Minggu, 18 Desember 2016

Rais Thariqah Syadziliyah UEA Beri Kuliah di STAINU Jakarta

Jakarta, Attauhidiyyah Giren

Dalam rangka kunjungannya ke Indonesia , tepatnya di kampus STAINU/UNU Jakarta. Syekh Muhammad An-Nadzoriyah Al- Hasany, Rais Thariqah Syadziliyah di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) memberikan taushiyah singkatnya, Selasa (15/3) kepada para mahasiswa tentang hakikat kedekatan Allah SWT dengan makhluknya.

Syekh Muhammad mengatakan, Allah SWT ibarat kekasih jika berkaitan dengan kedekatan hubungan. Maka Ahlul Ma’rifat membagi waliyyun (kekasih) menjadi tiga. Dua halnya terlarang yaitu waliyyun ghoirullah maka disebut kafir dan waliyyun ma’allah maka disebut musyrik.?

Rais Thariqah Syadziliyah UEA Beri Kuliah di STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Thariqah Syadziliyah UEA Beri Kuliah di STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Thariqah Syadziliyah UEA Beri Kuliah di STAINU Jakarta

“Maka Allah SWT tidak menerima kekasih selainnya (waliyyun ghoirollah) atau pun pihak ketiga yang menjadi kekasih selainnya (waliyyun ma’allah). Dia hanya ridho jika diriNya-lah satu-satunya yang dijadikan kekasih oleh kita yaitu hambanya,” jelasnya.

Dia juga menuturkan bahwa orang sekarang lebih menilai rezeki dari segi material (keliahatan) dan kuantitasnya ketimbang rohaniyah dan kualitas rezeki tersebut.?

Dia menuturkan, banyak faktor yang mendorong rezeki itu datang, diantaranya ada 6 faktor seperti: istighfar, attuqoh (ketaqwaan), thoqoh (kekuatan), assholah, assodaqoh, wal harokah.?

Attauhidiyyah Giren

“Dan dari faktor-faktor tersebut yang sangat berperan dari kita manusia adalah panca indera, akal, dan mata hati. Kita harus berusaha keras bagaimana mengaplikasikan 3 hal yang kita punya dengan 6 faktor yang ada,” terangnya.

Dalam kunjungannya ini, Syekh Muhammad juga memberikan ijazah ‘Aam kepada semua mahasiswa STAINU Jakarta dan UNU Indonesia yang hadir di sana.?

Syekh Muhammad diterima langsung oleh pimpinan STAINU Jakarta dan UNU Indonesia diantaranya KH Mujib Qulyubi, Imam Bukhori, Amsar Dulmanan, Arif Rahman, Dede Setiawan, Aris Adi Leksono, Fatkhu Yasik, Siti Rozinah, dan Khairunnisa. (M Aqil/Fathoni)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren AlaNu, Bahtsul Masail, Pendidikan Attauhidiyyah Giren

Jumat, 16 Desember 2016

Biografi KH Ahmad Basyir Segera Terbit

Kudus, Attauhidiyyah Giren. Buku Biografi ulama kharismatik dan guru mujiz Dalailul Khairat KH Ahmad Basyir akan segera terbit. Rencananya, karya santri senior Pesantren Darul Falah Widi Muryono setebal 248 halaman ini  mulai beredar pada peringatan 40 hari wafatnya almarhum (26/4).

Widi Muryono mengatakan buku berjudul Syaikhina Ahmad Basyir; Syaikh Mujiz Dalailul Khairot ini diterbitkan Lembaga Pers Santri (LPS) Al-Fiqro Pesantren Darul Falah Dusun Bareng Jekulo Kudus. Tujuannya, untuk menghadirkan terus menerus sosok dan ruh KH Ahmad Basyir alam dinamika spiritual santri dan masyarakat.

Biografi KH Ahmad Basyir Segera Terbit (Sumber Gambar : Nu Online)
Biografi KH Ahmad Basyir Segera Terbit (Sumber Gambar : Nu Online)

Biografi KH Ahmad Basyir Segera Terbit

 

“Disamping itu, untuk mengenang dan menggali keteladanana dari sosok Mbah Basyir,” katanya kepada Attauhidiyyah Giren, Selasa (22/4).

Attauhidiyyah Giren

Widi menjelaskan, buku ini mengisahkan sejarah singkat perjalanan pengasuh pesantren Darul Falah yang dikenal sebagai mujiz Dalailul Khairat. Riwayat Mbah Basyir mulai proses belajar di sekolah dasar hingga mengabdi dan menjadi badal gurunya KH Ahmad Yasin di pesantren.

 

“Termasuk pula saat menikah, mendirikan pondok, menjadi mujiz dan akhlak beliau serta kehidupan bermasyarakat, semua tertulis dalam buku dengan bentuk kisah murni,” paparnya.

Attauhidiyyah Giren

Widi menambahkan buku ini juga mengisahkan kebersamaan Mbah Basyir bersama ulama ahli Al-Quran KH Arwani dan ulama lainnya. Terdapat juga, tulisan yang membahas persinggungan pondok pesantren dengan orde baru.

Pada cetakan pertama ini, kata dia, merupakan buku edisi jilid satu dengan mencetak 1000 eksemplar yang akan diedarkan secara gratis kepada santri atau masyarakat luas. “Saya berharap akan ada buku edisi bertahap ke jilid 2 dan 3 dilanjutkan pada peringatan 100 dan 1000 hari wafatnya beliau,” terang Widi yang juga alumnus STAIN Kudus.

Putra bungsu Mbah Basyir KH Muhammad Alamul Yaqin mengatakan, buku biografi diterbitkan untuk berbagi kisah tentang sosok orang tua, kiai, guru, dan sahabat. Harapannya bisa menjadi inspirasi dan penyemangat bagi generasi penerusnya.

 

“Untuk para santri, bisa sebagai motivasi supaya lebih giat mencari ilmu dan berkhidmah ke masyarakat,” ujar Gus Alamul yang juga selaku editor buku biografi ini seraya minta maaf atas kekurangan dalam tulisan di dalamnya.

 

Sebagaiamana diketahui, ulama kharismatik yang juga Guru Mujiz Dalailul Khairat KH Ahmad Basyir wafat pada selasa (18/4) pukul 01.00 dan dimakamkan di komplek makam dusun Mbareng Jekulo Kauman Kudus. Keluarga dan santri akan memperingati 40 hari wafatnya pada Sabtu malam (26/4). (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nahdlatul, Meme Islam Attauhidiyyah Giren

Kamis, 15 Desember 2016

Hari Toleransi, Jagongan Ramik Ragom Way Kanan Diskusikan Kekacauan Medsos

Way Kanan, Attauhidiyyah Giren - Sejumlah aktivis pemuda lintas iman di Kabupaten Way Kanan akan meramaikan Jagongan Ramik Ragom (beragam) peringatan Hari Toleransi dengan diskusi bertema Media Sosial Media Perdamaian guna mencari solusi maraknya informasi sampah di media sosial (medsos).

"Krisis berpikir jernih mengakibatkan bangsa Indonesia sulit melakukan revolusi mental. Fakta tersebut merujuk publik yang tak lepas dari media sosial yang gagal menjadi masyarakat atau generasi pembaharu. Masyarakat media sosial kita lebih memilih mengonsumsi informasi sampah daripada informasi inspiratif," ujar penggiat Gusdurian Lampung, Gatot Arifanto, di Blambangan Umpu, Sabtu (12/11).

Hari Toleransi, Jagongan Ramik Ragom Way Kanan Diskusikan Kekacauan Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Toleransi, Jagongan Ramik Ragom Way Kanan Diskusikan Kekacauan Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Toleransi, Jagongan Ramik Ragom Way Kanan Diskusikan Kekacauan Medsos

Presiden Southeast Asian Press Alliance (SEAPA) Eko Maryadi dalam sejumlah kesempatan menyatakan konten media sosial adalah sampah. Menurut mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia itu,? kebiasaan masyarakat Indonesia begitu menerima broadcast di Whatsapp menganggapnya menarik dan menyebarluaskan kendati informasi yang mentah yang tersebut belum terverifikasi kebenarannya.

Attauhidiyyah Giren

"Di facebook dan media sosial lainnya juga demikian, share sesuatu yang tidak mencerahkan seperti berita ngawur seakan menjadi prioritas daripada membagikan informasi yang bernas. Jika paradigma semacam itu subur, Indonesia tak akan pernah menjadi bangsa unggul, tapi bangsa yang terampil menebar disinformasi, kebencian dan intoleransi. Diperlukan solusi atas persoalan tersebut," ujar anggota AJI Bandar Lampung itu lagi.

Attauhidiyyah Giren

Sejumlah pemantik diskusi dalam kegiatan tersebut ialah anggota Dewan Pembina Gerakan Pemuda Ansor Iskardo P Panggar, Ketua KNPI Andi Oktoviandi, Ketua Karang Taruna Sairul Sidik, Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Kahmi) Indra Z Rayusman.

Selanjutnya Ketua Pemuda Muhammadiyah Munawar, Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) I Gede Klipz Darmaja, Ketua Kelompok Kerja Wartawan (Pokjawan) Dedi Tornando dan aktivis Pemuda Katholik Andreas Natalis Sapta Aji.

"Kami mengundang sejumlah kepala sekolah dan pelajar untuk ikut urun rembug terkait persoalan intoleransi di media sosial," ujar Ketua GP Ansor Way Kanan itu pula.

Jagongan Ramik Ragom akan digelar Rabu, 16 November 2016, pukul 13.00 WIB hingga selesai di aula SMK Kesehatan Cahaya Darma, Baradatu. Kegiatan ini akan diramaikan oleh acapela SMAN 1 Baradatu, musik perdamaian oleh SMK Kesehatan Cahaya Darma, dan pembacaan puisi Gus Mus oleh santri Assidiqqiyah 11, serta foto selfie? #DamaiRamaiRamai #RamaiRamaiDamai. (Disisi Saidi Fatah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Meme Islam Attauhidiyyah Giren

Rabu, 14 Desember 2016

PMII Pacitan Adakan Mapaba

Pacitan, Attauhidiyyah Giren. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Kanjeng Jimat Pacitan melaksanakan kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba). Kegiatan ini sebagai bentuk pengenalan terhadap PMII sekaligus perekrutan anggota baru. Bagi mahasiswa yang ikut Mapaba telah dinyatakan sebagai anggota PMII akan dikader ke jenjang berikutnya.

Ketua Panitia Mapaba, Amrudin, Ahad (2/12/12) mengatakan, acara tersebut dipusatkan di Balai Desa Purworejo Pacitan. Kegiatan dilaksanakan dari tanggal 30 November  hingga 2 Desember 2012.

PMII Pacitan Adakan Mapaba (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pacitan Adakan Mapaba (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pacitan Adakan Mapaba

Dikatakannya, Mapaba bertujuan membentuk kader militan yang Kritis Transformatif serta memiliki akhlakul karimah yang bernafaskan Islam sesuai dengan ajaran Ahlusunah wal Jamaa’ah.

Attauhidiyyah Giren

Diharapkan kegiatan ini dapat memberi motivasi karena merupakan awal pengenalan terhadap PMII sehingga organisasi berbasis mahasiswa melahirkan keintelektualan, berwawasan luas dan berperan sebagai sosial kontrol bagi pemerintahan kabupaten Pacitan khususnya dan umumnya pada bangsa Indonesia ini.

