Kamis, 30 November 2017

Dibuka Lomba Rebana Se-Jateng di IAIN Wali Songo

Yogyakarta, Attauhidiyyah Giren. Pengurus Jam’iyah Hamalah Al-Quran membuka pendaftaran bagi peserta lomba tabuh rebana seprovinsi Jawa Tengah. Perlombaan rebana yang diadakan dalam rangka memperingati harlah Fakultas Ushuludin IAIN Wali Songo ini, jatuh pada 27 September 2014.

Dibuka Lomba Rebana Se-Jateng di IAIN Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Dibuka Lomba Rebana Se-Jateng di IAIN Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Dibuka Lomba Rebana Se-Jateng di IAIN Wali Songo

Koordinator perlombaan rebana Fitrotun Nisa mengatakan, “Kami akan meriahkan harlah Fakultas Ushuluddin dengan sejumlah even antara lain perlombaan rebana, bahasa, karya tulis ilmiah, olahraga, parade musik, dan seaman hafiz-hafizoh Al-Quran.”

Semuanya. Fitroh manambahkan, akan ditempatkan di Fakultas Ushuluddin gedung 2 IAIN Wali Songo. Kita juga berencana menghadirkan KH Muammar ZA untuk melantunkan ayat-ayat Al-Quran.

Attauhidiyyah Giren

Pendaftaran lomba rebana dibuka mulai 25 Agustus sampai 17 September. Peserta bebas siapa saja dengan syarat 15 anggota dalam satu grup, melunasi biaya pendaftaran sebesar 100.000, membawa alat masing-masing, dan menampilkan dua lagu sholawat.

Attauhidiyyah Giren

“Peserta lomba rebana menampilkan satu lagu pilihan dan satu lagu wajib, Yaa Dzal Ghina,” kata Fitroh.

Kouta peserta rebana dibatasi maksimal 20 grup. Panitia menyediakan beberapa bingkisan hadiah dan sejumlah uang pembinaan dengan total sebesar Rp 6 juta. Keterangan lebih lanjut bisa mengontak Fitroh di nomor 085727457294. (Ahmad Syaefudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren RMI NU, Syariah Attauhidiyyah Giren

KH Maruf Amin Terpilih Sebagai Ketua Umum MUI 2015-2020

Surabaya, Attauhidiyyah Giren. KH Ma’ruf Amin terpilih sebagai ketua umum sekaligus memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2015-2020 melalui musyawarah mufakat oleh tim formatur pada Musyawarah Nasional IX di Surabaya, Kamis dini hari.

KH Maruf Amin Terpilih Sebagai Ketua Umum MUI 2015-2020 (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maruf Amin Terpilih Sebagai Ketua Umum MUI 2015-2020 (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maruf Amin Terpilih Sebagai Ketua Umum MUI 2015-2020

"Tim formatur telah sepakat dan selamat kepada KH Ma’ruf Amin atas amanah ini," ujar Ketua Tim Formatur Munas IX MUI Din Syamsuddin saat sambutan menyampaikan hasil musyawarah.

KH Ma’ruf Amin yang saat ini juga menjabat Rais Aam Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) diyakini mampu membawa MUI menjadi lembaga yang menjadi wadah dan tenda besar umat Islam sebagaimana diharapkan sejumlah pihak.

Attauhidiyyah Giren

Di posisi sekretaris jenderal, tim formatur mempercayakan kepada Anwar Abbas yang dalam Munas IX kali ini menjabat sebagai ketua panitia pelaksana pusat.

Sedangkan, di posisi wakil ketua umum diisi oleh dua orang, yakni KH Slamet Effendy Yusuf dan Yunahar Ilyas, serta bendahara umum dijabat oleh Amani Lubis.

Attauhidiyyah Giren

Di struktural Dewan Pimpinan MUI Pusat terbaru periode lima tahun ke depan, posisi ketua umum dan wakil ketua akan dibantu oleh 12 orang ketua, delapan wakil sekjen, dan lima orang bendahara.

Sementara itu, KH. Ma’ruf Amin mengaku bersyukur dan berterima kasih kepada peserta Munas IX yang mempercayakannya menjalankan amanat memimpin MUI ke depan.

Dalam waktu dekat, kata dia, pengurus baru segera melakukan konsolidasi organisasi sekaligus pembenahan dan perumusan kembali rencana kerja agar lebih terarah.

"Tentu saja hal ini akan membuat kinerja lebih efektif, termasuk tentang peta dakwah maupun sasaran dakwahnya," kata ulama yang periode sebelumnya menjabat wakil ketua umum tersebut.

Usai pembacaan pengurus baru, Munas IX MUI yang semula dijadwalkan akan ditutup oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla itu langsung ditutup secara resmi oleh ketua umum MUI Pusat terpilih tepat pukul 01.30 WIB.

Total 17 anggota tim formatur yang berasal dari berbagai unsur terpilih dan disepakati oleh peserta Munas MUI.

Ke-17 anggota formatur masing-masing ketua umum demisioner Din Syamsuddin, wakil ketua umum demisioner KH Maruf Amin, sekretaris jenderal demisioner M. Ichwan Sam dan ketua dewan penasihat demisioner KH. Tolchah Hasan.

Berikutnya, perwakilan MUI wilayah I diwakili Ahmad Husein, wilayah II diwakili Shodiqun, wilayah III diwakili Romly, wilayah IV diwakili Syaiful Islam, wilayah V diwakili Hamri Has, wilayah VI diwakili Abdul Rohim dan wilayah VII diwakili asal Papua Barat.

Kemudian, satu perwakilan pondok pesantren dari Sidogiri, perwakilan perguruan tinggi Islam diwakili Khuzaemah T Yanggo, serta dua perwakilan ormas masing-masing dari Al-Wasliyah dan Al-Ittihadiyah.(Antara/Mukafi Niam) foto: Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Anti Hoax Attauhidiyyah Giren

Hubbul Wathon Minal Iman, Jargon Pertahankan NKRI

Demak, NUOnline



Ulama di seluruh Nusantara sejak tahun 1914 sudah punya komitmen tinggi terhadap keutuhan bangsanya. Nasionalisme ini sudah lahir sejak negara ini hidup dalam penjajahan yang begitu panjang dan melelahkan yang mengakibatkan penderitaan rakyat di dalam negerinya sendiri.

Ulama NU di bawah komando Rais Akbar KH Hasyim Asyari bersama para ulama NU yang lain menggerakkan dan membangkitkan sifat nasionalis pada seluruh elemen masyarakat yang dimulai dari para kiai dan santri. Salah satunya yang dilakukannya adalah saat menerima utusan presiden Soekarno berkaitan hukum membela dan mempertahankan bangsa dan negara bagi warga oleh penjajah. KH Hasyim Asyari pun mengatakan wajib ain tanpa pengecualian untuk mempertahankannya. Mulai saat itulah dia mengeluarkan fatwa jargon hubbul wathon minal iman.

Hubbul Wathon Minal Iman, Jargon Pertahankan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Hubbul Wathon Minal Iman, Jargon Pertahankan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Hubbul Wathon Minal Iman, Jargon Pertahankan NKRI

Demikian disampaikan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat memberikan tausiyah pada haul agung ke-514 raja Islam pertama Kanjeng Sultan Fattah di Alun Alun Masjid Agung Demak Sabtu, (11/3) malam.

“Ketika Mbah Hasyim menerima ajudan presiden Soekarno mengenai hukum warga membela bangsanya, beliau menjawab dengan tegas,? fardlu ain (tidak boleh tidak) dan saat itulah Mbah Hasyim berfatwa atau mengeluarkan jargon hubbul wathon minal iman. Ini bukan hadis tapi fatwa Mbah Hasyim,” ? kata KH Said Aqil Siroj.

Attauhidiyyah Giren

?

Kang Said begitu akrab dipanggil, menambah ada hal menarik yang dimiliki Ulama NU, yaitu ulama memiliki jiwa nasionalis yang tinggi sedangkan para eksekutif atau pemangku pemerintahan mempunyai jiwa nasionalis yang agamis ssehingga menjadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia sulit diganggu dari pengacau bangsa. Ia contohkan negara di kawasan Timur Tengah yang berantakan karena para ulamanya tidak mempunyai sifat nasionalis yang tinggi dan pemerintahan yang berjalan cenderung mengutamakan kelompoknya.

Attauhidiyyah Giren

“Kita patut bersyukur karena para ulama dan kiai kita mempunyai jiwa nasionalis yang kuat, para pemimpinnya punya jiwa nasionalis dan agamis yang menyatu. Negara lain tidak mempunyai hal semacam ini,” katanya.

Dijelaskannya, agenda besar para ulama dalam menyatukan bangsa ? tidak perlu diragukan lagi. Sudah sewajarnya jika pemerintah bekerjasama dengan NU yang berkomitmen membangun integritas dan karakter bangsa.

“Dari dulu hingga sekarang kiai dan ulama punya andil besar untuk bangsa ini. Makanya NU siap melakukan kerjasama dengan pemerintah untuk kesejahteraan rakyat,” tambah Kiai Said

Haul agung ? yang dihadiri ribuan jamah tersebut juga dihadiri Bupati Demak HM Natsir, Wabup Joko Sutanto, ketua DPRD Demak H Nurul Muttaqin, Kapolres, Dandim serta SKPD, Rais Syuriyah KH Alawy Masudi, Ketua PCNU Demak KH Musadad Syarif serta pengurus NU dari cabang sampai ranting se-Kabupaten Demak. (A Shiddiq Sugiarto/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kyai, Cerita Attauhidiyyah Giren

Sabtu, Habib Luthfi Hadiri Maulid di Jakarta

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Rais Aam Idarah Aliyah Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman), Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dijadwalkan akan mengisi sebuah acara pengajian di Kelurahan Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu (31/8) malam ini.

Sabtu, Habib Luthfi Hadiri Maulid di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Sabtu, Habib Luthfi Hadiri Maulid di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Sabtu, Habib Luthfi Hadiri Maulid di Jakarta

Hal ini terungkap dalam undangan terbuka yang disebar panitia Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan HUT RI Ke-68 Kelurahan Kapuk, Kamis kemarin. Acara yang rencananya digelar di Jalan Kebon Jahe Pasar Alam RT 6/ RW 3 ini merupakan hasil kerja sama antara Jam’iyyah al-Islamiyah an-Nahdliyah as-Syarifiyah dan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Kelurahan Kapuk.

Dalam undangan, selain Habib Luthfi, tausiyah juga akan disampaikan KH Zimam Hanifun Nusuk (Gus Nif). Menurut ketua panitia lokal, H Yusuf Tajri, penyelenggaraan ini akan dihadiri jamaah kanzus shalawat dari Pekalongan, Jawa Tengah, di samping masyarakat di Jakarta dan sekitarnya.

Attauhidiyyah Giren

Yusuf mengatakan, grup rebana asal Pekalongan direncanakan akan tiba di lokasi acara pada Sabtu pagi, sementara Habib Luthfi pada petang harinya, usai sembahyang maghrib. Rangkaian acara akan dimulai pukul 19.00 WIB.

