Minggu, 18 Maret 2018

Kiai se-Jatim akan Ikuti Konferensi Internasional di Pesantren Sukorejo Situbondo

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Jelang pemilu, Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi mengumpulkan ratusan kiai pengasuh pesantren se-Jawa Timur, di pesantren Sukorejo, Sukorejo, Probolinggo, 29-30 Maret 2014.

Sekretaris Jenderal Internasional Conference of Islamic Scholars (ICIS) itu mengemas pertemuan itu dalam bentuk konferensi internasional yang menghadirkan sejumlah narasumber dari dalam dan luar negeri. Rencananya, acara tersebut bakal dibuka oleh Menteri Agama Suryadharma Ali dan Wakil Menteri Luar Negeri Wardhana.

Kiai se-Jatim akan Ikuti Konferensi Internasional di Pesantren Sukorejo Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai se-Jatim akan Ikuti Konferensi Internasional di Pesantren Sukorejo Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai se-Jatim akan Ikuti Konferensi Internasional di Pesantren Sukorejo Situbondo

Hasyim Muzadi mengatakan, acara tersebut punya beberapa tujuan. Yaitu untuk dalam negeri, pihaknya akan memberikan pemahaman kepada kalangan pimpinan pesantren tentang demokrasi yang kini berkembang di Indonesia.

Attauhidiyyah Giren

"Nilai Pancasila kini ditinggalkan orang karena budaya politik dan hukum. Demokrasi politik sekarang tak seimbang dengan perkembangan demokrasi ekonomi," katanya kepada wartawan di kantor ICIS, Jakarta, Kamis (27/3/2014).

Menurutnya, demokrasi sekarang sedang dikuasai oleh pemilik modal. Akibatnya yang berkembang di Indonesia saat ini adalah demokrasi transaksional. "Maka tanggung jawab dari orang yang terpilih hasil pemilu legislatif dan pemilu presiden adalah mengembalikan Indonesia ke nilai-nilai Pancasila," terang kiai asal Bangilan Tuban ini.

Attauhidiyyah Giren

Acara tersebut, katanya, sengaja digelar di pesantren Sukorejo yang terbesar untuk wilayah timur Jawa Timur. Pesantren itu pulalah yang menjadi saksi sejarah lahirnya khittah NU saat Muktamar NU pada 1984.?

"Di pesantren ini pula NU memutuskan hubungan antara agama dan negara serta agama dan Pancasila. Saat itu, NU yang dipimpin Kiai Ahmad Shiddiq menjadi satu-satunya ormas Islam ? yang mengakui Pancasila sebagai bentuk negara," katanya.

Selain itu, katanya, kegiatan tersebut juga punya tujuan untuk level internasional. Yaitu soal perdamaian di kawasan Timur Tengah. Karena itulah, acara ini juga mengundang sejumlah pembicara dari Timur Tengah. Yaitu Syiria, Qatar, Maroko, Aljazair, dan Irak. "Kami ingin melihat perkembangan Timur Tengah setelah Arab Spring yang masih ditandai dengan pergolakan di Mesir dan Syiria," terangnya.

Terkait itu, Hasyim mengatakan, melalui acara itu, pihaknya ingin mengingatkan kepada umat Islam di seluruh dunia bahwa moderasi adalah jalan yang terbaik untuk menciptakan perdamaian di dunia. "Untuk umat Islam di Indonesia, kita ajak kembali ke Islam moderat yang rahmatan lil alamin," jelasnya.

Selama ini, katanya, ICIS yang dipimpinnya telah mengembangkan pengertian dan implementasi Islam yang rahmatan lil alamiin, promosi Pancasila di luar negeri sebagai alternatif ideologi negara pluralis ? tanpa terikat dengan sekularisme atau fundamentalisme.?

"Di dalam negeri ICIS menangkal terorisme global yang masuk ke Indonesia dengan pencerahan ahlussunnah dan faham moderat. Semua langkah ini menuju terjadinya moderasi nasional dan internasional.?

Lebih dari itu, Hasyim ingin mengangkat kembali marwah NU, kiai dan ulama Indonesia yang belakangan dinilai oleh pihak luar negeri mengalami penurunan. "Perlu kita angkat kembali marwah NU dan pesantren di mata dunia internasional," katanya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Makam, Kajian Sunnah, Humor Islam Attauhidiyyah Giren

Minggu, 04 Maret 2018

Resolusi Jihad NU Masih Berlaku Hingga Saat Ini

Surabaya, Attauhidiyyah Giren

Tanggal 22 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional sejak setahun yang lalu oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo. Hal ini berdasarkan pada Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 yang diresmikan pada saat Deklarasi Hari Santri Nasional di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (22/10/2015).

Resolusi Jihad NU Masih Berlaku Hingga Saat Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Resolusi Jihad NU Masih Berlaku Hingga Saat Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Resolusi Jihad NU Masih Berlaku Hingga Saat Ini

Alasan penetapan Hari Santri Nasional sendiri menurut Presiden yang kerap disapa dengan sapaan Jokowi ini salah satunya adalah untuk meneladani sikap rela berkorban untuk bangsa dari santri. "Semangat kebangsaan, cinta Tanah Air, rela berkorban untuk bangsa dan negara," ujar Presiden yang akrab disapa dengan sebutan Jokowi tersebut saat Deklarasi Hari Santri Nasional.

Sabtu, (22/10) setahun setelah Deklarasi Hari Santri Nasional, di berbagai belahan Indonesia mengadakan peringatan Hari Santri Nasional. Salah satunya di Surabaya yang dilaksanakan di Tugu Pahlawan. Dalam memperingati Hari Santri Nasional, 4444 santri Surabaya mengadakan upacara Hari Santri yang dipimpin langsung Ketua PWNU Jawa Timur KH Mutawakkil Alallah.

Attauhidiyyah Giren

Upacara Hari Santri Nasional ini diikuti badan-badan yang ada di bawah NU Surabaya ataupun yang memiliki keterkaitan dengan NU Surabaya, seperti Pagar Nusa, GP Ansor, Banser, PMII, IPNU, IPPNU, sekolah yang berada di bawah LP Ma’arif Surabaya, Muslimat NU, Fatayat NU, UNUSA dan masih banyak lagi lainnya.

Upacara ini sendiri berlangsung sebagaimana seperti upacara pada umumnya. Bedanya adalah dalam pelaksanaannya terdapat beberapa hal yang memang berhubungan dengan santri. Salah satunya tersebut adalah mengenai amanat yang disampaikan Kiai Mutawakkil yang berisi kisah bagaimana Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari yang menjadi latar belakang adanya Hari Santri.

