Minggu, 27 Juni 2010

Presiden Sering ke Pesantren, DPR RI: Perhatikan Kesehatan Santri!

Jakarta, Attauhidiyyah Giren 



Anggota Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh meminta Kemenkes RI serius dalam memperhatikan kualitas kesehatan para santri. Menurut dia, sudah seharusnya santri mendapatkan fasilitas kesehatan yang memadai.

Presiden Sering ke Pesantren, DPR RI: Perhatikan Kesehatan Santri! (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Sering ke Pesantren, DPR RI: Perhatikan Kesehatan Santri! (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Sering ke Pesantren, DPR RI: Perhatikan Kesehatan Santri!

“Sejak awal duduk di Komisi IX, saya sudah mengingatkan Kemenkes akan kewajibannya memperhatikan kesehatan para santri. Tetapi Kemenkes abai terhadap hal ini. Sampai sekarang belum ada alokasi anggaran untuk pusat kesehatan santri,” tegasnya, di Jakarta, Kamis (12/10) melalui siaran pers. 

Perlu diketahui, Kemenag mencatat kurang lebih ada 23.000 pesantren di Indonesia, belum lagi yang tidak terdata. Pesantren-pesantren itu tersebar di seluruh pelosok penjuru Indonesia.

Namun, biasanya, pesantren terletak jauh dari fasilitas kesehatan pemerintah. Oleh karenanya pesantren sangat butuh pusat kesehatan santri dan alat-alat penunjangnya seperti ambulans. 

“Bayangkan, ada pesantren yang memiliki santri 6000. Jumlah itu sudah seperti penduduk satu desa. Dan tidak ada dana dari pemerintah untuk kesehatan santri. Kalau disuruh pengasuhnya menanggung, lalu apa fungsi pemerintah?” tegasnya.

Attauhidiyyah Giren

Ia menambahkan bahwa Presiden Joko Widodo sering datang ke pesantren, tetapi abai terhadap persoalan-persoalan pesantren. 

“Pesantren jangan jadi bemper saja,” terang politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu. 

Realitasnya, santri dalam satu pesantren adalah imaji satu bangsa, bangsa Indonesia, beraneka suku , kelas, ada dalam satu pesantren. Pemerintah sudah sebaiknya tidak terus menerus beretorika memihak santri. Sudah saatnya mewujudkan janji dengan program nyata. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren News Attauhidiyyah Giren

Senin, 14 Juni 2010

Jamaah Haji Probolinggo Gelar Tasyakuran

Probolinggo,Attauhidiyyah Giren. Sedikitnya 660 orang jamaah haji Kloter 47 dan Kloter 48 Kabupaten Probolinggo tahun 2015 dan ratusan Calon Jamaah Haji (CJH) tahun 2016 mengikuti tasyakuran kedatangan jamaah haji yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo dan PCNU Kota Kraksaan, Ahad (15/11).

Jamaah Haji Probolinggo Gelar Tasyakuran (Sumber Gambar : Nu Online)
Jamaah Haji Probolinggo Gelar Tasyakuran (Sumber Gambar : Nu Online)

Jamaah Haji Probolinggo Gelar Tasyakuran

Kegiatan yang digelar di Pondok Pesantren Rahmatal Lil ‘Alamin di Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan ini dihadiri oleh Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari, Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo H Busthami, Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi dan sejumlah pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom NU se- Kabupaten Probolinggo.

Tasyakuran kedatangan jamaah haji ini diawali dengan tahlil bersama yang ditujukan kepada seluruh jamaah haji Kabupaten Probolinggo yang wafat karena menjadi korban tragedi Mina. Disamping juga jamaah haji yang wafat karena sakit. Dimana tahlil sendiri dipimpin oleh Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili.

Attauhidiyyah Giren

Mustayar PCNU Kabupaten Probolinggo yang juga A’wan PWNU Provinsi Jawa Timur H Hasan Aminuddin mengungkapkan bahwa pelaksanaan ibadah haji tahun ini memang banyak cobaan yang dihadapi oleh jamaah haji Indonesia, mulai dari jatuhnya crane dan insiden Mina.