 

Attauhidiyyah Giren

“Jamaah yang akan hadir nanti diperkirakan mencapai 3000 orang,” ujarnya.

 

Berbeda dengan sejumlah daerah lain, tradisi peringatan maulid Nabi bagi masyarakat Betawi seolah tanpa ikatan waktu tertentu. Tak mesti pada bulan Rabi’ul Awal sebagaimana lazimnya, peringatan Maulid bisa dilaksanakan kapan saja, termasuk di dalam bulan Syawal seperti agenda besok ini.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Aswaja, Anti Hoax Attauhidiyyah Giren

Rabu, 29 November 2017

PCNU Subang Berduka Atas Wafatnya Ajengan Zezen

Subang, Attauhidiyyah Giren. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Subang, Jawa Barat turut atas meninggalnya salah seorang tokoh dan guru panutan, KH Zezen Basyul Asyab, Kamis (19/11) pagi.

PCNU Subang Berduka Atas Wafatnya Ajengan Zezen (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Subang Berduka Atas Wafatnya Ajengan Zezen (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Subang Berduka Atas Wafatnya Ajengan Zezen

"Beliau seorang ulama, yang terkumpul pada diri beliau ? sebagai mubaligh, muallim, ahli thoriqoh, faqih, organisatoris dan juga seniman,” ungkap Ketua PCNU Subang, KH Musyfiq Amrullah melalui sambungan telepon saat dikonfirmasi Attauhidiyyah Giren.

Selain itu, kata dia, kiai yang akrab disapa Wa Zezen itu merupakan sosok perekat ukhuwah karena beliau dekat dengan berbagai kalangan, tazhim kepada yang sepuh dan sayang serta mengayomi kepada yang muda.

Attauhidiyyah Giren

"Yang paling mengagumkan dari sosok Guru Kita ini adalah beliau sangat pandai dalam menyampaikan materi kitab Al-Hikam, tidak sedikit dari kita susah untuk memahami Al-Hikam, tapi beliau kalau menerangkan sangat mudah bagi kita untuk mencernanya,” tutup Pengasuh Pesantren Attawazun itu.?

Ajengan Zezen adalah pengasuh Pondok Pesantren Az-zainiyah, Nagrog, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Ia dikenal sebagai pengamal Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN).?

Attauhidiyyah Giren

Di NU, ia duduk sebagai Wakil Rais Syuriyah Jawa Barat dan Rais Idaroh JATMAN di tingkat pusat. Ia juga menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sukabumi. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Anti Hoax, Meme Islam Attauhidiyyah Giren

Benarkah Perempuan Kaum Mayoritas Penghuni Neraka?

Kaum laki-laki maupun perempuan memang memiliki derajat yang sama di sisi Allah Swt. Allah Swt tak pernah membeda-bedakan hamba-Nya lewat jenis kelamin ataupun strata sosial. Di sisi Allah hanya yang bertaqwa yang paling tinggi derajatnya.

Namun dalam suatu hadits riwayat Imam Bukhari, Muslim dan Tirmidzi diceritakan bahwa penghuni neraka terbanyak adalah dari golongan perempuan:

Benarkah Perempuan Kaum Mayoritas Penghuni Neraka? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Perempuan Kaum Mayoritas Penghuni Neraka? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Perempuan Kaum Mayoritas Penghuni Neraka?

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Attauhidiyyah Giren

Artinya: “Saya (Rasulullah Saw) berdiri di depan pintu neraka. Kebanyakan orang yang masuk neraka adalah perempuan.”

Attauhidiyyah Giren

Hal ini tentu menjadi pertanyaan bagi kita seolah-olah ada sekat dan pembeda antara laki-laki dan perempuan. Pun dengan adanya hadits tersebut, perempuan seolah-olah menjadi kaum yang patut disalahkan.

Secara letterlijk hadits ini bisa saja digunakan sebagai legitimasi kaum laki-laki untuk menghardik kaum perempuan dan merendahkannya. Lantas benarkah perempuan adalah kaum mayoritas penghuni neraka? Apa sebab-sebab yang menjadikan mereka sebagai kaum mayoritas penghuni neraka?

Al-Mubarakfury dalam kitabnya Tuhfathul Ahwadzi mencoba menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam hadits di atas bukan berarti secara kuantitas penghuni neraka adalah perempuan, melainkan hadits tersebut hanya sebagai anjuran bagi para perempuan untuk menjaga agamanya agar terhindar dari api neraka.

Hal ini juga menjadi bukti kepedulian Rasulullah terhadap para perempuan dan bukan bermaksud untuk memarjinalkannya. Sehingga Rasulullah pun memberikan beberapa kiat-kiat bagi para perempuan agar tidak terjerumus ke dalam api neraka.

Kiat-kiat dan imbauan Rasulullah tersebut dicantumkan dalam riwayat hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Bukhari. Dalam Sahih Bukhari, Imam Bukhari membuat satu bab khusus yang memuat alasan mengapa perempuan dikatakan sebagai kaum mayoritas penghuni neraka. Bab tersebut diberi judul bab Kufran al-`Ashîr wa Kufrun Dûna Kufrin.

Dalam bab tersebut Bukhari mencantumkan hadis riwayat Abu Said al-Khudri yang menyaksikan Rasulullah Saw bersabda kepada beberapa Sahabiyah (sahabat perempuan):

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?: ? ? ? ?

Artinya: “Rasulullah Saw bersabda: ‘Wahai para perempuan sekalian bersedekahlah! Karena sesungguhnya aku diperlihatkan bahwa mayoritas penghuni neraka adalah kalian (kaum perempuan).’ Kemudian para perempuan itu bertanya: ‘Mengapa ya Rasulullah?’ Rasul pun menjawab: Kalian sering melaknat dan berbuat kufur kepada suami.”

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari-nya menjelaskan bahwa kufur dalam hal ini bukanlah kufur yang menjadikan manusia keluar dari Islam. Akan tetapi yang dimaksud kufur kepada suami adalah mengingkari nikmat yang telah diberikan oleh suami dan meninggalkan kebaikan yang telah dilakukan sehingga menjadikan istri tersebut tidak taat.

Hal ini mengingat kewajiban istri untuk taat kepada suami adalah sebuah keniscayaan. Sebagaimana disabdakan Rasulullah Saw:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Jika saya (diperbolehkan) memerintah seseorang untuk bersujud kepada orang lain, maka saya akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.”

Dalam Faidul Bari dijelaskan bahwa hadits terkait penghuni neraka tersebut muncul karena para perempuan jahiliyah sering melaknat dan mengkufuri suaminya. Sehingga hal ini sebagai bentuk pendidikan yang diupayakan Rasulullah agar para perempuan di masa Rasul tidak melakukan perbuatan yang sama.

Jelas sudah bahwa inti dari hadits tersebut bukan bermaksud untuk memarjinalkan perempuan atau merendahkan perempuan. Yang diinginkan Rasul dalam hadits tersebut adalah agar perempuan umat Rasul tidak meniru perilaku perempuan jahiliyah, yakni suka melaknat dan mengkufuri suaminya.

Jika para perempuan zaman sekarang masih tetap melakukan hal yang sama: melaknat dan mengingkari kenikmatan dan kebaikan yang telah diberikan suaminya, maka hukum Allah berupa neraka adalah sebuah keniscayaan. Wallahu A’lam. (M Alvin Nur Choironi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kajian, Ubudiyah Attauhidiyyah Giren

Workshop Pengkaderan IPPNU Siap Digelar

Jakarta, Attauhidiyyah Giren

Workshop Pengkaderan Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) siap digelar. Forum yang akan merumuskan sistem, metode dan strategi pengkaderan paling mutakhir di organisasi berbasis pelajar puteri NU itu akan dilaksanakan pada 4-7 Januari mendatang di Vila Lacitra, Cipanas, Bogor, Jawa Barat.

Workshop Pengkaderan IPPNU Siap Digelar (Sumber Gambar : Nu Online)
Workshop Pengkaderan IPPNU Siap Digelar (Sumber Gambar : Nu Online)

Workshop Pengkaderan IPPNU Siap Digelar

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi akan membuka secara resmi acara yang akan diikuti 50 peserta perwakilan dari pengurus wilayah (PW) IPPNU seluruh Indonesia tersebut. Upacara pembukaan akan dilakukan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta.Sejumlah tokoh NU direncanakan akan hadir dalam acara tersebut. Antara lain Ketua PBNU, Masdar Farid Mas’udi dan Ahmad Bagdja. Beberapa mantan Ketua Umum IPPNU, Ulfa Masfufah dan Ratu Dian Hatifah pun dijadwalkan turut hadir. Mereka akan memberikan masukan dalam kaitannya dengan pengkaderan di NU.

Sebagaimana diberitakan situs ini, kurang optimalnya proses pengkaderan di NU, terutama pula di IPPNU menjadi alasan utama diselenggarakannya acara tersebut. Selain itu, acara tersebut juga merupakan bagian dari upaya untuk merevisi buku pedoman metode pengakaderan yang sudah ada. Karena metode yang ada dalam buku tersebut dirasa kurang relevan lagi.

“Yang jelas perlu evaluasi atas proses pengkaderan kita (IPPNU) selama ini. Dari workshop itu diharapkan ditemukan rumusan atau formula baru pada pengkaderan IPPNU,” kata Ketua Umum PP IPPNU Wafa Patria Umma kepada Attauhidiyyah Giren di Kantor PBNU, Jakarta, Selasa (2/1).

Attauhidiyyah Giren

Pada workshop itu, lanjut Wafa, setiap pimpinan wilayah (PW) diberi kesempatan untuk menjelaskan potensi dan tantangan pengkaderan IPPNU di masing-masing daerah. Harapannya, katanya, dapat ditemukan rumusan baru pengkaderan organisasi yang dipimpinnya, selain juga meminta masukan dari para tokoh NU.

Sementara, hingga berita ini diturunkan, sejumlah peserta sudah mulai bedatangan, terutama peserta dari luar pulau Jawa. Di antaranya, perwakilan dari PW Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimatan Selatan, Bengkulu, Papua, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Attauhidiyyah Giren

Buku Saku Aswaja

Selain akan merumuskan kembali sistem pengkaderan yang nantinya akan disusun dalam bentuk buku pedoman, Wafa mengatakan, IPPNU juga akan menerbitkan buku saku yang berisi tentang ajaran atau paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja)—sebagaimana dianut NU. Hal itu, katanya, dilakukan juga untuk mendukung proses pengkaderan.

