Rabu, 31 Januari 2018

Dies Natalis Ke-14, STAINU Jakarta Terus Jaga Tradisi dan Kembangkan Inovasi

Jakarta, Attauhidiyyah Giren

Dalam rangka memperingati Dies Natalis (hari lahir) ke-14 Tahun, Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta mengambil tema Menjaga Tradisi dan Mengembangkan inovasi. Spirit tersebut diambil oleh perguruan tinggi NU ini dengan tetapi melestarikan dan mengamalkan tradisi ke-NU-an dengan tetap mengembangkan berbagai inovasi.

“Apalagi Indonesia saat ini dihadapka pada persaingan pasar bebas ASEAN yang menuntut setiap generasi muda dan masyarakat untuk terus mengembangkan produk dan inovasi termasuk dalam dunia pendidikan,” ujar Ketua STAINU Jakarta H Syahrizal Syarif saat sambutan dalam acara pembukaan Dies Natalis, Jumat (29/4) di Kampus Jalan Taman Amir Hamzah Jakarta Pusat.

Dies Natalis Ke-14, STAINU Jakarta Terus Jaga Tradisi dan Kembangkan Inovasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dies Natalis Ke-14, STAINU Jakarta Terus Jaga Tradisi dan Kembangkan Inovasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dies Natalis Ke-14, STAINU Jakarta Terus Jaga Tradisi dan Kembangkan Inovasi

Untuk memenuhi kebutuhan dunia ilmu pengetahuan dan dunia industri, STAINU Jakarta juga sedang mengajukan 4 program studi baru. “Semoga proses ini bisa mengantarkan STAINU Jakarta bertransformasi menjadi institut,” terang salah satu Ketua PBNU ini.

Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan Dies Natalis Aris Adi Leksono yang juga Pembantu Ketua (Puka) IV STAINU Jakarta mengatakan, STAINU Jakarta sebagai salah satu kampus kebanggaan warga NU akan terus berjejaring dengan berbagai elemen, baik masyarakat, swasta, maupun pemerintah.

Aris juga tidak memungkiri bahwa kemajuan sebuah perguruan tinggi karena ditopang kreativitas mahasiswanya. Sebab itu, harapnya, para mahasiswa jangan pernah berhenti berkreativitas minimal demi kemajuan kampus. Untuk jangka panjang, tentu potensi tersebut bisa meningkatkan kapasitas individu.

Attauhidiyyah Giren

Kegiatan pembukaan ini dihadiri oleh Puka I STAINU Jakarta Imam Bukhori, Puka III Ahmad Nurul Huda, dosen STAINU Jakarta dan UNU Indonesia Amsar A Dulmanan, dosen STAI Asy-Syafiiyah Luthfi Hakim, pegiat masyarakat Pancasila Wardhi, dan para mahasiswa yang memadati Hall kampus.

Usai acara pembukaan, dilanjutkan dengan bedah buku karya salah satu dosen STAINU jakarta Fariz Alniezar yang berjudul Jangan Membonsai Ajaran Islam.?

Attauhidiyyah Giren

Dalam kegiatan Dies Natalis kali ini, STAINU Jakarta mengagendakan berbagai kegiatan yang berlangsung sejak Jumat, 29 April hingga Ahad, 1 Mei 2016. Jumat kegiatan yang berlangsung yaitu pembukaan, lomba catur, bedah buku. Sedangkan Sabtu kegiatan akan dimeriahkan oleh live musik karya mahasiswa STAINU Jakarta, apresiasi seni, istighotsah, monolog kebudayaan oleh Abdullah Wong, pidato kebudayaan oleh Sastro Ngatawi.

Adapun Ahad kemeriahaan akan berlanjut dengan kegiatan jalan santai di Car Free Day dengan rute Monas-Bundaran HI, pembagian souvenir, pelepasan balon Dies Natalis 14 tahun ke udara, dan pemberian piala lomba catur. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nahdlatul, Tokoh Attauhidiyyah Giren

Menuju Kampus Riset, UIM Harus Mulai dari Perpustakaan

Makassar, Attauhidiyyah Giren

Imam Besar Masjid Istiqlal Prof KH Nasaruddin Umar memberikan orasi ilmiah dalam peringatan hari lahir ke-50 Universitas Islam Makassar (UIM) yang mengusung tema "UIM Menuju Research University dan Kampus Qurani", Sabtu (11/6), di Auditorium KH Muhyiddin Zain UIM.

Menurutnya, saat ini universitas di dunia Barat dapat dikategorikan ke dalam tiga bentuk. Pertama, teaching university, yaitu mentransfer ilmu pengetahuan kepada mahasiswa dan memiliki pola pengembangan yang monoton.

Menuju Kampus Riset, UIM Harus Mulai dari Perpustakaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menuju Kampus Riset, UIM Harus Mulai dari Perpustakaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menuju Kampus Riset, UIM Harus Mulai dari Perpustakaan

Kedua, tambahnya, research university, yang bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menemukan ilmu pengetahuan secara bersama-sama. Dan yang ketiga adalah enterpreneur university, yakni bukan lagi mentransfer dan menemukan ilmu pengetahuan, tetapi lebih pada bagaimana memunculkan wirausahawan-wirausahawan baru untuk kepentingan masyarakat.

Attauhidiyyah Giren

"Tentunya ketiga tipe universitas di atas, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Saat ini UIM telah mengembangkan pola research university, sehingga yang utama dibangun adalah bagaimana menyediakan perpustakaan atau pusat kajian ilmu yang ter-update (mutakhir)," kata rektor Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (IPTIQ) itu di hadapan anggota senat dan civitas akademika UIM.

Ia juga mengatakan, dewasa ini yang dibutuhkan perguruan tinggi adalah pola manajemen kepemimpinan cerdas, yakni yang bisa mempekerjakan orang lain. Menurutnya, pemimpin yang baik bukan yang mengerjakan semua masalah, tetapi bagaimana memperkerjakan semua masalah kepada orang lain.

Attauhidiyyah Giren

Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Numang berharap UIM sebagai perguruan tinggi NU dapat membuka program studi baru yang mengarah pada perkeretaapian. "Saat ini kita sudah membuka jalur kereta api, namun kita masih kekurangan sumber daya manusia karena tidak ada universitas di Sulsel yang membuka program studi tersebut," kata Agus.

“Kita sekolahkan tenaga khusus untuk mengelola transportasi darat ini ke Jakarta dan biayanya sangat tinggi, jadi kita berharap UIM dan Universitas di Sulsel ada yang segera membuka prodi ini,” lanjut Agus

Rektor UIM Dr Majdah Agus AN dalam sambutannya sebagai ketua senat, banyak menyinggung kemajuan yang telah dicapai UIM dua tahun terakhir. "Tahun 2015 yang lalu, alhamdulillah UIM mendapatkan akreditasi institusi B. Tentunya capaian tertinggi UIM saat ini tak terlepas dari kontribusi seluruh civitas akademika UIM," katanya.

Dalam peringatan harlah ke-50 kali ini, UIM juga menjalin beberapa kerja sama di antaranya dengan Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran dalam bidang pengembangan kampus Qurani dan beberapa rumah sakit di Sulawesi Selatan dalam bidang pembukaan program studi Pendidikan Dokter.

Tampak hadir pula dalam kesempatan itu Sekretaris Umum Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar KH Abd Kadir Saile, Ketua Umum Yayasan Universitas Muslim Indonesia (UMI) H Mochtar Noer Jaya, Rektor UMI Prof Masrurah, para pengurus NU dan ribuan warga Nahdliyin. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Fragmen Attauhidiyyah Giren

UPZISNU Pacarpeluk Rintis Pengelolaan Zakat Mal

Jombang, Attauhidiyyah Giren

Setelah enam bulan mengorganisasi Gerakan Pacarpeluk Bersedekah, UPZISNU Pacarpeluk kini mulai merintis pengelolaan zakat maal. Sosialisasi persuasif tentang ketentuan wajibnya zakat mal mulai dilakukan secara perlahan dan bertahap.





UPZISNU Pacarpeluk Rintis Pengelolaan Zakat Mal (Sumber Gambar : Nu Online)
UPZISNU Pacarpeluk Rintis Pengelolaan Zakat Mal (Sumber Gambar : Nu Online)

UPZISNU Pacarpeluk Rintis Pengelolaan Zakat Mal

“Sedekah yang telah kita lakukan sebenarnya merupakan latihan berzakat yang berhukum wajib,” kata Nine Adien Maulana, Ketua Penguru Ranting NU Pacarpeluk, Ahad (10/12). 



Attauhidiyyah Giren

Oleh karenanya, pihaknya mengajak kepada semua warga yang telah memiliki kewajiban berzakat agar menyalurkannya kepada UPZISNU Pacarpeluk.

Sosialisasi tentang zakat mal mulai dilakukan pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di mushala Aminatus Sholihah, Dusun Pacar pada Sabtu, (9/12).

“Bapak dan Ibu jangan ragu menyalurkan zakat maal melalui UPZISNU Pacarpeluk. Pengelolaan dana koin sedekah telah membuktikan bahwa kami mampu menjalankannya secara kreatif, amanah dan profesional,” kata pria yang juga Guru SMAN 2 Jombang. 

Nine berkeyakinan Jika upaya persuasif dalam mengajak warga mengeluarkan zakat maalnya melalui UPZISNU ini berhasil, maka tidak berlebihan Pacarpeluk disebut sebagai desa ZIS (Zakat, Infak dan Sedekah). 

“Hal  itu juga telah berkali-kali ditegaskan oleh Didin A Sholahuddin, Wakil Ketua PCNU Jombang, saat memberikan mentoring kepada pengurus UPZISNU Pacarpeluk,” Nine menambahkan. (Kendi Setiawan)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kajian, Doa, AlaNu Attauhidiyyah Giren

PCINU Sudan Silaturrahim dengan Duta Besar RI

Khartoum, Attauhidiyyah Giren. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU), Senin (14/5) siang lalu, melakukan silaturrahim dan audiensi dengan Duta Besar Replubik Indonesia Sudan Dr. Sujatmiko, di Kedutaan RI, Jalan Amarat, Khartoum.

Silaturrahim dan audiensi dimaksud untuk mempererat tali persaudaraan dan perkenalan pengurus baru periode 2012-2013 serta pengenalan program kerja selama setahun mendatang.

PCINU Sudan Silaturrahim dengan Duta Besar RI (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Sudan Silaturrahim dengan Duta Besar RI (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Sudan Silaturrahim dengan Duta Besar RI

Beberapa pengurus NU Khartoum hadir pada acara itu, antara lain; H Muhammad Shohib (Mustasyar), H Mirwan Achmad Taufiq (Rois Syuriyah), H Miftahuddin Ahimy (Ketua Tanfidziyah), HZulham Qudsi (Katib), H Auza’I Anwari (A’wan), beserta Pengurus Harian, Koordinator Lakpesdam, Lembaga Dakwah, Lembaga Perekonomian dan Lajnah Ta’lif wan Nasyr PCINU Khartoum Sudan.