“Semoga kegiatan ini menjadikan kader yang terbentuknya pribadi muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab mengamalkan ilmunya,” katanya.

Attauhidiyyah Giren

Dalam Pembukaan Mapaba yang  bertemakan “Implementasi Potensi Intelektual Kader Dalam Mencetak Generasi Yang Kritis Transformatif” itu di buka oleh Wakhuri, salah satu Majelis Pembina Cabang PMII Pacitan. 

Dalam sambutanya ia menekankan kepada peserta Mapaba pada nantinya benar-benar menjadi keder militan yang multi talenta serta mau dan mampu memperjangkan nilai-nilai Ahlusunah Wal Jamaa’ah sebagai Manhaj (landasan) untuk berdzikir, berfikir dan beramal sholeh.

Mantan Aktifis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sekarang juga menjadi Kepala Seksi Pekapontren di Kementrian Agama Kabupaten Pacitan itu juga menegaskan bahwa PMII adalah organisasi yang berbasis kaderisasi yang mampu melahirkan Tokoh-tokoh yang besar. Setiap kader yang sudah siap secara Intelektual, Emosional, dan Spiritual harus kembali kepada masyarakatnya dan mengimplementasikan apa yang sudah dimiliki, karena hal itu adalah bentuk dari aktualisasi Nilai Dasar Pergerakan (NDP).

Acara pembukaan Mapaba ini juga dihadiri Ketua Lembaga Kajian Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Cabang Pacitan, Muhammad Munaji, Direktur Komunitas Insan Peduli Anak Sekolah (Kipas) Muhammad Zafri Wicaksana, dan sejumlah Majelis Pembina Cabang PMII Pacitan diantaranya Dodik Prasetyo, yang juga Direktur Prasetya Institute.

Materi yang disampaikan dalam Mapaba sesuai dengan  kurikulum kaderisasi yang dirumuskan PB PMII yang garis besarnya tentang Mahasiswa, Islam Indonesia (Aswaja), dan Ke Indonesiaan. Sedangkan pemateri dari Pengurus Komisariat Kanjeng Jimat Pacitan, Pengurus Cabang PMII Pacitan, dan Alumni PMII dari berbagai kota yang berdomisili di Pacitan.

Kegiatan diikuti oleh puluhan peserta itu berasal dari beberapa perguruan tinggi yang ada di Pacitan, diantaranya STAI NU Pacitan, STKIP PGRI Pacitan, dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Pacitan berakhir dengan pembacaan Sumpah Mahasiswa Indonesia yang dipimpin oleh Ketua Umum PMII Komisariat Kanjeng Jimat Pacitan Sapto Pitoyo dan dilanjutkan pengukuhan (pembaiatan) yang dipimpin oleh Ketua Umum PMII Cabang Pacitan Agus Salim. Acara pembaiatan berjalan dengan lancar dan penuh khidmat.

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Zaenal Faizin

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Fragmen, Kajian Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 10 Desember 2016

PBNU Minta Pemerintah Wujudkan Kesejahteraan Petani

Mataram, Attauhidiyyah Giren. Indonesia yang dikenal sebagai negara agraria mempunyai problem setumpuk terkait kesejahteraan petani. Petani di Indonesia yang meyoritas hidup di pedesaan membutuhkan perhatian dari pemerintah untuk menyediakan berbagai fasilitas pendukung pertanian.

Untuk mewujudkan kesejhateraan petani ini, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas mendorong pemerintah untuk melakukan penguatan infrastruktur pertanian.

PBNU Minta Pemerintah Wujudkan Kesejahteraan Petani (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Pemerintah Wujudkan Kesejahteraan Petani (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Pemerintah Wujudkan Kesejahteraan Petani

Robikin menyampaikan hal itu pada konferensi pers di perhelatan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU, Kamis (23/11) di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Dalam kegiatan yang berlangsung 23-25 November 2017 ini, Robikin menjelaskan terkait pembangunan infrastruktur pertanian. Langkah tersebut bisa dilakukan dengan memperbanyak membangun saluran air di berbagai daerah di Indonesia.

Attauhidiyyah Giren

“Pemerintah harus hadir dan memberikan afirmasi di bidang pertanian, redistribusi lahan, dan membangun infrastruktur pertanian,” ujar Robikin di hadapan sejumlah awak media.

Menurut pria yang juga Ketua Panitia Munas dan Konbes NU ini, kalau pemerintah serius ingin melakukan reformas agraria, mereka juga harus membangun fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan para petani secara merata.

“Selain infrastruktur, juga harus mengusahakan adanya pupuk yang murah dan terjangkau oleh masyarakat petani,” kata Robikin didampingi Sekretaris Panitia Munas dan Konbes H Ulil Hadrawi dan Koordinator Media Savic Ali. 

Reforma agraria menjadi salah satu materi penting dalam Munas dan Konbes NU di Lombok, khususnya terkait redistribusi lahan. Penguatan kesejataraan petani menurut Robikin merupakan langkah strategis NU dalam mewujudkan penguatan ekonomi warga.

Attauhidiyyah Giren

Karena menurutnya, penguatan ekonomi dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat sebab kemiskinan menjadi salah satu faktor rentan seseorang terpapar ideologi radikal.

“Jadi perhatian NU tidak hanya menguatkan perekonomian, tetapi juga meneguhkan ideologi yang ramah bagi setiap perbedaan,” ucap Robikin. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Humor Islam Attauhidiyyah Giren

Senin, 05 Desember 2016

Nusron: Indonesia Jangan Ditarik-tarik ke Konflik Saudi-Yaman

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid menilai ada pihak yang sengaja mengembuskan ketengangan konflik antara Saudi dan Yaman ke Indonesia dengan mengobarkan sentimen Sunni-Syiah.

“Konflik itu bukan konflik Sunni-Syiah, itu adalah murni konflik kekuasaan,” katanya pada peringatan hari lahir (Harlah) ke-81 GP Ansor, Jumat (24/4) malam, di halaman Graha Ansor, Jakarta.

Nusron: Indonesia Jangan Ditarik-tarik ke Konflik Saudi-Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusron: Indonesia Jangan Ditarik-tarik ke Konflik Saudi-Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusron: Indonesia Jangan Ditarik-tarik ke Konflik Saudi-Yaman

Nusron mengingatkan, situasi dunia Islam, khususnya di Timur Tengah, yang porak poranda bisa saja kelak terjadi juga di Tanah Air ketika Pancasila lemah. Karena itu ia mengimbau kepada para kader GP Ansor untuk terus-menerus meneguhkan ideologi negara dan menjaga kerukunan di Indonesia.

Attauhidiyyah Giren

Ketua BNP2TKI ini juga menyatakan, tidak seperti di Yaman, warga Indonesia harus menghormati pemerintah yang sah dan telah melalui jalur pemilihan yang demokratis. “Jadi Islam Indonesia tidak usah ditarik-tarik ke konflik Saudi yang menyerang Yaman,” ujarnya.

Attauhidiyyah Giren

Perayaan harlah yang diiringi peresmian Masjid KH Abdurrahman Wahid ini mengambil tema “Transformasi Jamaah Menuju Jam’iyah Nahdliyah”. Nusron berharap jamaah NU yang sangat besar dapat menyatu dalam ikatan organisasi modern tanpa meninggalkan karakter tradisionalnya untuk menghadapi tantangan ke depan, begitu pula organisasi NU harus terikat dengan jamaahnya di bawah.

“Selama ini banyak jamaah hanya memiliki ikatan ideologis dan ritual ibadah saja ke NU, bukan ikatan kohesi sosial dan jam’iyah,” ujarnya.

Hadir dalam kesempatan ini mantan ibu negara Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Rais Syuriah PBNU KH Saifuddin Amsir dan KH Masdar Farid Mas’udi, Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud, Ketua Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) KH Abdul Manan A Ghani, dan sejumlah pejabat pemerintah. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Humor Islam, Cerita Attauhidiyyah Giren

Jumat, 02 Desember 2016

Enam Orang Ini Dibolehkan Islam Tidak Berpuasa Ramadhan

Kewajiban puasa berlaku sejak kita melihat bulan. Rasulullah SAW bersabda, “Sûmû liru’yatihi wa afthirû li ru’yatihi.” Artinya, “Berpuasalah kamu karena melihat bulan. Dan berhari raya kamu semua karena melihat bulan.” Sejak bulan terlihat, sejak itu pula kita berwajiban menjalankan ibadah puasa.

Semua aktivitas yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan hubungan suami istri mesti diatur jadwalnya. Pengaturan ini berlaku untuk mereka yang wajib secara syara’ (agama) menjalankan puasa. Mereka yang wajib adalah orang yang baligh, berakal, sehat, muda, dan mampu menjalankan puasa. Singkatnya mereka yang mampu menjalani ketentuan puasa.

Enam Orang Ini Dibolehkan Islam Tidak Berpuasa Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Enam Orang Ini Dibolehkan Islam Tidak Berpuasa Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Enam Orang Ini Dibolehkan Islam Tidak Berpuasa Ramadhan

Sedangkan orang di luar itu tidak berkewajiban menjalankan puasa. Mereka ini yang dikecualikan. Orang-orang ini disebutkan secara rinci oleh Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam Kasyifatu Saja. Mereka ini diizinkan secara syara’ untuk membatalkan puasanya.

Attauhidiyyah Giren

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Attauhidiyyah Giren

Artinya, “Enam orang berikut ini diperbolehkan berbuka puasa di siang hari bulan Ramadhan. Mereka adalah pertama musafir, kedua orang sakit, ketiga orang jompo (tua yang tak berdaya), keempat wanita hamil (sekalipun hamil karena zina atau jimak syubhat [kendati wanita ini berjimak dengan selain manusia tetapi ma’shum]).

Kelima orang yang tercekik haus (sekira kesulitan besar menimpanya dengan catatan yang tak tertanggungkan pada lazimnya menurut Az-Zayadi, sebuah kesulitan yang membolehkan orang bertayamum menurut Ar-Romli)-serupa dengan orang yang tercekik haus ialah orang yang tingkat laparnya tidak terperikan-, dan keenam wanita menyusui baik diberikan upah atau suka rela (kendati menyusui bukan anak Adam, hewan peliharaan misalnya).”

Islam memungkinan orang-orang ini terbebas dari kewajiban puasa di bulan Ramadhan meskipun sebagian dari enam orang ini harus menggantinya di luar Ramadhan. Karena, kondisi yang dialami enam orang ini, dalam pandangan ulama, memungkinkan hilangnya kemampuan puasa dari yang bersangkutan saat Ramadhan. Artinya, Islam tidak memaksakan mereka yang tidak mampu berpuasa. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Aswaja, Daerah, Cerita Attauhidiyyah Giren

Rabu, 30 November 2016

Niat Puasa Ramadhan di Siang Hari

Niat ibadah sangat kuat dianjurkan oleh agama karena didasarkan pada hadits Rasulullah SAW. Saking kuatnya, niat ini sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan dalam sebuah ibadah termasuk puasa baik wajib maupun puasa sunah. Namun demikian ulama berbeda pendapat soal kedudukan niat.

Sebagian mereka menganggap niat itu sebagai syarat sah sebuah ibadah. Sementara sebagian lainnya mengatakan, bukan syarat. Di samping itu, mereka juga mempertanyakan kapan niat itu dilakukan. Semua pertanyaan berdampak panjang yang akhirnya menentukan sebuah ibadah seseorang.

