupa untuk mengundang atau mengajarkan kepada para penyimaknya agar mengambil konsep-konsep atau mentransfer pemikiran secara lintas bidang. Gus Dur dalam hal ini sengaja memanfaatkan bahasa metafora sebagai alat diskursif untuk konseptualisasi kehidupan (politik) nyata yang butuh argumen kompleks.

Dengan itu kiranya ia bermaksud membangun pijakan bersama (a common ground)dengan publik pembaca yang diharapkan untuk membandingkan dunia sepak bola dengan kehidupan politik nyata. Selain itu publik juga dapat mengambil kesimpulan yang relevan berdasarkan persamaan atau perbandingannya.

“Mizanul Kubro” dalam Sepakbola: Metafora Falsafah Politik ala Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
“Mizanul Kubro” dalam Sepakbola: Metafora Falsafah Politik ala Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

“Mizanul Kubro” dalam Sepakbola: Metafora Falsafah Politik ala Gus Dur

“Mizanul Kubro” atau Beperhitungan yang Agung

“Mizanul kubro” mirip dengan judul kitab fiqih Mizanul Kubro Fil Fiqh Al-Islami, karangan Imam Abdul Wahhab Al-Sya’rani, seorang ulama besar kelahiran Mesir pada abad ke-16 M. Secara literal ia berarti “Neraca yang Agung”. Frase itu sengaja diambil oleh penulis secara semena-mena (arbitrary) dan tidak dimaksudkan mengacu pada kitab tersebut. Ia hanya digunakan untuk member nama pada sesuatu yang lain. Sesuatu itu adalah “razón vital”, atau kombinasi antara sikap “beperhitungan” (rechenhaft) yang disertai “pengarah hidup”.

Attauhidiyyah Giren

Kata “razón vital”sendiri diperkenalkan pertama kalinya oleh José Ortega y Gasset, anggota geng filosof asal Spanyol, School of Madrid, yang pengaruhnya tak sedikit pada wawasan Gus Dur, terutama lewat bukunya The Revolt of the Masses (terbit 1930). Ortega menggunakan istilah tersebut sebagairasio atau sikap rasional yang menyejarah, yang membumi. Sikap rasional yang bersarang dalam realitas pancaroba kehidupan, sekaligus yang memberi daya hidup bagi eksistensi dan gerak masyarakat.

Berbeda dengan “rasio-matematis”saja yang melihat fluiditas dan dinamika kehidupan manusia secara statis menurut model matematika (dapat ditambah, dikurangi, dikali dan dibagi dengan hasil akhir yang pasti dan bisa diprediksi secara tepat, eksak) dan direduksi dalam konsep-konsep abstrak dan ideologi-ideologi yang preskriptif-statis. Maka “razón vital” lebih mengapresiasi kehidupan nyata beserta problematikanya dan nilai-nilainya khas yang menjadi penyangga kehidupan.Suatu kehidupan nyata yang bersifat historis dan nilai-nilainya yang luhur yang dapat berasal dari spiritualitas atau agama (mis. ikhlas, adil, pengorbanan diri, kejujuran, dll.), filsafat (mis. kebebasan, keadilan, kesetaraan, dll.), estetika (keindahan, kelembutan, dll.)atau keyakinan dan kepercayaan setempat (mis. kejujuran, berperasaan, harga diri, kehormatan, dll.) atau sains (pemikiran, ilmu pengetahuan) dimana rasionalitas dan kehidupan berdampingan secara harmonis.

Adapun “sikap perhitungan” diperkenalkan oleh Prof. Jan Romein dalam bukunya Aera Eropa: Peradaban Eropa sebagai Penjimpangan dari Pola Umum(terbit dalam bahasa Indonesia tahun 1969). Dalam bahasa Jerman disebut “rechenhaft”, yang mendekati maknanya sebagai “berstrategi” atau “bersiasat” di tengah kenyataan hidup yang sulit atau kenyataan yang lain agar inti tujuan orang atau kelompok yang bersangkutan dapat diwujudkan. Dalam system produksi kapitalis awal, “rechenhaft” bersama-sama rasionalisme, birokrasi, kesucian dan kemuliaan bekerja dan watak kreatif yang dimiliki para penemu, penakluk dan organisatoris merupakan unsur khas kebudayaan baru di Eropa. Menurut Romein “sikap perhitungan” ikut melahirkan kebijakan politik etik.

Dalam telaah penulis, Gus Dur secara kreatif meramu wawasan-wawasan kedua orang ini, Ortega dan Romain, dalam suatu gugus besar pemikirannya sendiri berikut muatan-muatannya.Terutama atas ikhtiar untuk menjawab kondisi dan problematika bangsanya. Rasio atau ego manusia tidak seharusnya menjadi “makhluk alien” yang terdistansi dari kondisi kehidupan yang kongkrit. “Rechenhaft”atau sikap perhitungan musti disarangkan dalam kehidupan yang nyata. Rasio-matematis yang keberadaannya seperti burung perkutut dalam sangkar itu mesti dilepaskan dalam jagad raya kehidupan yang kongkrit.

Melalui sebuah kolom berjudul “Bersatu dalam Penderitaan” (Proaksi, 25 Januari 2005), Gus Dur mengajukan formulanya:“Sikap berperhitungan alias sikap rasional, yang tidak membuang spiritualitas dan menggunakannya di samping rasio. Sudah tentu, aspek-aspek tidak rasional perlu kita buang (maksudnya: “yang tidak berpijak kepada bumi nyata”—sebagaimana dinyatakan pada kalimat sebelumnya-pen.),melainkan hanya sekedar ‘pengarah hidup’ dalam menjalani kehidupan yang serba sulit ini. Kita harus bersatu dalam spiritual seperti ini.”

Attauhidiyyah Giren

Tidak berpijak kepada bumi nyata yang serba sulit, dalam pandangan Gus Dur, adalah corak sikap yang irrasional. Termasuk irrasional pula kalau tidak berpegang kepada “pengarah hidup” baik yang bersumber pada sejarah, spiritualitas, falsafat, estetika maupun keyakinan, kepercayaan dan cita-cita hidup masyarakat, di kala mereka berada dalam pancaroba kehidupan.

Keadaan“kehidupan yang serba sulit” yang dimaksud oleh penulis kolom tersebut adalah akibat dari apa yang disebutnya “kelumpuhan moral”. Yakni absennya orang-orang atau kelompok-kelompok masyarakat yang “mempunyai keberanian moral dan sadar akan kewajiban mereka untuk keluar dari kemelut”. Dinyatakan bahwa masing-masing orang memiliki ego-nya sendiri-sendiri, “manusia seolah-olah sudah merdeka segala-galanya”. Tidak ada kejujuran dan sikap menghormati orang lain, tidak juga hormat kepada hukum. Para pemimpin dalam pemerintahan maupun di luarnya hanya mengejar kedudukan dan kepentingan pribadi. Mereka tidak ingat akan kepentingan bersama, hanya mengingat kepentingan diri dan golongan sendiri.