Attauhidiyyah Giren

H Miftah Ahimy dalam sambutannya mengatakan; acara silaturrahim dan audiensi tersebut merupakan bagian dari agenda program PCINU Khartoum Sudan untuk memperkenalkan program selama satu periode serta mengaplikasikan ajaran Nabi Muhammad SAW yaitu mempererat tali persaudaraan. 

Attauhidiyyah Giren

Selain untuk memperkenalkan pengurus serta program kepengurusan, dalam acara itu Rois Syuriyah H Mirwan Achmad Taufiq PCINU Khartoum menjelaskan kepada Duta Besar bahwa keberadaan PCINU di luar negeri sama dengan NU yang ada di tanah air, yaitu mengemban amanah dalam menjaga paham Ahlussunnah wal Jama’ah, memperkenalkan Islam yang berpendidikan dan beradab. 

Niatan mulia tersebut disambut baik oleh Duta Besar RI untuk Sudan. Dr Sujatmiko mengucapkan terimakasih kepada PCINU atas kontribusinya selama ini yang telah tulus mendampingi masyarakat. Harapannya untuk periode tahun ini adalah mensukseskan program yang telah direncanakan dan lebih berkarya lagi agar sumbangsih kepada anggota serta masyarakat semakin bertambah. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Taufiq Zubaidi

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Olahraga Attauhidiyyah Giren

Sidang Itsbat: 1 Syawal 1434 H Kamis

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Sidang Itsbat yang dipimpin oleh Menteri Agama Suryadharma Ali akhirnya memutuskan bahwa tanggal 1 Syawal 1434 H atau hari raya Idul Fitri jatuh pada hari Kamis, 8 Agustus 2013. Keputusan ini diambil setelah empat lokasi rukyat melaporkan telah berhasil melihat hilal.

Empat lokasi rukyat yang dimaksud adalah Balai Rukyat Bukit Condrodipo Gresik Jawa Timur, Pantai Alam Indah Jawa Tengah, Fakfak Papua Barat dan Makassar Sulawesi Selatan. Para perukyat yang telah menyaksikan hilal di empat tempat dimaksud telah disumpah oleh pengadilan agama di wilayah masing-masing.

Sidang Itsbat: 1 Syawal 1434 H Kamis (Sumber Gambar : Nu Online)
Sidang Itsbat: 1 Syawal 1434 H Kamis (Sumber Gambar : Nu Online)

Sidang Itsbat: 1 Syawal 1434 H Kamis

Hasil rukyat ini didukung oleh data hisab berbagai metode yang menyebutkan hilal sudah mungkin di lihat (imkanurrukyat) dan posisi ketinggian hilal sudah berkisar antara 2 sampai 3,8 derajat.

Attauhidiyyah Giren

“Berdasarkan laporan yang telah diterima izinkan saya menyimpulkan bahwa 1 Syawal 1434 H jatuh pada hari Kamis 8 Agusrus 2013. Apakah kesimpulan ini bisa disetujui?” kata Menteri Agama.

Attauhidiyyah Giren

Kontan para peserta sidang itsbat mengatakan, “Setuju…”

“Dengan demikian, dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim kami menetapkan 1 Syawal 1434 H jatuh pada hari Kamis, 8 Agustus 2013.

Sidang itsbat yang dihadiri perwakilan ormas Islam, MUI, para ahli astronomi dan perwakilan duta besar negara muslim diakhiri dengan pembacaan takbir tiga kali yang dipimpin langsung oleh Menteri Agama Suryadharma Ali. 

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sunnah, Berita, RMI NU Attauhidiyyah Giren

Selasa, 30 Januari 2018

Peran Orang Tua dalam Pendidikan Agama Anak

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Pada 2016 Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Pendidikan Agama dan Keagamaan (Penda) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia (RI) meneliti tentang bagaimana pendidikan Agama pada keluarga sebagai pendidikan informal.

Peran Orang Tua dalam Pendidikan Agama Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Orang Tua dalam Pendidikan Agama Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Orang Tua dalam Pendidikan Agama Anak

Hal tersebut karena berbagai sumber menyatakan bahwa orangtua (keluarga) belum berperan dalam pendidikan agama putra-putrinya, di antaranya pernyataan Khofifah Indar Parawangsa, bahwa penyalahgunaan narkoba, tawuran antar pelajar dan seks bebas menunjukkan peran pendidikan agama dalam keluarga belum sepenuhnya dilakukan oleh orangtua dan lemahnya kontrol dan prinsip keteladanan orangtua tidak terbangun sejak dini. 

Padahal, ayah-Ibu, sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga memegang peranan penting dan strategis dalam mendidik anak-anaknya. Ini berarti pendidikan dalam keluarga sangat menentukan baik dan atau buruknya pendidikan terhadap anak. 

Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6).

Attauhidiyyah Giren

Rasulullah Saw dalam sebuah hadistnya bersabda, “Tidak  ada seorang anak Bani Adam, kecuali dilahirkan di atas firtahnya, (jika demikian) maka kedua orangtuanya itulah orang mengyahudikan, atau menasranikan atau memajusikannya, ...” (Muttafaqun ‘alaih). 

Dalam hadist yang lain Rasulullah Saw bersabda, “Perintahkanlah anak-anakmu bershalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika tidak mau bershalat ketika berusia sepuluh tahun,” (HR. Abu Daud, Al Turmuzi, Ahmad dan Al Hakim).

Makna yang terkandung dalam firman Allah dan hadits di atas sejalan dengan pendapat Dr. Decroly seorang ahli pendidikan yang menyatakan bahwa, 70 % dari anak-anak yang jatuh kedalam jurang kejahatan itu berasal dari keluarga-keluarga yang rusak kehidupannya.

Sama halnya dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fachrudin, menjelaskan bahwa kebiasaan/perilaku anak dipengaruhi oleh kesibukan orang tua sehari-hari. Dari 100 persen responden diperoleh kedua orangtua yang bekerja, 60 % anak cenderung memiliki moral dan kepribadian sedang, 30 % memiliki kepribadian buruk dan hanya 10 % yang memiliki kepribadian baik. Bagi orang tua yang ibunya tidak bekerja cenderung memiliki moral kepribadian baik dan mendekati sangat baik.

Attauhidiyyah Giren

Oleh karena itu, orangtua mempunyai peran yang sangat penting dalam membentuk moral kepribadian anak, yaitu melalui pendidikan yang dipraktikkan melalui sikap perbuatan/teladan dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang tua beranggapan bahwa pendidikan dalam keluarga tidak perlu lagi setelah pendidikan anaknya diserahkan kepada sekolah (pendidikan formal). 

Orangtua seperti ini mungkin lupa atau tidak menyadari, kewajiban dan tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya terletak pada orang tua. Hal ini mengingat bahwa sebagian besar waktu anak-anak berada di rumah, sedangkan di sekolah paling lama hanya tujuh jam. Keberadaan sekolah sebagai tempat pendidikan untuk anak menempati urutan kedua setelah keluarga (orang tua) dilanjutkan dengan lingkungan atau masyarakat yang membentuk pendidikan seorang anak setelah orang tua dan sekolah. 

Sementara itu, pendidikan yang paling utama dalam membentuk moral kepribadian anak adalah pendidikan agama. Pendidikan agama di sekolah hanya diberikan dua jam pelajaran. Dengan alokasi waktu tersebut, tidak akan mampu membentuk anak berperilaku baik. 

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Djaelani yang menyatakan bahwa, pendidikan agama Islam merupakan fondasi dalam keluarga untuk membentuk perilaku dan moral anak-anak dan mengetahui batasan baik dan buruk, dan berfungsi untuk membentuk manusia yang percaya dan takwa kepada Allah SWT.

Adapun tujuan penelitian untuk mengetahui visi misi orang tua dalam mendidik anaknya dan peran orangtua dalam pendidikan agama pada keluarga, serta strategi orangtua dalam menginternalisasikan pendidikan agama pada keluarga. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)

Baca Kajian Keislaman lainnya DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Internasional, Doa Attauhidiyyah Giren

Paling Tepat Itu NU, Talinya Kendur

Pati,Attauhidiyyah Giren. Ngaji NgAllah Suluk Maleman kembali digelar pada Sabtu (18/3) hingga Ahad (19/3) dini hari. Pada diskusi kali ini Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang banyak dikenal sebagai Noe Letto turut hadir. Bahkan vokalis grup musik kenamaan Letto itu sempat menyanyikan sejumlah lagu. Seperti halnya Ruang Rindu dan Sebelum Cahaya yang menjadi lagu andalan grup bandnya tersebut.

Paling Tepat Itu NU, Talinya Kendur (Sumber Gambar : Nu Online)
Paling Tepat Itu NU, Talinya Kendur (Sumber Gambar : Nu Online)

Paling Tepat Itu NU, Talinya Kendur

Lantunan musik dari aransemen Sampak GusUran dan suara merdu Noe Letto itu pun membuat suasana diskusi menjadi kian hangat. Apalagi tema yang dihadirkan juga begitu menarik, yaitu “Yang Sangsai Yang Tergadai”.

Tak hanya menyanyi, Noe pun sempat memberikan sejumlah pandangannya terkait tema tersebut. Dia menyebutkan dalam konteks saat ini banyak masyarakat yang menggunakan pola logika yang hanya mengambil satu ujung lantas melompat ke ujung lainnya, tanpa pernah merunutnya urutannya secara dalam. Hal itulah yang dikatakannya rentan menyebabkan permasalahan.

Attauhidiyyah Giren

Pandangan itu turut diamini Anis Sholeh Baasyin. Selain enggannya merunut suatu permasalahan, budayawan penggagas Suluk Maleman itu juga menilai di abad komunikasi sekarang ini justru komunikasi antar individu justru terbatas.

Attauhidiyyah Giren

“Sekarang ini adalah abad komunikasi. Alat komunikasi sudah sedemikian banyak dan canggihnya. Tapi kenapa komunikasinya justru menjadi sulit,” ujar Anis.

Padahal di zaman lalu, meskipun alat komunikasi sangat terbatas tapi antarulama tetap berkomunikasi dengan baik. Bahkan sekalipun berbeda pendapat tidak menjadikan masalah, tetap rukun dan yang penting tidak pernah membawa masalah itu ke umatnya. Bahkan dua ulama besar, KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan juga tidak pernah berselisih.

“Hal itu justru menunjukkan kalau sekarang ini tekhnologinya maju, namun kualitas manusianya yang turun. Mungkin karena lupa sama Allah,” imbuhnya.

KH Abdul Ghofur Maimoen, putra dari Mbah Maimoen Zubair mengatakan mendapatkan pengalaman yang menarik saat digelarnya musyawarah ulama di Sarang, Rembang, baru-baru ini.

“Melihat ulama bercerita dan bermusyawarah menjadi pengalaman yang asyik,” tambahnya.

Dalam musyawarah itu, KH Maimoen Zubair juga diakuinya sempat mengingatkan agar saat mau menyelesaikan berbagai macam hal sebaiknya tidak dengan situasi yang tegang. Karena hal itu justru menyulitkan.

