Jumat, 19 Juli 2013

Pascasarjana NU UGM : Maksimalkan Dana Desa untuk Pembangunan Nasional

Yogyakarta, Attauhidiyyah Giren 

Forum Silahturahmi Mahasiswa Pascasarjana Nahdlatul Ulama Universitas Gajah Mada (Forsil UGM) kembali menggelar diskusi bulanan kelima pada Kamis, (2/11). Diskusi rutin ini mengangkat tema “Pembangunan Infrastruktur dan Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Alam (SDA) melalui Dana Desa”. 

Pascasarjana NU UGM : Maksimalkan Dana Desa untuk Pembangunan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Pascasarjana NU UGM : Maksimalkan Dana Desa untuk Pembangunan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Pascasarjana NU UGM : Maksimalkan Dana Desa untuk Pembangunan Nasional

Diskusi yang berlangsung di Pusat Studi Kawasan dan Pengembangan Desa UGM ini disambut sangat baik Guru Besar Fakultas FISIPOL sekaligus Direktur Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan UGM, Sesetiawan. 

Ia menyampaikan pentingnya menjadi manusia yang berpikir secara integratif dalam ilmu pengetahuan, temasuk bagaimana persoalan pembangunan desa bisa dikaji dalam perspektif lintas disiplin. Persoalan desa adalah persoalan yang kompleks jadi tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu bidang ilmu. 

Selain itu ia melanjutkan dengan adanya Undang-Undang Desa No. 60 tahun 2014, desa tidak lagi menjadi objek dari kebijakan pusat, namun desa adalah subjek yang memiliki wewenang untuk mengelola sumber daya dan potensi desa masing-masing melalui dana desa. 

Pemateri pada diskusi kali ini adalah salah satu staf Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah,  Opik Mahendra. Pria asal Banyumas Jawa Tengah ini merupakan lulusan 2017 pada program studi Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan di Sekolah Pascasarjana Universitas Gajah Mada. 

Attauhidiyyah Giren

Menurut Opik, desa merupakan bagian terpenting dalam miniatur pembangunan Nasional. Terdapat 74.954 desa di Indonesia. Jumlah ini tidaklah sedikit untuk menunjang pembangunan nasional. 

Attauhidiyyah Giren

Adanya dana desa ini tentu bisa memberikan dampak positif agar desa fokus tidak hanya pembangunan fisik tetapi juga pemberdayaan masyarakat. Masyarakat harus terlibat aktif dalam proses pembangunan desa yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas ekonomi dan pendidikan.

Lebih lanjut, terbitnya Undang-Undang Desa No. 60 tahun 2014 menandai era baru pembangunan desa sebagai subjek pembangunan. Jika sebelumnya pembangunan desa masih bergantung pada kebijakan pusat, maka sejak 3-4 tahun terakhir ini desa telah memiliki kewenangan untuk mengelola sendiri dana desa atau otonomi desa. 

Dana desa ini bersumber dari aloksi Anggaran Pembelanjaan dan Belanja Nasional (APBN) dan alokasi Anggaran Pembiayaan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten. Dana tersebut ditransfer langsung ke desa-desa dan dikelola secara mandiri untuk pembangunan dan pengembangan desa.

Opik mengatakan, angka 4 tahun belum signifikan untuk menguji efektivitas penyerapan dana desa. Hal ini bisa dilihat bahwa pembangunan fisik masih mendominasi serapan anggaran tersebut. 

Walaupun demikian, dengan adanya wewenang desa dan suntikan langsung dana yang cukup besar ke tiap desa, pembangunan mulai bervariasi merambah ke wilayah ekonomi dan pendidikan.

Materi diskusi yang disampaikan Opik merupakan hasil dari riset tesis. Riset ini dilakukan di 8 desa dan di 8 kabupaten di Jawa Tengah. Temuannya adalah terdapat satu desa yaitu Desa Ponggok, Kabupaten Klaten yang setelah mendapat dana desa menjadi desa dengan jumlah Badan Usaha Milik Desa terbanyak di tingkat nasional. 

Ia mengungkapkan bahwa keberhasilan ini sangat terbantu oleh dana desa. Selain itu, ia menambahkan faktor kepemimpinan desa yang dalam hal ini kepala desa dangat berperan penting dalam pembangunan desa. 

Diskusi ini berlangsung interaktif karena peserta diskusi selain sebagai mahasiswa pascasarjana, juga berasal dari satu frekuensi yang sama sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama. Untuk ini warga NU memiliki tantangan dan peluang berada dalam pusaran pembangunan desa. 

Kholiq selaku moderator pada diskusi kali ini mengatakan bahwa sudah bukan menjadi rahasia umum bahwa NU itu desa dan desa itu NU. Ini artinya bahwa warga NU memiliki andil besar dalam proses pembangunan desa yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan program-program dari desa.  

Pemateri mengemukakan terdapat tantangan dan peluang Nahdliyin di desa yaitu perspektif politik (terlibat dan bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan), perspektif informasi (hak memperoleh dan mengakses informasi anggaran dan pembangunan desa), dan perspektif alokatif (alokasi anggaran dan layanan desa secara adil, bagaimana kontrol sosial masyarakat desa). 