Attauhidiyyah Giren

Menurutnya, sosok dari KH Hasyim Asy’ari wajib ditiru oleh santri saat ini. Hal itu dikarenakan kepribadian dari KH Hasyim Asy’ari yang menjadi santri selama hidupnya. “Tirulah Mbah Hasyim yang selalu menjadi santri,” tutur kiai yang menjadi pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo ini.

Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa Resolusi Jihad masih berlaku hingga saat ini karena tidak pernah ada pihak yang mencabutnya. Namun saat ini dalam pengertian yang berbeda. “Jihad saat ini berupa melawan anarkisme dan radikalisme. Jihad melawan narkoba,” jelas beliau.

Upacara ini juga dihadiri oleh ketua PCNU Surabaya, KH Achmad Muhibbin Zuhri. Saat ditanya mengenai pandangannya mengenai adanya Hari Santri Nasional ini, ia menjawab bahwa Hari Santri tidak hanya sebagi pengakuan negara terhadap perjuangan santri menghadapi penjajah, tapi juga untuk mengukuhkan etos santri supaya berperan lebih aktif dalam masyarakat. “Selain itu dengan adanya Hari Santri ini diharapkan mampu untuk meningkatkan kompetensi santri,” jelasnya.

Selain itu, ia juga berpesan kepada seluruh santri, khususnya yang berada di Surabaya agar meningkatkan kemampuannya. “Selain religius, santri harus meningkatkan kemampuan baik hard skill maupun soft skill. Supaya dapat memadukan antara keduanya,” pesannya saat ditanya mengenai pesan beliau kepada santri, terlebih yang berada di Surabaya.

Di akhir upacara ini, peserta upacara juga disuguhi dengan kesenian silat yang dibawakan oleh Pagar Nusa Surabaya, penampilan ini ternyata mampu memukau para hadirin yang ada di Tugu Pahlawan ini. (Ahmad Hanan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Halaqoh, Tokoh Attauhidiyyah Giren

Ini Cara IPNU-IPPNU Jombang Perkenalkan Organisasi dan Kegiatannya

Jombang, Attauhidiyyah Giren

Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur telah menetapkan jadwal dan sejumlah lokasi untuk program “Jumat Bahagia”.

Program tersebut untuk mengenalkan tentang IPNU-IPPNU dan kegiatan-kegiatannya kepada pelajar di Jombang setiap pekan (Jumat) disesuaikan dengan jadwal tersebut. Dalam perkembangannya, para pelajar diharapkan dapat mendirikan komisariat-komisariat di sekolahnya masing-masing. Di samping sosialisasi, PC IPNU-IPPNU setempat juga mengajak pelajar untuk bershalawat bersama.

Ini Cara IPNU-IPPNU Jombang Perkenalkan Organisasi dan Kegiatannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara IPNU-IPPNU Jombang Perkenalkan Organisasi dan Kegiatannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara IPNU-IPPNU Jombang Perkenalkan Organisasi dan Kegiatannya

Ketua PC IPNU Jombang, Abdul Haris mengatakan, pihaknya telah menetapkan beberapa sekolahan sebagai objek dilangsungkannya program tersebut. Ia juga sudah mengkoordinasikan kepada pihak sekolahan, termasuk setiap kepala sekolah dan kesiswaan.

“Untuk bulan Maret ini pada tanggal 4 di Balai Desa Watugaluh, tanggal 11 di SMP NU Banjarayar Peterongan, tanggal 18 ? di SMK NU Mojoagung dan tanggal 25 di MI Kebo Kicak, Dapur Kejambon, Jombang,” katanya kepada Attauhidiyyah Giren, Kamis (24/3).

Attauhidiyyah Giren

Sedangkan bulan April, lanjut dia, akan cukup beragam, dimulai dari tingkat sekolah dasar (SD) baik suwasta ataupun negeri. “Tanggal 1 di MI Mojongapit, Jombang, tanggal 8 MA Balongrejo Sumobito, tanggal 15, SDI Trunojoyo Rejoagung ngoro, tanggal 22 SDN Rejoagung Ngoro dan tanggal 29 april ? di MI banjarpoh pulorejo ngoro,” ujarnya.

“Kemudian di bulan Mei mendatang tanggal 6 di MTs Bandung Diwek, tanggal 13 MI Miftahul maarif sumberjo-pagak, tanggal 20 di Bareng, tanggal 27 Mei SMK Muallimat Cukir,” lanjutnya.

Adapun pada bulan Juni hingga Juli, program tersebut libur total, pasalnya bertepatan pada momen bulan Ramadlan dan hari raya dan sejumlah aktivitas sekolahan akan diliburkan. “Juni, bulan Ramadlan libur total, juga pada bulan Juli,” ungkapnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kajian Islam, Pondok Pesantren Attauhidiyyah Giren

Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri

Oleh Candra Malik

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illalaahu, Allahu Akbar. Allahu Akbar, wa lillaahil hamdu.

Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri

Gelombang ribuan malaikat selalu bertawaf dan shalat di Baitul Makmur di langit ketujuh. Ketika diperjalankan Allah dalam Isra Mikraj, Muhammad SAW berjumpa dengan Ibrahim AS di Rumah Allah yang diyakini segaris lurus dengan Kabah di Makkah itu. Sementara, lautan manusia bertawaf di Baitullaah di Tanah Haram.

Namun, Hamzah Fansuri, penyair Sufi dari Barus yang berada di bawah pendudukan Kasultanan Aceh pada kurun 1524-1668, memiliki sentuhan keindahan tersendiri mengabadikan kerinduannya pada Allah. Ia meyakini “kediaman” Allah tak jauh, yakni dalam hati manusia. Sebab, Tanah Haram bersemayam di hati insan beriman.

Attauhidiyyah Giren

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah

Mencari Tuhan di Bait al-Kabah

Dari Barus ke Qudus terlalu payah

Attauhidiyyah Giren

Akhirnya dapat di dalam rumah

Pengarang kitab Syarab al-Asyiqin (Minuman Pecinta yang Birahi) ini memberi pengaruh besar tidak hanya di semesta kesufian di tanah air. Ia juga menjadi rujukan penting di dunia kesusastraan hingga sekarang. Jika berbicara tentang Sastra Indonesia, niscaya kita tak bisa lepas dari Sastra Nusantara, termasuk Sastra Melayu.

Ketika percakapan sampai pada Sastra Indonesia, A. Teeuw mencatat Muhammad Yamin, yang kemudian dikenal sebagai salah seorang tokoh penting Sumpah Pemuda 1928 dan pendiri bangsa Indonesia, sebagai peletak tonggak. Sajaknya berjudul Bahasa, Bangsa pada 1921 dianggap membuka sastra Indonesia modern.

Selagi kecil berusia muda,

Tidur di anak di pangkuan bunda,

Ibu bernyanyi, lagu dan dendang

Memuji si anak banyaknya sedang;

Berbuai sayang malam dan siang

Buaian tergantung di tanah moyang.

