Kamis, 29 Oktober 2009

Peringati Haflah Akbar, Pesantren Tambakberas Dukung PBNU

Jombang, Attauhidiyyah Giren



Lapangan Untung Suropati Tambakrejo yang berada di utara Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang Jawa Timur penuh sesak oleh puluhan ribu santri. Mereka khidmat mengikuti upacara pembukaan al-haflatul kubro pesantren setempat, Rabu (8/2) pagi.

Peringati Haflah Akbar, Pesantren Tambakberas Dukung PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Haflah Akbar, Pesantren Tambakberas Dukung PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Haflah Akbar, Pesantren Tambakberas Dukung PBNU

KH Abdul Choliq Mustaqim dalam amanatnya mengemukakan bahwa peringatan haflah kali membawa pesan bahwa Pesantren Tambakberas, sebutan kepada PPBU memiliki komitmen kuat terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. "Karenanya kita akan pelihara dan jaga NKRI sebagai harga mati," kata Sekretaris Umum Yayasan PPBU tersebut.

"Demikian pula kita akan pelihara dan jaga PBNU yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI serta UUD 1945," katanya disambut tepuk tangan hadirin.

Gus Kholiq, sapaan akrabnya juga menandaskan kepada para kiai, ustadz dan santri yang hadir di lapangan tersebut bahwa haflah kali ini juga terbilang istimewa. "Karena usia madrasah di lingkungan Pesantren Tambakberas telah memasuki 102 tahun," ungkapnya. Sedangkan untuk pesantren sendiri adalah berusia 192 tahun, lanjutnya.

Attauhidiyyah Giren

Hadir pada kesempatan tersebut Ketua Majlis Pengasuh yakni KH Hasib Abdul Wahab, serta Ketua Umum Yayasan PPBU yakni KH Irfan Sholeh.

Sebelum upacara pembukaan, kegiatan diawali dengan penampilan kreasi para santri dari berbagai ribath atau asrama yang ada di pesanren setempat. Tidak ketinggalan, sejumlah kontingen dari madrasah dan sekolah juga turut unjuk kebolehan.

Attauhidiyyah Giren

Pantauan Attauhidiyyah Giren di lokasi, sejumlah santri dan siswa menampilkan kebudayaan dari berbagai suku dan daerah di Indonesia. Dari mulai budaya dan pakaian masyarakat Madura, Nusa Tenggara Timur, Bengkulu, dan beberapa kawasan lain di tanah air.

Kegiatan dipungkasi dengan sambutan dari yayasan serta amanah oleh ketua majlis pengasuh. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Khutbah, Ahlussunnah Attauhidiyyah Giren

Selasa, 27 Oktober 2009

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi mendesak pemerintah mencabut Peraturan Presiden (Perpres) 105/2013 dan 106/2013 yang mengatur memberikan fasilitas berobat gratis kepada pejabat negara hingga ke luar negeri.

“Memberikan fasilitas keuangan negara kepada pejabat negara secara berlebihan di tengah kemiskinan ekonomi rakyat serta derita karena bencana alam, adalah sebuah kezaliman,” kata Hasyim Muzadi di Jakarta, Ahad (29/12).

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini mengatakan, Perpres tersebut menyakiti nurani rakyat yang pada umumnya masih miskin dan dikhawatirkan menjadi pemicu perlawanan rakyat.

Attauhidiyyah Giren

“Oleh karenanya, Perpres 105 dan 106 tahun 2013 tertanggal 13 Desember 2013 yang memberikan fasilitas berobat gratis sampai ke luar negeri segera dicabut,” terang Kiai Hasyim.

Attauhidiyyah Giren

Pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini juga menyarankan para penyelenggara negara dan pejabat publik yang masih punya rasa tanggungjawab kepada rakyat, hendaknya menolak fasilitas berlebihan tersebut.

“Sekalipun yang mau menolak pasti jumlahnya sangat minoritas. Seandanya pejabat negara meninggal karena sakit, biarlah meninggal di tanah air bersama rakyat yang mengantarkan mereka menjadi pejabat,” katanya.

Keluarnya Perpres menjalang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden akan semakin menambah kebencian masyarakat kepada pejabat Negara.

“Hendaknya diingat saat ini menjelang pileg dan pilpres, maka perpres 105/106 akan menambah rasa kejengkelan kepada mereka yang akan menjadi penyelenggara Negara,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menandatangani Peraturan Presiden 105/2013 tentang Pelayanan Kesehatan Paripurna kepada Menteri dan Pejabat Tertentu. Juga, Perpres 106/2013 tentang Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Pimpinan Lembaga Negara.

Dalam laman Sekretaris Kabinet, kedua produk aturan itu dikeluarkan Presiden terkait mulai dilaksanakannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mulai 1 Januari 2014.

Dengan Perpres itu, para menteri, pejabat eselon I, dan pimpinan lembaga negara dimudahkan untuk berobat ke luar negeri. Seluruh biaya itu nantinya akan ditanggung oleh negara, baik APBN maupun APBD.

