Selasa, 30 Mei 2017

Ahlussunnah wal Jamaah Sebagai Manhajul Fikr

Oleh Deni Gunawan



Ahlusunnah wal Jamaah atau yang sering disingkat Aswaja secara sederhana dapat diartikan sebagai kelompok yang mengikuti sunnah Nabi dan ajaran para sahabat Nabi yang merupakan santri nabi itu sendiri. Aswaja oleh sebagian orang sering dianggap sebagai madzhab, sebagian lainnya lagi menyebutnya sebagai manhajul fikr (metode berfikir). Untuk sementara saya memakai pengertian yang kedua (dengan berbagai peradabannya).

Ahlussunnah wal Jamaah Sebagai Manhajul Fikr (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahlussunnah wal Jamaah Sebagai Manhajul Fikr (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahlussunnah wal Jamaah Sebagai Manhajul Fikr

Aswaja sebagai manhajul fikr adalah respon para sahabat atas situasi umat yang kacau pada saat itu. tidak dapat dipungkiri bahwa kemunculan firqah-firqah (kelompok mazhab Islam) banyak dilatar? belakangi oleh situasi politik umat Islam saat itu.

Attauhidiyyah Giren

Setelah wafatnya Nabi, para pemimpin Muslim harus menentukan bentuk umat seperti apa yang harus mereka pilih. Sebagian mungkin tidak percaya jika harus ada “negara” dengan demikian tidak perlu satu pimpinan untuk memimpin keseluruhan suku dan kelompok pada saat itu. Sementara sebagian yang lain seperti Abu Bakar dan Umar berpendapat bahwa umat harus memiliki satu pemimpin sebagaimana pada saat Nabi. Sementara sebagian yang lainnya lagi percaya bahwa Ali bin Abi Thalib yang paling berhak atas tampuk kepemimpinan setelah Nabi. Di Arab yang menganggap bahwa ikatan darah sangat sakral, kualitas pemimpin dipercaya akan diwariskan kepada keturunannya dan sebagian warga Muslim percaya bahwa Ali telah mewarisi sebagian kharisma khusus Muhammad.

Pada akhirnya, walaupun kesalehan Ali tidak diragukan lagi, tetapi dia masih sangat muda dan belum berpengalaman. Dengan demikian, Abu Bakar dipilih menjadi khalifah pertama Nabi melalui suara mayoritas. Meski singkat, suasana politik dan kepemimpinan terbilang cukup stabil, hingga sampai pada masa Umar dan Utsman di mana situasi politik tidak stabil, yang membuat keduanya mati dibunuh. Hingga tiba pada masa kepemimpinan Ali sebagai klimaks dari situasi politik yang tidak stabil pada era sebelumnya.

Ali menghadapi situasi yang sulit, ia harus menghadapi kelompoknya sendiri, serta kelompok pemberontak lainnya yang tak suka dan puas dengan kepemimpinannya. Ali harus menghadapi Aisyah dalam perang Jamal. Lalu menghadapi Muawaiyah dalam perang Shiffin. Dalam situasi ini Muawiyah yang menyadari kekalahannya kemudian memainkan peran politiknya. Ia menancapkan Al-Qur’an di tombak sebagai bentuk perdamaian dengan Ali. Di pihak Ali terpecah dalam menyikapi ini, pada akhirnya terjadilah arbitrase di mana Muawiyah secara ambisius mengambil alih kekuasaan dari Ali. ?

Attauhidiyyah Giren

Kelompok loyalis Ali kemudian terpecah. Mereka yang setia dengan Ali disebut Syiah dan kelompok yang semula setia pada Ali lalu keluar dari barisannya karena merasa tidak puas dengan arbitrase dan menganggap Ali telah berlaku khianat terhadap hukum Allah disebut sebagai Khawarij (ekstremis).

Situasi politik yang kacau, sementara masing-masing pihak saling tuding, menambah rumit kondisi umat. Barisan setia Ali merasa Ali-lah yang paling berhak atas kepemimpinan dan merasa telah dibohongi serta dikhianati oleh pihak Muawiyah. Sementara pihak Muawiyyah sebaliknya merasa Muawiyah adalah pemimpin yang sah dan arbitrase adalah keadaan yang sudah ditakdirkan oleh Allah untuknya sehingga tidak boleh digugat, yang menggugat berarti melawan Allah. Di sisi lain kelompok Khawarij menganggap kedua belah pihak adalah thagut dan telah kafir dari hukum Allah sehingga halal darahnya (dibunuh).

Khawarij menghendaki kedua orang tersebut harus diperangi, hal ini sesuai doktrin mereka “la hukma illa lillah”, tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Doktrin ini kerap kali digunakan oleh kelompok ekstremis dewasa ini. Pada dasarnya teks tersebut berbicara benar, namun interpretasi atas teks tersebut kemudian yang salah. Singkatnya, terjadilah konsfirasi untuk membunuh Ali dan Muawiyah yang pada akhirnya berhasil membunuh Ali, sedang Muawiyah lolos dari usaha pembunuhan tersebut.

Situasi yang kacau, saling menyalahkan, memfitnah dan membunuh saat itu memunculkan sekelompok orang yang memiliki pemikiran untuk menjaga peradaban dan keamanan umat. Bagi kelompok tersebut, situasi chaos jika tetap dibiarkan akan menyengserakan umat dan membawa umat pada kemunduran dan kehancuran. Karena hal itulah perlu usaha untuk menjaga kemananan dan menyelamatkan peradaban umat.

Cara berpikir demikianlah yang disebut dengan Aswaja sebagai manhajul fikr. Kata Aswaja sendiri memang belum ada pada masa Nabi ataupun masa awal kekhalifahan yang empat. Namun orang-orang yang memiliki cara berpikir ala Aswaja telah ada pada masa itu. Bagi kelompok Aswaja, situasi yang terjadi setelah wafat Nabi di Tsaqifah antara Abu Bakar, Umar dan beberapa tokoh sahabat yang lain adalah salah satu bentuk dari upaya ijtihad politik.

Dalam hal ini, ijtihad politik dipandang secara akomodatif, dimana hasil ijtihad yang benar maka berpahala dua, namun jika salah maka pahalanya satu. Dengan demikian kelompok yang berpikir dengan prinsip Aswaja ini melihat perdebatan panjang yang terjadi mengenai siapa yang paling berhak atas kepemimpinan setelah Nabi lebih bersifat terbuka, dinamis dan toleran. Cara berpikir di atas juga diterapkan dalam kasus arbitrase antara Ali dan Muawiyah, dan hal ini tentu berbeda dengan cara pandang kelompok Khawarij yang sangat ekstremis, kelompok Ali yang sangat sektarian dan begitu juga dengan kelompok Muawiyah.

Cara berpikir dengan prinsip Aswaja ini kemudian diadopsi oleh Nahdhatul Ulama (NU) di Indonesia. NU yang bermazhab Sunni memakai prinsip Aswaja dalam merumuskan kultur gerakan dan keagamaannya. Karena hal yang demikian pula NU seringkali dituding sebagai kelompok yang oportunis, hal ini bisa diterima karena mereka yang menganggap demikian tidak memahami NU dan keAswajaannya, padahal oportunisme dengan prinsip keAswajaan NU sangatlah berbeda.

Aswaja sebagai manhajul fikr adalah upaya dari cara berpikir yang bertujuan menjaga peradaban dan stabilitas keamanan manusia di muka bumi. Aswaja menolak cara-cara berpikir dan bertindak licik, kasar, merusak, intoleran serta hal-hal yang membawa pada chaos dan kemudharatan. Karena itu kelompok Aswaja, misalnya NU sebagai prototype Islam Aswaja di Indonesia sangat teguh menjaga tradisi sembari terus mengikuti perkembangan zaman (al-muhafazhatu alal qadimis-shalih wal akhdzu bil jadidil-ashlah). Tidak hanya itu, bahkan tidak hanya menjaga dan mengambil, Aswaja juga menghendaki produksi dan kreativitas setiap saat dalam hal-hal positif (al-ijad).

