Minggu, 22 Januari 2006

Keprihatinan Sayidina Utsman saat Umat Tinggalkan Khutbah Nabi

Kudus, Attauhidiyyah Giren. Pernah suatu ketika Sayidina Utsman bin Affan merasa malu kepada Nabi Muhammad. Perasaan malu itu justru membuat Sayyidina Utsman memborong seluruh barang dagangan yang dilelang pedagang dari Syam. Kisah ini disampaikan oleh KH Sya’roni Achmadi pada Pengajian Tafsir Al-Qur’an di Masjid Al-Aqsho Menara, Kudus, Kamis (15/6).

“Ceritanya, dulu ketika waktu sholat Jumat dimulai rombongan pedagang dari Syam datang. Itu menyebabkan mayoritas umat Islam lari dan memilih ikut lelang dagangan daripada khutbah Nabi Muhammad SAW,” tutur Kiai Sya’roni mengawali cerita.

Keprihatinan Sayidina Utsman saat Umat Tinggalkan Khutbah Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Keprihatinan Sayidina Utsman saat Umat Tinggalkan Khutbah Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Keprihatinan Sayidina Utsman saat Umat Tinggalkan Khutbah Nabi

Akibatnya, jamaah atau sahabat yang ikut khotbah dan sholat jumat tinggal 12 orang. Seketika itu Sayyidina Utsman merasa malu karena umat lebih memilih dagangan daripada khutbah Nabi.

“Dalam kondisi seperti itu, Sayyidina Utsman langsung ikut lelang dan menawar dengan harga tertinggi,” lanjut Kiai Sya’roni.

KH Sya’roni menjelaskan setiap harga yang ditawarkan pedagang dan disetujui sahabat lain ditawar lebih oleh Sayyidina Utsman. Misalkan harga kain 10 juta Sayyidina Utsman berani membeli 11 juta.

Attauhidiyyah Giren

“Kemudian sampai pada harga tertinggi akhirnya Sayyidina Utsman menang lelang. Seluruh barang dagangan terbeli oleh Sayyidina Utsman,” katanya.

Selanjutnya, semua sahabat yang kalah lelang itu meminta agar Sayyidina Utsman mau menjual beberapa kepada para sahabat yang tidak mendapat barang dagangan. Permintaan itu dituruti dengan syarat mau membeli sepuluh kali lipat dari harga belinya.

Attauhidiyyah Giren

Sahabat-sahabat yang meminta itu semua tidak berani membelinya. Lalu Sayyidina Utsman bilang jika mau dijual sendiri. Namun, yang terjadi Sayyidina Utsman justru memanggil para fakir miskin dan membagikan barang yang dibeli itu kepada mereka.

“Kok malah ngundang fakir miskin? Oo, dijual kepada Gusti Allah,” ujar Mbah Sya’roni seolah-olah menirukan kata sahabat.

Setelah membagikan itu Sayyidina Utsman berkata kepada sahabat yang tadi ikut lelang. “Memalukan, hanya karena barang dagangan kalian sampai tega meninggalkan khotbah Nabi Muhammad,” kata Mbah Sya’roni menirukan dalam bahasa Jawa.

Pasca kejadian itu setiap waktu sholat jumat tiba para sahabat tidak ada yang berani meninggalkan Khotbah Nabi Muhammad lagi. Kisah ini disampaikan sebagai penjelasan hadits Ana khodimul khaya’ wa Utsman babuha. Artinya Saya (Nabi Muhammad) adalah gudangnya perasaan malu dan Utsman adalah pintunya.

Kisah ini sekaligus menjadi dasar ijtihad madzhab Imam Syafi’i dalam qoul qodim bahwa batas minimal jumlah jamaah sholat jumat adalah 12 orang. Begitu juga menurut madzhab Malikiyah. Namun hukum itu oleh Imam Syafi’I dalam qoul jadid berubah menjadi 40 orang minimal.