Presiden mempertimbangkan risiko dan beban tugas menteri dan pejabat tertentu, serta ketua, wakil ketua dan anggota lembaga negara sehingga pemerintah memutuskan membuat perlindungan kesehatan khusus bagi pejabat negara. (Ahmad Millah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren AlaSantri, Pesantren, AlaNu Attauhidiyyah Giren

Jumat, 23 Oktober 2009

Pesantren Tebuireng Latih Guru TPQ dengan Metode Ajar Kreatif

Jombang, Attauhidiyyah Giren. Pesantren Tebuireng Jombang mengadakan pendidikan dan pelatihan (diklat) untuk guru Taman Pendidikan Qur’an (TPQ). Diklat melalui Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) berlangsung di gedung KH Yusuf Hasyim lt 2, pesantren tersebut.

Seperti yang dilansir Tebuireng Online, acara yang diikuti oleh sekitar 30 guru TPQ tersebut diadakan selama tiga hari mulai dari hari ini(20/09) sampai dengan Senin(22/09). Ke-30 peserta tersebut adalah para guru TPQ yang berada dalam naungan LSPT.

Pesantren Tebuireng Latih Guru TPQ dengan Metode Ajar Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tebuireng Latih Guru TPQ dengan Metode Ajar Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tebuireng Latih Guru TPQ dengan Metode Ajar Kreatif

Dalam diklat tesebut diberikan metode dan cara-cara mengajar yang kreatif dan efektif, agar para murid tertarik dan semakin senang belajar al-Qur’an.

Attauhidiyyah Giren

“Acara ini adalah tahap awal untuk meningkatkan kualitas tenaga pengajar di lembaga-lembaga  TPQ sehingga para pengajar khususnya yang berada di bawah naungan LSPT mempunyai standar bagus dalam mendidik para murid”, ungkap ketua panitia diklat guru TPQ ini, M. Nizar dalam kesempatan wawancara.

Attauhidiyyah Giren

“Mungkin selanjutnya kami akan mengembangkan pelatihan semacam ini di tingkat yang lebih luas, bisa jadi se kabupaten Jombang,” tambah mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Hasyim Asy’ari Tebuireng ini.

Acara yang dibuka oleh ketua LSPT, Muhammad As’ad dan melibatkan sejumlah tutor handal ini, diharapkan  bisa memberikan bekal yang cukup untuk para guru TPQ agar sukses dalam mendidik para murid dan menjadikan TPQ menjadi lembaga pendidikan yang bermutu dan berkualitas untuk generasi islam yang qur’ani. (Abror/Abdullah Alawi)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Humor Islam, Daerah, Pondok Pesantren Attauhidiyyah Giren

Rabu, 14 Oktober 2009

Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Pak ustadz, saya ingin menanyakan seputar shalat dua rakaat ketika masuk masjid atau yang dikenal dengan sebutan shalat tahiyyatul masjid. Pertama, apa makna shalat tahiyyatul masjid? Yang kedua, apabila kita masuk masjid kemudian duduk, apakah anjuran melakukan shalat tahiyyatul masjid gugur?

Ketiga, ketika kita masuk masjid mengingat waktunya begitu sempit kemudian kita langsung melakukan shalat qabliyyah, bolehkah kami menggabungkan niat shalat sunah qabliyyah dengan shalat tahiyyatul masjid. Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Ahmad Majid/Pekalongan)

Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1)

Jawaban

Attauhidiyyah Giren

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Setidaknya ada tiga pertanyaan yang diajukan kepada kami. Karena keterbatasan ruang dan waktu, kami akan menjawab satu demi. Dalam kesempatan ini terlebih dahulu kami menjawab pertanyaan pertama. Sedang untuk yang kedua dan ketiga akan kami jawab pada kesempatan berikutnya.

Menurut para ulama, hukum shalat tahiyatul masjid adalah sunah mu`akkad. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Atsram dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat, ‘Berikanlah hak masjid. Lantas mereka bertanya, ‘apa yang menjadi hak masjid?’ Jawab beliau, ‘Shalatlah dua rakaat sebelum kalian duduk.’”

Attauhidiyyah Giren

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Shalat tahiyyatul masjid termasuk shalat yang sangat dianjurkan karena berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-Atsaram yang bersambung sanadnya sampai Rasulullah SAW (marfu`): ‘Berikanlah hak masjid. lantas mereka pun bertanya, apa yang menjadi hak masjid. Jawab beliau, ‘Shalatlah dua rakaat sebelum kalian duduk,’” (lihat Muhammad ‘Arafah Ad-Dasuqi, Hasyiyatud Dasuqi, Beirut, Darul Fikr, juz I, halaman 313).

Seseorang yang menjalankan shalat tahiyyatul masjid sudah semestinya berniat mendekatkan diri kapada Allah (taqarrub). Sebab, apa yang dimaksud dengan tahiyyatul masjid pada dasarnya adalah memberikan salam penghormatan kepada Pemilik Masjid (tahiyyatu rabbil masjid) yaitu Allah SWT.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sudah semestinya ketika menjalankan shalat tersebut niat bertaqarrub kepada Allah swt bukan kepada masjid. Sebab, pengertian dari pernyataan; ‘tahiyyatul masjid’ adalah tahiyyatul rabbil masjid (salam kepada Pemilik masjid),” (Lihat Muhammad ‘Arafah Ad-Dasuqi, Hasyiyatud Dasuqi, juz I, halaman 313).