Niat Puasa Ramadhan di Siang Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Niat Puasa Ramadhan di Siang Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Niat Puasa Ramadhan di Siang Hari

Dalam konteks puasa, kebsahan ibadah kita akan bergantung sekali pada niat di malam hari. lalu bagaimana dengan keesokan harinya? Apakah orang yang niat puasa sebulan penuh tidak perlu mengulang niatnya setiap malam Ramadhan? Lalu bagaimana orang lupa mengikrarkan niat puasa di malam hari?

Attauhidiyyah Giren

Berikut ini merupakan keterangan Syekh Sulaiman Bujairimi dalam Hasyiyah Iqna’

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?.

Attauhidiyyah Giren

Artinya, disyaratkan menjatuhkan niat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa qadha, atau puasa nadzar. Syarat ini berdasar pada hadits Rasulullah SAW, “Siapa yang tidak memalamkan niat sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.” Karenanya, tidak ada jalan lain kecuali berniat puasa setiap hari berdasar pada redaksi zahir hadits.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Redaksi “maka tiada puasa baginya”, maksudnya tidak sah, bukan tidak sempurna. Pandangan Syafi’iyah ini berbeda dengan pandangan Hanafiyah. Karena menurut Syafi’iyah, menganulir keabsahan itu lebih dekat dengan menganulir puasa itu sendiri, dibandingkan hanya menganulir kesempurnaan puasa.

Sementara “Pandangan Syafi’iyah ini berbeda dengan pandangan Hanafiyah” karena Hanafiyah membolehkan niat di siang hari baik puasa wajib maupun puasa sunah.

Atas perbedaan pendapat di kalangan ulama ini, perlu kiranya kita belajar menenggang. Pasalnya mereka berdasar pada sumber hukum Islam yang sama, yaitu hadits dalam konteks ini.

Para ulama madzhab ini ialah orang-orang yang mendapat bimbingan dari Allah. Meminjam istilah Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’roni dalam Mizanul Kubro-nya, “Ula’ika ‘ala hudan min robbihim. Wa ula’ika humul muflihun.Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Berita, Sholawat Attauhidiyyah Giren

Senin, 28 November 2016

Pemerintah Akan Terus Bantu Trenggalek Pascabanjir dan Longsor

Trenggalek, Attauhidiyyah Giren - Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Blitar akan fokus menangani tiga hal penanganan pascabencana banjir dan longsor Trenggalek. Hal ini disampaikan oleh Ketua PBNU yang juga Wakil Gubernur Jatim H Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) saat di Trenggalek, Jumat (19/8).

"Pak bupati menetapkan kondisi darurat bencana. Kalau darurat, bisa menggunakan anggaran kedaruratan, terutama untuk material rehabilitasi dan rekonstruksi," kata Gus Ipul.

Pemerintah Akan Terus Bantu Trenggalek Pascabanjir dan Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Akan Terus Bantu Trenggalek Pascabanjir dan Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Akan Terus Bantu Trenggalek Pascabanjir dan Longsor

Menurutnya, Pemrov Jatim akan menyetujui rehabilitasi pascabanjir dan longsor. Nanti akan ada pembagian tugas bersama dengan pemerintah kabupaten Trenggalek dan pemerintah pusat mana saja yang dikerjakan agar masyarakat bisa menjalani aktivitasnya sehari-hari dengan normal.

“Nanti ada pembagian tugas. Mana untuk kabupaten. Mana provinsi dan mana pusat,” ungkapnya.

Attauhidiyyah Giren

Bencana banjir dan longsor ini terjadi di tujuh kecamatan. Ada sekitar 7500 rumah penduduk yang tergenang air di 24 desa dari empat kecamatan. Sedangkan longsor di beberapa titik terjadi di tiga kecamatan. Bencana tersebut juga mengakibatkan satu orang meninggal dunia.

Attauhidiyyah Giren

“Ada dua fokus utama penanganan yang dilakukan Pemkab Trenggalek, Pemprov Jatim dan pemerintah pusat. Pertama, Memastikan tanggap darurat berjalan lancar hingga dua pekan ke depan pascabencana banjir dan longsor di Trenggalek,” kata mantan Ketum GP Ansor itu.

"Semua yang terkena dampak banjir, mendapatkan pasokan kebutuhan makanan dan minuman, air bersih serta obat-obatan," katanya.

Menurutnya,ada hampir sekitar 30 ribu warga yang terkena dampak banjir dan longsor. Ada buffer stok makanan siap saji dan beras 1 ton dari provinsi yang disiagakan di Kabupaten Trenggalek sebelum bencana banjir longsor. Semuanya didistribusikan ke korban banjir longsor.

"Ada sekitar 30 ribu warga yang terdampak. Ini akan dipantau oleh tim dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten Trenggalek. Pelayanan penuh yang dilakukan Pemkab Trenggalek di-back-up Pemrpov Jatim,” terangnya.

Fokus kedua adalah rehabilitasi dan rekonstruksi. Nanti dari data yang masuk, dilihat mana yang rumah rusak parah, sedang, ringan. Sekolah yang rusak dan jembatan. "Data-data ini dikumpulkan semua, termasuk data jalan yang terkena longsor," ujar mantan menteri PDT itu.

Gus Ipul yang melihat langsung ke lokasi bencana mengakui memang masyarakat terdampak membutuhkan pemulihan sehingga membutuhkan dana dari Pemkab Trenggalek, Pemprov Jatim dan pemerintah pusat serta dana dari pihak swasta.

"Kami? melihat memang kondisinya masuk darurat bencana. Tingkat kerusakannya memang cukup luas dan memerlukan dana segera untuk rekonstruksi," kata Gus Ipul. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Fragmen Attauhidiyyah Giren

Selasa, 15 November 2016

NU Surabaya Tunggu Janji Pemkot Soal Taman Bungkul

Surabaya, Attauhidiyyah Giren - Pengurus NU Surabaya merekomendasikan kepada pemkot setempat untuk menghadirkan suasana religius terintegrasi di Taman Bungkul. Mereka mengapresiasi penataan yang baik taman kota ini hingga mendapatkan penghargaan di dunia internasional. Hanya saja mereka menyayangkan pemisahan taman ini dengan eksistensi makam Sunan Bungkul sehingga sebagian masyarakat kadang menyalahgunakan taman ini.

Beberapa hari lalu pengurus Syuriyah NU Surabaya melakukan pertemuan membahas itu. "Itu janji Risma tiga tahun lalu dan sampai sekarang belum ditepati. Makanya kami akan tagih lagi," kata Ketua NU Surabaya Muhibbin Zuhri saat sambutan tasyakuran Halah Ke-93 NU di mushala Sunan Bungkul, Surabaya, Ahad (24/4).

NU Surabaya Tunggu Janji Pemkot Soal Taman Bungkul (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Surabaya Tunggu Janji Pemkot Soal Taman Bungkul (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Surabaya Tunggu Janji Pemkot Soal Taman Bungkul

NU, menurutnya, mengemban amanah untuk memperjuangkan kawasan terintegrasi religi khususnya di Taman Bungkul.

"Kami akan menagih janji Wali Kota Tri Rismaharini atas komitmen mengubah Taman Bungkul menjadi kawasan ziarah wali," ungkap Muhibbin saat memberikan sambutan di area makam.

Attauhidiyyah Giren

Di Taman Bungkul Jalan Raya Darmo, Surabaya ini terdapat makam waliyullah Kiai Ageng Supo yang diriwayatkan hidup sezaman dengan Raden Rahmatullah Sunan Ampel. Karena tinggal di kawasan Bungkul, Ki Ageng Supo kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bungkul.

Sebenarnya penataan Taman Bungkul sudah bagus. Hanya keberadaan makam Sunan Bungkul seperti lenyap. Padahal, Sunan Bungkul dikenal sebagai salah satu sosok perintis Kota Surabaya.

Attauhidiyyah Giren

"Dia tokoh dihormati dan bisa mengundang destinasi wisata religi. Tapi sekarang makam Mbah Bungkul seperti terisolasi, seakan terpisah dari taman," kata Muhibbin.

Kondisi Taman Bungkul kian miris karena banyak muda-mudi yang memanfaatkan taman tersebut berbuat tidak pantas. Sering kali digelar acara dengan pengeras suara sehingga mengganggu kekhusyukan para peziarah saat berdoa.

"Menurut informasi tim yang kami terjunkan, PKL di belakang makam Sunan Bungkul sering menggunakan lokasi untuk transaksi jasa layanan seksual," tegas Muhibbin.

Tasyakuran harlah ini diakhiri dengan ziarah di makam Mbah Bungkul. Peringatan ini diawali dengan tahlil bersama yang dipimpin Rais Syuriyah NU Surabaya KH Mas Sulaiman dan diakhiri dengan taushiyah oleh Wakil Rais Syuriyah NU Jatim KH Sholeh Qosim. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren AlaSantri, Doa, Pendidikan Attauhidiyyah Giren

Rabu, 09 November 2016

Bupati Probolinggo: Safari Haji, Sarana Dakwah dan Syiar

Probolinggo, Attauhidiyyah Giren



Dalam rangka memberikan dukungan moral kepada calon jamaah haji (calhaj) Kabupaten Probolinggo ke Tanah Suci, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo menggelar safari haji ke beberapa calon tamu Allah dan Rasulullah SAW yang akan berangkat menunaikan ibadah haji tahun ini.

Rabu (12/7), safari haji ini dilaksanakan di 4 (empat) titik lokasi. Yakni, Maliya di Dusun Krajan Desa Matekan Kecamatan Besuk, Sosianto dan istrinya Ida Noerhayati di Dusun Desa Gunggungan Lor Kecamatan Pakuniran. Kemudian Anna Ratnawati di Dusun Krajan Desa Talkandang Kecamatan Kotaanyar. Serta A Fathoni Hidayat dan A Nurul Hidayati di Dusun Desa Kedungrejoso Kecamatan Kotaanyar.

Bupati Probolinggo: Safari Haji, Sarana Dakwah dan Syiar (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Probolinggo: Safari Haji, Sarana Dakwah dan Syiar (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Probolinggo: Safari Haji, Sarana Dakwah dan Syiar

Safari haji ini diikuti oleh Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari, Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo H Santoso serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Probolinggo.

Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari mengungkapkan bahwa kegiatan safari haji ini istiqomah dilakukan Pemkab Probolinggo sejak tahun 2003 silam. “Tujuannya adalah mendoakan calon tamu Allah dan Rasulullah sekaligus mempererat jalinan silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah,” katanya.

Menurut Tantri, kegiatan ini dimaksudkan untuk memperolah barokah Mekah dan Madinah dari para calon tamu Allah dan Rasulullah. Pasalnya calhaj ini memiliki magnet dan daya tarik yang luar biasa.

Attauhidiyyah Giren

“Safari haji ini bertujuan sebagai dakwah dan jihad sekaligus syiar tentang haji. Karena banyak orang Islam yang rejekinya dilebihkan tetapi lupa kewajiban hajinya sampai meninggal dulu,” tegasnya.