Kepemimpinan diperoleh dengan cara-cara yang tidak dapat dibenarkan. Termasuk gejala umum perebutan jabatan dengan menggunakan uang dan kekuasaan. KKN berkembangnya tanpa ada tindakanserta beberapa koruptor dan pelanggar hukum menjadi pejabat-pejabat penting. Gus Dur bahkan mengaku pernah merasa “dikorbankan” oleh teman-teman sendiri. “Seperti sementara kawan-kawan yang menjadi korban pemerintahan Orde Baru, yaitu mereka yang dianggap para anggota dan pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Penulis justru dituntut karena dinilai mereka telah melanggar ketentuan-ketentuan Undang-Undang Dasar”.

Di tengah-tengah kemelut macam itu, Gus Dur mengajukan pertanyaan retoris: “Mungkinkah diharapkan dari keadaan suatu bangsa seperti itu, perbaikan yang diperlukan untuk menciptakan cara hidup yang akan membuat kita kuat dan besar?” Lalu, “bagaimana kita harus menghadapi kenyataan bahwa kita terpecah belah begitu rupa dalam kehidupan?”

Untuk menjawabnya dan mencari solusi atas kemelut itu, “rasionalitas” saja tidak cukup. Ia penting tapi bukan satu-satunya, sikap “berperhitungan” saja tidak memecahkan masalah bila tak didasarkan pada kenyataan. Ego pribadi dan kelompok disertai mengagung-agungkan pandangan sendiri tanpa berpijak pada bumi nyatajuga mustahil dapat menyelesaikan kemelut. Seorang jenius dan spesialis pun tidak mungkin mengatasinya sendirian.Karena itu Gus Durmengajak kita untuk bersatu, guna memulai upaya perbaikan. Kombinasi apik dan indah antara “sikap berperhitungan” atau berstrategi/bersiasat saat menimbang situasi yang disertai dengan “pengarah hidup”. Perpaduan antara sikap rasional dan vitalitas yang terkandung dalam kehidupanadalah yangmemungkinkan kehidupan tetap survive dan terus melaju menggapai mimpi-mimpinya, mimpi kita semua, mimpi anak semua bangsa.

Sikap dan tindakan itulah yang oleh penulis esai ini dinamai “mizanul kubro”, suatu sikap yang dilandasi “beperhitungan yang dahsyat, bernilai agungserta berdaya hidup luas dan jangka panjang”.Formula ini mungkin terlalu abstrak bagi kita. Oleh karena itu Gus Dur memberi cara terbaik untuk memahaminyayakni melalui metafora pertandingan sepakbola.

Sepakbola sebagai Metafora Kehidupan Politik

Seperti telah disinggung di awal esai ini, bahasa metafora adalah alat diskursif yang memiliki tujuan dalam penyampaiannya. Bila Ortega y Gasset melihat kehidupan dalam metafora panggung drama, maka Gus Dur memandang kehidupan (politik)seperti arena sepakbola. “Pokoknya semua teori sepakbola itu akan saya gunakan untuk situasi politik kita, dan Insya Allah cocok,” ujar Gus Dur dalam kondisi terjepit mempertahankan kebenaran yang diyakininya.

Sejauh yang penulis tahu, selain Sindhunata kiranya hanya Gus Dur yang memahami realitas kehidupan politik baik secara teori maupun falsafah hidup dengan metafora sepak bola. Bagi Gus Dur, “a political philosophy is also a football philosophy. Melalui dunia sepak bola, baik dalam kapasitas sebagai penulis maupun aktor politik, ia memperkenalkan dan ingin mempersuasi sebanyak mungkin pembaca (bukan hal yang kebetulan baginya bahwa mayoritas masyarakat Indonesia doyan sepakbola,tapi sekaligus “circumstance”-nya sendiri) ke arah keyakinan-keyakinan, sikap, nilai-nilai, dan kreasi kepemimpinan yang harus dijalankan dalam kehidupan nyata politik.Mengingat bahwa bagi Gus Dur, antara sepak bola dan kehidupan (politik) memiliki kesamaan-kesamaan.

Seperti halnya sepakbola, kompetisi politik mengharuskan adanya timkerja dan kerjasama, perlu rekan tim dan saling berinteraksi satu sama lain. Dalam politik juga ada tim-tim yang berbeda, yakni partai-partai politik yang saling bertanding menggapai kemenangan, juga ada wasit (penegak hukum) yang menengahi atau mengadili pelanggaran. Ada juga pelatih nasional yang merupakan pemimpin dan peracik strategi. Sebagaimana sepak bola, permainan politik juga dibatasi oleh aturan-aturan juga konstitusi yang harus dipatuhi oleh semua pemain, wasit, official dan dipahami juga oleh penonton.Singkatnya, kehidupan politik yang kongkrit serupa dengan kehidupan di dunia sepakbola. Bila politik adalah sebuah permainan, maka permainan politik adalah juga permainan sepakbola. Bila politik adalah sepak bola, maka teori politik berarti juga teori sepakbola.

Para penggila bola tahu, sepak bola punya kata-kata kunci metaforik, yang menggambarkan ciri para pemain yang baik, atau pertandingan yang bagus. Misalnya: sikap sportif, kompetitif, ketrampilan(skill), kekompakan, strategi, tim, semangat (passion), kerja keras, atau kemampuan menghadapi tantangan strategi lawan. Pendek kata, sebagaimana dalam sepak bola, kehidupan politik memerlukan “mizanul kubro” yang mendorong setiap tim memperagakan kemampuan terbaiknya di lapangan untuk meraih kemenangan.Bagaimana gambaran kehidupan politikdengan rasio vital yang semacam itu?Berikut ini sebagian kecil dari metafor-metafornya (lihat kata/kalimat berhuruf miring).

Sepak Bola sebagai Suatu Pertandingan Olahraga

Pertandingan sepakbola sebagai pertandingan dalam arena kehidupan politik menganut falsafah: politik sebagai seni yang menampilkan corak permainan yang aktif (menyerang, adu kelincahan, kecepatan, mobilitas), dan tidak pasif (statis, bertahan total, yang berarti tak mendukung perubahan), fair-play (tidak akal-akalan), indah dan elok dipandang, riang dan dimainkan secara antusias, hormat kepada lawan, terus menerus berkembang dan berusaha membuat kemajuan baik dalam ketrampilan, maupun aturan-aturan permainan itu sendiri. Selain kemenangan, politik juga soal kehormatan dan jiwa besar.

“Demikianlah, siapapun yang jadi juara… tidak akan mampu mengangkat keharuman sepak bola sebagai seni (4)… Hal ini yang mungkin diinginkan oleh penonton… agar pertandingan sepak bola makin menarik, bergairah dan lebih merangsang...” (GDS, 40).