Buku saku Aswaja yang akan dibuat dalam format sederhana itu, imbuhnya, nantinya akan dibagikan secara gratis untuk setiap kader. “Biar kalau ada kader IPPNU yang nggak paham Aswaja, bisa langsung baca buku saku itu,” ungkapnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Makam, Ulama Attauhidiyyah Giren

IPNU IPPNU Pringsewu Backpacker Perkuat Konsolidasi

Pringsewu, Attauhidiyyah Giren

Untuk mewujudkan soliditas pengurus melalui penguatan konsolidasi dan komunikasi, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri NU (IPPNU) Kabupaten Pringsewu melaksanakan program IPNU IPPNU Backpacker.

Pada program tersebut anggota PC IPNU IPPNU Pringsewu turun ke bawah atau turba ke seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) yang ada di Bumi Jejama Secancanan Bersenyum Manis ini.

IPNU IPPNU Pringsewu Backpacker Perkuat Konsolidasi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU IPPNU Pringsewu Backpacker Perkuat Konsolidasi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU IPPNU Pringsewu Backpacker Perkuat Konsolidasi

"IPNU IPPNU Backpacker merupakan program kerja kunjungan PC IPNU dan IPPNU Pringsewu ke seluruh PAC, PK dan PR  IPNU IPPNU dalam rangka meneguhkan dan menyolidkan kader," kata Ketua PC IPNU Kabupaten Pringsewu Sigit, Selasa (5/12).

Kunjungan pertama telah dilaksanakan pada September hingga Oktober 2017 lalu di Kecamatan Adiluwih. Setelah itu dilanjutkan di Kecamatan Pagelaran Utara, Ambarawa, Sukoharjo dan Banyumas. 

Attauhidiyyah Giren





"Pada awal tahun 2018 program nanti akan dilaksanakan di Kecamatan Gadingrejo dan Pardasuka," jelas Sigit.

Attauhidiyyah Giren

Program tersebut merambah 9 kecamatan yang ada di Kabupaten Pringsewu yang kesemuanya telah terbentuk kepengurusan PAC.

Dalam program itu Pengurus Cabang melakukan kunjungan kepada para tokoh dan pengurus NU setempat.

"Kita sowan (silaturahim) kepada para kiai, habaib, ustad, pondok pesantren, pengurus banom dan lembaga NU untuk meminta arahan langkah terbaik untuk berkhidmah di NU," jelasnya.

Silaturahim dilakukan guna mendukung sukses dan barakahnya kegiatan, Sigit berharap doa dan dukungan dari segala pihak.

"Mohon doa dan restu para kiai dan ustad semua, semoga lancar dan tidak ada kendala apa-apa dalam menjalankan semua program yang telah dan sedang disusun dan dilaksanakan," harap Sigit.

Selain itu, untuk lebih solid di era digital sekarang ini, pihaknya juga sudah memiliki komunitas dan grup di media sosial sebagai ajang silaturahmi via dunia maya.

Menurutnya setiap kepengurusan IPNU dan IPPNU Pringsewu di semua tingkatan sudah memiliki akun medsos masing-masing.

"Selain sebagai sarana komunikasi pengurus, akun media sosial tersebut juga digunakan untuk syiar ke-NU-an dan pemberitaan seputar kegiatan IPNU dan IPPNU di setiap tingkatan kepengurusan," pungkas Sigit. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nasional Attauhidiyyah Giren

Ansor Batuputih Bentengi NKRI dengan Shalawat

Sumenep, Attauhidiyyah Giren - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Batuputih, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur dan jamaah PAC Rijalul Ansor bersama-sama membacakan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW di Desa Batuputih Laok, Kecamatan Batuputih Sabtu malam (7/2).

Ketua GP Ansor Sumenep M Muhri menegaskan, tradisi membaca shalawat yang dipertahankan warga nahdliyin, merupakan salah satu upaya membentengi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ansor Batuputih Bentengi NKRI dengan Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Batuputih Bentengi NKRI dengan Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Batuputih Bentengi NKRI dengan Shalawat

Sebab, terang M Muhri, tradisi melantunkan shalawat serta menghayatinya, dapat menghadirkan kesejukan jiwa.

Attauhidiyyah Giren

"Apalagi ditopang dengan kesadaran muara dari shalawat itu, yakni Nabi Muhammad SAW. Kesadaran yang ditopang dengan semangat meneladani spirit dakwah Nabi, insyaallah dapat mengukuhkan NKRI dari gerakan perpecahan," tegas alumnus Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur tersebut.

Pihaknya bersyukur tradisi membaca shalawat terus menggema dan digenjot oleh pemuda-pemuda Ansor di Kabupaten Sumenep dan warga nahdliyin secara umum.

"Tapi kalau membaca shalawat tapi masih berkata dan bersikap yang dapat merongrong keutuhan bangsa, berarti ruh shalawat belum sepenuhnya terpatri dalam jiwa," tandasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Attauhidiyyah Giren

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ahlussunnah Attauhidiyyah Giren

Selasa, 28 November 2017

Fatayat NU Probolinggo Diminta Pahami Landasan Amaliah NU

Probolinggo, Attauhidiyyah Giren - Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Probolinggo mengadakan Latihan Kader Dasar (LKD) bagi 35 orang pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) di 11 kecamatan se-Kabupaten Probolinggo, Ahad (26/2). Kegiatan yang dipusatkan di RM Rahayu Desa Banjarsari Kecamatan Sumberasih ini dibuka oleh Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi Saifullah.

Kiai Abdul Hadi menyampaikan, sebagai organisasi badan otonom NU, kader Fatayat NU harus mempunyai semangat yang tinggi dalam berjuang mengembangkan Fatayat NU di wilayah kerja masing-masing.

Fatayat NU Probolinggo Diminta Pahami Landasan Amaliah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Probolinggo Diminta Pahami Landasan Amaliah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Probolinggo Diminta Pahami Landasan Amaliah NU

“Kader Fatayat NU harus mempuyai jiwa militansi yang tinggi sehingga mampu mengembangkan Fatayat sampai ke tingkat paling bawah. Kader Fatayat juga harus mampu menguasai dasar-dasar amaliah di NU, seperti tahlil dan lain sebagainya sehingga tidak hanya melaksanakan tapi benar-benar tahu dasar dalil-dalilnya,” katanya.

Sementara Ketua Fatayat NU Probolinggo Elysa Candra Maya mengatakan, LKD ini merupakan jenjang pengkaderan formal yang ada di Fatayat NU. Kegiatan ini dilakukan sebagai amanah organisasi untuk peningkatan SDM kader. “Tujuan utamanya adalah untuk mencetak kader Fatayat NU yang militan,” katanya.

Attauhidiyyah Giren

Menurut Elysa, LKD ini dilakukan guna membentuk kader yang berwawasan Islam dan mempunyai loyalitas serta rasa memiliki dan tanggung jawab yang tinggi terhadap organisasi.

Attauhidiyyah Giren

“LKD ini adalah media pengenalan dan sarana penanaman nilai-nilai identitas, karakter dan ideologi yang menjadi cita-cita Fatayat NU. Melalui kegiatan ini diharapkan agar nantinya mampu merekrut kader Fatayat NU yang benar-benar memiliki keikhlasan dalam berjuang dan membesarkan organisasi demi nahdliyin yang ada di Kabupaten Probolinggo,” harapnya.

Selain materi ke-NUan oleh Kiai Abdul Hadi, para pengurus Fatayat NU ini juga mendapatkan materi tentang keorganisasian dari Ketua Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj Nurhayati dan ke-Aswajaan dari Ketua Aswaja NU Center Kabupaten Probolinggo Teguh Mahameru. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ulama, Kiai, RMI NU Attauhidiyyah Giren

PBNU Canangkan Gerakan Ekonomi Berbasis Masjid dan Pesantren

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Pengurus harian Syuriyah PBNU menggelar pertemuan bersama pengurus baru Lembaga Takmir Masjid (LTM) dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) di Jakarta, Kamis (10/9) siang. Mereka sepakat mengambil pemberdayaan ekonomis sebagai fokus program kerja ke depan dua lembaga strategis di NU itu.

PBNU Canangkan Gerakan Ekonomi Berbasis Masjid dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Canangkan Gerakan Ekonomi Berbasis Masjid dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Canangkan Gerakan Ekonomi Berbasis Masjid dan Pesantren

Pada rapat yang diikuti para katib Syuriyah PBNU, Rais Aam mengarahkan pengurus inti dua lembaga ini untuk fokus pada penguatan ekonomi berbasis garapan masjid dan pesantren.

“Kita ingin ekonomi ini menggerakkan NU, masjid juga pesantren, dan juga untuk kesejahteraan nahdliyin itu sendiri,” kata Silahuddin, salah seorang staf Rais Aam usai rapat internal di Jakarta, Kamis (10/9) sore.

Attauhidiyyah Giren

Menurut Silahuddin, program RMI dan LTM PBNU yang sudah berjalan pada periode kepengurusan sebelumnya tetap berlanjut. Syuriyah PBNU mengapresiasi gerakan deradikalisasi RMI dan program muharrik masjid LTM PBNU yang sudah berjalan.

Attauhidiyyah Giren

“Kini kita masukkan pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren dan masjid seiring tantangan ekonomi dunia,” kata Silah.

Rais Aam dan pengurus harian Syuriyah PBNU pada pekan depan akan mengadakan rapat dengan lembaga lain di PBNU. “Minggu depan kemungkinan dengan Lazisnu dan lembaga bahtsul masail,” tandas Silah. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pendidikan Attauhidiyyah Giren

Ciptakan Ramadhan Tenteram, PAC Ansor Sidoarjo Resmikan Posko Ramadhan

Sidoarjo, Attauhidiyyah Giren. Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Sidoarjo mendirikan posko untuk membantu kepolisian menciptakan ketertiban dan keamanan selama bulan Ramadhan pada Sabtu (27/5) menjelang buka puasa bersama di Pertigaan Embong Malang, Cemengkalang Sidoarjo.

Turut hadir dalam acara pembukaan sekaligus peresmian posko Ramadhan, Kepala Desa Suko, Kepala Desa Cemengkalang, Forkopimka, Karang Taruna serta banom NU yang meliputi IPNU, Fatayat, Muslimat dan MWC NU Kecamatan Sidoarjo.

Ciptakan Ramadhan Tenteram, PAC Ansor Sidoarjo Resmikan Posko Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ciptakan Ramadhan Tenteram, PAC Ansor Sidoarjo Resmikan Posko Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ciptakan Ramadhan Tenteram, PAC Ansor Sidoarjo Resmikan Posko Ramadhan

Dalam sambutannya Ketua PC Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sidoarjo, H Rizza Ali Faizin, memberikan apresiasi kepada kader Ansor Sidoarjo kota sebagai respon positif atas pendirian posko Ramadhan tahun ini, yang memang digelar selama satu bulan penuh.

Berdirinya posko ini merupakan ajang untuk meneruskan tradisi Nahdliyin. Berdirinya posko tidak hanya sekedar seremonial, namun juga untuk mendekatkan kader Banser dan Ansor kepada masyarakat," papar Ketua PC GP Ansor Sidoarjo, Sabtu (27/5).?

