Jumat, 19 Februari 2010

Siapa Santri Itu? Ini Penjelasan Rais ‘Aam dan Ketum PBNU

Bandung,Attauhidiyyah Giren

Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menjelaskan, santri tidak hanya orang yang berada di pondok pesantren dan bisa mengaji kitab atau ahli agama. Namun, santri adalah orang-orang yang ikut kiai dan setuju dengan pemikiran serta turut dalam perjuangan kaum santri.

“Santri adalah orang-orang yang ikut kiai, apakah dia belajar di pesantren atau tidak, tapi ikut kegiatan kiai, manut pada kiai, itu dianggap sebagai santri walaupun dia tidak bisa baca kitab, tapi dia mengikuti perjuangan para santri,” jelasnya di gedung PBNU, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Siapa Santri Itu? Ini Penjelasan Rais ‘Aam dan Ketum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Siapa Santri Itu? Ini Penjelasan Rais ‘Aam dan Ketum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Siapa Santri Itu? Ini Penjelasan Rais ‘Aam dan Ketum PBNU

Dari sisi keberadaan, menurut Kiai Ma’ruf, santri ada yang tinggal di pondok di pesantren, ada pula yang sesekali ke pesantren atau disebut santri kalong, ada juga santri yang sekali-kali saja datang bertemu kiai dan santri.

Attauhidiyyah Giren

“Pokoknya, santri itu ikut kiailah. Karena itu dia mencakup hampir semua lapisan masyarakat,” lanjut Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat itu.

Sementara Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berpendapat, santri adalah umat yang menerima ajaran-ajaran Islam dari para kiai. Para kiai itu belajar Islam dari guru-gurunya yang terhubung sampai Rasulullah SAW.

Attauhidiyyah Giren

Para santri, lanjut Kiai Said, menerima Islam dan menyebarkannya dengan pendekatan budaya yang berakhlakul karimah, bergaul dengan sesama dengan baik. Santri juga menghormati budaya, bahkan menjadikannya sebagai infrastruktur agama, kecuali budaya yang bertentangan ajaran Islam seperti seks bebas atau minum-minuman keras.

“Santri itu jelas, adalah orang-orang yang menindaklanjuti dakwah dengan budaya seperti yang dilakukan Wali Songo. Dakwah seperti itu yang jelas ampuh, efektif,” tegas kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak itu.

Dakwah dengan cara seperti itu terbukti di dalam sejarah berhasil mengislamkan Nusantara tanpa kekerasan dan pertumpahan darah. Bahkan raja-raja Nusantara itu menjadi Islam.

“Kita saksikan sekarang, dakwah yang manfaat, dakwah yang lestari, masuk sampai dalam hati, adalah dakwah yang dilakukan secara budaya, bukan dengan teror dan menakut-nakuti. Islam diajarkan dengan menakut-nakuti tidak akan masuk ke dalam hati. Imannya hanya pengakuan bibir belaka sehingga menjadikan potensi munafik, tapi kalau berdakwah dengan budaya, iman masuk ke dalam hati, sehingga akan menjadi mukmin kholis (ikhlas),” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sejarah Attauhidiyyah Giren

Senin, 15 Februari 2010

Warga di Subang Ini Isi Ngabuburit dengan Ngaji Pasaran

Subang, Attauhidiyyah Giren. Salah satu kegiatan tahunan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Jami Al-Huda, Pungangan, Patokbeusi, Subang, Jawa Barat adalah ngabuburit yang diisi dengan ngaji pasaran untuk para orangtua dan pemuda.

Tahun ini, kitab yang dikaji dalam pengajian yang digelar bada ashar ini adalah Kitab Risalah al-Muawanah wal Mudzoharoh wal Muazaroh karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, adapun yang didaulat sebagai pembaca kitab adalah Kiai Adang Kosasih, Rais MWCNU Patokbeusi yang juga pengasuh pesantren Al-Huda.

Warga di Subang Ini Isi Ngabuburit dengan Ngaji Pasaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga di Subang Ini Isi Ngabuburit dengan Ngaji Pasaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga di Subang Ini Isi Ngabuburit dengan Ngaji Pasaran

"Biasanya yang ngawuruk (ngajar-red) ngaji itu ketua MWCNU, cuma beliau belum sembuh total dari sakitnya jadi diputuskan yang ngajinya Rais syuriyah, insya Allah pengajian ditutup pada H-3," kata Dedi Setiawan, salah seorang peserta pengajian yang juga Ketua Irmada (Ikatan Remaja Masjid Al-Huda) ini, Kamis (25/6).

