Jumat, 18 Maret 2016

Masa Depan NU Tergantung Hasil Pendidikan

Kudus, Attauhidiyyah Giren. Masa depan Nahdlatul Ulama sangat tergantung pada hasil pendidikan yang dilaksanakan madrasah atau pesantren NU. Oleh karenanya, lembaga pendidikan formal dan non formal yang dikelola NU harus mampu melahirkan atau membentuk generasi penerus perjuangan Nahdlatul Ulama.

Masa Depan NU Tergantung Hasil Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Masa Depan NU Tergantung Hasil Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Masa Depan NU Tergantung Hasil Pendidikan

"Kalau ? anak didik yang masuk ? belum kenal NU harus dijadikan NU dan inputnya sudah NU harus menjadi lebih NU. Jika tidak mampu demikian, berarti lembaga tersebut mengalami diskontinuitas perjuangan," kata Ketua PWNU Jawa Tengah KH MohAdnan dalam acara Halal Bi Halal ? Badan Pelaksana Pendidikan Madrasah Nahdlatul Ulama (BPPMNU) Hasyim Asyari Kudus,Selasa (11/9) kemarin.

KH Adnan menggutarakan Pendidikan sebagai variabel penting perjuangan ? Nahdlatul Ulama ? dengan membawa misi ? untuk mencetak generasi yang pintar dan benar, yang sunni beraqidah ahlussunnah wal jamaah dan dijalan NU.

Attauhidiyyah Giren

"Sangat mubadzir manakala kita sudah repot mendirikan sekolah/madrasah NU tetapi anak-anak tidak menegenal NU," tandasnya.

Ia memiliki keyakinan Lembaga pendidikan NU tetap menjadi kebutuhan masyarakat khususnya Nahdliyiiyin. Hal ini, menurutnya, dikarenakan pemerintah dalam mendidik anak bangsanya tidak memiliki kemampuan kecuali melibatkan masyarakat sebagaimana dilakukan negara-negara maju.?

Attauhidiyyah Giren

"Anehnya, meskipun tidak mendirikan madrasah tetapi selalu menjadi klaim pemerintah yang dituangkan dalam laporan kerjanya. Mestinya pemerintah harus berterima kasih kepada Nahdlatul Ulama karena mampu mendirikan dan mengelola pendidikan," tambah Adnan menyentil pemerintah.

Dia mengingatkan berdasarkan pengalaman pendidikan yang murah belum tentu menarik minat orang tua menyekolahkan anaknya dibanding yang mahal. Hal tersebut tidak terlepas pada masalah kualitas lembaga pendidikan tersebut.

"Oleh karena itu, tingkat kesejahteraan para guru menjadi kunci masuk dalam meningkatkan kualitas. Yayasan atau pengurus tidak berani menekan, bila dalam memberikan gaji gurunya tidak layak. kalau sudah layak, kita berana menuntut para guru lebih berkualitas dan berprestasi," tandas Adnan.

Di depan guru-guru madrasah itu, KH Adnan berharap ? sekolah Maarif untuk tidak minder berhadapan dengan sekolah dan ? terlibat aktif ? mengikuti kegiatan atau event semacam lomba karya tulis ilmiah yang diselenggarakan dinas pendidikan, lembaga swasta atau organisasi.

"Kita sadar, salah satu kelemaham NU adalah keminderan di dalam menghadapi penguasa atau orang lain yang dianggap lebih mapan," sentilnya.

Kegiatan halal bi halal yang bertempat di aula MA NU hasyim Asyari 2 Karangmalang Gebog Kudus, ini selain dihadiri Ketua PWNU Jateng juga hadir Ketua PCNU Kudus KH Chusnan Ms, Pengurus, aktifis NU dan banomnya serta guru-guru Madrasah dibawah naungan BPPMNU Hasyim Asyari Kudus.?

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Meme Islam Attauhidiyyah Giren

Jumat, 11 Maret 2016

Jelang Hari Raya Qurban, Harga Sapi Mulai Naik

Boyolali, Attauhidiyyah Giren. Menjelang Hari Raya Qurban atau Idul Adha, harga jual sapi di beberapa daerah mulai naik. Hal ini juga terjadi di Boyolali, Jawa Tengah. Dari pantauan Attauhidiyyah Giren, di Pasar Hewan Sunggingan, Boyolali, harga mulai merangkak naik meskipun hari raya itu masih sekitar dua bulan lagi.

Jelang Hari Raya Qurban, Harga Sapi Mulai Naik (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Hari Raya Qurban, Harga Sapi Mulai Naik (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Hari Raya Qurban, Harga Sapi Mulai Naik

Salah seorang penjual sapi di Pasar Hewan Sunggingan, Aryanto, mengakui kenaikan harga sapi tersebut. Aryanto mengungkapkan, rata-rata harga jual sapi, khususnya sapi jantan lokal saat ini naik hingga sekitar Rp1 juta per ekor. Sedangkan untuk sapi betina, tambah dia, harganya tetap stabil.

Ia menyebutkan harga sapi jantan yang biasanya untuk kurban saat Hari Raya Idul Adha, antara lain jenis sapi brenggolo, sapi meta, dan sapi brahma, berkisar antara Rp8 juta hingga Rp11 juta. “Tergantung juga pada kualitas dan ukuran sapi,” tuturnya, Jumat (22/8).

Attauhidiyyah Giren

Sedangkan jenis sapi super, disebutkan dia, harganya minimal Rp20 juta. Dia memperkirakan, kenaikan harga sapi akan terus terjadi hingga Oktober mendatang, saat perayaan Hari Raya Kurban tiba.

Sementara itu, anggota staf Kantor Pasar Hewan Sunggingan, Wiyono, menambahkan, meskipun harga jual sapi sudah mulai naik, jumlah transaksi sapi di pasar tersebut masih normal.