Lelaki yang akrab disapa Reza itu menjelaskan, aksi pendirian posko tersebut bakal disusul oleh Gerakan Pemuda Ansor Se-Kabupaten Sidoarjo, usai diawali Ansor Kecamatan Sidoarjo Kota, berlanjut ke Kecamatan Wonoayu, Tulangan, Gedangan, dan kecamatan lainnya.

Attauhidiyyah Giren

Reza mengaku, "Posko yang didirikan di Embong-Malang ini merupakan jalur utama serta lokasi yang sangat strategis. Selain bertugas memantau situasi keamanan, petugas posko agar disiagakan membantu kelancaran arus mudik dan balik lebaran.?

"Sehingga poskonya aktif selama sekitar dua bulan hingga tuntasnya arus balik. Kami berharap, dengan adanya posko ini ikut menciptakan suasana kondusif agar warga khusuk beribadah," pungkasnya.?

Attauhidiyyah Giren

Selaras dengan ketua PC GP Ansor Sidoarjo, Yusak Arifin menuturkan "Alasan posko didirikan di perempatan atau pertigaan jalan, karena dianggap rawan kejahatan," cetus Ketua PAC GP Ansor, ketika jumpa pers di Jl. Raya Cemengkalang. Sabtu (27/5/2017) malam.?

Posko ini bakal ada hingga menjelang malam Lebaran nanti. Masih kata Yusak, Posko Ramadhan ini salah satu kegiatan rutin yang digelar setiap tahun, saat bulan Ramadhan. Tujuan didirikannya posko, diantaranya untuk ikut membantu keamanan menciptakan rasa nyaman selama buoan penuh berkah ini. "Sehingga warga bisa tenang menjalankan ibadah selama bulan Puasa," jlentreh Cak Yusak, panggilan karib M. Yusak Arifin. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ubudiyah, RMI NU, IMNU Attauhidiyyah Giren

Tantangan Kaum Pelajar itu Berupa Televisi

Tangerang, Attauhidiyyah Giren. Wakil Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama H Abdul Munim DZ mengatakan, pelajar Indonesia saat ini mengalami banyak tantangan. Namun tantangan yang berat justru dari layar televisi di ruang dalam rumah sepulang sekolah.

Demikian disampaikannya dalam Orientasi dan Rapat Kerja PP IPNU-IPPNU Masa Khidmat 2012-2015 di Gedung Pusdiklat Muslimat Pondok Cabe Tengerang, Ahad (17/3). 

Tantangan Kaum Pelajar itu Berupa Televisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tantangan Kaum Pelajar itu Berupa Televisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tantangan Kaum Pelajar itu Berupa Televisi

Menurut Mun’im, televisi Indonesia tidak mencerminkan kondisi pelajar yang sesungguhnya. Tayangan merupakan desain kepentingan asing yang ingin meruntuhkan moral generasi muda Indonesia. “IPNU harus sadar dan segera menata pelajar dengan baik di Indonesia," katanya.

"Sebagai garda terdepan dalam pembangunan di Indonesia, IPNU-IPPNU perlu terlibat aktif dalam proses yang ada mengingat IPNU-IPPNU menjadi penerus NU, yang tidak lain adalah organisasi yang lahir untuk memperjuangkan kepentingan Ahlussunnah wal Jama’ah,” tambahnya.

Attauhidiyyah Giren

Orientasi dan Rapat Kerja PP IPNU-IPPNU yang mengambil tema “Bergerak Bersama Pelajar Indonesia” berlangsung hingga Senin (18/3) hari ini. 

Attauhidiyyah Giren

Menurut Ketua Umum PP IPNU, Khoirul Anam HS, orientasi ini merupakan rangkaian kegiatan pra-pelantikan untuk mensinergikan pengurus pusat yang baru terbentuk. 

Ketua Umum PP IPNU Farida Faricha mengatakan, kegiatan ini sebagai bentuk sinergisitas IPNU-IPPNU untuk bergerak bersama mengawal pelajar NU.

“Tema tersebut sesuai dengan kondisi pelajar saat ini yang banyak mengalami tantangan dan ancaman, terutama pemahaman mereka menyangkut eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia serta ancaman terhadap bahaya narkoba,” katanya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Munir

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren IMNU Attauhidiyyah Giren

Berikan Kontribusi Terbaik untuk Peradaban Indonesia dan Dunia

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Tantangan yang dihadapi NU semakin besar. Peradaban modern dan kecanggihan teknologi informasi harus dijawab dengan cerdas. Kalau waktu berdirinya NU, ajaran radikalisme berkembang di luar negeri. Kini, radikalisme ada di tengah-tengah kita. Jangan sampai kita lengah. Kita harus bersatu memberikan yang terbaik untuk peradaban Indonesia dan dunia.

Berikan Kontribusi Terbaik untuk Peradaban Indonesia dan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Berikan Kontribusi Terbaik untuk Peradaban Indonesia dan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Berikan Kontribusi Terbaik untuk Peradaban Indonesia dan Dunia

Demikian ditegaskan KH Said Aqil Siroj dalam silaturahim PWNU se-Indonesia dan PBNU di lantai 8 Kantor PBNU, Rabu (15/12).

"Muktamar sudah selesai. Sekarang waktunya kita bersama-sama membangun Indonesia. Tema Islam Nusantara yang sudah digagas NU dalam Muktamar Ke-33 di Jombang sudah menjadi referensi bagi dunia Islam. Sudah banyak sekali duta besar dari berbagai negara yang ingin ketemu PBNU," tegas Kiai Said.

Attauhidiyyah Giren

Dalam diskusi dengan berbagai PWNU se-Indonesia, Kiai Said juga menegaskan bahwa kepengurusan PBNU yang baru sudah menyiapkan banyak agenda kerja ke depan. Sudah disiapkan koordinator wilayah yang pada tahun 2016 nanti sudah turun ke bawah. Penguatan organisasi akan diprioritaskan, mulai menata PCNU, MWCNU, ranting, dan anak ranting.

"Secara organisasi harus kuat. Semua kepengurusan harus ditata dengan rapi. Para koordinator wilayah akan bekerja dengan serius, menjalin hubungan dan kerja  sama dengan semua PWNU. Ini langkah nyata agar NU semakin kerja maksimal dalam membangun Islam Nusantara. Peradaban Indonesia dan dunia sudah menunggu peran NU," tambahnya.

Attauhidiyyah Giren

Dalam silaturrahim ini, hadir para pengurus PBNU, diantaranya Prof Maksum Mahfoedz, Helmy Faisal, Marsudi Suhud, Bina Suhendra, Imam Pituduh, KH Abdul Manan, dan lain sebagainya. (Madun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Aswaja, Bahtsul Masail, Fragmen Attauhidiyyah Giren

PW Ansor Jabar Masa Khidmah 2016-2020 Dilantik

Bandung, Attauhidiyyah Giren



Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat masa khidmat 2016-2020 resmi dilantik Ketua Umum PP GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas di Monumen Perjuangan Bandung, Rabu (10/5).

PW Ansor Jabar Masa Khidmah 2016-2020 Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
PW Ansor Jabar Masa Khidmah 2016-2020 Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

PW Ansor Jabar Masa Khidmah 2016-2020 Dilantik

Pria akrab disapa Gus Yaqut mengambil sumpah pengurus di hadapan ribuan anggota Ansor dan Banser se-Jawa Barat serta Rais Syuriah PWNU Jabar KH Nuh Addawami dan Ketua PWNU KH Hasan Nuri Hidayatullah.

Gus Yaqut mengatakan, berdirinya Indonesia hasil dari rakyat, yang salah satunya para ulama NU. Maka ketika ada yang merongrong Indonesia dengan Pancasila sebagai ideologinya, Ansor harus melawan.

Ketua PW GP Ansor Jabar Deni Ahmad Haidar menegaskan bahwa Ansor sekarang harus bisa membuktikan sebagai generasi terbaik. Ketika ada yang mengusik Indonesia, Ansor sudah tentu siap melawan.

Selepas pelantikan, dilakukan juga peletakan batu pertama Kantor PW Ansor di kompleks PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung Bandung. Gus Yaqut menyumbang Rp 100 juta sebagai stimulus berdirinya Graha Ansor Jabar.

Attauhidiyyah Giren

Satkorwil Banser Jabar, Yudi Nurcahyadi mengatakan, dana yang dibutuhkan untuk membangun Graha Ansor sebesar Rp 1,5 miliar. Hingga saat ini sudah terkumpul Rp 400 juta sehingga ketika ada sumbangan Rp 100 juta, total terkumpul Rp 500 juta. (Nurjani/Abdullah Alawi)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Berita, Quote, Cerita Attauhidiyyah Giren

Pelajar NU Peringati Hardiknas di Puncak Gunung Prau

Wonosobo, Attauhidiyyah Giren. Ratusan pemuda, pelajar dan mahasiswa memperingati Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas dengan mengelar doa bersama dan pengibaran bendera merah putih di puncak gunung Prau wonosobo, Sabtu hingga Ahad kemarin (3-4/5). Kegiatan ini di selengarakan oleh Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Wonosobo dengan mengambil tema “Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Doa Bersama untuk Indonesia”.

Pelajar NU Peringati Hardiknas di Puncak Gunung Prau (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Peringati Hardiknas di Puncak Gunung Prau (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Peringati Hardiknas di Puncak Gunung Prau

Peringatan Hardiknas ini dimulai pada Sabtu mulai pukul 13.00 WIB hingga Ahad Pukul 13.00 WIB dengan mengambil jalur pendakian patak banteng sebagai rute pendakian dan jalur dieng sebagai rute turun. Beberapa rentetan kegiatan yang dilaksanakan diantaranya adalah doa bersama pemuda, pelajar dan mahasiswa, saresehan ringan dan pengibaran bendera merah putih.

Ketua panitia Hakim Asnawi kepada Attauhidiyyah Giren mengungkapkan, kegiatan ini dilaksanakan dengan beberapa rentetan acara yang mempunyai makna dan tujuan masing-masing.

Attauhidiyyah Giren

“Doa bersama dimaksudkan untuk mendoakan teman-teman kita para pelajar yang tengah menghadapi ujian nasional supaya mendapatkan kemudahan dalam mengerjakan soal dan dapat lulus dan mendapatkan nilai baik. Selain mendoakan pelajar-pelajar yang tengah menghadapi ujian nasional doa bersama ini juga mendoakan untuk suksesnya pilpres 2014 dan benar-benar menghasilkan pemimpin yang amanah, serta untuk indonesia aman dan sejahtera terhindar dari mala petaka dan bencana,” katanya.

Attauhidiyyah Giren

Saresehan ringan dilaksanakan untuk media sharing dan berbagi pengetahuan serta pengalaman tentang pendidikan nasional serta sebagai media pengenalan dan pengakraban antara satu peserta dan peserta lain. Pengibaran bendera merah putih dilaksanakan sebagai wujud penghormatan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta untuk memupuk jiwa nasionalisme peserta kegiatan.