Attauhidiyyah Giren

Dedi menambahkan, kegiatan ini sekaligus untuk mengakomodir kalangan bapak-bapak dan para  pemuda setempat yang masih haus akan ilmu agama Islam.

"Yang ikut ngaji tidak menentu tapi biasanya 30 sampai 50 orang,  Bapak-bapak disini usianya boleh tua, tapi semangat ngajinya tetap muda," tambahnya

Attauhidiyyah Giren

Pantauan Attauhidiyyah Giren, peserta pengajian itu didominasi oleh kalangan orangtua, sebagian peserta ada yang membawa kitab dan meloghatnya, sebagian lagi hanya jiping (ngaji kuping) yaitu peserta pengajian yang tidak membawa kitab dan hanya mendengarkan materi pengajian. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Doa, Nahdlatul, Syariah Attauhidiyyah Giren

Jumat, 05 Februari 2010

Banser Kragan Dukung Aparat Tindak Cafe Karaoke Ilegal

Rembang, Attauhidiyyah Giren - Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Satkoryon Kecamatan Kragan mendukung pihak aparat gaubungan untuk menindak keberadaan cafe karaoke ilegal yang beroprasi di Kabupaten Rembang. Banser Kragan mengawal razia keberadaan cafe karaoke yang ada di Kecamatn Kragan, Jumat (9/12) malam.

Salah satu anggota Banser Kragan Mashadi kepada Attauhidiyyah Giren mengatakan, pihaknya siap membantu dan mengawal penindakan cafe karaoke yang beroperasi tanpa mengantongi izin dari pemerintah.

Banser Kragan Dukung Aparat Tindak Cafe Karaoke Ilegal (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Kragan Dukung Aparat Tindak Cafe Karaoke Ilegal (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Kragan Dukung Aparat Tindak Cafe Karaoke Ilegal

"Jadi begini. Kalau mau usaha, silakan. Kami tidak akan melarang siapapun untuk berusaha. Tetapi, kami minta lakukan usaha yang resmi dan tidak mengganggu ketertiban lingkungan," jelasnya.

Menurutnya, sejauh ini anggota Banser dan GP Ansor di Kecamatan Kragan tengah gencar memantau sejumlah cafe karaoke yang berkedok rumah makan. Ia menambahkan, empat cafe karaoke yang beroperasi dengan izin warung makan itu sering memicu terjadinya tindak kekerasan dan perkelahian di wilayah tersebut.

Attauhidiyyah Giren

Ada empat cafe karaoke yang berkedok rumah makan dan minuman. Keempatnya berada di DesaTanjungan, Kebloran, Sedang Waru, dan Desa Karang Harjo. Keempat tempat usaha ini sering dikeluhkan oleh warga lantaran menjadi pemicu tindak kejahatan. Selain itu, jam beroperasinya tempat itu dikabarkan tidak mengenal waktu, bahkan terkadang 24 jam nonstop.

Attauhidiyyah Giren

"Di sini kami sering menerima keluhan warga, terkait tempat maksiat tersebut. Jam bukanya itu tidak mengenal waktu, terkadang 24 jam tanpa berhenti," terang Mashadi.

Untuk cafe di Desa Kebloran, terlihat petugas mengamankan lima kerat miras yang dijual di tempat tersebut. Selain itu, aparat juga mengamankan tiga orang yang diduga sebagai karyawan yang berasal dari Tegal, Brebes dan Pekalongan.

Mashadi berharap pemerintah lebih proaktif menindak tegas keberadaan cafe karaoke ilegal yang beroperasi. Selain itu, tempat hiburan yang memicu tindak kekerasan harus segera ditutup izin usahanya.

Menurut pantauan Attauhidiyyah Giren, hampir sebagian cafe karaoke di Kabupaten Rembang tidak mengantongi izin usaha sebagaimana mestinya. Terlihat ada sembilan cafe karaoke yang berfasilitas room. Semuanya menggunakan kedok rumah makan. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Warta, Kiai, IMNU Attauhidiyyah Giren