Kamis, 30 Maret 2017

Sumber Gerakan Radikal adalah Pemahaman Agama Eksklusif

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI Abdurrahman Masud mengatakan, sumber dari gerakan radikal adalah pemahaman Agama yang eksklusif dan tertutup.

Sumber Gerakan Radikal adalah Pemahaman Agama Eksklusif (Sumber Gambar : Nu Online)
Sumber Gerakan Radikal adalah Pemahaman Agama Eksklusif (Sumber Gambar : Nu Online)

Sumber Gerakan Radikal adalah Pemahaman Agama Eksklusif

"Eksklusivisme adalah inti dari pada gerakan radikal," katanya usai memberikan pidato kunci dalam acara Halaqah Pencegahan Anak dari Gerakan Radikal di Hotel Puri Denpasar Jakarta, Selasa (29/8).

Menurut dia, pemahaman Agama yang eksklusif atau tertutup cenderung merasa benar sendiri dan menyalahkan yang lain. Ironisnya, gelombang pemahaman Agama yang demikian semakin meningkat pada ranah anak di sekolah-sekolah.

Abdurrahman juga menyebutkan, potensi gerakan radikal yang berbasis pada pemahaman ideologis terjadi di semua agama, baik di lingkungan umat muslim maupun non-muslim.

Attauhidiyyah Giren

"Artinya radikalisme merupakan persoalan semua kelompok masyarakat dan seluruh umat beragama," jelasnya.

Ia berpendapat, masalah radikalisme seharusnya diselesaikan dari lingkungan terkecil atau keluarga. Baginya, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam menghadang gerakan radikal, terutama terhadap anak-anak.

Attauhidiyyah Giren

"Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak," tegasnya.

Selain itu, imbuh Abdurrahman, guru di sekolah juga seharusnya menjadi garda terdepan dalam memberikan pemahaman agama yang inklusif atau terbuka kepada anak didiknya.

Pengarusutamaan Islam damai dan toleran

Abdurrahman menjelaskan, ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk mengarusutamakan Islam yang damai dan toleran di sekolah-sekolah. Pertama, membekali guru-guru agama dengan materi dan metode pembelajaran yang mengedepankan sikap moderasi.

"Hal ini dilakukan melalui pendalaman dan pemahaman aspek keagamaan tentang perdamaian, kerukunan, dan kemanusiaan," urainya.

Kedua, mengaitkan pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, dan pendidikan Pancasila dengan isu-isu baru yang lebih menyentuh kebutuhan dasar seperti kesehatan, kesetaraan gender, pemerintahan yang baik, kesejahteraan ekonomi, dan lainnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Makam Attauhidiyyah Giren

Di STAIAN, KPK Minta Anak Muda Perangi Korupsi

Purworejo, Attauhidiyyah Giren. Sekolah Tinggi Agama Islam An-Nawawi (STAIAN) Purworejo meluncurkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kajian dan Pendidikan Anti Korupsi (KPAK), Rabu (13/12). Peluncuran tersebut disaksikan Komisioner KPK Ramah Handoko di sela-sela bedah buku Jihad Nahdlatul Ulama Melawan Korupsi yang digelar di auditorium kampus setempat.

Ketua STAIAN, Hj Ashfa Khoirun Nisa melalui Puket I, Sahlan mengungkapkan, pendirian unit baru di lingkungan STAIAN ini merupakan rekomendasi Workshop Anti Korupsi yang digelar oleh Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) bekerjasama dengan KPK pada pertengahan Oktober lalu.

Di STAIAN, KPK Minta Anak Muda Perangi Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Di STAIAN, KPK Minta Anak Muda Perangi Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Di STAIAN, KPK Minta Anak Muda Perangi Korupsi

"Workshop yang diikuti oleh perwakilan perguruan tinggi NU se-Indondesia itu salah satunya merekomendasikan agar perguruan tinggi NU membuat lembaga kajian antikorupsi. Alhamdulillah hari ini STAIAN berhasil mengaplikasikannya," kata Sahlan. 

Lebih lanjut dikatakannya, lembaga tersebut nantinya akan melakukan riset, kajian ataupun pendidikan anti korupsi. Selain itu, di STAIAN nantinya juga akan ada mata kuliah anti korupsi yang diajarkan kepada para mahasiswa.

Attauhidiyyah Giren

"Tentu kami berharap, lembaga yang baru ini nantinya dapat memberikan kontribusi positif baik diinternal maupun eksternal dengan mengawal perjalanan pemerintahan Kabupaten Purworejo," tambahnya.

Sementara itu, di hadapan 200 mahasiswa serta pelajar peserta bedah buku, Ramah Handoko mengungkapkan, generasi muda harus dapat berperan dan terlibat aktif memerangi korupsi di lingkungannya masing-masing.

"Yang tidak kalah penting adalah bagaimana antikorupsi itu menjadi komitmen pribadi untuk tidak melakukannya. Selain itu juga kami berharap, kawan-kawan generasi muda ini dapat mengedukasi masyarakat terkait isu-isu antikorupsi," tandasnya.

Secara sederhana ada dua hal yang menurutnya mendasar ketika berbincang soal antikorupsi. Yakni perilaku korupsi yang jelas melanggar hukum serta perilaku koruptif yang pelanggarannya adalah norma. 

Attauhidiyyah Giren

"Mulai saat ini belajarlah untuk tidak berperilaku koruptif. Contohnya melanggar rambu lalu-lintas, tidak mencontek dan lain sebagainya. Jika ini dilakukan secara terus menerus dalam laku sehari-hari dan menjadi karakter, tentu di masa yang akan datang akan terhindar dari perilaku korupsi," katanya. 

Sementara itu, penyelenggara kegiatan, ketua BEM STAIAN, Ibnu Mukti mengungkapkan, kegiatan tersebut digelar atas kerja sama BEM STAIAN, Majelis Alumni IPNU, STAIAN, Lakpesdam PBNU serta KPK. 

"Dalam kesempatan ini, tim penulis buku Jihad NU Melawan Korupsi, Hifdzil Alim juga hadir memaparkan isi buku tersebut kepada para peserta," terangnya. (Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Cerita, Aswaja Attauhidiyyah Giren

Selasa, 28 Maret 2017

Ratusan Santri Sekuro Laksanakan Jalan Sehat

Jepara, Attauhidiyyah Giren. Ratusan santri pesantren Az-Zahra desa Sekuro kecamatan Mlonggo kabupaten Jepara menggelar jalan sehat, Rabu (9/9) pagi. Kegiatan positif ini diadakan dalam rangka memeriahkan Hari Olahraga Nasional (Haornas) yang biasa diperingati saban 9 September.

Santri SMP dan SMK Az-Zahra ini menempuh rute dari kompleks pesantren mengelilingi desa Jambu untuk kemudian kembali ke pesantren. Jalan sehat ini bertujuan untuk menyemarakkan Haornas.

Ratusan Santri Sekuro Laksanakan Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Santri Sekuro Laksanakan Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Santri Sekuro Laksanakan Jalan Sehat

Alhamdulillah sama seperti tahun sebelumnya, tahun ini kegiatan berjalan lancar,” kata koordinator santri SMK Az-Zahra Ahmad Muzaiyyin.

