Rabu, 24 Agustus 2016

Istiqomah Teguhkan Islam Rahmatan lil Alamin

10 Oktober 1983 silam, Ketua Umum PBNU KH Idham Chalid bersama Menteri Agama Munawir Syadzili berkunjung ke Kelurahan Pancoran Mas, Kota Depok di tanah seluas 800 meter persegi. Dikelilingi ribuan masa, pejabat, ulama dan habaib, kedua tokoh ini menjadi saksi langsung berdirinya Pondok Pesantren al-Awwabin, yang kelak ribuan santrinya tersebar di berbagai pelosok Indonesia.

Bermula dari keserbaterbatasan di tahun 70-an, pesantren rintisan Abuya KH Abdurrahman Nawi kini tumbuh menjadi tiga unit lembaga pendidikan sekaligus dengan tiga lokasi berbeda. Tujuan mulianya terangkum dalam pernyataan “menegakkan kalimat tauhid dan menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin”.

Istiqomah Teguhkan Islam Rahmatan lil Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)
Istiqomah Teguhkan Islam Rahmatan lil Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)

Istiqomah Teguhkan Islam Rahmatan lil Alamin

Perjuangan Abuya—sapaan akrab KH Abdurrahman Nawi—ternyata tak sia-sia. Pesantren al-Awwabin berhasil mencetak banyak kader Nahdliyin yang sanggup terjun di beragam bidang profesi. Terkait dengan estafet keulamaan, sejumlah alumni telah mampu mendirikan majelis taklim, sekolah, bahkan pondok pesantren sendiri sebagai media dakwah.?

Attauhidiyyah Giren

Kepada para santrinya, Abuya selalu menasehati tentang urgensi pengutamaan akhlak dan dakwah ilmu yang bermanfaat. “Satu orang yang mendapat petunjuk dari Allah karenamu, sesungguhnya lebih baik dari dunia dan segala isinya,” demikian tuturnya.

Bagi kiai asli Betawi ini, dakwah mesti dilaksanakan dengan hati bijaksana dan ramah. Sikap ini, misalnya, tercermin pada penolakannya terhadap ekstremisme beragama, yang gemar memusuhi kelompok tak sepaham, sejak kiprahnya di dunia kepesantrenan.

Attauhidiyyah Giren

Karenanya, Pesantren Al-Awwabin dan jaringannya hingga sekarang gencar menebar karakter Islam yang ramah melalui kegiatan keaswajaan. Setiap Kamis pesantren ini pun senantiasa dipadati jamaah Muslimat NU pada acara pengajian asuhan Abuya sendiri. Sebagian alumni bahkan membentuk dan aktif dalam forum “Brigade Aswaja”, sebuah wadah penyadaran dan kajian ilmiah menghadapi tantangan ekstremisme.

Seperti pesantren pada umumnya, Pesantren Al-Awwabin tumbuh dari majelis taklim sederhana di tanah pribadi pengasuh, Jl. Tebet-Barat VII Jakarta Selatan. Setelah mengembangkan sayapnya selama empat puluh tahun, sekarang Pesantren Al-Awwabin II (khusus putri) juga berdiri di bidang tanah seluas 4 hektar di Bedahan, Sawangan, Depok.

Di samping mendalami kitab-kitab salaf dan tahfid al-Qur’an, Pesantren Al-Awwabin juga membuka sekolah formal untuk jenjang Madrasah Ibtidai’iyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA), sejak awal diresmikan Menag dan Ketum PBNU tahun 1983. Mengikuti perkembangan mutakhir, pesantren ini pun mengoperasikan radio, pendidikan teknologi informasi, seni drumband, dan lain-lain.

Menurut Ustad Fathurrahman, salah satu pimpinan pesantren, unsur materi ilmu-ilmu salaf tergolong langka di pesantren-pesantren kawasan Jabodetabek. Kecenderungan untuk menerapkan kurikulum modern menjadikan sejumlah pesantren meminggirkan kitab-kitab kuning dari disiplin umum lainnya.