Terlahir di bangsa, berbahasa sendiri

Diapit keluarga kanan dan kiri

Besar budiman di tanah Melayu

Berduka suka, sertakan rayu;

Perasaan serikat menjadi padu

Dalam bahasanya, permai merdu.

Meratap menangis bersuka raya

Dalam bahagia bala dan baya;

Bernafas kita pemanjangkan nyawa

Dalam bahasa sambungan jiwa

Di mana Sumatra, di situ bangsa,

Di mana Perca, di sana bahasa.

Andalasku sayang, jana bejana

Sejakkan kecil muda teruna

Sampai mati berkalang tanah

Lupa ke bahasa, tiadakan pernah

Ingat pemuda, Sumatra malang

Tiada bahasa, bangsa pun hilang.

Sungguh benar perkataan M. Yamin dalam puisi itu bahwa tiada bahasa, bangsa pun hilang. Oleh karena itu, saya bahagia menyambut gagasan para santri Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur ini. Gerakan Menulis Serentak 1.111 Sajak adalah gerakan kesadaran yang selayaknya diapresiasi dan didukung.

Gerakan dari dalam pesantren ini dapat membawa efek puncak gunung es jika digelindingkan. Apalagi, tak dapat dipungkiri, sastrawan Muslim dicatat sejarah mengoreskan pena kepenyairan. Dari Hamzah Fansuri hingga Nuruddin al-Raniri, dari Raja Ali Haji sampai Hamka. Dari Chairil Anwar hingga Acep Zamzam Noor. Dari Sunan Bonang sampai Raden Ronggowarsito. Dari Sutan Takdir Alisyahbana sampai Ahmad Mustofa Bisri. Dari H.B. Jassin hingga Emha Ainun Nadjib. Dari Asrul Sani sampai Mahbub Djunaidi. Dan, masih banyak lagi nama besar penyair Muslim, atau yang lebih khusus lagi dapat disebut sebagai penyair santri.

Nama Ronggowarsito yang abadi sebagai pujangga besar pun ternyata adalah santri Pesantren Tegalsari di Ponorogo, Jawa Timur, yang didirikan oleh Kiai Besar Hasan Besari pada awal abad 18. Salah satu dari sekian banyak syair yang ditulis Raden Mas Burham, nama kecil Ronggowarsito, adalah Serat Kalatidha.

?

Petikan:

Amenangi jaman edan

Ewuhaya ing pambudi

Melu ngedan ora tahan

Yen tan milu anglakoni

Boya keduman melik

Kaliren wekasanipun

Ndilalah kersa Allah

Begja-begjane kang lali

Luwih bedja kang eling klawan waspada

Terjemah Bebas:

Menyaksikan zaman gila

Serba susah dalam bertindak

Ikut gila tidak akan tahan

Tapi kalau tidak mengikuti (gila)

Tidak akan mendapat bagian

Kelaparan pada akhirnya

Namun telah menjadi kehendak Allah

Seberuntung-beruntungnya orang yang lalai

Lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada.

Sastrawan Ahmad Tohari dalam sejumlah kesempatan mendorong kalangan pesantren untuk melahirkan kembali penyair-penyair unggulan. Penulis trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, yang mengasuh Pesantren Al Falah di Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah ini terus mendorong tumbuh dan berkembangnya sastra Islam.

Tema tasawuf yang disarikan dari kandungan Al-Quran memang tidak pernah kering menginspirasi. Kitab Jatiswara yang berangka tahun Jawa 1711 hingga gubahannya, yaitu Suluk Tambangraras atau populer disebut Serat Centhini, yang berangka tahun 1742 (sekira 1814 Masehi), pun meneguhkan khazanah tasawuf itu.

Bagi masyarakat pesantren, yang sehari-hari bergaul dengan ilmu alat, yang salah satunya adalah balaghah, selayaknya sastra diyakini sebagai pena bertinta emas yang dengannya kalam-kalam indah dan berderajat adiluhung dapat diciptakan. Sastra santri patut ditumbuhkembangkan.

Terlebih, sejak 22 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional, kita perlu mendorong sastra santri sebagai perwujudan dari Resolusi Jihad. Penjajahan sesungguhnya adalah penjajahan terhadap bangsa. Dan, seperti yang disajakkan oleh Muhammad Yamin: tiada bahasa, bangsa pun hilang.

Kami lahir di Indonesia

minum airnya menjadi darah kami

Kami makan beras dan buah-buahan Indonesia menjadi daging kami

Kami menghirup udara Indonesia menjadi nafas kami

Kami bersujud di atas bumi Indonesia

Berarti bumi Indonesia adalah Sajadah kami

Bila tiba saatnya kami mati

Kami akan tidur dalam pelukan bumi Indonesia

Syair karya KH Zawawi Imron, Penyair "Celurit Emas" dari Madura ini adalah konfirmasi betapa wajib kita sendiri yang menyelamatkan bangsa dan bahasa Indonesia. Dan dengan puisi, kata Kiai Zawawi, kita dapat kembali menjadi putra ibu dan sekaligus putra bangsa dan tanah air dengan kesadaran penuh.

Selamat bertumbuh, sastra santri.

Jakarta, 10 Dzulhijjah 1437 H, 12 September 2016

Candra Malik, sastrawan sufi, Wakil Ketua Lesbumi PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kiai, Daerah, Hadits Attauhidiyyah Giren

Ambarawa Raih Juara Umum Kelima Kalinya pada MTQ Ke-6 Pringsewu

Pringsewu, Attauhidiyyah Giren - Pada gelaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) keenam tingkat Kabupaten Pringsewu yang digelar di Kecamatan Sukoharjo selama 3 hari mulai 22 sampai 24 Oktober 2017, Kecamatan Ambarawa berhasil menjadi juara umum. Raihan prestasi ini merupakan kelima kalinya bagi Kecamatan Ambarawa.

Trofi juara umum ini diserahkan oleh Ketua LPTQ Kabupaten Pringsewu Budiman kepada Camat Ambarawa Ani Sundari pada acara penutupan MTQ keenam yang dilaksanakan di Lapangan Pekon Siliwangi, Selasa (24/10) malam.

Ambarawa Raih Juara Umum Kelima Kalinya pada MTQ Ke-6 Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ambarawa Raih Juara Umum Kelima Kalinya pada MTQ Ke-6 Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ambarawa Raih Juara Umum Kelima Kalinya pada MTQ Ke-6 Pringsewu

Kecamatan Ambarawa sebelumnya telah meraih juara umum MTQ tingkat Kabupaten Pringsewu pada 2012, 2013, 2014 dan 2016. Dengan membawa 42 peserta dan 10 official pada 2017 ini kembali Kecamatan yang terkenal dengan sumber air Kerawang ini mampu menunjukkan dominasinya.

