Sabtu, 29 April 2017

NKRI Harga Mati, NU Bukan Latah dan Tiru-tiru

Jember, Attauhidiyyah Giren. Tak bisa dipungkiri bahwa NU mempunyai kontribusi yang besar dalam perumusan Pancasila dan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).?

Saat-saat menjelang kemerdekaan, para tokoh dan ulama NU sepakat memilih bentuk NKRI dan ideologi Pancasila karena dinilai paling cocok buat bangsa Indonesia yang multi etnis, agama dan budaya.?

NKRI Harga Mati, NU Bukan Latah dan Tiru-tiru (Sumber Gambar : Nu Online)
NKRI Harga Mati, NU Bukan Latah dan Tiru-tiru (Sumber Gambar : Nu Online)

NKRI Harga Mati, NU Bukan Latah dan Tiru-tiru

Demikian diungkapkan Ketua PCNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin saat berceramah dalam rangka memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW di aula PB. Sudirman, Kantor Bupati Jember, Jawa Timur, Rabu (10/4).

Menurutnya, NU mempunyai sejarah yang panjang dalam dialektika pembentukan NKRI dan Pancasila. Selain bergerak di tataran gagasan dan pergulatan pemikrian, para tokoh dan ulama NU juga bergerak di lapangan, berperang untuk menegakkan NKRI.?

"Jadi kalau NU sering berteriak NKRI adalah harga mati, mohon maaf, itu bukan latah, bukan meniru-meniru TNI, tapi memang ada referensi sejarahnya," tukas Gus Aab, sapaan akrabnya.

Attauhidiyyah Giren

Ia menambahkan, walaupun sempat muncul gagasan agar Indonesia dijadikan negara agama (Islam) karena faktor demografis yang ? mayoritas muslim, namun para tokoh dan ulama NU (bersama tokoh-tokoh yang lain) ketika itu menolak gagasan tersebut. Sebab, Indonesia multi agama dan etnis, sehingga tidak cocok menjadi negara agama.?

Attauhidiyyah Giren

Menurutnya, NKRI dan Panasila itu adalah pilihan moderat dan terbaik. Bukan negara agama, memang. Tapi Indonesia memberi kebebasan kepada pemeluk agama apapun untuk melaksakanan ibadahnya dengan baik.?

“Inikan konsep hehat. Mohon maaf, saya adalah muslim. Dan saya wajib yakin bahwa Islam adalah agama yang paling benar bagi saya. Tapi keyakinan saya pada agama Islam tidak boleh menutup ruang pemeluk agama lain untuk meyakini dan melaksanakan ajaran agamanya secara baik. Itulah Indonesia, dan itu (NKRI dan Pancasila) harus kita pertahankan sampai kapanpun," urainya. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sholawat, Warta, Tokoh Attauhidiyyah Giren

Jumat, 28 April 2017

Asad Said Ali: NU Bukan Stempel Pemerintah

Surabaya, Attauhidiyyah Giren. Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H. As’ad Said Ali mengungkapkan, pihaknya akan tetap proporsional dalam menilai kinerja pemerintah. NU mendukung beberapa program pemerintah, namun pada beberapa hal NU tetap kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.

Hal tersebut disampaikannya dalam seminar “Mengawal Entitas Kebudayaan Indonesia di Tenga Liberalisasi dan Keterbukaan Informasi-Komunikasi” di aula PWNU Jatim, JL Masjid Al Akbar, Surabaya, Sabtu (8/9). Seminar ini merupakan bagian dari kegiatan Pra Munas dan Konbes NU 2012.

Asad Said Ali: NU Bukan Stempel Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Asad Said Ali: NU Bukan Stempel Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Asad Said Ali: NU Bukan Stempel Pemerintah

As’ad menampik anggapan seorang peserta seminar yang mengatakan NU pada periode ini tidak terlalu kritis terhadap pemerintah, bahkan terkesan hanya sebagai ‘stempel’ pemerintah.

Attauhidiyyah Giren

“Penilaian bahwa NU pro pemerintah atau hanya stempel itu hanya kesan saja. Mungkin disimpulkan dari pernyataan-pernyataan beberapa pengurus saja,” katanya.

Attauhidiyyah Giren

Menurut As’ad, beberapa pernyataan yang pengurus NU disampaikan dalam kapasitasnya sebagai pribadi, dan tidak melalui rapat dengan jajaran pengurus.

“Kadang-kadang pernyataan tidak dimusyawarahkan dulu. Ya namanya manusia mahallul khoto’ wan nisyan, tempat salah dan lupa,” katanya.

Menurutnya, sikap-sikap NU yang sebenarnya direpresentasikan oleh Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfud sebagai pemimpin tertinggi NU. “Yang menjadi rujukan di PBNU adalah Rais Aam,” katanya.