Di tengarai, 70 % dari pesantren di wilayah Jabodetabek telah beralih menjadi pesantren modern. Meskipun Pesantren Al-Awwabin mengadopsi model pendidikan modern, namun ia tak mau kehilangan akar tradisi keislamannya.

“Di sini beruntung masih menggalakkan kitab-kitab salaf dalam pendidikannya,” ujar Fathurrahman kepada Attauhidiyyah Giren usai wirid sembahyang Isya’ di lingkungan pesantren.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? ? : ? Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Olahraga, Kyai, Pondok Pesantren Attauhidiyyah Giren

Senin, 15 Agustus 2016

Ahok dan Kampanye SARA di Pilkada Jakarta

Pilkada serentak pada bulan Februari 2017 akan diselenggarakan di 101 daerah, tetapi yang membetot perhatian publik di seluruh Indonesia adalah pilkada DKI Jakarta dengan tokoh utamanya, Basuki Cahaya Purnama yang akrab disebut Ahok, petahana yang ingin maju lagi sebagai gubernur untuk periode 2017-2022.

Hal yang menarik adalah posisi Ahok sebagai non-Muslim di tengah-tengah penduduk Jakarta yang mayoritas Muslim dan latar belakangnya yang berdarah Tiongkok serta karakternya yang lugas ketika berbicara yang di luar kebiasaan politisi yang mengedepankan kesantunan dalam berbicara dan bersikap. Posisi kantor media massa arus utama yang sebagian besar berada di Jakarta juga menyebabkan segala pernak-pernik mengenai pilkada Jakarta mudah diakses dan “digoreng”.

Ahok dan Kampanye SARA di Pilkada Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahok dan Kampanye SARA di Pilkada Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahok dan Kampanye SARA di Pilkada Jakarta

Sebagai sebuah kontestasi politik untuk merebut hati rakyat Jakarta, pihak-pihak yang bersaing berusaha untuk menampilkan citra dirinya dengan sebaik-baiknya sementara pihak lawan digambarkan sebagai calon yang tidak layak untuk memimpin Jakarta. Media massa menjadi alat yang ampuh untuk membangun opini dari masing-masing pihak.

Attauhidiyyah Giren

Dalam konteks ini, tim sukses pihak petahana ingin menonjolkan prestasi yang telah dicapai selama pemerintahannya. Karena itu, isu yang diangkat adalah sikap Ahok yang antikorupsi, birokrasi yang kini lebih tertata, dan tentu saja keberaniannya dalam mengatasi berbagai tantangan di ibukota yang memang keras. Bagi yang ingin menjegalnya, maka isu yang diangkat soal isu gaya bicaranya yang dianggap tidak sopan, reklamasi pantai Jakarta, penggusuran, dan lainnya. Berkampanye dan berpromosi untuk memenangkan kandidat yang diusung merupakan hal yang sah-sah saja. Semua kecap adalah nomor satu, tidak ada kecap nomor dua.

Di luar perdebatan baik atau buruknya kebijakan yang diambil Ahok selama saat ini, sayangnya masih saja ada kampanye hitam dengan menggunakan isu SARA. Beberapa waktu lalu ada demo di Bundaran Hotel Indonesia (HI) di Jakarta untuk mengampanyekan “jangan memilih pemimpin kafir”. Dalam perbincangan-perbincangan informal di warung atau pertemuan-pertemuan kecil, juga sering dibahas identitasnya sebagai keturunan Tiongkok yang berkuasa di tanah Betawi.

Attauhidiyyah Giren

Undang-Undang Dasar Indonesia dan UU serta peraturan turunannya memberikan hak kepada seluruh warga negara Indonesia untuk memilih atau dipilih, apa pun agamanya, dari mana pun asalnya. Sistem demokrasi yang dianut ini bertujuan untuk memilih pemimpin terbaik dari berbagai calon yang ada. Karena itulah, dalam negara yang demokrasinya yang sudah matang, rakyat menilai calon pemimpin dari kapasitasnya untuk mengelola pemerintahan. Karena itu jugalah, Sadiq Khan, seorang Muslim bisa menjadi walikota London, sekalipun Muslim merupakan penduduk minoritas di Inggris.