“Kalau ada kata-kata kalah terhormat, itulah yang dialami Nigeria. Dalam kekalahannya ia tetap dikagumi, bahkan oleh lawannya sendiri. Ini tentu bukanlah pelipur lara, tetapi merupakan modal untuk berprestasi dalam piala dunia yang akan datang” (GDS, 41).

Karakter Pemain atau Tim

Karakter pemain atau sebuah tim sepak bolayang baik adalah metafora karakter yang sama dalam kehidupan politik. Aktor politik harus matang, berdaya jelajah tinggi, punya daya juang, keyakinanyang teguh, semangat pantang menyerah, daya dobrak yang kuat disertai daya tahan tangguh, punya kecepatan dan stamina tinggi, punya keuletan dan insting kuat, mobilitas yang tinggi disertai kedisiplinan, matang dan tidak emosional, lincah dan kreatif sambil menikmati permainan, pekerja keras dan bertekad baja untuk menang, dan tunduk pada strategi pemimpin.Gus Dur melukiskannya dalam metafora berikut:

“Gelandang penyerang dengan daya jelajah tinggi…merupakan kerepotan tersendiri bagi pertahanan lawan. Dengan kontrol bola yang prima, mobilitas yang sangat tinggi dan kecepatan yang mengagumkan…dan perpindahan tempat yang tidak terputus mampu mengacaukan pertahanan lawan…” (GDS, 18).

Kematangan bertanding di klub masing-masing justeru membuat parapemain sulit dijaga kekompakan mereka sebagai tim. Kalaupun mereka bisa bermain serasi satu sama lain biasanya diiringi dengan permainan yang tidak sepenuh hati.” (GDS, 66).

“Pertandingan putaran perempatan final antara Italia dan Spanyol mengundang kekaguman orang pada daya juang Italia kali ini… tidak lepas dari rasa kagum akan stamina dan semangat juangItalia”….Keyakinan bahwa upaya yang dilakukan terus menerus tentu akan memberikan hasil….” (GDS, 75-76)

“Sedang Belanda, dengan pemainnya yang memiliki kualitas merata yang begitu tinggi harus menyelesaikan masalah utama debat kronis dan kelangkaan rasa tunduk kepada pelatih nasional, seperti dialami Advocaat dari Gullit. Perdebatan mengenai strategi harus dimenangkan oleh pelatih, kalau diinginkan sukses dalam kompetisi akbar seperti piala dunia” (GDS, 59).

?

Karakter Pelatih atau Pemimpin

Karakter pelatih sebagai pemimpin dan pengatur strategipermainan adalah seperti halnya dalam kehidupan (politik): pemimpin harus memiliki ketegaran dan keberanian bereksperimen, menciptakan pengorganisasian yang rapi, membagi peranan, menghilangkan egoisme pada diri pemain dan kalau perlu mengorbankan pemain bertalenta yang egois dan tak patuh strategi, konsekuen pada strategi namun tetap taktis, mampu membaca situasi dan permainan lawan, memiliki kematangan, tidak punya rasa takut, bertekad menang, dan menerima kekalahan secara terhormat. Gus Dur melukiskannya dalam metafora berikut:

“Sangat menarik mengamati ketegaran strategi yang diterapkan Sacchi, meski pemainnya tinggal 10 orang… Kematangan perhitungannya untuk mempertahankan strategi awalnya danmenerapkannya pada kondisi yang berbeda, ternyata mampu menghasilkan kemenangan” (GDS, 29).

“Pertandingan Belanda-Belgia adalah contoh klasik dari sebuah keberanian melakukan eksperimentasi. Pelatih Dick Advocaat tetap menolak keinginan untuk menggantungkan pada salah seorang atau beberapa maha bintang seperti van Basten dan Gullit. Permainan yang ingin dikembangkan adalah pembagian peranan secara lebih merata dan kemampuan berpindah posisi di lapangan sesuai kebutuhan... Seorang Gullit dengan modal kedua hal itu akan menjadi sangat berguna bagi tim, tetapi itupun harus dikorbankan kalau, kemudian sebagai akibat para pemain lainnya tidak dapat mengikuti rencana-bangunan yang lebih mementingkan meratanya peranan itu… Konsep Advocaat ini justeru menghindari penempatan pemain secara kaku. Para pemain itu lalu menjadi bebas untuk mengembangkan peluang-peluang, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi kawan-kawannya. Acungan jempol harus diberikan kepada Advocaat atas kemampuan menerawang jauh kepada masa ketika lahirbintang-bintang yang tidak mementingkan posisinya sendiri, melainkan berbagi peranan dan berganti tempat tanpa ragu-ragu…”(GDS, 33-35)

Keberhasilan Nigeria membangun tim…disamping karena banyaknya pemain-pemain alami dengan instingbermain bola yang luar biasa bagusnya, juga karena kerja pelatih…yang berhasil memberikan bentuk permainan dan pengorganisasian rapi bagi tim Nigeria, disamping kecepatan stamina dan insting yang mereka miliki selama ini…” (GDS, 44)

“Reaksi sangat berhati-hati dari Parreira adalah contoh klasik dari psikologi ketakutan (psychology of fear) yang menghinggapi pengambil keputusan di bidang apapun, di saat-saat menghadapi situasi kritis. Berarti Sacchi mampu mengendalikan cara berpikir Parreira…”. (GDS, 93)

Strategi Permainan

Strategi permainan sepak bola sebagai metaphor strategi dalam kehidupan politik: kehidupan politik menggabungkan cara bertahan yang tangguh dan menyerangsecara efektif dan kreatif, variasi strategi dan taktik, pengorganisasian tim yang rapi disertaiketrampilan, kecepatan dandaya tahan individu secara optimal, realistis dalam membaca perkembangan situasi, penerapan strategi yang mampu merespon keadaan secara sehat dan tidak emosional, serta ditujukan untuk meraih kemenangan. Gus Dur menggambarkannya dalam metafora berikut:

“Kombinasi bertahan dan menyerang yang indah ini diakui yang paling berbahaya saat ini, bukannya yang paling tangguh” (GDS, 11-12).

“Kukuhnya pertahanan dikeluhkan… Akan tetapi, justeru dari kukuhnya pertahanan itu sebenarnya muncul serangan-serangan bermutu, yang pada gilirannya akan melahirkan gol-gol indah lebih banyak di masa depan… Pola penyerangan sekarang juga sudah memperlihatkan variasi gaya dan strategi yang sangat beraneka warna… Jelas bahwa antara barisan pertahanan dan penyerangan harus digalangkeserasian melalui barisan gelandang yang tangguh” (GDS, 22-23).