Ditambahkan, Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Cirebon, 14-17 September mendatang akan akan mengkritisi berbagai produk undang-undang dan kebijakan pemerintah. Hal ini sesuai dengan instruksi dari Rais Aam PBNU.

Penulis: A. Khoirul Anam





Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sunnah, Pesantren, Pahlawan Attauhidiyyah Giren

Kamis, 27 April 2017

Rakornas PMII Akan Berlangsung September di Lombok

Mataram, Attauhidiyyah Giren. Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) akan menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Lombok Nusa Tenggara Barat pada 3-5 September 2015 mendatang. Kegiatan ini diberi tema "Membangun Sinergitas Intelektual Muda dalam Memperkokoh NKRI".

Rakornas PMII Akan Berlangsung September di Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakornas PMII Akan Berlangsung September di Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakornas PMII Akan Berlangsung September di Lombok

Hal ini dikatakan Wahyu Satriadi Ketua Panitia Nasional PB PMII di Mataram, Senin Siang (24/08). Menurutnya,? PMII akan membahas internal dan eksternal. "Secara internal organisasi akan bahas tentang institusi dan arah kaderisasi ke depan agar semakin kuat dan sistematis," katanya

Secara eksternal, lanjut dia, pihaknya akan membahas tentang pembangunan nasional dan mengawal kebijakan pemerintahan Jokowi-JK, apakah sudah bersentuhan dengan kebutuhan rakayat atau belum.

Attauhidiyyah Giren

Rakornas ini akan dihadiri oleh 24 Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII se-Indonesia dan 10 Pengurus Cabang (PC) PMII se-Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Attauhidiyyah Giren

"Selain Rakornas nanti juga akan launching Buku Istigotsah Pergerakan yang disusun oleh PB PMII," tambah wahyu

Bagi PB PMII, jelasnya, istigotsah penting digemakan oleh aktivis pergerakan agar nuanasa religius di tingkat mahasiswa ada dan bisa diamalakan oleh PKC, PC, hingga Rayon di tingkat paling bawah. (Hadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Meme Islam, Aswaja, Ulama Attauhidiyyah Giren

Selasa, 25 April 2017

?Pasca Tsunami, Kini Warga Aceh Makin Saleh

Lampuuk, Attauhidiyyah Giren. Pagi itu, sebelum tsunami menyapu Desa Lampuuk, pesisir Aceh, Sulaiman tengah membantu-bantu persiapan sebuah acara pernikahan di Masjid Agung Lampuuk. Ia lalu menunaikan salat, kala ombak menghantam desa berpenduduk 7.000 orang itu. Banyak yang terseret. Tak terkecuali Sulaiman.

?Pasca Tsunami, Kini Warga Aceh Makin Saleh (Sumber Gambar : Nu Online)
?Pasca Tsunami, Kini Warga Aceh Makin Saleh (Sumber Gambar : Nu Online)

?Pasca Tsunami, Kini Warga Aceh Makin Saleh

Gelombang air setinggi belasan meter mengangkat tubuhnya. Spontan, Sulaiman menggapai sebuah kasur anak yang mengambang. Ihwal terakhir yang mampu ia lihat adalah bagaimana kubah Masjid Agung berada di atas permukaan laut. Ketika air surut, Masjid Agung menjadi satu-satunya bangunan yang tersisa di Lampuuk. Demikian laporan yang dilansir oleh Wall Street Journal.

Hidup melampaui bencana telah membentuk Sulaiman menjadi lebih saleh. Dalam tsunami 10 tahun silam, Sulaiman kehilangan istri dan putrinya yang beranjak remaja.

Attauhidiyyah Giren

Dalam keseharian, lelaki 61 tahun itu tak sekadar petani sederhana, seperti dulu. Jemaah telah memilihnya sebagai imam Masjid Agung.

Attauhidiyyah Giren

“[Kini] kami lebih mematuhi ajaran Allah,” paparnya, seraya duduk bersila di atas lantai rumahnya. Dengan bantuan kemanusiaan asing, Sulaiman dapat merekonstruksi rumahnya. “Doa kini bergaung lebih kuat. Warga memohon supaya tak ada lagi bencana seperti yang lalu.”

Seperti korban selamat lainnya dalam tsunami Aceh, Sulaiman percaya bencana alam 10 tahun silam adalah ujian Tuhan. Di lain sisi, menurutnya, tsunami juga memberikan berkah. Anugerah itu termasuk bantuan dari negara-negara lain, juga kesepakatan perdamaian antara pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka. Kegiatan masyarakat Lampuuk kembali terbentuk, lewat donasi dari Turki.