Ratusan pemuda, pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi keagamaan dan keterpelajaran IPNU-IPPNU ini memilih gunung sebagai tempat kegiatan dikarenakan banyak makna dan pelajaran yang mungkin akan dicapai.

“IPNU-IPPNU memilih gunung sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan. Ini dimaksudkan sebagai pembelajaran tentang makna kehidupan, menumbuhkan karakter pekerja keras, saling tolong-menolong serta suka menolong satu sama lain dan ini nampak ketika kegiatan dilaksanakan terutama pas pendakian dan diharapkan karakter yang tumbuh ini akan dibawa dan diamalkan dalam kegiatan keseharian, selain itu kegiatan ini dilaksanakan sebagai wahana pengenalan kepada alam serta menyaksikan keagungan Tuhan,” tegasnya.

Gunung Prau terletak pada ketinggian 2560 m di atas permukaan laut. Secara administratif Gunung Prau masuk wilayah beberapa Kabupaten sekaligus. wilayah Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Batang dan Kabupaten Kendal. Sedang secara Astronomis Gunung ini terletak pada koordinat 7° 11 13" LS,  109° 55 22" BT.

Bentuk Gunung Prau yang memanjang meliputi beberapa wilayah Kabupaten memungkinan Gunung ini untuk ditempuh melalui beberapa alternatif jalur pendakian. Jalur selatan, yaitu lewat Dataran Tinggi Dieng atau Desa Patak Banteng. Durasi perjalanan melalui jalur ini relatif lebih mudah dan singkat, yaitu memakan waktu sekitaran 2-3 Jam perjalanan. Jalur utara, bisa melalui Kabupaten Kendal, Semisal dari Desa Genting Gunung, Desa Balong, Desa Kenjuran yang berada di Kecamatan Sukoreja. Jarak tempuh perjalanan mendaki melewati jalur Utara ini kurang lebih memakan waktu 6 Jam. (Hakim Asnawi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kajian, Ulama Attauhidiyyah Giren

Ribuan Warga Antusias Ikuti Pengajian Tastafi

Pidie-Aceh, Attauhidiyyah Giren. Ribuan warga Kabupaten Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam, khususnya kecamatan Mutiara tumpah ruah mengikuti pengajian Tasawuf, Tauhid dan Fikih (Tastafi) Kamis (28/8) tadi malam yang diasuh oleh Syekh Hasanoel Basri HG atau yang akrab disapa Abu MUDI.

Pengajian ini dipusatkan di Mesjid Baitul A’la Lil Mujahidin (Mesjid Abu Beureueh). Tingginya antusiasme masyarakat dalam mengikuti pengajian ini membuat Jamaah membludak hingga di luar mesjid, meskipun dalam Mesjid sendiri jamaah sudah duduk berdesakan.

Ribuan Warga Antusias Ikuti Pengajian Tastafi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Antusias Ikuti Pengajian Tastafi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Antusias Ikuti Pengajian Tastafi

Tgk. Muhammad Iqbal Jalil menyampaikan, panitia telah berusaha semaksimal mungkin untuk mensosialisasikan kegiatan ini. Bahkan untuk ke depan, sosialisasi pengajian ini juga akan menggunakan aplikasi sms gateway dan sms massal agar akses informasi mengenai jadwal kegiatan pengajian dan zikir akbar semakin meluas. Pihak panitia juga telah berkoordinasi dengan geusyik untuk memberikan himbauan kepada masyarakat

Attauhidiyyah Giren

Sebelumnya, pengajian Tastafi telah pernah beberapa kali diadakan di Mesjid Abu Beureueh ini, namun jadwalnya belum ditetapkan secara reguler. Rencananya, ke depan Abu MUDI dijadwalkan akan mengisi pengajian Tastafi pada malam jumat terakhir di setiap bulannya, sedangkan pada malam jumat yamh lain diadakan zikir secara rutin yang dipimpin oleh Waled Abubakar, salah seorang munaffis Thariqat Naqsyabandiyyah.

Warga Mutiara juga sangat mengapresiasi kinerja pengurus Mesjid, di mana saat ini suasana Mesjid yang bernilai sejarah ini semakin hidup dengan kegiatan-kegiatan zikir dan dakwah. Kegiatan itu sendiri semakin memotivasi masyarakat untuk memakmurkan Mesjid. Selain pengajian bulanan dan mingguan, di Mesjid Baitul A’la Lil Mujahidin ini juga diadakan pengajian harian setelah subuh. Kegiatan ini semuanya adalah salah satu upaya untuk mendukung pelaksanaan syariat Islam secara kaffah di bumi Serambi Mekah. (Muhammad Iqbal Jalil/Anam)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Hadits, Kiai Attauhidiyyah Giren

Rombongan Kirab Hari Santri Disambut Semarak di Tugu Proklamasi

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Sekitar 50 orang rombongan Kirab Hari Santri dan Resolusi Jihad NU akhirnya tiba di Tugu Proklamasi, Jakarta, Kamis (22/10), tepat pada puncak peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2015.

Mereka yang menempuh perjalanan sejak 18 Oktober lalu dari Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, ini disambut meriah ribuan pelajar-santri dari berbagai sekolah dan pondok pesantren di Jabodetabek, serta para kader IPNU dan IPPNU. Kibaran bendera Merah Putih dan Nahdlatul Ulama terlihat di berbagai sudut.

Rombongan Kirab Hari Santri Disambut Semarak di Tugu Proklamasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Rombongan Kirab Hari Santri Disambut Semarak di Tugu Proklamasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Rombongan Kirab Hari Santri Disambut Semarak di Tugu Proklamasi

Rombongan Kirab Hari Santri sebelumnya ? menempuh perjalanan menggunakan empat bus mini dan singgah di sejumlah titik di kawasan Pantura. Mereka melakukan ziarah ke makam tokoh-tokoh NU, silaturahim ke kiai-kiai dan pesantren, serta membacakan teks Resolusi Jihad dan Ikrar Santri.

Attauhidiyyah Giren

Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam orasinya menegaskan bahwa Hari Santri tidak monopoli milik murid-murid pesantren, melainkan seluruh umat Islam Indonesia yang mempunyai kesamaan spirit kebangsaan. "Insyaallah ini akan ekspor ke luar negeri. Kita tunjukkan Islam Indonesia punya ciri khas," ujarnya.

Hadir dalam kesempatan ini Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Rais Aam PBNU KH Maruf Amin bersama pengurus syuriyah dan tanfidziyah PBNU lain, para pimpinan ormas Islam, para pimpinan badan otonom NU, para kiai, serta beberapa kelompok pasukan TNI.

Attauhidiyyah Giren

KH Maruf Amin mengucapkan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang sudah menandatangani penetapan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober dan mendeklarasikannya Kamis (22/10) siang ini. Menurutnya, Resolusi Jihad mesti direvitalisasi maknanya sesuai dengan kekinian, dari jihad perang menjadi jihad perbaikan bagi kehidupan bangsa Indonesia. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren News, Sholawat Attauhidiyyah Giren

Senin, 27 November 2017

Fatayat NU Aceh Latih Guru PAUD di 12 Kabupaten

Aceh Besar, Attauhidiyyah Giren. Pimpinan Wilayah Fatayat Nahdlatul Ulama (PW Fatayat NU) Provinsi Aceh menggelar pelatihan kapasitas tenaga guru PAUD untuk 12 kabupaten/kota se-Provinsi Aceh.

“Ini merupakan program yang terakhir PW Fatayat NU Aceh kerjasama dengan The Global Fund for Children, yang sebelunya sejak 2006 juga telah dilaksanakan 4 kali di Banda Aceh, Aceh Utara, Aceh Tengah,” kata Ketua PW Fatayat NU Hj. Abriati Yusuf, SE.

Fatayat NU Aceh Latih Guru PAUD di 12 Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Aceh Latih Guru PAUD di 12 Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Aceh Latih Guru PAUD di 12 Kabupaten

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Drs. Anas M. Adam memberikan sambutan pada pembukaan pelatihan peningkatan kapasitas tenaga pendidik PAUD/TK dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Aceh, Kamis (18/4), di Permata Hati Training Center, Aceh Besar.

Attauhidiyyah Giren

Menurutnya, setiap guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) harus mempunyai kapasitas dalam mendidik anak-anak, karena gurulah yang akan membentuk karakter bagi siswanya.

Attauhidiyyah Giren

Anas M. Adam menambahkan, Pendidikan Anak Usia Dini dan Taman Kanak-kanak ini sangat penting, namun sampai saat ini masih banyak guru yang belum memiliki kapasitas untuk mengelola PAUD.

“Banyak yang belum memiliki konsep tentang apa yang ingin diraih, guru yang membentuk karakter anak, di PAUD juga diajarkan bagaimana cara berinteraksi, ini hal kecil namun jika tidak memiliki kemampuan, akan berakibat fatal bagi anak”, ujar Anas

Menurutnya, usia anak-anak cenderung meniru apa yang dilihat dan didengar, otak mereka harus dirangsang, maka penting hal ini diketahui oleh para pendidik di PAUD dan TK, maka sebelumnya guru harus benar-benar mampu.

“Pelatihan ini diharapkan akan melahirkan trainer-trainer baru yang mampu mentransfer ilmunya kepada guru-guru lain daerah, sehingga pendidikan di Aceh akan lebih baik dimasa mendatang”, pungkas Anas

Hj. Abriati Yusuf mengatakan, pelatihan menghadirkan beberapa pemateri, diantaranya Denny Kadarusman dari Yayasan Anak Bangsa Indonesia (YABI) Jakarta, Agus Fatah, Budi, Nurul Azmi dari Fatayat NU dan dari Instansi Pemerintah.

Menurut Abriati, training ini dilaksanakan selama empat hari empat malam, peserta diberi pendidikan kurikulum pendidikan PAUD, praktik lapangan pada sabtu esok, serta diberikan makanan tambahan susu, kacang hijau, kedelai, sabun, agar dapat dijadikan sebagai contoh yang akan diberikan di sekolah nantinya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Nat Riwat

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pahlawan, Doa, PonPes Attauhidiyyah Giren

Jamaah Korban Crane Asal Jombang Hanya Luka Ringan

Jombang, Attauhidiyyah Giren. Di antara korban musibah jatuhnya alat berat crane di Masjidil Haram adalah Sainten bin Said Tarub (61). Perempuan ini adalah warga Desa Segodorejo, Sumobito Jombang, Jawa Timur.  Ia yang mengalami luka ringan, menjalani perawatan di Rumah Sakit An Nur, Arab Saudi.

 

Jamaah Korban Crane Asal Jombang Hanya Luka Ringan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jamaah Korban Crane Asal Jombang Hanya Luka Ringan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jamaah Korban Crane Asal Jombang Hanya Luka Ringan

Sainten adalah jamaah haji asal Kabupaten Jombang yang turut menjadi korban robohnya crane proyek di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Jumat (11/9) lalu.