Konsep Aswaja oleh NU kemudian ditelurkan menjadi beberapa nilai, selain nilai kuliyah al-khamsah yang sudah diyakini sebelumnya dalam Islam secara kesuluruhan, nilai-nilai itu antara lain, tawasuth (moderat) seorang Muslim haruslah dapat bersikap moderat tidak timpang dalam menyikapi persoalan, tasamuh (toleran) seorang Muslim haruslah bersikap toleran dengan cara menghargai orang atau kelompok lain di luar dirinya sebagaimana ia menghargai diri dan kelompoknya sendiri, tawazun (imbang) seorang Muslim harus berimbang dan mampu menakar setiap persoalan sesuai timbangannya tidak curang dan zalim, dan taaddul (adil) seorang Muslim harus mengedepankan keadilan, keadilan harus diperjuangkan dan ditegakkan dalam segala hal dan kondisi dalam melihat persoalan apapun.

Penulis adalah aktivis PMII Cabang Jakarta Selatan



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ulama, Ahlussunnah Attauhidiyyah Giren

Minggu, 28 Mei 2017

Warga Indonesia di Hadhramaut Gelar Tahlil 7 Hari Mbah Muchit

Tarim, Attauhidiyyah Giren. Sebanyak 46 warga Indonesia di Hadhramaut yang sebagian tergabung dalam perkumpulan “Keramat Jatim” mengadakan tahlilan dan memanjatkan doa bersama untuk 7 hari almarhum KH Muchit Muzadi di area kolam renang Mahsun lama, Tarim, Ahad (13/9). Tahlilan berlangsung khidmat dipimpin oleh alumnus Universitas Al-Ahgaf Yaman ustadz Aly Burhan.

Mereka melihat sosok Mbah Muchit yang terlahir di Jawa Timur memiliki jasa besar untuk NU. Perjuangan dan pengabdiannya dalam organisasi NU, sedikit banyak membentuk Indonesia terlebih Jawa Timur menjadi wilayah dengan nuansa Islam berciri khas Nusantara yang kental.

Warga Indonesia di Hadhramaut Gelar Tahlil 7 Hari Mbah Muchit (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Indonesia di Hadhramaut Gelar Tahlil 7 Hari Mbah Muchit (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Indonesia di Hadhramaut Gelar Tahlil 7 Hari Mbah Muchit

“Beliau adalah sosok yang sangat berjasa bagi Indonesia. karena murni putra Jawa Timur, sudah selayaknya kita memberikan hadiah tahlil dan doa di hari ke-7 wafatnya. Sebagai wujud rasa cinta dan rasa bangga kita terhadap perjuangan dan jasa yang beliau torehkan,” kata Ketua Keramat Jatim Wafda Muhammad.

Attauhidiyyah Giren

Rangkaian acara dimulai pukul 11.00 dengan tahlil dan doa bersama 7 hari wafatnya Mbah Muchit yang sebenarnya jatuh pada Sabtu kemarin.

Setelah tahlil bersama, mereka melanjutkan dengan agenda internal Keramat Jatim mulai dari laporan pertanggungjawaban hingga pergantian pengurus baru. Tepat pukul 13.15, rangkaian acara ditutup dengan doa yang dipimpin Habib Umar Aseggaf. (Adly/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren Halaqoh, Amalan Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 27 Mei 2017

Orang Baik Menurut Gus Mus

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Dalam pandangan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), kebaikan seseorang tidak terlepas ketika ia melakukan perbuatan baik kepada orang lain.

Dalam menyikapi perbuatan baik tersebut, Gus Mus menekankan dua hal, yakni tidak melupakan perbuatan baik orang lain kepadanya. Tetapi di sisi lain, ia mampu untuk tidak mengingat-ingat perbuatan baiknya kepada orang lain.

Orang Baik Menurut Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Orang Baik Menurut Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Orang Baik Menurut Gus Mus

Hal itu ditekankan Gus Mus ketika memberikan taushiyah singkat rutinnya dalam tajuk #TweetJumat, (20/10) pada akun twitter miliknya, @gusmusgusmu.

“#TweetJumat: Orang baik ialah orang yang mengingat kebaikan orang kepadanya dan melupakan kebaikan sendiri kepada orang lain,” tulis Gus Mus.

Ribuan follower merespon cuitan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang kini memiliki pengikut sebanyak 1,39 juta tersebut.

Attauhidiyyah Giren

“Alhamdulillah pagi2 dpt tausiyah..semoga kita selalu mendapat ridho nya Allah SWT..amin,” ucap akun @ghaniy_sakha terkesan atas taushiyah Gus Mus.

“Terima ksh tausiahnya Kyai,” ujar akun bernama Sri Yatmini (@sriytm) memberi kesan.

Attauhidiyyah Giren

Sebagai seorang ulama panutan umat, teladan, doa, dan pemikiran Gus Mus juga selalu diharapkan untuk menuntun gerak bangsa dan para pemimpin untuk mengabdi pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Luar biasa yai, mhn doanya selalu buat Bangsa Indonesia dan Pemimpin2 Bangsa smg berpikiran sama utk pengabdian terhadap NKRI...,” tulis akun atas nama Rakhmat Gunawan (@rgun12).

Hingga berita ini ditulis, tweet Gus Mus tersebut mendapat 2.257 suka, 2.232 retweet, dan 62 balasan (reply). (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pesantren Attauhidiyyah Giren

LP Ma’arif Sesalkan Carut-Marut UN

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Ketua Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (Ma’arif NU) HZ Arifin Junaidi menyesalkan carut-marutnya pelaksanaan ujian nasional (UN), sampai ada pengunduran jadwal UN di sebelas Provinsi.

“Peristiwa yang baru pertama kali terjadi sepanjang penyelenggaraan UN ini tak semestinya terjadi, dan tak boleh terulang lagi,” kata Arifin dalam rilisnya yang disampaikan kepada Duta Masyarakat, Senin (15/4).

LP Ma’arif Sesalkan Carut-Marut UN (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Ma’arif Sesalkan Carut-Marut UN (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Ma’arif Sesalkan Carut-Marut UN

Dikatakan Arifin, carut-marut UN ini jangan sampai mengorbankan para siswa peserta UN dengan isu-isu yang meresahkan. Ia juga berharap hal ini tidak kemudian dipolitisasi dan memperkeruh masalah. 

Attauhidiyyah Giren

“Kami intruksikan kepada para pengurus Ma’arif, khususnya di seluruh cabang di sebelas Provinsi terkait, untuk ikut mengawasi dan menghindari politisasi kasus ini. Kami juga intruksikan kepada seluruh pengurus Ma’arif di Indonesia untuk ikut mengawasi berlangsungnya UN agar tak terjadi kebocoran atau kecurangan yang menodai pelaksanaan UN,” ujarnya.

Kepada para pengurus Ma’arif di sebelas Provinsi yang jadwal UN nya diundur, Arifin juga mengintruksikan agar bisa menenangkan suasana sehingga para siswa tak terganggu dalam mempersiapkan diri mengikuti UN. 

Attauhidiyyah Giren

“Pengurus wilayah maupun cabang di sebelas Provinsi terkait diharapkan segera memberikan penjelasan kepada para siswanya, dan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan di daerah masing-masing, juga lembaga terkait lainnya,” paparnya.

Arifin juga meminta para siswa di Sekolah Ma’arif seluruh Indonesia untuk tak tergoda oleh isu kebocoran UN, agar tetap fokus mengikuti UN. 

“Kami juga mendorong pihak yang terkait dengan masalah keterlambatan pencetakan soal UN sehingga menimbulkan pengunduran UN di sebelas Provinsi agar segera ditindak,” tandasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Bahtsul Masail, Jadwal Kajian, Nusantara Attauhidiyyah Giren

Jumat, 26 Mei 2017

Kasih Sayang Nabi kepada Kedua Cucu Mungilnya

Pernah suatu kali jamaah shalat Jum’at dikagetkan dengan tindakan Nabi Muhammad SAW di sela-sela khotbahnya. Rasulullah mendadak turun dari mimbar lantaran kedua cucunya yang masih kecil, Hasan dan Husain, menangis.