Pada kesempatan tersebut Ketua LPTQ yang juga Sekda Kabupaten Pringsewu mengingatkan bahwa tujuan utama dilaksanakannya MTQ bukanlah untuk sebuah kemenangan. Namun menurutnya pelaksanaan nilai-nilai dalam Al Quranlah yang penting untuk ditekankan.

Attauhidiyyah Giren

"Selamat kepada yang sudah berprestasi. Dan bagi yang belum, ini akan menjadi motivasi tersendiri untuk lebih baik kedepan," ingat Budiman.

Attauhidiyyah Giren

Berbagai Cabang MTQ dilaksanakan pada MTQ kali ini diantaranya Tilawatil Quran, Hifdzil Quran, Tafsir Quran, Fahmil Quran, Syarhil Quran dan Khattil Quran.

Berikut Urutan Pemenang MTQ Keenam tingkat Kabupaten Pringsewu tahun 2017 :

1. Kecamatan Ambarawa

2. Kecamatan Pringsewu

3. Kecamatan Sukoharjo

4. Kecamatan Gadingrejo

4. Kecamatan Banyumas

5. Kecamatan Pagelaran

6. Kecamatan Pagelaran Utara

7. Kecamatan Pardasuka

8. Kecamatan Adiluwih. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Bahtsul Masail Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 03 Maret 2018

Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari

Surabaya, Attauhidiyyah Giren. Mencari ilmu wajib bagi setiap muslim dan muslimat sejak lahir hingga keliang lahat. Ilmu yang wajib diketahui pertama adalah tentang ilmu Keesaan Allah yaitu tauhid. 

Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari

Seorang yang mencari ilmu tentu ada etika yang harus dilakukan agar mendapatkan ilmu yang manfaat. Kiai Fahrurozi, Wakil Sekretaris PWNU Jatim, menguraikan tentang adab mencari ilmu menurut Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asyari, pendiri NU.

Pertama, bagi para santri atau pelajar hendaknya kalian menyucikan hati dari dengki, sombong dan bohong, sebelum memulai belajar. Karena hati tempat cahaya yang diberikan oleh Allah.

Imam Syafii mengatakan kepada gurunya Imam Malik. Aku mengadu kepada guruku Imam Baqi. Bahwa aku sulit menghafalkan. Lalu gurunya memberi petunjukan agar aku meninggalkan maksiat.

"Ilmu itu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yg hati kotor," kata Kiai Fahrurrozi di mimbar Jumat Masjid Al-Akbar Surbaya, pekan lalu.

Attauhidiyyah Giren

Kedua, memperbaiki niat. Mencari ilmu hendaknya semata-mata ingin Ridho Allah dan ingin mengamalkan ilmu. Hadis Ibnu Majah mengatakan barang siapa mencari ilmu dengan tujuan dia menyombongkan diri, agar dia bisa dikenal. Kata Rasulullah orang seperti ini akan masuk neraka.

Ketiga, Mencarilah ilmu di waktu muda, karena waktu muda adalah waktu yang istimewa. seorang anak adam nanti akan ditanya umurmu dihabiskan di mana dan masa muda mu dihabiskan di mana. Tapi mencari ilmu tidak ada batasan, tidak ada kata terlambat. Banyak ulama yang belajar di masa tua.

Keempat, Bersikap hidup sederhana, tidak ada kata berfoya-foya. Imam Syafii mengatakan tidak akan sukse orang yang mencari ilmu dengan gaya hidup glamor. Contohnya Imam Syafii saat mencari ilmu hidup sederhana, sering kali menahan lapar. Maka darinya ekonomi bukan menjadi alasan untuk tidak menuntut ilmu.

Attauhidiyyah Giren

Kelima, membagi waktunya. Keenam bagi para pencari ilmu kurangi makan dan minum. Kalau terlalu banyak makan akan sulit konsentrasi. Ketujuh, Melatih diri dengan menjauhi barang yang subhat. 

Itulah sikap wirai. Agar tidak jatuh. Pastikan makanan yang halal. Makanan itu akan menjadi darah dan menjadi daging. Kedelapan, jangan banyak tidur. "Kalau usia  kita 63 tahun dan tidur 8 jam maka usia kita 20 tahun untuk tidur," pungkasnya. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Warta Attauhidiyyah Giren

Jumat, 02 Maret 2018

PKB Kumpulkan Kiai Kampung di Semarang

Semarang, Attauhidiyyah Giren. Sukses mengumpulkan para ‘kiai kampung’ di Jakarta beberapa waktu lalu, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) akan menggelar kegiatan serupa. Kali ini Kota Semarang, Jawa Tengah, yang bakal jadi tempat dihelatnya kegiatan merangkul kiai-kiai masjid dan langgar di desa-desa yang dinilai lebih dekat dengan masyarakat itu.

Seperti kegiatan sebelumnya, pertemuan ribuan kiai kampung tersebut akan diselenggarakan dengan format acara Ngaji Bareng Gus Dur (Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB KH Abdurrahman Wahid). Pelaksananya adalah Dewan Pimpinan Wilayah PKB Jawa Tengah.

PKB Kumpulkan Kiai Kampung di Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)
PKB Kumpulkan Kiai Kampung di Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)

PKB Kumpulkan Kiai Kampung di Semarang

<font face="Verdana">Kegiatan mengumpulkan kiai kampung itu memang telah menjadi salah satu agenda konsolidasi PKB setelah lepas dari konflik intern. Dan untuk wilayah Jateng, kegiatan Ngaji Bareng Gus Dur ini akan digelar di 8 kota mulai 14 April hingga 15 Mei mendatang.

“Forum ini untuk mengelola kiai kampung dalam kerangka perspektif pembangunan dan kemaslahatan umat,” tutur Sekretaris Umum Dewan Syura DPP PKB H Muhyidin Arubusman dalam acara Workshop Manajemen Kiai Kampung di Hotel Metro Semarang, Selasa (10/4) kemarin.

Menurutnya, selama ini kiai-kiai kampung yang mengelola masjid atau langgar merupakan sosok yang mempunyai peran penting dalam masyarakat. Tak jarang para kiai kampung tersebut menjadi tempat bertanya berbagai masalah mulai dari sosial kemasyarakatan hingga kebijakan publik.

Attauhidiyyah Giren

“Pertemuan ini dilakukan untuk mengkomunikasikan banyak hal dengan para kiai kampung,” tambah Sekretaris DPW PKB Jateng, Fuad Hidayat.

Fuad mengungkapkan, dalam setiap kegiatan rencananya akan dihadiri oleh sekitar 3000 kyai kampung yang terdiri dari pemimpin pesantren kecil, mushola, dan masjid. Sebab mereka merupakan penyambung aspirasi masyarakat dan penerus ajaran-ajaran mulia dari para ulama yang lebih luas. “Mereka merupakan akses tercepat masyarakat untuk mendapatkan informasi,” tegasnya.