“Justru yang paling enak itu NU, karena lambangnya sudah jelas, yaitu talinya dibuat kendur,” ujarnya.

Sikap kendur itulah yang dikatakannya harus bisa juga diterapkan dalam kehidupan seperti saat ini. Termasuk dalam musyawarah baru akan berjalan saat masing-masing pihak dalam kondisi kendur tidak tegang atau ngotot.

Pengasuh ponpes Al Anwar III ini juga mengingatkan agar tidak melihat sesuatu dari luarnya saja. Karena menurutnya tidak jarang yang terlihat baik belum tentu menyelesaikan masalah.

“Yang kelihatan baik kadang tidak memahami yang dianggapnya tidak baik. Itu juga menjadi sumber masalah,” tambahnya.

Sabrang Mowo Damar Panuluh juga mengajak ratusan peserta diskusi yang hadir untuk tidak terburu-buru dalam menjalankan segala sesuatu. Noe mengajak untuk mensyukuri nikmatnya perjalanan dalam menemukan diri sendiri. Bahkan harus yakin Tuhan akan memberikan jalan yang paling cepat dan aman.

“Yakinlah Tuhan memberikan segala sesuatu lengkap dengan uborampenya. Karena Tuhan tentu tidak ingin mencelakakan dengan apa yang diberikanNya, termasuk ilmu,” tambahnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Santri, Sejarah Attauhidiyyah Giren

Senin, 29 Januari 2018

Teroris Biologi dan Kewaspadaan Masyarakat

Oleh Aswab Mahasin

Tertarik mengangkat tema ini diawali dari beberapa berita di Media Online (Februari, 2017), seperti Kompas, CNN Indonesia, di mana Bill Gates dalam beberapa seminarnya mengatakan ada ancaman bahaya “teroris biologi”, lumrah disebut “bioterorisme”. Menurut Bill Gates, bahaya bioterorisme harus mulai diwaspadai. Ia pun mengatakan, teroris biologi melebihi bahaya perang nuklir. 

Begitupun dengan National Geographic Indonesia pada tahun 2015 telah mengangkat tema ini sebagai siaga dan mengingatkan masyarakat Indonesia untuk waspada. Pada tahun 2014 Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) tidak ketinggalan melakukan kuliah umum jarak jauh tentang bioterorisme. Kuliah jarak jauh itu bersama Timor Leste dan Jepang, difasilitasi oleh United Nations Security.

Teroris Biologi dan Kewaspadaan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Teroris Biologi dan Kewaspadaan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Teroris Biologi dan Kewaspadaan Masyarakat

Sebenarnya saya kurang begitu menguasai/memahami tema ini. Namun, saya mencoba menyusunnya dengan mengumpulkan berbagai macam data, melalui pemberitaan online atau beberapa buku yang mengangkat tema bioterorisme dan ada pula jurnal. Kenapa? informasi bioterorisme merupakan hal penting, walaupun di Indonesia sendiri masih jarang terjadi kasus bioterorisme, Indonesia tetap harus meningkatkan kewaspadaan, pemerintah dan masyarakatnya. 

Harapan saya, penyusunan tulisan singkat ini menjadi pengetahuan bagi warga Nadhliyin khususnya, dan seluruh pembaca umumnya. Tulisan ini bukan wacana seksi pada bulan/minggu-minggu ini. Saya tekankan lagi, ini sebagai pengetahuan kita bersama, kalau sekarang ancaman bioterorisme itu nyata. 

Dalam Jurnal Penelitian Politik, Vol. 4, No. 1, 2007, Demokrasi Mati Suri, Menurut Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), terorisme merupakan tindakan yang direncanakan untuk mengakibatkan kematian dan ancaman secara fisik yang berbahaya bagi masyarakat sipil (non-combatant). Bioterorisme merupakan salah satu bentuk teror dengan menggunakan atau menyebarkan kejahatan biologis, seperti virus dan bakteri. Sehingga menimbulkan penyakit atau kematian manusia, hewan dan tanaman (perang kuman).

Attauhidiyyah Giren

Pada abad 21, ancaman bioterorisme (atau penyakit infeksi serius, seperti HIV, SARS, avian influenza, dan virus) kian mengkhawatirkan seiring dengan meningkatnya mobilitas dan lalu lintas manusia dan barang antarnegara. Penggunaan senjata biologis dan kimia ini telah disepakati dalam konvensi senjata biologis yang mulai berlaku sejak 26 Maret 1975. Baru 22 negara meratifikasi konvensi atau kesepakatan multilateral pertama mengenai pelucutan senjata. Tujuannya melarang produksi seluruh kategori senjata, kecuali untuk tujuan medis dan pertahanan skala kecil. Adapun konvensi kimia baru diberlakukan sejak 29 April 1997 dan telah diratifikasi oleh 50 negara. Bioterorisme sangat berpengaruh pada tingginya angka kematian penduduk maupun hewan. Dengan demikian, bioterorisme berkaitan dengan keamanan dan stabilitas negara. (Jurnal Penelitian Politik, Vol. 4, No. 1, 2007, Demokrasi Mati Suri, LIPI)

Bioterorisme sudah ada sejak berabad-abad yang lalu dan terus mengalami perkembangan. Pada abad ke-12 panah yang difungsikan untuk berperang, pada ujung panahnya terdapat darah beracun. Selain itu, beberapa kejadian yang terindikasi sebagai bioterorisme; selimut yang digunakan oleh penderita cacar diberikan kepada para Indian Amerika di Forr Pit, pada perang dunia telah melakukan berbagai riset senjata biologis, telah terbukti penggunaan selama perang. Lalu, tahun 1979 secara tidak sengaja terjadi lepasnya virus Anthraks Rusia diduga mengalami kebocoran pada sebuah riset pengembangan senjata biologis rahasia. 

Attauhidiyyah Giren

Mengambil berita National Geoghraphic tertanggal 3 Oktober 2015 (tertulis bersumber dari Kompas), menuliskan, Ronald M. Atlas, ahli Mikrobiologi, senjata biologi dan bioterorisme dari University of Louisvile di Amerika Serikat dalam seminar Infectious, Disease and Security: Confronting the Dual Use Dilemma yang diadakan Lembaga Eijkman, Atlas mengungkapkan, “kasus bioterorisme yang pernah terjadi adalah kontaminasi bakteri Salmonella pada salad di 10 restorean Amerika Serikat tahun 1984. Lebih dari 750 orang di Oregon sakit. 10 tahun kemudian terungkap peristiwa tersebut merupakan aksi bioterorisme dilatarbelakangi kepentingan politik.

Kasus selanjutnya terjadi di Jepang, seorang ilmuan Jepang menebar bakteri anthraks, disinyalir sebagai kasus bioterorisme. Namun, di Amerika Serikat, aksi bioterorisme dengan bakteri anthraks yang disebarkan dengan amplop tahun 2001 berhasil membunuh 5 orang serta membuat lebih 20 orang terinfeksi. Kejadian itu membuat pemerintah Amerika Serikat menanggung biaya besar karena harus memberikan dosisprofilaksis pada puluhan ribu orang.

Seperti yang dilansir pada situs resmi Universitas Indonesia, 21 Agustus 2014, menerangkan, “penyebaran virus Flu Burung dan virus Mers-Cov pernah dikaitkan dengan bioterorisme. Teori konspirasi global menyebutkan bioterorisme sebagai semua ancaman walaupun para ilmuan hingga saat ini tidak menemukan bukti-bukti adanya penggunaan senjata biologis pada wabah penyakit tersebut. 

Penyakit Flu Burung maupun penyakit Flu A (H1N1) dapat dipergunakan sebagai bioterorisme/teror biologisa. Akan tetapi, yang dapat dipergunakan sebagai senjata biologis (biological weapon) dalam hal ini hanya flu A (H1N1) karena sudah dapat ditularkan antar manusia. Sementara, flu burung tidak dapat digunakan sebagai senjata biologisa karena belum menular antar manusia serta angka kesakitan (morbiditas) kecil pada manusia. (dr. drh. Mangku Sitepoe, Melawan Influenza A (H1N1), hlm.8)

Inilah salah satu kenyataan yang kita hadapi sekarang, aksi terorisme saat ini tidak hanya menggunakan bahan peledak saja, juga menggunakan bahan kimia dan biologis. Perkembangan tekhnologinya semakin berkembang dan maju. 

Senjata biologis merupakan makhluk hidup, entah karena penyebab penyakit atau toksinnya digunakan dalam bioterorisme (menyerang manusia, hewan, tumbuhan dan lingkungan). Menurut para ahli, Indonesia rentan terhadap serangan bioteror, karena di Indonesia mudah dijumpai vector penyebar organisme pathogen. 

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengatakan, perang senjata biologi ini jauh lebih murah, mudah, dan sangat ampuh dibanding dengan senjata kimia atau konvensional, disebabkan oleh sifat senjata biologi yang tak kasat mata. Spora anthraxs hanya memiliki diameter sebesar debu, sehinga sama sekali tidak bisa langsung terlihat. Di samping itu, bioterorisme sangat efektif untuk membunuh secara massal.

Penggunaan senjata biologi merupakan tantangan yang sedang dihadapi oleh dunia global, tidak menutup kemungkinan Indonesia juga. Setidaknya ada kewaspadaan bagi kita semua untuk mengantisipasi bioterorisme menjalar. Apalagi Indonesia telah masuk pada pasar bebas atau masyarakat ekonomi asean, di mana barang keluar masuk dengan mudah.

Hal tersebut berbeda dengan trauma yang dihadapi Amerika. Amerika sempat diteror virus antraks. Mereka menelurkan undang-undang anti-teroris biologi/bioterrorism act, disahkan pada 12 Juni 2002, undang-undang ini mengamanatkan setiap bahan ekspor pangan yang masuk ke Amerika, harus melalui quality control dan pendataan lengkap, dari mulai nama petani, nama produsen, fasilitas pabrik, gudang, jenis transportasi dan sebagainya. Ini bagian dari antisipasi terulangnya bioterorisme di Amerika/sikap paranoid Amerika terhadap ancaman bioterorisme.

Dalam hal ini, sikap Indonesia, khususnya pemerintah, seperti yang disampaikan oleh Aliansi PDHI dan IDI (Ikatan Dokter Indonesia), dibutuhkan payung hukum yang pasti dan jelas untuk mengahadapi bahaya bioterorisme. Begitupun dengan pakar tumbuhan dan satwa liar Universitas Gajah Mada, Joko Marsono, menekankan pentinganya pasal pencegahan bioterorisme ke dalam batang tubuh rancangan Undang-undang Karantina. Karena ia menyoroti pasal bioterorisme yang melibatkan intelejen hanya dimasukan dalam pasal penjelasan. Baginya, bioterorisme merupakan ancaman besar.

Selain itu, dibutuhkan kesadaran semua lapisan masyarakat, khususnya tenaga kesehatan dalam mendeteksi dini kesakitan dan kematian yang timbul di masyarakat. Begitupun dengan pemerintah, lebih ketat dalam mengontol makanan atau bahan pangan yang masuk dari luar. 