Sementara Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin mengungkapkan bahwa setiap harta dijalankan untuk ibadah haji pasti mendapatkan pahala ibadah. Sehingga begitu dilebihkan hartanya segera daftarkan haji dan jangan bingung dengan lamanya antrian. Karena jika sudah mendapatkan undangan dari Allah maka antrian itu tidak berlaku. Sebab menjadi tamu Allah, kapanpun diundang terserah Allah SWT.?

“Umroh itu sunnah sehingga setiap ibdah umroh tidak akan mampu menggugurkan kewajiban hajinya. Meskipun nantinya meninggal sebelum berangkat maka akan tetap dicatat sebagai ibadah haji. Karena setiap uang yang ditaruh di jalan Allah, nantinya akan dikalikan 700 kali kebaikan. Pasti kembali bentuknya dalam apapun terserah Allah,” tegasnya,” katanya.

Kepada para calon tamu Allah dan Rasulullah, Hasan meminta agar senantiasa diberi kelancaran selama menjalankan ibadah haji maka hendaknya menghormati kedua orang tua. Apabila sudah meninggal, datangi kuburannya dan doakan kedua orang tuanya. “Orang tua itu adalah pintu surga dari Allah SWT,” terangnya.

Attauhidiyyah Giren

Hasan mengharapkan agar ibadah haji ini dilaksanakan dengan niat ikhlas lahir dan batin untuk mencari ridho dari Allah. Lakukan tahapan demi tahapan ibadah haji dengan baik. Bacalah doa yang sudah dihafal karena tidak ada bacaan wajib yang menggugurkan ibadah hajinya.?

“Mabrur bukan di Mekah dan Madinah, tapi setelah pulang ke kampung halaman. Bagaimana ibadahnya meningkat dari sebelum menunaikan haji. Perbanyak di masjid dan bukan di hotel. Semoga diberi sehat oleh Allah, berangkat dan pulang sehat dan menjadi haji mabrur. Jaga ibadah sholat lima waktu dengan baik,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Lomba, Quote Attauhidiyyah Giren

Senin, 07 November 2016

Memaknai Kunjungan Raja Salman

Sebagai wilayah berpenduduk Muslim terbesar di dunia, hubungan antara Indonesia dan Saudi Arabia sudah terjalan sejak lama, sejak umat Islam mulai ada di negeri ini. Jauh sebelum kerajaan Saudi Arabia terbentuk. Muslim di Nusantara berangkat menuju Makkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji. Secara emosional, Muslim Indonesia selalu merasa dekat dengan wilayah tempat di mana Nabi Muhammad dilahirkan dan menyebarkan dakwahnya. Muslim Indonesia selalu merindukan untuk bisa mengunjungi dua masjid suci, yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Pada 2017 ini, Indonesia mendapatkan kuota haji sebesar 221 ribu. Ini merupakan kuota haji terbesar di kuota haji lokal bagi penduduk Saudi Arabia. Jika ditambah dengan jumlah jamaah umrah, maka warga Indonesia yang berkunjung ke Saudi Arabia semakin besar.

Sebagai sesama produsen minyak dunia, Indonesia memiliki hubungan erat dalam bidang ekonomi. Saat Indonesia masih menjadi anggota OPEC karena masih menjadi net exporter, bersama dengan Saudi Arabia, berbagai kebijakan perminyakan dunia dibahas bersama-sama. Kini, negeri dengan padang pasir yang luas tersebut menjadi salah satu pemasok terbesar kebutuhan minyak untuk memenuhi berbagai keperluan industri di Indonesia. Belum lagi jika bicara soal tenaga kerja Indonesia yang pergi mengais Real di negeri tersebut.

Memaknai Kunjungan Raja Salman (Sumber Gambar : Nu Online)
Memaknai Kunjungan Raja Salman (Sumber Gambar : Nu Online)

Memaknai Kunjungan Raja Salman

Bagi NU, hubungan emosional tersebut juga sangat kental. Para pelopor dan pendiri NU seperti KH Cholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, dan KH Wahab Chasbullah merupakan para ulama yang menghabiskan sebagian masa belajarnya di Makkatul Mukarraham. Tradisi tersebut masih terus berlanjut. Bahkan ketua umum PBNU KH Said Aqil Siroj merupakan alumni dari Universitas Ummul Qura Makkah.

Dengan kedekatan-kedekatan tersebut, wajar jika kunjungan Raja Salman yang kini menjadi penguasa tertinggi di Saudi Arabia ini mendapat sambutan yang antusias di Indonesia. Kunjungan terakhir raja Saudi dilakukan oleh Raja Faishal bin Abdul Aziz pada tahun 1970 atau 47 tahun lalu.

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren

Besarnya jumlah anggota rombongan yang dibawa kali ini menunjukkan pentingnya makna yang akan dibangun. 10 orang menteri yang ikut, termasuk menteri energi Saudi Arabia, menandaskan adanya peluang besar kerja sama di bidang ekonomi. Kedua belah pihak memiliki kepentingan agar hubungan ekonomi ini terjalin lebih erat. Turunnya harga minyak belakangan ini telah menyebabkan anjloknya pendapatan pemerintah Saudi Arabia sehingga mengakibatkan terjadinya defisit anggaran tahunan. Dengan demikian, Saudi harus mempersiapkan diri untuk mendiversifikasikan sumber pendapatannya dari berbagai sektor. Indonesia bisa menjadi partner untuk kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan.

Yang juga patut mendapat perhatian adalah pentingnya perlindungan bagi para pekerja migran asal Indonesia yang bekerja di Saudi Arabia di berbagai sektor. Kasus-kasus penganiayaan yang sering terjadi telah melukai rasa kemanusiaan kita. Karena itu, Indonesia harus menekan pemerintah Saudi agar sistem ketenagakarjaan dibuat lebih baik sehingga para pekerja keselamatannya sekaligus menerima hak-haknya dengan baik.

Di samping hal-hal yang menarik terkait dengan bidang ekonomi, aspek keagamaan dari Saudi Arabia juga harus menjadi perhatian bersama, khususnya bagi NU. Pandangan keagamaan yang dianut oleh Saudi yang konservatif dengan paham wahabisme selama ini tidak selalu sejalan dengan pandangan mayoritas Islam di Indonesia. Ajaran wahabisme yang cenderung tekstual dan tumbuh di negeri yang tertutup tersebut memaknai secara kaku ajaran-ajaran Islam. Apa yang tidak sesuai dengan pandangannya dianggap bid’ah atau bahkan sesat. Apalagi dengan klaim posisi sebagai pewaris Nabi sehingga segala sesuatu yang berasal dari Arab Saudi dianggap sebagai tafsir paling otentik tentang Islam oleh Muslim awam. Bagi sebagian orang, apa yang datang dari Saudi Arabia masih dianggap sebagai sebuah kebenaran. Islam adalah Arab dan Arab adalah Islam.

Kondisi Indonesia yang merupakan wilayah terbuka dan hidup dengan berbagai macam jenis keragaman memunculkan sikap keagamaan yang toleran dan menghargai harmoni hidup bersama. Perbedaan-perbedaan berusaha dicarikan jalan tengah tanpa menghilangkan hal-hal yang prinsip. Kemungkinan konsolidasi kekuatan wahabisme inilah yang harus kita waspadai dalam kunjungan kali ini mengingat klaim-klaim kebenaran tunggal yang selama ini selalu muncul dari kelompok tersebut telah memiliki potensi merusak harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Bukan hanya Indonesia yang harus belajar berbagai ilmu agama dari Saudi Arabia. Dengan melihat kondisi yang selama ini selalu hidup dengan tenang dan damai, Saudi bisa belajar Islam indonesia yang ramah yang sangat cocok dengan dunia yang semakin terbuka di era global. Penyelesaian persoalan di Timur Tengah yang selama ini identik dengan menggunakan kekuatan bersenjata dengan tingkat kehancuran yang massif bisa menggunakan pendekatan ala Asia Tenggara yang mengedepankan dialog antartetangga.

Akan ada selalu perbedaan jika kita mencarinya, tetapi Indonesia dan Saudi Arabia sebagai negara Muslim harus mengedepankan hubungan yang saling menghormati dan lebih melihat pada hal-hal besar untuk mencapai kemajuan bersama umat Islam dunia yang kini masih menghadapi berbagai tantangan besar. (Mukafi Niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ulama Attauhidiyyah Giren

Kamis, 03 November 2016

PBNU Tak Dukung Parpol Tertentu

Yogyakarta, Attauhidiyyah Giren. Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Dr KH Malik Madani menegaskan, PBNU tidak menganjurkan warga NU untuk memilih partai politik tertentu terkait pemilihan umum (Pemilu) yang digelar 9 April mendatang.

Ia menegaskan hal ini di hadapan ribuan warga NU dalam forum doa bersama dan tahlil 40 hari wafatnya KH Zainal Abidin Munawwir, pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, Selasa (25/03) malam.

PBNU Tak Dukung Parpol Tertentu (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Tak Dukung Parpol Tertentu (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Tak Dukung Parpol Tertentu

Lebih lanjut, KH Malik Madani berpesan kepada seluruh warga NU agar menjaga ukhuwah nahdliyah dan meningkatkannya menjadi ukhuwah islamiyah. Ukhuwah Islamiyah harus dipahami sebagai persaudaraan yang islami, bukan sekadar persaudaraan sesama muslim.

Attauhidiyyah Giren

“Kalau ada orang-orang Muslim yang bersepakat untuk membuat bom atau merampok bank, itu bukan ukhuwah islamiyah, tapi ukhuwah syaithaniyah,” tegasnya.

Kiai asal Madura ini juga menggarisbawahi bahwa pada masa-masa kampanye ini, yang tak kalah penting adalah jangan pernah mau menerima suap atau sogokan untuk memilih partai tertentu.

Attauhidiyyah Giren

“Pilihlah karena memang orang tersebut baik dan layak untuk menjadi wakil Anda,” tuturnya menuntaskan pesannya atas nama PBNU. (M Nasrudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Tokoh, Khutbah, Pendidikan Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 22 Oktober 2016

Guru Yaspimu Tradisikan Taziyah

Pamekasan, Attauhidiyyah Giren. Sebanyak 40-an guru dan murid Yayasan Sosial & Pendidikan Islam Miftahul Ulum (Yaspimu) melakukan ta’ziyah ke kota Pamekasan, Ahad (29/4) malam. Mereka silaturahmi ke kediaman guru Kimia yang ayahnya wafat, Eda Kurniawan. 

Guru Yaspimu Tradisikan Taziyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Yaspimu Tradisikan Taziyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Yaspimu Tradisikan Taziyah

Tradisi ta’ziyah ini sudah lama bergulir, sebagai wujud kesadaran para guru Yaspimu terhadap pentingnya ta’ziyah dalam mempererat hubungan persaudaraan sesama guru dan murid.

Sebelum menuju tujuan, para guru dan murid Yaspimu terlebih dahulu berkumpul di masjid Baiturrahman yang berada di area Yaspimu. Mereka berangkat usai Magrib dari rumahnya. 

Attauhidiyyah Giren

Azan Isya’ berkumandang, mereka sembahyang dalam masjid. Sudah itu, langsung berangkat mengendarai 2 mobil yang terbagi menjadi guru/murid putra dan putri.

Di dalam mobil, para guru dan murid berbaur. Mereka akrab antara yang satu dengan lainnya. Adakalanya berbagi canda. Suasana penuh keakraban. Kala itu, kepala sekolah SMP Islam Miftahul Ulum Yaspimu K Suto Abdurrahman dan kepala SMA Islam Miftahul Ulum Yaspimu K Jam’an juga menyatu dengan para guru dan anak didiknya.