Attauhidiyyah Giren

Menurut Muzaiyyin, sebagai santri pelajar pesantren Az-Zahra dituntut sehat secara jasmaniyah yang dibuktikan dengan berolahraga. Santri, lanjut Waka Kesiswaan SMK Az-Zahra, juga perlu sehat ruhaniyahnya.

Di SMP dan SMK, pelajar tidak lepas dari takhassus keagamaan. terlebih lagi santri yang sudah kelas IX SMP dan XII SMK diwajibkan untuk mukim di asrama.

Attauhidiyyah Giren

“Hal ini kami laksanakan selain untuk penggemblengan suksesi UN juga untuk menata mental dan spiritualnya agar ruhaninya tetap sehat,” jelasnya. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Berita Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 25 Maret 2017

Ini Ceramah Jokowi Pada Haul Ke-124 Syekh Nawawi Banten

Serang, Attauhidiyyah Giren - Presiden RI Joko Widodo dalam sambutannya mengungkapkan kebahagiaannya berkesempatan menghadiri Haul Ke-124 Al-Maghfurlah Syekh Nawawi Al-Bantani di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara (Penata), Serang, Jumat (21/7) malam. Menurutnya, Syekh Nawawi adalah santri yang membawa nama harum Indonesia di masyarakat dunia.

"Syekh Nawawi adalah ulama Indonesia yang dihormati oleh dunia. Bahkan, beliau satu-satunya ulama yang dimakamkan di samping makam istri Rasulullah," ujar Jokowi di tengah ribuan jamaah haul.

Ini Ceramah Jokowi Pada Haul Ke-124 Syekh Nawawi Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Ceramah Jokowi Pada Haul Ke-124 Syekh Nawawi Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Ceramah Jokowi Pada Haul Ke-124 Syekh Nawawi Banten

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan di tengah keberagaman.

Attauhidiyyah Giren

"Dalam berbagai pertemuan dengan kepala-kepala negara di dunia, selalu saya sampaikan, negara kita punya 714 suku, 17 ribu pulau, dengan ratusan bahasa tapi bisa dipersatukan dengan bahasa, bangsa dan negara Indonesia. Inilah kekayaan Indonesia yang tak dimiliki negara lain. Ini harus kita rawat bersama. Keberagaman ini merupakan fitrah dan anugerah Allah yang harus dijaga, jangan dipertentangkan, jangan dibuat bergesekan," paparnya.

Menurutnya, dalam berbagai konferensi di dunia ia kerap menyampaikan bahwa Indonesia adalah negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia.

"Kita memiliki hampir 220 juta penduduk Indonesia beragama Islam. Ini akan saya sampaikan terus agar dunia tahu, bahwa Indonesia adalah negara besar dengan penduduk Muslim terbesar," tambah Jokowi dengan bangga.

Attauhidiyyah Giren

Presiden RI ini juga berharap, umat Islam Indonesia bisa meneladani perjuangan dan keulamaan Syekh Nawawi Banten yang mampu membangkitkan Indonesia melalui jalur pendidikan. (Abdul Malik Mughni/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Budaya, News, Hikmah Attauhidiyyah Giren

Jumat, 24 Maret 2017

Bayang-Bayang Ulama Su’

Oleh : Ahmad Yahya



Warisan merupakan barang berharga yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia kepada orang-orang yang masih hidup. Saking berharganya sampai sering terjadi pertumpahan darah di antara ahli waris memperebutkan warisan tersebut. Namun ada warisan yang demikian berharga tetapi jarang manusia memperebutkannya.

Warisan tersebut adalah ilmu agama, yang merupakan peninggalan para nabi kepada umatnya. Hanya sedikit orang yang mau mengambil warisan tersebut, lebih-lebih lagi di masa sekarang kini. Merekalah para ulama, orang-orang yang memiliki sifat “tamak” dalam mendapatkan warisan nabi. Tidakkah kita ingin meniru mereka?

Bayang-Bayang Ulama Su’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Bayang-Bayang Ulama Su’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Bayang-Bayang Ulama Su’

Rasulullah saw bersabda ulama adalah pewaris para nabi. Di samping sebagai perantara antara diri-Nya dengan hamba-hamban-Nya, dengan rahmat dan pertolongan-Nya, Allah Swt juga menjadikan para ulama sebagai pewaris perbendaharaan ilmu agama, ilmu syari’at terus terpelihara kemurniannya sebagaimana awalnya.?

Ibnu Rajab al-Hambali mengatakan bahwa asy-Sya’bi berkata “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi satu bentuk kejahilan dan kejahilan itu merupakan suatu ilmu. Ini semua termasuk dari terbaliknya gambaran kebenaran (kenyataan) di akhir zaman dan terbaliknya semua urusan.”

Attauhidiyyah Giren

Di dalam Shahih al-Hakim diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr secara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasulullah saw “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 60)

Ketika mendengar kabar ada ulama yang wafat, kadang secara pribad hati ini selalu bertanya, siapa yang akan menggantikannya? Apakah penggantinya se-alim dan sebanding dengan keilmuan ulama yang wafat tersebut. Hati dan lisan ini hanya bisa berdo’a, semoga akan muncul ulama-ulama yang lebih alim dan ikhlas dalam membimbing umat ke arah kehidupan beragama yang lebih baik dan lebih baik lagi.?

Meninggalnya seorang yang alim akan menimbulkan bahaya bagi umat. Keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rahmat dan barakah dari Allah Swt. Kenyataan ini tidak bisa dipungkiri, bahwa ulama semakin langka, dan semakin banyaknya orang bodoh yang berambisi untuk menjadi ulama. Keadaan ini merupakan peluang besar bagi pelaku kesesatan untuk menjerumuskan umat ke dalam kebinasaan.?

Jauh dari itu Rasulullah saw telah mengisyaratkan dalam sabdanya yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr Ibnul ‘Ash, katanya, Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673).

Attauhidiyyah Giren

Di dalam sejarah banyak tercatat kisah tentang kehidupan para ulama. Namun di antara para ulama itu terdapat oknum-oknum yang menyesatkan umat. Dengan fatwa-fatwanya mereka menjerumuskan umat pada kebatilan. Mereka menguasai dalil namun dimanipulasi agar sesuai dengan hawa nafsu mereka.?

Rasulullah Saw. telah mengingatkan umat akan bahaya mereka. Beliau ? bersabda "Sesungguhnya yang aku khawatirkan terhadap umatku tiada lain adalah para pemimpin yang menyesatkan." (HR. Ad-Darimi dalam Shahihnya dari hadits Tsauban, Imam Abu Dawud al-Thayalisi dari hadits Abu Darda).

Ketika mendengar ulama su’, kadang merasa miris dan prihatin, apakah hari ini; saya, kita, agama kita dipimpin oleh mereka, (semoga tidak) atau hanya bayang-bayang semata yang menakuti kita dalam menjalankan ajaran agama. Tetapi apapun itu wujudnya, ada atau tidak, kita perlu mewaspadai ulama-ulama di sekitar kita, apakah mereka sungguh tulus membimbing kita, atau memang benar adanya mengancam secara sungguh-sungguh untuk ? membimbing kita ke jalan kesesatan dalam beragama, atau kita hanya dijadikan alat akal-akalan untuk memuluskan hajat buruk mereka, apapun itu wujudnya. Naudzubillah. ? ?