Berpijak dari sini dapat dipahami bahwa shalat tahiyyatul masjid adalah shalat dua rakaat yang dilakukan seorang Muslim ketika masuk masjid sebelum duduk. Sebagai bentuk salam penghormatan kepada masjid, di mana salam penghormatan kepada masjid pada hakikatnya adalah salam penghormatan kepada Pemilik masjid, yaitu Allah swt.

Logika sederhana yang digunakan untuk menjelaskan hal ini adalah sebagaimana orang yang masuk ke dalam istana raja. Maka yang dilakukan adalah memberikan salam atau penghormatan bukan kepada istananya tetapi kepada pemiliknya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Karena ketika orang masuk istana raja, maka ia memberikan salam (penghormatan) kepada raja bukan kepada istananya,” (Lihat Muhammad ‘Arafah Ad-Dasuqi, juz I, halaman 313).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ulama, RMI NU Attauhidiyyah Giren

Rabu, 16 September 2009

Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir

Karawang, Attauhidiyyah Giren. Puluhan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Karawang, Jawa Barat, diterjunkan langsung ke lapangan untuk membantu evakuasi korban banjir di sejumlah titik, salah satunya di Desa Telukbango, Kecamatan Batujaya.

Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir

Lokasi tersebut merupakan salah satu kecamatan terparah dari 16 kecamatan di Karawang yang terkena banjir.

Sekretaris GP Ansor Kabupaten Karawang, Ade Permana SH mengatakan, banjir di Karawang saat ini, merupakan banjir terparah dalam dua tahun terakhir akibat luapan Sungai Citarum. "Wilayah yang terkena banjir mencapai 16 kecamatan, dengan puluhan ribu rumah terendam dan empat orang yang meninggal dunia," katanya, Selasa (22/1).

Attauhidiyyah Giren

Melihat kenyataan tersebut, pihaknya menerjunkan anggota Banser untuk membantu evakuasi korban banjir. Kegiatan yang dilakukan, mulai dari evakuasi korban, hingga memperbaiki tanggul yang jebol. "Anggota kita bergerak dengan cepat, bahkan salah satu anggota Banser yang menemukan dan membawa jenazah salah satu korban banjir untuk dievakuasi," ucapnya.

Selain bantuan tenaga, lanjut Ade, GP Ansor juga memberikan bantuan logistik untuk korban banjir yang disebar ke beberapa titik. Bantuan tersebut didapat dari hasil penggalangan anggota Ansor dan juga masyarakat. "Kita juga mengirim bantuan logistik untuk korban banjir," tuturnya.

Attauhidiyyah Giren

Karena banjir di Karawang terjadi tiap tahun, Ade meminta kepada Pemkab Karawang, untuk bisa mengantisipasi datangnya banjir pada musim hujan tahun mendatang. "Carikan solusi yang tepat, agar banjir tidak terulang lagi. Kasihan masyarakat kalau setiap tahun harus merasakan banjir. Tentunya, secara materi dan psikologis pasti terganggu," pungkasnya. 

Keterangan foto: Banser dan anggota Pramuka membantu mengangkut karung berisi pasir untuk menahan air di Desa Telukbango, Kecamatan Batujaya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Syahid

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ubudiyah Attauhidiyyah Giren

Kamis, 23 Juli 2009

STAINU Jakarta Jalin Kerjasama dengan UIN Jakarta

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Dalam rangka memperkuat kapasitas kelembagaan, Sekolah Tinggi Agama Islam NU (STAINU) Jakarta menjalin kerjasama dengan Fakultas Dirosah Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penandatanganan naskah kerjasama dilaksanakan di ruang rapat FDI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis, (26/5).

STAINU Jakarta Jalin Kerjasama dengan UIN Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Jalin Kerjasama dengan UIN Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Jalin Kerjasama dengan UIN Jakarta

Aris Adi Leksono, Wakil Ketua STAINU Jakarta Bidang Kerjasama menjelaskan bahwa ruang lingkup kesepahaman adalah pemberian beasiswa pendidikan pascasarjana bagi lulusan STAINU Jakarta. Selain itu, kerjasama sama ini melingkupi pertukaran dosen, forum ilmiah bersama, penerbitan jurnal, serta pengabdian masyarakat.

Dr Hamka Nasir yang mewakili Fakultas Dirosah Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sambutannya menyambut baik kerjasama yang digagas bersama. "Kami haturkan terima kasih atas kerjasama yang terjalin, semoga bisa memberikan manfaat untuk bersama-sama mengabdi untuk bangsa melalui dunia pendidikan," tuturnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kerjasama ini secara institusi akan sangat bermanfaat dan memiliki point dalam akreditasi, baik nasional dan internasional.

Hadir dalam penandatanganan MoU tersebut, Arif Rahman, M.Pd (Puka II STAINU Jakarta), PTIQ, dan sejumlah universitas dan sekolah tinggi dari Jabodetabek, Jawa Barat, dan Bawean Jawa Barat. Red Mukafi Niam

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren Amalan, Nahdlatul Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 18 Juli 2009

Habib Luthfi: Gunakan Manajemen Islam Damai

Semarang, Attauhidiyyah Giren. Ribuan jamaah memadati lapangan Sepak Bola Kliwon Ngaliyan Semarang Majelis Dzikir Maulidin Nabi Ngaliyan, Ahad (24/2) dalam acara pengajian akbar bertema “Maulid Nabi Muhammad SAW: Kita Pelihara, Akhlak, Sabar dan Takwakal.”