"Yang menjadi PR adalah terkait leadership di desa, kepala desa sekadar hanya simbol dan hanya beberapa yang memiliki inovasi. Tantangan terletak pada bagaimana menghidupi dan inovasi, dalam upaya pemanfaatan dana desa. Untuk mendorong inovasi ini kepala desa dapat melaksanakan study banding dengan optimal dan pendamping desa yang profesional," terang Edo, salah satu peserta diskusi.

Kegiatan yang dihadiri oleh sekitar 40 mahasiswa dari berbagai program studi ini ditutup dengan merefleksi kembali pernyataan Bung Hatta bahwa Indonesia tidak akan bercahaya karna obor di Jakarta. Tapi Indonesia bercahaya dengan lilin-lilin di desa. (Alanuari/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Habib Attauhidiyyah Giren

Senin, 15 Juli 2013

KH Agoes Ali Masyhuri: Penting Berpikir Positif dan Berprasangka Baik kepada Allah

Probolinggo, Attauhidiyyah Giren. Tidak ada orang baik tanpa masa lalu dan tidak ada orang jahat tanpa masa depan. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk memperbaiki dirinya. Oleh karena itu, belajarlah untuk selalu berpikir positif dan selalu berprasangka yang baik kepada Allah SWT.

Hal tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo KH Agoes Ali Masyhuri ketika memberikan tausiyah dalam kegiatan halal bihalal yang digelar Pemkab Probolinggo antara Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo bersama ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) di auditorium Kantor Bupati Probolinggo, Senin (3/7) siang.

KH Agoes Ali Masyhuri: Penting Berpikir Positif dan Berprasangka Baik kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Agoes Ali Masyhuri: Penting Berpikir Positif dan Berprasangka Baik kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Agoes Ali Masyhuri: Penting Berpikir Positif dan Berprasangka Baik kepada Allah

“Usahakan bergaul dengan orang-orang terbaik dan pilihan. Sikap mental dan kepribadian seseorang dipengaruhi kuat oleh pergaulan. Jangan percaya ada orang sukses tanpa dukungan sahabat-sahabatnya. Link network orang-orang terbaik dan pilihan,” katanya.

Menurut Gus Ali, kisah orang-orang sukses pasti ada wanita hebat dibaliknya (siapa ibu yang melahirkan dan siapa istri yang mendampinginya). “Bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Di balik peristiwa pasti ada hikmah. Orang yang tidak mampu berpikir positif pasti ada sesuatu yang hilang dalam dirinya,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut Gus Ali mengajak ribuan ASN untuk membaca Surat Luqman yang artinya dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong. Sesungguhnya Allah tidak senang orang yang sombong.

Attauhidiyyah Giren

“Ada juga tafsir Ibnu Katsir yang berbunyi, jangan palingkan wajahmu. Hargai lawan bicaramu. Ciptakan suasana akrab penuh kekeluargaan. Jangan percaya orang sukses jadi pemimpin kalau komunikasinya jelek,” terangnya.

Attauhidiyyah Giren

Gus Ali menerangkan bahwa prinsip dakwah adalah merangkul bukan memukul, mengobati bukan menyakiti dan mencari kawan bukan mencari lawan. Untuk berpikir positif maka kita harus senantiasa berprasangka baik kepada Allah SWT.

“Mari berfikir positif, aku bisa, aku bahagia, aku sukses, aku cerdas dan aku kaya. Insya Allah menjadi kenyataan, modalnya berpikir positif dan berbaik sangka kepada Allah SWT. Mudah-mudahan kita semua bisa sukses dengan segala kelebihan masing-masing, melengkapi bukan menjatuhkan,” pungkasnya.

Sementara Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari menerangkan bahwa selama 10 hari lamanya para ASN menikmati libur cuti lebaran dan disibukkan dengan silaturahim dengan keluarga. Oleh karena itu, hendaknya disempatkan minimal setahun sekali untuk bersilaturahim.

“Bekerja dan berkoordinasi dengan teman kerja satu kantor, lintas kantor dan lintas instansi tentunya kita tidak akan pernah luput dari kesalahan dan kekurangan. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin tali silaturahim dengan semua yang mendukung dan mensupport sehingga menjadi karyawan dan karyawati serta pelayaan rakyat yang lebih baik,” terangnya.

Tantri mengharapkan agar momentum ini menjadi cambukan semangat untuk menjadi yang jauh lebih baik dan amanah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Terlebih selama selama bulan suci Ramadhan kita ditempa akhlak sehingga menjadi pelayan rakyat yang lebih baik,” pungkasnya.

Kegiatan halal bihalal ini dihadiri oleh Wakil Bupati Probolinggo H Timbul Prihanjoko, Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin dan jajaran Forkopimda Kabupaten Probolinggo, tokoh agama dan tokoh masyarakat di Kabupaten Probolinggo. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Doa, RMI NU Attauhidiyyah Giren