| Mainan Tradisional yang Mulai Terpinggirkan (Sumber Gambar : Nu Online) |
Mainan Tradisional yang Mulai Terpinggirkan
Muharrom Fajar Adi, salah satu pengunjung Maleman Sekaten menuturkan ada banyak mainan yang dijajakan para penjual. “Komplit mas, ada Kapal-kapalan, kodok-kodokan, celengan, dan lain-lain,” tuturnya kepada Attauhidiyyah Giren, beberapa waktu lalu (2/1).Selain itu, beberapa mainan lainnya seperti alat memasak berbahan tanah liat atau alat gamelan berukuran kecil, wayang kulit. Tak ketinggalan, kapal otok-otok menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.
Attauhidiyyah Giren
Hal itu diakui salah satu pedagang mainan, Edy. Pria asal Cirebon itu mengaku dalam sehari dirinya bisa menjual sekitar 20 kapal dengan harga Rp 8.000-Rp 15.000 per kapal.“Hampir di setiap acara pasar malam saya pasti jualan kapal seperti ini. Peminatnya masih banyak. Kadang sampai 50 kapal terjual setiap harinya,” ungkapnya.
Attauhidiyyah Giren
Kapal otok-otok merupakan salah satu mainan tradisional yang hampir dijual setiap Sekaten ataupun acara pasar malam digelar. Meski model dan cara memainkannya tak pernah berubah, namun kapal itu tak pernah sepi peminat.Sedangkan Sugimin, pedagang lainnya, ketika ditanya soal minat anak-anak mencintai mainan tradisional tersebut, mengatakan hal tersebut sudah berkurang. Alasannya, lantaran kemajuan zaman keberadaan mainan tradisional mulai terpinggirkan.
“Zamannya sudah modern. Anak-anak sekarang juga kebanyakan kurang tertarik dengan permainan tradisional,” ujarnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)
Dari Nu Online: nu.or.id
Attauhidiyyah Giren Kajian Attauhidiyyah Giren
Tidak ada komentar:
Posting Komentar