Attauhidiyyah Giren

Sekitar setengah jam perjalanan, mereka tiba di jantung kota tepatnya jalan Jokotole Pamekasan. Mereka disambut hangat oleh tuan rumah.

Beberapa menit berlalu, mereka langsung membaca tahlil yang dipandu oleh K Hapaji selaku guru agama di Yaspimu. Mereka kembali pulang sesudah menyalami tuan rumah dan menyatakan turut berduka atas musibah yang menimpa tuan rumah. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ulama Attauhidiyyah Giren

Kamis, 06 Oktober 2016

NU-Muhamadiyah Tolak Formalisme Islam

Sepakat Berantas Kekerasan atas Nama Agama

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhamadiyah kompak menolak formalisme Islam, sebagaimana wacana tersebut mengemuka belakangan ini. Bagi dua organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di itu, perjuangan untuk meningkatkan kesejahtaeraan umat tidak perlu melalui formalisasi ajaran dalam hukum negara.

NU-Muhamadiyah Tolak Formalisme Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-Muhamadiyah Tolak Formalisme Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-Muhamadiyah Tolak Formalisme Islam

Sikap kompak tersebut diungkapkan Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi dan Ketua Umum PP Muhamadiyah, Din Syamsuddin dalam jumpa pers di sela-sela Konferensi Internasional Cendekiawan Muslim (International Conference of Islamic Scholars (ICIS) di Jakarta, Rabu (21/6).

Menurut Din, demikian ia akrab disapa, persolan formalisme Islam saat ini telah menjadi polemik dalam masyarakat, terutama di dunia politik. Ia mengaku lebih memilih subtansi ajaran Islam itu sendiri dari pada formalismenya. ”Tentu kalau kalau saya pribadi memilih subtantivisme, yakni penekanan pada substansi atau nilai-nilai Islam untuk memperjungkan kesejahteraan, kemajuan dan keunggulan umat Islam,” katanya.

Meski menolak, Din sangat menghargai kelompok yang memperjuangkan formalisme Islam. Baginya, setiap orang berhak untuk berpendapat dan mengemukaan pandangan, asalkan masih berada dalam koridor demokrasi. ”Kalau ada di antara umat Islam ada yang menekankan formalisme keislaman terutama dalam politik itu adalah hak mereka.  Selama itu masih dalam koridor demokrasi dan konstitusi,” ungkapnya.

Attauhidiyyah Giren

Menangapi pertanyaan wartawan soal dikait-kaitkannya Islam dengan kekerasan, Din mengatakan, tindakan teror atas nama Islam adalah bentuk penyalahgunaan Islam. Karena Islam, menurutnya, sebenarnya sangat menekankan kasih sayang kepada umatnya. Karena itu, tidak ada alasan yang dapat dibenarkan mengaitkan aksi terorisme dan kekerasan dengan Islam.

“Saya menilai, para teroris yang membawa-bawa Islam itu, selain melakukan penyalahgunaan Islam, juga mereka adalah orang-orang yang tidak sabar dan berputus asa dalam berjihad dan berdakwah. Ini menjadi tugas lembaga-lembaga Islam terutama lewat pendidikan,” tuturnya.

Untuk memecahkan masalah tersebut, katanya, tidak hanya ulama, ormas Islam juga harus berperan, tapi harus ada ruang dan sistem yang mendukung membenarkan pemahaman kegamaan yang sempit itu. ”Juga harus disediakan ruang dan sistem yang mendukung itu. Maka, memberantas terorisme, selain membenarkan pemahaman keagaaman, juga harus memperbaiki sistem,” paparnya.

Kekerasan dan terorisme, kata Din, tidak akan bisa diberantas selama masih terjadi ketidakadilan dan kekerasan. Pada dasarnya kekerasan yang terjadi, katanya, muncul karena kedzaliman dan ketidakadilan. ”Selama ada ketidakadilan, apalagi keadilan global. Ada kedzaliman, ada kemiskinan, maka saya yakin terorisme dan kekerasan itu akan muncul. Memberantas terorisme dengan cara teror itu sendiri, seperti war on terror di Irak, , itu justru memperkuat radikalisasi, terorisme, dan ekstrimisme di kalangan Islam,” katanya.

Sementara itu, Hasyim mengatakan, penggunaan agama untuk kekerasan dan tuduhan agama telah melakukan kekerasan, baru terjadi belakangan ini. Sebab, sebelum tragedi WTC di Amerika, masalah itu tidak ada. ”Persisnya lima tahun lah. Sebab, Sebelumnya tidak ada apa-apa,” jelas mantan Ketua PWNU Jawa Timur ini.

Attauhidiyyah Giren

Hasyim mengatakan, tidak semua kekerasan berdasarkan pada agama. Karena kekerasan kadang muncul karena situasi di luar agama. Untuk menghadapi masalah itu harus dilakukan dua pendekatan pada dua pihak, yaitu, pihak kelompok Islam sendiri dan pihak luar Islam. ”Yang dari Islam sendiri itu, tentu pertama kali harus ditertibkan, how cara memahami agama. Harus melalui keilmuan, harus melalui faith of thinking, tidak boleh ditafsirkan semaunya yang mengakibatkan diperlakukan semaunya,” jelasnya.

NU dan Muhammadiyah, kata Hasyim, diharapkan mampu menghadapi radikalisme dan juga liberalisme yang terjadi akhir-akhir ini. Dikatakannya, radikalisme tidak hanya berupa tindakan, tapi juga ungkapan.

”Cuma biasanya yang disebut kekerasan itu yang memecahkan kaca. Omongannya yang keras, dianggap demokrasi. Padahal hakikat yang ditimbulkan itu belum tentu mana yang lebih besar. Kalau melempari kaca satu meter persegi itu berapa?Tapi kl membongkar sebuah pardigma agama, berapa yang dikorbankan. Karena itu, saya nanti minta juga melalui ICIS itu, kita akan menangani masalah-masalah ,” tuturnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren AlaNu, Hikmah, Tegal Attauhidiyyah Giren

Rabu, 21 September 2016

Santri Pesantren Al-Anwar Mranggen Ngaji Jurnalistik

Demak, Attauhidiyyah Giren

Bertempat di Aula pondok pesantren Al-Anwar, Mranggen, Demak, ratusan santriwan/santriwati mengikuti acara ngaji jurnalistik, Jumat (19/2/2016) bertajuk ‘Menggali jurnalis santri’. Acara ini diselenggarakan oleh alumni yang tergabung dalam komunitas Ikatan Alumni Santri Pondok Pesantren Al-Anwar (IKASPA) Demak dan Buletin Kanal.

Hasyim, ketua IKASPA mengatakan, perlunya memberikan materi jurnalistik kepada santri agar dapat andil dalam ? penyebaran informasi tentang keilmuan pesantren.

Santri Pesantren Al-Anwar Mranggen Ngaji Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Pesantren Al-Anwar Mranggen Ngaji Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Pesantren Al-Anwar Mranggen Ngaji Jurnalistik

“Diharapkan juga nanti banyak yang mengirimkan karyanya di media massa,” katanya dalam sambutan.

Didapuk sebagai pemateri, Muhammad Faizun yang juga alumni yang aktif di organisasi pers kampus menyampaikan materi pengantar jurnalistik, pentingnya jurnalistik dalam kehidupan sehari-hari, terutama di era digital, di mana informasi cepat menyebar. Dengan jurnalistik, informasi akan disampaikan dengan lebih akurat dan menarik.?

Attauhidiyyah Giren

“Menjadi jurnalis harus siap menjadi orang yang peka terhadap informasi, kritis dan piawai menyampaikannya. Terutama melalui tulisan,” ujar Faizun.

Peserta juga dilatih menulis dengan berani, menuangkan apa yang ada di pikirannya. “Tulislah dengan cepat apa yang ada di pikiranmu. Tulis saja, jangan takut jelek. Jangan langsung diedit,” imbuhnya.

Attauhidiyyah Giren

Para santri antusias mengikuti, terlihat dari banyaknya peserta yang kemudian mengajukan pertanyaan dan berani membacakan apa yang dituliskannya di depan.?

Rencana, acara dilanjutkan minggu depan, dengan materi teknik reportase yang diisi langsung oleh wartawan. Peserta disaring hanya 30 orang saja yang berminat dengan mengirimkan karya. (Faizy Mahmoed Haly/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Daerah, Khutbah, AlaSantri Attauhidiyyah Giren

Rabu, 24 Agustus 2016

Istiqomah Teguhkan Islam Rahmatan lil Alamin

10 Oktober 1983 silam, Ketua Umum PBNU KH Idham Chalid bersama Menteri Agama Munawir Syadzili berkunjung ke Kelurahan Pancoran Mas, Kota Depok di tanah seluas 800 meter persegi. Dikelilingi ribuan masa, pejabat, ulama dan habaib, kedua tokoh ini menjadi saksi langsung berdirinya Pondok Pesantren al-Awwabin, yang kelak ribuan santrinya tersebar di berbagai pelosok Indonesia.

Bermula dari keserbaterbatasan di tahun 70-an, pesantren rintisan Abuya KH Abdurrahman Nawi kini tumbuh menjadi tiga unit lembaga pendidikan sekaligus dengan tiga lokasi berbeda. Tujuan mulianya terangkum dalam pernyataan “menegakkan kalimat tauhid dan menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin”.

Istiqomah Teguhkan Islam Rahmatan lil Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)
Istiqomah Teguhkan Islam Rahmatan lil Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)

Istiqomah Teguhkan Islam Rahmatan lil Alamin

Perjuangan Abuya—sapaan akrab KH Abdurrahman Nawi—ternyata tak sia-sia. Pesantren al-Awwabin berhasil mencetak banyak kader Nahdliyin yang sanggup terjun di beragam bidang profesi. Terkait dengan estafet keulamaan, sejumlah alumni telah mampu mendirikan majelis taklim, sekolah, bahkan pondok pesantren sendiri sebagai media dakwah.?

Attauhidiyyah Giren

Kepada para santrinya, Abuya selalu menasehati tentang urgensi pengutamaan akhlak dan dakwah ilmu yang bermanfaat. “Satu orang yang mendapat petunjuk dari Allah karenamu, sesungguhnya lebih baik dari dunia dan segala isinya,” demikian tuturnya.

Bagi kiai asli Betawi ini, dakwah mesti dilaksanakan dengan hati bijaksana dan ramah. Sikap ini, misalnya, tercermin pada penolakannya terhadap ekstremisme beragama, yang gemar memusuhi kelompok tak sepaham, sejak kiprahnya di dunia kepesantrenan.

Attauhidiyyah Giren

Karenanya, Pesantren Al-Awwabin dan jaringannya hingga sekarang gencar menebar karakter Islam yang ramah melalui kegiatan keaswajaan. Setiap Kamis pesantren ini pun senantiasa dipadati jamaah Muslimat NU pada acara pengajian asuhan Abuya sendiri. Sebagian alumni bahkan membentuk dan aktif dalam forum “Brigade Aswaja”, sebuah wadah penyadaran dan kajian ilmiah menghadapi tantangan ekstremisme.

