Ketua STIT Jembrana Tafsil Saifuddin Ahmad mengatakan, para kader muda NU perlu membaca sejarah gerakan komunis tahun 40 sampai 60-an di Indonesia dan terutama di Jembrana yang menjadi salah satu pusat peristiwa.
| Buku “Benturan NU-PKI” Dikaji di Bali (Sumber Gambar : Nu Online) |
Buku “Benturan NU-PKI” Dikaji di Bali
Para kader NU dari Muslimat, Fatayat, Ansor dan Banser perlu membaca sejarah dari sumber yang tepat. “Oleh pengamat dan peneliti asing NU dianggap berdosa. Jangan sampai NU dibenturkan, apalagi waktu itu yang menjadi korban di Bali mayoritas Hindu,” katanya.Attauhidiyyah Giren
Katib Syuriyah NU Jembrana H Safurrahman mengatakan, buku? “Benturan NU-PKI 1948-1965” mengungkapkan fakta sejarah dan informasi mengenai sikap NU terhadap peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI).“Buku ini tidak hanya penting dibaca secara nasional, tetapi juga internasional harus baca, agar tidak salah paham,” katanya.
Attauhidiyyah Giren
Sementara itu Abdul Mun’im DZ yang hadir dari Jakarta mengatakan, buku yang ditulisnya itu bermaksud mengklarifikasi berbagai sumber yang ada. Buku yang terbit sementara ini cenderung epihak dan memojokkan NU.“Sesuatu yang gelap kita terangi dengan buku putih. Alhamdulillah anak-anak muda NU setelah baca buku ini paham ‘oh ternyata begitu toh peristiwanya’,” kata Wakil Sekjen PBNU itu.
Diskusi dipandu oleh tokoh muda NU Jembrana yang juga pengasuh pesantren Darut Talim Negara Bali, Rifkil Halim Muhammad. Sejumlah tokoh tua setempat hadir dan menceritakan pengalaman masing-masing. Datuk Andan Marhaban, komandan Banser 60-an yang nyentrik menjadi pusat perhatian ratusan kader muda NU yang hadir. (Red: Anam)
Dari Nu Online: nu.or.id
Attauhidiyyah Giren Sholawat Attauhidiyyah Giren
Tidak ada komentar:
Posting Komentar