Nabi segera menghampiri Hasan dan Husain yang saat itu sedang ikut di masjid dan berusaha menenangkan keduanya. Melalui bahasa isyarat dan kelembutan hatinya, tangisan mereka mereda, dan beliau pun melanjutkan khotbahnya hingga selesai. Tak pernah Nabi membaca khotbah lebih panjang dari shalatnya.

Peristiwa lain tentang ”tingkah usil” kedua cucu mungilnya ini juga terjadi saat Rasulullah sedang mengerjakan shalat sunnah dua rakaat. Ketika sujud berlangsung, tiba-tiba Hasan memanjat punggung Nabi. Hasan kecil memukuli tubuh kakeknya itu selayak menunggang kuda yang mesti berpacu cepat.

Sebetulnya Nabi sudah cukup lama menempelkan dahinya di atas lantai. Tapi tingkah Hasan membuat manusia mulia ini memperpanjang sujudnya lebih lama lagi. Hasan puas bermain kuda-kudaan.

Kasih Sayang Nabi kepada Kedua Cucu Mungilnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kasih Sayang Nabi kepada Kedua Cucu Mungilnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kasih Sayang Nabi kepada Kedua Cucu Mungilnya

Hasan akhirnya turun. Nabi mulai berniat mengangkat tubuhnya. Sekali lagi punggungnya tertahan. Husain tiba-tiba melompat ke atas punggung dan menirukan aksi kakaknya, Hasan. Artinya, Nabi mesti menambah waktu lagi untuk menunda duduk tasyahud. Baru ketika kedua cucunya turun, Rasulullah melanjutkan gerakan sembahyangnya.

Rasulullah mencontohkan betapa kasih sayang terhadap keluarga dan anak kecil adalah sikap yang harus diutamakan. Sikap Nabi ini juga mencerminkan kepekaannya tentang menghargai keterbatasan seseorang, baik dalam hal kondisi fisik, daya tangkap, ataupun tingkat pengetahuan. Keluhuran akhlak Nabi terpancar justru saat segenap keputusannya tersebut menjadi prioritas, melebihi ritus keberagamaan. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren Hikmah Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren

Kamis, 25 Mei 2017

Doa Bersama Lepas Jamaah Calon Haji Nias Selatan

Nias Selatan, Attauhidiyyah Giren. Para calon jamaah haji kabupaten Nias Selatan Sumatera Utara mengadakan doa bersama di di Mesjid Taqwa Telukdalam pada Jumat, 12 September 2014. Pada kegiatan tersebut hadir pengurus NU,mulai Katib Syuriyah, Ketua PCNU, serta perwakilan MUI.

Pada kesempatan itu, Ustad Muhammad Fery Al Banjari menyampaikan melaksanakan ibadah haji adalah dambaan setiap muslim sehingga sebagian mereka rela hidup sederhana supaya dapat menabung untuk ongkos naik haji.

Doa Bersama Lepas Jamaah Calon Haji Nias Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Bersama Lepas Jamaah Calon Haji Nias Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Bersama Lepas Jamaah Calon Haji Nias Selatan

Haji, kata dia, sebagai ibadah penyempurna keislaman seseorang. Maka, tidak sedikit orang yang tambah rajin beribadah seusai melaksanakan rukun Islam yang kelima ini. “Malam ini kita melakukan silaturrahim kepada para calon haji. Intinya kita harus saling memaafkan antara kita sesama umat manusia dan lebih khusus sesama umat islam. Hubungan dengan Allah penting namun tidak kalah penting juga dengan hubungan dengan manusia,” terangnya.

Attauhidiyyah Giren

Ustad Fery mencontohkan ketika kita shalat, gerakan pertama kita adalah takbiratul ihram (pasrah kepada Allah) dan ketika kita mengakhiri shalat yang kita lakukan adalah salam. “Itu artinya bahwa pertama adalah hubungan dengan Allah dan kedua adalah hubungan dengan sesama manusia,” tambahnya.

Attauhidiyyah Giren

Ketua Nazir Mesjid Taqwa yang juga salah seorang calon jamaah haji dari Telukdalam Ustad Dedy Iswandi dalam kata-kata pamitan mengatakan jamaah calon haji Nias Selatan adalah duta nias selatan.

Seperti di daerah-daerah lain, kata dia, pemerintah daerahnya harus ikut membantu, memfasilitasi keberangkatan calon haji. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang nomor 13 tahun 2008 pasal 35 tentang kewajiban Pemerintah Daerah atas penyelenggraan keberangkatan jamaah calon haji.

“Namun tidak seperti itu halnya yang dirasakan di Nias Selatan, kami tetap dengan ikhlas menerima kenyataan ini, hanya berharap kiranya hal yang sama tidak lagi terus berkelanjutan pada masa-masa yang akan datang,” ungkapnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Santri, Nahdlatul Attauhidiyyah Giren

Kamis, 18 Mei 2017

NU Rancang Sistem untuk Perekonomian Warga

Jakarta, Attauhidiyyah Giren 



Pengurus Besar Nahdlatul Ulama merancang sistem dalam upaya menggerakkan ekonomi warga NU agar mereka merasakan manfaatnya tidak hanya dari sisi keaagamaan dan pendidikan, tapi perekonomian, bahkan kesehatan.

NU Rancang Sistem untuk Perekonomian Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Rancang Sistem untuk Perekonomian Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Rancang Sistem untuk Perekonomian Warga

Wakil Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama H. Zainal Effendi mengatakan, PBNU menyadari potensi ekonomi yang dikembangkan banom dan lembaga serta warga NU sendiri. 

Menurut dia, hal itu hingga saat ini terus berjalan, tapi masih sendiri-sendiri. Belum terkoordinasi dengan baik dan bergerak secara masif sehingga hasilnya belum memuaskan dan manfaatnya belum dirasakan warga NU secara keseluruhan.  

“Selain aktivitas organisasi, mereka juga memiliki aktivitas ekonomi, misalnya percetakan Ma’arif. LKK menyediakan alat kesehatan. LAZISNU menggalang dana untuk fakir miskin dan bantuan-bantuan kemanusiaan,” katanya pada Focus Group Discussion (FGD) di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (3/10). 

Aktivitas-aktivitas itu, lanjutnya, perlu adanya sinkronisasi dan sinergi. Itu yang pertama. Kedua, perlu data valid, identifikasi potensi warga NU yang dikembangkan masing-masing lembaga dan banom.

Attauhidiyyah Giren

“Setelah itu, perlu adanya bendera bersama yang mengatur sistemnya, lalu bekerja optimal,” lanjutnya sembari mengatakan, bahwa hasil FGD itu akan digodok di Konferensi Besar NU yang akan berlangsung di Lombok, Nusa Tenggara Barat, November mendatang.

Dengan upaya semacam itu, ia berharap, ke depan aktivitas perekonomian NU bisa dirasakan dampak positifnya oleh warga NU khususnya, warga negara Indonesia pada umumnya.

Attauhidiyyah Giren

“Menjadi warga NU ke depan harus dirasakan pada aspek ekonom, kesejahteraan ekonomi,” tegasnnya.  

Pada FGD itu disepakati LPNU sebagai motor penggerak sistem yang dibangun itu. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sholawat Attauhidiyyah Giren

Selasa, 16 Mei 2017

Politik Praktis NU Datangkan Banyak Mudarat

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Katib Aam PBNU KH Malik Madani mengatakan, NU memiliki pengalaman berpolitik yang cukup kaya. Ormas Islam yang didirikan para kiai ini pada awal kelahirannya menerapkan politik tingkat tinggi (siyasah aliyah) baik saat menghadapi kolonial ataupun menjaga masa-masa awal kemerdekaan Indonesia.

Pada tahun 1955, NU berubah menjadi partai tersendiri akibat situasi dan dinamika politik yang berlangsung saat itu; kemudian berfusi dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada tahun 1977.

Politik Praktis NU Datangkan Banyak Mudarat (Sumber Gambar : Nu Online)
Politik Praktis NU Datangkan Banyak Mudarat (Sumber Gambar : Nu Online)

Politik Praktis NU Datangkan Banyak Mudarat

Kiai Malik menjelaskan, langkah politik praktis NU ini lalu disudahi dengan mendeklarasikan kembali ke khittah 1926, yakni memantabkan diri sebagai organisasi sosial keagamaan sebagaimana semangat pendirian awal.