Seperti pesantren pada umumnya, Pesantren Al-Awwabin tumbuh dari majelis taklim sederhana di tanah pribadi pengasuh, Jl. Tebet-Barat VII Jakarta Selatan. Setelah mengembangkan sayapnya selama empat puluh tahun, sekarang Pesantren Al-Awwabin II (khusus putri) juga berdiri di bidang tanah seluas 4 hektar di Bedahan, Sawangan, Depok.

Di samping mendalami kitab-kitab salaf dan tahfid al-Qur’an, Pesantren Al-Awwabin juga membuka sekolah formal untuk jenjang Madrasah Ibtidai’iyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA), sejak awal diresmikan Menag dan Ketum PBNU tahun 1983. Mengikuti perkembangan mutakhir, pesantren ini pun mengoperasikan radio, pendidikan teknologi informasi, seni drumband, dan lain-lain.

Menurut Ustad Fathurrahman, salah satu pimpinan pesantren, unsur materi ilmu-ilmu salaf tergolong langka di pesantren-pesantren kawasan Jabodetabek. Kecenderungan untuk menerapkan kurikulum modern menjadikan sejumlah pesantren meminggirkan kitab-kitab kuning dari disiplin umum lainnya.

Di tengarai, 70 % dari pesantren di wilayah Jabodetabek telah beralih menjadi pesantren modern. Meskipun Pesantren Al-Awwabin mengadopsi model pendidikan modern, namun ia tak mau kehilangan akar tradisi keislamannya.

“Di sini beruntung masih menggalakkan kitab-kitab salaf dalam pendidikannya,” ujar Fathurrahman kepada Attauhidiyyah Giren usai wirid sembahyang Isya’ di lingkungan pesantren.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? ? : ? Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Olahraga, Kyai, Pondok Pesantren Attauhidiyyah Giren

Senin, 15 Agustus 2016

Ahok dan Kampanye SARA di Pilkada Jakarta

Pilkada serentak pada bulan Februari 2017 akan diselenggarakan di 101 daerah, tetapi yang membetot perhatian publik di seluruh Indonesia adalah pilkada DKI Jakarta dengan tokoh utamanya, Basuki Cahaya Purnama yang akrab disebut Ahok, petahana yang ingin maju lagi sebagai gubernur untuk periode 2017-2022.

Hal yang menarik adalah posisi Ahok sebagai non-Muslim di tengah-tengah penduduk Jakarta yang mayoritas Muslim dan latar belakangnya yang berdarah Tiongkok serta karakternya yang lugas ketika berbicara yang di luar kebiasaan politisi yang mengedepankan kesantunan dalam berbicara dan bersikap. Posisi kantor media massa arus utama yang sebagian besar berada di Jakarta juga menyebabkan segala pernak-pernik mengenai pilkada Jakarta mudah diakses dan “digoreng”.

Ahok dan Kampanye SARA di Pilkada Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahok dan Kampanye SARA di Pilkada Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahok dan Kampanye SARA di Pilkada Jakarta

Sebagai sebuah kontestasi politik untuk merebut hati rakyat Jakarta, pihak-pihak yang bersaing berusaha untuk menampilkan citra dirinya dengan sebaik-baiknya sementara pihak lawan digambarkan sebagai calon yang tidak layak untuk memimpin Jakarta. Media massa menjadi alat yang ampuh untuk membangun opini dari masing-masing pihak.

Attauhidiyyah Giren

Dalam konteks ini, tim sukses pihak petahana ingin menonjolkan prestasi yang telah dicapai selama pemerintahannya. Karena itu, isu yang diangkat adalah sikap Ahok yang antikorupsi, birokrasi yang kini lebih tertata, dan tentu saja keberaniannya dalam mengatasi berbagai tantangan di ibukota yang memang keras. Bagi yang ingin menjegalnya, maka isu yang diangkat soal isu gaya bicaranya yang dianggap tidak sopan, reklamasi pantai Jakarta, penggusuran, dan lainnya. Berkampanye dan berpromosi untuk memenangkan kandidat yang diusung merupakan hal yang sah-sah saja. Semua kecap adalah nomor satu, tidak ada kecap nomor dua.

Di luar perdebatan baik atau buruknya kebijakan yang diambil Ahok selama saat ini, sayangnya masih saja ada kampanye hitam dengan menggunakan isu SARA. Beberapa waktu lalu ada demo di Bundaran Hotel Indonesia (HI) di Jakarta untuk mengampanyekan “jangan memilih pemimpin kafir”. Dalam perbincangan-perbincangan informal di warung atau pertemuan-pertemuan kecil, juga sering dibahas identitasnya sebagai keturunan Tiongkok yang berkuasa di tanah Betawi.

Attauhidiyyah Giren

Undang-Undang Dasar Indonesia dan UU serta peraturan turunannya memberikan hak kepada seluruh warga negara Indonesia untuk memilih atau dipilih, apa pun agamanya, dari mana pun asalnya. Sistem demokrasi yang dianut ini bertujuan untuk memilih pemimpin terbaik dari berbagai calon yang ada. Karena itulah, dalam negara yang demokrasinya yang sudah matang, rakyat menilai calon pemimpin dari kapasitasnya untuk mengelola pemerintahan. Karena itu jugalah, Sadiq Khan, seorang Muslim bisa menjadi walikota London, sekalipun Muslim merupakan penduduk minoritas di Inggris.

Bagi kelompok-kelompok yang selama ini mengampanyekan “jangan pilih pemimpin kafir” mereka ternyata juga membangga-banggakan terpilihnya Sadiq Khan. Pada satu sisi, mereka berharap negara lain menggunakan asas pluralitas sehingga memungkinkan Muslim bisa terpilih menjadi pemimpin, tetapi di sisi lain mereka tidak rela digunakannya asas pluralitas ini jika ada pemimpin non-Muslim yang terpilih di daerah yang didominasi Muslim. Ini menunjukkan sebuah sikap yang tidak konsisten dan mau menang sendiri.

Masyarakat juga harus hati-hati terhadap partai politik yang suka “menjual ayat” untuk kepentingan pragmatisme politik jangka pendek. Satu saat mereka menggunakan dalil bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin saat calon yang mereka usung laki-laki, tetapi di daerah lain mereka mendukung calon perempuan karena potensi kemenangannya besar. Pada daerah lain, ketika calon non-Muslim memiliki potensi besar terpilih, mereka menggunakan ayat yang membolehkan non-Muslim memimpin, tetapi dalam kasus Jakarta, mereka menggunakan ayat lainnya yang melarang Muslim memilih pemimpin kafir. Ayat-ayat suci Al-Qur’an digunakan sekehendak hatinya sesuai dengan kepentingan yang dibawa.

Penggunaan isu-isu SARA untuk tujuan jangka pendek guna memenangkan calon tertentu jelas-jelas berpotensi merusak keragaman dan harmoni sosial yang selama ini sudah berjalan dengan baik di Indonesia. Para pendiri bangsa telah berkorban dan bersusah payah mendirikan bangunan Indonesia dengan segala keanekaragaman yang ada di dalamnya. Kita bisa melihat contoh-contoh dari bangsa lain yang dilanda konflik tak berkesudahan karena adanya sekat-sekat sosial yang dibangun atas kepentingan sempit kelompok tertentu.

Fenomena penggunaan isu SARA dalam pilkada ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga terjadi di daerah pemilihan lainnya, yang sayangnya kurang terekspos secara nasional, pada daerah-daerah yang jauh dari jangkauan media atau yang isunya kurang seksi untuk dipublikasikan secara nasional. Dengan tidak adanya pengawasan publik, tentu saja penggunaan isu-isu SARA ini berjalan dengan baik untuk meraih kemenangan. Tak heran, kualitas kepemimpinan di sebagian besar daerah di Indonesia kurang baik. Politik dinasti di mana ayah digantikan oleh anaknya untuk menjadi bupati atau walikota, banyaknya korupsi pemimpin daerah yang ditangkap karena korupsi menjadi petunjuk bahwa sistem demokrasi yang masih sekadar formalitas dan penggunaan isu-isu SARA ini telah menyengsarakan rakyat.

Jika pemimpin yang terpilih hanya memiliki kualitas medioker, yang paling dirugikan tentu rakyat yang harus menderita selama lima tahun ke depannya karena pemimpinnya tidak mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang kompleks. Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar jika bupati dan walikotanya merupakan orang terbaik pada tingkatannya, gubernurnya juga orang paling kompeten, dan presidennya juga orang terbaik dari yang terbaik. Tantangan dalam menghadapi persaingan dunia begitu nyata, tak bisa jika menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada orang yang kualitasnya asal-asalan. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Humor Islam, Nahdlatul Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 13 Agustus 2016

PMII Ya’qub Husein Bekali Mahasiswa Baru Teknik Menulis Karya Ilmiah

Jombang, Attauhidiyyah Giren. Pimpinan Komisariat PMII Ya’qub Husein (PMII YH) STIT Al-Urwatul Wutsqo kecamatan Diwek, kabupaten Jombang mengadakan pelatihan karya tulis ilmiah untuk mahasiswa baru dengan tata cara penulisan karya tulis ilmiah yang baik dan benar. Pelatihan ini berlangsung di balai desa Bulurejo yang tidak jauh dari kampus setempat.

Penyelenggara menghadirkan Ketua Bidang Kaderisasi PMII Jombang Chairul Rizal untuk menyampaikan materi teknik menulis makalah yang benar. Sedangkan pengantar opini disampaikan Wartawan Jawa Pos Radar Jombang Romza.

PMII Ya’qub Husein Bekali Mahasiswa Baru Teknik Menulis Karya Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ya’qub Husein Bekali Mahasiswa Baru Teknik Menulis Karya Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ya’qub Husein Bekali Mahasiswa Baru Teknik Menulis Karya Ilmiah

Acara yang bertajuk “Konstruksi mahasiswa cerdas menulis” itu dihadiri kurang lebih 20 mahasiswa baru dan seluruh Pengurus Komisariat PMII ini. Ketua PMII YH Rif’atuz Zuhro mengatakan, kegiatan semacam ini penting diadakan bagi mahasiswa baru sebagai wadah untuk menumbuhkan kecintaannya di dunia tulis menulis.

Attauhidiyyah Giren

“Kegiatan ini sebagai gerbang awal bagi mahasiswa baru untuk menumbuhkembangkan potensi tulis-menulis,” kata Zuhro saat memberikan sambutan, Ahad (11/10) siang.

Attauhidiyyah Giren

Sementara Romza menyarankan peserta untuk terus membiasakan menulis serta menekuninya. Karena hal itu akan membantu mempertajam kualitas tulisannya. “Tidak ada penulis langsung terkenal, semuanya dimulai dari bawah. Salah satu cara belajar yang baik adalah membaca tulisan dari penulis terkenal. Pelajari kalimat dan bagaimana sang penulis mengungkapkan buah pikirannya,” ujar Romza.

Ia menambahkan, hampir semua surat kabar di Indonesia sudah menyediakan rubrik tulisan dan honorarium, termasuk opini. (Syamsul/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sunnah, Hikmah, Kajian Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 06 Agustus 2016

Kader Baru PMII UI Dikenalkan Lagu Hubbul Wathon

Depok, Attauhidiyyah Giren. Pengurus PMII Depok memperkenalkan lagu Hubbul Wathon Minal Iman karya KH Abdul Wahab Chasbullah kepada puluhan peserta Mapaba di villa Jonjon, Bogor, Jumat-Ahad (28-30/11). Selepas sembahyang Ashar, mereka mengajak peserta menyanyikan lagu perjuangan.