Kata ‘ulamâ’ (bentuk plural dari ‘âlim), secara bahasa artinya orang yang berpengetahuan, ahli ilmu. Kata ’ adalah masdar dari sâ’a–yasû’u–saw’an ; artinya jelek, buruk atau jahat. Dengan demikian, al-‘ulamâ’ as-sû’ secara bahasa artinya orang berpengetahuan atau ahli ilmu yang buruk dan jahat. Rasul saw. bersabda "Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama." (HR ad-Darimi).?

Peran ulama menentukan kebaikan dan keburukan masyarakat. Ad-Darimi menuturkan, ketika Said bin Jubair ditanya tentang tanda-tanda kebinasaan masyarakat, ia menjawab, “Jika ulama mereka telah rusak.“?

Abu Muslim al-Khaulani mengatakan, bahwa ulama itu tiga macam. Pertama, seseorang yang hidup dalam ilmunya dan orang lain hidup bersamanya dalam ilmunya itu. Kedua seseorang yang hidup dalam ilmunya, tetapi tidak seorang pun hidup bersamanya dalam ilmunya itu. Ketiga seseorang yang orang lain hidup bersamanya dalam ilmunya, tetapi hal itu menjadi bencana baginya.?

Ibn Abi Hatim menuturkan dari jalan Sufyan ats-Tsauri, dari Abu Hayan at-Taymi, bahwa ulama itu juga ada tiga golongan. Pertama, orang yang takut kepada Allah Swt dan mengetahui hukum-hukum-Nya. Itulah orang alim yang sempurna. Kedua orang yang takut kepada Allah tetapi tidak mengetahui hukum-hukum-Nya. Ketiga ? orang yang mengetahui hukum-hukum Allah, tetapi tidak takut kepada-Nya; dialah orang alim yang jahat (al-’âlim al-fâjir).?

Pada ulama ’ atau fâjir, ilmu yang dimiliki tidak dijadikan penuntun. Ia tidak beramal sesuai dengan ilmu yang ia ketahui. ? Asy-Syathibi mengatakan, “Ulama ’ adalah ulama yang tidak beramal sesuai dengan apa yang ia ketahui.” Ibn Taimiyah, setelah mengutip QS al-A‘raf ayat 146, berkata, “Inilah kondisi orang yang tidak beramal sesuai dengan ilmunya, tetapi mengikuti hawa nafsunya. Itulah kesesatan, sebagaimana firman Allah dalam QS : al-A‘raf ayat 175-176; ini seperti ulama sû’. ”Di antara ulama sû’ itu adalah ulama salathîn, yaitu ulama yang menjadi stempel penguasa. Anas bin Malik ra. menuturkan “Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama ’; mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu.” (HR al-Hakim).

Menurut adz-Dzhabi, ulama ’ adalah ulama yang mempercantik kezaliman dan ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa; ulama yang memutarbalikan kebatilan menjadi kebenaran untuk penguasa; atau ulama yang diam saja (di hadapan penguasa) padahal ia mampu menjelaskan kebenaran.?

Hal itu karena, jika ulama bergaul dengan penguasa dan sering mendatanginya, yang diharapkan adalah dunia. Tentu yang dimaksud bukan ulama ? yang datang untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar dan mengoreksi penguasa. Rusaknya ulama di antaranya karena sifat tamak terhadap dunia. Ad-Darimi menuturkan, Umar bertanya kepada Kaab, “Apa yang mengeluarkan ilmu dari hati ulama?” Kaab menjawab, “Ketamakan.” Keluarnya ilmu dari hati maksudnya bukan dilupakan, tetapi ilmu itu ditinggalkan, pengaruhnya hilang dan tidak lagi dijadikan tuntunan. Hal itu sama saja dengan menukar ilmu atau agama dengan dunia. Inilah satu di antara karakter ulama sû’. Ulama demikian lebih layak di neraka. ?

Maksudnya adalah ulama yang menjadikan ilmunya sebagai alat untuk memperoleh kekayaan. As-Sayrazi mengatakan, “Setan mendandani keburukan di hadapan ulama hingga berhasil menjerumuskan mereka dalam kemurkaan Allah. Mereka lalu memakan dunia dengan memanfaatkan agama, memperalat ilmu untuk mendapatkan kekayaan dari para penguasa, serta memakan harta wakaf, anak yatim dan orang miskin. Setan telah berhasil memalingkan perhatian ulama itu untuk mencari gengsi dan kedudukan di hati makhluk. Itulah yang menyeret mereka ke dalam perdebatan, persaingan dan kebanggaan.”?

Muadz bin Jabal membagi ulama ’ di dalam tujuh tingkatan neraka. Tingkat pertama,? ulama yang jika mengingatkan manusia, ia bersikap kasar; jika diingatkan manusia, ia menolak dengan tinggi hati. Tingkat kedua,? ulama yang menjadikan ilmunya alat untuk mendapatkan pemberian penguasa. Tingkat ketiga, ulama yang menahan ilmunya (tidak menyampaikannya). Tingkat keempat,? ulama yang memilih-milih pembicaraan dan ilmu guna menarik wajah orang-orang dan ia tidak memandang orang-orang yang memiliki kedudukan rendah. Tingkat kelima, ulama yang mempelajari berbagai perkataan dan pembicaraan orang Nasrani dan Yahudi guna memperbanyak pembicaraannya. Tingkat keenam, ulama yang mengangkat dirinya sendiri seorang mufti dan ia berkata kepada orang-orang, “Bertanyalah kepadaku.”Orang itu ditulis di sisi Allah sebagai orang yang berpura-pura atau memaksakan diri dan Allah tidak menyukai orang demikian. Tingkat ketujuh,? ulama yang menjadikan ilmunya sebagai kebanggaan dan kepuasan intelektual saja.?

Karena semua itu, al-Ghazali mengingatkan, “Hati-hatilah terhadap tipudaya ulama ’. Sungguh, keburukan mereka bagi agama lebih buruk dari pada setan. Sebab, melalui merekalah setan mampu menanggalkan agama dari hati kaum Mukmin. Atas dasar itu, ketika Rasul Saw ditanya tentang sejahat-jahat makhluk, Beliau menjawab, “Ya Allah berilah ampunan.” Beliau mengatakannya sebanyak tiga kali, lalu bersabda, “Mereka adalah ulama ’.”

Dulu, di saat ilmu agama menguasai peradaban manusia dan ulama terbaik umat memandu perjalanan hidup mereka, para pelaku kesesatan dan kebatilan seolah-olah tersembunyi di balik batu yang berada di puncak gunung dalam suasana malam yang gelap gulita. Namun ketika para penjahat agama tersebut melihat peluang, mereka pun dengan sigap memanfaatkan peluang tersebut, turun dari tempat “pertapaan” mereka dan menampilkan diri seakan-akan mereka adalah para “penasihat yang terpercaya.”

Sekarang adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk mengobrak-abrik kekuatan dan keyakinan kaum muslimin. Mereka menggelar permainan cantik, saling mengoper kesesatan mereka. Kaum muslimin yang mayoritas kini berada dalam keterlenaan, menjadi mangsa yang empuk buat mereka. Satu demi satu sampai akhirnya menjadi banyak, gugur dalam amukan kesesatan tersebut. Para guru dengan merasa aman menggandeng tangan murid-muridnya menuju kegagalan hidup. Sementara orang tua dengan bangga melihat anaknya berjalan di tepi jurang menuju kehancuran dan kebinasaan.