Dalam hal ini, tidak hanya pengawasan terhadap bioterorisme saja, melainkan biotekhnologi juga. Pernah ada kasus di Bogor,4 warga china menanam cabai yang mengandung erwinia chrysanthemi, merupakan organisme pengganggu tanaman karantina, golongan A1 atau belum ada di Indonesia.

Tempo pada salah satu artikelnya, ditulis oleh Khudori, menyatakan “di antara negara Asean seperti Thailand dan Singapura, Indonesia tergolong lemah dalam hal biosekuriti. Padahal, sebagai negara tropis, Indonesia merupakan gudang berbagai agensia biologis. Di sisi lain, sebagai negara agraris, Indonesia sangat rentan terhadap kemungkinan ancaman agen biologis. 

Sementara itu, kesiap-siagaan terhadap munculnya wabah-wabah penyakit pada manusia, hewan, dan tumbuhan masih sangat rendah. Bioteror saat ini hanya dipandang sebagai ancaman kesehatan manusia. Belum dianggap sebagai pelemahan ketahanan nasional.” Semoga Indonesia terhindar dari hal-hal yang merusak.

Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Bahtsul Masail, Humor Islam, Kajian Islam Attauhidiyyah Giren

22 Ribu Santri Ikuti Liga Santri Nusantara 2017

Bandung, Attauhidiyyah Giren

Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 yang mulai bergulir sejak akhir Agustus lalu diikuti sekitar 22 ribu santri dari 1048 pondok pesantren seluruh Indonesia. Mereka berkompetisi di dalam 32 region untuk mendapatkan tiket ke Seri Nasional.  

22 Ribu Santri Ikuti Liga Santri Nusantara 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
22 Ribu Santri Ikuti Liga Santri Nusantara 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

22 Ribu Santri Ikuti Liga Santri Nusantara 2017

Manajer Kompetisi M. Kusnaeni mengatakan, partisipasi pesantren mengikuti Liga Santri Nusantara lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, antusiasme peserta sangat luas biasa.  

Pada LSN tahun pertama, 2015, kompetisi diikuti 400 pondok pesantren. Tahun kedua meningkat dua kali lipat, yaitu 826 pondok pesantren, begitu juga di tahun ketiga.   

Attauhidiyyah Giren

“Kita sampai menolak-nolak peserta,” kata Sekretaris RMINU Habib Soleh.

Attauhidiyyah Giren

Di Jawa Timur, kata Wakil LSN tersebut,terdiri dari empat region. Sementara jumlah pesantrennya yang ingin mengikuti LSN sangat banyak. Untuk mensiasatinya, Panitia Regional membentuk Sub Region.

“Akhirnya di Jawa Timur sampai beberapa kabupaten membuat liga penyisihan untuk masuk ke Region, misalnya terjadi di Blitar, Tulungagung, Madiun, Magetan, Pacitan, Kediri, Trengalek. Begitu juga terjadi di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Riau.

Kini, LSN masuk ke Seri Nasional yang digelar di Kota Bandung, Jawa Barat. Hanya 32 tim yang lolos mewakili 32 region masing-masing. Mereka bertanding tiap hari sekali untuk lolos ke babak selanjutnya. Kemudian memperebutkan juara pertama LSN tahun ini pada grand final yang akan beralangsung di stadion Bandung Lautan Api (BLA). (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ahlussunnah, Quote, Makam Attauhidiyyah Giren

Tradisi Unik Ngaji Kitab Ireng Masyarakat Pedesaan Temanggung

Ada tradisi unik yang masih bertahan di Desa Wonoboyo, Temanggung, Jawa Tengah dan beberapa desa sekitarnya utamanya dalam hal mengaji dan metode belajar warganya dalam usaha memahami ajaran agama Islam untuk diamalkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Barangkali tradisi tersebut bisa dikategorikan sebagai salah satu ekspresi dari budaya Islam Nusantara meski masyarakat setempat tidak menyadarinya.

Di daerah ini setelah anak-anak mengkhatamkan mengaji Al-Quran 30 juz bin nadhar di rumah para ustadz atau kiai desa setempat, mereka umumnya melanjutkan pelajaran ke jenjang berikutnya dengan materi kitab-kitab kajian keislaman, mulai fiqih, tauhid hingga tasawuf secara gradual. Uniknya kitab yang dipakai untuk mengaji bukan kitab kuning sebagaimana lazimnya di pesantren, bukan pula buku berbahasa Indonesia sebagaimana di madrasah formal. Melainkan kitab-kitab berbahasa Jawa dengan tulisan Arab pegon. Orang-orang sering menyebutnya dengan nama "kitab ireng", karena sampulnya memang berwarna hitam. Dalam salah satu kitab yang berjudul Riayatul-Himmah, tertulis di halaman pembuka begini:

Tradisi Unik Ngaji Kitab Ireng Masyarakat Pedesaan Temanggung (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Unik Ngaji Kitab Ireng Masyarakat Pedesaan Temanggung (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Unik Ngaji Kitab Ireng Masyarakat Pedesaan Temanggung

Ikilah kitab nazhom Riayatul-Himmah namane, tarajumah ilmu syariat telung perkoro: usul, fiqih, tasawuf. Saking Haji Ahmad Rifai ibni Muhammad. Syafiiyah madzhabe, Ahlu Sunni Toriqote.

(Inilah kitab Riayatul-Himmah namanya, terjemah ilmu syariat meliputi tiga macam ilmu:  usul, fiqih dan tasawuf. Dari Haji Ahmad Rifai ibni Muhammad. Syafiiyah madzhabnya. Ahlussunnah haluannya).

Attauhidiyyah Giren

Kitab-kitab tersebut merupakan karya KH. Ahmad Rifai yang berjumlah belasan buah kitab dengan ragam cabang ilmu keislaman. KH A Rifai adalah ulama yang hidup pada masa penjajahan Belanda dan akhirnya dibuang ke Ambon, Maluku, sampai akhir hayatnya. Ulama kelahiran Kendal itu kini telah diakui pemerintah sebagai pahlawan nasional. Kitab-kitab berbahasa Jawa tulisan Arab pegon tersebut selain digunakan sebagai materi mengaji usia anak-anak, juga kerap dipakai sebagai rujukan dalam pengajian-pengajian majelis taklim yang diikuti orang dewasa baik yang diadakan mingguan ataupun selapanan. Pendek kata, anak-anak dan sekelompok orang dewasa tadi mempelajari Islam melalui guru tidak melalui sumber-sumber asli yang berbahasa Arab, tapi melalui sumber terjemahan yang sudah menggunakan bahasa daerah, yaitu bahasa Jawa.

Attauhidiyyah Giren

Dan sebenarnya kitab-kitab yang dipergunakan tersebut dapat pula dikategorikan sebagai kitab kuning bila mengikutu definisi kitab kuning yang diberikan oleh Prof. Azyumardi Azra. Karena Azyumardi Azra mendefinisikan kitab kuning adalah kitab-kitab keagamaan berbahasa Arab, Melayu, Jawa atau bahasa-bahasa lokal lain di Indonesia dengan menggunakan aksara Arab, yang selain ditulis oleh ulama di timur tengah, juga ditulis oleh ulama indonesia sendiri. (Azyumardi Azra, 2000).

Lebih dari sekadar mendengarkan penjelasan guru, anak-anak dan orang dewasa peserta majelis taklim di atas,  mereka juga masing-masing memiliki macam-macam kitab berbahasa Jawa tulisan Arab pegon itu sehingga mereka selain dapat menyimak materi yang disampaikan kiai di tempat pengajian, mereka juga dapat memutolaah atau mempelajari kembali melalui kitab-kitab tersebut di rumah masing-masing bahkan tidak sedikit yang menghafalkannya.

Selain dijadikan materi mengaji untuk memahami ajaran Islam, kitab-kitab berbahasa Jawa itu juga lazim dijadikan bacaan untuk pujian setelah azan, yaitu jeda waktu sebelum shalat jamaah didirikan sembari menunggu berkumpulnya jamaah. Jadi saat pujian itu mereka menukil dari kitab-kitab Jawa di atas misalnya membaca materi syarat dan rukunnya shalat, hal-hal yang membatalkan wudhu, dan semacamnya. Misalnya yang dikutip seperti syair di bawah ini yang membahas air yang sah untuk berwudzu:  

Utawi banyu kang sah ginawe sucine iku banyu papitu werno wilangane

Banyu udan banyu segoro banyu kaline banyu sumur banyu sumberan tinemune

Banyu bun banyu burud iku kinawaruhan lamon durung paham mongko wajib pitakonan


Meskipun kitab-kitab yang dijadikan rujukan belajar dan pujian di atas merupakan terjemahan, namun penulisnya, KH A Rifai,  juga selalu menyertakan sumber-sumber teks asli yang umumnya dinukil dari literatur yang tergolong mutabar. Menjadi ciri khas dalam kitab tersebut untuk teks-teks asli baik berupa dalil Al-Quran, hadis maupun qaul ulama tertulis menggunakan tinta merah, dan untuk terjemahan bahasa Jawanya tertulis dengan tinta hitam. (M Haromain)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Santri Attauhidiyyah Giren

Minggu, 28 Januari 2018

Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Penasihat Menteri Besar Selangor Khalid Jaafar berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (18/12) sore. Ia mengaku tertarik dan mengapresiasi ajaran dan kiprah Nahdlatul Ulama selama ini.

Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara

Kedatangan Khalid disambut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekretaris Jendral PBNU H Helmy Faishal Zaini, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, dan Wakil Sekjen PBNU Suwadi D Pranoto.

“Rencananya kami ingin mendirikan Nahdlatul Islam, Nahdlatul Ulama Malaysia, yang sama-sama mengerakkan sisi Islam Nusantara,” katanya kepada Attauhidiyyah Giren sesaat selepas pertemuan.

Attauhidiyyah Giren

Di negaranya, kata Khalid, memang telah berdiri dari Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Malaysia tetapi itu mewadahi sebatas warga negara Indonesia, baik yang sedang menempuh studi maupun berstatus sebagai tenaga kerja Indonesia. Ia mengatakan ingin membentuk organisasi “Nahdlatul Ulama” versi Malaysia.

Attauhidiyyah Giren

Mantan sekretaris pribadi Anwar Ibrahim ini mendukung Islam Nusantara yang menjunjung tinggi nila-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah seperti tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), tawassuth, dan i’tidal (moderasi). Menurutnya, Nusantara juga meliputi Malaysia, termasuk juga Kamboja, Thailand, dan lainnya.

“Bukan berarti kami menolak yang lain, tapi kami rasa Ahlussunnah sesuai dengan karakter wilayah kami,” imbuhnya.

Ditanya soal sebaran paham keagamaan yang berkembang di Malaysia, Khalid berujar, “Ancaman ekstemisme tidak begitu besar, tapi kita tidak boleh kita pandang kecil. Makanya kita perlu suarakan tradisi toleransi yang dalam Nahdlatul Ulama disebut tawassuth.”