Attauhidiyyah Giren

Saat disinggung apakah kegiatan tersebut sebagai bentuk kekhawatiran karena para kiai sepuh sudah pada pindah ke Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), Fuad membantah. Menurutnya, kyai yang pindah ke PKNU jumlahnya relatif kecil. Sebab sebagian kiai sepuh sampai saat ini masih berada di PKB.

“Tidak benar itu. Kiai sepuh masih berada di PKB. Di sini masih ada Mbah Munif (KH. Munif Zuhri, Mranggen), KH Mahfudz Ridwan, Habib Ali al Habsyi, KH. Tamam Soimuri dan masih banyak kyai sepuh lainnya. Jadi tidak benar kalau PKB ditinggalkan kiai sepuh,” tegasnya.

Pertemuan kiai kampung rencananya akan digelar di delapan kota, masing-masing Demak (14 April), Pemalang , Pekalongan (17 April), Kabupaten Semarang (22 April), Blora (1 Mei), Purworejo (10 Mei), Cilacap dan Banyumas (15 Mei). Selain menghadirkan Gus Dur, kegiatan juga akan diisi dengan orasi politik Ketua DPP PKB Muhaimin Iskandar. (gpa/man)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Quote Attauhidiyyah Giren

Sejarah Ahlul Halli wal Aqdi (1)

Oleh Choirul Anam

--Diskusi mendalam di pondok pesantren Al-Mansyuriyah, Lombok Tengah, NTB telah berlangsung beberapa waktu lalu guna menerima dan mencari masukan untuk melengkapi rumusan PBNU mengenai sistim baru pemilihan Rais Aam (Syuriyah) PBNU yang dikenal dengan Ahlul Halli Wal Aqdi (sering disingkat Ahwa). Sistim pemilihan zaman Nabi dan sahabat ini mulai akan diuji-coba di Muktamar Jombang.

Dalam kata sambutan pembukaan diskusi, ketua umum PBNU KH Prof Dr Said Aqil Siroj mendukung penuh sistim pemilihan rais aam dengan model Ahlul Halli Wal Aqdi.? Sebab kalau pilihan langsung, dikesankan mengadu kekuatan antar kiai, dan karena itu dicarikan jalan musyawarah yang lebih tepat seperti Ahlul Halli Wal Aqdi. Lagi pula kalau sistim pemilihan langsung, masih kata Kang Said, akan lahir kubu-kubuan, lalu kampanye hitam (black campaign) antarpendukung, saling menjelekkan dan menjatuhkan. Terus lagi, ditakutkan muncul politik uang yang merusak moral.

Sejarah Ahlul Halli wal Aqdi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Ahlul Halli wal Aqdi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Ahlul Halli wal Aqdi (1)

Ada juga pandangan lain dari peserta diskusi bahwa kalau NU tetap mempertahankan sistim pemilihan langsung, maka kesan NU sama saja dengan partai politik akan terus terbangun selamanya. Bahwa orang akan terus menganggap suksesi di lingkungan NU sama saja dengan di parpol, tergantung mana yang kuat uangnya. Maka dari itu beberapa pengurus PCNU maupun PWNU yang masih mau berpikir, mengharuskan ada perubahan, dan untuk sementara ini yang dipandang cocok adalah model Ahlul Halli Wal Aqdi.

Saya ingin memberi masukan dari perspektif historis NU mengenai Ahwa ini. Bahwa yang perlu dipahami, Ahwa tidak ada sangkut pautnya dengan politik uang (money politics), dengan kubu-kubuan, kampanye hitam (black campaign), saling jatuh menjatuhkan antar kelompok pendukung kiai atau ulama yang dijagokan, dan seterusnya. Ahwa adalah sebuah sistim pemilihan pemimpin yang diajarkan atau dicontohkan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW yang bergelar "al-Khulafa ar- Rasyidun", yang tak lain adalah Abu Bakar as- Shiddiq, Umar Ibnu Khottab, Usman bin Affan, dan Aly bin Abi Thalib. Sedang NU sebagai salah satu pewaris Ahwa ini hanya ingin mencoba menerapkannya di Muktamar Jombang nanti.

Jadi, jangan mengait-kaitkan Ahwa dengan politik uang, kampanye hitam, kubu-kubuan dst. Apakah dengan Ahwa dijamin tidak akan terjadi politik uang? Tidak akan terjadi konflik dan kubu-kubuan? Belum tentu! Buktinya NU sejak berdiri hingga saat ini menggunakan sistem pemilihan langsung tidak ada masalah, baik-baik saja! Hanya saja belakangan ini (di era reformasi) NU tergerus oleh dampak negatif sistem politik makro yang dibangun pemerintah, yakni pilihan langsung anggota DPR, DPD dan Presiden/Wakil sampai Bupati dan Wakil. Warga NU yang hidup di zaman sebelum reformasi tidak pernah tahu dan merasakan politik uang.

Pertanyaan besarnya adalah buat apa sistem Ahwa ini diterapkan? Untuk apa Ahwa disodor-sodorkan agar dipraktikkan di muktamar ke 33? Kenapa tidak pada zaman Mbah Hasyim Asyari dan Mbah Abdul Wahab Hasbullah tempo dulu diberlakukan? Apa beliau-beliau kurang Ahwa? Dalam perjalanan sejarah NU belum pernah menggunakan model Ahwa dalam pemilihan Rais Aam Syuriyah PBNU, kecuali pada muktamar ke 27 di Situbondo (3-12 Desember 1984). Penggunaan sistim Ahwa ini pun didasarkan beberapa pertimbangan, antara lain, karena kondisi NU sebagai Jamiyyah Diniyah Islamiyah (Organsasi Keagamaan Islam) waktu itu, memang sudah rapuh sehingga memerlukan pemikiran dan upaya baru untuk menyelamatkannya.

Attauhidiyyah Giren

Terutama sepeninggal Rais Aam PBNU KH. Bisri Syansuri (wafat Jumat 25 April 1980). Tubuh NU terbelah menjadi dua kubu: kubu politik yang bermuara kepada Ketua Umum PBNU KH. DR. Idham Cholid (Cipete) dan kubu khitthah yang dijaga ketat KH.R. Asad Syamsul Arifin Situbondo yang didukung kelompok muda pembaharu di NU seperti Gus Dur. Bisa dipahami, karena KH. Idham Cholid kala itu benar-benar sebagai figur sentral, yaitu selain menjabat Ketua Umum PBNU, juga Presiden Partai (PPP). Hampir setiap hari kubu politik berteriak-teriak agar jabatan Rais Aam dibiarkan kosong, sehingga mereka bisa leluasa memainkan jurus-jurus politiknya guna memperoleh kekuasaan politik di parlemen atau eksekutif di pemerintahan. Sementara kubu khitthah terus berupaya agar segera diisi. Kalau tidak, maka nasib NU ke depan semakin sulit untuk ditolong.