“Hal itu juga menunjukkan penguasaan yang sangat baik dari Charlton atas pola permainan anak-anak asuhannya. Kemampuan teknis yang sangat tinggi dan kematangan strategi yang menyatu dalam bentuk fleksibilitas permainan yang bisa dijaga pada tempo yang tinggi, tetapi pada saat yang sama memperlihatkan variasi strategi yang sangat tinggi pula… Keyakinan akan perpaduan antara penguasan teknis atas bola, daya dobrak yang tinggi dari taktik hit and rush dan serangan bergelombang atas pertahanan lawan membuat Charlton masih optimis pada akhir babak kedua” (GDS, 49)

“Dengan mantabnya strategi yang digunakan, keunggulan masing-masing tim atas lawannya lalu menjadi sangat tergantung oleh keberhasilan menerapkan taktik yang jitu dalam melaksanakan strategi yang dipilih. Kegagalan mengubah taktik penyerangan menjadikan serangan tim Belanda sangat mandul. Jikalau dilakukan perubahan lebih dini, kemungkinan Belanda sudah dapat melakukan gebrakan-gebrakan. Kelambatan menerapkan perubahan taktik itu membuat Belanda kehilangan inisiatif untuk masa cukup lama…” (GDS, 59)

Berdasarkan ulasan sepak bola dalam kolom-kolomnya, Gus Dur menampilkan strategi multi-retorik. Tim-tim dalam sepakbola adalah metafora bagi partai-partai politik atau kelompok-kelompok yang berbeda dalam masyarakat yang saling bertanding dan bersaing, yang semuanya harus diperlakukan secara hormat meskipun berbeda pendapat. Mereka bukanlah musuh (atau “lawan” dalam arti enemies yang harus saling mematikan). “Hal pertama yang harus dilakukan adalah begitu banyaknya bagian kita dalam perkumpulan bermacam-macam, tidak dengan menganggap semuanya itu sebagai lawan. Semuanya adalah bagian dari kehidupan kita bersama, hanya saja dalam begitu banyak wadah yang bermacam-macam. Selanjutnya, mereka yang sudah sadar akan hal ini, haruslah menjadi contoh dari sesuatu yang ingin kita tegakkan bersama dalam kehidupan sebagai bangsa: kejujuran, kesetiaan dan kerja keras. Selebihnya adalah hal-hal yang harus dibuat oleh ia yang berada diatas, alias Tuhan yang kita tunduki bersama.” (BDS)

Bagi Gus Dur, pertandingan sepak bola adalah metaphor “kehidupan berdemokrasi” (GDS, 155) bagi semua tim dari partai-politik hingga kelompok civil society, LSM, kaum agama, akademisi, dan lain-lain. Sementara “kompetisi”(total seluruh pertandingan) merupakan metafora perjuangan demokratisasi yang harus dimenangkandengan aneka pola dan strategi permainan (GDS, 155). Dan seorang pemimpin juga haruslah mencerminkan karakter pelatih nasional yang penuh beperhitungan(rechenhaft) untuk menggapai kemenangan, sekaligus berbekal “pengarah hidup” untuk penguatan stamina dan daya tahan serta memelihara semangat fair-playdari pemain dan tim sepanjang kompetisi politik. Adapun keberhasilan “menggondol piala”adalah metafora bagi tercapainya demokrasi itu sendiri dan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. Bersamaan dengan itu semua, dalam mencapai tujuan bersama, aturan sepak bola terbuka kemungkinan diperbaiki, sebagaimana perundangan-undangan dalam kehidupan politik, agar tujuan perjuangan jangka panjang dapat wujudkan.

Maka secara keseluruhan pertandingan dalam kompetisi, pelatih dan pemain harus menunjukkan kemampuan terbaik, sekaligus memperagakan keindahan dan keelokan politik sendiri sehingga enak ditonton, menggairahkan dan dapat dinikmati oleh rakyat. Pertandingan demi pertandingan politik juga harus dimainkan secara fair-play, berpegang pada hukum dan peraturan permainan itu sendiri, sekaligus dibimbing oleh suatu “pengarah hidup”, suatu keyakinan akan kemuliaan dan keluhuran tindakan yang memberi keuletan, kesabaran, kejujuran, kesetiaan, daya tahan dan ketangguhan bahkan pengorbanan diri bagi tercapainya kemenangan dalam kompetisi, yakni demokrasi dan kesejahteraan yang hanya diraih melalui perjuangan jangka panjang.

Sebagaimana kompetisi sepak bola, kehidupan politik juga diwarnai oleh aneka jenis tantangan. Mulai dari main “akal-akalan” pura-pura jatuh hingga strategi “catenaccio” status-quo yang menghambat perubahan dan perjuangan demokratisasi. Tidak heranlah, bila Gus Dur mengatakan:

“Sebuah proses demokratisasi itu haruslah diwujudkan dalam hal ia dapat dilaksanakan. Dengan demikian, disadari bahwa tidak seluruh aspek harus didemokrasikan dapat diwujudkan pada saat yang bersamaan. Daya tahan kita sangat diperlukan untuk itu. Anggapan bahwa demokratisasi dapat dilakukan dengan cepat adalah sesuatu yang oleh V.I. Lenin dianggap sebagai “penyakit kiri kanak-kanakan”(infantile leftism), yang kalau ini dilakukan sama dengan bunuh diri. Demokrasi memerlukan napas yang panjang dan hanya dapat diwujudkan dalam kurun waktu yang panjang pula.” (GDS, 153-154)

Dengan kata lain, bila perjuangan demokratisasi diinginkan sukses, maka ia harus diusahakan dengan “perhitungan” yang matang disertai “pengarah hidup”yang ditimba dari kehidupan masyarakat, sejarahnya, keyakinan dan kepercayaannya, spiritualitasnya dan filosofinya agar usaha-usaha tersebut tidak layubahkan mati di tengah trotoar jalan. Bagaimana pun juga piala akan diboyong oleh tim yang tangguh dengan para pemain brilian yang kompak yang tunduk pada racikan jitu strategi pelatih.

?

*) ? MH Nurul Huda, jamaah Gusdurian, tinggal di Depok

?

Foto Ilustrasi: andysantajayacartoon.blogspot.com

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sholawat, Amalan Attauhidiyyah Giren

Rabu, 14 November 2007

Tradisi Cembengan, Penanda Dimulainya Musim Giling Tebu

Karanganyar, Attauhidiyyah Giren. Kompleks Pabrik Gula (PG) Tasikmadu, Karanganyar, Jawa Tengah, mendadak riuh oleh rombongan arak-arakan aneka jenis kesenian tradisional, Jumat (9/5) pagi, pukul 06.00 WIB.

Dari kejauhan tampak di barisan paling depan Reog yang menari-nari dengan iringan musik gamelan. Di belakangnya, ada kendaraan berat yang biasa dipakai petani tebu untuk mengangkut hasil panennya.