Direktur Institut Kajian Dasar (IKD) Kuala Lumpur ini mengaku percaya Islam di Asia Tenggara lebih menjanjikan masa depan dibanding dengan Islam di Timur Tengah. Ditengok dari pertumbuhan ekonomi dan demokrasi, katanya, Asia Tenggara termasuk cukup baik.

Dalam pertemuan itu, KH Said Aqil Siroj menjelaskan kedekatan NU dengan muslim negara-negara tetangga, salah satunya dengan memberi mereka beasiswa untuk studi di perguruan tinggi-perguruan tinggi NU. Pertemuan juga menyinggung soal fenomena intoleransi, Wahabi, Syiah, dan Ahmadiyah. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nasional, Humor Islam Attauhidiyyah Giren

PMII Pacitan Peringati Harlah ke-70 Pancasila

Pacitan, Attauhidiyyah Giren. Puluhan aktivis PMII Pacitan dengan khidmat mengikuti malam refleksi hari lahir ke-70 Pancasila, Senin (1/6) malam. Puluhan kader dari pengurus pelbagai komisariat dan pengurus cabang ini, mencoba melihat kembali jejak Pancasila di tengah pelbagai kepentingan.

Ketua PMII Pacitan Septian Dwi Cahyo mengatakan, tema refleksi ini diambil karena kader PMII merasa bahwa akhir-akhir ini kedudukan Pancasila sebagai dasar negara sudah mulai tergerus zaman.

PMII Pacitan Peringati Harlah ke-70 Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pacitan Peringati Harlah ke-70 Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pacitan Peringati Harlah ke-70 Pancasila

Pancasila, menurut Septian, hanya dipergunakan sebagai alat untuk memperebutkan kepentingan-kepentingan yang sifatnya individu atau kelompok yang jelas-jelas tidak menyejahterakan.

Attauhidiyyah Giren

“Pancasila sebagai dasar negara kini tak seganas pancaroba. Pancasila kini hanya dianggap sebagai simbol negara. Tak lebih dari itu. Sehingga dalam berbangsa dan bernegara banyak sekali terjadi penyelewengan, padahal jika benar-benar diamalkan Pancasila adalah jawaban dari segala persoalan negeri ini,” ujar Septian.

Attauhidiyyah Giren

Tepat pukul 22:30 rangkaian agenda selesai. Acara ini ditutup dengan doa bersama untuk ketenteraman bangsa Indonesia khususnya Pacitan. Selanjutnya para mahasiswa membubarkan diri dengan tertib. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kyai, Berita, Olahraga Attauhidiyyah Giren

Sikapi Aliran Sempalan, LBM Lampung Gelar Halaqah

Pringsewu, Attauhidiyyah Giren - Sebagai langkah konkret menghadapi masalah banyaknya aliran dan paham sempalan yang tumbuh di tengah masyarakat dewasa ini, Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Lampung akan menggelar Halaqah Para Alim Ulama di Provinsi Lampung.

"Saat ini sudah mulai berkembang banyak aliran-aliran sempalan seperti MTA, Gafatar, dan sejenisnya di Kabupaten Tulang Bawang," ujar Ketua LBM PWNU Lampung Ustadz Munawir saat mengadakan silaturahmi ke PCNU Tulang Bawang sekaligus dalam rangkaian persiapan bahtsul masail PWNU Lampung, Jumat (28/1).

Sikapi Aliran Sempalan, LBM Lampung Gelar Halaqah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sikapi Aliran Sempalan, LBM Lampung Gelar Halaqah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sikapi Aliran Sempalan, LBM Lampung Gelar Halaqah

Ia menambahkan bahwa ada dua agenda yang akan dilaksanakan pada kegiatan bahtsul masail yaitu bahsul masail waqiiyah dan halaqah para Alim Ulama seputar keberadaan Ahlussunnah wal JAMAAH sekarang ini. "Dalam Halaqah nanti akan dijelaskan secara langsung tentang amaliyah ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) kepada para tokoh agama khususnya di Kabupaten Tulang Bawang " jelasnya.

Attauhidiyyah Giren

Gus Nawir menyampaikan kekhawatirannya akan keberadaan beberapa amaliyah-amaliyah Aswaja yang saat ini sudah mulai ditinggalkan khususnya di daerah perkotaan. "Contohnya sekarang ini sudah mulai banyak terjadi warga NU yang meninggalkan kelompok Yasinan yang ada di lingkungannya," kata Gus Nawir.

Hadir dalam silaturahmi ini jajaran pengurus PCNU Tulang Bawang serta beberapa kiai yang berasal dari Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Provinsi Lampung. Dalam pembahasan halaqah ini disepakati akan digelar pada Maret mendatang di pesantren asuhan KH Sodiqul Amin Kabupaten Tulang Bawang. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Jadwal Kajian Attauhidiyyah Giren

Soal Pilihan Politik, Warga NU Jangan Taqlid Buta

Jember, Attauhidiyyah Giren. Warga NU tidak boleh taqlid buta atau sekadar ikut-ikutan dalam menyalurkan hak-hak politiknya. Nahdliyin harus tahu dan mencari tahu latar belakang partai politik yang akan dipilihnya.

Demikian disampaikan Ketua PCNU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin saat memberikan pengarahan dalam acara pelantikan Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Jember, Jawa Timur, di aula kantor NU Jember, Ahad (23/2).

Soal Pilihan Politik, Warga NU Jangan Taqlid Buta (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Pilihan Politik, Warga NU Jangan Taqlid Buta (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Pilihan Politik, Warga NU Jangan Taqlid Buta

Menurut Gus A’ab, sapaan akrabnya, taqlid buta dalam politik rawan menimbulkan kekecewaan dan bisa melahirkan sikap pragmatis bagi yang bersangkutan.

Attauhidiyyah Giren

“Warga NU biasanya ikut kiai atau tokoh, ikut dalam memilih partai tertentu. Itu namanya taqlid politik. Ketika sang kiai atau yang diikuti pindah partai, dia bingung. Dan akhirnya jadi petualang politik yang pragmatis lagi. Dan pemimpin yang dihasilkan dari pola semacam ini juga tidak berkualitas,” ujarnya.

Attauhidiyyah Giren

Gus A’ab berharap agar warga NU cerdas dalam berpolitik. Dengan kata lain, jika mereka bergabung dengan partai politik tertentu karena ikut orang tertentu, dia harus tahu alasan yang mendasari pilihan itu.

“Secara umum warga NU masih taqlid politik sekarang, dan itu harus diubah,” harapnya.

Pelantikan PC Fatayat NU Kabupaten Jember periode 2013-2018 itu dipimpin Ketua PW Fatayat NU Propinsi Jawa Timur Hikmah Bafaqih. Dalam periode ini, ketua PC Fatayat NU Jember dijabat oleh Rahmah Saidah. Sedangkan Drg Mahdiyah Daat Arina dan Indah Yuliana sebagai sekretaris dan bendahara. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Santri, Ahlussunnah, Sholawat Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 27 Januari 2018

Menag Ajak LAZISNU Bersinergi dengan Lembaga Lain

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menargetkan pengumpulan Zakat, Infaq, dan Shadaqah pada tahun 2016 sebesar Rp5 triliun. Target ini bahkan meningkat samapi Rp10 triliun pada 2020 mendatang.

Menag Ajak LAZISNU Bersinergi dengan Lembaga Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Ajak LAZISNU Bersinergi dengan Lembaga Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Ajak LAZISNU Bersinergi dengan Lembaga Lain

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa pencapaian target itu tidak mudah jika tidak didukung sinergi antar kelembagaan. “Pencapaian target tersebut memerlukan kerjasama dan sinkronisasi diantara semua operator pengelola zakat mulai dari Baznas pusat, Baznas daerah, serta lembaga amil zakat, termasuk di dalamnya LAZISNU,” demikian ditegaskan Menag ? pada acara pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) di Gedung PBnu, Jakarta, Kamis (26/05) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.?

Hadir dalam kesematan ini Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siroj, ? Sekjen ? PBNU Helmy Faisal, dan para pengurus LAZISNU pusat dan daerah.

Menurut Menag, salah satu potensi zakat yang sampai kini belum tergali dan teraktualisasi secara optimal adalah zakat penghasilan profesi dan zakat perusahaan. Zakat penghasilan dan perusahaan sudah diatur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011. Namun demikian, proses penghimpunannya di lapangan masih jauh dari yang diharapkan.?

Attauhidiyyah Giren

“Hal ini masih dihadapkan pada persoalan kurangnya pemahaman, khususnya para pelaku usaha dan karyawan,” tambah Menag. Untuk itu, zakat penghasilan dan perusahaan perlu terus disosialisasikan oleh semua lembaga zakat dan diintensifkan pengumpulannya melalui mekanisme yang tepat.?

“Perkembangan zakat nasional yang tercermin dalam penataan regulasi dan kelembagaannya, harus beresonansi pada optimalisasi pengumpulan zakat penghasilan di lingkungan perusahaan, serta peningkatan peran zakat dalam penanggulangan kemiskinan dan persoalan sosial ekonomi umat,” katanya.

Diingatkan Menag, semarak perzakatan tidak boleh berhenti pada tataran konseptual dan pencitraan lembaga semata. Kemajuan perzakatan harus tercermin dan terbingkai dalam tindakan nyata sehingga menghasilkan manfaat bagi lapisan masyarakat terbawah.?

“Pengelolaan zakat, infaq dan shadaqah serta dana sosial keagamaan harus semakin profesional, terstruktur, memenuhi visi, misi, fungsi dan tujuan pengelolaan zakat, transparan, akuntabel, auditable, serta memberi manfaat bagi umat,” tandasnya.

Attauhidiyyah Giren

“Lembaga zakat juga perlu mengembangkan inovasi berbasis digital dan memanfaatkan teknologi informasi dalam melayani muzaki dan mustahik serta membuat sistem pendataan dan pelaporan yang terkoneksi dengan Baznas,” tambahnya. Red Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Humor Islam Attauhidiyyah Giren

Lebihi Target, GP Ansor Banjit dan Dinkes Way Kanan Khitan Puluhan Anak

Way Kanan, Attauhidiyyah Giren - Pengurus GP Ansor Banjit Kabupaten Way Kanan memperingati isra mi’raj dan harlahnya yang Ke-82. Selain pengajian oleh KH Muhammad Nuh dari Pesantren Miftahul Huda 407, mereka menyelenggarakan khitanan massal bagi anak-anak di daerah setempat.

"Sebagai unsur Pemerintah Kabupaten Way Kanan, tentu kami mengapresiasi kegiatan positif GP Ansor semacam khitanan massal. Memang target mengkhitan hanya lima puluh anak, tapi saya saksikan sendiri, kemarin realisasinya delapan puluh lebih. Kami juga menyampaikan permohonan maaf dari Bupati Raden Adipati Surya karena tidak bisa menghadiri kegiatan ini karena ada tugas lain," ujar Camat Banjit Zulfikri di hadapan ratusan hadirin, Ahad (24/4).