Attauhidiyyah Giren

Namun, tambahnya, pada tahun 1988 NU tergoda lagi untuk berpolitik praktis. Meskipun telah kembali menjadi ormas sosial keagamaan, NU turut membentuk partai politik, yakni Partai Kebangkitan Bangsa.

Attauhidiyyah Giren

“Dan ternyata setelah bereksperimen sekian lama NU memang tidak cocok berpolitik praktis karena mudaratnya lebih besar dari pada maslahatnya,” kata Kiai Malik dalam diskusi Membincang Fiqh Siyasah: Menakar Kemanfaatan atau Kemudaratan di Jakarta, Sabtu (11/7) petang.

Tugas NU

Baginya, NU saat ini lebih tepat menerapkan siyasa aliyah atau siyasah samiyah (politik tingkat tinggi) sebagaimana pesan almarhum Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfud. Yakni, politik kebangsaan dan kerakyatan yang tidak terjebak pada kelompok politik tertentu.

“Tugas NU sekarang adalah mengkritisi kebijakan-kebijakan negara yang hanya menguntungkan penguasa dan pengusaha. Itu tugas NU,” tegas kiai asal Madura ini.

Kiai Malik juga mengkritik sistem politik yang tengah berlangsung di Tanah Air. Ia menilai pemilu kepala daerah (pemilukada) tak seyogianya dilaksanakan secara langsung. Munas NU 2012 juga memandang bahwa dampak kerugian pemilukada sangat besar bagi warga.

“Pendidikan politik yang menjadi kemaslahatan pemilukada sama sekali tidak terjadi, karena justru yang terjadi adalah mengantarkan warga untuk menjual hati nuraninya,” katanya.

Forum diskusi “Membincang Fiqh Siyasah: Menakar Kemanfaatan atau Kemudaratan” diselenggarakan Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU. Hadir pula sebagai pembicara peneliti Institute for Ecosos Right Sri Palupi, Hilmi Aly, Wasekjen PBNU Adnan Anwar. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Meme Islam, Ahlussunnah Attauhidiyyah Giren

KH Masdar: Penegak Negara Khilafah, Salah Pahami Konsep

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi memandang para pegiat kekuasaan Islam gagal memahami konsep khilafah itu sendiri. Ciri global dan eksklusif dari mereka, menandai kekeliruan paham secara serius.

“Dikiranya khilafah itu konsep kekuasaan politik global di satu pihak dan sektarian di pihak lain,” kata Kiai Masdar pada rapat persiapan Munas-Konbes NU 2014 di Gedung PBNU, Selasa (14/10) sore.

KH Masdar: Penegak Negara Khilafah, Salah Pahami Konsep (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masdar: Penegak Negara Khilafah, Salah Pahami Konsep (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masdar: Penegak Negara Khilafah, Salah Pahami Konsep

Padahal kalau melihat surat Al-Baqarah ayat 30, “khalifah” lebih merujuk pada posisi dan peran yang dimandatkan Allah SWT kepada Nabi Adam dan anak cucunya untuk meneruskan karya-karya-Nya di muka bumi baik yang menyangkut material, sosial, maupun etika-moral.

Attauhidiyyah Giren

Khilafah sosial-politik, kata Kiai Masdar, sama sekali tidak mempersyaratkan hadirnya negara dunia yang mewadahi kekhalifahan tunggal sebagaimana doktrin politik yang diusung pegiat khilafah belakangan ini. 

Sementara peran kekhilfahan Allah secara individu atau secara sosial menuntut manusia bergaul dengan setara tanpa melihat unsur-unsur SARA di dalamnya. Artinya, siapa yang jujur, cerdas, dan bertanggung jawab pasti akan dianugerahkan kesuksesan oleh Allah, tandas Kiai Masdar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren Amalan Attauhidiyyah Giren

Senin, 15 Mei 2017

Peci Hitam dan Baju Batik di PKD PMII

Depok, Attauhidiyyah Giren. Pelatihan Kader Dasar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Komfaka) Cabang Ciputat? berlangsung hangat di tengah udara dingin Sawangan, Depok Kamis-Ahad (15-18/1).

Peci Hitam dan Baju Batik di PKD PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Peci Hitam dan Baju Batik di PKD PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Peci Hitam dan Baju Batik di PKD PMII

PKD yang diadakan oleh Komfaka ini, diadiikuti 35 mahasiswa dari berbagai cabang ini menekankan pentingnya membangun kesadaran kader dalam berbudaya dan berbangsa.

Ketua pelaksana Hifni mengatakan kegitatan PKD sejak Jumat (15/1) hingga Ahad (18/1) merupakan angkatan III. Kegiatan bertema “Membangun Kembali Jati Diri Kader: Refleksi Kritis Kesadaran Kader dalam Berbudaya dan Berbangsa” diikuti peserta dari komisariat-komisariat Ciputat berjumlah 21 orang, Bogor 4 orang, Bandung 8 orang, dan Surabaya 2 orang.

Attauhidiyyah Giren

Peci hitam dan batik menjadi simbol PKD kali ini, sesuai dengan tema berbudaya dan berbangsa, “Selama PKD berlangsung, peserta diwajibkan memakai songkok hitam (putra) dan batik, sebagai wujud membangun kesadaran berbangsa dan berbudaya” kata Kaula Fahmi selaku ketua instuktrul PKD ini.

Attauhidiyyah Giren

Kaula Fahmi berharap kepada para peserta PKD menjadi kader yang ulul albab, “Semoga setelah pelatihan ini para peserta menjadi kader yang ulul albab.”

Ungkapan serupa disampaikan, Ketua Umum PMII Cabang Ciputat, Ahmad Cusanuddin seraya berharap kepada para kader menjadi kader mujahid, yang bisa menyebarkan virus-virus kebaikan Aswaja dan PMII.

“Harapan saya, kalaian bisa menjadi kader mujahid, yang bisa menyebarkan virus-virus kebaikan Aswaja dan ideologi PMII ke seluruh elemen yang berada di kanan-kiri, depan-belakang, dan atas-bawah,” ujarnya ketika penutupan acara PKD, Ahad. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Cerita, Hikmah Attauhidiyyah Giren

PWNU Jateng Tegaskan Kembali Sikap Netral NU dalam Pilpres

Brebes, Attauhidiyyah Giren. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah menegaskan netralitas posisi NU dalam Pemilihan Presiden 9 Juli 2014 mendatang. Penegasan sikap seperti ini diutarakan kembali PWNU Jateng untuk selanjutnya menyerahkan pilihan kandidat kepada pribadi warga NU masing-masing.

“Secara organisasi, NU Netral dalam pilpres. NU tidak menghalangi hak asasi pilihan individual, bukan organisasi,” kata Wakil Ketua PWNU Jateng Fadlan Musafa saat memberi sambutan pada Istighosah jelang Ramadhan dan Pilpres di Gedung PCNU Brebes jalan Yos Sudarso nomor 36 Brebes, Ahad (22/6) sore.

PWNU Jateng Tegaskan Kembali Sikap Netral NU dalam Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jateng Tegaskan Kembali Sikap Netral NU dalam Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jateng Tegaskan Kembali Sikap Netral NU dalam Pilpres

NU, sambung Fadlan, tidak dibawa ke mana-mana. Setiap warga NU pun bisa mencermati sendiri mana pilihan yang harus dipilih. Namun, prinsipnya, warga NU mesti saling menghargai atas perbedaan dukungan.

Attauhidiyyah Giren

“Kita jangan sampai mudah diadu domba. NU penuh kedamaian. Jangan sampai ribut-ribut. Kalau ribut terus, kapan bisa membangun?” kata Fadlan di hadapan ratusan hadirin.

Attauhidiyyah Giren

Indonesia negara hebat, kata Fadlan. Negara ini tidak dibangun dengan kecongkakan tetapi dengan kedamaian dan keramahtamahan dalam perbedaan. NU sendiri menebarkan cinta kepada sesama, menyerukan kedamaian, dan rahmatan lil alamin.