Menurut Sulaiman, barisan rumah di Desa Lampuuk sekarang lebih baik dibanding sebelum tsunami. Meski, jumlah warga turun menjadi sekitar 1.500 orang, atau kurang dari seperempat populasi terdahulu.

 “Kami memiliki ruas jalan, fasilitas, dan infrastruktur yang lebih baik di sini,” paparnya.

Bagi korban selamat, sambut Sulaiman, rekonstruksi telah mengurangi kesenjangan antara warga kaya dan miskin di Lampuuk.

“Dalam konteks bangunan, semua hal tampak lebih setara di Lampuuk. Sebelum tsunami, kelihatan sekali ada barisan rumah bagus dan ada yang menyedihkan. Kini, semua warga memiliki standar pembangunan rumah yang sama.”

Aceh, provinsi dengan sekitar 95% warga Muslim, merupakan satu-satunya daerah yang menerapkan hukum syariah di Indonesia. Sejumlah orang menganggap Aceh sebagai tempat paling saleh di Nusantara. Saat ditanya alasan Tuhan memilih Aceh dalam tsunami, Sulaiman menjawab bahwa Tuhan hanya menguji orang-orang yang imannya paling kuat.

Hebatnya, Masjid Agung Lampuuk hanya mengalami kerusakan ringan dalam tsunami. Citra udara pada masa tsunami memperlihatkan bagaimana masjid itu berdiri sendirian di tengah-tengah puing. Sepanjang pemulihan, dua menara ditambahkan di Masjid Agung Lampuuk. 

Beberapa masjid, salah satu struktur bangunan terkuat di Aceh, bertahan di kawasan terkena tsunami. Sejumlah orang pun berkumpul di masjid setelah tsunami menghantam. Mereka menganggap bertahannya masjid sebagai isyarat kebesaran Tuhan.

Bahkan hingga kini, sepuluh tahun kemudian, Sulaiman masih memiliki ingatan tajam akan terjangan tsunami, serta bagaimana air setinggi 12 meter menyapu desanya.

“Sangat traumatis. Setiap orang di Aceh mengingat detik-detik kejadian itu,” papar Sulaiman. “Saya menganggap peristiwa ini sebagai ujian dari Allah. Supaya kita selalu mengingat-Nya.” (mukafi niam) foto: wsj

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Warta Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 22 April 2017

ISNU Desak Pemerintah Rombak Haluan Ekonomi

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Pertanyaan terpenting terkait isu perekonomian adalah sudah tepatkah arah pembangunan nasional? Ke arah manakah kita menuju? Ekonomi Indonesia yang bertumbuh di tengah gelombang panjang resesi dunia mengundang puja-puji dari berbagai lembaga. 

Pada 2030, Indonesia diprediksi akan menjadi The Next Economic Superpowers dengan PDB US$9,3 triliun, peringkat kelima terbesar di dunia. Namun, adakah kita menempuh jalur yang tepat dan berada lebih dekat kepada tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan konstitusi? 

ISNU Desak Pemerintah Rombak Haluan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Desak Pemerintah Rombak Haluan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU Desak Pemerintah Rombak Haluan Ekonomi

Pertanyaan ini menjadi isu sentral dalam diskusi panel ahli putaran ketiga bidang perekonomian yang digelar Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) di Gedung PBNU, Jl Kramat Raya 164 Jakarta (29/10). Hadir beberapa narasumber, antara lain Firmanzah (Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang juga Staf Khusus Presiden Bidang Perekonomian) serta Hendri Saparini (Ekonomi Econit).

Attauhidiyyah Giren

Ketua Umum PP ISNU, Ali Masykur Musa, menyatakan ekonomi Indonesia memang tumbuh positif dalam beberapan tahun terakhir. Namun, harus diakui, pertumbuhan ekonomi Indonesia belum berkualitas karena tidak bertumpu pada sektor riil penghasil barang yang bersifat padat karya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih banyak digerakkan oleh sektor jasa dan keuangan yang memusat di kota-kota besar. 

Pola pertumbuhan semacam ini, menurutnya, menimbulkan dampak ganda: pengangguran dan ketimpangan. Pengangguran terjadi karena gap pertumbuhan angkatan kerja dengan rendahnya lapangan kerja yang dapat diserap sektor formal. Sektor penghasil barang yang menyerap banyak tenaga kerja seperti pertanian, industri pengolahan, dan manufaktur berjalan terseok-seok dan jauh tertinggal di belakang sektor jasa keuangan dan telekomunikasi yang lebih bersifat padat modal. 

Attauhidiyyah Giren

Akibatnya, semakin banyak orang yang bekerja di sektor informal sekadar untuk bertahan hidup dengan menjadi tukang kayu, tukang batu, dan cleaning services, yang jumlahnya—menurut BPS (2012)—mencapai 70,7 juta penduduk (62,71 persen). 