Di masa-masa sekarang ini, gambaran kebenaran menjadi kejahatan yang harus dilabrak dan dihanguskan, sunnah Rasulullah Saw menjadi bid’ah yang harus dikubur dan dimumikan. Tauhid menjadi lambang kesyirikan yang harus ditumbangkan dengan segala cara. Situasi dan kondisi kini telah berubah. Para pengikut kebenaran menjadi asing di tengah-tengah kaum muslimin. Kebatilan menjadi Al-Haq dan Al-Haq menjadi batil, berikut terasingnya orang yang bertauhid dan mengikuti sunnah. Di sinilah letak ‘kehebatan’ para penyesat dalam mengubah kebenaran hakekat agama, sehingga kaum muslimin menjalankan agama ini bagaikan robot yang berjalan membawa anggota badannya.

Mengembalikan Ruh Ulama

Allah Swt mengangkat ulama dengan ilmu, menghiasi ulama dengan sikap kelemahlembutan. Dengan keberadaan ulama, diketahui yang halal dan haram, yang hak dan yang batil, yang mendatangkan mudarat dari yang mendatangkan manfaat, yang baik dan yang buruk. Keutamaan ulama sangat besar dan mulia. Mereka adalah pewaris para nabi dan pemimpin para wali. Semua ikan yang ada di lautan memintakan ampun buat mereka, malaikat dengan sayap-sayapnya menaungi mereka dan tunduk. Para ulama pada hari kiamat akan memberikan syafa’at setelah para Nabi, majelis-majelis mereka penuh dengan ilmu dan dengan amal-amal mereka menegur orang-orang yang lalai.

Kita wajib memuliakan ulama muslimin karena mereka adalah pewaris para nabi, maka meremehkan mereka termasuk meremehkan kedudukan dan warisan yang mereka ambil dari Rasulullah Saw serta meremehkan ilmu yang mereka bawa. Barang siapa terjatuh dalam perbuatan ini tentu mereka akan lebih meremehkan kaum muslimin.

Ulama adalah orang yang wajib kita hormati karena kedudukan mereka di tengah-tengah umat dan tugas yang mereka emban untuk kemaslahatan Islam dan muslimin. Kalau mereka tidak memercayai ulama, lalu kepada siapa mereka percaya? Kalau kepercayaan telah menghilang dari ulama, lalu kepada siapa kaum muslimin mengembalikan semua problem hidup mereka dan untuk menjelaskan hukum-hukum syariat? Pada saat itulah akan terjadi kebimbangan dan terjadinya huru-hara.” Wallahu A’lam.

Penulis adalah Ketua IMAN Institute, Tinggal di Kota Semarang-Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ubudiyah, Nahdlatul, Internasional Attauhidiyyah Giren

Kamis, 23 Maret 2017

Dua Tantangan Bagi Para Pelaku Tasawuf

Tangerang Selatan, Attauhidiyyah Giren. Mursyid Jami’atul Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Maqassary, Syekh Sayyid Rahim Assegaf (Puang Makka) mengatakan, ada dua tantangan yang dihadapi oleh para pelaku tasawuf. 

Dua Tantangan Bagi Para Pelaku Tasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Tantangan Bagi Para Pelaku Tasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Tantangan Bagi Para Pelaku Tasawuf

Pertama, mereka yang tidak paham dengan dunia tasawuf sehingga salah paham dan bahkan tidak menyukai dunia tasawuf. Menurutnya, para pelaku tasawuf semestinya memberikan pemahaman kepada mereka yang salah paham tentang dunia tasawuf. 

Kedua, ada yang mengatakan dirinya pelaku tasawuf tetapi menjatuhkan nilai-nilai dasar kesufian itu. Sebab dia sudah mencampurbaurkan mana tasawuf falsafi mana tasawuf amali,” kata Puang Makka saat mengisi acara Ngobrol Santai Sufi yang digelar oleh Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) di Ciputat Tangerang Selatan, Sabtu (19/8) malam.

Ia menegaskan, para pelaku tasawuf tersebut seharusnya mengamalkan tasawuf yang sudah diajarkan oleh Rasulullah dan diamalkan oleh para sahabat, tabi’in, dan ulama-ulama terdahulu hingga kepada ulama sekarang yang memiliki sanad yang jelas. 

Menurut dia, bertasawuf itu bukanlah sebagaimana yang dikira oleh orang-orang yaitu bisa menghilang, bisa terbang, bisa jalan di atas air, kebal, dan lainnya. Wilayah tasawuf adalah akhlak. Bahkan, ia mengutip apa yang disampaikan oleh Syekh Yusuf bahwa tasawuf adalah untuk mereka yang berakal.

Attauhidiyyah Giren

“Tidak ada tasawuf bagi orang yang tidak berakal. Urusan tasawuf itu sabar, ikhlas. Di situ wilayah-wilayah tasawuf. Tasawuf itu indah dan tidak menakutkan,” tegasnya.

Attauhidiyyah Giren

Ia menyarankan kepada siapa yang ingin mengetahui tentang dunia tasawuf untuk masuk ke dunia tasawuf. Karena itu adalah satu-satunya cara untuk mengetahui dunia tasawuf dengan sebetul-betulnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kiai, Syariah Attauhidiyyah Giren

Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian V-Habis)

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Salah satu pertanyaan Wali adalah tentang jenggot. Beberapa waktu lalu, video guyonan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj tentang jenggot sempat viral. Soalnya di video tersebut ada pernyataan kontroversi, jenggot mengurangi kecerdasan. 

Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian V-Habis) (Sumber Gambar : Nu Online)
Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian V-Habis) (Sumber Gambar : Nu Online)

Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian V-Habis)

Pada pertemuan tersebut, Kiai Said menjelaskan duduk perkaranya. Pada zaman Nabi Muhammad, setelah perang Hunain, umat Islam mendapat harta rampasan (ghanimah) yang banyak. Dapat sapi, unta, kemudian dibagi-bagi di Ja’ronah. 

“Baru kali ini Nabi membaginya secara aneh,” katanya kepada kepada manajer Wali dan personelnya yaitu Apoy yang ditemani Farhan ZM atau Faank (vokalis), Ihsan Bustomi, dan Hamzah Shopi, serta manajemen Wali, di ruangan Kiai Said, lantai tiga gedung PBNU, Jakarta, Rabu sore (18/1).

Pada pembagian ghanimah tersebut, para sahabat Nabi yang senior tidak mendapat bagian. Namun para mualaf (orang yang baru masuk Islam). Mereka ada Abu Sufyan dan lain-lain. 

Pembagian yang dilakukan Nabi tersebut, meski tidak dipahami sahabat, mereka memilih diam karena semua tahu itu perintah Allah SWT. Nabi selalu dibimbing wahyu dalam tindakannya. 

Attauhidiyyah Giren

Namun, tak dinyana, ada sahabat yang maju ke depan melakukan protes. Sahabat tersebut, perawakannya kurus, jenggot panjang, jidatnya hitam, namanya Dzil Khuwaisir. 

I’dil (berlaku adillah) ya Muhammad, bagi-bagi yang adil Muhammad,” ujar Kiai Said menirukan  Dzil Khuwaisir. 

