Jumat, 29 April 2016

Masdar: Kedepankan Proses Pemilihan yang Sakral

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi berpendapat pemilihan pemimpin agama harus mengedepankan proses yang sakral, khusu’ dan ilahiah yang memuaskan secara kerohanian, tidak sebagaimana pemilihan tokoh politik yang hiruk pikuk.

Masdar: Kedepankan Proses Pemilihan yang Sakral (Sumber Gambar : Nu Online)
Masdar: Kedepankan Proses Pemilihan yang Sakral (Sumber Gambar : Nu Online)

Masdar: Kedepankan Proses Pemilihan yang Sakral

“Mungkin kalau tokoh agama, sebaiknya seperti itu. Kalau tokoh politik berbeda karena kekuasaan, kan konstituennya benar-benar nyata. Penguasa dibiayai oleh rakyat dengan pajak, jadi pantas orang punya hak untuk memilih,” katanya.

Ia mencontohkan pemilihan Paus dalam lingkungan Katolik yang penuh keheningan dan pemeluk Katolik juga menerimanya karena sistem sudah benar-benar matang.?

“Pemilihan Paus itu terbatas, itu antiknya. Kalau kita mau belajar, ya belajarnya antara lain ke situ. Bahwa kita memiliki ciri yang berbeda, ya ngak masalah. Saya kira organisasi keagamaan yang paling matang, ya Katolik, sudah merasakan jatuh bangun, dan pahit getir,” tandasnya.?

Attauhidiyyah Giren

Agar sistem ahlul halli wal aqdi ini bisa diterima dalam komunitas NU, Masdar berpendapat bahwa ahlul halli harus bisa meyakinkan atau pantas sebagai ahlul halli. “Orangnya ikhlas tapi juga ngerti masalah. Ada orang jujur, tapi ngak tahu peta,” imbuhnya.?

“Orangnya kowiyyul amin, yang kredible dan capable, dan yang dipilih oleh ahlul halli, ya yang paling kowiyyul amin,” tandasnya.

Attauhidiyyah Giren

Dalam rumusan yang ditulisnya, yang kini menjadi draft munas, ia mengusulkan pemilihan ahlul halli wal aqdi berlaku untuk jabatan rais aam dan ketua umum tanfidziyah.?

Masdar juga mengingatkan pentingnya rasionalisasi organisasi. Tidak adil kalau semua wilayah dihargai sama. Ada yang pengurusnya gitu-gitu saja, ngak mengakar ke bawah sementara ada yang sangat aktif dan mengakar sampai ke bawah. Wilayah atau cabang yang lebih aktif dan mengakar, memiliki suara yang lebih banyak.

“Kayak Jawa, itu tidak bisa disamakan dengan Irian. Wilayah dengan 10 juta anggota ngak bisa dinilai sama dengan sekian warga, harus dikalkulasi. Ini ngak fair,” tegasnya.?

Untuk mendorong agar daerah-daerah menjadi lebih aktif, ia mengusulkan adanya batasan waktu. “Jika dalam periode tertentu tidak bertumbuh, ya gabung,” imbuhnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pemurnian Aqidah, Pendidikan Attauhidiyyah Giren

Selasa, 26 April 2016

Penghujat Pesantren Sidogiri Akhirnya Minta Maaf

Jember,Attauhidiyyah Giren. Hujatan dengan kata-kata kotor di media sosial masih saja terjadi. Kali ini adalah Wisnu Bagus Prabowo. Lelaki yang beralamat di Desa/Kecamatan Arjasa, Jember, Jawa timur? itu menghujat Pondok Pesantren Sidogiri di akun FB-nya. Banyak sekali tudingan-tudingan miring yang dilontarkan Wisnu.

Tentu saja, hujatan kebencian itu membuat merah telinga santri dan alumni pondok pesantren salaf tersebut. Sempat serjadi “pertengkaran” serius di media sosial antara Wisnu dan M. Rosul Baidla’i, penasihat Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) Jember. Dan hujatan itu pun sempat menjadi viral sebelum akhirnya diklarifikasi di darat.