Tradisi Cembengan, Penanda Dimulainya Musim Giling Tebu (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Cembengan, Penanda Dimulainya Musim Giling Tebu (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Cembengan, Penanda Dimulainya Musim Giling Tebu

Seiring mentari pagi mulai menebarkan sinarnya, ratusan warga berjubel memadati jalan sempit di area PG Tasikmadu. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, satu sama lain tak mau ketinggalan menyaksikan arak-arakan ini.

Attauhidiyyah Giren

Pelan-pelan mulai tampak sepasang kekasih yang begitu syahdu duduk berdampingan di atas kendaraan beroda raksasa itu. Dengan dandanan layaknya pengantin kerajaan, mereka diiringi 22 pasukan yang membawa tongkat panjang. Tongkat tersebut, tak lain merupakan tebu-tebu hasil panen petani. Sementara di tangan sepasang kekasih itu juga tergenggam sepasang tebu yang bakal dinikahkan.

Adalah Bagus Sarkoro dan Roro Ayu Manis Probo, sepasang tebu laki-laki dan perempuan yang akan dinikahkan dalam tradisi cembengan tahun ini. Keduanya kini berusia 11 bulan. Usia yang cukup matang untuk dinikahkan, sebagai penanda dimulainya musim giling tebu di PG Tasikmadu.

Attauhidiyyah Giren

Bagus Sarkoro merupakan tebu yang diambil dari Langenharjo, Sukoharjo. Sementara pasangannya, Roro Ayu Manis Probo adalah tebu asli dari Suruh, Kecamatan Tasikmadu. Keduanya melanjutkan tradisi temanten tebu dari pasangan-pasangan sebelumnya yang setiap tahunnya, sejak 143 tahun silam dinikahkan sebagai simbol kemakmuran hasil bumi petani tebu setempat.

“Temanten tebu ini sejarahnya sudah sejak Mangkunegara IV. Seperti manusia, tebu juga diibaratkan ada laki-laki dan perempuan. Sebagai doa agar pabrik dan pekerja tetap rahayu (selamat), maka di PG Tasikmadu ini diadakan temanten tebu,” kata Wiyono, sesepuh yang memimpin prosesi cembengan.

“Selain itu dengan selamatan ini kita juga memohon doa kepada Allah agar proses penggilingan lancar,” tutur juru kunci Astana Girilayu ini. (Rodif, Ajie/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pendidikan, Sunnah, Ulama Attauhidiyyah Giren

Minggu, 28 Oktober 2007

Karmila PMII Unila di Tahura Wan Abdurahman

Bandar Lampung, Attauhidiyyah Giren. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Unila mengadakan Malam Keakraban dengan PMII Unila (Karmila) di Tahura Wan Abdurahman pada Jumat sampai dengan Sabtu (9-10/12).

Kegiatan yang yang diikuti 35 peserta tersebut merupakan program kerja komisariat khususnya bidang kaderisasi untuk menumbukan jiwa kebersamaan dan keakraban sesama anggota.

Karmila PMII Unila di Tahura Wan Abdurahman (Sumber Gambar : Nu Online)
Karmila PMII Unila di Tahura Wan Abdurahman (Sumber Gambar : Nu Online)

Karmila PMII Unila di Tahura Wan Abdurahman

Ketua 1 Bidang Kaderisasi PMII Komisariat Unila Riyan Agung, mengungkapkan kegiatan ini diadakan untuk mempererat hubungan antaranggota, kader serta pengurus PMII Unila.

Attauhidiyyah Giren

“Semoga dengan adanya kegiatan ini mampu untuk memperat ikatan dan kebanggaan terhadap PMII dan menumbuhkan jiwa militansi yang kuat," ungkapnya.

Adapun acara ini diisi dengan berbagai macam kegiatan seperti membangun tenda bersama, shalat berjamaah, pembacaan surah Yasin, renungan PMII, senam pagi, penyampaian materi dari senior dan pelatihan manajemen aksi.

Attauhidiyyah Giren

Majelis Pembina Komisariat Unila Aris Ali Rido menuturkan kegiatan ini sangat baik dan bermanfaat bagi para anggota dan kader karena banyak ilmu yang didapatkan. Kegiatan juga implementasi dari nilai dasar pergerakan yaitu hablu minal alam .

"Semoga anggota, kader, dan pengurus yang telah mengikuti kegiatan ini akan semakin semangat dan aktif ber-PMII," tutupnya. (RFz/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Habib, News Attauhidiyyah Giren

Selasa, 25 September 2007

LTN PBNU Ajak Wilayah dan Cabang Garap Segmen Siswa SLTA

Jakarta, Attauhidiyyah Giren - Lembaga Ta`lif wan Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTN PBNU) yang fokus di bidang penulisan, publikasi, dan penerbitan di lingkungan NU mengajak seluruh pengurus LTN di tingkat wilayah maupun cabang dan para pegiat media online untuk menggarap segmen siswa sekolah.

Ketua LTN PBNU Hari Usmayadi menyatakan, para murid SLTA selama ini kurang digarap oleh organisasi NU. Mereka kurang disapa dan kurang diselami dunianya. Akibatnya, mereka kurang mengenal NU dan karenanya kurang mengenal ajaran Islam rahmatan lil alamin yang dikembangkan NU dengan jalur Ahlussunnah wal Jamaah yang berciri wasathiyah (moderat dan tengah tengah).

LTN PBNU Ajak Wilayah dan Cabang Garap Segmen Siswa SLTA (Sumber Gambar : Nu Online)
LTN PBNU Ajak Wilayah dan Cabang Garap Segmen Siswa SLTA (Sumber Gambar : Nu Online)

LTN PBNU Ajak Wilayah dan Cabang Garap Segmen Siswa SLTA

Selain itu, kata dia, siswa SLTA rentan terpengaruh propaganda dari kelompok radikal maupun sekuler yang saat ini begitu besar pengaruhnya melalui internet. Terutama lewat media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, WhatApps, dan lainnya.

"Kita harus masuk ke sekolah-sekolah. Para siswa SLTA harus kita garap. Mereka lahan dakwah kita sekarang," ajaknya kepada seluruh Pengurus Wilayah maupun Pengurus Cabang LTN NU yang hadir dalam Rapat Kerja Nasional LTN NU di Hotel Milenium Jakarta, Jumat (22/3).

Attauhidiyyah Giren

Lebih lanjut magister ilmu komputer yang lama bekerja di perusahaan telekomunikasi ini mengatakan, era digital yang sekarang telah mendominasi aktivitas kehidupan manusia. NU mau tidak mau harus menata barisan dalam dakwah di dunia maya.

Attauhidiyyah Giren

LTN sebagai unit yang diberi tugas mengurus ihwal itu, perlu menyusun program yang sesuai dan selalu kontekstual dengan kekinian. Karena itu salah satu prioritas program kerja LTN yang ingin diterapkan di seluruh Indonesia adalah publikasi yang massif di internet. Meliputi pembuatan website, pelatihan jurnalistik, dan produksi media audio visual.