Kegiatan dihadiri tim hadroh dan para habib se-Semarang, sehingga ribuan jamaah memenuhi lapangan sambil menikmati Hadroh shalawat dan sambutan pengajian oleh Habib Jafar. Dalam pengajian akbar maulid Nabi Muhammad tersebut di isi oleh Habib Luthfi bin Ali Yahya dari Pekalongan.

Habib Luthfi: Gunakan Manajemen Islam Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Gunakan Manajemen Islam Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Gunakan Manajemen Islam Damai

Kelahiran Nabi Muhammad sangat layak untuk diperingati. Akan tetapi dalam memperingati Nabi Muhammad tidak hanya waktu kelahiran Nabi Muhammad melainkan tiap hari, bulan maupun tahun, kata Habib Luthfi.

Attauhidiyyah Giren

“Nabi Muhammad sendiri memperingati hari kelahirannya dengan cara melakukan tirakat dan puasa. Ia adalah suri teladan yang baik, dan teladan atau ushwah itulah yang sulit kita laksanakan,” kata Habib.

Meski Muhammad adalah orang suci namun ia selalu melakukan tazkiyah an-Nafs dan tazkiyah Qulub.Ia selalu mensucikan hati dan nafsunya, selayaknya cara-cara penyucian dengan teladan yang baik tersebut menjadi contoh bagi kita dan kunci untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Attauhidiyyah Giren

Islam dibawa ke bumi Nusantara dengan baik dan damai. Namun acara-acara televisi dalam menontonkan kisah-kisah wali selalu dibumbu-bumbui dengan pertengkaran dan kesaktian.

“Sesungguhnya para wali memberikan contoh teladan dari Nabi, bukan melalui kesaktian namun dengan manajemen Islam yang damai. Islam dibawa melalui contoh dan kegemaran masyarakat, sehingga Islam mudah menyebar di Indonesia,” tutur Habib Luthfi.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Lukni Maulana

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Tegal Attauhidiyyah Giren

Jumat, 05 Juni 2009

Hukum Dengar Lagu dan Musik

Assalamualaikum wr wb.

Pengurus bahtsul masail yang saya hormati. Saya ingin bertanya tentang hukum musik karena saya mendengar bahwa ada kelompok yang mengharamkannya dengan mengategorikannya ke dalam perkataan yang sia-sia. Mohon penjelasannya. Saya mengucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Sahrul Amin)

Jawaban

Hukum Dengar Lagu dan Musik (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Dengar Lagu dan Musik (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Dengar Lagu dan Musik

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Perihal lagu, musik, nyanyian, dan bunyi-bunyian ini menjadi perbincangan hangat di kalangan ulama. Ulama berbeda pendapat perihal mendengarkan lagu, musik, nyanyian, dan bunyi-bunyian. Sebagian ulama mengharamkannya. Tetapi sebagian lagi membolehkannya.

Attauhidiyyah Giren

Untuk masalah ini Imam Al-Ghazali mengangkat pandangan ulama yang mengharamkannya dan ulama yang membolehkannya. Namun demikian dalam Ihya Ulumiddin Imam Al-Ghazali secara detil menanggapi dalil dan argumentasi yang dikemukakan oleh para ulama yang mengaharamkannya.

Pada tulisan ini kami mencoba mengangkat ringkasan ulasan Imam Al-Ghazali perihal masalah ini. Dalam ringkasan ulasannya, Imam Al-Ghazali cenderung memperbolehkan mendengarkan musik, lagu, dan nyanyi-nyanyian. Berikut ini kutipannya.

Attauhidiyyah Giren

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Ketahuilah, pendapat yang mengatakan, ‘Aktivitas mendengar (nyanyian, bunyi, atau musik) itu haram’ mesti dipahami bahwa Allah akan menyiksa seseorang atas aktivitas tersebut.’ Hukum seperti ini tidak bisa diketahui hanya berdasarkan aqli semata, tetapi harus berdasarkan naqli. Jalan mengetahui hukum-hukum syara‘ (agama), terbatas pada nash dan qiyas terhadap nash. Yang saya maksud dengan ‘nash’ adalah apa yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW melalui ucapan dan perbuatannya. Sementara yang saya maksud dengan ‘qiyas’ adalah pengertian secara analogis yang dipahami dari ucapan dan perbuatan Rasulullah itu sendiri. Jika tidak ada satu pun nash dan argumentasi qiyas terhadap nash pada masalah mendengarkan nyanyian atau musik ini, maka batal pendapat yang mengaharamkannya. Artinya, mendengarkan nyanyian atau musik itu tetap sebagai aktivitas yang tidak bernilai dosa, sama halnya dengan aktivitas mubah yang lain.