Attauhidiyyah Giren

“Mudah-mudahan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan haji atas meninggalnya salah satu keluarga yang melaksanakan ibadah haji. Sebab ini merupakan ujian dari Allah SWT dan diluar batas kemampuan manusia,” ujarnya.

Menurut Hasan, pelaksanaan ibadah haji khususnya di Kabupaten Probolinggo mulai dari berangkat hingga kembali ke tanah air selalu dipantau baik oleh pemerintah daerah maupun PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan. “Hal ini merupakan sebuah pelayanan yang diberikan kepada tamu Allah supaya menjadi terhormat,” jelasnya.

Anggota Komisi VIII DPR RI ini menjelaskan, predikat haji mabrur diperoleh sesudah datang dari tanah suci. Indikasinya, amal ibadah yang dilakukan selalu ada peningkatan serta mempertahankan amalan ibadah  yang telah dilaksanakan selama di tanah suci.

“Perilaku atau perbuatan harus ada perbedaan dari sebelum melaksanakan ibadah haji hingga setelah melaksanakan ibadah haji. Amalan ibadah juga semakin ditingkatkan. Selain itu, perilaku atau perbuatan terhadap masyarakat juga semakin meningkat untuk mewujudkan hablum minallah dan hablum minannas,” pungkasnya.

Sementara Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari menyampaikan bahwa musibah kejadian Mina yang mewafatkan belasan jamaah asal Kabupaten Probolinggo adalah cobaan. Sehingga diharapkan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan. “Karena semua ini sudah takdir, beliau-beliau yang wafat dalam keadaan syahid. Dan keluarga pun semoga menerima dengan lapang dada,” katanya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Budaya, Hadits, Tokoh Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 12 Juni 2010

Resolusi Jihad Menjadi Bagian Peringatan Hari Pahlawan

Surabaya, Attauhidiyyah Giren. Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan peringatan Resolusi Jihad NU akan menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pahlawan di Surabaya pada tahun-tahun selanjutnya. Hal ini sekaligus merupakan bentuk pengakuan pemerintah bahwa Resolusi Jihad adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia.

Resolusi Jihad Menjadi Bagian Peringatan Hari Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Resolusi Jihad Menjadi Bagian Peringatan Hari Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Resolusi Jihad Menjadi Bagian Peringatan Hari Pahlawan

“Resolusi jihad menjadi hal yang tak terpisahkan dari perjuangan 10 November di Surabaya dan sudah ditulis dalam sejarah. Ini akan kita peringati pada tahun-tahun selanjutnya sebagai rangkaian dari peringatan Hari Pahlawan,” kata Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf dalam acara puncak Napak Tilas Resolusi Jihad di Jalan Bubutan Surabaya, Ahad (24/11).

Menurutnya, kegiatan Napak Tilas Resolusi Jihad sangat penting dilakukan dalam rangka mengutuhkan sejarah. Kegiatan juga diselenggarakan di depan kantor PCNU Surabaya yang 68 tahun silam menjadi markas para kiai membahas kehadiran tentara Sekutu dan puncaknya dikeluarkan resolusi jihad yang menggerakkan para santri dari berbagai daerah dan arek-arek Suroboyo bangkit melawan tentara Sekutu.

Attauhidiyyah Giren

Penggagas kegiatan Napak Tilas Resolusi Jihad Choirul Anam mengatakan, fatwa resolusi jihad itulah yang membakar semangat para pejuang melawan tentara Inggris, sang pemenang Perang Dunia II, hanya dengan bermodal bambu runcing dan senjata rampasan.

“Para orang tua tidak lagi menangis, bahkan bangga anak-anak mereka menjadi syahid dalam rangka mempertahankan negara, bukan negara Islam tapi negara yang berdasarkan Pancasila,” kata Cak Anam.