Attauhidiyyah Giren

“Biasanya saat bulan Kurban, jumlah transaksi bisa mencapai 500 sampai 800 transaksi,” papar dia. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Olahraga, Internasional Attauhidiyyah Giren

Selasa, 01 Maret 2016

Relasi Ideal PMII dan NU

Oleh Ahmad Hakim Jayli

Setelah beberapa jam melepas penat, seusai perhelatan Muktamar NU di Jombang, saya mencoba mencari kabar dengan memeriksa pembicaraan di group WhatsApp. Tertarik membaca sebuah testimoni, tepatnya curhat seorang Sahabat Yunior di Group Alumni PMII Komisariat Universitas Brawijaya (Kobra) Malang: "Orang2 seperti aku akan menjadi sejarah tersendiri dari perjalanan panjang PMII komisariat brawijaya... Sejarah seorang anak dari ayah marhens yang menjadi pengurus PNI pernah dikejar-kejar banser NU karena dianggap PKI, dan aku si anak marhen itu memilih berproses di PMII dari pada di GMNI."

Relasi Ideal PMII dan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Relasi Ideal PMII dan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Relasi Ideal PMII dan NU

Terharu, saya membaca komen ini. Salut dan hormatku pada dia, dan juga sahabat-sahabat saya yang masuk PMII bukan karena dia Nahdliyin. Tapi lebih karena ketertarikan dengan cara pandang PMII sebagai gerakan kemahasiswaan dan keagamaan. Bangga juga pada PMII yang bisa menjadi ajang rekonsiliasi sosial, bahkan yang tak bisa dituntaskan oleh negara sekalipun. Beberapa detik, saya coba pahami konteks dari komen sahabat saya itu. Yes, saya baru menangkap. Ini soal keputusan Muktamar NU yang memasukkan PMII ke dalam struktur organisasi NU, sebagai Badan Otonom. Lantas saya mencoba menghiburnya:

Membaca chat sahabat, terkait positioning (replacement?) PMII di Muktamar kemarin, saya begitu berempati. Kurang lebih saya bisa memahami. Apa Anda rasakan, kurang lebih, itu pula yg saya rasakan, walau titik berangkatnya berbeda.

Attauhidiyyah Giren

Selasa malam, sehabis keputusan sidang komisi organisasi, tema ini saya obrolkan hingga hampir subuh dg Sahabat Senior Robikin Emhas, di salah satu sudut ruang media center Muktamar. Sama, kami kaget dan merasa abai, kecolongan karena tidak mengawal serius, apalagi maksimal, hingga sahabat-sahabat PB PMII harus sendirian menghadapi forum muktamirin. Iyden Karebet, salah satu fungsionaris PB PMII sempat kami hadirkan, tapi suasana sudah tidak kondusif. Dan besoknya, dugaan kami benar. Sidang pleno laporan hasil komisi, nyaris tak mengubah apapun. Bahkan jalan tengah Banom Interdependensi pun tak mampu mengubah keputusan.

Attauhidiyyah Giren

Bagi saya yang berangkat dari kalangan Pesantren, berproses di PMII adalah berkah Tuhan yang tak pernah henti saya syukuri hingga detik ini. Mungkin sama yang dirasakan sahabat-sahabat, yang berlatar dari kalangan lain. PMII Malang menjadikan kita mengenal luasnya alam, yang harus kita sayangi dan rawat rame-rame.

Walau dari pesantren, saya mengenal NU justru di PMII. Di organisasi kemahasiswaan ini being process saya berputar, dengan menjadi murid ideologis Gus Dur. Dari beliau, kita diajari dan diteladani, bahwa NU bukan sekadar organisasi teknis, tapi lebih dari itu, NU adalah sebuah grand idea untuk hidup percaya diri sebagai sosok Muslim Kereen yg mencintai bangsa dan negaranya. NU oleh Gus Dur (sebagaimana juga maksud para muassis NU) ditempatkan sebagai komponen utama civil society di sebuah negara bangsa (nation state) yang digerakkan oleh paham keagamaan dan sikap kemasyarakatan, bersumber dari ajaran Islam Aswaja yang utuh dan progresif. Di sinilah, saya menemukan meeting point PMII dan NU, yakni perjumpaan visi!

Dan perjumpaan visi itulah sebenarnya relasi ideal PMII dan NU. Tak perlu bersama dalam satu struktur. Itu pula kesimpulan diskusi alumni PMII di Studio TV9 Nusantara saat harlah PMII April lalu. Karena, ketika visi dan cinta sudah bertemu, maka tak penting apakah harus serumah atau berjauhan. Bersama Menuju ke titik perjuangan yg disepakati lebih penting dari pada keharusan selalu bersama. Memang, Kadang kita terlalu takut pada kegelapan malam, saat senja mulai menjelang. Pekatnya malam, akan semakin gulita bila lentera hati dan lilin akal sehat, kita tiup hingga mati. Walau rembulan tak hadir tiap malam, tapi benderang malam bisa saja hadir dari rembulan optimisme kita.

Tapi sudahlah, kami (yang sudah di luar usia PMII) akan coba temani sahabat-sahabat PB PMII (itupun kalau diperlukan), menjalani dan mencari jalan keluar dari posisi sulit kini. Sebagaimana kami akan terus mendorong dan mengawal NU tampil menjadi civil society terbesar di dunia yg berpandangan terbuka dan melindungi. Bukankah cara terbaik menyelesaikan masalah, adalah dengan menghadapinya.

(Tetaplah) Tangan Terkepal dan Maju ke Muka...

*) Ahmad Hakim Jayli, Direktur Utama TV9 Nusantara

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren RMI NU Attauhidiyyah Giren