Pertengkaran dua kubu tersebut, jika digambarkan, memang hampir mirip seperti cicak dan buaya. Masing-masing kubu beradu argumentasi di media massa. Kelompok Cipete ngotot meminta jabatan Rais Aam dibiarkan lowong, dan kalau toh mau diisi mesti diambil dari salah satu wakil untuk naik menjadi Rais Aam. Pendapat itu ditolak mentah oleh kubu khitthah atau kelompok Situbondo karena tidak sesuai dengan konstitusi NU. Menurut AD/ART NU, jabatan Rais Aam dipilih langsung oleh ulama NU seluruh Indonesia melalui muktamar (atau forum ulama yang setingkat dengan itu), yaitu Munas atau Konbes.

Kubu Situbondo yang secara diam-diam berupaya keras mengembalikan NU ke khittah aslinya, akhirnya berhasil mengonsolidasikan pikiran-pikirannya ke hampir seluruh ulama senior di Indonesia. Puncaknya kelompok ini sukses menggelar munas alim ulama NU di Kaliurang, Yogyakarta (September 1981). Dan berhasil memilih KH. Ali Mashum sebagai Rais Aam PBNU menggantikan KH. Bisri Syansuri.

Mestinya persoalan sudah selesai, ternyata belum juga. Hasil Munas yang menggemparkan jagat politik nasional dan? mendapat banyak pujian serta sanjungan dari berbagai kelompok tersebut, terutama menyangkut soal isu politik dukung-mendukung pemberian gelar Bapak Pembangunan dan pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden RI pada Sidang Umum MPR hasil Pemilu 1982, justru dimentahkan oleh kubu Cipete dengan menggunakan sayap Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) unttuk menandinginya.

Attauhidiyyah Giren

Sehari setelah Munas Alim Ulama NU ditutup, kubu Cipete menggelar Konferensi Besar (Konbes) GP Ansor (3-6 September 1981) di Semarang. Drs. HA. Cholid Mawardi selaku Ketua Umum PP GP Ansor sekaligus mereprentasikan diri sebagai pimpinan kelompok Cipete menyatakan: "Pemberian gelar Bapak Pembangunan kepada Presiden Soeharto adalah gagasan wajar dan penting bagi integrasi bangsa. Dan Konbes menyarankan kepada DPR RI membuat memorandum kepada MPR untuk mempercayakan kepemimpinan nasional kepada Jenderal Soeharto."

Dari sini pertentangan semakin tajam. Lalu bagaimana upaya para kiai sepuh NU menyelamatkan organisasi? Inilah episode sejarah yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan. (--bersambung)

?

Choirul Anam, Dewan Korator Museum NU

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Hadits Attauhidiyyah Giren

Dilantik, Pengurus GP Ansor Cipondoh Kompak Kenakan Sarung

Tangerang, Attauhidiyyah Giren. Pengurus Anak Cabang (PAC) Ansor Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang, Banten masa khidmah 2016-2018 di bawah pimpinan Nur Asyik resmi dilantik, Sabtu (29/10) lalu di Ballroom Hotel Narita Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang. SK Resmi pelantikan ini dibacakan oleh H. Syahroni Pengurus Wilayah GP Ansor Banten.

Dilantik, Pengurus GP Ansor Cipondoh Kompak Kenakan Sarung (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Pengurus GP Ansor Cipondoh Kompak Kenakan Sarung (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Pengurus GP Ansor Cipondoh Kompak Kenakan Sarung

Dalam pelantikan tersebut, para pengurus baru kompak memakai sarung, seragam GP Ansor serta peci. Khusus soal sarung, tidak banyak yang melakukan pelantikan dengan memakainya. Sehingga inisiatif Ansor Cipondoh ini dapat menjadi teladan budaya.

Tampak hadir Ketua PC GP Ansor Kota Tangerang H. Mustaya Hasyim, Ketua PW GP Ansor Banten H Ahmad Imron, Wakil Ketua PP GP Ansor H Lukmanul Hakim. Hadir juga Sekretaris PCNU Kota Tangerang, Camat Cipondoh Demi Koswara, Kapolsek Cipondoh dan juga unsur tokoh masyarakat dan organisasi kepemudaan.?

Ketua PC GP Ansor Kota Tangerang H. Mustaya Hasyim menyatakan, Ansor bukanlah organisasi politik. "Ansor berdiri di atas semua kaki. Karena itulah, cara pandang politik Ansor adalah politik kebangsaan bukan partisan. Itulah politik amar makruf nahi munkar yang menjadi haluan Nahdlatul Ulama," ujarnya.

Attauhidiyyah Giren

Sedangkan Ketua PW GP Ansor Banten H. Ahmad Imron menyatakan, Ansor adalah organisasi yang merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah, maka jangan tanyakan apa yang telah diperbuat Ansor untuk Bangsa ini. “Sehingga sudah semestinya kita sebagai kader-kader penerus melanjutkan dan mempertahankan kedaulatan, Kesatuan dan Persatuan NKRI,” ujarnya.?

Dalam sambutan selanjutnya mewakili PP GP Ansor H. Lukmanul Hakim menyampaikan terkait isu gerakan yang akan terjadi pada tanggal 4 November 2016, agar kader-kader Ansor, Banser, NU manut arahan PBNU.?

Attauhidiyyah Giren

Karena apa yang disampaikan PBNU berdasarkan hasil kajian-kajian yang sumbernya dapat dipercaya. Kita dorong melalui jalur hukum agar pihak terkait menegakkan hukum dengan seadil-adilnya. “Kita percayakan kepada Kiai-kiai kita di PBNU untuk menghadapi masalah ini secara elegan,” ujarnya.?

Ketua terpilih, Nur Asyik berjanji untuk memberikan yang terbaik pada Ansor. "Insya Allah apa-apa yang diamanahkan oleh Pimpinan Cabang akan kami laksanakan dengan sebaik-baiknya," terangnya. Nur Asyik berharap, kepengurusan baru ini terdiri dari personil-personil yang amanah dan profesional.?

"Tanpa hal ini, kerusakan yang akan terjadi. Semoga juga, pengurus memiliki karakter yang aktif, kreatif, inovatif dan komunikatif," jelasnya.?