Penghujat Pesantren Sidogiri Akhirnya Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Penghujat Pesantren Sidogiri Akhirnya Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Penghujat Pesantren Sidogiri Akhirnya Minta Maaf

Pertemuan antara Wisnu dan IASS Jember digelar di Masjid Sunan Kalijaga, Jl. Kalimantan, Jember, Senin malam (9/1). Di hadapan Ketua IASS Jember Shodiq AS, M. Rosul Baidla’i? dan sejumlah pengurus lainnya, Wisnu dituntut minta maaf dan menghapus? komentar hujatan di akun FB-nya.

Wisnu pun mengamini permintaan tersebut. Bahkan dengan ringan, ia menulis permintan maaf di sehelai kertas dan ditandatangani di atas materai. Menurutnya, ujaran kebencian itu hanya luapan dari rasa emosinya dan tidak berdasarkan fakta yang sesungguhnya. “Jadi saya mohon maaf atas semua ini,” ujarnya Wisnu.

Rosul berharap agar kasus tersebut menjadi pelajaran bagi Wisnu dan siapa pun untuk berhari-hati berkomentar di media sosial. Apalagi terkait dengan tokoh atau lembaga pesantren. Sebab, jika menyangkut tokoh, organisasi dan sebagainya, maka reaksi keras akan muncul. “Jadi, tolong hati-hati kalau ngomong,” ungkap Rosul.

Attauhidiyyah Giren

Sementara itu, di tempat terpisah, Sekretaris GP Ansor Jember Kholidi Zaini berharap agar kasus tersebut merupakan yang terakhir terjadi. Sebab, ujaran kebencian di media sosial, apalagi sampai mengungkap aib tokoh atau organisasi, sungguh mempunyai efek degradasi sosial yang luas.

“Alhamdulillah kasus itu bisa diselesaikan secara damai dan cepat. Ansor tetap berkomitmen membela NU dan pesantren. Lebih-lebih pesantren NU seperti Sidogiri,” ucapnya kepada? Attauhidiyyah Giren melalui sambungan telepon seluler. (Aryudi A. Razaq)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Tegal, Amalan, Budaya Attauhidiyyah Giren

Selasa, 05 April 2016

Meluruskan “NU Garis Lurus”

Oleh M. Alim Khoiri

--Menjelang muktamar ke-33 NU yang rencananya akan dilaksanakan di kota Jombang, 1-5 Agustur 2015, sudah banyak pekerjaan rumah yang menanti. Dengan jargon “NKRI harga mati”, NU tak hanya dituntut untuk mampu mengawal keutuhan dan kesatuan negeri tercinta, tetapi juga harus mampu mengatasi persoalan-persoalan kecil ‘rumah tangga’ yang jika terus menerus diabaikan justeru akan merusak kesatuan dan keutuhan internal NU.

‘Kerikil’ terbaru NU saat ini adalah munculnya fenomena “NU Garis Lurus”. Ini mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus. Mirisnya, kelompok yang mengatasnamakan “NU Garis Lurus” ini tak segan-segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU macam Gus Dur, Profesor Quraish Shihab dan Kang Said pun tak lepas dari serangan mereka.

Meluruskan “NU Garis Lurus” (Sumber Gambar : Nu Online)
Meluruskan “NU Garis Lurus” (Sumber Gambar : Nu Online)

Meluruskan “NU Garis Lurus”

Di dunia maya, “NU Garis Lurus” ini populer melalui media sosial facebook dan jejaring sosial twitter dengan nama akun “NU GARIS LURUS”. Mereka juga terkenal lewat situs pejuangislam.com yang diasuh oleh ust. Luthfi Bashori. Tak hanya mendaku sebagai pejuang Islam atau NU Garis Lurus, kelompok ini juga mengklaim sebagai etafet pemikiran dakwah Sunan Giri. Gerakan ini, boleh jadi merupakan semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham-faham pemikiran yang mereka anggap sesat macam pluralisme, sekularisme, liberalisme atau faham “Syi’ahisme”. Menurut mereka, faham-faham tersebut tak boleh ada dalam NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip-prinsip ‘terlarang’ itu tak layak dan tak boleh ada dalam NU.