Sementara (pada amatan kami) tidak ada satupun nash dan argumentasi qiyas yang menunjukkan keharaman aktivitas ini. Hal ini tampak jelas pada tanggapan kami terhadap dalil-dalil yang dikemukakan oleh mereka yang cenderung mengharamkannya. Ketika tanggapan kami terhadap dalil mereka demikian lengkap, maka itu sudah memadai sebagai metode yang tuntas dalam menetapkan tujuan ini. Hanya saja kami mulai membuka dan mengatakan bahwa nash dan argumentasi qiyas menunjukkan kemubahan aktivitas mendengarkan nyanyian atau musik.

Argumentasi qiyas menyatakan bahwa kata ‘bunyi’ itu mengandung sejumlah pengertian yang perlu dikaji baik secara terpisah maupun keseluruhan. Kata ini mengandung pengertian sebuah aktivitas mendengarkan suara yang indah, berirama, terpahami maknanya, dan menyentuh perasaan. Secara lebih umum ‘bunyi’ adalah suara yang indah. Bunyi yang indah ini terbagi atas yang berirama (terpola) dan yang tidak berirama. Bunyian yang berirama terbagi atas suara yang dipahami seperti syair-syair dan suara yang tidak terpahami seperti suara-suara tertentu. Sedangkan mendengarkan suara yang indah ditinjau dari keindahannya tidak lantas menjadi haram. Bahkan bunyi yang dihasilkan dari gerakan benda-benda mati dan suara hewan itu halal berdasarkan nash dan argumentasi qiyas,” (Lihat Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Mesir, Musthafa Al-Babi Al-Halabi, tahun 1358 H/1939 H, Juz 2, Halaman 268).

Berangkat dari apa yang kemukakan di atas, Imam Al-Ghazali tidak menemukan satupun nash yang secara jelas mengharamkannya. Kalau pun ada nash yang mengharamkan musik dan nyanyian, keharamannya itu bukan didasarkan pada musik dan nyanyian itu sendiri, tetapi karena dibarengi dengan kemaksiatan seperti minum-minuman keras, perzinaan, perjudian, ataupun melalaikan kewajiban.

Adapun aktivitas mendengarkan musik atau nyanyian itu sendiri, menurut Imam Al-Ghazali seperti disebutkan di atas, halal. Jadi Imam Al-Ghazali memisahkan secara jelas antara musik beserta nyanyian itu dan kemaksiatan yang diharamkan secara tegas di dalam nash maupun qiyas terhadap nash.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga dapat dipahami dengan baik. Sikapi semua perbedaan dengan bijak. Kami selalu terbuka menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Makam, Hikmah Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 30 Mei 2009

BEM PTNU Nusantara Galang Dana Untuk Salim Kancil

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Relawan yang dipelopori pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) Nusantara Tangerang menginisiasi penggalangan dana sebagai bentuk penghormatan kepada Salim, petani yang peduli lingkungan. Mereka membawa keliling kardus bergambar sketsa "Aksi Solidaritas Untuk Salim Kancil" ke semua mahasiswa di dalam kampus NU Cikokol, Tangerang, Ahad (4/10) siang.

Mereka menggalang dana untuk korban penganiayaan sadis kades Selok Awar-Awar, Pasirian, dan puluhan anak buahnya pekan lalu.

BEM PTNU Nusantara Galang Dana Untuk Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)
BEM PTNU Nusantara Galang Dana Untuk Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)

BEM PTNU Nusantara Galang Dana Untuk Salim Kancil

Presiden BEM PTNU M Dai Rustanto mengatakan, semua pengurus BEM semangat membawa kardus penggalangan kepada seluruh mahasiswa yang sedang malakukan aktivitas akademis. Upaya mereka tidak sia-sia. Banyak mahasiswa memberikan donasinya untuk pejuang pro lingkungan.

Attauhidiyyah Giren

"Dana kami kumpulkan untuk almarhum dan Pak Tosan yang kini tengah menjalani perawatan. Dana terkumpul akan dikirim oleh relawan utusan Banten ke Lumajang,” ujar Rustanto.

Attauhidiyyah Giren

Aksi penggalangan dana didorong oleh rasa solidaritas dan ukhuwah islamiyah yang kuat di kampus NU. Perjuangan Salim Kancil menginspirasi mereka untuk turut peduli.

Haris Muhammad selaku koordinator aksi menambahkan, almarhum sudah memperjuangkan hak dan anti tambang pasir.

Rencananya, selama sepekan ke depan Haris dan relawan lainnya akan turun ke jalan mengumpulkan donasi bagi keluarga Salim Kancil dan pengobatan Tosan. "Selama seminggu nanti, tempatnya berpindah-pindah," tegasnya.

Haris memperjelas pula bahwa berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam “Adil” akan terus melakukan pengawalan terhadap kasus ini. Mereka juga meminta pihak Kepolisian untuk mengusut tuntas pembunuhan ini dengan menangkap operator lapangan maupun aktor intelektualnya.

"Meminta kepada Bupati Lumajang untuk melakukan transparansi terkait perusahaan tambang yang legal maupun ilegal," tegasnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kajian Attauhidiyyah Giren

Rabu, 01 April 2009

Enam Orang Yang Boleh Buka Puasa di Siang Hari

Makan, minum, dan hal lain yang membatalkan puasa, mesti diatur ketika kita memasuki bulan Ramadhan. Pasalnya semua yang dibolehkan siang dan malam di luar bulan Ramadhan, bisa jadi sebagiannya dilarang di siang hari di bulan Ramadhan. Larangan ini berlaku bagi mereka yang muslim, baligh, dan mampu untuk menahan ketentuan puasa.