Dampak lanjutannya adalah melebarnya jurang ketimpangan distribusi kesejahteraan yang ditandai oleh indeks gini ratio yang naik dari 0,33 pada tahun 2004 menjadi 0,41 pada tahun 2011. PDB per kapita memang naik, tetapi, kenaikan ini disumbang oleh 20 persen pemilik modal yang menguasai 48 persen kekayaan nasional. Sementara 40 persen lapisan terbawah hanya menguasai 16 persen kekayaan nasional. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi lebih banyak dinikmati 20 persen kelompok teratas dari struktur piramida ekonomi nasional dan hanya sedikit yang dinikmati oleh 40 persen lapisan terbawah. 

“Artinya, paradigma pembangunan yang ditempuh cenderung mendorong yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin,” 

Jurang ketimpangan menajam. Di satu sisi, sebagaimana laporan Credit Suisse dalam Global Wealth Report 2012 yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara pencetak orang kaya tercepat di dunia bersama Kazakhstan, Rusia, Brasil, dan Thailand. Di sisi lain, kita masih menyaksikan jalan-jalan di desa belum beraspal, irigasi rusak, gubuk-gubuk reot bertebaran bahkan di kota-kota besar, harga sembako tak terjangkau, nasib rakyat di pulau-pulau terdepan mengenaskan, dan industrialisasi jalan di tempat. 

“Ini bukti ada yang salah dalam paradigm pembangunan kita,” demikian papar Ali yang juga anggota Badan Pemeriksa Keuangan RI. 

Karena itu, ISNU mendesak pemerintah untuk merombak paradigma pembangunan dengan lebih memihak perekonomian rakyat ketimbang pemodal besar dan membalik piramida kesejahteraan yang bertumpu pada rakyat bawah dan kelas menengah. 

Pemerintah jangan hanya memompa ekonomi di lantai bursa dan menggelar karpet merah untuk investasi portofolio, tetapi harus menumbuhkan ekonomi di pasar tradisional, mendorong investasi langsung di sektor riil, membatasi arus hot money, dan merangsang munculnya kelas menengah domestik. 

Paradigma yang dianut pemerintah saat ini cenderung bias neoliberal, padahal seharusnya pemerintah menjalankan ekonomi konstitusi yang menuntut peran aktif pemerintah memproteksi ekonomi rakyat dan melindungi sektor ekonomi strategis seperti pangan dan energi yang menguasai hajat hidup orang banyak. 

Ukuran-ukuran pembangunan pun jangan hanya terpaku pada PDB dan PDB per kapita, tetapi kesejahteraan dan kebahagiaan warganya sebagaimana dilakukan oleh Kerajaan Bhutan. Bhutan adalah negara pertama yang mengukur kemajuan negaranya menggunakan Gross National Happiness (GNH). Sejak 1972, Bhutan mendefinisikan sembilan area kebahagiaan sebagai indikator kemajuan dan kesejahteraan. Selain kesejahteraan materi berupa uang, ada kesejahteraan psikologis, kesehatan, keseimbangan waktu, vitalitas dan hubungan sosial, akses pada seni dan budaya, pendidikan dan pengembangan kapasitas, standar hidup, pemerintahan yang bersih serta vitalitas ekologi. 

Menurut Ali, ada baiknya pemerintah menengok model Bhutan yang secara otentik merumuskan indikator kemajuan di luar mainstream sebagaimana diajarkan negara-negara Barat. 

“Buat apa ada klaim pertumbuhan kalau keresahan sosial meningkat, angka bunuh diri karena stress dan depresi naik, tawuran pelajar marak, terorisme menggejala, dan kekerasan masih menjadi panglima? Ini semua menyalahi tujuan utama itu sendiri. Dan ini semua harus diakhiri, demikian pungkas Ali.   

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Fragmen Attauhidiyyah Giren

Kamis, 20 April 2017

Rasul Ditanya, Siapa Boleh Naik Haji?

Ibn Abbas RA menceritakan bahwa Beliau pernah mendengar Rasulullah SAW dalam suatu khutbahnya bersabda, “Janganlah sekali-kali seorang laki-laki menyepi dengan seorang perempuan kecuali dengan mahramnya dan janganlah seorang perempuan bepergian kecuali bersama muhrimnya.”

Lalu berdirilah seorang laki-laki di antara para jamaah dan berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku pergi haji sedang aku diwajibkan ikut dalam berbagai peperangan.”