“Keterangan Qoul Qodim maksudnya adalah ucapan Imam Syafi’i sebelum memasuki daerah Mesir. Sedangkan Qoul Jadid adalah setelah Imam Syafi’I masuk daerah Mesir. Masing-masing beda hukumnya,” terang Mbah Sya’roni. (M. Farid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Hikmah Attauhidiyyah Giren

Senin, 16 Januari 2006

Indonesia Tuan Rumah Pertemuan Sufi Internasional

Pekalongan, Attauhidiyyah Giren. Indonesia mendapat kehormatan sebagai tuan rumah pertemuan ulama sufi se dunia (Multaqo sufi al-alami) yang direncanakan akan berlangsung 15 - 20 Desember mendatang.

Acara pertemuan ulama thoriqoh akan diikuti oleh delegasi 70 negara di Jakarta dan Kota Pekalongan. Berbagai hal yang dibahas termasuk pembentukan organisasi ulama tingkat dunia dan persoalan lain yang krusial termasuk pergolakan negara negara Islam yang terjadi di Timur Tengah.

Indonesia Tuan Rumah Pertemuan Sufi Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Tuan Rumah Pertemuan Sufi Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Tuan Rumah Pertemuan Sufi Internasional

Sebelum acara ini digelar, telah diadakan pra multaqo sufi sebanyak dua kali yakni bulan Juli 2011 di Jakarta bersamaan dengan Peringatan Harlah NU dan Januari 2012 di Malang Jawa Timur bersamaan dengan Muktamar Jamiyyah Ahlit Thoriqoh Al Mutabarah An Nahdliyyah (Jatman).

Attauhidiyyah Giren

"Pertemuan ulama sufi tingkat dunia merupakan rekomendasi dari pra multaqo sufi di Malang awal 2012 kemarin," ujar Rais Am Idaroh Aliyah Jatman Habib Luthfi bin Yahya usai rapat pleno persiapan panitia di Kanzus Sholawat Kota Pekalongan Kamis (15/11).

Dikatakan, kegiatan multaqo sufi al-alam akan digelar di dua tempat, yakni untuk pembukaan dan sidang sidang organisasi akan berlangsung di Hotel Borobudur tanggal 15 - 18 Desember 2012, sedangkan penyampaian hasil hasil musyawarah akan dilaksanakan di Kota Pekalongan bersamaan dengan pertemuan para pegurus thoriqoh dan para mursyid yang diikuti tidak kurang dari 2500 undangan.

Attauhidiyyah Giren

Untuk merealisasikan gagasan pembentukan rabithah para sufi, pada acara pra multaqo yang berlangsung di Malang Jawa Timur awal Januari 2012 kemarin telah sepakat membentuk Majelis at-Tasis li-Rijali Tasawwuf dil-alam yaitu tim yang akan merumuskan pembentukan organisasi persatuan sufi se dunia. 

Menurut Habib Luthfy yang ditunjuk sebagai Ketua Umum Majelis at-Tasis bertugas untuk menyatukan ummat Islam khususnya para ahlit thariqah dan menjadi jembatan antara ulamadan umara dalam menciptakan suasana yang kondusif dan harmonis.

Dalam arahannya dihadapan ratusan panitia, Habib Luthfy berpesan agar panitia bersungguh sungguh dan penuh keikhlasan dalam memberikan pelayanan para ulama sufi yang akan dihadiri delegasi 70 negara dengan peserta tidak kurang dari 500 orang. Sedangkan acara di Pekalongan dihadiri sekitar 2.500 undangan yang nantinya di samping para tamu akan diinapkan di Hotel juga rumah rumah penduduk telah disiapkan untuk penginapan para ulama.

Ketua Panitia Lokal KH Mirza Hasbullah mengatakan, Kota Pekalongan menyatakan telah siap menyambut kedatangan ribuan tamu tamu Habib Luthfy sebagaimana yang pernah dilakukan pada Muktamar Thariqah tahun 2005 dimana seluruh peserta diinapkan di rumah rumah penduduk selama acara berlangsung. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz PKL

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nahdlatul Ulama, Ulama, Santri Attauhidiyyah Giren