Lagu yang mengandung pembangkitan semangat cinta Tanah Air ini, sengaja dihadirkan di kalangan peserta di tengah banyaknya ideologi yang mencoba mengusik kebhinekaan bangsa Indonesia.

Kader Baru PMII UI Dikenalkan Lagu Hubbul Wathon (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Baru PMII UI Dikenalkan Lagu Hubbul Wathon (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Baru PMII UI Dikenalkan Lagu Hubbul Wathon

“Lagu ini menunjukkan betapa besarnya rasa cinta dan pengorbanan kaum santri terhadap proses pendewasaan bangsa”, tegas Alfany, salah seorang pemateri Mapaba.

Attauhidiyyah Giren

Peserta berasal dari berbagai fakultas di UI. Selain mereka, turut pula peserta Mapaba asal STAN. Mereka tidak hanya dilatih kemampuan pengembangan softskill, namun juga diimbangi dengan aspek spiritual melalui mujahadah.

Attauhidiyyah Giren

“PMII sebagai pergerakan dengan roh aswaja harus menempatkan aswaja menjadi prioritas utama dalam proses Mapaba,” terang pemateri lainnya Ahmad Solehan yang lazim disapa Kang Alex.

Untuk menginternalisasikan nilai-nilai keaswajaan, peserta juga diajak bermain dalam bentuk game yang mengasyikkan sambil memperdalam apa itu aswaja. (M Agus Fuat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Warta, Kajian Attauhidiyyah Giren

Selasa, 26 Juli 2016

Kini Dakwah NU Mesti dengan Kerja Nyata

Jember, Attauhidiyyah Giren. NU beserta lembaga dan badan otonomnya diharapkan untuk berdakwah tidak hanya melulu melalui pendekatan lisan (mauidzah hasanah), tapi juga menggunakan pendekatan sosial. Direktur Aswaja Center PCNU Jember Ustadz Abdul Haris mengatakan, pendekatan kerja nyata saat ini harus lebih dikedepankan, misalnya peduli kepada warga yang kurang beruntung, membantu anak yatim, advokasi terhadap warga yang bermasalah dan lain sebagainya.?

Sebab, kata dia pada saat menjadi pemateri pada pertemuan Forum Komunikasi Pengurus Muslimat NU di Pondok Pesantren Raudlatul Jannah, Mayang, Jember, Jumat (12/5), pendekatan sosial cukup mujarab untuk menyampaikan pesan dakwah.?

Kini Dakwah NU Mesti dengan Kerja Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)
Kini Dakwah NU Mesti dengan Kerja Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)

Kini Dakwah NU Mesti dengan Kerja Nyata

Menurutnya, pendekatan sosial menjadi penting mengingat kebutuhan masyarakat cenderung mengarah pada "kerja nyata" tersebut. "Mauidzah hasanah juga penting, tapi kerja nyata untuk umat, sungguh sangat diharapkan," ucapnya.

Ia menambahkan, saat ini masyarakat masih pragmatis dalam menyikapi sesuatu. Sehingga siapa pun yang memberi manfaat paling besar, terutama dari sisi materi, itulah yang diikuti.?

Buktinya, tidak jarang anggota masyarakat yang asalnya berafiliasi dengan NU, tapi akhirnya pindah haluan. Salah satu penyebabnya adalah karena mereka tergiur oleh kerja nyata tersebut.?

Attauhidiyyah Giren

"Ini harus jadi perhatian kita semua. Sudah banyak warga kita ikut kelompok lain karena sering diberi sembako, pengobatan gratis dan sebagainya," lanjut Ustad Abdul Haris.

Sementara itu, Ketua PC Muslimat NU Jember, Nyai Hj. Emi Kusminarni menekankan pentingnya penguatan struktur organisasi hingga ? tingkat ranting.?

Masing-masing ketua ranting, katanya, minimal bisa mendampingi 5 majelis taklim, agar kegiatan-kegiatannya tetap sesuai dengan ajaran Ahlussunnah wal-Jamaah (Aswaja) ala NU.?

Attauhidiyyah Giren

"Kami juga berpesan agar pengurus Muslimat NU di semua tingkatan bisa mengumpulkan zakat untuk dibagikan kepada mereka yang berhak," urainya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kajian, Tegal Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 23 Juli 2016

Doa Seribu Yatim Untuk Indonesia dan Palestina

Surabaya, Attauhidiyyah Giren. Sebanyak seribu anak yatim dan kalangan dhu’afa melantunkan doa bersama untuk perdamaian dan keselamatan anak-anak Palestina di hotel Novotel, Surabaya, Selasa (15/7). Penerima santunan yang difasilitasi Badan Amil Zakat Nasional itu menerbangkan ratusan balon sebagai tanda kebebasan dan perdamaian.

Bersama Wagub Jatim H Saifullah Yusuf, mereka dengan kompak menyerukan, “Save Palestine Children!”. Selain berbuka puasa, penerima santunan membawa pulang alat sekolah berupa tas, kelengkapan alat tulis-menulis, dan uang saku.

Doa Seribu Yatim Untuk Indonesia dan Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Seribu Yatim Untuk Indonesia dan Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Seribu Yatim Untuk Indonesia dan Palestina

Semua bantuan bersumber dari para donatur Baznas Jatim. Dana yang terkumpul di Baznas Jatim ini selanjutnya didistribusikan kepada mereka yang berhak menerima dengan mekanisme survei dan seleksi sesuai syariat.

Attauhidiyyah Giren

Menurut Kepala Bidang Pengembangan dan Pengumpulan Sekretariat Baznas Jatim Abdul Kholik, santunan ini merupakan kali ketiga Baznas Jatim mengadakan kegiatan buka puasa bersama. Dua tahun lalu, kerja sama di bidang sosial ini sudah terlaksana dengan lancar.

Attauhidiyyah Giren

Selain di Hotel Novotel, imbuh Kholik, tahun ini ada dua hotel lain dan satu rumah sakit bersedia menjadi tuan rumah untuk kegiatan serupa, tepatnya di Hotel Ibis, Hotel Mercure Grand Mirama, dan RSU Haji Surabaya.

“Buka puasa di Hotel Ibis pada 10 Juli lalu. Sedangkan di RSU Haji Surabaya rencananya santunan dilaksanakan pada 19 Juli dan di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya pada 22 Juli 2014 nanti,” ujar Kholik. (Abdul Hamid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pondok Pesantren, Budaya Attauhidiyyah Giren

Selasa, 28 Juni 2016

Pemblokiran Situs Religius Radikal Tidak Bijak

Jakarta, Attauhidiyyah Giren? . Pemblokiran situs-situs yang bernafas Islam di media sosial dinilai sebagai tindakan gegabah dalam menangkal paham ISIS di Indonesia. Tindakan BNPT dan Menkominfo ini tidak bisa dibenarkan. Sebab untuk menangkal berkembangnya paham ISIS di Indonesia tidak perlu pemblokiran situs keagamaan, cukup menguatkan kembali paham nasionalisme.

Pemblokiran Situs Religius Radikal Tidak Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemblokiran Situs Religius Radikal Tidak Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemblokiran Situs Religius Radikal Tidak Bijak

“Pemicu utama berkembangnya paham-paham radikal di negeri ini karena meredupnya rasa nasionalisme yang selama ini menjadi kekuatan besar bagi kita untuk membangun bangsa Indonesia,” kata Sekretaris PKC PMII Sumut Darwin Sipahutar dalam rilisnya, Jumat (3/4).

Selain itu penutupan situs ini lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Di satu sisi pemerintah menunjukkan arogansinya sebagai anti agama. Padahal bangsa ini didirikan atas dukungan seluruh pemeluk agama dan suku-suku di Indonesia. Negara pun menjamin kehidupan beragama sebagaimana diatur dalam UU.

Attauhidiyyah Giren

Di sisi lain ini sebagai ujian besar bagi umat Islam Indonesia bahwa akan semakin derasnya arus anti terhadap Islam (Islamophobia). Skenario besar inilah yang sedang dijalankan oleh Menkominfo dalam mempersempit ruang gerak Harokah dan Halaqoh umat Islam yang mengajarkan konsep rahmatan lil alamin untuk membangun bangsa ini.

Attauhidiyyah Giren

Ironisnya situs-situs yang mengarahkan atau mengajarkan tentang separatisme di Indonesia tidak diblokir, lalu kenapa situs-situs Islam yang diblokir? Apakah situs-situs Islam dianggap lebih berbahaya dibanding situs-situs penyebaran paham separatis bagi kelangsungan bangsa ini.

“Menkominfo jangan menjadikan pemblokiran ini untuk mengalihkan isu dari kenaikan BBM. Kalau ini yang terjadi, saya yakin pemerintahan Jokowi tidak akan berjalan mulus.”

Untuk itu, PKC PMII Sumut meminta BNPT dan Menkominfo secara sadar dan insaf harus meminta maaf kepada umat Islam Indonesia atas perbuatan yang tidak terpuji tersebut. Ini sebagai langkah konkret pemerintah dalam menjaga keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia.

Pihak Darwin berencana mengajak partisipasi seluruh organisasi keislaman untuk turun ke jalan dan meminta pertanggungjawaban BNPT dan Menkominfo jika tidak segera menghentikan pemblokiran situs-situs Islam itu. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Bahtsul Masail, Berita, Amalan Attauhidiyyah Giren

Kamis, 19 Mei 2016

Presiden Jokowi Lantik UKP-PIP, Ini Harapan NU

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Presiden Joko Widodo telah melantik Dewan Pengarah dan Eksekutif Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Pelantikan ini, berlangsung di Istana Negara, Rabu (7/6).?

Presiden Jokowi Lantik UKP-PIP, Ini Harapan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Jokowi Lantik UKP-PIP, Ini Harapan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Jokowi Lantik UKP-PIP, Ini Harapan NU

UKP-PIP diharapkan dapat mendorong pembelajaran yang segar dan kongkret atas nilai-nilai Pancasila. Di tengah benturan ideologi di Indonesia, UKP-PIP memiliki peran strategis untuk mengkampanyekan Pancasila dalam perspektif kekinian.?

Dewan Pengarah UKP-PIP, yakni: Megawati Soekarno Putri, Try Sutrisno, Prof Dr (HC) KH Maruf Amin, Prof Dr KH Said Aqil Siroj, Prof Dr Syafii Maarif, ? Prof Dr Mahfud MD, Sudhamek, Andreas Anangguru Yewangoe, dan Wisnu Bawa Tenaya. Adapun Kepala UKP-PIP, Yudi Latif.

Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj yang menjadi Dewan Pengarah UKP-PIP, mengungkapkan harapannya atas kinerja Unit Kerja Kepresidenan ini.?

"Selama ini, bangsa Indonesia telah mendapat tantangan yang demikian besar, khususnya dalam prinsip dan ideologi berbangsa. Warga negeri ini, harus memahami kembali Pancasila dalam perspektif yang segar, kontekstual. NU sejak awal, konsisten merawat dan menjaga Pancasila," ungkap Kiai Said.?