Lebihi Target, GP Ansor Banjit dan Dinkes Way Kanan Khitan Puluhan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Lebihi Target, GP Ansor Banjit dan Dinkes Way Kanan Khitan Puluhan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Lebihi Target, GP Ansor Banjit dan Dinkes Way Kanan Khitan Puluhan Anak

Ketua PAC GP Ansor Banjit Yudi Hudtri Winata didampingi Wakasatkorcab Banser Ponimin menjelaskan, awalnya ragu target mengkhitan 50 anak bisa terpenuhi.

"Ternyata antusiasnya luar biasa, bahkan kami juga menolak beberapa anak yang ingin dikhitan karena habisnya persediaan obat yang dibawa oleh tim medis Dinas Kesehatan Kabupaten Way Kanan. GP Ansor menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu terlaksananya kegiatan kami, termasuk Dinkes yang berkenan menggelar khitanan massal bersama kami," ujar Yudi.

Attauhidiyyah Giren

Kepala Dinkes Way Kanan dr Farida Ariyani menyatakan, kegiatan Pemuda Ansor sangat membantu. Beberapa kegiatan yang dilakukan sangat menyentuh ke masyarakat hingga berhubungan dengan lingkungan.

"Selamat Harlah Ke-82 Ansor. Semoga kegiatan-kegiatan dilakukan terus bermakna dan bermanfaat bagi masyarakat dan mendapat limpahan anugerah dan pahala dari Allah SWT," ujar dr Farida. (Dian Firasta/Alhafiz K)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren AlaNu Attauhidiyyah Giren

Gus Dur Aja Enggak Pakai Jilbab

Seorang mahasiswi di sebuah kampus ingin mengikuti sebuah acara di gedung PBNU. Namun, ia bingung informasi acara itu datang mendadak. Pasalnya ia tak berjilbab. Untuk pulang ke rumahnya dulu, terlalu jauh dan macet. Sementara temannya tak ada yang bisa meminjamkan.?

“Gedung PBNU tempat mangkalnya para kiai. Perempuan tak berjilbab, pasti diusir,” begitu pikirnya.

Gus Dur Aja Enggak Pakai Jilbab (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Aja Enggak Pakai Jilbab (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Aja Enggak Pakai Jilbab

Ia kemudian bercerita kepada temannya yang pernah membicarakan NU satu dua kali, seorang teman yang konon baru pertama kali menangisi kepergian orang meninggal, yaitu KH Abdurrahman Wahid.?

“Datang saja! Urusan begitu selesai di PBNU,” kata temannya itu.

“Aku tak membawa jilbab. Aku takut dilarang masuk dan diusir, tapi aku ingin tahu acaranya,” keluhnya.?

Attauhidiyyah Giren

“Datang aja! Dulu Gus Dur saja tak memakai jilbab ke PBNU. Sekarang ketua umumnya juga tak memakai jilbab. Kiai-kiai itu tak memakai jilbab,” jawab temannya dengan santai. (Abdullah Alawi)

?

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nahdlatul Ulama Attauhidiyyah Giren

Jumat, 26 Januari 2018

Prof Nasaruddin Umar Sebut Cita-cita Teroris itu Bid’ah

Jakarta, Attauhidiyyah Giren

Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr Nasaruddin mengatakan, kelompok teroris sebenarnya menyandera Islam dan berusaha mengubah wajah Islam menjadi anarkis serta bernuansa terorisme. Hal ini sangat bertentangan dengan Islam rahmatan lil alamin.

Mustasyar PBNU ini melanjutkan bahwa salahnya kelompok teroris terletak pada keinginan menyulap dan memaksakan manusia menjadi malaikat tanpa dosa dan kesalahan. Bid’ah itu adalah ingin membuat Islam melampaui Islam itu sendiri.

Prof Nasaruddin Umar Sebut Cita-cita Teroris itu Bid’ah (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Nasaruddin Umar Sebut Cita-cita Teroris itu Bid’ah (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Nasaruddin Umar Sebut Cita-cita Teroris itu Bid’ah

“Apapun yang menghalalkan kekerasan dalam memajukan Islam, maka itu wajib ditolak,” tuturnya pada pertemuan para dai yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui mitra kerjanya Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) DKI Jakarta, Rabu (20/4), di Jakarta.

Attauhidiyyah Giren

Dalam kegiatan yang dihadiri sekitar 250 peserta ini, Sekretaris Utama BNPT RI Mayjend TNI R Gautama Wiranegara memaparkan bahwa yang bertanggung jawab dalam aksi terorisme adalah mereka yang memiliki paham radikal dalam menafsirkan agama. “Sudah 15 tahun kita menangani aksi terorisme, sampai sekarang belum juga selesai,” ujar jendral bintang dua ini.

Peran TNI, tambahnya, tidak cukup untuk mencegah terorisme. Menurutnya, harus ada usaha saling bahu-membahu dalam penggulangan radikalisme dan terorisme. Para dai diharapkan dapat memberikan solusi dan kontribusi dalam penanggulangan terorisme, termasuk menekan isu SARA yang mungkin terjadi di Jakarta.

Attauhidiyyah Giren

Firdaus Syam, pembicara lain, mengatakan bahwa dai adalah seseorang yang diharapkan untuk mencerdaskan umat, bukan memprovokasi mereka sehingga melahirkan kebencian. Baginya, dakwah harus menebarkan kasih sayang dan cinta. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Bahtsul Masail, Aswaja, Doa Attauhidiyyah Giren

LD PBNU Kalbar Resmi Dikukuhkan

Pontianak, Attauhidiyyah Giren. Pengurus Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) Kalimantan Barat resmi dilantik Rabu, (15/11) pagi bertempat di Hotel Dangau Pontianak. Acara ini dirangkai dengan halaqah kebangsaan serta peresmian secara simbolis kantor Sekretariat LD PBNU Kalimantan Barat yang terletak di Desa Arang Limbung Kabupaten Kubu Raya.

Halaqah kebangsaan ini dimaksudkan  untuk menegaskan keutuhan NKRI adalah sesuatu yang substansi. NU hendaknya senantiasa berperan menjaga Islam wasatiyah di tengah-tengah hegemoni pergulatan ideologi serta menjaga netralitas.

LD PBNU Kalbar Resmi Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
LD PBNU Kalbar Resmi Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

LD PBNU Kalbar Resmi Dikukuhkan

Ketua LD PBNU Kalimantan Barat, Saifuddin Herlambang mengatakan LD PBNU Kalbar akan menyediakan lahan sebagai sarana dakwah NU Kallbar.

"Kita juga berencana membuat pesantren teknik LDNU serta mengaktifkan pengurus LDNU di tingkat cabang," tambahnya.

Attauhidiyyah Giren

Selain itu, pelatihan dai cyber serta pelatihan kader dakwah yang akan melibatkan para dai dai Nahdiyin di Kalimantan Barat akan digelar dalam waktu dekat.

"Kami mohon dukungan kepada segenap komponen dalam rangka terselenggaranya rencana kegiatan ini," lanjut pria lulusan doktoral bidang Tafsir UIN Jakarta.

Sekda Kubu Raya H. Odang Prasetyo menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada LD PBNU Kalbar yang telah memilih Kubu Raya sebagai salah satu lokasi pusat kegiatannya.

"LD PBNU dan Pemerintah Kubu Raya harus ada sinergi karena mayoritas penduduk di Kabupaten Kubu Raya adalah Nahdiyin," ungkap Odang.

Attauhidiyyah Giren

Dikatakan Odang, LD PBNU adalah salah satu lembaga yang punya tugas dan tanggung jawab menjaga hubungan baik antara Islam dan kebangsaan.

"Hendaknya kegiatan halaqah kebangsaan menjadi sarana mewujudkan terciptanya kedamaian dan kerukunan antar sesama ," harapnya.

Rais Syuriah PWNU Kalbar H. Syahrul Yadi mengatakan, akhir akhir ini trend NU Kalimantan Barat mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan dengan mulai bergeraknya pengurus lembaga termasuk LD PBNU.

"Melalui LD PBNU mewarisi semangat dakwah Nabi juga bisa berkiprah dan berkontribusi dalam mengembangkan NU di Kalimantan Barat. LD PBNU adalah ruh dakwah di NU," tegasnya. 

Menurut Kiai Syahrul Kalimantan Barat mempunyai modal besar yakni masyarakat Muslim di Kalimantan barat rata-rata berkultur NU.

"Ini tentu adalah modal dasar yang bisa digarap oleh LD PBNU. Selain itu modal spirit serta dukungan masyarakat Kalimantan Barat terhadap kehadiran NU sangat besar," tambah dia. 

LD PBNU juga memiliki pekerjaan besar khususnya dalam mengatasi fenomena terkikisnya amaliyah-amaliah NU di  masyarakat. LD PBNU harus terlibat aktif dalam menjaga kesepakatan permanen bersama pemerintah yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945, serta NKRI.

Sementara itu, KH Maman Imanul Haq menyampaikan beberapa hal terkait prinsip dakwah. Mengutip QS an Nahl 125 Kiai Maman mengatakan berdakwah dilakukan dengan mengajak, bukan mengejek; merangkul, bukan nyinyir.

"Orientasi dakwah kita adalah kepada jalan Tuhan (sabilillah robbika) yang penuh dengan hikmah," tandas Kiai Maman.

Ia menekankan LD PBNU juga harus terlibat dalam dakwah yang menyasar generasi milenial.

"Karena generasi milenial adalah generasi muda yang rasional. Kita perlu mengubah mindset dakwah kita," pungkasnya. (Ahmad Fauzi Muliji/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Tokoh, Khutbah, Sunnah Attauhidiyyah Giren

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Rombongan Kementerian Agama Malaysia mengunjungi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jl. Kramat Raya No. 164 Jakarta Pusat, Selasa (15/5) pagi. Rombongan yang berjumlah 29 orang ini, disambut baik oleh sejumlah Ketua Umum PBNU dan beberapa pengurus tanfidziyah. Kedua pihak saling mengabarkan kondisi sosial-keagamaan di masing-masing negara.

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Terima Kunjungan Kementerian Agama Malaysia

Dalam kesempatan ? tersebut, Iqbal Sullam, Ketua PBNU sempat mengenalkan profil singkat NU, badan otonom dan lembaga-lembaga yang ada di bawahnya. Pesantren dan madrasah yang menjadi kantong intelektual dan tata nilai moral-kultural NU, masuk dalam profil NU.

Kedua pihak sepakat untuk mewaspadai gerakan-gerakan keagamaan yang ekstrem, terlebih lagi menggunakan kekerasan sebagai bentuk saluran aspirasinya. Masing-masing pihak, tidak menyetujui segala bentuk kekerasan atas nama apapun dan untuk tujuan apapun.

Attauhidiyyah Giren

PBNU menyatakan akan menerapkan, bentuk dakwah yang cocok dengan lokal setempat. “Dengan demikian, NU mengedepankan tawasuth, tasamuh, dan tawazun. Tiga istilah ini mungkin berbeda penyebutannya di Malaysia,” papar Iqbal Sullam disertai anggukan rombongan tamu.