Bagi kelompok-kelompok yang selama ini mengampanyekan “jangan pilih pemimpin kafir” mereka ternyata juga membangga-banggakan terpilihnya Sadiq Khan. Pada satu sisi, mereka berharap negara lain menggunakan asas pluralitas sehingga memungkinkan Muslim bisa terpilih menjadi pemimpin, tetapi di sisi lain mereka tidak rela digunakannya asas pluralitas ini jika ada pemimpin non-Muslim yang terpilih di daerah yang didominasi Muslim. Ini menunjukkan sebuah sikap yang tidak konsisten dan mau menang sendiri.

Masyarakat juga harus hati-hati terhadap partai politik yang suka “menjual ayat” untuk kepentingan pragmatisme politik jangka pendek. Satu saat mereka menggunakan dalil bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin saat calon yang mereka usung laki-laki, tetapi di daerah lain mereka mendukung calon perempuan karena potensi kemenangannya besar. Pada daerah lain, ketika calon non-Muslim memiliki potensi besar terpilih, mereka menggunakan ayat yang membolehkan non-Muslim memimpin, tetapi dalam kasus Jakarta, mereka menggunakan ayat lainnya yang melarang Muslim memilih pemimpin kafir. Ayat-ayat suci Al-Qur’an digunakan sekehendak hatinya sesuai dengan kepentingan yang dibawa.

Penggunaan isu-isu SARA untuk tujuan jangka pendek guna memenangkan calon tertentu jelas-jelas berpotensi merusak keragaman dan harmoni sosial yang selama ini sudah berjalan dengan baik di Indonesia. Para pendiri bangsa telah berkorban dan bersusah payah mendirikan bangunan Indonesia dengan segala keanekaragaman yang ada di dalamnya. Kita bisa melihat contoh-contoh dari bangsa lain yang dilanda konflik tak berkesudahan karena adanya sekat-sekat sosial yang dibangun atas kepentingan sempit kelompok tertentu.

Fenomena penggunaan isu SARA dalam pilkada ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga terjadi di daerah pemilihan lainnya, yang sayangnya kurang terekspos secara nasional, pada daerah-daerah yang jauh dari jangkauan media atau yang isunya kurang seksi untuk dipublikasikan secara nasional. Dengan tidak adanya pengawasan publik, tentu saja penggunaan isu-isu SARA ini berjalan dengan baik untuk meraih kemenangan. Tak heran, kualitas kepemimpinan di sebagian besar daerah di Indonesia kurang baik. Politik dinasti di mana ayah digantikan oleh anaknya untuk menjadi bupati atau walikota, banyaknya korupsi pemimpin daerah yang ditangkap karena korupsi menjadi petunjuk bahwa sistem demokrasi yang masih sekadar formalitas dan penggunaan isu-isu SARA ini telah menyengsarakan rakyat.

Jika pemimpin yang terpilih hanya memiliki kualitas medioker, yang paling dirugikan tentu rakyat yang harus menderita selama lima tahun ke depannya karena pemimpinnya tidak mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang kompleks. Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar jika bupati dan walikotanya merupakan orang terbaik pada tingkatannya, gubernurnya juga orang paling kompeten, dan presidennya juga orang terbaik dari yang terbaik. Tantangan dalam menghadapi persaingan dunia begitu nyata, tak bisa jika menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada orang yang kualitasnya asal-asalan. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Humor Islam, Nahdlatul Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 13 Agustus 2016

PMII Ya’qub Husein Bekali Mahasiswa Baru Teknik Menulis Karya Ilmiah

Jombang, Attauhidiyyah Giren. Pimpinan Komisariat PMII Ya’qub Husein (PMII YH) STIT Al-Urwatul Wutsqo kecamatan Diwek, kabupaten Jombang mengadakan pelatihan karya tulis ilmiah untuk mahasiswa baru dengan tata cara penulisan karya tulis ilmiah yang baik dan benar. Pelatihan ini berlangsung di balai desa Bulurejo yang tidak jauh dari kampus setempat.