Meskipun demikian, ada orang-orang yang masuk dalam pengecualian. Inilah enam orang yang disebutkan Syekh M Nawawi dalam Kasyifatu Saja. Mereka diizinkan secara syara’ untuk membatalkan puasanya.

Enam Orang Yang Boleh Buka Puasa di Siang Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Enam Orang Yang Boleh Buka Puasa di Siang Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Enam Orang Yang Boleh Buka Puasa di Siang Hari

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Attauhidiyyah Giren

Untuk enam orang berikut ini, diperbolehkan berbuka puasa di siang hari bulan Ramadhan. Mereka adalah pertama musafir, kedua orang sakit, ketiga orang jompo (tua yang tak berdaya), keempat wanita hamil (sekalipun hamil karena zina atau jimak syubhat [kendati wanita ini berjimak dengan selain manusia tetapi ma’shum]).

Kelima orang yang tercekik haus (sekira kesulitan besar menimpanya dengan catatan yang tak tertanggungkan pada lazimnya menurut Az-Zayadi, sulit yang membolehkan orang bertayamum menurut Ar-Romli)-serupa dengan orang yang tercekik haus ialah orang yang tingkat laparnya tidak terperikan-, dan keenam wanita menyusui baik diberikan upah atau suka rela (kendati menyusui bukan anak Adam, hewan peliharaan misalnya).

Attauhidiyyah Giren

Agama memungkinan orang-orang ini terbebas dari kewajiban puasa di bulan Ramadhan. Meskipun sebagian dari enam orang ini harus menggantinya di luar Ramadhan. Karena, kondisi yang dialami enam orang ini, dalam pandangan ulama, memungkinkan hilangnya kemampuan puasa dari yang bersangkutan saat Ramadhan. Artinya, agama tidak memaksakan mereka yang tidak mampu berpuasa. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Cerita Attauhidiyyah Giren

Rabu, 25 Februari 2009

Hujan Mengguyur Pringsewu Iringi Pemakaman KH Abdul Wahab

Pringsewu, Attauhidiyyah Giren?

Pemakaman jenazah Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu KH Abdul Wahab berlangsung di bawah guyuran hujan yang turun membasahi wilayah Kabupaten Pringsewu dan sekitarnya.



Hujan Mengguyur Pringsewu Iringi Pemakaman KH Abdul Wahab (Sumber Gambar : Nu Online)
Hujan Mengguyur Pringsewu Iringi Pemakaman KH Abdul Wahab (Sumber Gambar : Nu Online)

Hujan Mengguyur Pringsewu Iringi Pemakaman KH Abdul Wahab



Ribuan pentakziah termasuk sejumlah kiai, pengasuh pondok pesantren dan pengurus NU Kabupaten Pringsewu, Tanggamus dan Pesawaran hadir mengikuti rangkaian prosesi pemakaman yang dilaksanakan di kompleks Pondok Pesantren Riyadlotut Tholibin, Jumat (29/4) Siang.

Masjid pesantren setempat tampak dipenuhi jamaah yang melaksanakan sholat jenazah dengan Habib Yahya Assegaf sebagai imam.? Jenazah KH Abdul Wahab dimakamkan di Komplek Pondok Pesantren Riyadlotut Tholibin tepatnya disebelah barat masjid pesantren.

Attauhidiyyah Giren

Wakil Bupati Tanggamus H Samsul Hadi Harun menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga dan mengungkapkan rasa kehilangan terhadap sosok ulama yang alim dalam ilmu agama ini. "Kita semua berharap ada sosok yang dapat menggantikan beliau baik dari putra-putrinya atau pun yang lainnya untuk menjadi sumber ilmu di Nahdlatul Ulama," kata Samsul yang juga Katib Suriyah PCNU Tanggamus ini.

Ia juga berharap para putra putri KH Abdul Wahab dapat meneruskan perjuangan dalam mengembangkan pesantren yang sampai sekarang masih tetap mempertahankan kesalafiahannya.

Semasa hidupnya almarhum merupakan pengurus aktif NU baik sebagai Wakil Rais Syuriyah dan Mustasyar di PCNU Kabupaten Pringsewu maupun di Kabupaten Tanggamus yang merupakan kabupaten induk sebelum menjadi Daerah Otonomi baru.(Muhammad Faizin/Zunus).

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Habib Attauhidiyyah Giren

Senin, 23 Februari 2009

Keluarga Besar NU Evakuasi Korban Bencana Alam di Garut dan Sumedang

Jakarta, Attauhidiyyah Giren - Merespon kejadian bencana banjir dan longsor di Garut dan Sumedang yang terjadi pada Selasa malam, (20/9) Nahdlatul Ulama (NU) di Garut dan Sumedang langsung melakukan aksi kemanusiaan di lokasi kejadian. Sejak Rabu (21/9) pagi, relawan NU di Garut dan Sumedang telah menurunkan lebih dari 250 orang untuk melakukan evakuasi di lokasi kejadian baik di Garut maupun di Sumedang.