Attauhidiyyah Giren

“Celakalah kamu. Yang saya lakukan itu diperintahkan Allah,” tegas Nabi Muhammad. 

Orang itu kemudia pergi. 

Nabi Muhammad mengatkaan, nanti dari umatku ada orang seperti itu. Dia bisa membaca Al-Qur’an, tapi tidak tidak paham. Hanya di bibir dan tenggorokan. Mereka itu sejelek-jeleknya manusia, bahkan lebih jelek daripada binatang.

“Saya tidak termasuk mereka. Mereka tidak termasuk saya,” ungkap Nabi Muhammad.

Nah, kata Kiai Said, prediksi Nabi Muhammad tersebut terbukti tahun 40 H. Sayidinia Ali bi Abi Thalib dibunuh bukan oleh orang kafir, melainkan orang muslim, namanya Abdurrahman bin Muljam At-Tamimi, dari suku Tamimi. Pembunuh itu ahli tahajud, puasa, dan penghafal Al-Qur’an. 

“Kenapa membunuh Ali, karena ia dianggap kafir. Kenapa Aliu kafir? Karena Ali dalam menjalankan pemerintahannya tidak dengan hukum Islam, tapi hukum musyawarah. Dia menggunakan ayat Waman lam yahkum bi ma anzalallahu fahuwa kafirun. Ali dibunuh orang hafal Qur’an,” jelasnya. (Abdullah Alawi)





 

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ahlussunnah Attauhidiyyah Giren

Rabu, 22 Maret 2017

Gus Dur: Banjir Jakarta Momentum Bersih Korupsi

Jakarta, Attauhidiyyah Giren. Mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan, banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya harus dijadikan momentum untuk bersih-bersih, termasuk membersihkan korupsi dan perilaku korup lainnya.

“Kini saatnya untuk bersih-bersih, termasuk bersih-bersih dari korupsi dan perilaku korup,” kata Gus Dur di kantor DPP PKB, Kalibata, Jakarta, Kamis (8/2), saat melepas rombongan Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR RI yang akan meninjau korban banjir di sejumlah lokasi.

Gus Dur: Banjir Jakarta Momentum Bersih Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Banjir Jakarta Momentum Bersih Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Banjir Jakarta Momentum Bersih Korupsi

Menurut Gus Dur, banjir yang melanda ibukota dan menelan sejumlah korban jiwa dan harta tidak sekedar persoalan gejala alam, melainkan juga akibat salah urus yang disebabkan praktik korupsi dan perilaku korup.

Sementara itu Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar saat meninjau korban banjir di Bukit Duri Tanjakan, Jakarta Selatan, menyatakan setuju dengan gagasan relokasi warga yang bermukin di kawasan potensial banjir.

“Tentunya tempat relokasi tersebut tidak jauh beda dengan Jakarta. Jadi perlu dibuat semacam kota mandiri,” kata Muhaimin yang juga Wakil Ketua DPR RI tersebut.

Attauhidiyyah Giren

DPR RI, katanya, saat ini juga mengintensifkan komunikasi dengan DPRD DKI. Selain itu, DPR juga meminta Pemda DKI mengalokasikan dana-dana yang sangat tidak efektif untuk difokuskan pada korban banjir.

FKB DPR RI kemarin menyerahkan bantuan berupa 5 ton beras, 1.500 box susu balita balita, 500 dus biscuit, 300 paket pakaian anak-anak, alat kebersihan, paket pakaian dalam, selimut, dan lain-lain. Bantuan senilai Rp 100 juta yang dikumpulkan dari iuran anggota FKB tersebut dilepas oleh Gus Dur selaku Ketua Dewan Syura DPP PKB. (nam/ansor/uji)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Quote, Warta Attauhidiyyah Giren

Selasa, 21 Maret 2017

KH Ma’ruf Amin Akan Temui Ahok Terkait Penggusuran di Luar Batang

Jakarta, Attauhidiyyah Giren



Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin mengatakan akan menemui Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk membahas nasib daerah penggusuran Luar Batang dan lokasi sekitarnya Kampung Akuarium dan Pasar Ikan.

"Kami akan bertemu Pemda untuk mempertahankannya. Tidak digusur tapi diperbaiki," kata Kiai Ma’ruf saat mengunjungi lokasi penggusuran di sekitar Luar Batang, Jakarta, Selasa.

KH Ma’ruf Amin Akan Temui Ahok Terkait Penggusuran di Luar Batang (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ma’ruf Amin Akan Temui Ahok Terkait Penggusuran di Luar Batang (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ma’ruf Amin Akan Temui Ahok Terkait Penggusuran di Luar Batang

Kiai Ma’ruf yang juga rais aam NU ini mengatakan salah satu hal yang akan direkomendasikan terkait hak-hak warga itu adalah supaya Ahok dapat membangun kembali rumah yang telah digusur dengan yang lebih baik.

Kiai Ma’ruf mengatakan pihaknya sangat prihatin dengan kondisi warga Luar Batang pascapenggusuran oleh otoritas Pemda DKI. Terlebih setelah MUI meninjau langsung lokasi penggusuran itu.

Attauhidiyyah Giren

Kendati demikian, MUI akan melakukan investigasi lebih dalam terlebih dahulu mengenai rincian hak-hak warga yang dilanggar. Dengan begitu, rekomendasi-rekomendasi yang disampaikan saat bertemu Ahok akan menyeluruh.

Kiai Ma’ruf mengatakan Pemda DKI sudah seharusnya mempertahankan situs sejarah Luar Batang dan sekitarnya lantaran kawasan itu sudah ada sejak lama yaitu ketika kota Sunda Kelapa cikal bakal Jakarta dibangun.?

Kawasan Luar Batang, kata dia, memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi khususnya terkait dengan Islam.

Pemprov DKI Jakarta sebelumnya melakukan relokasi warga Pasar Ikan dengan memberikan solusi kepada warga yang telah bermukim sejak lama dan memiliki rumah tinggal di lingkungan RT 001, 002, 011 dan 012 di RW 04 untuk mendapatkan hunian layak di rusun Marunda dan Rawa Bebek.

Saat dilakukan penggusuran pada Senin pagi (11/4), ratusan warga Pasar Ikan mencoba menolak dan bertahan. Bahkan petugas pengamanan gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Polisi dan TNI sebanyak 4.218 personel membawa sejumlah warga dengan bus yang telah disediakan. (Antara/Mukafi Niam)

Attauhidiyyah Giren

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Ubudiyah, Quote, Pemurnian Aqidah Attauhidiyyah Giren

Senin, 20 Maret 2017

Menpora: Santri Lebih Siap Hadapi Perkembangan Zaman

Pacitan, Attauhidiyyah Giren - Menteri Pemuda dan Olahraga H Imam Nahrawi menyebut santri pondok pesantren dewasa ini mampu bersaing dan lebih siap dalam menyambut perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesat.

Hal ini disampaikan Menpora saat membuka Musyawarah Besar (Mubes) dan Reuni Nasional ke-III Ikatan Alumni Pondok Tremas (IAPT) bertema Membangun Pesantren Peradaban di Era Globalisasi, Ahad (24/12) pagi.