Dalam istighosah ini antara lain hadir Rais Syuriyah PCNU Brebes KH Aminudin Mashudi, Mustasyar PCNU Brebes KH MAnsyur Tarsudi, Ketua PCNU Brebes H Athoillah, Ketua Yayasan Islamic Centre KH Rosyidi, Ketua Muslimat NU Brebes Hj Nurhalimah, Ketua IPPNU Brebes Chaerunisa, dan pengurus banom NU lainnya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren IMNU, Budaya, Pendidikan Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 13 Mei 2017

Rais Aam PBNU Jelaskan Pengecualian Suksesi di Tubuh Muslimat

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. KH Maruf Amin, Rais Aam PBNU bersama Ketum Muslimat terpilih Hj Khofifah Indar Parawansa mendampingi Wakil Presiden Republik Indonesi, H Jusuf Kalla menabuh rabana secara bersamaan menutup Kongres XVII Muslimat NU, Sabtu (26/11) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.

Rais Aam PBNU Jelaskan Pengecualian Suksesi di Tubuh Muslimat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU Jelaskan Pengecualian Suksesi di Tubuh Muslimat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU Jelaskan Pengecualian Suksesi di Tubuh Muslimat

Sebelumnya, KH Maruf Amin mengatakan dalam sambutannya, Muslimat NU itu satu-satunya badan otonom NU tertua. Banom NU yang paling banyak amal sosialnya, mulai dari rumah sakit, pendidikan, ekonomi, dan koperasi yang hingga menyentuh masyarakat bawah.

Setelah itu, satu kekuatan Muslimat yang paling memberikan pengaruh adalah karena pengurus Muslimat kebanyakan istri dari kiai NU. "Bahkan orang tuanya kiai NU," kata Kiai Maruf.

Kiai Maruf Amin dihadapan Wakil Presiden dan peserta Kongres mengucapkan selamat sukses atas terselenggaranya Kongres XVII Muslimat dan terpilihnya Khofifah.?

Sebagai pimpinan tertinggi di NU, Kiai Maruf mengatakan, aturan PBNU untuk ketua badan otonom maksimal dua periode. Karena ini sudah menjadi keinginan dari seluruh anggota Muslimat se-Indonesia, maka PBNU menghormati pilihan dan keinginan para anggota Muslimat.

Attauhidiyyah Giren

Kiai Maruf menjelaskan, di PBNU itu ada dua hukum. Pertama,? hukum asli yang tertera dalam AD/ART NU dan kedua hukum istina atau hukum pengecualian. "Muslimat NU ini badan otonom yang memiliki hukum pengecualian," tegas Kiai Maruf Amin disambut tepuk tangan meriah.

Dalam Kongres Ke-17 Muslimat NU ini, Khofifah dipilih secara aklamasi oleh 34 pengurus wilayah, 525 pengurus cabang, dan 4 pengurus cabang istimewa (Hongkong, Arab Saudi, Malaysia, dan Sudan) yang memiliki hak suara dalam kongres.?

Dengan demikian, perempuan kelahiran Surabaya 51 tahun lalu ini memegang pucuk pimpinan Muslimat NU selama 4 periode (2000-2021).? (Rof Maulana/Fathoni)

Attauhidiyyah Giren





Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pahlawan, PonPes Attauhidiyyah Giren

Jumat, 12 Mei 2017

Nasihat Rasulullah terhadap Orang yang Enggan Menikah

Menikah adalah sunah Nabi Muhammad SAW yang pelaksanaannya sangat dianjurkan bagi umat Islam. Bahkan Nabi pernah melarang sahabat yang berniat untuk meninggalkan nikah agar bisa mempergunakan seluruh waktunya untuk beribadah kepada Allah, karena hidup membujang tidak disyariatkan dalam agama.

Suatu ketika ada tiga rombongan datang bertamu ke salah satu istri Rasulullah SAW menanyakan perihal tentang ibadah sunah yang dikerjakan oleh beliau. Setelah rombongan tersebut merasa cukup jawaban dari istri Nabi tersebut.

Kemudian mereka yang tergabung dalam rombongan tersebut saling memandang. Salah satu diantara mereka melempar pertanyaan, "Manakah Ibadah sunah Nabi Muhammad SAW ? yang telah kita kerjakan, yang ibadah tersebut dapat mengampuni dosa-dosa kita baik yang sudah lampau maupun dosa yang akan datang".

Nasihat Rasulullah terhadap Orang yang Enggan Menikah (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasihat Rasulullah terhadap Orang yang Enggan Menikah (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasihat Rasulullah terhadap Orang yang Enggan Menikah

Salah seorang yang tergabung dalam rombongan pertama menjawab, "Aku telah sholat sepanjang malam".

"Aku telah berpuasa sepanjang tahun dan tidak pernah berbuka" sahut orang yang tergabung dalam rombongan kedua.

Salah seorang yang tergabung dalam rombongan yang ketiga pun tidak mau ketinggalan perihal ibadahnya.

Attauhidiyyah Giren

"Aku telah menjauhi wanita, dan aku tidak mau menikah selamanya,” jelasnya.

Tiba-tiba Rasulullah SAW mendatangi kerumunan tiga rombongan dan berkata,"Kalian telah berkata begini dan begitu, tapi demi Allah aku adalah manusia yang paling takut kepada-Nya. Oleh karena itu, salah berpuasa, sholat, tidur, dan menikah. Barang siapa yang tidak suka dengan sunahku (nikah), maka bukan golonganku".

Untuk itu, manusia disyariatkan untuk menikah. Pernikahan adalah suatu peristiwa yang fitrah, dan sarana paling agung dalam memelihara keturunan dan memperkuat hubungan antar sesama manusia yang menjadi sebab terjaminnya ketenangan cinta dan kasih sayang.?

Attauhidiyyah Giren

(Ahmad Rosyidi)

Disarikan dari kitab Jawahirul Bukhari wa Syarhul Qasthalani karya Musthafa Muhammad Imarah, halaman 227, Penerbit Daar al-Kutub al-Alamiyah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren PonPes, Nusantara, Pendidikan Attauhidiyyah Giren

Rabu, 10 Mei 2017

Uni Eropa-NU Jajaki Pertukaran Imam Masjid

Jakarta, Attauhidiyyah Giren 

Duta Besar  Uni Eropa untuk Indoneisa Y. M. Olof Skoog didampingi Kepala Bagian Komunikasi Florian Witt berkunjung ke PBNU di Jakarta, pada Rabu, (9/10). Dua tamu tersebut disambut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Bendahara Umum PBNU H. Bina Suhendra. 

Uni Eropa-NU Jajaki Pertukaran Imam Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Uni Eropa-NU Jajaki Pertukaran Imam Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Uni Eropa-NU Jajaki Pertukaran Imam Masjid

Pada kesempatan itu, dubes mengungkapkan tujuan kunjungannya. Menurut Y. M Olof Skoog, pihaknya berkunjung untuk  silaturahim dan memperkenalkan diri  sebagai Duta Besar Uni Eropa yang baru. Kemudian membicarakan Islam dan perdamaian dunia. 

Olof menyampaikan keprihatinnya, dewasa ini di Indonesia muncul radikalisme agama yang membahayakan perdamaian antarumat beragama. Di samping itu ia juga mengatakan keengganannya Islam semacam itu tumbuh kembang di negara-negara Eropa. 

Attauhidiyyah Giren

Pada kesempatan tersebut, kedua belah pihak menyepakati program pertukaran Muslim Eropa dan Indonesia. Dari pihak Indonesia akan diwakili NU karena mereka percaya bahwa NU mampu mengembangkan Islam damai. 

Attauhidiyyah Giren

“Orang NU akan ditempatkan di masjid-masjid Eropa untuk menyebarkan Islam ramah. Sebaliknya Muslim Eropa akan dikirim ke Indonesia untuk belajar Islam damai kepada NU,” kata KH Said Aqil Siroj selepas pertemuan tersebut.

Sebagai awal kerjasama kedua belah pihak, lanjut kiai yang akrab disapa Kang Said tersebut, akan digelar workshop di Jakarta pada bulan November tahun ini. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Halaqoh, Pondok Pesantren Attauhidiyyah Giren

Mengenal Psikosomatik Pengganggu Kualitas Hidup

Sidoarjo, Attauhidiyyah Giren. Psikosomatik atau somatisasi merupakan penyakit fisik yang disebabkan oleh pikiran negatif atau masalah emosi. Dengan adanya Hal ini dapat menyebabkan fisik manusia menjadi terganggu. Gangguan tersebut akan diteruskan sebagai gangguan fisik badan secara menetap, bisa kronis bahkan sampai mengganggu hidup individu tersebut.