Paradigma “NU Garis Lurus” yang berusaha untuk ‘meluruskan’ NU dari faham-faham yang mereka anggap bengkok ini, sebetulnya sah-sah saja. Hanya, masalahnya ada pada cara berdakwah. Jika kelompok “NU Garis Lurus” ini mengaku sebagai pewaris perjuangan dakwah Sunan Giri, maka mestinya mereka berkaca pada beliau dalam beberapa hal;

Pertama, sejarah mencatat bahwa, dakwah Sunan Giri banyak melalui berbagai metode, mulai dari pendidikan, budaya sampai pada politik. Dalam bidang pendidikan misalnya, beliau tak segan mendatangi masyarakat secara langsung dan menyampaikan ajaran Islam. Setelah kondisi dianggap memungkinkan beliau mengumpulkannya melalui acara-acara seperti selametan atau yang lainnya, baru kemudian ajaran Islam disisipkan dengan bacaan-bacaan tahlil maupun dzikir. Dengan begitu, masyarakat melunak hingga pada akhirnya mereka memeluk Islam. Kanjeng Sunan Giri tidak mengenal metode dakwah dengan cara mencela atau bahkan menghina.

Kedua, dalam bidang budaya kanjeng Sunan Giri juga memanfaatkan seni pertunjukan yang menarik minat masyarakat. Beliau juga dikenal sebagai pencipta tembang Asmaradhana, Pucung, Cublak-cublak suweng dan Padhang bulan. Lalu tentu saja beliau masukkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Itu semua dilakukan kanjeng Sunan demi tersebarnya ajaran Islam yang damai. Kanjeng Sunan -sekali lagi- tidak mengajarkan metode berdakwah dengan saling mencemooh atau menghujat mereka yang tak sependapat.

Attauhidiyyah Giren

Ketiga, di bidang politik, kanjeng Sunan Giri dikenal sebagai seorang raja. Dalam menjalankan kekuasaannya, beliau tak pernah berlaku otoriter dan semaunya sendiri. Beliau selalu menggunakan cara-cara persuasif untuk menarik minat masyarakat terhadap ajaran Islam. Beliau tidak mencontohkan strategi dakwah dengan cara mencaci maki mereka yang tidak sefaham.

Attauhidiyyah Giren

Wa ba’du, Terlepas dari apakah “NU Garis Lurus” ini memang betul-betul berasal dari kalangan nahdliyyin ataukah sekedar ulah oknum yang tak bertanggung jawab, yang jelas supaya betul-betul lurus, “NU Garis Lurus” mesti mengubah gaya dakwahnya yang cenderung ekstrim itu. “NU Garis Lurus” juga harus bisa memahami bahwa di dalam tubuh NU selalu penuh dinamika. Perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang biasa dan berbeda jalan pemikiran adalah hal yang niscaya. Jika “NU Garis Lurus” terus bersikukuh dengan strategi kerasnya, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Alih-alih mendaku sebagai kelompok “NU Garis Lurus”, yang ada mereka justeru menjadi “NU Garis Keras”. Wallahu a’lam.

M. Alim Khoiri, warga NU tinggal di Kediri

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Santri, Habib, Pendidikan Attauhidiyyah Giren

Minggu, 03 April 2016

13 Negara Akan Tampilkan Kesenian Tradisional pada Harlah Pesantren Tertua di Jateng

Kebumen, Attauhidiyyah Giren. Sebanyak 13 seni budaya dari 13 negara akan tampil dalam ajang Alkahfi Intercultural Fair (AIF) sekaligus harlah ke-564 pesantren tertua di Jawa Tengah, Alkahfi Kebumen.

Agung Widhianto selaku ketua panitia AIF mengatakan, negara-negara yang dipastikan tampil di pesantren yang berdiri sejak 25 Sya’ban 879 hijriah ini, diantaranya dari Spanyol dengan penampilan Flamenco, Turki dengan dansa Sufi, Italia dengan Tarantella, Inggris dengan seni dansa Morris, serta dari China, Afganistan, Vietnam, Jerman hingga Palestina.

13 Negara Akan Tampilkan Kesenian Tradisional pada Harlah Pesantren Tertua di Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
13 Negara Akan Tampilkan Kesenian Tradisional pada Harlah Pesantren Tertua di Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

13 Negara Akan Tampilkan Kesenian Tradisional pada Harlah Pesantren Tertua di Jateng

“Acara ini membawa tujuan From Pesantren For The World,” katanya.

Agung menambahkan, acara seni budaya dari berbagai negara ini merupakan sarana ajang ta’aruf sekaligus internasionalisasi santri dalam pentas dunia. Selain itu, acara yang akan diselenggarakan di lapangan pesantren Alkahfi Somalangu, Kebumen, Jawa Tengah ini, juga dimaksudkan untuk membangun Interaksi antara dunia pesantren dengan komunitas Internasional.