Attauhidiyyah Giren

Kedamaian dan persaudaraan bisa terjadi karena NU mendahulukan dan mementingkan 3 persaudaraan. Ketiganya adalah persaudaraan sesama muslim, persaudaraan se-tanah air, dan persaudaraan kemanusiaan. Karenanya, NU menjadi besar disebabkan oleh kalangan ulama yang mengorganisir dirinya dan menyatu dengan masyarakatnya.?

“Kalau di Timur Tengah juga banyak ulama-ulama, namun tidak bisa menyelasikan konflik. Sedangkan kami di Indonesia mampu meredam konflik hingga tuntas,” ungkap Said Aqil Siroj, Ketum PBNU di hadapan tamunya.

Mayjen Dato Seri Jamil Khir bin Baharom, Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Agama) Malaysia, mengungkapkan pihaknya sepakat dengan paparan dari PBNU.

“Kita bangsa Malaysia juga sangat menghargai perbedaan seperti juga Nahdlatul Ulama. Dan kita bangsa Malaysia juga bagian dari persekawanan dengan Nahdlatul Ulama,” katanya.

Di akhir pertemuan, kedua pihak saling memberikan cendera mata. Pemberian cendera mata adalah bukti sambutan baik PBNU akan kunjungan pihak Kementrian Agama Malaysia. Pertemuan keduanya sempat diliput oleh pers Malaysia dan pers dalam negeri Indonesia.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pemurnian Aqidah, Nasional Attauhidiyyah Giren

Bunyi Gamelan Penanda Sekaten Dimulai

Solo, Attauhidiyyah Giren. Ditabuhnya gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari milik Keraton Kasunanan Surakarta, menandai dibukanya prosesi Sekaten 2014. Prosesi yang juga dikenal dengan Ungeling Gangsa Sekaten itu digelar di bangsal selatan dan utara kawasan Masjid Agung Surakarta, Selasa (7/1).

Bunyi Gamelan Penanda Sekaten Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Bunyi Gamelan Penanda Sekaten Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Bunyi Gamelan Penanda Sekaten Dimulai

Sebelumnya gamelan tersebut dikirab beserta gending-gending di halaman Masjid Agung Solo. Kirab yang menempuh rute Keraton hingga Masjid Agung Solo diakhiri dengan acara tabuhan gamelan, yang menandai dimulainya rangkaian perayaan Sekaten.

“Gamelan ini menandakan dimulainya peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw. dan yang dibunyikan itu Kyai Guntur Madu. Ini akan dibunyikan selama tujuh hari berturut-turut sampai puncaknya, Selasa mendatang,” terang KGPH Puger di sela-sela acara.

Attauhidiyyah Giren

Menurutnya, gending yang ditabuh ialah Rambu dan Rangkung yang wajib ditabuh pada di awal. Rambu dan Rangkung itu berasal dari bahasa arab, robuna dan rakhuna yang artinya perbuatan baik dan tidak baik. “Gamelan ini ada sejak Sultan Agung atau zaman Paku Buwana (PB) IV,” jelasnya.

Attauhidiyyah Giren

Wakil Pengageng Sasana Wilapa, KP Winarno Kusumo mengatakan gamelan akan dibunyikan selama tujuh hari dan hanya akan berhenti saat datang waktu salat.

“Dalam hajatan kali ini tidak semata sekadar gothak gathik gathuk saja, tapi setiap prosesi dilandasi dengan ajaran dan falsafah hidup mendalam dari para leluhur yang tidak bertentangan dengan ajaran agama yang ada,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Nasional Attauhidiyyah Giren

Kamis, 25 Januari 2018

Tiap Jumat, Mobil Aswaja Siap Sapa Sejumlah Masjid

Surabaya, Attauhidiyyah Giren. PW Aswaja NU Center Jawa Timur memastikan bahwa setiap Jumat akan mengunjungi sejumlah masjid untuk kian memasyarakatkan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) kepada kaum muslimin. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab demi menyelamatkan akidah umat dari rongrongan gerakan Islam yang cenderung ekstrem.

Tiap Jumat, Mobil Aswaja Siap Sapa Sejumlah Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiap Jumat, Mobil Aswaja Siap Sapa Sejumlah Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiap Jumat, Mobil Aswaja Siap Sapa Sejumlah Masjid

"Kami telah memiliki mobil operasional dan akan dioptimalkan untuk menyapa masjid setiap Jumat," kata Direktur PW Aswaja NU Center, KH Abdurrahman Navis, Sabtu (22/8).

Mobil dengan jenis APV tersebut akan menyediakan sejumlah kebutuhan Aswaja. "Dari mulai buku, flash disk, dan selebaran Jumat," kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini. Bahkan sejumlah pengurus dan anggota siap memberikan layanan tanya jawab seputar Aswaja dan pengetahuan agama Islam yang dibutuhkan masyarakat, lanjutnya.

Attauhidiyyah Giren

Kiai Navis, sapaan akrabnya sangat menyadari bahwa tantangan bagi tersebarnya Aswaja demikian berat. "Banyak masjid di sekitar kita yang telah dimasuki aliran Islam garis keras," ungkapnya. Dan untuk mengimbangi atau bahkan melawan gerakan ini, cara yang ditempuh adalah antara lain dengan melakukan sosialisasi ke sejumlah masjid tersebut.

Attauhidiyyah Giren

Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini juga berharap agar gerakan PW Aswaja NU Center bisa dilakukan juga oleh banyak kalangan, khususnya para generasi muda. "Karena tantangan Aswaja ala NU semakin berat," pungkasnya.? (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pemurnian Aqidah, Ubudiyah, Pahlawan Attauhidiyyah Giren

Cinta Mbah Raji kepada Masjid

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa kelak pada Hari Kiamat ada tujuh golongan orang yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Pada hari itu tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Di antara ketujuh golongan itu adalah seseorang? yang hatinya senantiasa bergantung di masjid (rajulum qalbuhu mu’allaqun bil masĂ¢jid).

Berbicara tentang seseorang yang hatinya senantiasa tertambat di masjid, Mbah Raji adalah salah satu contohnya. Dalam usianya yang sudah cukup udzur, beliau masih sanggup berjalan sendiri menuju masjid untuk berjamaah shalat lima waktu. Meski jarak rumah beliau dengan tempat suci itu hanya kira-kira 40 meter, beliau membutuhkan istirahat 3 hingga 5 kali untuk sampai ke sana. Maklum usia Mbah Raji telah mencapai 85 tahun.

Cinta Mbah Raji kepada Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Cinta Mbah Raji kepada Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Cinta Mbah Raji kepada Masjid

Di usia ini warna putih banyak mendominasi fisik beliau. Misalnya, setiap hari Jumat beliau selalu mengenakan pakaian serba putih dari ujung kepala hingga kaki. Kopiah beliau putih seputih rambutnya. Baju beliau putih seputih alis dan bulu matanya. Serban beliau putih seputih kumisnya. Sarung beliau putih seputih jenggotnya. Kulit beliau putih seputih cintanya kepada masjid. Mbah Raji memang sudah sepuh sehingga untuk kegiatan ringan saja seperti berjalan ke masjid dan kembali ke rumah membutuhkan banyak istirahat.

Setiap kali beristirahat dalam perjalanannya ke masjid dan pulang ke rumah, Mbah Raji hanya berdiri tegak bersendirian terengah-engah dengan bertumpu pada tongkat kayu di tangan kanannya. Beliau tak pernah meminta tolong siapa pun untuk menopang tubuhnya yang sudah bungkuk dan berjalan tertatih-tatih. Mbah Raji tak mau merepotkan siapa saja dalam ibadahnya kepada Allah SWT. Cintanya kepada masjid dan kepasrahan dirinya kepada Sang Khaliq telah memberinya kekuatan dan kepercayaan diri yang kuat bahwa beliau masih mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Attauhidiyyah Giren

Kemandirian Mbah Raji dengan hanya bersandar kepada Allah, semakin tampak jelas ketika beliau merangkak menaiki ondhak-ondhakan (tangga) masjid dan terus merangkak hingga ke tempat kosong di dalam masjid yang dipilihnya untuk bersujud kepada-Nya. Mbah Raji tak mungkin membawa serta tongkatnya ke dalam masjid karena menyadari barang tersebut belum tentu suci dari najis terutama di bagian dasar. ?

Attauhidiyyah Giren

Oleh karena itu merangkak menuju tempat bersujud di dalam masjid adalah pilihan terbaik bagi Mbah Raji yang sangat disadarinya. Inilah salah satu ungkapan cinta Mbah Raji kepada masjid yang banyak orang menjadi saksi. Dalam keadaan sesulit ini, Mbah Raji tidak memperlihatkan tanda-tanda meminta tolong orang lain untuk memapahnya ke tempat sujud yang diinginkan. Beliau merasa cukup dengan pertolongan dari Allah SWT berupa kesehatan dan kekuatan fisik yang masih tersisa hingga beliau wafat pada hari Rabu, 17 Februari 2016. Inna lillahi wainna ilahi rajiun.

Selamat Jalan Mbah H. Imam Suraji!

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

. Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Daerah Attauhidiyyah Giren

Banser Pringsewu Siapkan Strategi Pengamanan Sambut Habib Syech

Pringsewu, Attauhidiyyah Giren - Kegiatan "Pringsewu Bershalawat, Pringsewu Selamat" yang menghadirkan Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf dari Solo di Lapangan Pemda Kabupaten Pringsewu, Lampung pada Jumat (1/4) malam nanti, diprediksi akan dihadiri puluhan ribu jamaah dari dalam dan luar Provinsi Lampung.

Dalam momen shalawat akbar tersebut, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Pringsewu sudah menyiapkan sejak dini strategi pengamanan khususnya untuk pengawalan Habib Syech di lokasi kegiatan. Menurut Komandan Provost Banser Kabupaten Pringsewu Saifiudin, para anggota Banser yang akan bertugas tersebut nantinya dibekali teori dan praktik dalam pengamanan.

Banser Pringsewu Siapkan Strategi Pengamanan Sambut Habib Syech (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Pringsewu Siapkan Strategi Pengamanan Sambut Habib Syech (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Pringsewu Siapkan Strategi Pengamanan Sambut Habib Syech

"Kita mengadakan pembekalan kepada lebih kurang 300 personel anggota Banser yang dikhususkan mengamankan Habib Syech selama kegiatan berlangsung," jelas Saifi di sela-sela kegiatan pembekalan tersebut di Gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (27/3).

Saifi mengatakan bahwa personel-personel tersebut merupakan utusan dari seluruh kecamatan di Kabupaten Pringsewu yang sudah diseleksi di tingkat kecamatan untuk menjalankan tugas pengamanan.

Attauhidiyyah Giren

"Kita memprediksi ribuan jamaah akan berebur untuk bertemu dan bersalaman dengan cucu Rasulullah tersebut sehingga kami juga harus dengan sigap dan kompak mengatur pengamanan," tuturnya.