Salah seorang anak korban, Nasratin mengungkapkan, ibunya merupakan Calon Jamaah Haji Kloter 15 Jombang pemegang paspor B0992684 yang berangkat melalui Embarkasi Juanda, Surabaya.

Attauhidiyyah Giren

 "Ya ahamdulillah ibu baik-baik di sana. Kami sebelumnya sangat khawatir." ungkap Nasratin, Senin (14/9).

Kepala Seksi Haji dan Umrah Kantor Kemenag Jombang, Habib Adnan mengaku sudah mendapatkan laporan tentang adanya jamaah haji asal Jombang yang mengalami luka ringan dari Ketua Kloter.

Attauhidiyyah Giren

Ia menjelaskan korban luka ringan itu bernama Sainten bin Said Tarub, warga Desa Segodorejo, Kecamatan Sumobito. Sainten berada di kloter 15 bersama ratusan CJH asal Jombang lainnya.

Dari laporan yang diterima Kemenag, jamaah tersebut tidak tertimpa secara langsung, namun hanya terkena percikan reruntuhan. "Saat ini beliau (Sainten) menjalani perawatan di RS Arab Saudi," pungkasnya.

 

Dari foto yang diterima media ini lewat salah seorang petugas haji, tampak korban didampingi oleh dokter Nur Lailaturriza, Kepala Puskesmas Pesantren (Puskestren) Tebuireng yang juga Tenaga Kesehatan Haji atau TKHI Kloter 15 SUB. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nahdlatul Ulama, Humor Islam Attauhidiyyah Giren

Hajar Hidayatullah 1-4, Darul Ulum Wakili Sumatera VI di Putaran Final LSN

Bengkulu, Attauhidiyyah Giren. Laga final Liga Santri Nusantara Regional Sumatera VI yang meliputi Sumatera Barat dan Bengkulu, telah berlangsung Rabu (5/10) di Stadion Semarak Sawah Lebar, Kota Bengkulu.

Kickoff laga final yang mempertemukan juara Zona Sumbar Pesantren Darul Ulum, melawan juara Zona Bengkulu, Pesantren Hidayatullah, ditandai dengan tendangan bola oleh Kapolda Bengkulu Brigjen Pol M Ghufron.

Hajar Hidayatullah 1-4, Darul Ulum Wakili Sumatera VI di Putaran Final LSN (Sumber Gambar : Nu Online)
Hajar Hidayatullah 1-4, Darul Ulum Wakili Sumatera VI di Putaran Final LSN (Sumber Gambar : Nu Online)

Hajar Hidayatullah 1-4, Darul Ulum Wakili Sumatera VI di Putaran Final LSN

Sejak peluit panjang berbunyi, tim Darul Ulum mencoba membangun serangan terlebih dahulu. Tetapi usaha kedua tim perwakilan Zona Sumbar dan Bengkulu ini, belum menghasilkan gol hingga babak pertama usai.

Memasuki babak kedua, kedua tim saling menyusun serangan, bola-bola bahaya sempat kedua peroleh, tapi sayang hingga babak kedua selesai, tak ada satupun yang dapat menghasilkan gol. Hingga pada akhirnya terjadilah adu finalti, yang dimenangkan Pesantren Darul Ulum dengan gol 4-1.

Dengan kemenangan tersebut, Pesantren Darul Ulum berhak melaju ke babak seri nasional mewakili Regional Sumatera VI yang pada babak penyisihan diikuti 14 Pesantren se-Sumbar dan Bengkulu.

Attauhidiyyah Giren

"Dengan kemanangan ini, maka Pesantren Darul Ulum akan mewakili Regional Sumatera VI di seri nasioanal yang akan berlangsung di Yogyakarta,” jelas Herliardo Ketua Panpel Sumatera VI.

"Siapapun yang menang kita apresiasi, yang penting momentum Liga Santri Nusantara telah membangkitkan ghirah/semangat pesantren di bidang olahraga," tambahnya.

Attauhidiyyah Giren

Laga final Regional Sumatera VI di samping dihadiri Kapolda Bengkulu, juga hadir Kapolres Bengkulu, Staf Ahli Gubernur Bengkulu, Din Ikwan, para pejabat Kemenag Provinsi, panitia Liga Santri Nusantara pusat dan daerah, serta ratusan suporter kedua tim. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Olahraga, Internasional Attauhidiyyah Giren

Asmaul Husna Warnai Semifinal LSN Jateng 2

Semarang, Attauhidiyyah Giren - Pendukung Al-Hikmah FC menggemakan Asmaul Husna di lapangan Yon Arhanudse 15 kota Semarang, Jawa Tengah. Semangat dukungan dari santri ini tak putus memberikan semangat kepada tim kesayangan mereka dari Ngadipurwo Blora tersebut, Ahad (4/9).

Lawan dari Al-Hikmah FC dari pesantren Kauman Rembang atau "Mbah Sambu FC”.? ? Pemenang dari pertandingan ini akan melawan Binsa FC (Pesantren Bina Insani Kabupaten Semarang) di partai final yang digelar sore ini sekitar 15.30.

Asmaul Husna Warnai Semifinal LSN Jateng 2 (Sumber Gambar : Nu Online)
Asmaul Husna Warnai Semifinal LSN Jateng 2 (Sumber Gambar : Nu Online)

Asmaul Husna Warnai Semifinal LSN Jateng 2

"Hafalan Asmaul Husna ini menjadi pembuka tiap kali memulai belajar di pesantren," papar Gus Habib (pengasuh Al-Hikmah).

Attauhidiyyah Giren

Selain Asmaul Husna, mereka meneriakkan lagu Ya Ahlal Wathan dan lagu khas NU lain sambil mengibarkan bendera NU.? Tak lupa mereka lalaran kitab Amtsilah al-Tashtifiyyah dengan membawa kitab langsung. (Zulfa/Abdullah Alawi)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Jadwal Kajian, Quote, Syariah Attauhidiyyah Giren

Minggu, 26 November 2017

Gus Dur: Nabi Palsu Tak Tahan Lama

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Ditengah hiruk pikuknya orang menghujat orang yang mengaku sebagai nabi palsu, Gus Dur merupakan figur yang cukup tenang, tidak terpengaruh oleh situasi yang panas dan emosional. Mengapa? Bagi Gus Dur, sesuatu yang palsu, termasuk nabi palsu tak akan bertahan lama.

Biar saja kan hilang sendiri nanti, wong palsu, tidak tahan lama, ujar Gus Dur dalam acara kongkow kongkow yang digelar rutin setiap Sabtu pagi (3/11) di sebuah radio swasta.

Salah seorang pendengar juga menyampaikan pertanyaan yang menggelitik Kenapa Gus Dur pintar dan alim tidak mau ngaku menjadi nabi? ujar penelpon itu. Apalagi sekarang lagi ramainya munculnya aliran Al Qiyadah yang pemimpinya mengaku menjadi nabi.

Gus Dur: Nabi Palsu Tak Tahan Lama (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Nabi Palsu Tak Tahan Lama (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Nabi Palsu Tak Tahan Lama

Karuan saja Gus Dur dengan selorohnya jawab dengan ceplas-ceplos. Saya bukan orang gila. Yang ngaku nabi itu kan orang gila, ujar cucu pendiri NU itu. Pasalnya, sudah jelas Nabi Muhammad SAW itu adalah nabi dan rasul terkahir, tidak ada nabi lagi setelah itu. Makanya yang ngaku, saya katakan gila.

Baginya, orang seperti Ahmand Mushaddeq perlu didekati, dibimbing dan diajak dialog karena apa yang dilakukan adalah salah. Saya bilang salah, bukan memakai istilah sesat,ujar Gus Dur.(mad)

Attauhidiyyah Giren



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Hikmah, Halaqoh, RMI NU Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren

Keutamaan Membaca Shalawat di Hari Jumat

Dalam Kitab Nawadirul Hikayah Karya Syaikh Syihabuddin bin Salamah Al Qulyuby termaktub hadits:

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?: "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.?



Keutamaan Membaca Shalawat di Hari Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Keutamaan Membaca Shalawat di Hari Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Keutamaan Membaca Shalawat di Hari Jumat

Artinya: diriwayatkan dari Anas radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Salallahu alaihi wasalam bersabda:?

"Barang siapa bershalawat kepadaku di hari Jumat 100 kali, maka Allah akan mengabulkan baginya 100 hajat (kebutuhan), yang 70 dari kebutuhan akhirat dan 30 dari kebutuhan-kebutuhan duniawi. Dan Allah membebankan shalawat tersebut kepada malaikat hingga menghaturkannya ke kuburanku, layaknya (cahaya) hidayah yang masuk kepada kamu sekalian, ? dan malaikat memberi tahu akan namanya, kemudian aku menetapkannya di sampingku di dalam lembaran yang putih bersih, dan dengan shalawatnya, aku mencukupinya (memberi syafaat) kelak di hari kiamat,".



Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren

Lewat Hadits diatas, dapat disimpulkan bahwa, keutamaan membaca shalawat di hari Jumat 100 kali, adalah::



1. Dikabulkan 100 hajatnya: 70 mengenai kebutuhan akhirat dan yang 30 kebutuhan dunia

2. Bacaan shalawatnya tersampaikan kepada nabi oleh malaikat atas perintah Allah

3. Bagi yang bershalawat, namanya akan disebut malaikat di kehadirat nabi

4. Namanya akan diingat dan dicatat nabi dalam lembaran yang putih dan bersih

5. Nabi Muhammad SAW akan memberikan syafaatnya kelak di hari kiamat kepada orang ? yang telah membaca shalawat untuknya.



Subhanallah, sungguh banyak sekali keutamaan-keutamaan membaca shalawat. Marilah di momen bulan Ramadan ini, kita perbanyak melakukan amal shalih seperti membaca shalawat nabi.?

Apalagi telah dipahami, bahwa di bulan Ramadhan semua amal ibadah dilipat gandakan pahalanya. Allahumma shalli wa sallim ala sayyidina Muhammad. (Ulin Nuha Karim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren RMI NU, Nahdlatul Ulama, Makam Attauhidiyyah Giren

"Hadiah Asrul Sani" untuk D. Zawawi Imron

Umumnya orang keluar hotel dijemput oleh sopir pribadi di lobi hotel. Kalau tidak, mereka melangkah keluar sebentar lalu menyetop taksi, sebuah transportasi tambangan. Namun, D. Zawawi Imron melangkah dengan tongkatnya bersama Ahmad Tohari menghentikan bajaj tanpa canggung atau perasaan malu.

Kendaraan roda tiga yang menghasilkan getaran-getaran tertentu mengantarkan keduanya dari sebuah hotel di Raden Saleh menuju Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (28/3) malam.

Tepat setahun lalu (28/3/2012), keduanya melewati rute yang sama untuk mengisi pidato budaya yang disampaikan oleh Zawawi Imron sendiri. Bedanya, keduanya tahun lalu menumpang taksi.