Mendengar pernyataan semacam ini, Rasulullah SAW memandang lelaki yang sedang berdiri dihadapannya, sementara jamaah lain tetap tenang dalam duduknya masing-masing, “Berangkatlah engkau dan berhajilah bersama istrimu,” sabda Rasul. (HR. Bukhari-Muslim)

Rasul Ditanya, Siapa Boleh Naik Haji? (Sumber Gambar : Nu Online)
Rasul Ditanya, Siapa Boleh Naik Haji? (Sumber Gambar : Nu Online)

Rasul Ditanya, Siapa Boleh Naik Haji?

Dan suatu ketika Rasulullah SAW bertemu dengan serombongan kafilah di Rauha, kemudian Beliau bertanya kepada para sahabat, “Siapakah rombongan ini?" Namun perwakilan rombongan justru balik bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah engkau?” Maka Rasulullah pun lantas menjawab, “Saya Muhammad Rasulullah.”

Attauhidiyyah Giren

Kemudian salah seorang perempuan anggota rombongan tadi mengangkat seorang anak kecil seraya bertanya, “Apakah anak yang ini boleh berhaji?” Maka Beliau bersabda, “Ya boleh, dan untukmu pahalanya.” (HR. Muslim)

Attauhidiyyah Giren

Sementara dalam sebuah kesempatan lain pada waktu peristiwa Haji Wada (Haji terakhir yang ditunaikan oleh Rasulullah semasa hidupnya) Rasulullah SAW sedang duduk-duduk bercengkerama dengan al-Fadl Ibn Abbas RA. Lalu datanglah seorang perempuan dari Katsam hingga mereka pun saling pandang. Kemudian Nabi SAW memalingkan muka al-Fadl ke arah lain.

Perempuan yang baru datang ini kemudian berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya perintah haji dari Allah atas hamba-Nya turun ketika ayahku sudah tua renta, hingga tidak lagi mampu duduk di atas kendaraan. Bolehkah aku berhaji untuknya?” Rasulullah SAW lantas menjawab, “Ya Boleh.” (HR. Bukhari-Muslim)

A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sholawat Attauhidiyyah Giren

Minggu, 16 April 2017

Berkala Sarbumusi

Berkala Sarbumusi adalah majalah yang diterbitkan Dewan Pimpinan Pusat Sarikat Buruh Muslimin Indonesia atau DPP Sarbumusi. Majalah tersebut pertamakali terbit pada tahun 1968, beralamat di Jalan Raya Kramat 164 atau kantor PBNU.?

Berkala Sarbumusi terbit ala kadarnya, ukurannya kertas polio, tata letaknya seperti bentuk surat, tidak dijilid layaknya sebuah majalah. Nama para awak redaksi pun tidak dicantumkan.

Berkala Sarbumusi (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkala Sarbumusi (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkala Sarbumusi

Edisi pertama mengetengahkan editorial berjudul “Pengangguran Sumber Ketegangan Sosial Paling Berbahaya”. Dalam tulisan itu juga disinggung kehidupan politik yang macet, demokrasi yang yang dikebiri. Disinggung pula RUU tentang Sawatantra dan hubungan antara pemerintah pusat dengan daerah yang semakin jauh dari cita-cita otonomi seluas-luasnya bagi daerah.

Attauhidiyyah Giren

Tulisan berjudul Prasarana Politik untuk Pembangunan Ekonomi karya HM Subhan ZE. Ada juga O. Hambali dengan tulisan Pedoman Tata Cara Penyelesaian Perburuhan. Tak lupa memuat berita seputar Sarbumisi, surat pembaca, serta ilustrasi-ilustrasi pignet. Nama-nama gerakan buruh yang tergabung dalam Sarbumisi diletakkan di halaman kedua.

Dari dokumen yang dimilik Perpustakaan PBNU, majalah ini konsisten menggunakan sampul 1 jenis, yakni lambang Sarbumi di sisi kiri, nama majalah Berkala SARBUMISI dilekakkan paling atas.?

Attauhidiyyah Giren

Sementara seorang bertubuh keker, mengenakan kopyah, sedang mengajungkan tangan kirinya yang memegang hasil bumi, tangan kananya terkepal. Di bawah gambar tersebut ada masjid, cerobong pabrik, kereta api, dan kapal laut. Sampul itu tidak diganti hingga edisi ke-12, Juni 1969. Hanya saja warnanya berubah, kadang hijau, merah, biru, serta oranye.?

Tidak ada informasi secara pasti kapan berakhirnya majalah ini. Sebuah informasi mengabarkan bahwa National Library of AUstralia punya koleksi Berkala Sarbumusi. Besar kemungkinan, majalah ini tidak terbit seiring induknya mati suri karena dilarang melakukan aktivitas perlindungan terhadapa anggotanya oleh Orde Baru. Berkala SARBUMUSI terbit ketika DPP Sarbumi dipimpin KH Masykur dan Sutanto Martoprasono. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren AlaNu Attauhidiyyah Giren

Jumat, 14 April 2017

Tragedi Crane, Ratusan Pelajar MTs Tambakberas Gelar Shalat Ghaib

Jombang, Attauhidiyyah Giren. Musibah jatuhnya crane (alat berat) di Masjidil Haram, Makkah Saudi Arabia yang menimpa jamaah haji mendapat perhatian ratusan pelajar dan santri Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Para santri langsung menggelar shalat ghaib dan doa bersama dihalaman sekolah.