"Kita harus adaptasi di era digital sekarang ini. LTN perlu gerak cepat mengambil langkah penguasaan media internet dan dunia maya di dalamnya," ujarnya usai meluncurkan tiga webstie resmi LTN untuk tujuan tesebut.

Tiga website yang diresmikan pembukannya adalahwww.ltnnu.org, www.nahdlatul-ulama.org dan www.junalnu.com. Yang pertama adalah website media silaturahim yang berisi publikasi berita, opini, maupun kajian pustaka; yang kedua adalah website untuk kampanye Nahdlatul Ulama; dan yang ketiga merupakan website Jurnal Islam Nusantara sebagai tempat diskusi pemikiran dan wadah tulisan para peneliti maupun akademisi.

Wakil Sekretaris LTN NU Munawir Aziz menambahkan, agenda menggarap kaum muda tersebut akan segera diwujudkan dan merupakan program prioritas. Disebutkannya, generasi milenia (usia 15 sampai 30 tahun) selama ini belum dijangkau oleh dakwah NU yang konvensional, karenanya perlu digarap serius dengan memanfaatkan media online serba digital.

"Kami menginiasasi program menggarap kaum muda generasi milenia ini. Mari bersama sama kita dakwah digital di dunia maya untuk mereka," pungkasnya. (Ichwan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Khutbah, Pahlawan Attauhidiyyah Giren

Kamis, 23 Agustus 2007

10 Tata Krama Pencari Ilmu Menurut Hadratussyaikh

Klaten, Attauhidiyyah Giren. Menjadi seorang penuntut ilmu sejati, ternyata tidak semudah dalam teori. Dalam prosesnya memerlukan beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain dalam hal tata krama.

10 Tata Krama Pencari Ilmu Menurut Hadratussyaikh (Sumber Gambar : Nu Online)
10 Tata Krama Pencari Ilmu Menurut Hadratussyaikh (Sumber Gambar : Nu Online)

10 Tata Krama Pencari Ilmu Menurut Hadratussyaikh

Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari menerangkan dalam kitab yang ditulisnya Adâbul ‘Alîm wal Muta’allîm fî Mâ Yahtaju Ilayh Al-Muta’allim fî Ahwâl Ta’lîmihi wa Mâ Yatawaqqafu ‘Alayhi Al-Mu’allîm fî Maqâmati Ta’lîmihi, bahwa seorang pencari ilmu mesti memenuhi beberapa tata krama.

“Menurut Hadratussyaikh, ada sepuluh tata krama yang harus dipenuhi oleh seorang penuntut ilmu,” terang Wakil Rais Syuriyah PCNU Klaten, KH. Drs. Muhammad Nawawi Syafi’i, pada acara kajian kitab Irsyadus Sari (kumpulan karya KH Hasyim Asy’ari) yang diadakan IPNU-IPPNU Klaten, Ahad (11/1).

Attauhidiyyah Giren

Sepuluh tata krama tersebut di antaranya yakni membersihkan hati dari sifat-sifat kotoran hati, meluruskan niat dalam mencari ilmu untuk meraih ridlo Allah SWT dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Attauhidiyyah Giren

“Selain itu seorang pencari ilmu juga mesti menggunakan waktu sebaik mungkin untuk belajar dan tidak menunda, bersikap qana’ah dan sederhana, serta pandai membagi waktu,” jelas Pengasuh Pesantren Roudlotush Sholihin wa Sholihat Batur Ceper Klaten itu.

Dalam kitab itu juga dijelaskan, pencari ilmu hedaknya juga tidak memaksa untuk menguasai semua disiplin ilmu secara sekaligus; tidak boleh mencampuradukkan sesuatu cabang ilmu sebelum menguasai dan memahami dengan mahir cabang ilmu yang sebelumnya; pelajar perlu mengetahui hakikat ilmu; para pelajar perlu bersikap ikhlas; dan pelajar perlu mengetahui perkaitan ilmu yang dipelajari.

Kiai Nawawi menekankan pentingnya mengimplementasikan tata krama ini, terutama di zaman yang sudah memasuki krisis moral seperti sekarang ini.

Senada dengan Kiai Nawawi, Ketua PC IPNU Klaten Ahmad Saifuddin mengemukakan gagasannya, bahwa kitab Adâbul ‘Alîm wal Muta’allîm karya KH Hasyim Asy’ari ini patut untuk dimasukkan dalam kurikulum, terutama kurikulum pendidikan agama di sekolah umum.

“Terlebih lagi pada saat ini, Indonesia sedang membutuhkan formula khusus untuk membangun karakter seorang pelajar dan generasi muda,” ujar dia. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Hadits, Lomba Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 14 Juli 2007

Janur Kian Langka, Bagaimana Eksistensi Ketupat?

Momen Idul Fitri identik dengan makanan khas Nusantara bernama Ketupat. Makanan tradisional berbahan baku beras ini bahkan menjadi ikon setiap lebaran tiba. Bentuknya yang unik membuat ketupat tidak mudah untuk membuatnya karena terdiri dari anyaman janur atau daun kelapa muda berwarna putih kekuningan yang cukup rumit sebab membutuhkan keterampilan tangan dalam membuatnya.

Di daerah Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah rata-rata masyarakat ramai-ramai membuat makanan yang hanya membutuhkan dua helai janur ini. Namun demikian, selama lima tahun belakangan, janur di daerah ini susah didapatkan.

“Seperti tahun-tahun kemarin, masyarakat beralih membuat lontong karena mendapatkan janur susah sekarang,” ujar Ibu Munarti, warga Desa Prapag Kidul, Kecamatan Losari yang biasa menyediakan ketupat sebagai sajian Hari Lebaran, Rabu (6/7).

Janur Kian Langka, Bagaimana Eksistensi Ketupat? (Sumber Gambar : Nu Online)
Janur Kian Langka, Bagaimana Eksistensi Ketupat? (Sumber Gambar : Nu Online)

Janur Kian Langka, Bagaimana Eksistensi Ketupat?

Selain sebagai hidangan Hari Raya, masyarakat juga membuat ketupat untuk dijual. Mereka menjual karya tangannya itu di sepanjang jalan kecamatan yang banyak dilintasi warga. Namun, dengan kondisi janur yang kian langka, potensi mereka untuk meraup rezeki dari penjualan ketupat ini juga ikut meredup. Biasanya satu ikat berisi 10 ketupat dengan Rp7000-Rp9000 tergantung jenis dan ukuran ketupat.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan janur yang menjadi bahan anyaman ketupat makin susah didapatkan. Losari bagian utara, khususnya di Desa Prapag Kidul, Limbangan, Kramat, dan Karang Dempel dahulu mempunyai lahan dan kebon kelapa yang luas. Namun, ribuan pohon kelapa ini tidak lagi mampu memproduksi janur. Karena setiap tahun dipetik.