Menurut Kepala Humas Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo dr Silvy, keluhan psikosomatik merupakan keluhan yang paling banyak dialami para pasien. Keluhan fisik tersebut mencapai 19,7-22 persen dan mengalami gangguan somatisasi hingga akhirnya mengganggu kualitas hidup pasien.

Mengenal Psikosomatik Pengganggu Kualitas Hidup (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Psikosomatik Pengganggu Kualitas Hidup (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Psikosomatik Pengganggu Kualitas Hidup

Sedangkan gangguan somatisasi disebabkan oleh banyak faktor baik dari dalam atau luar diri individu yang mengalami gangguan. Sehingga kebanyakan pasien datang ke pelayanan primer dan langsung menemui dokter.

Attauhidiyyah Giren

 

Pasien yang mengalami gangguan psikosomatik atau somatisasi akan berangkat ke dokter berulang-ulang (doctor shopping) dengan keluhan bervariasi. Keluhan bisa sama bisa juga berubah-ubah. Bahkan yang paling khas menyangkal bahwa keluhannya berhubungan dengan masalah pribadi, akan diperiksa fisiknya secara berulang-ulang untuk memastikan sakit yang sebenarnya. Sehingga didapatkan semua hasil pemeriksaan dalam batas normal.

Attauhidiyyah Giren

"Dengan demikian, apa yang terjadi dalam tubuh seseorang timbul dari dua hal bersinergi yaitu jiwa dan bodi. Peristiwa yang mengganggu jiwa memang dipastikan akan menimbulkan efek pada fisik atau badan seperti berdebar, keringat dingin, mual, pusing dan sebagainya. Namun, dengan sadar dan kontrol jiwa yang tepat, keluhan fisik tersebut akan hilang dengan sendirinya," kata dokter dari salah satu rumah sakit NU tersebut Sabtu (14/11).

Lebih lanjut dr Silvy menjelaskan, keluhan yang paling sering dilaporkan kepada dokter dan tidak ditemukan bukti gangguan fisik setelah pemeriksaan medis yaitu jantung, saluran cerna atas dan bawah, sistem pernafasan dan sebagainya.

"Hal ini terbukti dalam medis, dimana kesehatan jiwa merupakan komponen utama dalam munculnya sebuah keluhan fisik yang secara pemeriksaan fisik ditemukan semua dalam batas normal dan dikenal dengan istilah psikosomatik atau somatisasi. Oleh karena itu, jiwa yang tulus, ikhlas, berfikir positif dan selalu bersyukur adalah sumber kesehatan jiwa dan raga. Sebab, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat dan di dalam jiwa yang kuat terdapat tubuh yang sehat," ujar dr Silvy. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Teks foto; dr Silvy saat memberikan penyuluhan kepada pasien dan keluarga pasien

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Syariah, Pemurnian Aqidah Attauhidiyyah Giren

Minat Kaum Perempuan untuk Studi Al-Qur’an Meningkat

Depok, NU Onlline. Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Prof. Dr. Hj. Huzaemah T. Yanggo. MA mengungkapkan, peminat bidang studi ilmu-ilmu Al-Qur’an dari kalangan kaum perempuan pada tahun ajaran 2015/2016 mengalami peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Minat Kaum Perempuan untuk Studi Al-Qur’an Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)
Minat Kaum Perempuan untuk Studi Al-Qur’an Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)

Minat Kaum Perempuan untuk Studi Al-Qur’an Meningkat

Demikian disampakan Rektor IIQ yang juga A’wan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu dalam prosesi wisuda sarjana dan pascasarjana serta diesnatalis IIQ yang ke-38 di Pusdiklat Kemendikbud, Jalan Cinangka Bojongsari Depok, Sabtu (29/8).

Menurut Huzaemah, calon mahasiswa baru di IIQ sendiri untuk tahun ajaran 2014/2015 kemarin berjumlah 305 orang, dan yang diterima 275 mahasiswa baru. Sementara untuk tahun ajaran 2015/2016 ini, ada 400 pendaftar dan pihak IIQ hanya menerima 346 mahasiswa baru.

Attauhidiyyah Giren

“Meningkatnya jumlah mahasiswa baru IIQ dari tahun ke tahun ini adalah tanda bahwa kesadaran orang tua? mengirim anak-anak guna belajar agama di kampus? IIQ adalah bentuk pengakuan dan kepercayaan pada lembaga IIQ,” tambahnya.

Disampaikannya, IIQ adalah satu-satunya lembaga Pendidikan Tinggi Islam Swasta di Indonesia pada tingkat satuan pendidikan S1 yang secara khusus mendidik kaum perempuan dan berkonsentrasi dalam bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an, yang meliputi ilmu syari’ah, ilmu ushuluddin dan ilmu tarbiyah, khususnya dalam pendalaman dan pengembangan ilmu nagham, tahfizh, tafsir, rasm dan qira’at Al-Qur’an.

Attauhidiyyah Giren

“Inilah dimensi keunggulan dan distingsi IIQ di tengah beragamnya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam di negeri ini. Pada tingkat satuan Pendidikan S2 IIQ Program pascasarjana konsentrasi ulumul qur’an dan Ulumul Hadist,? IlmuSyariah, danIlmu Tarbiyah,” katanya.

Disampaikan, IIQ memiliki 3 Fakultas yaitu Fakultas Syari’ah dengan Prodi Muamalah (terakreditasi B) dan Prodi Zakat Wakaf; Fakultas Ushuluddin dengan Prodi Tafsir Hadist (terakreditasi B) dan Prodi baru Komunikasi Penyiaran Islam; Fakultas Tarbiyah dengan Prodi Pendidikan Agama Islam yang meraih nilai akreditasi A dan pada tahun 2014. Sementara Program S-2 Pascasarjana IIQ juga telah meraih nilai akreditasi A dari BAN-PT.

Selain kurikulum nasional, IIQ memiliki kurikulum lokal yang merupakan ciri khas takhassus lembaga ini. Diantaranya adalah pendalaman dalam bidang tahfizh, tilawah, khat, tafsir, ilmu qira’at dan karya ilmiah Al-Qur’an.

Dalam Bidang Tahfizh, Lembaga Tilawah dan Qira’atul Qur’an (LTQQ) menjadi tulang punggung pelaksanaan Tahfizh di IIQ. Seluruh mahasiswa IIQ wajib tahfizh. Lulus tahfizh adalah syarat mutlak bagi mahasiswa untuk bisa ikut ujian akhir semester dan ujian akhir perkuliahan. Pembinaan tahfizh dilaksanakan secara reguler dan intensif, didampingi para instruktur tahfizh yang mahir dan profesional, yang dikoordinir oleh lembaga tahfizh dan Qiro’atil Qur’an (LTQQ).

Bidang Khath dan Tilawah, dikordinasikan dan dibina melalui Lembaga Khath dan Tilawah Al-Qur’an (LKTQ). Pembinaan Tilawah, dibedakan menjadi pembinaan untuk pemula, menengah dan mahir. Sementara pembinaan khath dibedakan menjadi pembinaan untuk pemula dan untuk yang sudah mahir.

Bidang Tafsir dan Karya Ilmiah Al-Qur’an, dikordinasikan oleh Lembaga Tafsir dan Karya Ilmiah Al-Qur’an (LTKIQ), kegiatannya meliputi pembinaan rutin tafsir bahasa Arab dan pembinaan karya ilmiah Al-Qur’an. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Makam Attauhidiyyah Giren

Senin, 08 Mei 2017

FKMSB Yogya Rayakan Maulid Nabi Muhammad SAW

Yogyakarta, Attauhidiyyah Giren. Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar Pamekasan Madura (FKMSB) wilayah Yogyakarta merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW di basecamp forum tersebut. Kegiatan tersebut menampilkann Kreasi FKMSB Jogja (KFJ) dengan menyanyikan lagu-lagu shalawat.