Tragedi Crane, Ratusan Pelajar MTs Tambakberas Gelar Shalat Ghaib (Sumber Gambar : Nu Online)
Tragedi Crane, Ratusan Pelajar MTs Tambakberas Gelar Shalat Ghaib (Sumber Gambar : Nu Online)

Tragedi Crane, Ratusan Pelajar MTs Tambakberas Gelar Shalat Ghaib

Dipimpin seorang guru, usai mengambil air wudlu ratusan pelajar baik putra maupun putri berjajar rapi di halaman madrasah. Selanjutnya mereka melakukan shalat ghaib untuk Calon Jamaah Haji yang menjadi korban jatuhnya alat berat yang terjadi di masjidil haram Makkah.

Usai shalat ghaib, ratusan pelajar ini kemudian menggelar tahlil dan istighotsah. "Kita mendoakan agar para korban diterima amalnya dan keluarganya yang ditinggalkan diberi ketabahan," tutur Anisah Adila pelajar kelas II MTsN Tambakberas usai sholat.

Attauhidiyyah Giren

Kepala MTsN Bahrul Ulum, M Suaeb mengatakan, kegiatan sholat ghoib dan doa bersama digelar sebagai bentuk belasungkawa atas tragedi yang menewaskan ratusan korban tersebut, agar tidak terulang kembali.?

Attauhidiyyah Giren

"Ini bentuk keprihatinan siswa dan pengajar MTsN Bahrul Ulum, apalagi beberapa pengajar juga ada yang sedang menunaikan ibadah haji, semoga semuanya selamat," ujarnya.

Sueb berharap agar pemerintah Arab Saudi mempertimbangkan selama musim haji menghentikan seluruh aktifitas pembangunan di tanah suci tersebut. (Muslim Abdurrahman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ubudiyah, Syariah Attauhidiyyah Giren

Kamis, 13 April 2017

Tim Banser Masih Dampingi Korban Banjir Trenggalek

Trenggalek, Attauhidiyyah Giren - Tim Banser Tanggap Bencana (Bagana) Kabupaten Trenggalek hingga kini, Jumat (19/8) terus aktif membantu masyarakat yang terkena dampak banjir. Satkorcab Banser Trenggalek menurunkan jumlah personil lebih banyak lagi dari sebelumnya hanya 50 anggota. Semua personil Banser di daerah terdekat diterjunkan ke lokasi.

“Mulai tadi malam ratusan Banser diterjunkan untuk membantu dan mengganti sahabat yang lain,” ujar Kepala Bagana Satkorcab Banser Trenggalek Joko Among Mitro kepada Attauhidiyyah Giren tadi pagi.

Tim Banser Masih Dampingi Korban Banjir Trenggalek (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Banser Masih Dampingi Korban Banjir Trenggalek (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Banser Masih Dampingi Korban Banjir Trenggalek

Sebagimana diberitakan sebelumnya banjir bandang disertai longsor melenda empat kecamatan di Kabupaten Trenggalek. Selain merendam ribuan rumah, banjir juga menyebabkan satu orang tewas dan ruas jalan antar Kecamatan Kampak-Munjungan dan Kampak-Gandusari sempat terputus.

Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak bersama tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah terjun langsung meninjau titik-titik lokasi banjir yang melanda wilayah daerahnya.

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren

Hal serupa dilakukan Wakil Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin dengan rombongan berbeda untuk memastikan langkah kedaruratan yang dilakukan tim BPBD bersama masyarakat.

Menurut keterangan Emil, kondisi banjir di jalur utama Kampak-Gandusari membuat mobilitas terganggu.

Tim BPBD baru bisa bergerak menembus banjir setelah hujan yang terjadi sejak Selasa (16/8) malam mulai reda pada Rabu (17/8) pagi, sehingga mobil damkar dan logistik bantuan makanan siap saji bisa tersalurkan ke penduduk yang terjebak di pemukiman terdampak banjir.

"Jalur Munjungan-Kampak juga perlu penanganan ekstra dan mungkin tidak selesai sehari karena ada banyak titik yang terkena dampak longsor," kata Emil.

Saat banjir melanda sejak subuh, Emil telah menginstruksikan agar pintu-pintu dam di aliran Sungai Dawung dan Widoro dibuka.