Mereka juga mendirikan Posko Bersama NU Peduli Bencana sebagai pusat operasi, pusat komando, dan pusat koordinasi semua aktivitas kemanusiaan tersebut.

Keluarga Besar NU Evakuasi Korban Bencana Alam di Garut dan Sumedang (Sumber Gambar : Nu Online)
Keluarga Besar NU Evakuasi Korban Bencana Alam di Garut dan Sumedang (Sumber Gambar : Nu Online)

Keluarga Besar NU Evakuasi Korban Bencana Alam di Garut dan Sumedang

Menurut Juru Bicara Posko Peduli Bencana Garut Subhan Fahmi, selain membantu evakuasi saat ini relawan NU juga sedang melakukan kajian cepat untuk mengetahui dampak kejadian dan kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat terdampak di lokasi kejadian.

Attauhidiyyah Giren

“Relawan kami yang berjumlah lebih dari 150 terlibat dalam kegiatan evakuasi di sejumlah titik dan di saat yang hampir bersamaan juga melakukan kaji cepat dampak dan kebutuhan” kata Fahmi yang juga Ketua GP Ansor Garut.

Sementara itu, menurut Koordinator Posko Bersama NU Peduli Bencana Sumedang Fahrizal Fauzi, Posko NU sudah menyalurkan bantuan dalam bentuk makanan dan kebutuhan pokok kepada masyarakat di sejumlah titik yang terdampak.

Attauhidiyyah Giren

“Bantuan ini kami peroleh dari partisipasi masyarakat di Sumedang,” kata Fahrizal yang juga yang juga Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Kabupaten Sumedang.

Koordinator Tim Tanggap Darurat LPBI PBNU Yulistianto menambahkan, saat ini pihaknya terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan semua pihak terkait terutama pemerintah daerah setempat. “Hal ini penting dilakukan agar kegiatan bantuan kemanusiaan yang kami lakukan tepat sasaran, sesuai dengan kebutuhan dan benar-benar dapat membantu masyarakat terdampak.”

Pengurus dan warga NU di sekitar Kabupaten Garut dan Sumedang seperti Tasikmlaya juga telah menyerahkan bantuan dalam bentuk kebutuhan pokok, karpet, pakaian dan lain-lain kepada masyarakat terdampak di Garut dan Sumedang. Aksi ini merupakan merupakan solidaritas dari warga dan pengurus NU di daerah sekitar Garut dan Sumedang.

Ketua PP LPBI PBNU M Ali Yusuf menyatakan bahwa keluarga besar NU akan terus melakukan kegiatan kemanusiaan di Garut dan Sumedang sesuai kebutuhan. LPBI NU juga akan melakukan kajian secara berkala agar diperoleh gambaran yang utuh tentang situasi dan kondisi di lokasi kejadian serta akan terus berkoordinasi dan bersinergi dengan semua pihak.

Ali Yusuf mengapresiasi kepedulian masyarakat terutama di Garut dan Sumedang yang dengan cepat membantu saudara mereka yang terdampak bencana. Ia berharap kepada masyarakat dan para pihak yang akan membantu agar sedapat mungkin memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan di lapangan berdasarkan informasi resmi dari pemerintah terutama dari BNPB dan BPBD Kabupaten Garut dan Sumedang. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Doa, Pondok Pesantren, Jadwal Kajian Attauhidiyyah Giren

Kamis, 01 Januari 2009

Urgensi Madrasah Diniyah bagi Nahdlatul Ulama

Banyak pihak yang mempertanyakan mengapa komunitas NU menolak keras pemberlakuan kebijakan sekolah lima hari dengan alasan hal tersebut akan mematikan madrasah diniyah. Bagi kelompok tersebut, menolak FDS (full day school) yang belakangan diplesetkan menjadi (five-day school) boleh-boleh saja, tetapi sekadarnya saja. Begitu pikiran yang terbaca pihak-pihak yang tidak paham tentang urgensi madrasah diniyah bagi warga Nahdlatul Ulama.

Ketidakpahaman tentang madrasah diniyah tersebut salah satunya tergambar dari pernyataan oleh salah satu petinggi ormas Islam bahwa madrasah diniyah seperti lembaga kursus. Analoginya, jika tokoh ormas Islam yang memiliki banyak lembaga pendidikan saja tidak paham, bagaimana dengan orang-orang yang selama ini belajar Islam sekadarnya, di sekolah saja? Tentu lebih tidak paham lagi. Jika orang-orang yang tidak paham tersebut membuat sebuah kebijakan yang mempengaruhi eksistensi madrasah diniyah tanpa berkonsultasi dengan pemangku kepentingan utamanya, tentu hasilnya akan jauh dari harapan. Dalam era kebebasan berekspresi dan beragamnya saluran untuk mengungkapkan luapan buah pikirannya mulai dari sekadar tulisan di medsos sampai dengan demonstrasi. Inilah yang terjadi saat ini terkait dengan pemberlakuan Permendikbud No 23 tahun 2017 yang akan diganti dengan Perpres yang saat ini masih digodok.