Hadiah Asrul Sani untuk D. Zawawi Imron (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadiah Asrul Sani untuk D. Zawawi Imron (Sumber Gambar : Nu Online)

"Hadiah Asrul Sani" untuk D. Zawawi Imron

Zawawi Imron malam itu tercatat sebagai seorang penyair yang menerima Hadiah Asrul Sani (HAS) atas kategori Kesetiaan Berkarya dari Situs Resmi PBNU Attauhidiyyah Giren yang memperingati 10 tahun kelahirannya.

Ketika ditanya mengapa menjadi seniman, Zawawi Imron yang digelari “Celurit Emas” mengatakan, “Karena seniman itu istimewa. Seniman itu orang yang tersesat di jalan yang benar.”

Attauhidiyyah Giren

Perihal itu disampaikan Zawawi Imron, dalam sambutan penerimaan HAS di hadapan sedikitnya 200 hadirin yang memadati Gedung PBNU lantai delapan, Jakarta Pusat, Kamis (28/3) malam. Zawawi Imron hingga kini masih terus menulis puisi.

Berikut ini merupakan riwayat penyair yang selalu membasahkan mulutnya dengan selawat Nabi Muhammad SAW. Riwayatnya ditulis oleh Hairus Salim dalam Ensiklopedi NU.

 

D Zawawi Imron

Attauhidiyyah Giren

Ia lahir di Batang-batang, Sumenep, Madura, 1945, namun tidak tahu tanggal dan bulannya, adalah penyair, esais, dan juga pelukis. Berdiam seumur-umur di kampung kelahirannya, tapi penyair yang tak tamat Sekolah Rakyat (SR) dan hanya sempat mencicipi pendidikan di Pesantren Lambicabbi, Gapura, Semenep, tak lebih dari dua tahun ini, dikenal di tingkat nasional, bahkan internasional.

Mulai menulis puisi sejak umur 13 tahun, ketika belajar di pesantren, mulanya sebagai kegemaran dan panggilan jiwa saja tanpa ada keinginan untuk menjadi seorang yang disebut sebagai ‘penyair.’ Namun, pada tahun 1973, seorang teman mengetik dan mengirimkan puisinya ke media lokal Minggu Bhirawa yang diredaksi oleh Suripan Sadi Hutomo yang kemudian memuatnya. Puisi yang dimuat pertama kali tersebut berjudul “Sembari Diri Berangkat Tua”. Hal ini mendorongnya untuk terus menulis puisi dan menjadi penyair.

Inspirasi-insiprasi dan ide-ide puisinya diambil dari lingkungan alam dan kultur yang menghidupinya: laut dan pengalaman pelayaran anggota keluarga dan warga kampungnya, derap karapan sapi, irama musik saronen, kidung-kidung kampung halamannya, bukit-bukit yang tandus, ladang yang kering, legit siwalan, dan gema orang kampungnya mengaji Al-Quran. 

Hidup dalam kemiskinan memberikannya pengalaman batin dan spiritual yang kaya. Tetapi anehnya, ia merasa gagal menulis dalam Bahasa Madura, bahasa ibunya, sehingga memilih Bahasa Indonesia sebagai media ekspresi. 

Pada tahun 1979, sajaknya memperoleh Juara I dalam lomba yang ditaja Perhimpunan Sahabat Pena Indonesia. Sebelumnya, dua antologi puisinya juga telah disiarkan. Namun namanya baru benar-benar muncul di pentas puisi nasional ketika pada Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki (TIM) tahun 1982, sajaknya diulas secara khusus oleh Subagio Sastrowardoyo, seorang penyair sekaligus kritikus berpengaruh. Sejak itu namanya kian menjadi perhatian dalam jagat sastra nasional. 

Tahun 1983, 1984, dan 1985, sajaknya berturut-turut memenangkan lomba yang digelar Perhimpunan Indonesia Amerika. Pada tahun 1985, antologinya Nenekmoyangku Air Mata memperoleh hadiah Yayasan Buku Utama. Menyusul itu, pada tahun 1990, kumpulan puisinya Celurit Emas dan Nenekmoyangku Air Mata terpilih sebagai buku terbaik oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Tahun 1995, puisinya “Dialog Bukit Kamboja” memenangkan hadiah utama penulisan puisi ANTV. 

Puisi “Celurit Emas” adalah semacam tanggapan kulturalnya terhadap Sudomo, Pangkomkamtib saat itu, yang demi alasan keamanan nasional secara pukul rata melarang keras orang membawa senjata tajam. Melalui kebijakan yang disebut sebagai “Operasi Celurit,” digelar razia terhadap mereka yang membawa senjata tajam. Celurit, senjata khas orang Madura, yang sebenarnya lebih banyak dipakai untuk keperluan di ladang, sawah, atau mengupas atau memotong sesuatu di pasar, dan juga telah digunakan orang di banyak tempat, seakan menjadi terdakwa dalam operasi ini. Maka lahirlah dari tangannya, puisi “Celurit Emas”. Popularitas puisi ini memberikannya julukan sebagai ‘Si Celurit Emas”.

Bersama Dorothea Rosa Herliany, Joko Pinurbo, dan Ayu Utami, Zawawi pernah tampil dalam acara kesenian Winter Nachten di Belanda (2002). Menjadi pemrasaran dalam Seminar Majelis Bahasa Brunei Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunei Darussalam (Maret 2002). Beberapa sajaknya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Belanda, dan Bulgaria. Yang juga penting dicatat sajaknya Bulan Tertusuk Lalang mengilhami film Garin Nugroho dengan judul sama. Puisinya yang lain, “Lemper” dibacakan dalam film Cinta dalam Sepotong Roti yang juga garapan Garin Nugroho. 

Puisi-puisi Zawawi memiliki struktur yang unik menurut kaidah struktur Bahasa Indonesia. Ia sendiri mengaku bahwa meski bahasa yang dipakainya Bahasa Indonesia, strukturnya pada hakikatnya tetap bahasa ibunya, Bahasa Madura. Hal ini, seperti dijelaskannya pada penyair Abdul Wachid BS yang menelusuri proses kreatifnya, tercermin dari cara kiasan, pemilihan irama maupun ungkapan spontanitasnya.

Sampai akhir 1960an, ia mengaku buta dengan perpuisian Indonesia dan hanya membaca sesuatu dari koran-koran bekas. Daerahnya yang relatif terisolir tak memungkinkannya berkomunikasi dengan baik dengan dunia luar. Karena itu, kidung, dongeng, dan syair-syair dalam Bahasa Madura sangat memengaruhinya, sehingga tak aneh kalau puisi-puisi awalnya kebanyakan bersifat naratif. Tetapi belakangan, setelah ia cukup mengenal puisi-puisi penyair Indonesia yang lain, puisi-puisinya lebih bersifat liris atau perpaduan antara keduanya. Zawawi menyadari kecenderungan ini, setelah puisi-puisinya itu selesai ditulis dan diapresiasi. Tetapi ia tak begitu memperhatikan hal ini karena dalam proses kreatifnya, ia mengaku selalu mulai dari penghayatan, bukan pengertian.  

Zawawi terkenal sebagai penyair yang produktif. Karya-karyanya yang telah dibukukan meliputi Semerbak Mayang (1977), Madura Akulah Lautmu (1978), Celurit Emas (1980), Bulan Tertusuk Ilalang (1982), Nenek Moyangku Airmata (1985), Berlayar di Pamor Badik (1994),  Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Madura Akulah Darahmu (1999), dan Kujilat Manis Empedu (2003). Selain puisi, ia juga rajin menulis esai di berbagai media. Dua kumpulan esainya telah dibukukan, masing-masing Unjuk Rasa kepada Allah (1999) dan Gumam-Gumam dari Dusun: Indonesia di Mata Seorang Santri (1999). 

Buku puisinya yang berjudul Kelenjar Laut (Yogyakarta, 1997) mendapat tiga penghargaan. Hadiah Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) dari Kerajaan Malaysia (Nopember 2010), hadiah dari Badan Pengembangan dan Pembidaan Pusat Bahasa (2011), dan Sea Award dari Kerajaan Thailand (Februari 2012). 

Zawawi adalah seorang budayawan sejati. Ia melakoni dan menjalankan berbagai peran kreatif dan selalu setia berada di tengah masyarakat atau berhubungan dengan masyarakat lain. Selain menulis, ia juga rajin keliling membacakan puisi ke berbagai kota di Indonesia dan menjadi pemrasaran dalam bidang sastra dan kebudayaan. Bakatnya yang lain adalah melukis. Lukisan-lukisannya telah diikutsertakan dalam berbagai pameran bersama di kota-kota seperti Jakarta, Yogyakarta, Malang, dan Surabaya, bersanding dengan karya-karya perupa terkemuka lainnya. Beberapa lukisan ulama dia taruh di Museum NU Surabaya. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang da’i agama yang fasih,  dan konon sebagai kiai inilah ia lebih dikenal di kampungnya, daripada sebagai penyair.

Penulis:  Alhafiz Kurniawan

 





Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Habib Attauhidiyyah Giren

Bedug Raksasa Akan Ditabuh Kelilingi 10 Kota

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Sebuah bedug terbesar di Indonesia akan ditabuh keliling 10 kota selama 15 hari berturut-turut (22 September-6 Oktober) dalam acara "Parade Bedug 2007" untuk memeriahkan bulan suci Ramadhan.

Direktur Utama Deteksi Production, Hari Santoso dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, mengungkapkan pementasan akan berlangsung selama perjalanan mengunjungi satu kota ke kota berikutnya di atas truk. Kegiatan ini melibatkan 60 penabuh bedug dari kelompok "Pesona Wangka", Ozeng Group", dan "Lembaga Musik Indonesia".

Bedug Raksasa Akan Ditabuh Kelilingi 10 Kota (Sumber Gambar : Nu Online)
Bedug Raksasa Akan Ditabuh Kelilingi 10 Kota (Sumber Gambar : Nu Online)

Bedug Raksasa Akan Ditabuh Kelilingi 10 Kota

Parade Bedug 2007? akan dimulai di Lampung pada 22 September. Selanjutnya rute parade akan berlanjut ke Karawang, Cirebon, Tegal, Surabaya, Malang, Yogyakarta, Purwokerto, Ciamis, Tasikmalaya, Bandung, Cianjur, Sukabumi, dan Jakarta.

"Di sepanjang rute yang ditempuh, mereka secara bergantian memukul bedug seberat satu ton dan diameter 2,02 meter setiap hari mulai pukul 08.30 WIB hingga 16.00 WIB," katanya.

Berikutnya, rombongan akan singgah di 10 kota untuk menggelar pertunjukan akbar, yakni Lampung, Krawang, Cirebon, Tegal, Malang, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Sukabumi, dan berakhir di Jakarta.

"Mereka memainkan beragam komposisi etnik tradisi, etnik kontemporer, dan etnik entertainmen di setiap konser akbar. Bedug itu juga akan dikolaborasikan dengan beragam alat musik perkusi etnik lainnya," kata Hari.