Penyelenggara menghadirkan Ketua Bidang Kaderisasi PMII Jombang Chairul Rizal untuk menyampaikan materi teknik menulis makalah yang benar. Sedangkan pengantar opini disampaikan Wartawan Jawa Pos Radar Jombang Romza.

PMII Ya’qub Husein Bekali Mahasiswa Baru Teknik Menulis Karya Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ya’qub Husein Bekali Mahasiswa Baru Teknik Menulis Karya Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ya’qub Husein Bekali Mahasiswa Baru Teknik Menulis Karya Ilmiah

Acara yang bertajuk “Konstruksi mahasiswa cerdas menulis” itu dihadiri kurang lebih 20 mahasiswa baru dan seluruh Pengurus Komisariat PMII ini. Ketua PMII YH Rif’atuz Zuhro mengatakan, kegiatan semacam ini penting diadakan bagi mahasiswa baru sebagai wadah untuk menumbuhkan kecintaannya di dunia tulis menulis.

Attauhidiyyah Giren

“Kegiatan ini sebagai gerbang awal bagi mahasiswa baru untuk menumbuhkembangkan potensi tulis-menulis,” kata Zuhro saat memberikan sambutan, Ahad (11/10) siang.

Attauhidiyyah Giren

Sementara Romza menyarankan peserta untuk terus membiasakan menulis serta menekuninya. Karena hal itu akan membantu mempertajam kualitas tulisannya. “Tidak ada penulis langsung terkenal, semuanya dimulai dari bawah. Salah satu cara belajar yang baik adalah membaca tulisan dari penulis terkenal. Pelajari kalimat dan bagaimana sang penulis mengungkapkan buah pikirannya,” ujar Romza.

Ia menambahkan, hampir semua surat kabar di Indonesia sudah menyediakan rubrik tulisan dan honorarium, termasuk opini. (Syamsul/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sunnah, Hikmah, Kajian Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 06 Agustus 2016

Kader Baru PMII UI Dikenalkan Lagu Hubbul Wathon

Depok, Attauhidiyyah Giren. Pengurus PMII Depok memperkenalkan lagu Hubbul Wathon Minal Iman karya KH Abdul Wahab Chasbullah kepada puluhan peserta Mapaba di villa Jonjon, Bogor, Jumat-Ahad (28-30/11). Selepas sembahyang Ashar, mereka mengajak peserta menyanyikan lagu perjuangan.

Lagu yang mengandung pembangkitan semangat cinta Tanah Air ini, sengaja dihadirkan di kalangan peserta di tengah banyaknya ideologi yang mencoba mengusik kebhinekaan bangsa Indonesia.

Kader Baru PMII UI Dikenalkan Lagu Hubbul Wathon (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Baru PMII UI Dikenalkan Lagu Hubbul Wathon (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Baru PMII UI Dikenalkan Lagu Hubbul Wathon

“Lagu ini menunjukkan betapa besarnya rasa cinta dan pengorbanan kaum santri terhadap proses pendewasaan bangsa”, tegas Alfany, salah seorang pemateri Mapaba.

Attauhidiyyah Giren

Peserta berasal dari berbagai fakultas di UI. Selain mereka, turut pula peserta Mapaba asal STAN. Mereka tidak hanya dilatih kemampuan pengembangan softskill, namun juga diimbangi dengan aspek spiritual melalui mujahadah.

Attauhidiyyah Giren

“PMII sebagai pergerakan dengan roh aswaja harus menempatkan aswaja menjadi prioritas utama dalam proses Mapaba,” terang pemateri lainnya Ahmad Solehan yang lazim disapa Kang Alex.

Untuk menginternalisasikan nilai-nilai keaswajaan, peserta juga diajak bermain dalam bentuk game yang mengasyikkan sambil memperdalam apa itu aswaja. (M Agus Fuat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Warta, Kajian Attauhidiyyah Giren