Attauhidiyyah Giren

Hadir dalam acara puncak ini antara lain Wakil Ketua Umum PBNU KH As’ad Said Ali, Wakil Sekjen PBNU H Abdul Mun’im DZ, mantan wakil presiden RI yang juga “bapak” arek-arek Suroboyo Jenderal (purn) Tri Sutrisno, Rais Syuriyah PWNU Jatim KH Miftahul Akhyar, Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim KH Mutawakkil Alallah, sesepuh NU KH Sholeh Qosim, dan putra Bung Tomo Bambang Sulistomo.

Napak Tilas Resolusi Jihad dimulai dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan berakhir di Jalan Bubutan Surabaya, tidak jauh dari Tug Pahlawan. Sebagian peserta napak tilas menempuh perjalanan dengan sepeda ontel dari Jombang sejak pagi.

Mengapa napak tilas dimulai dari Jombang? Kata Cak Anam, bukan saja karena Jombang adalah tempat kediaman KH Hasyim Asy’ari. Sejarah mencatat, pasca pengeboman Hirosima dan Nagasaki, dan setelah tentara Jepang tidak bersemangat lagi, pelatihan militer untuk para pemuda Indonesia dipindahkan dari Cibarusa ke Jombang. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Santri Attauhidiyyah Giren

Selasa, 08 Juni 2010

5000 Jamaah Ishari Doakan Keselamatan Bangsa

Surabaya, Attauhidiyyah Giren

Sekitar lima ribu jamaah Ikatan Seni Hadrah Indonesia atau Ishari Jawa Timur mengadakan doa demi keselamatan bangsa. Kegiatan ini juga sebagai ungkapan syukur karena Muktamar ke-33 NU di Jombang telah mengakui Ishari sebagai badan otonom (banom) NU.

"Syukur atas kepercayaam yang diberikan kepada Ishari sehingga kembali dipercaya sebagai bagian dari NU, bahkan diputuskan sebagai banom," kata H Yusuf Arif selaku Ketua PW Ishari Jawa Timur, Sabtu (16/1) malam.

5000 Jamaah Ishari Doakan Keselamatan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
5000 Jamaah Ishari Doakan Keselamatan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

5000 Jamaah Ishari Doakan Keselamatan Bangsa

Penegasan tersebut disampaikan Yusuf Arif pada kegiatan "Doa untuk Indonesia, dari Ishari NU untuk Bangsa" yang dilaksanakan di parkir utara Kantor PWNU Jawa Timur.  Dengan kepercayaan ini, maka para pengurus dan simpatisan seni hadrah ini untuk selalu mendukung program NU.

Attauhidiyyah Giren

"Kegiatan ini juga sebagai ungkapan bela sungkawa Ishari atas tragedi yang terjadi di Jakarta beberapa hari yang lalu," jelasnya. Karena para korban baik itu masyarakat sipil maupun aparat adalah pihak yang tidak berdosa dan dihargai haknya untuk hidup di bumi Allah, lanjutnya.

Baginya, tindakan teror dengan melukai diri sendiri dan juga masyarakat sipil serta aparat sebagai tindakan yang tidak dibenarkan. "Karena itu kami mengutuk tindakan tidak bertanggungjawab tersebut," lanjutnya.

Attauhidiyyah Giren

Ia bersama Ishari telah berkomitmen untuk mendukung langkah-langkah NU yang terus menebarkan Islam ramah di seantero bumi. Demikian pula dengan shalawat yang merupakan ciri khas banom baru NU ini akan terus menebarkan kesejukan dan kedamaian khususnya di Indonesia.

Acara yang berlangsung sejak pukul 19.30 hingga 22.40 WIB tersebut berbarengan dengan memperingati hari lahir NU yang dalam hitungan masehi berusia 90 tahun, juga 57 tahun Ishari, serta TV9 yang telah memasuki usia 6 tahun.

Tampak hadir di panggung kehormatan antara lain KH Hasib Wahab Chasbullah, H Imam Aziz (PBNU),  H Misbahul Munir (PWNU Jatim), serta H Hakim Jayli selaku Presiden Direktur TV9. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren PonPes, Syariah, Pertandingan Attauhidiyyah Giren