Tak lupa, Nur Asyik juga berharap semoga Ansor yang bermakna penolong itu bergerak untuk turut membantuk semua pihak dalam mewujudkan kebaikan bagi masyarakat. "Kita membantu di bidang keagamaan dan kemasyarakatan. Inilah gerakan Ansor sebagai penolong," tandasnya. (Atho/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Daerah, Kajian Islam Attauhidiyyah Giren

Kamis, 01 Maret 2018

Nasihat Imam Al-Bukhari bagi Pencari Ilmu

Menuntut ilmu bukanlah perkara mudah dan sederhana. Butuh pengorbanan dan kesabaran tingkat tinggi untuk menguasainya. Selain itu, godaan dalam proses mencari ilmu juga cukup banyak, beraneka ragam, dan datang silih berganti; baik godaan dari luar maupun dalam diri sendiri. Kesuksesan seorang pelajar sangat ditentukan oleh sejauh mana dia mampu mengusir setiap godaan ini.

Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Tadribur Rawi mengutip sebuah kisah tentang nasihat Imam Al-Bukhari kepada seorang murid yang ingin belajar hadits kepadanya. Singkat kata, imam hadits ini mengatakan, jika kamu ingin menjadi ahli hadits yang sempurna, kamu mesti menulis empat hal. Empat hal ini tidak sempurna kecuali dengan empat perkara. Apabila telah menyempurnakan empat perkara ini, kamu akan diberikan empat keuntungan sekaligus diuji dengan empat cobaan. Bila kamu lulus dari empat ujian tersebut, Allah SWT akan memberimu empat ganjaran di dunia dan di akhirat. Jabaran dari empat hal yang saling berkaitan itu adalah sebagai berikut:

Nasihat Imam Al-Bukhari bagi Pencari Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasihat Imam Al-Bukhari bagi Pencari Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasihat Imam Al-Bukhari bagi Pencari Ilmu

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Attauhidiyyah Giren

Artinya, “Hal ini (menuntut ilmu) tidak sempurna kecuali seseorang menguasai empat bidang: mahir baca-tulis, mengerti bahasa, menguasai ilmu sharaf, dan ilmu nahwu (gramtikal). Kemampuan ini harus dibarengi dengan karunia Allah: kesehatan, kemampuan, keuletan, dan hafalan. Apabila empat hal ini berjalan dengan baik, dia akan diberikan empat keuntungan: keluarga, anak, harta, dan domisili. Tapi seketika itu pula dia akan diuji dengan empat ujian: musuhnya dengki, celaaan sahabatnya, makian dari orang bodoh, dan keirian ulama. Jika seseorang berhasil melewati ujian ini, di dunia dia akan memperoleh empat kebaikan: semakin qana’ah, keyakinanya meningkat, merasakan nikmatnya ilmu, dan kenikmatan hidup. Kelak di akhirat, Allah SWT akan memuliakannya dengan empat kesempatan: dapat memberikan syafaat kepada siapa yang dia inginkan, berhak memberi minum kepada siapa pun dari telaga Nabi Muhammad SAW,  dinaungi bayangan Arasy, dan diposisikan di surga paling tinggi, di samping surga para Nabi.”

Maksud dari pernyataan ini ialah bahwa keharusan bagi penuntut ilmu menguasai empat bidang sebagai dasar mencari ilmu, yaitu: pandai baca, pandai tulis, menguasai bahasa, dan gramatikalnya. Keempat potensi ini tidak akan berkembang kecuali atas karunia Tuhan. Dalam konteks ini, anugerah Tuhan itu berupa empat hal: kesehatan, kemampuan, semangat, dan kekuatan hafalan.

Attauhidiyyah Giren

Sepintar apapun seorang anak, bila Allah SWT tidak memberikan kesehatan dan kesempatan belajar kepadanya, tentu proses belajarnya akan menjadi tidak efektif dan sempurna. Setelah berhasil menguasai empat bidang ini, dia diberikan empat karunia Tuhan, maka dia akan mendapatkan empat keuntungan: keluarga, anak, harta, dan domisili. Di samping beruntung, dia juga diuji dengan empat ujian: ada musuhnya yang dengki, sahabatnya juga ikut-ikutan mencaci-maki, umpatan dan hinaan dari orang-orang bodoh, dan ada juga ulama yang iri terhadap kepintarannya.

Jika dia mampu bertahan dan bersabar, Allah SWT akan memberikannya empat kebaikan: semakin qana’ah, keyakinanya bertambah kuat, dia merasakan nikmatnya ilmu, dan diberikan kebahagiaan hidup. Di akhirat kelak, kebahagiannya disempurnakan dengan empat kesempatan: mereka diberi kesempatan untuk memberi syafaat kepada orang yang diingininya, dilindungi oleh Arasy, berhak memberi minum kepada siapa saja dari telaga Nabi Muhammad SAW, dan dia diletakkan di surga kelas tinggi, yang berada di samping surga para Nabi.

Begitulah sulitnya menuntut ilmu. Ada banyak rintangan dan godaan yang mesti disingkirkan. Sangat beruntung orang yang mampu bersabar dalam melewati segala bentuk ujian ini. Di antara deretan cobaan di atas, umpatan dan cacian teman sejawat mungkin adalah ujian paling berat dibanding lainnya.

Barangkali sudah nasib orang berilmu seperti itu. Terkadang teman pun bisa jadi lawan, bahkan tak jarang nyawa pun dikorbankan demi sebuah kebenaran. Namun ketika datang masanya, mereka akan tersenyum bahagia di depan Yang Maha Kuasa ketika mampu melewati tahapan di atas. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pendidikan Attauhidiyyah Giren

Hasyim-Kalla Saling Lempar Joke

Jakarta, Attauhidiyyah Giren

Salah satu ciri pertemuan yang diselenggarakan oleh orang NU adalah guyonan atau joke untuk menghangatkan suasana. Hal ini juga terjadi dalam acara peluncuran buku buku ”Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid: Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah” di Jakarta, Kamis (6/3) malam.

KH Hasyim Muzadi yang memberi sambutan buku biografi KH Idham Chalid tersebut menceritakan masa-masa awal Orba yang menekan kepada NU yang waktu itu masih merupakan partai politik.

Hasyim-Kalla Saling Lempar Joke (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim-Kalla Saling Lempar Joke (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim-Kalla Saling Lempar Joke

“Golkar pada waktu itu selalu menang karena didukung ABRI, birokrasi dan menghitung sendiri. Belum ada pemilu tapi catatannya sudah diumumkan,” katanya yang disambut ketawa hadirin dihadapan wapres Jusuf Kalla yang juga ketua umum Golkar.

Namun buru-buru ia menambahkan. “Itu dulu, sekarang orang NU sudah memimpin Golkar, kalau tidak sama bukan politik namanya.”

Ssaat mendapatkan kesempatan memberikan sambutan, Jusuf Kalla yang mantan Mustasyar NU Sulsel ini membalas dengan menceritakan joke tentang pemilu antara orang Amerika, Meksiko dan Indonesia.