Attauhidiyyah Giren

Sementara itu Ketua GP Ansor Kabupaten Pringsewu Muhammad Sofyan mengatakan bahwa selain diberikan materi tentang strategi pengamanan, pada kegiatan yang berlangsung selama 2 hari yaitu Sabtu dan Minggu (26-27 Maret 2016) itu, para anggota Banser juga mendapatkan pembinaan mental spiritual dari Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu KH Anwar Zuhdi.

Selanjutnya, pada Ahad (27/3) paginya mereka mendapatkan siraman rohani dari Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H. Taufiqurrahim yang dibarengkan dengan Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi yang rutin dilakasanakan di Gedung NU.

"Kami akan bertugas menghadapi berbagai macam karakter jamaah yang ingin sowan kepada Habib Syech sehingga kami juga butuh kekuatan spiritual dan emosional untuk menghadapi mereka," jelasnya.

Sofyan juga menambahkan bahwa para anggota Banser yang bertugas juga akan berkoordinasi dengan para anggota GP Ansor. "Dari GP Ansor juga sudah menyiapkan anggota untuk membantu kelancaran acara Habib Syech yang baru 2 kali hadir di Provinsi Lampung," jelasnya.(Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Sunnah, Nasional Attauhidiyyah Giren

Madrasah Diniyah Lembaga Kursus? Respon Kritis

Oleh Ruchman Basori

Satu hari setelah Presiden Joko Widodo membatalkan kebijakan Lima Hari Sekolah (LHS) atau Full Day School (FDS) yang melahirkan polemik dan kegelisahan dikalangan masyarakat, publik kembali dibikin kaget dengan pernyataan Yunahar Ilyas, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tabligh, yang menilai bahwa Madrasah Dinniyah yang dimulai pada sore hari berstatus layaknya kursus. Pernyataannya tersebut dimuat di salah satu media online nasional.

Madrasah Diniyah Lembaga Kursus? Respon Kritis (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Diniyah Lembaga Kursus? Respon Kritis (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Diniyah Lembaga Kursus? Respon Kritis

Media tersebut mengungkap: Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tabligh, Yunahar Ilyas, menilai madrasah diniyah yang dimulai pada sore hari berstatus layaknya kursus. Artinya pemerintah tidak boleh mengesampingkan perombakan sistem pendidikan hanya karena madrasah tersebut.





"Sebenarnya statusnya, mohon maaf, madrasah diniyah sore itu hanya kursus saja. Nanti kursus bahasa Inggris, matematika, dan lainnya yang mulai jam 14.00 juga menolak juga gara-gara Mendikbud. Itu namanya enggak fair, enggak ilmiah itu penolakannya," kata Yunahar Ilyas.

Attauhidiyyah Giren

Agak sulit dipahami pernyataan itu muncul dari seorang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pengurus MUI pusat, dan juga seorang guru besar. Bagi komunitas pendidikan keagamaan Islam khususnya Madrasah Diniyah itu sangat melukai perasaan kiai, ustadz dan santri yang selama ini eksis mengembangkan Madin sebagai lembaga pendidikan Islam strategis pembangun karakter dan akhlak, bukan lembaga kursus.

Keberadaan Madrasah Diniyah secara historis telah muncul sejak sebelum Indonesia merdeka. Tumbuh berkembang di kampung-kampung, rumah kiai, ustadz, pondok pesantren lalu melembaga dalam sebuah madrasah. Para sejarahwan telah mengakuinya melalui buku-buku sejarah pendidikan Islam. Penulis heran, seorang tokoh ormas terbesar kedua setelah Nahdlatul Ulama (NU) tidak memahami sejarah dengan baik.

Positioning Madrasah Diniyah sepanjang sejarah bangsa ini, yang telah menghubungkan antara tradisi keulamaan dan tradisi lokal Nusantara. Ideologi para santri terbangun dengan baik hasil dialektika antara Islam di satu sisi dan kepentingan bangsa di sisi lainnya. Bagi santri Madrasah Diniyah berjuang melawan penjajah mempertahankan NKRI adalah bagaian dari mengamalkan Islam. Apakah lembaga yang mendidik dan memompa semangat ber-Islam dan berkebangsaan hanya akan kita sebut layaknya lembaga kursus? Lagi-lagi hanya pas dialamatkan untuk mereka yang tidak memahami pendidikan dengan baik. ? ?

Attauhidiyyah Giren

Posisi Madrasah Diniyah sebagai lembaga pendidikan, bukan lembaga kursus juga telah diatur dalam seperangkat regulasi di negeri ini. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pada Bagian Kesembilan mengatur tentang Pendidikan Keagamaan. Pasal 30 ayat (2) berbunyi Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama. Ayat (3). Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Dan ayat (4) menyebutkan Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman, pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.

Turunan dari UU Sisitem Pendidikan Nasional No. 20/2003 adalah Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan pada Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyonotelah secara detail mengatur pendidikan keagamaan Islam yaitu Madrasah Diniyah. Sejak saat itu muncul istilah Pendidikan Diniyah Formal (PDF) yang saat ini ada di 13 Pondok Pesantren dan Pendidikan Diniyah Nonformal yaitu Madrasah Diniyah Takmiliyah.

Posisi Madrasah Diniyah tambah kuat lagi setelah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menerbitkan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidkan Keagamaan Islam. Eksistensi MDT dengan demikian semakin mendapat tempat sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam yang sekaligus menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional. Ini argumen yang sangat kuat bahwa Madrasah Diniyah adalah bukan lembaga kursus layaknya kursus Bahasa Inggris, Matematika, Komputer dan lain-lain.

Penolakan yang dilakukan oleh kalangan pendidikan keagamaan Islam bukan tanpa dasar, bukan asal beda, dan bukan juga didasari akan kebencian. Penolakan itu berangkat dari kenyataan historis, ideologis dan sekaligus politik kebangsaan bahwa entititas MDT harus dilindungi karena telah secara nyata berkontribusi besar pada pembinaan akhlakul karimah, moral dan karakter anak bangsa.

Kenapa MDT bukan lembaga kursus dapat dilihat pada kelembagaan yang mapan, terstruktur, berjenjang dan berdimensi jangka panjang. Data EMIS Kementerian Agama 2016 menyebutkan jumlah Madrasah Diniyah Takmiliyah se-Indonesia 76.566 buah, memiliki 6.000.062 santri dan 443.842 ustadz. Kalau MDT lembaga kursus apakah akan mempunyai kelembagaan yang begitu massif berada di kampung dan desa diseluruh Indonesia dan mempunyai kurikulum yang mapan?

Mendidik bukan melatih

Penulis bergembira Presiden Jokowi akan bertekad memperkuat Madrasah Diniyah guna mengembangkan pendidikan karakter, daripada sekadar FDS atau lima hari sekolah (LHS). Karena substansi MDT adalah mendidik agar anak bangsa mempunyai keimanan dan ketaqwaan kuat, tumbuh sebagai pribadi muslim yang taat dan komitmen pada nilai-nilai kebangsaan.

Sangat tidak bisa dipahami argumen yang mengatakan bahwa Madin adalah lembaga kursus. Karena lembaga kursus adalah transfer pengetahuan saja dan melatih peserta didik agar mempunyai ketrampilan pada bidang yang dikursuskan. Kursus Bahasa Inggris adalah transfer sejumlah pengetahuan kosakata dan bagaimana melatih agar peserta kursus mahir berbicara dengan Bahasa Inggris. Namun kalau lembaga pendidikan semacam Madin mempunyai tugas maha berat yaitu mendidik tidak sekadar belajar apalagi hanya berlatih. Ada transfer of knowledge (pengetahuan dan pengalaman) juga transfer of value (pemindahan nilai-nilai).?

Karenanya seorang Pakar Pendidikan, Ahmad D. Marimba mendefinisikan pendidikan adalah bimbingan yang dilakukan secara sadar oleh pendidik kepada peserta didik dengan tujuan membentuk kepribadian yang utama secara jasmani dan rohani. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 memberikan pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi di dalam diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Jangan sampai hanya karena Yunahar Ilyas membela kebijakan LHS Mendikbud lalu mengabaikan prinsip-prinsip substantif pendidikan nasional. Kita harus akui bahwa Mendikbud sedang gelisah sebagaimana komponen bangsa lain akan melemahnya karakter bangsa. Penolakan LHS sekali lagi bukan persoalan konflik antara NU dan Muhammdiyah tetapi merupakan persoalan bangsa yang tidak ingin akhlaknya tergerus, kebangsaannya hilang dan partisipasi anak bangsa dalam pendidikan hancur.

Sekali lagi dilihat dari perspektif sejarah bangsa, regulasi pendidikan, kelembagaan, orientasi pendidikan dan falsafah pendidikan, Madrasah Diniyah adalah lembaga pendidikan bukan lembaga kursus. Madin telah tumbuh dan berkembang secara mandiri dari oleh dan untuk masyarakat tanpa membebani negara, karenanya menempatkan Madin ditempat yang mulia adalah keniscayaan dan bukan kesalahan.***

Penulis adalah Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah dan Ketua Bidang Kaderisasi Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor.

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Khutbah, Cerita, Quote Attauhidiyyah Giren

Pesantren, Pondasi Pendidikan Nasional

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Pesantren adalah pondasi pendidikan nasional. Selain karena lembaga pendidikan tertua di Nusantara, pesantren, menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional, adalah lembaga kebangsaan yang ideal.

Menurut penulis buku Pesantren Studies (9 jilid), Ahmad Baso, hal itu bisa ditelisik pada pemikiran Ki Hajar dalam tulisannya, “Pada November 1928, misalnya, ia menulis Systeem Pondok dan Asrama itulah Systeem Nasional,” katanya kepada Attauhidiyyah Giren, di Jakarta, Kamis, (2/5).

Pesantren, Pondasi Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren, Pondasi Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren, Pondasi Pendidikan Nasional

Dalam tulisan itu, Ki Hajar mengatakan, "Mulai jaman dahulu hingga sekarang rakyat kita mempunyai rumah pengajaran yang juga menjadi rumah pendidikan, yaitu kalau sekarang “pondok pesantren”, kalau di jaman kabudan [Hindu-Budha] dinamakan “pawiyatan’ atau “asrama”.

Attauhidiyyah Giren

Ahmad Baso kemudian melanjutkan tukilan Ki Hajar, adapun sifatnya pesantren atau pondok dan asrama, yaitu rumahnya Kiai Guru (Ki Hajar) yang dipakai buat pondokan santri-santri (cantrik-cantrik) dan buat pengajaran juga.

Attauhidiyyah Giren

Di situ, karena guru dan murid tiap-tiap hari, siang malam berkumpul jadi satu, maka pengajaran dengan sendiri selalu berhubungan dengan pendidikan.

Oleh karena itu, menurut penulis kelahiran Sulawesi Selatan ini, kalau mau membongkar sistem pendidikan nasional yang kini bobrok, mari kembali ke pesantren, kembali ke pesantren studies.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Amalan, PonPes Attauhidiyyah Giren