Senin, 11 Februari 2013

Kuliah Umum Santri Progresif Awali Aktivitas Mahad Aly Attarmasi

Pacitan, Attauhidiyyah Giren. "Membumikan Nilai Kesantrian dalam Rangka Mewujudkan Mahasantri yang Progresif dan Bernalar Kritis" menjadi tema pada muhadloroh ammah (stadium general) dalam rangka pembukaan perkuliahan Mahad Aly Attarmasi tahun akademik 1436-1437 H/2015-2016 M di aula pondok Tremas, Pacitan, Jumat (9/10) malam. Stadium general ini dirangkaikan dengan pelantikan pengurus Haiah Tanfidziah li Jamiyyah Attholabah (Badan Eksekutif Mahasantri).

Tampak hadir di antara civitas akademika Mudir Mahad Aly KH Luqman Harits, Naib Mudir bidang Akademik KH Abdillah Nawawi, Ketua STAI NU Pacitan KH Imam Faqih, Akademisi STAI Al-Fattah Hamka Hakim, dan Akademisi STKIP Pacitan Mukodi serta para dosen Mahad Aly.

Kuliah Umum Santri Progresif Awali Aktivitas Mahad Aly Attarmasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kuliah Umum Santri Progresif Awali Aktivitas Mahad Aly Attarmasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kuliah Umum Santri Progresif Awali Aktivitas Mahad Aly Attarmasi

KH Luqman dalam sambutanya di hadapan seratusan mahasantri Program Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqh menyampaikan soal perkembangan ilmu fiqih kekinian. Menurutnya, fiqih yang dipakai oleh para santri di dunia pesantren saat ini perlu direkonstruksi ulang.

Attauhidiyyah Giren

"Sebab melihat fenomena zaman yang begitu kompleks ini memerlukan terobosan dan pemahaman tentang fiqih dan ushul fiqh yang komprehenshif sehingga persoalan yang berkembang di tengah masyarakat dapat dicari solusinya dengan tepat," ujar Koordinator Gerakan Nasional Ayo Mondok itu.

Menurutnya, memang tidak semua fiqih perlu direkontruksi. Ia mencontohkan tinjauan fiqih tentang bab amah atau perbudakan. Bagaimana fiqih meninjau persoalan budak di Indonesia” Bagaimana fiqih meninjau tentang kegunaan air bekas wudhu atau air kencing yang dengan teknologi mutakhir dapat diubah menjadi air yang bersih untuk thaharah?

Attauhidiyyah Giren

"Merekontruksi fiqih dilakukan sesuai kebutuhan dengan tanda kutip hanya beberapa persoalan atau beberapa bab saja. Merekontruksi ulang fiqih bukan berarti liberal," tegas Katib Syuriyah PBNU itu.

Ia berharap seluruh mahasantri untuk bergiat dalam belajar dan semangat dalam menggali literatur klasik. Mempelajari fiqih tidak hanya sebatas kitab Fathul Qarib, namun masih ada Fathul Mu’in, Fathul Wahab dan kitab-kitab lainya. "Selalu berwawasan dan berpikiran maju dalam menggali khazanah keislaman," harapnya.

Stadium general diisi dengan orasi ilmiah yang disampaikan Akademisi STKIP Pacitan. Dr. Mukodi. Acara ini rutin digelar setahun sekali oleh civitas Mahad Aly Attarmasi sebagai tanda dimulainya aktivitas perkuliahan. Selain diikuti oleh seluruh mahasantri lama, acara juga diikuti oleh mahasantri baru yang berjumlah 35 orang.

Mahad Aly Attarmasi pondok Tremas merupakan lembaga pendidikan pasca-Madrasah Aliyah yang berkonsentrasi pada bidang Fiqh dan Ushul Fiqih. Perkuliahan dilakukan selama empat tahun dengan memadukan sistem salafiyah dan perguruan tinggi. Lulusan Mahad Aly Attarmasi bergelar S1 Syahadah Alimiyah atau SA. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Attauhidiyyah Giren Doa Attauhidiyyah Giren

Tidak ada komentar:

Posting Komentar