Urgensi Madrasah Diniyah bagi Nahdlatul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Urgensi Madrasah Diniyah bagi Nahdlatul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Urgensi Madrasah Diniyah bagi Nahdlatul Ulama

Madrasah diniyah merupakan pendidikan agama yang sebagian besar berlangsung sore hari atau seusai shalat maghrib. Keberadaannya tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Pada pagi hari, anak-anak, terutama usia sekolah dasar belajar di sekolah umum, lalu pada sore harinya, sekitar pukul dua siang, mereka belajar di madrasah diniyah. Berbeda dengan TPQ yang fokus dalam pengajaran membaca Al-Qur’an, madin mengajarkan materi-materi keislaman lebih lengkap mulai dari fikih, akhlak, tauhid, qur’an, hadist, bahkan siswa juga dikenalkan dengan bahasa Arab.

Attauhidiyyah Giren

Madin sepenuhnya dikelola oleh komunitas masyarakat setempat. Biasanya yang mengajar adalah para ustadz lulusan pesantren yang memiliki kapasitas ilmu agama yang memadai. Mereka merelakan sebagian waktunya di sore hari, setelah bekerja untuk mencari nafkah bagi keluarganya, untuk mengajar anak-anak dengan komitmen untuk mewariskan nilai-nilai Islam bagi generasi berikutnya. Biaya operasional lainnya seperti listrik, pemeliharaan gedung, dan lainnya ditanggung bersama oleh masyarakat.

Pendidikan yang berlangsung di madin menjadi dasar untuk melanjutkan pendidikan agama di tingkat selanjutnya, yaitu ketika anak-anak sudah menginjak remaja dan mulai masuk ke pesantren. Dengan demikian, mereka tidak memulai pelajar dari tingkat yang paling dasar saat berada di pesantren. Setelah lulus dari pesantren, banyak alumni pesantren yang mengamalkan ilmunya dengan mengajar di madrasah di tempat di mana ia tinggal. Begitulah siklus keberlangsungan madrasah diniyah.

Proses pewarisan nilai yang berlangsung dari generasi ke generasi melalui madin dn pesantren inilah yang membentuk corak Islam Nusantara yang khas Indonesia saat ini. Yang mampu mengakomodasikan kekayaan budaya dengan nilai-nilai dasar Islam. Proses dan hasil seperti ini tampaknya kurang dipahami oleh banyak orang.

Attauhidiyyah Giren

Mendikbud Muhadjir Effendy berulangkali menjelaskan aturan baru ini tidak akan mematikan madrasah bahkan Presiden juga menegaskan tidak ada kewajiban untuk memberlakukan sekolah lima hari. Warga NU tidak cukup puas dengan pernyataan tersebut. Dalam komunikasi politik di Indonesia, seringkali pernyataan-pernyataan publik oleh pejabat yang berwenang tidak selalu sejalan dengan pelaksanaan di lapangan, sebagaimana janji kampanye yang banyak tidak ditepati ketika yang bersangkutan terpilih. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, Kemendikbud bisa memaksa sekolah-sekolah di bawah kendalinya untuk menerapkan sekolah lima hari ketika aturan tersebut sudah diundangkan. Pemaksaan bisa dilakukan secara langsung atau tidak langsung ketika tekanan publik sudah mereda. Penciptaan citra bahwa sekolah yang menerapkan kebijakan lima hari merupakan sekolah favorit menjadi salah satu bentuk tidak langsungnya. Bisa juga dengan metode lain yang belum diketahui bentuknya.

Kecurigaan terhadap Mendikbud yang ngotot sekali dalam penerapan sekolah lima hari ini karena berangkat dari catatannya selama dia menjabat. Baru beberapa minggu setelah diangkat menjadi menteri menggantikan Anies Baswedan, ia sudah melontarkan kebijakan FDS yang lalu menuai kontroversi dan akhirnya ditangguhkan karena reaksi keras publik. Lalu, menjelang tahun ajaran baru 2017, dengan tiba-tiba ia mengumumkan pemberlakuan peraturan menteri tentang pemberlakuan sekolah lima hari. Ini yang mengingatkan kembali atas usulan sebelumnya yang ditolak masyarakat. Publik menjadi curiga atas tindakannya yang mengabaikan aspirasi masyarakat tersebut. Formulasi yang ditawarkan juga tidak jelas, hanya berupa pernyataan bahwa FDS tidak akan mematikan madin.

Isu lain yang ditiupkan adalah ada kepentingan politik dari NU untuk menentang pelaksanaan FDS. Dalam sejumlah demonstrasi, memang ada spanduk yang menyatakan “Turunkan Muhadjir”, tetapi hal tersebut lebih sebagai ekpresi ketidaksetujuan atas kebijakan yang diterapkannya. Sejauh keberadaan madrasah diniyah tetap berlangsung, bahkan diperkuat, NU akan mendukung sepenuhnya Mendikbud, siapa pun orangnya, apa pun latar belakangnya.

Jika dahulu madin mandiri secara sepenuhnya dikelola komunitas, kini sudah seharusnya pemerintah memberdayakannya secara memadai. Anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN seyogyanya juga dikucurkan untuk memperbaiki kualitas pendidikan diniyah agar lebih memadai. Inilah saatnya untuk melibatkan pemangku kepentingan yang lebih besar agar madin bisa berperan lebih besar dalam pembentukan karakter bangsa, sebagaimana visi presiden saat ini. (Ahmad Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ubudiyah Attauhidiyyah Giren