Menpora: Santri Lebih Siap Hadapi Perkembangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora: Santri Lebih Siap Hadapi Perkembangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora: Santri Lebih Siap Hadapi Perkembangan Zaman

"Saat ini pesantren adalah satu-satunya perguruan dan lembaga pendidikan yang memberi akhlak yang baik dalam peran sosial yang dibutuhkan negeri ini, para santrinya juga bisa mengover dan bisa beradaptasi dengan dunia modern yang saat ini berkembang pesat," katanya.

Attauhidiyyah Giren

Ia melanjutkan bahwa Kemenpora saat ini sedang berusaha mengelola potensi para santri pondok pesantren. Salah satunya potensi olahraga sepakbola melalui Liga Santri.

"Para santri memiliki nilai-nilai etika bagus dan potensi yang luar biasa bahkan saat diberikan kartu kuning oleh wasit mereka perlihatkan etika yang baik dan sepak bola menjadi alat perekat bangsa, santri juga dilatih untuk siap siaga, kami mohon doa dan restu," tambahnya sembari memberikan beberapa bola sepak kepada pengasuh Pesantren Tremas KH Fuad Habib Dimyathi.

Attauhidiyyah Giren

Di hadapan ribuan alumni pesantren Tremas yang datang dari berbagai daerah di Indonesia ini, Menpora mengaku terkesan dengan Pesantren Tremas Pacitan. Ia menyebut Pesantren Tremas sangat bersejarah karena telah menelurkan para ulama dan tokoh nasional. Lebih-lebih para pendiri Nahdlatul Ulama banyak yang berguru di pesantren yang berdiri sejak 1830 ini.

Pengasuh Pesantren Tremas KH Fuad Habib Dimyati mengucapkan terima kasih atas kehadiran Menpora H Imam Nahrawi di Pesantren Tremas Pacitan.

Kiai Fuad mengatakan Mubes dan Reuni Nasional kali ini terasa sangat istimewa. Karena dihadiri oleh ribuan alumni dari berbagai periode. Mulai tahun 1950 hingga 2017.

"Di Tremas ini kami mengemban amanah yaitu pendidikan Islam untuk terus dilanjutkan," tutur Kiai Fuad.

Mubes dan Reuni Nasional ke-III yang berlangsung selama dua hari, Ahad-Senin (24-25/12) diisi dengan beberapa sidang komisi yang akan menghasilkan sejumlah rekomendasi, baik internal maupun eksternal. Kegiatan ini diharap menghasilkan keputusan strategis dan fundamental bagi kemaslahatan Pesantren Tremas kedepan.  (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren RMI NU Attauhidiyyah Giren

Sabtu, 18 Maret 2017

Lembaga Kajian Strategis Bangsa Bahas Kesalehan Nasional dan Ramadhan

Jakarta, Attauhidiyyah Giren - Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) menggelar diskusi yang menautkan semangat kebangsaan dan Ramadhan di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (17/6) sore. Bersama sejumlah narasumber lembaga ini mencoba melihat perubahan-perubahan masyarakat di dalam dan di luar Ramadhan.

Direktur LKSB Abdul Ghafur yang membuka diskusi ini mengajak peserta diskusi untuk mensyukuri persatuan dan kesatuan negara Indonesia. Karena dalam sejarah pendirian republik ini, menurutnya, tidak bisa dipisahkan dari bulan Ramadhan seperti hari-hari menjelang proklamasi.

Lembaga Kajian Strategis Bangsa Bahas Kesalehan Nasional dan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Kajian Strategis Bangsa Bahas Kesalehan Nasional dan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Kajian Strategis Bangsa Bahas Kesalehan Nasional dan Ramadhan

“Karenanya Ramadhan bukan alasan bermalas-malasan. Tetapi Ramadhan membangun semangat kita,” kata Ghafur membuka diskusi.

Ia mengamati perubahan signifikan masyarakat Indonesia. Di bulan Ramadhan, masyarakat bisa menjadi saleh, cerdas spiritual, bahkan kepedulian sesama yang luar biasa. “Tetapi kenapa ketika di luar Ramadhan, kita meninggalkan nilai positif yang melekat pada diri kita saat Ramadhan?”

Attauhidiyyah Giren

Ia berharap kekuatan spiritual di bulan Ramadhan ini tetap hadir sepanjang tuhan di luar Ramadhan.

Attauhidiyyah Giren

Sementara Jenderal A Yani Basuki yang kini aktif di Lembaga Sensor Film menyoroti hadits keutamaan berpuasa. Menurutnya, puasa yang bermutu dapat mengantarkan mereka yang mengamalkannya sebagai manusia berkualitas.

Tampak hadir narasumber lainnya Wakil Ketua LKKNU Luluk Nurhamidah, Kiai Kusein Alcepu, dan rektor salah satu kampus Islam di Jakarta. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren News, Hadits, Syariah Attauhidiyyah Giren

Senin, 13 Maret 2017

Penentuan Hari Raya Id Menurut Al-Hikam Ibnu Athaillah

Hari Raya Idul Fithri dan Idul Adha sudah jelas waktunya berdasarkan rukyatul hilal atau hisab. Masing-masing tanggalnya pun sudah jelas, 1 Syawwal untuk Idul Fithri dan 10 Dzulhijjah untuk Idul Adha. Keduanya terjadi serba sekali tanpa bisa digeser, diubah, atau ditambah dalam setahun.

Hari Raya Id ini merupakan momentum bahagia umat Islam di mana mereka telah selesai menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, menjalankan sejumlah rukun haji yang menguras tenaga, waktu, dan biaya, atau berpuasa di hari tarwiyah dan hari Arafah bagi yang tidak berhaji lalu menyembelih kurban.

Penentuan Hari Raya Id Menurut Al-Hikam Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Penentuan Hari Raya Id Menurut Al-Hikam Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Penentuan Hari Raya Id Menurut Al-Hikam Ibnu Athaillah

Untuk menyambut kedua hari bergembira itulah mereka dianjurkan untuk berbelanja sedikit istimewa untuk keluarga dan mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki.

Saat-saat menggembirakan itu berbeda dengan apa yang dipahami kalangan murid (mereka yang ingin dekat dengan Allah), semacam lapisan terbawah dalam kelas spiritual dibanding kalangan salik dan washil. Meski kelas terbawah, tidak berarti mereka adalah orang-orang yang rendah di sisi Allah dan bukan berarti kita juga sudah bisa dikategorikan termasuk di dalam kalangan mereka.

Attauhidiyyah Giren

Attauhidiyyah Giren

Kalangan murid tidak menggunakan kalender umumnya yang tergantung pada dinding rumah dalam menentukan hari raya Id. Bagi mereka, hari-hari raya Id yang menggembirakan itu adalah saat-saat yang dapat “mengembalikan” mereka kepada Allah seperti disinggung dalam matan Al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah sebagai berikut.

? ? ? ?

Artinya, “Kedatangan saat-saat ‘terjepit’ adalah hari raya Id bagi kalangan murid.”

Apa maksudnya? Berikut ini kutipan dari beberapa Syarah Al-Hikam yang menjelaskan butir hikmah di atas. Syekh As-Syarqawi mengatakan, saat-saat terdesak itu dapat membawa kalangan murid dengan cepat sampai di tujuan, Allah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “’A‘yad’–bentuk jamak dari ‘Id’–merupakan saat-saat kegembiraan dan kebahagiaan yang kerap dialami manusia. Kalangan murid merasa bahagia atas saat-saat terjepit karena saat-saat terjepit itu diyakini dapat mengantarkan mereka dengan cepat ke tujuan di mana saat-saat itu mengandung kerendahan (mereka sebagai hamba) dan pembatasan nafsu. Hari Raya Id ini juga dilalui dengan bahagia oleh kalangan awam karena saat-saat itu mereka dapat melampiaskan syahwat mereka pada pakaian dan pada selain pakaian,” (Lihat Syekh Abdullah Hijazi As-Syarqawi, Syarhul Hikam Ibnu Athaillah, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, juz II, halaman 12).