Menurut Ketua FKMSB Yogyakarta Abd Wafi, peringatan Maulid Nabi termasuk acara tahunan FKSMB. “Kami sebagai alumni pondok seperti menjadi kewajiban tersendiri untuk merayakan Maulid Nabi,” katanya pada peringatan Ahad (11/12).

FKMSB Yogya Rayakan Maulid Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
FKMSB Yogya Rayakan Maulid Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

FKMSB Yogya Rayakan Maulid Nabi Muhammad SAW

Apalagi, kata dia, di Indonesia, Maulid Nabi menjadi tradisi setiap tahun di kalangan umat Islam, khususnya warga Nahdatul Ulama.

Attauhidiyyah Giren

“Dengan adanya peringatan maulid ini, hubungan kami antara sesama anggota semakin solid dan tetap menjunjung tali silaturrhim,” ujarnya.

Attauhidiyyah Giren

Hal senada juga disampaikan mantan ketua FKMSB periode 2013-2014 Amin Wjiaya. Menurutnya, Maulid Nabi memperkuat tali silaturrahmi antara angota, senior, dan para alumni pesantren Madura yang berdomisili di Jogja untuk menanamkan nilai-nilai ke-islam-an,” ujarnya.

Setelah pembacaan shalawat dan doa bersama selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama.

“Semoga tahun depan kami masih bisa merayakan kembali hari keliharan Nabi Muhammad SAW amin,” ungkap ketua panitia Anis.

Acara tersebut dihadiri kurang lebih 200 orang yang terdiri dari anggota, senior, dan para undangan yang terdiri dari, Keluarga Mahasiswa Sumenep Yogyakarta (KMSY), Keluarga Mahasiswa Pamekasan (KMPY), Keluarga Mahasiswa Sampang Yogyakarta (KMSY), Keluarga Mahasiswa Bangkalan (KMBY), Ikatan Alumni An-Nuqoyah (IAA), Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (IMABA), berserta berbagai keluarga besar alumni pesantren Madura yang tinggal di daerah Yogyakarta.

Dua hari sebelumnya jumat malam (9/12) FKMSB Yogyakarta juga telah menyelesaikan khotmil Al-Qur’an dan sekaligus yasinan bersama. (Rudi Santoso/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Cerita, Ulama, Khutbah Attauhidiyyah Giren

Saudi Sebut Ikhwanul Muslimin Kelompok Teroris

Riyadh, Attauhidiyyah Giren

Presiden Komite Urusan Hubungan Masyarakat Saudi-Amerika (SAPRAC) Salman Al-Ansari mengatakan, banyak orang kadang terkecoh dengan Ikhwanul Muslimin dan menganggap mereka sekadar kekuatan oposisi atau gerakan politik.

"Padahal kenyataannya mereka adalah kelompok ideologis dan militan rahasia yang mengilhami dan mendukung pemboman bunuh diri, menarget personel militer dan warga sipil yang tak berdosa demi tujuan ideologis dan politik mereka," katanya sebagaimana diwartakan Arab News, Senin (14/8).

Saudi Sebut Ikhwanul Muslimin Kelompok Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)
Saudi Sebut Ikhwanul Muslimin Kelompok Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)

Saudi Sebut Ikhwanul Muslimin Kelompok Teroris

Dia menyebut strategi global Ikhwanul Muslimin adalah mengambil alih dunia muslim dan menyerukan "jihad" tanpa akhir terhadap tiap orang dan bangsa yang berbeda haluan dengan mereka.

Attauhidiyyah Giren

Al-Ansari mengatakan bahwa kelompok ekstremis ini tersusun dalam tiga lapis: pertama, kepemimpinan; kedua, kader militan yang beroperasi secara rahasia di bawah komando para pemimpin mereka; dan ketiga adalah ulama, penceramah, dan para penyokong.

Karena kelompok ini sangat tertutup, tambahnya, seringkali para pengikut tiga lapis tersebut tak mengetahui bahwa ada kesalahan di tingkat kepemimpinan dan kader militan.

Attauhidiyyah Giren

Al-Ansari mendorong Amerika Serikat (AS) untuk lebih sigap menghadapi kejahatan Ikhwanul Muslimin. Ia menyampaikan, Arab Saudi, Mesir dan UEA menilai Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris, dan AS harus mempertimbangkannya dan menyatakannya sebagai organisasi teroris.

"Masalah dalam tatanan politik AS adalah bahwa mereka tidak mengetahui dengan baik tentang bahaya dari agenda dan ideologi Ikhwanul Muslimin," tambahnya. "Sangat penting untuk mengekspos taktik Ikhwanul Muslimin ke sekutu Barat kita terutama ke AS."

Al-Ansari mengaku optimis pemerintah AS sedang melakukan sejumlah langkah bersama untuk meninjau posisi kelompok ini.

Pemerintahan Trump tengah memikirkan sebuah tindakan, mulai berdiskusi secara internal di Gedung Putih untuk menunjuk Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris asing, seperti yang dilaporkan media AS. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Anti Hoax, Makam Attauhidiyyah Giren

Minggu, 07 Mei 2017

Seminggu Puasa, Nenek Sofiyah (67) Khatamkan Al-Quran Dua Kali

Jombang, Attauhidiyyah Giren?

Hari ke dua puasa Ramadlan, Sofiyah (67) ? nenek asal Desa Sumberkarang, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto ini baru menapakkan kakinya di Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang. Kedatanggannya di Pesantren KH Romly Tamim ini untuk nyantri selama bulan puasa.?

Di Pesantren Rejoso ini, tradisi nyantri atau mondok selama bulan puasa bagi kaum lanjut usia (Lansia) memang sudah berlangsung puluhan tahun. Bahkan sudah menjadi tradisi turun temurun. ? Karena rata-rata yang nyantri adalah mereka pengikut Tarikat ? Qodiriyah wan Naqsabandiyah.

“ Alhamdulillah, kalau berada di pesantren ini, saya lebih bisa tekun ibadah, ? terutama saat bulan puasa ramadlan seperti sekarang,”tutur Sofiyah saat ditemui diserambi masjid Induk pesantren yang berdiri sejak 1885 tersebut.

Seminggu Puasa, Nenek Sofiyah (67) Khatamkan Al-Quran Dua Kali (Sumber Gambar : Nu Online)
Seminggu Puasa, Nenek Sofiyah (67) Khatamkan Al-Quran Dua Kali (Sumber Gambar : Nu Online)

Seminggu Puasa, Nenek Sofiyah (67) Khatamkan Al-Quran Dua Kali

Selama seminggu berada di pesantren, nenek Sofiyah yang telah memiliki enam cucu ini mengaku telah menyelesaikan membaca Al Quran dua kali khatam.

“Saya sudah tiga kali puasa nyantri di sini. Puasa tahun lalu, Alhamdulillah bisa mengkhatamkan Al Quran sebanyak lima kali. Sudah begitu, ibadah pendukung lainnya juga lebih fokus. Seperti zikir salat malam, hingga mengaji kitab,”imbuhnya wanita dengan lima anak ini menambahkan.?

Bersama nenek Sofiyah ada sebanyak 160 lansia yang mengikuti pesantren selama bulan puasa Ramadlan di Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang. Mereka biasanya diantar oleh anak atau keluarganya untuk mondok. ? Ketika puasa hendak berakhir, para santri lansia ini akan dijemput oleh keluarganya.?

Attauhidiyyah Giren

Bagaimana dengan kebutuhan sehari hari ? karena sudah menjadi budaya di pesantren, untuk kebutuhan makan minum banyak warung yang menyajika makanan di sekitar pesantren.?

Pengasuh Pesantren Darul Ulum, KH Cholil Dahlan, mengatakan ? tradisi nyantri atau mondok selama bulan puasa bagi kaum Lanjut Usia (Lansia) di pesantren Darul Ulum sudah berlangsung puluhan tahun. Bahkan sudah menjadi tradisi turun temurun. "Sudah sejak zaman kakek saya dulu. Karena memang kebanyakan dari mereka adalah jamaah Tarekat Qodiriyah Wan Naqsabandiyah yang berpusat di PPDU," ujar Kiai Cholil.