Pohon-pohon kelapa ini juga makin lama tidak lagi memproduksi buah sehingga akhirnya mati. Pilihan akhirnya terpaksa pohon-pohon tersebut ditebang atau dibiarkan tanpa berbuah. Kini, banyak lahan yang tadinya perkebunan kelapa tergantikan dengan pohon jati.

Attauhidiyyah Giren

Sebagai pohon penghasil bahan-bahan berguna dari ujung janur hingga akar, pohon kelapa termasuk tumbuhan yang harus diperbarui dengan bibit pohon baru setidaknya selama 5-10 tahun. Jika langkah ini tidak dilakukan, maka pohon tidak akan berbuah dan akhirnya mati.?

Faktor pemetikan janur dengan intensitas sering juga menjadi salah satu faktor mendasar kelangkaan bahkan bisa menyebabkan proses pembuahaan terganggu. Sebab janur yang menjadi embrio pertumbuhan pohon kelapa dari sisi batang, buah maupun manggar (penyangga buah) menjadi tersendat.

Attauhidiyyah Giren

Dengan kondisi memprihatinkan tersebut, menanam bibit pohon kelapa di dekat pohon kelapa yang sudah menua menjadi langkah penting guna melestarikan pohon yang sebagian besar hidup di dataran rendah itu. Langkah ini diyakini bisa melanggengkan pohon kelapa sebagai pohon penghasil janur sehingga eksistensi ketupat sebagai makanan khas lebaran tetap lestari.

Filosofi ketupat

Kupat atau ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam di Jawa sejak masa pemerintahan Kerajaan Demak pada awal abad ke-15. Konon, ketupat merupakan demitologisasi dan desakralisasi pemujaan Dewi Sri yang dimuliakan sejak masa kerajaan kuno Majapahit dan Padjajaran.

Menurut keterangan Sejarawan Agus Sunyoto, ketupat memang asli Indonesia. Di luar negeri tidak ada. Ketupat sebetulnya diambil dari satu hadits. Man shoma ramadhana tsumma atba‘ahu sita minsyawwalin fakaana shama kasiyaamidahron. (Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti telah berpuasa selama setahun penuh).?

Menurut Pakar Islam Nusantara itu, orang yang berpuasa seperti itu disebut kafah atau kafatan, artinya sempurna. Nah, orang Indonesia menyebutnya kupat (ketupat). Itu sebabnya orang Indonesia setelah berpuasa Syawal, ada hari raya ketupat, artinya hari raya sempurna.

Lebih jauh, ketupat atau kupat bisa dijelaskan sebagai berikut: pertama, istilah kupat mempunyai kepanjangan ngaku lepat (mengaku bersalah). Kedua, janur sebagai bahan pembuat kupat mempunyai makna jatining nur (hati nurani). Ketiga, anyaman janur menggambarkan kompleksitas masyarakat Jawa yang harus dilekatkan dengan tali silaturrahim.

Keempat, beras yang menggambarkan nafsu duniawi, dan terkahir kelima yaitu bentuk ketupat yakni kiblat papat (mata angin), limo pancer (kiblat) yang menggambarkan arah kiblat. Hal ini memberi makna bahwa nafsu duniawi harus diimbangi dengan beribadah kepada Allah SWT dengan menghadap kiblat melalui shalat. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pertandingan, Budaya Attauhidiyyah Giren

Kamis, 07 Juni 2007

Ciri-ciri dan Akhlaq Rasulullah SAW

Ayat Al Qu’ran paling sarat memuji Nabi Muhammad SAW adalah ayat berbunyi wa innaka la’ala khuluqin ‘azhim, yang artinya sesungguhnya engkau (hai Muhammad ) memiliki akhlak yang sangat agung.

Kata khuluq berarti akhlak secara linguistik mempunyai akar kata yang sama dengan khalq yang berarti cipataan. Bedanya kalau kalau khalq lebih bermakna cipataan Allah yang bersifat lahiriah dan fisikal, maka khuluq adalah ciptaan Allah yang bersifat batiniah.

Ciri-ciri dan Akhlaq Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Ciri-ciri dan Akhlaq Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Ciri-ciri dan Akhlaq Rasulullah SAW

Seorang sahabat pernah mengenang Nabi Muhammad SAW yang mulia dengan kalimat kana rasulullah ahsanan nasi khalqan wa khuluqan, bahwa Rasulullah SAW adalah manusia yang terbaik secara khalq dan khuluq. Dengan demikian, Nabi Muhammad SAW adalah manusia sempurna dalam segala aspek, baik lahiriah maupun batiniah.

Attauhidiyyah Giren

Kesempurnaan lahiriah beliau sering kita dengar dari riwayat para sahabat yang melaporkan tentang sifat-sifat beliau. Hindun bin Abi Halah misalnya mendeskripsikan sifat-sifat lahiriah beliau bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang manusia yang sangat anggun, yang wajahnya bercahaya bagaikan bulan purnama di saat sempurnanya. Badannya tinggi sedang. 

Postur tubuh Nabi tegap. Rambutnya ikal dan panjang tidak melebihi daun telinganya. Warna kulitnya terang. Dahinya luas. Alisnya memanjang halus, bersambung dan indah. Sepotong urat halus membelah kedua alisnya yang akan timbul saat marahnya. Hidungnya mancung sedikit membengkok, yang bagian atasnya berkilau cahaya. Janggutnya lebat, pipinya halus. Matanya hitam. Mulutnya sedang. Giginya putih tersusun rapi. Dadanya bidang dan berbulu ringan. Lehernya putih, bersih dan kemerah-merahan. Perutnya rata dengan dadanya.

Attauhidiyyah Giren

Bila berjalan, jalannya cepat laksana orang yang turun dari atas. Bila menoleh, seluruh tubuhnya menoleh. Pandangannya lebih banyak ke arah bumi ketimbang langit, sering merenung. Beliau mengiringi sahabat-sahabatnya di saat berjalan, dan beliau jugalah yang memulai salam.

Deskripsi para sahabat Nabi tentang sifat-sifat manuisa agung seperti ini sangat banyak. Namun ada yang fokus dari al-Qur’an tentang gambaran sifat Nabi Muhammad SAW. Lalu apa yang menjadi fokus pandangan al-Qur’an terhadap Nabi? Jawabnya adalah khuluq-nya alias akhlaqnya. Apa arti akhlak? 

Kata Imam al-Ghazali, akhlak adalah wajah batiniah manusia. Ia bisa indah dan juga bisa buruk. Akhlak yang indah disebut al khuluq al hasan; sementara akhlak yang buruk disebut al khuluq as-sayyi. Akhlak yang baik adalah akhlak yang mampu meletakan secara proporsional fakultas-fakultas yang ada di dalam jiwa manusia. Ia mampu meletakkan dan menggunakan secara adil fakultas-fakultas yang ada dalam dirinya: ‘aqliyah (rasio), ghadabiyah (emosi), syahwaniyyah (syahwat) dan wahmiyah (imajinasi). 