Attauhidiyyah Giren

Orang Amerika mengatakan, “Di Amerika pemilu pagi, sore baru ketahuan hasilnya, anda orang Meksiko satu bulan baru tahu” Dikatakan demikian, orang Mesiko tak terima “O dhak, satu tahun sebelumnya kita sudah tahu,” Namun orang Indonesia nyelutuk, “di Indonesia lima tahun sebelum pemilu, kita sudah tahu siapa yang menang” yang kemudian disambut dengan ketawa dan tepuk tangan oleh hadirin.

Menurutnya, saat ini Golkar dan NU dalam suasana yang sangat akrab di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang saat ini sedang dalam proses Pilkada, calon dari Golkar memiliki wakil orang NU. Demikian pula di Jawa Barat.

“Ini orang NU yang digolkarkan atau orang Golkar yang di NU kan, dua-duanyalah. Mas Muhaimin (Ketua Umum PKB) minta maaf yaa, mana yang lebih NU Golkar atau PKB,” katanya yang sekali lagi disambut ketawa meriah oleh hadirin. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren RMI NU, Amalan Attauhidiyyah Giren

Imsak, Benarkah Waktu Dimulainya Berpuasa?

“Imsaak...! Imsaak...!”

Di beberapa daerah di Indonesia suara keras kata-kata tersebut hingga kini masih terdengar beberapa saat sebelum azan subuh dari masjid-masjid dan mushala-mushala sebagai pengingat telah datang waktunya imsak, waktu menahan diri dari berbagai hal yang bisa membatalkan puasa, khususnya makan dan minum. Dan masyarakat maklum, bila telah terdengar kata “imsak” dikumandangkan mereka serta merta menghentikan aktivitas makan dan minum yang terangkai dalam kegiatan sahur.

Imsak, Benarkah Waktu Dimulainya Berpuasa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Imsak, Benarkah Waktu Dimulainya Berpuasa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Imsak, Benarkah Waktu Dimulainya Berpuasa?

Memang demikian adanya. Sebagian masyarakat Muslim memahami bahwa datangnya waktu imsak adalah awal dimulainya ibadah puasa. Pada saat itu segala kegiatan makan minum dan lainnya yang membatalkan puasa harus disudahi hingga datangnya waktu maghrib di sore hari. Namun demikian sebagian masyarakat Muslim juga bertanya-tanya, benarkah waktu imsak sebagai tanda dimulainya puasa?

Attauhidiyyah Giren

Lalu bagaimana sesungguhnya fiqih mengatur awal dimulainya ibadah yang termasuk salah satu rukun Islam ini? Benarkah imsak menjadi waktu awal dimulainya seseorang menahan lapar dan dahaga?

Bila mencermati beberapa penjelasan para ulama dalam berbagai kitabnya akan bisa dengan mudah diambil satu kesimpulan kapan sesungguhnya ibadah puasa itu dimulai dan apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan waktu imsak.

Imam Al-Mawardi di dalam kitab Iqna’-nya menuturkan:

Attauhidiyyah Giren

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (?) ? ? ? ? ? ? ? ?

“Waktu berpuasa adalah dari terbitnya fajar kedua sampai tenggelamnya matahari. Akan tetapi (akan lebih baik bila) orang yang berpuasa melakukan imsak (menghentikan makan dan minum) sedikit lebih awal sebelum terbitnya fajar dan menunda berbuka sejenak setelah tenggelamnya matahari agar ia menyempurnakan imsak (menahan diri dari yang membatalkan puasa) di antara keduanya.” (lihat Ali bin Muhammad Al-Mawardi, Al-Iqnaa’ [Teheran: Dar Ihsan, 1420 H] hal. 74)

Dr. Musthafa al-Khin dalam kitab Al-Fiqh Al-Manhaji menyebutkan:

? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Puasa menurut syara’ adalah menahan diri dari apa-apa yang membatalkan dari terbitnya fajar sampai dengan tenggelamnya matahari disertai dengan niat.” Musthafa al-Khin dkk, Al-Fiqh Al-Manhaji fil Fiqh As-Syafi’i [Damaskus: Darul Qalam, 1992], juz 2, hal. 73)

Sedangkan Sirojudin Al-Bulqini menyampaikan:

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Yang ketujuh (dari hal-hal yang perlu diperhatikan) adalah menahan diri secara menyeluruh dari apa-apa (yang membatalkan puasa) yang telah disebut sepanjang hari dari tebitnya fajar sampai tenggelamnya matahari..” (Sirojudin al-Bulqini, Al-Tadrib [Riyad: Darul Qiblatain, 2012], juz 1, hal. 343)

Dari keterangan-keterangan di atas secara jelas dapat diambil kesimpulan bahwa awal dimulainya puasa adalah ketika terbit fajar yang merupakan tanda masuknya waktu shalat subuh, bukan pada waktu imsak. Adapun berimsak (mulai menahan diri) lebih awal sebelum terbitnya fajar sebagaimana disebutkan oleh Imam Mawardi hanyalah sebagai anjuran agar lebih sempurna masa puasanya.

Lalu bagaimana dengan waktu imsak yang ada?

Waktu imsak yang sering kita lihat di jadwal-jadwal imsakiyah adalah waktu yang dibuat oleh para ulama untuk kehatian-hatian. Dengan adanya waktu imsak yang biasanya ditetapkan sepuluh menit sebelum subuh maka orang yang akan berpuasa akan lebih berhati-hati ketika mendekati waktu subuh. Di waktu sepuluh menit itu ia akan segera menghentikan aktivitas sahurnya, menggosok gigi untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang bisa jadi membatalkan puasa, dan juga mandi serta persiapan lainnya untuk melaksanakan shalat subuh.

Dapat dibayangkan bila para ulama kita tidak menetapkan waktu imsak. Seorang yang sedang menikmati makan sahurnya, karena tidak tahu jam berapa waktu subuh tiba, dia akan kebingungan saat tiba-tiba terdengar kumandng azan subuh sementara di mulutnya masih ada makanan yang siap ditelan.

Satu hal yang perlu diketahui bahwa waktu imsak hanya ada di Indonesia. Fenomena masjid-masjid dan musholla-musholla menyuarakan waktu imsak tak ditemui di negara manapun sebagaimana bisa ditemui di beberapa daerah di Indonesia.

Inilah kreatifitas ulama kita, ulama Nusantara. Adanya waktu imsak adalah bagian dari sikap khas para ulama yang “memperhatikan umat dengan perhatian kasih sayang” atau dalam bahasa Arab sering disebut yandhuruunal ummah bi ‘ainir rahmah. Karena sayangnya ulama negeri ini kepada umat mereka menetapkan waktu imsak demi lebih sempurnanya puasa Ramadhan yang dilakukan umat Islam bangsa ini. Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pemurnian Aqidah Attauhidiyyah Giren