Pada Ramadlan kali ini terdapat 160 orang yang datang dari berbagai daerah. Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dengan Ramadan tahun sebelumnya. Karena banyaknya para lansia, mereka di tempatkan di dua lokasi. “Pertama di masjid utama, kemudian kedua berada di asrama putri PPDU. Seluruh lansia itu selalu mengikuti kegiatan pengajian yang digelar di masjid induk,”jelasnya.

Selama berada di pesantren, ratusan lansia itu mendapatkan berbagai macam materi pelajaran. Mulai dari ibadah murni seperti salat, zakat, dan puasa, hingga menjalankan ibadah tambahan seperti zikir, kajian kitab, serta matri tentang akhlak.?

Attauhidiyyah Giren

"Pada pagi hari para lansia mengaji selama dua jam setelah salat duha. Kemudian mengaji lagi secara jamaah setelah azar selama satu jam. Kedatangan para lansia ini ingin melakukan ribat atau ibadah selama 24 sehari selama bulan puasa," ujar Kiai Cholil sembari mengatakan bahwa para lansia itu tidak ditarik biaya selama berada di pesantren.(Muslim Abdurahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Lomba, Cerita Attauhidiyyah Giren

Jumat, 05 Mei 2017

Kepengurusan Baru PCNU Malang Angkat Slogan “NU MUDA”

Malang, Attauhidiyyah Giren

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang bersiap akan menggelar pelantikan untuk para pengurus baru periode lima tahun mendatang. Rais syuriyah dan ketua tanfidziyah yang terpilih dalam konferensi cabang Oktober 2016 lalu berkomitmen memajukan organisasi NU setempat.

"NU Kota Malang memiliki tagline ‘NU MUDA’ yang merupakan kepanjangan NU Menjaga Marwah Ulama dan Aswaja. Pelantikan akan dilaksanakan di Gedung Pertamina Politeknik Negeri Malang, pada hari Sabtu (18/2)," kata Ketua PCNU Kota Malang terpilih, Isroqunnajah, Rabu (15/2).

Kepengurusan Baru PCNU Malang Angkat Slogan “NU MUDA” (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepengurusan Baru PCNU Malang Angkat Slogan “NU MUDA” (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepengurusan Baru PCNU Malang Angkat Slogan “NU MUDA”

Sebelum acara pelantikan, akan digelar apel kebangsaan. Isroqunnajah akan bertindak sebagai inspektur upacaranya di hadapan peserta yang terdiri dari jajaran polisi Polresta Malang, anggota tentara Kodim 0833, anggota Banser, para santri, ulama, anggota Kokam, satgas ormas dan partai politik di Kota Malang.

Attauhidiyyah Giren

Ketua SC acara pelantikan ini Mujab Masyhudi menjelaskan, tema besar pelantikan kali ini adalah "Revitalisasi Nilai-nilai Patriotisme dan Nasionalisme untuk Ketahanan Umat". Menurutnya, tema tersebut sangat relevan dengan perkembangan dinamika Indonesia dewasa ini.

Attauhidiyyah Giren

"Indonesia sedang mengalami dinamika yang sangat kompleks dalam berbagai bidang. Diperlukan patriotisme sekaligus nasionalisme sebagaimana telah diteladankan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asyari dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat untuk menghidupkan kembali peran-peran NU dalam berbagai bidang agar Indonesia umumnya, dan Kota Malang khususnya, semakin sejuk, aman, dan damai," ujar doktor lulusan India yang juga Kaprodi PAI-BSI S3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini.

Pelantikan PCNU Kota Malang ini berdasarkan SK PBNU No 131/A.II.04.d/02/2017 yang ditetapkan pada tanggal 7 Februari 2017. Rais ‘Aam PBNU KH Maruf Amin direncanakan akan hadir dan menyampaikan taushiyah terkait perkembangaan NU dan Indonesia belakangan ini.

Acara kemudian akan dilanjutkan dengan rapat pimpinan dan lokakarya yang akan disampaikan oleh KH Cholil Nafis dari PBNU, Brigjen Wahyu Aprilianto (BAIS TNI), dan Dudi Herawadi (Kepala BI Kanwil Malang), dan diikuti oleh segenap pengurus NU Kota Malang dari berbagai tingkatan. Pada kesempatan itu juga disampaikan rencana pelaksanaan Musyawarah Kerja ke-1 yang akan dilangsungkan di Gedung DPRD Kota Malang, jalan Tugu no 1 Malang, pada Ahad (19/2). (Achmad Diny Hidayatullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren IMNU Attauhidiyyah Giren

Selasa, 02 Mei 2017

Titik Temu Pemikiran Gus Dur, Cak Nur dan Syafii Maarif

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid mengatakan, pemikiran-pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholish Madjid (Cak Nur), dan Syafi’i Ma’arif (Buya Syafii) masih sangat relevan dengan kondisi Islam saat ini. Menurutnya, pemikiran ketiga tokoh itu tidak jauh berbeda meski mereka memiliki latar belakang budaya yang berbeda.

“Kalau kita melihat pemikiran beliau-beliau itu tidak terlalu jauh berbeda meski latar belakangnya beda antara NU dan Muhammadiyah,” katanya saat menjadi narasumber dalam acara diskusi publik dengan tema Merawat Pemikiran Guru-guru Bangsa yang diselenggarakan oleh Universitas Paramadina dan Nurcholish Madjid Society di Jakarta, Rabu (12/4).

Titik Temu Pemikiran Gus Dur, Cak Nur dan Syafii Maarif (Sumber Gambar : Nu Online)
Titik Temu Pemikiran Gus Dur, Cak Nur dan Syafii Maarif (Sumber Gambar : Nu Online)

Titik Temu Pemikiran Gus Dur, Cak Nur dan Syafii Maarif

Yenny menjelaskan ketiga guru bangsa tersebut memiliki persamaan atau titik temu terutama dalam hal mensintesiskan pemikiran Islam. Menurut dia, pemikiran-pemikiran Gus Dur, Cak Nur, dan Buya Syafii adalah sintesisasi antara ilmu-ilmu keislaman seperti fikih, usul fikih, qowaidul fikih dan lainnya dengan filsafat Barat.  

“Ada kultur Jawa yang mempengaruhi. Seperti konsep agama itu sebagai agemi aji atau pakaiannya jiwa. Agama tidak hanya dipahami secara kognitf saja, tetapi betul-betul dirasakan yang mendalam dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ucap putri kedua Gus Dur itu. 

Maka dari itu, pemikiran-pemikiran ketiga guru bangsa itu lebih mengedepankan Islam secara substansial dari pada Islam formal. Baginya, ketiga tokoh itu juga memiliki pemikiran-pemikiran yang luar biasa dalam hal keindonesiaan. 

Attauhidiyyah Giren

Sementara itu, narasumber lainnya Abdul Mu’thi menjelaskan, ketiga tokoh itu memiliki akar pemahaman Islam yang kuat. Menurutnya, pemikiran-pemikiran Gus Dur menggambarkan pemikiran dari Hadlratussyekh Hasyim Asyari karena memang dia cucu dan juga tumbuh di lingkungan NU. 

Sedangkan pemikiran Cak Nur dan Buya Syafii adalah perpaduan antara pemikiran Timur dan Barat karena mereka pernah belajar di pesantren dan juga belajar di Negara Barat.

Mu’thi mengatakan, ketiga tokoh itu itu juga memiliki kesamaan dalam hal kesederhanaan hidup. “Kesederhanaan dalam hidup. Ini juga yang dimiliki tiga tokoh ini,” jelas Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Muhammadiyah itu.

Attauhidiyyah Giren

Sedangkan, Mohamad Sobary yang juga menjadi narasumber menuturkan, gelar guru bangsa itu bukan untuk orang yang memiliki tingkat keilmuan yang sangat tinggi tetapi untuk mereka yang memiliki kecerdasan yang luas dan mampu mengamalkan ilmunya tersebut. 

“Guru bangsa itu adalah guru laku. Guru akhlak yang paling mulia,” urainya. 

Turut hadir dalam acara diskusi tersebut istri Cak Nur Ommy Komariyah dan beberapa Dosen Universitas Paramadina. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Budaya Attauhidiyyah Giren