Menurut dia, langkah cepat itu diperlukan karena banjir terus bergerak ke desa-desa. Banjir dipicu curah hujan yang tinggi.

Camat Gandusari Joko Susanto menambahkan, selain membersihkan sisa-sisa banjir di fasilitas publik, pemerintah juga masih berusaha menolong korban.

"Prioritas kami adalah mereka yang masih terisolir. Sejak kemarin bantuan bisa mencapai korban yang terisolir,” katanya.

Kata Joko, banjir juga menelan satu korban jiwa di Desa Senden, Kecamatan Kampak. Seorang nenek bernama Sukila, 80 tahun, meninggal dunia tertimbun longsoran. Ia sedang tidur ketika bencana terjadi.

Selain kerusakan bangunan dan korban jiwa, banjir juga merusak sumber ekonomi warga. Lahan pertanian seluas puluhan hektar dan usaha warga berupa kolam ikan juga rusak. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Amalan, News Attauhidiyyah Giren

Jumat, 07 April 2017

GP Ansor Kudus Kukuhkan Majelis Dzikir Rijalul Ansor

Kudus, Attauhidiyyah Giren. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kudus mengukuhkan kepengurusan lembaga semi otonom Rijalul Ansor. Pengukuhan ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan pengesahan pengurus Rijalul Ansor dalam acara peringatan harlah ke-81 GP Ansor Kudus di Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin Bendan, Kerjasan Kudus.

GP Ansor Kudus Kukuhkan Majelis Dzikir Rijalul Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kudus Kukuhkan Majelis Dzikir Rijalul Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kudus Kukuhkan Majelis Dzikir Rijalul Ansor

Menurut sekretaris Cabang GP Ansor Kudus Suparno, Rijalul ansor adalah lembaga semi otonom yang mempunyai peran merevitalisasi dan menjaga tradisi-tradisi ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Lembaga ini akan bergerak sebagai majelis dzikir dan shalawat di lingkungan kader Ansor secara khusus dan masyarakat pada umumnya.

 

"Kader Ansor memiliki tugas dan tanggung jawab mengamalkan ajaran aswaja seperti dzikir dan sholawat. Lembaga ini akan menjadi perekat kebersamaan antara Ansor dengan ummat," ujarnya.

Attauhidiyyah Giren

 

Parno, panggilan akrabnya, mengatakan, terbentuknya rijalul Ansor ini juga bagian dari amanat kongres GP Ansor yang memutuskan pimpinan di semua tingkatan harus membentuk lembaga semi otonom Rijalul Ansor. Sekarang, beberapa Pimpinan Anak Cabang (PAC) sudah terbentuk Rijalul Ansor.

Surat keputusan pengesahan Rijalul Ansor PC Gerakan Pemuda Ansor Kudus diserahkan, Jumat (24/4) malam. Menurut Suparno, Rijalul Ansor Kudus baru terbentuk karena pihaknya masih dalam masa transisi kepemimpinan, yakni proses penataan struktur dan lembaga.

Attauhidiyyah Giren

Dalam waktu dekat, Rijalul Ansor diharapkan mampu melakukan konsolidasi, koordinasi dan komunikasi dengan semua pengurus serta pengurus rijalul Ansor kecamatan. "Agenda terdekat menyiapkan kegiatan Ansor bersholawat di Kabupaten Kudus dengan menghadirkan ribuan jamaah majlis dzikir dan sholawat," imbuh Parno.

 

Dalam kepengurusan Rijalul Ansor Kudus kali ini, H.Mohammad Alamul Yaqin dikukuhkan sebagai ketua, Dwi Syaifullah sekretaris, dan Moh Thoyib sebagai bendahara. Masing-asing juga dilengkapi dengan beberapa wakil ketua, wakil sekretaris, dan wakil bendahara. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Cerita, Lomba Attauhidiyyah Giren

Selasa, 04 April 2017

Aliansi Warga Tangerang Deklarasi Dukung Perppu Ormas

Tangerang, Attauhidiyyah Giren - Dalam rangka menindaklanjuti komitmen perguruan bebas radikalisme, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang bersama sejumlah ormas di Tangerang menyatakan dukungan terhadap keberadaan PERPPU ormas No. 02 Tahun 2017.

Menurut H Muhammad Qustulani, seharusnya negara membentengi anak-anak muda sebagai generasi bangsa. Pemikiran ideologi yang bertolakbelakang dengan Pancasila menjadi penghalang terciptanya generasi emas.

Aliansi Warga Tangerang Deklarasi Dukung Perppu Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)
Aliansi Warga Tangerang Deklarasi Dukung Perppu Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)

Aliansi Warga Tangerang Deklarasi Dukung Perppu Ormas

Demikian disampaikan Wakil Ketua I Bid Akademik STISNU Nusantara Tangerang H Muhammad Qustulani saat memberikan orasi Deklarasi dan Dukungan Perppu Ormas di Aula Hasyim Asyari STISNU Nusantara Tangerang, Kamis (28/9) Pagi.