Attauhidiyyah Giren

Ketua Umum Pagar Nusa Nahdlatul Ulama, M. Nabil Haroen, menyatakan harapan besarnya atas UKP-PIP. "NU telah membuktikan, dalam segenap narasi sejarahnya, betapa warga Nahdliyyin konsisten menjaga Pancasila, sebagai ideologi negara dan prinsip kebangsaan. Bahkan, NU jelas membangun jembatan antara niali-nilai Islam dan Pancasila, yang harmonis dan kontekstual," jelas Nabil.?

"Kita dapat membaca rangkaian yang jelas, sejak 1945, 1965, hingga 1984, hingga era Reformasi, NU memaknai momentum besar kebangsaan dengan rujukan Pancasila dan nilai-nilai Islam. Untuk sekarang ini, Pancasila harus menjadi prinsip kebangsaan di tengah ancaman ideologi transnasional," terang Nabil.?

Nabil menambahkan, untuk sekarang, UKP-PIP dapat mengembangkan program internalisasi Pancasila yang lebih kontekstual. "UKP-PIP harus didorong menjadi unit kerja yang memiliki peran signifikan menguatkan, mengkampanyekan Pancasila agar lebih segar. Seraya, menyiapkan strategi membendung ideologi transnasional yang mengancam negeri ini. Tapi, jangan sampai Pancasila hanya sebagai stempel, harus ada pemaknaan dan program relevan yang terstruktur dan terkoneksi dengan ormas-ormas di negeri ini," harapnya.?

Nahdlatul Ulama, selama ini menjadi organisasi kemasyarakatan yang paling konsisten merawat Pancasila, ketika ideologi negara ini mengalami ancaman sepanjang sejarah bangsa. (Red: Fathoni)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Internasional, Budaya Attauhidiyyah Giren

Warga Bogor Peringati 40 Hari Wafat Kiai Sahal

Bogor, Attauhidiyyah Giren. Puluhan warga Kota Bogor, menggelar peringatan 40 hari wafatnya Rais Am PBNU KH Sahal Mahfudh Jum’at malam (7/3). Tahlilan dipusatkan di kediaman Direktur Recognition and Mentoring Program Institut Pertanian Bogor (RAMP IPB), Dr Ir Aji Hermawan MM, Jalan Bambu Apus, Taman Yasmin, Kota Bogor, Jawa Barat.

Hj. Teti Hartati, MSi selaku ketua panitia kegiatan mengatakan, acara tersebut digelar sebagai bentuk doa bagi KH Sahal Mahfudh, yang selama hidupnya dikenal sebagai ulama ahli fiqh yang sangat hati-hati, sederhana, zuhud, dan produktif dalam menelurkan karya ilmiah.

Warga Bogor Peringati 40 Hari Wafat Kiai Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Bogor Peringati 40 Hari Wafat Kiai Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Bogor Peringati 40 Hari Wafat Kiai Sahal

“Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari perjalanan hidup KH Sahal Mahfudh. Beliau panutan umat Islam Indonesia. Kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi bangsa ini,” ujar Teti yang juga aktivis Fatayat NU Kota Bogor.

Attauhidiyyah Giren

Kegiatan tahlil 40 hari wafatnya KH Sahal Mahfudz diikuti sekitar 50 orang, yang berasal dari sekitar Komplek Taman Yasmin. Hadir pula para aktivis dan tokoh NU Kota Bogor.

Attauhidiyyah Giren

KH Sahal Mahfudh meninggal dunia pada Jumat dini hari, (24/1). Jenazah almarhum dikebumikan di tempat kelahiran di Kajen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Pemimpin tertinggi di organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia ini wafat di usia 76 tahun, setelah sebelumnya berjuang dari kondisi jantung yang kurang baik.

Selain menjabat Rais Am PBNU, Mbah Sahal, panggilan akrabnya, juga merupakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat tiga periode terakhir. Ia memimpin sejak tahun 1989 hingga wafatnya. Dia mengemban amanah sebagai rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU), Jepara, Jawa Tengah.

Kiai Sahal sebagai ulama NU dengan kecintaan luar biasa terhadap buku, koleksi Kiai Sahal mencapai 2.000 buku. Ia juga dikenal sebagai ulama ahli ushul fiqh terkemuka Indonesia.

Beberapa diantara karyanya yang menjadi rujukan santri, yakni Intifakh al-Wadjin, Faidh al-Haja ala Nail al-Raja Mandhumah Safinat al-Naja, Thariqat al-Hushul ala Ghayat al-Wushul dan a-Bayan al-Mulamma an Alfadh al-Luma (al-Syairazi).

Berpusat dari pesantren, Kiai Sahal mendorong kehidupan masyarakat di Desa Kajen melalui pengembangan pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Meski hanya sebuah desa di Pati, Jawa Tengah, Kajen memiliki tak kurang dari 40 pesantren, termasuk Mathaliul Falah.

Gelar doktor honoris causa disematkan kepada Kiai Sahal pada 18 Juni 2003 untuk pengembangan ilmu fikih sosialnya. Doktor kehormatan itu datang dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. (Ahmad Fahir/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Daerah Attauhidiyyah Giren

Kamis, 12 Mei 2016

ISNU Dorong Pemerintah Perkuat Posisi Geopolitik

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Konstelasi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang terletak diantara benua Asia dan Australia serta di antara samudra Pasifik dan samudra Hindia, menempatkan Indonesia sebagai kawasan. Selain wilayah daratan yang mengandung kekayaan alam yang melimpah di sektor pertanian, perkebunan dan pertambangan, wilayah perairan Indonesia juga sangat strategis karena posisinya sebagai lalu lintas perdagangan dunia. 

ISNU Dorong Pemerintah Perkuat Posisi Geopolitik (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Dorong Pemerintah Perkuat Posisi Geopolitik (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU Dorong Pemerintah Perkuat Posisi Geopolitik

Laut Indonesia bukan hanya menyimpang potensi ekonomis yang luar biasa, tetapi juga penyangga ekologi, militer dan pertahanan, serta transportasi dan perdagangan internasional. Karena itu, pemerintah Indonesia harus mampu membaca potensi dan daya tawar Indonesia serta memperkuat posisinya dalam percaturan geopolitik dunia yang berubah. 

Hal ini disampaikan Ali Masykur Musa, ketua umum PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) dalam diskusi panel ahli ISNU putaran keempat bidang geopolitik dan diplomasi luar negeri di gedung PBNU, Jl Kramat Raya 164 Jakarta (5/11). Hadir beberapa narasumber, antara lain Eddy Prasetyono (UI), Mayjend Abdul Chasib (Lemhanas), dan Majend Agus Suryabakti (BNPT).

Attauhidiyyah Giren

Menurut Ali, sekurang-kurangnya ada dua faktor yang mengharuskan Indonesia menata ulang posisinya agar lebih kuat dan mantap di panggung dunia. Pertama, geopolitik dunia tengah berubah, yang ditandai oleh pergeseran pusat kekuatan ekonomi dan pertahanan dunia dari Atlantik ke Pasifik. Setelah Amerika dihantam krisis –yang hingga kini belum sepenuhnya pulih- kemudian disusul dengan gelombang panjang resesi di Eropa, Asia tampil sebagai kekuatan ekonomi yang menjanjikan. Negara-negara besar seperti Amerika kini memberi perhatian lebih kepada perkembangan di Asia Pasifik. Dalam kunjungan Presiden Obama ke Australia terkait penempatan marinir di Darwin, ia menyatakan bahwa prioritas utama pemerintah AS adalah Asia Pasifik. 

Attauhidiyyah Giren

Pernyataan ini diperkuat oleh Menteri Pertahanan AS adalah Asia Pasifik. Pernyataan ini diperkuat oleh Menteri Pertahanan AS, Leon Panette, yang menegaskan bahwa AS akan menempatkan 60% armada militer di Asia Pasifik dan secara bertahap akan menggeser fokus penempatan kekuatan militer dari Atlantik ke Paisfik. 

Dalam konstelasi dunia yang berubah ini, negara-negara di Asia Pasifik seperti China, Jepang, India dan Indonesia memiliki posisi sangat strategis. Indonesia sendiri kini tangah mendapat sorotan dunia karena ekonominya terus bertumbuh di atas 6 persen setiap tahun dan diperkirakan akan menjadi The Next Economic Superpowers pada 2030 bersama China, India, dan Korea Selatan.

Kedua, Indonesia mempunyai potensi kelautan yang luar biasa yang penting secara geopolitik dan ekonomi. Secara geopolitik, Indonesia mempunyai alur laut kepulauan Indonsia (ALKI) yang sangat strategis karena sekitar 40% perdagangan dunia melalui selat dan perairan Nusantara. Selat Malaka yang menghubungkan pulau Sumatera dan Semenanjung Malaysia, misalnya meupakan jalur perairan tersibuk di dunia setelah selat Hormuz di teluk Persia. 

Banyak negara yang menggantungkan APBN dan ekspor impornya dari perairan Indonesia seperti Australia, Singapura, Jepang dan China. Sekitar 80-85% APBN Australia dan Singapura bergantung pada lalu lintas transportasi di perairan Indonesia. Jepang dan China menggantungkan 80 persen pasokan energinya dari Timur Tengah melalui Selat Malaka. 

Secara ekonomi, Indonesia mempunyai potensi kekuatan yang sangat besar yang belum dikembangkan secara optimal. Baru sekitar 23.42 persen dari potensi kekayaan laut yang dimanfaatkan. Pada tahun 2011, sektor kelautan dan perikanan hanya menyumbang Rp146.63 miliar Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNPB), padahal potensi ekonominya mencapai 171 miliar dolar AS atau setara dengan Rp1.624 per tahun dan bisa dignjot hingga Rp3.000 triliun per tahun dengan teknologi yang canggih. Karena itu, menurut Ali Masykur, Indonesia harus memanfaatkan potensi kelautannya baik secara geopolitik, ekonomi dan pertahanan untuk meningkatkan pengaruh dan daya tawar Indonesia di mata dunia. 

Dalam menyongsong kebangkitan Indonesia sebagai salah satu kandidat kekuatan ekonomi dunia dalam dekade ke depan, menurut Ali, pemerintah harus merombak paradigma pembangunan yang mengarusutamakan ekonomi dan pertahanan maritim sebagai tulang punggung pembangunan nasional.

Dalam kesempatan tersebut Ali Masykur juga menyatakan orientasi politik luar negeri Indonesia harus berorientasi ekonomi. Diplomat RI yang seharusnya menjadi show of window, bertindak pasif dalam soal ekonomi karena paradigmanya hanya ekonomi. 

Saat ini, Indonesia menduduki peringkat16 besar ekonomi dan diperkirakan tahun 2030 bisa menduduki peringkat 5 besar dengan syarat, salah satunya keofensifan politik luar negeri. 

“Indonesia bisa besar kebijakan politiknya kalau didukung diplomat yang paham geoekonomi,” paparnya. 

Sementara itu Edy Prasentyono dari UI menyatakan Indonesia anomali dalam kekuatan militer. Biasanya negara yang besar secara ekonomi dan geografi, umumnya secara militer juga kuat, kecuali posisi Indonesia di Asia Tenggara. Pengalokasian anggaran belanja negara untuk kepentingan militer dalam batas yang proporsional antara 2-5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) tidak menganggu secara ekonomi, bahkan bisa timbul sinergi karena kemampuan mengamankan aset negara dari pencurian asing. 

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Daerah, Pertandingan, IMNU Attauhidiyyah Giren