Attauhidiyyah Giren

Bedug terbesar yang pernah mendapat penghargaan Museum Rekor Indonesia ini memiliki panjang empat meter dan tinggi dua meter, terbuat dari kayu Bingkerey, yakni jenis kayu yang sangat kuat dan keras. Kulit bedugnya terbuat dari kulit kerbau yang diperoleh secara khsus di Banten.

Ukuran yang besar memungkinkan bedug ini ditabuh empat orang sekaligus, dan diperlukan kekuatan penuh saat memukulnya. "Bedug ini kalau ditabuh dapat mengeluarkan bunyi yang sangat mantap, bernada rendah sekali namun terdengar sangat agung," kata Hari.

Bedug terbesar di Indonesia ini dibuat oleh ahli pembuat gamelan, Trimanto atau Mpu Triwiguno yang pernah mendapat berbagai penghargaan di bidang seni, salah satunya dari UNESCO pada 1999. Bedug ini dibuat di Yogyakarta dalam waktu dua bulan oleh 16 orang.

Kini, bedug terbesar ini ditempatkan di Masjid Agung Tasikmalaya sampai saatnya kembali berkeliling dalam parade bedug di setiap bulan Ramadhan. (ant/din)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nasional Attauhidiyyah Giren

Kitab Sanad Ulama-ulama Nusantara Karya Syekh Yasin al-Fadanî

Ini adalah kitab “al-‘Iqd al-Farîd min Jawâhir al-Asânid” karangan ulama besar hadits dunia Islam sekaligus “musnid al-dunyâ” pada zamannya, yaitu Syekh Muhammad Yâsîn ibn ‘Îsâ al-Fâdanî al-Makkî (dikenal dengan Syekh Yasin Padang, 1335-1410 H/ 1917-1990 M).

Syekh Yasin Padang lahir, besar, berkarir, dan wafat di Makkah, dari kedua orang tua yang berasal dari Nusantara, tepatnya dari Padang, Sumatera Barat. Syekh Yasin Padang berkebangsaan Saudi Arabia. Ayahnya, Tuan Isa bin Udik, adalah generasi pertama yang hijrah dari Padang ke Makkah pada akhir abad ke-19 M.

Kitab Sanad Ulama-ulama Nusantara Karya Syekh Yasin al-Fadanî (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Sanad Ulama-ulama Nusantara Karya Syekh Yasin al-Fadanî (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Sanad Ulama-ulama Nusantara Karya Syekh Yasin al-Fadanî

Syekh Yasin Padang dikenal sebagai ulama besar dunia Islam dalam bidang hadits dan asânid (sanad) pada paruh kedua abad ke-20 M. Beliau mengajar di Masjidil Haram dan menjadi salah satu pemuka ulama terbesar di sana, sekaligus mengampu Madrasah Dâr al-‘Ulûm al-Dîniyyah, sebuah institusi pendidikan keilmuan agama Islam terkemuka di Makkah.

Attauhidiyyah Giren

Ada banyak julukan kemuliaan yang disematkan kepadanya, seperti Ilmud Dîn (pelita ilmu pengetahuan agama), al-muhaddits (guru besar hadits), al-‘allâmah (seorang yang kapasitas keilmuannya di atas rata-rata), musnidud dunyâ (mata rantai periwayatan hadits pada zamannya), dan lain-lain. Karena itu, tidaklah mengherankan jika murid-murid Syekh Yasin Padang adalah para ulama sentral dari berbagai pelosok dunia Islam.

Attauhidiyyah Giren

Syekh Yasin Padang terhitung sebagai ulama besar terakhir asal Nusantara yang berkarir di Haramain, karena setelah kewafatan beliau (1990 M), belum muncul lagi sosok ulama besar dari Nusantara yang karirnya cemerlang di Tanah Suci.

(Baca juga: Cara Syekh Yasin al-Fadani Mengader Kiai Sahal Mahfudh)



Karya pemikirannya lahir lebih dari seratus buah, kesemuanya ditulis dalam bahasa Arab dan mengkaji pelbagai bidang keilmuan Islam, mulai dari ilmu tauhid (teoilogi Islam), fikih (yurisprudensi Islam), ushul fikih (filsafat yurisprudensi Islam), balaghah (retorika), manthiq (logika), hadits, dan utamanya dalam bidang ilmu transmisi intelektual atau ilmu sanad (‘ilm al-asânid wa al-tsabat wa al-ijâzah). Dalam rentang sejarah keilmuan Islam selama kurun waktu 14 abad ini, bisa dikatakan Syekh Yasin Padang adalah orang pertama yang menghimpun karangan ilmu sanad ulama-ulama Islam sepanjang zaman dan dari pelbagai pelosok dunia. Karena ini pulalah, beliau dijuluki “musnid al-dunyâ”.

Salah satu karya terpenting Syekh Yasin Padang dalam bidang “ilmu sanad” ini adalah kitab “al-‘Iqd al-Farîd min Jawâhir al-Asânid”. Kitab ini menghimpun kumpulan sanad ulama-ulama Nusantara. Dalam konteks kajian sejarah peradaban dan keilmuan Islam Nusantara, tentu kitab ini memiliki kedudukan yang sangat penting dan istimewa, karena dalam kitab inilah jejaring dan genealogi intelektual para ulama Nusantara dapat terlacak dan terbaca dengan sangat jelas dan runut.

Saya mendapatkan naskah kitab ini dari sahabat saya, al-Fadhil Nanal Ainal Fauz, kiyai muda yang aktif mengkurasi karya-karya ulama Nusantara dan mendigitalisasinya, sekaligus salah satu pendiri Komunitas dan Yayasan Turats Ulama Nusantara di tahun 2016 lalu. Naskah tersebut bertebal 152 halaman dengan format cetak batu (litografi).

Tidak ada kolofon yang menginformasikan kapan kitab ini secara pasti ditulis. Naskah “al-‘Iqd al-Farîd” yang saya dapatkan adalah naskah versi cetakan “Dâr al-Saqqâf” Surabaya (Jawa Timur), dengan titimangsa cetak bulan Rajab tahun 1401 Hijri (Mei 1981 Masehi). Besar kemungkinan kitab ini ditulis pada tahun yang sama dengan tahun percetakannya. Tertulis pada halaman akhir kitab;

? ? ? ? ? ? ? ? 1401 ? // ? ? ? // ? ? ? ? ?// ?.?. 127// ? – ?

(Telah selesai dengan memuji kepada Allah, pada bulan Rajab tahun 1401 Hijri, mencetak kitab ini, pada percetakan Dâr al-Saqqâf, po box 127 Surabaya, Indonesia).

Pada halaman kedua naskah ini, didapati tulisan tangan Syekh Yasin Padang dalam bahasa Arab bercorak Riq’î, menyatakan jika beliau telah meriwayatkan dan menghijazahkan (melisensikan) kitab ini kepada al-Mukarram KH. Sahal Mahfuzh (Kajen, Pati, w. 2014), mantan ketua umum MUI dan Rois ‘Am PBNU. Tertulis di sana;

?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. 18/ 12/ 1401.

(Aku telah memgijazahkan semua kandungan risalah ini yang bernama “al-‘Iqd al-Farîd min Jawâhir al-Asânîd” dan semua kitab-kitab yang diriwayatkan olehku, kepada saudaraku di jalan Allah, seorang Ustadz Muda, Sahal Mahfuzh dari Kajen Pati. Aku berwasiat kepadanya dan kepada diriku agar senantiasa bertakwa dalam keadaan ramai dan sepi, dan aku berharap darinya agar tidak melupakanku dalam doa-doa kebaikannya, dalam khalwat dan jalwatnya. Telah mengatakan dan menulis akan hal ini dengan tangannya sendiri, pelayan kecil atas hadits dan ilmu sanad, seseorang yang mengharapkan ampunan tuhannya, ‘Ilmuddîn, Abû al-Faidh, Muhamamd Yâsîn ibn Muhammad ‘Îsâ al-Fâdânî al-Makkî. Tertanggal 18/12 [?]/ 1401 Hijri).

Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa kitab “al-‘Iqd al-Farîd min Jawâhir al-Asânîd” ini menghimpun sanad keilmuan ulama-ualam Nusantara. Pada halaman 4 (empat), bab sanad kitab-kitab hadits, entri sanad kitab hadits “Shahîh Bukhârî” (al-Jâmi’ al-Shahîh), didapati sanad keilmuan yang diriwayatkan oleh Syekh Yasin Padang dari jalur sanad ulama-ulama Nusantara sebagai berikut;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ?)

? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(?)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ?

(?)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ?

(?)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(A. Ginanjar Sya’ban)



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nahdlatul Ulama, PonPes Attauhidiyyah Giren

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN

Yogyakarta, Attauhidiyyah Giren. Penentu kelulusan siswa itu seyogianya diserahkan kepada pihak sekolah. Penentuan kelulusan oleh pemerintah pusat berarti merampas hak guru dan sekolah karena pemerintah hanya menilai prestasi pelajar dari ujian tulis saja.

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN

Demikian tanggapan Drs. Suharyanto, Kepala Sekolah SMK Ma’arif Yogyakarta, terhadap isu kebijakan pemerintah tentang ujian nasional yang akan ditentukan oleh sekolah, saat ditemui Attauhidiyyah Giren di kantornya, Jl. Hos Cokroaminoto, Sabtu (17/01).

Ia menjelaskan, memang seharusnya, dalam penentuan kelulusan harus mempertimbangkan budi pekerti, perilaku dan kreativitas siswa. “Kita (guru) tahu siswa kita seperti apa.? Kita bisa menambah nilai bagi anak yang patut ditambah. Misalnya, kalau ada siswa yang rajin sekali masuk sekolah dan berperilaku baik, maka ini akan kita pertimbangkan. Kalau siswa seperti itu dinyatakan tidak lulus kan tidak adil,” ungkapnya.

Attauhidiyyah Giren

Suharyanto menjelaskan tentang ketidakadilan lain, misalnya ketika ada siswa yang sering bolos, buruk secara perilaku, tapi lulus karena ia beruntung mennjawab soal dengan benar meski dengan cara mengundi.

“Budi pekerti, sopan santun, menjadi krisis di sekolah, karena penentuan kelulusan hanya berdasarkan ujian tulis. Kalau kelulusan ditentukan oleh sekolah, itu akan menjadi bahan pertimbangan kelulusan bagi siswa. Kalau kelulusannya ditentukan oleh pusat, guru tidak berhak menilai anak,” tandasnya.

Attauhidiyyah Giren

Sampai saat ini, kata Suharyanto, belum ada surat edaran resmi dari pemerintah. “Baik besok ujiannya mau Unas atau apa, ditentukan oleh pemerintah atau sekolah, kita sudah siap. Guru-guru sudah kita bagi tugas, masing-masing guru kita minta untuk menangani dua siswa, untuk mengawal sejak sekarang hingga menjelang ujian," tuturnya. (Nur Sholikhin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Quote, AlaNu Attauhidiyyah Giren