"Harapannya nilai-nilai kepesantrenan yang ada di Indonesia ini bisa dikenal oleh masyarakat internasional,” kata Agung yang juga ketua Komunitas Peduli Anak ini.

Ketua dewan pengurus pesantren Alkahfi, Ust. Sobirin menambahkan, selain untuk menggairahkan spirit santri, AIF juga bertujuan untuk menambah wawasan global sebagai ikhtiar pesantren dalam membantu pemerintah Indonesia guna memperkuat hubungan diplomasi Indonesia dengan negara-negara lain.

Attauhidiyyah Giren

“Ini acara pertama kami, yang ke depan ini akan rutin. Karena dengan santri berinteraksi dengan seni budaya dunia, harapannya baik santri maupun masyarakat Internasional bisa saling mengenal. Karena ada istilah tak kenal tak sayang, sehingga dengan saling mengenal dan saling berkomunikasi maka akan terjalin cinta,” paparnya.

Attauhidiyyah Giren

Acara yang akan diikuti sedikitnya 30 ribu hadirin ini berlangsung pada Ahad, 29 Mei 2016. Selain menampilkan seni budaya dari berbagai negara, AIF juga menggelar malam selebrasi dan diskusi internasional yang diselenggarakan di lapangan terbuka. Dipastikan tampil sebagai pembicara diantaranya Gus Wahyu NH Aly (Ketua Umum Kiai Muda Indonesia), Hariqo Wibawa Satria (Koordinator Relawan Komunitas Peduli ASEAN) dan M. Fatkhul Mashkur. (Hasyim Habibi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sholawat, AlaNu Attauhidiyyah Giren

Sanlat Al-Muayyad, Kenalkan Aswaja Sedari Dini

Solo, Attauhidiyyah Giren. Selama sepekan, sebanyak 57 orang mengikuti kegiatan pesantren kilat (sanlat) yang diadakan Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta, Jawa Tengah. Para santri yang ikut belajar berasal dari berbagai daerah seperti Solo, Boyolali, Sukoharjo, Klaten, Karanganyar dan Semarang.

Sekretaris Panitia, Agus Hendriyanto, menerangkan kegiatan sanlat baru berakhir Ahad (6/7) lalu. “Alhamdulillah kegiatan sanlat berjalan lancar, ini merupakan pertama kalinya setelah terakhir 12 tahun lalu juga pernah diadakan acara serupa,” terang pengurus Keluarga Alumni Ma’had Al-Muayyad (KAMAL) itu, saat ditemui Attauhidiyyah Giren.

Sanlat Al-Muayyad, Kenalkan Aswaja Sedari Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Sanlat Al-Muayyad, Kenalkan Aswaja Sedari Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Sanlat Al-Muayyad, Kenalkan Aswaja Sedari Dini

Agus menambahkan, selama masa karantina, para peserta yang didominasi anak usia sekolah dasar, diberi bekal ilmu keagamaan dan ketrampilan.

Attauhidiyyah Giren

“Untuk usia SD, kita tanamkan keaswajaan melalui pengenalan doa qunut, zikir, dan tahlil. Sedangkan untuk usia SMA kita berikan materi pengertian Aswaja dan sebagainya,” ujar dia.

Dari kegiatan ini, pihaknya berharap dapat mencetak kader aswaja yang cinta tanah air.

Attauhidiyyah Giren

Selain berbagai materi keaswajaan, para peserta juga mendapatkan berbagai kegiatan tambahan yang terkait minat dan bakat, yakni jurnalistik, hadrah, kaligrafi, dan qiroah.

Salah satu orang tua peserta acara ini mengungkapkan rasa senangnya dengan diadakan acara ini. Menurutnya, kegiatan sanlat ini dapat memberikan manfaat bagi anak. “Kalau bisa ditambah seminggu lagi, sekalian habisin libur,” ujarnya.

Di akhir kegiatan, panitia membagikan hadiah dan doorprize kepada sejumlah peserta. Rencananya, acara sanlat ini akan diadakan kembali pada Ramadan tahun depan. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pendidikan, Ubudiyah, Nasional Attauhidiyyah Giren