Sementara Syekh Ibnu Ajibah menjelaskan lebih detail perihal rasionalitas butir hikmah Ibnu Athaillah di atas. Ia berpijak dari perbedaan jenis kebahagiaan kalangan umum (awam) dan kalangan tertentu (murid). Bagi murid, kebahagiaan itu terletak pada keesaan pandangan terhadap Allah, bukan yang lain. Untuk sampai ke sini–masih menurut mereka–, lazimnya orang mesti “terjebak” dalam kondisi terjepit karena dalam kondisi demikian orang tidak lagi menghiraukan nafsunya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “’A‘yad’–bentuk jamak dari ‘Id’–merupakan saat-saat kegembiraan dan kebahagiaan yang kerap dialami manusia. Bagi kalangan awam, saat-saat kegembiraan dan kebahagiaan mereka terletak pada kesenangan dan kebiasaan jasmani. Sedangkan bagi kalangan tertentu (khawash), kebahagiaan mereka tampak ketika ‘sambutan’ Allah atas mereka, serta saat kehadiran qalbu mereka dan sepinya waktu mereka dari ‘lumpur’ selain-Nya. Ghalibnya, semua itu muncul di saat terjepit, terbatas, dan terdesak di mana nafsu mereka terhenti ketika itu. Logikanya, ketika ruang gerak nafsu dipersempit, maka ia akan berpindah ke alam malakut. Di alam inilah terletak kesenangan, kegembiraan, dan kebahagiaan nafsu mereka sebagaimana firman Allah, ‘Adapun orang yang takut pada maqam Tuhannya dan menahan nafsu dari kecenderungannya, maka surga menjadi tempatnya,’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun, juz II, halaman 247).

Sementara Syekh Zarruq dengan gaya sastra memberikan penjelasan hari raya Id bagi kalangan murid. Gaya sastra itu tampak dalam kutipan dari Syekh Zarruq berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Demikian juga kondisi ‘terjepit’. Saat-saat itu merupakan perhiasan dan penuntun kalangan murid. Di saat itu mereka ‘berbuka puasa’ mujahadah dengan ‘kurma’ musyahadah dan mereka menyembelih ‘kurban’ nafsunya dengan ‘pedang’ pembebasan (dari perbudakan nafsu) dan penahanan (atas kecenderungan nafsu),” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 146).

Dari keterangan beberapa pensyarah Al-Hikam, dapat disimpulkan bahwa kalangan tertentu (murid atau khawash) memiliki kalender tersendiri dalam menentukan hari raya Id yang penuh bahagia. Untuk dapat berhari raya yang berbahagia, mereka tampaknya lebih sering dan lebih mudah tanpa harus menunggu rukyatul hilal atau kalkulasi dengan metode hisab.

Karena hanya dirayakan oleh kalangan tertentu “di bawah tanah”, orang umum terdekat mereka sekalipun tidak memahami kebahagiaan hari raya mereka. Mereka berhari raya tanpa gegap gempita ucapan selamat spanduk atau pesan singkat dan jauh dari hiruk-pikuk iklan busana serta kuliner hari raya. Inilah karunia agung Allah yang mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Budaya, Nahdlatul Attauhidiyyah Giren

Rabu, 08 Maret 2017

Liburan, IPNU-IPPNU Kudus Gaet Kader Baru

Kudus,Attauhidiyyah Giren. Bidang Pengembangan Pelajar, Santri dan Mahasiswa (PSPM) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Kudus mempelopori berdirinya Forum Komunikasi Antar Pimpinan Komisariat (Forkapik). Forum tersebut khusus digadang untuk memperluas kader ranah Pimpinan Komisariat di sekolah-sekolah menengah atas.

Liburan, IPNU-IPPNU Kudus Gaet Kader Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Liburan, IPNU-IPPNU Kudus Gaet Kader Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Liburan, IPNU-IPPNU Kudus Gaet Kader Baru

Pada liburan kali ini forum tersebut menggaet bibit baru dalam kegiatan Achievement Motivation Training (AMT) di Kampus Timur STAIN Kudus. Kegiatan tersebut berlangsung Kamis-Jumat (24-25/12).

Sedikitnya 46 pelajar putra dan putri dari pelbagai sekolah merayakan kegiatan yang sekaligus sebagai bentuk peringatan Maulid Nabi. Kegiatan ini dikemas santai namun serius. Peserta menerima materi pengenalan keorganisasian, kepemimpinan, keislaman, Ahlussunnah wal Jamaah, hingga ke-IPNU-an dan ke-IPPNU-an dari para narasumber dari pengurus jamiyyah NU Kudus. Sementara pengurus IPNU dan IPPNU cabang Kudus, di sini menjadi fasilitator.

Attauhidiyyah Giren

AMT ini memuat sebagian besar materi pengkaderan formal IPNU-IPPNU jenjang awal, yakni Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). Namun kegiatan yang dipanitiai oleh kumpulan pelajar yang tergabung dalam kepengurusan Forkapik ini bukan dimaksudkan untuk mengganti kegiatan Makesta. Ini hanya sebagai gerbang mereka untuk bergabung dalam Forkapik IPNU-IPPNU Kudus.

Attauhidiyyah Giren

"Saatnya merayakan maulid Nabi, saatnya menyiapkan kader-kader muda untuk Nahdlatul Ulama. Kami sengaja memilih hari libur maulid ini untuk pelaksanaan AMT sebagai bentuk peringatan lain bagi kami untuk merayakan hari lahirnya Kanjeng Nabi kita. Dengan AMT ini diharapkan sungguh-sungguh akan terlahir bibit-bibit potensial IPNU dan IPPNU di masing-masing sekolah yang kelak menjadi generasi jamiyyah Nahdlatul Ulama, generasi pendukung Kanjeng Nabi, generasi yang dibanggakan Kanjeng nabi," ungkap Joni Prabowo, Ketua IPNU Kudus.

Forkapik menjadi satu dari dua garapan PSPM IPNU bersama IPPNU Kudus, setelah Lembaga Pers Santri (LPS) Pilar. Forkapik juga telah memiliki media sendiri berupa buletin Adz-Dzaka. Sementara LPS Pilar hingga kini membawahi beberapa media sejak cetak hingga virtual, yakni majalah semesteran, Pilar, website ipnuippnukudus.or.id, serta fanspage Facebook PC IPNU IPPNU Kudus. [Istahiyyah/Abdullah Alawi]

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Lomba, Pahlawan, Khutbah Attauhidiyyah Giren

Senin, 06 Maret 2017

Ketika Istri Kiai Arwani Kudus Cemburu

Kiai Arwani Amin, Kudus, Allahu yarham, beserta putra-putranya tidak habis pikir mengapa akhir-akhir ini istri beliau sering uring-uringan. Padahal sebelum Kiai Arwani sakit, beliau tak pernah berperilaku demikian. Sebelumnya beliau justru menjadi istri yang sangat lembut. Namun setelah Kiai Arwani sakit keadaan berbalik begitu drastis.