“Sikap anti terhadap demokrasi, Pancasila, dan UUD 1945 yang dibingkai dalam idealisme keagamaan menjadi pekerjaan khusus negara untuk menghentikannya, atau memutus mata rantai organisasi yang bertolak belakang dengan Pancasila, apapun latar belakangnya,” tegasnya.

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren

Sebab itu, kegiatan Deklarasi dan Dukungan Terhadap Perppu Ormas bertujuan sebagai berikut.

1. Memutus matarantai pemahaman anti Pancasila dan UUD 1945, yang didungunhkan oleh sebagian ormas yang secara ideology dan tindakan termasuk radikal;

2. Memberikan penjelasan bahwa Pancasila dan UUD 1945 sejatinya sudah? sesuai dengan ajaran luhur semua agama termasuk Islam;

3. Menjelaskan bahwa pemerintahan saat ini adalah sah di mata hukum dan agama, serta tidak termasuk dalam bagian pemerintah yang anti terhadap Islam. Sebab, pemerintah (negara) menjamin kebebasan beragama dan melaksanakan kepercayaan serta syariat setiap pemeluk agama. Bahkan pemerintah sering hadir dan ikut andil atau bahkan menjadi bagian dalam kegiatan keagamaan di masyarakat. Maka keliru besar jika sebagian golongan mentasbihkan pemerintahan saat ini anti-Islam, atau anti-agama. Maka dari itu, pemahaman salah seperti itu harus dihilangkan untuk rasa persatuan dan kesatuan banga;

4. Mendukung keberadaan Perppu No. 2 Tahun 2017 tentang ormas untuk diaplikasikan dan diterapkan sebab Perppu tersebut merupakan solusi memutus matarantai pemikiran dan ideologi yang dapat merusak kebersamaan dan kesatuan NKRI.

Atas dasar hal tersebut, kegiatan Deklarasi dan Dukung PERPPU ormas di STISNU Nusantara dilaksanakan demi kemaslahatan bangsa Indonesia di masa depan. Peserta deklarasi terdiri dari perwakilan pelajar, organisasi masyarakat, organisasi pemuda, Dewan mahasiswa dan dosen se-Kota Tangerang. (Suhendra/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Tegal, Sejarah, Aswaja Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 01 April 2017

PP Muslimat NU Gagas Silaturrahmi Nizhamiyah

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (PP Muslimat NU) menggagas silaturahmi nizhamiyah. Silaturahmi nizhamiyah merujuk pada sebuah praktik silaturahmi untuk membangun sebuah sistem yang lebih baik.

PP Muslimat NU Gagas Silaturrahmi Nizhamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Muslimat NU Gagas Silaturrahmi Nizhamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Muslimat NU Gagas Silaturrahmi Nizhamiyah

Demikian dikatakan Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa dalam kegiatan halal bihalal PP Muslimat NU di aula HM Rasyidi Kantor Kemenag RI nomor 06 lantai dasar, Jakarta Pusat, Sabtu (21/9) siang.

Hj Khofifah menyayangkan kegiatan halal bihalal atau silaturahmi yang lebih sering hanya berlangsung sebatas pertemuan dan ramah tamah. Ramah tamah itu sendiri sudah baik. Namun, silaturahmi perlu dimaknai lebih tinggi.

Attauhidiyyah Giren

Pemaknaan silaturahmi tidak boleh didangkalkan pada jabat tangan. Usai lepas kangen, lalu bubar, tambah Hj Khofifah.

“Silaturahmi harus menjadi silaturahmi nizhamiyah, sebuah pertemuan dimana kita menata institusi, lembaga, atau organisasi kita menjadi lebih baik,” tegas Hj Khofifah di hadapan sedikitnya 300 pengurus Muslimat NU.

Penataan lembaga atau institusi pemerintah dan juga organisasi kemasyarakat dapat diperbaiki lewat silaturahmi. Struktrur, infrastruktur, optimalisasi unit yang ada, evaluasi atas kerja perangkat organisasi, penilaian atas komitmen institusi atau lembaga dapat dibenahi dalam forum silaturahmi agar silaturahmi berdampak baik pada sebuah sistem.

Attauhidiyyah Giren

Sedikitnya 300 peserta kegiatan halal bihalal. Mereka merupakan pengurus PP Muslimat NU, PW Muslimat NU DKI Jakarta, PW Muslimat NU Banten, dan PC Muslimat NU se-Jabodetabek.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nasional, Kajian Attauhidiyyah Giren