Manusia yang berakhlak baik adalah yang tidak melampui batas dalam menggunakan empat fakultas di atas dan tidak mengabaikannya secara total. Ia akan sangat adil dan proposional di dalam menggunakan fakultas yang ada dalam dirinya.

Orang yang menyandang khuluq al-hasan adalah orang yang mampu meletakan secara proposional dalam membagi secara adil mana hak dunia dan hak akhiratnya. Orang yang menyandang sifat ini akan memantulkan suatu bentuk sangat indah lahiriah di dalam segala aspek kehidupan sehari-hari. Akhlak seperti inilah yang ditunjukan Rasulullah SAW kepada umatnya.

Akhlak Nabi Muhammad SAW adalah cerminan al Qur’an. Bahkan belaiu sendiri adalah Al Qur’an hidup yang hadir di tengah-tengah umat manusia. Membaca dan menghayati akhlak beliau berarti membaca dan menghayati isi kandungan Al Qur’an. Itulah kenapa Siti Aisyah berkata akhlaq Nabi adalah al-Qur’an. (Aji Setiawan/Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Budaya, Makam Attauhidiyyah Giren

Jumat, 01 Juni 2007

LPNU Kecam Pemberian Izin 64 Importir Daging

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Sekretaris Lembaga Pertanian Nahdlatul Ulama (LPNU) mengecam rencana pemberian izin kepada 64 importir daging oleh Kementerian Perdagangan. Keputusan tersebut dinilai sebagai tindakan yang tidak pro rakyat. 

LPNU siap mengambil langkah hukum melalui pengajuan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

LPNU Kecam Pemberian Izin 64 Importir Daging (Sumber Gambar : Nu Online)
LPNU Kecam Pemberian Izin 64 Importir Daging (Sumber Gambar : Nu Online)

LPNU Kecam Pemberian Izin 64 Importir Daging

Demikian dinyatakan Sekretaris Lembaga Pertanian Nahdlatul Ulama (LPNU) Mustolihin Madjid, di Jakarta, Jumat (21/12) sore. 

Attauhidiyyah Giren

Mustolihin mengatakan keputusan pemberian izin kepada 64 importir dengan dalih mengamankan stok daging merupakan akal-akalan Pemerintah yang hingga saat ini memilih berpihak ke mafia daripada memperjuangkan nasib peternak kecil. Stok sapi untuk di Indonesia diakuinya masih lebih dari kata cukup untuk bisa memenuhi kebutuhan daging nasional. 

"Kalau mau memotong sepuluh ribu sapi dalam seminggu saja sekarang ini sebenarnya masih bisa. Di NTT, NTB, Jawa Tengah, dan Lampung, sekarang sapi masih melimpah," tegasnya.

Attauhidiyyah Giren

Kelangkaan daging yang saat ini terjadi, lanjut Mustolihin, bermula dari keengganan peternak menjual sapi akibat adanya oknum di Pemerintah yang berbuat curang. 

"Selama ini peternak diminta menjual sapinya melalui ke Pemerintah, tapi pembayarannya bermasalah. Kalaupun dijual ke pengepul harganya jauh dari yang diinginkan. Jadi kalau Pemerintah serius ingin mengatasi masalah ini, perbaiki harga jual sapi di tingkat peternak," jelas Mustolihin berapi-api. 

Mustolihin juga menegaskan pihaknya siap melakukan aksi protes atas pemberian izin kepada 64 importir daging. NU juga diakuinya akan mengajukan gugatan atas keputusan tersebut. "Kita akan gugat ke PTUN keputusan pemberian izin itu," tandasnya. 

Sementara Ketua PBNU Mochammad Maksum Mahfudz, menilai pemberian izin impor ini sebagai kebijakan jangka pendek yang dipilih Pemerintah. 

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM) tersebut menilai, keputusan tersebut juga menunjukkan ketidaksiapan Pemerintah dalam menangani permasalahan yang ada.

 

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Samsul Hadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Olahraga, AlaNu, Santri Attauhidiyyah Giren

Minggu, 04 Februari 2007

Dubes RI Buka Konfercab NU Arab Saudi

Jeddah, Attauhidiyyah Giren. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Arab Saudi memulai agenda Konferensi Cabang (Konfercab) II di Gedung TPA Al Nashiriyyah, Masjid Indonesia Jeddah, Arab Saudi. Perhelatan yang berlangsung dua hari ini secara resmi dibuka Dubes RI di Riyadh, Abdurrahman Muhammad Fachir, Kamis (19/6) waktu setempat.

Hadir pula dalam acara pembukaan Konfercab II ini Dharma Kirty Sailendra Putra dari KJRI Jeddah beserta staf dan jajaranya; kepala sekolah Indonesia Mekah (SIM), para guru, relawan TKI, simpatisan partai politik, dan para TKI yang bekerja di Arab Saudi.

Dubes RI Buka Konfercab NU Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes RI Buka Konfercab NU Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes RI Buka Konfercab NU Arab Saudi

Fachir memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya konfercab dan pelatihan kepemimpinan yang ada dalam agenda konfercab tersebut. Dubes berharap, pihaknya dan PCINU Arab Saudi dapat saling membantu dalam mengelola warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri, khususnya di Arab Saudi.

Attauhidiyyah Giren

Ia bercerita, ketika menjadi Dubes di Mesir, pada saat revolusi di Mesir 9? Januari , pihak kedutaan diberi batas waktu paling lambat 18 jam untuk mengevakuasi WNI keluar dari Mesir yang sedang dilanda kekacauan. “Dengan kerja sama dengan teman-teman PCINU Mesir pengevakuasian itu berjalan lancar dan aman,” tandasnya.

Ketua PCINU Arab Saudi Ahmad Fuad mendorong kader-kader NU untuk solid mengembangkan ajaran Ahlussunah wal jamaah. Ia juga mengungkapkan perihal kiprah NU dalam perjuangan kebangsaan di Tanah Air, seperti melalui resolusi jihad dan lainnya.

Attauhidiyyah Giren

Fuad juga bercerita tentang lahirnya PCINU Arab Saudi. Menurutnya, sejarah berdirinya PCINU di Arab Saudi dimuali sejak perwakilan warga NU di Arab Saudi mengikuti Muktamar NU di Lirboyo. Pada forum musyawarah NU tertinggi itulah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meresmikan NU cabang Istimewa di negara tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW ini.

Sedangkan mewakili Rais Syuriah PCINU Arab Saudi, Firdaus Abdul Manan dalam sambutan bahasa Arabnya mengatakan bahwa NU adalah pemersatu Umat. Ia menegaskan bahwa acara Konfercab ini tidak berhubungan dengan hiruk pikuk politik pilpres 2014. (Ahmad Thobib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nasional, Halaqoh Attauhidiyyah Giren