Karena kebingungan para putra Kiai Arwani sowan kepada Maulana Habib Lutfi di Pekalongan. Kepada beliau mereka menyampaikan permasalahannya dan memohon petunjuk. “Ini bagaimana, Habib?” Keluh mereka.

Ketika Istri Kiai Arwani Kudus Cemburu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Istri Kiai Arwani Kudus Cemburu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Istri Kiai Arwani Kudus Cemburu

Mendengar penuturan keluarga Kiai Arwani ini Habib Lutfi tak segera berbicara. Sejenak beliau terdiam lalu tersenyum.

“Nggak apa-apa,” kata beliau kemudian. “Ibu kalian itu uring-uringan itu wajar. Dia lagi cemburu.”

Attauhidiyyah Giren

“Cemburu bagaimana, Habib?” mereka tak memahami.

Attauhidiyyah Giren

“Allah memberi kasyaf kepada ibu kalian sehingga dapat melihat suaminya, bapak kalian, sedang menjadi rebutan para bidadari,” jelas Habib Lutfi.

Ketika para putra Kiai Arwani sampai kembali di rumah mereka menyakan kepada ibunya perihal sering uring-uringannya itu. Sang ibu dengan tegas menjawab, “bagaimana tidak marah, lah wong setiap hari aku melihat bapakmu dipeluk perempuan cantik-cantik!”

Bila baru sakit saja sudah menjadi rebutan bidadari, bagaimana nanti setelah meninggal? (Yazid Muttaqin)

Cerita ini dikisahkan KH Subhan Makmun, Rais Syuriyah PBNU, dalam kajian kitab Tafsir al-Munir di Islamic Center Brebes, Ahad 7 Februari 2016)



Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Pendidikan, Makam, Internasional Attauhidiyyah Giren

Minggu, 05 Maret 2017

NU Jatim Dukung Raperda Pembatasan Miras di Surabaya

Surabaya, Attauhidiyyah Giren. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menyambut baik adanya Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pengendalian Peredaran Minuman Beralkohol atau minuman keras di Kota Surabaya.

Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim, KH Hasan Mutawakkil Alallah, Kamis, mengatakan, peredaran minuman beralkohol atau minuman keras di Jatim, khususnya di Surabaya sudah sangat memprihatinkan. 

NU Jatim Dukung Raperda Pembatasan Miras di Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jatim Dukung Raperda Pembatasan Miras di Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jatim Dukung Raperda Pembatasan Miras di Surabaya

"Kami sangat mendukung raperda itu dan harus segera disahkan agar masyarakat terlindungi dari minuman keras ini. Minum keras itu dosa besar. Bahkan dosanya sebanding dengan dosa pezina," katanya.

Attauhidiyyah Giren

Menurut dia, minuman haram ini sudah dijual di sembarang tempat, baik di toko modern seperti toko swalayan atau minimarket hingga toko-toko pracangan. Semua tanpa ada pengawasan dan kontrol yang ketat dari pemerintah. 

Attauhidiyyah Giren

Dengan begitu, lanjut pengasuh Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Kraksaan, Probolinggo itu, masyarakat dengan mudah bisa mendapatkan minuman tersebut. 

"Kalau pemerintah tidak bisa langsung menutup toko-toko yang menjual minuman itu, mereka bisa diberi toleransi. Artinya, ketika suatu saat mereka mengurus izin perpanjangan usaha, maka para peritel ini harus komitmen tidak lagi menjual minuman keras," tandasnya.

Mutawakkil menandaskan pelarangan penjualan miras di toko-toko kecil maupun di toko modern sangat beralasan karena tidak ada nilai kemanfaatan sama sekali bagi yang meminumnya. 

Dari aspek kesehatan, lanjut dia, minuman beralkohol tidak bagus. Pihaknya juga mendesak agar pemerintah lebih serius lagi dalam menggelar razia peredaran minuman keras, khususnya tradisional seperti cukrik, tuak, arak, anggur kolesom dan sejenisnya. 

"Justru minuman tradisional ini yang marak dan harus ditindak tegas oleh pemerintah melalui Satpol PP (satuan polisi pamong praja). Apalagi produk-produk minuman ini tidak legal," pintanya.

Sementara itu, Ketua Pansus Raperda Pengendalian Peredaran Minuman Beralkohol DPRD Surabaya, Blegur Prijanggono, menilai maraknya tindak kejahatan dan menurunnya moralitas di Surabaya diduga dipicu oleh peredaran minuman yang mudah didapatkan di warung-warung, toko swalayan atau minimarket. 

"Kami merasa miris dengan banyaknya minuman keras yang beredar dengan kombinasi berbagai rasa manis yang cenderung disukai generasi muda yang belum cukup umur. Anehnya, penjualnya justru membiarkan anak-anak di bawah umur itu membeli dengan sesukannya tampak berfikir akan dampak sosial yang ditimbulkan," katanya. 

Untuk itu, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jatim ini mengatakan dengan segera disahkannya perda ini setidaknya bisa mengurangi dampak negatif akibat minuman keras tersebut di kalangan generasi muda. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Kiai, Sejarah, Olahraga Attauhidiyyah Giren

Hari Anak Nasional, RSI Siti Hajar Gelar Lomba Kreativitas

Sidoarjo, Attauhidiyyah Giren - Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo mengadakan berbagai lomba kreativitas anak secara gratis. Perlombaan ini rencananya digelar pada Ahad, 7 Agustus 2016, sejak pagi.

Panitia acara Reza Ahmadi menyebutkan, lomba yang akan digelar di antaranya lomba mewarnai, lomba fashion show, dan festival rebana.

Hari Anak Nasional, RSI Siti Hajar Gelar Lomba Kreativitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Anak Nasional, RSI Siti Hajar Gelar Lomba Kreativitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Anak Nasional, RSI Siti Hajar Gelar Lomba Kreativitas

Lomba mewarnai (ibu dan anak kategori, PG/TK/RA. Peserta yang mengikuti lomba diharap membawa peralatan sendiri seperti meja dan crayon noncarandas.

Attauhidiyyah Giren

"Untuk? lomba fashion show (ibu dan anak) kategori PG/TK/RA juga gratis, pesertanya pun terbatas. Peserta yang ikut fashion show dimohon memakai pakaian dengan tema batik Muslim atau Muslimah," kata Reza, Selasa (19/7).

Ia menambahkan, untuk festival rebana kontemporer kategori SMP/ MTs-SAM/MA, peserta membawakan satu lagu bebas dan satu lagu wajib yaitu mars Syubbanul Wathan. Peserta membawa peralatan sendiri seperti rebana dan alat musik elektrik.

Attauhidiyyah Giren

"Peserta yang sudah konfirmasi pendaftaran bisa registrasi ulang 30 menit sebelum acara (mengingat peserta terbatas). Peserta mendapatkan snack dan softdrink. Seluruh peserta merebutkan juara 1 hingga harapan 3 dan juara favorit, plus uang pembinaan. Untuk konfirmasi pendaftaran bisa hubungi Resty di nomor kontak 085748485444 dan Machfud? dengan nomor 085655264048," tutupnya. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Makam Attauhidiyyah Giren